cerita dewasa ‘Semalam Bersama Penyanyi Cafe’

December 10, 2011

Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !

cerita mega ‘Semalam Bersama Penyanyi Cafe’,Malam itu saya cooking dengan clientku di sebuah cafe. Sebuah rope datang menghibur pengunjung cafeteria dengan nada irama jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan layak baik. Aku memperhatikan si penyanyi. Seorang putri berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya adil amat berlimpah jazzy. Gadis ini wajahnya tak terlalu cantik. Tingginya minim bertambah 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya merupakan legok pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama rope bakal menemani saudara semua. Jika tersedia yang kepingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau andaikan kepingin ask lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu start menyapa pengunjung Cafe. Aku cuma tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan customer menyita perhatianku. Sampai kabin mungil hari telingaku menangkap perubahan kiat bermain bermula si keyboardist. Aku melihat ke jurusan rope tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard seraya menyanyikan irama “All of Me”. Lagu Jazz yang amat berlimpah sederhana. Aku menikmati segala ragam nada irama dan berusaha mengerti segala ragam musik. Termasuk jazz yang adil ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya. Felicia ternyata bermain amat berlimpah aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafeteria yang sanggup bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba saya menjadi amat berlimpah tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan ask laguku dan memberikannya melalui pelayan cafeteria tersebut.

“The Boy From Ipanema, please.. And your mobile number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas ask sekalian menuliskan angka HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lamban kabin mungil hari saya mendengar bunyi Felicia.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

Bahasa badan Felicia menunjukkan bahwa dia kepingin tahu dimana saya duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku jitu di hadapan rope tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia menimpali senyumku. Dia start memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku joke menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Aku balik berbicara dengan clientku. Tak lamban kudengar bunyi Felicia menghilang dan berganti dengan bunyi penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia.” jelas catatan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”
“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kabin mandi. Kenapa kepingin tahu HP-ku?”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku lantas terang. Kudengar gelak enteng bermula Felicia.
“Rayuan ala Boy, nih?”
“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang layak buatmu yang adil sexy.. Oh ya, balik bermula cafeteria pukul berapa? Aku damping balik ya?”
“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat awak dengan temanmu?”
“Oh.. dia clientku. Sebentar berulang dia balik kok. Aku cuma mengantarnya mencapai parkir mobil. Bagaimana?”
“Okay.. Aku nanti ya.”
“Okay.. See we soon, sexy..”

Aku melanjutkan pandak percakapan dengan customer dan kabin mungil hari mengantarkannya ke ajang parkir mobil. Setelah clientku balik saya balik ke cafe. Waktu berulang menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku balik bersimpah dan memesan prohibited tea. 30 menit saya habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku lantas menatap matanya seraya sesekali saya tersenyum. Kulihat Felicia dengan beriktikad awak menimpali tatapanku. Gadis ini menarik senggat membuatku kepingin mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya berniat menyalakan AC mobil layak mega sehingga suhu pada mobil adem sekali. Felicia jelas menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah?” lengan Felicia seraya meraih kenop AC bakal menaikkan suhu. Tanganku kencang menahan tangannya. Kesempatan bakal memegang tangannya.
“Jangan.. Udah akrab rumahmu kan? Aku tak kebal panas. Suhu segini saya terkini bisa. Kalau awak naikkan, saya tak tahan..” alasanku.

Aku adil kepingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat mengerti. Tangan kiriku berulang memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia bungkam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis adem banget. Oh ya, awak berkenan jazz juga ya?”
“Hampir segala nada irama saya suka. Oh ya, terkini kali ini saya melihat penyanyi jazz perempuan yang dapat bermain keyboard. Mainmu terlena lagi.”
“Haha.. Ini malam mula mula saya berlangsung keyboard seraya menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tak terlihat canggung. Oh ya, kudengar mulanya mainmu berlimpah memakai scale altered widespread ya?” saya kabin mungil hari memainkan lengan kiriku di tangannya seolah-olah saya bermain piano.
“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu dapat berlangsung piano yah?” Felicia jelas terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu berlangsung klasik. Lalu tertarik jazz. Belum ahli kok.” Aku berhenti di hadapan kediaman Felicia.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku momen kami bersetuju ke rumahnya. Ya, saya menerima ajakannya bakal bersetuju pandak walaupun ini telah nyaris pukul 1 pagi.
“Aku persetujuan kediaman ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum balik semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

Felicia bersetuju kamarnya bakal mengganti baju. Aku tak mendengar bunyi gerbang kabin dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia adil memancingku? Aku kencang berdiri dan berani membuka gerbang kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma dengan bra dan lancingan dalam. Di tangannya tersedia sebuah kaos. Kukira Felicia bakal berteriak terkejut maupun marah. Ternyata tidak. Dengan bebas dia tersenyum.

“Maaf.. Aku bakal pertanyaan kabin bersiram dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru saya yang terbata bata melihat pemandangan cantik di depanku.
“Di kamarku tersedia kabin mandinya kok. Masuk aja.”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya melihat tersedia sebuah keyboard. Aku tak beres ke kabin bersiram bahkan memainkan keyboardnya. Aku memainkan irama “Body and Soul” seraya menyanyi lembut. Suaraku awam aja juga permainanku. Tapi saya serius Felicia bakal tertarik. Beberapa kali saya membuat kesalahan yang kusengaja. Aku kepingin melihat sambutan Felicia.

“Salah tuh mainnya.” ulasan Felicia. Dia iring bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.

Dengan kencang Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku bersimpah sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan kedudukan bagai memelukku bermula belakang, dia menunjukkan sekilas catatan yang benar. Aku dapat merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah pukul 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang mesti saya lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia sama-sama bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tak bermaksud masalah denganku. Jika dia bungkam saja, saya dapat melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis mulus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya bakal ke kabin mandi?” tanyannya seraya tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka gerbang kamarnya.
“Oh ya..” saya berdiri.

Ada rasa sempit di dadaku menerima penolakannya. Tapi saya tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kabin mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

Kubawa dia ke kabin bersiram dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau bakal geram iya saya dapat saja. Yang jelas saya lantas berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia bahkan tertawa. Dia menimpali menyiramku dan kami sama-sama berair kuyup. Segera saya menyandarkannya ke pembatas kabin bersiram dan menciumnya!

Felicia menimpali ciumanku. Bibir kami sama-sama memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu adem dan berair kuyup. Bibir kami sama-sama berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan lancingan pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama berdiam cuma memakai lancingan dalam. Sambil lantas mencumbunya, lengan kananku meraba, meremas mulus dan menggiurkan payudaranya. Sementara lengan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya dapat meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya start memburu. Suaranya voluptuous sekali. Berat dan basah. Perlahan saya merasakan penisku ereksi.
“Egh..” saya menahan nafas momen kurasakan lengan Felicia menggenggam gagang penisku dan meremasnya.

Tak lamban dia mengocok penisku senggat membuatku bertambah terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di wadah air. Cukup berat bercinta di kabin mandi. Licin dan tak dapat berbaring. Sewaktu Felicia duduk, saya cuma dapat menggiurkan buah dada dan mencumbunya. Sementara bokong dan vaginanya tak dapat kuraih. Felicia tak bakal duduk. Dia berdiri berulang dan menciumi puting dadaku!

Ternyata lezat juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia layak aktif. Tangannya tak telah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia berulang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan lancingan dalam, saya melepasnya dan juga melepas lancingan pada Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku memencet lidahnya. Kami sama-sama menjilat dan menghisap.

Rintihan mungil dan desahan nafas kami sama-sama bergantian membuat alunan nada irama birahi di kabin mandi. Suhu yang adem membuat kami sama-sama merapat mencari kehangatan. Ada impresi yang berbeda bercinta momen pada kondisi basah. Waktu bercumbu, tersedia rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya bermula biasanya.

Aku menyalakan showering dan kabin mungil hari di rendah cairan yang mengucur bermula shower, kami semakin suam merapat dan sama-sama merangsang. Aliran cairan yang membasahi rambut, durja dan seantero tubuh, membuat badan kami bertambah panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas kira keras, selagi bibirku melumat bertambah ganas tepi Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap ke atas seraya memijat enteng pinggang, kabin kecil dan pundak Felicia. Dari aksen tubuhnya, Felicia amat berlimpah menikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

Lidahku start menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya iring meremas pantatku. Aku merasakan buah dada Felicia bertambah tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku seraya tertawa ringan. Felicia memainkan bal matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya seraya menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan pucuk lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya pasti di pucuk putingnya.
“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Mulai bermula pucuk alat perasa mencapai akhirnya dengan seantero lidahku, saya menjilatnya. Kemudian saya menghisapnya dengan lembut, kira perkasa dan akhirnya kuat. Tak lamban kabin mungil hari Felicia kabin mungil hari membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku start beraksi.

Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku start mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil tepi kami sama-sama melumat. Aku berusaha plain membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti kala kocokanku. Kamu bekerja sama dengan koheren sama-sama memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya berulang dempet sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum telah bercinta dengan perawan, eksepsi dengan Ria yang integument daranya bersetuju sama ujung tangan pacarnya.

“Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya bertambah keras.
“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

Rupanya Felicia merupakan jenis perempuan yang bersuara plain momen bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu bertambah hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku bertambah cepat. Beberapa detik kabin mungil hari saya berhenti. Mengatur nafas dan mengubah kedudukan kami. Felicia menungging dan saya ‘menyerangnya’ bermula belakang. Doggy style. Kulihat buah dada Felicia sececah terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan badung jariku meraba anusnya, kabin mungil hari memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” jerit Felicia. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir lezat rasanya..” Aku menghentikan memasukkan ujung tangan ke anusnya melainkan konstan bermain-main di sekitar anusnya senggat membuatnya geli.

Cukup lamban kami berpacu pada birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku nyaris tiba. Aku berusaha plain mengatur irama dan nafasku.

“Aku bakal nyampe, Felicia..”
“Keluarin di pada aja. Udah lamban saya tak merasakan semburan cairan pria” Aku kira terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau bunting gimana, pikirku.
“Aman, Boy. Aku tersedia remedi anti bunting kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tak yakin. Tapi kala bahlul ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok berulang dengan gencar. Felicia berteriak bertambah keras.
“Yes.. Aku juga nyaris sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

Saat-saat itu bertambah dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tak tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sesaat kabin mungil hari kurasakan badan Felicia bertambah bergetar hebat. Aku berusaha plain menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit perkasa sekali kabin mungil hari membalikkan badannya dan memelukku. Kami kabin mungil hari bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, buah dada dan kabin mungil hari perutnya. Aku membuatnya kegelian momen hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil tuala dan mengeringkan badan kami berdua. Sambil lantas mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami sama-sama menggosok badan kami. Dengan badan bugil saya mengangkatnya ke ajang tidur, membaringkannya dan balik menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Sudah lamban sekali saya tak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku cuma berusaha melayani setiap perempuan yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

Aku amat berlimpah terkejut momen tiba-tiba gerbang kabin terbuka. Sial, kami mulanya kurang ingat mengunci pintu!! Seorang perempuan muncul. Aku tak luang berulang menutupi badan telanjangku.

“Ups.. Gak perlu terkejut. Dari mulanya saya udah tangkap suara teriakan Felicia. Tadi bahkan telah mengintip kalian di kabin mandi..” istilah perempuan itu. Aku kecolongan. Tapi apa dapat buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” saya menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian saya berdiri. Dengan zakar lemah terayun saya mencari kaos dan lancingan pandak Felicia dan memakainya. Gladys bersetuju ke kamar. Busyet, ni anak diam sekali, Pikirku. Sudah pukul 2 pagi. Aku mesti pulang.

Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !