Arie Reynaldi Z - unchanging people try to have extraordinary life

transjakarta tidak selalu jadi pilihan terbaik

Saat ini koridor busway bertambah banyak dengan adanya koridor 9 (pinang ranti – pluit) dan 10 (cililitan – tj priok). Pengguna busway dari Ragunan saat ini bisa menyambung di Kuningan untuk meneruskan perjalanan ke Sunter atau Tj Priok. Kedengarannya indah J Memang, kita cukup bayar 1x Rp. 3500 dan bisa naik busway sepuasnya. Itu yang saya bayangkan minggu lalu setelah kantor saya pindah ke daerah Kelapa Gading.

Selama ini saya bawa mobil ke kantor, jarak antara rumah – kantor (Jl. Bangka – Kelapa Gading Boulevard) kurang lebih 20km dengan mobil. Masalahnya tiap pagi di sekitar buncit menuju mampang prapatan itu macetnya minta ampun. Lalu saya coba naik ojek. Memang naik engine sedikit lebih nyaman, tapi kita tetap berpacu dengan kondisi jalan yang kurang nyaman. Selain itu polisi daerah sana cukup jeli ‘mencari peluang’ kalau kita salah. Tambah lagi, pakai ojek ongkosnya lumayan tinggi. Akhirnya saya coba naik sepeda. Sebelumnya saya pelajari dulu jalan yang pale ‘bersahabat’ dimana jalurnya tidak banyak jembatan yang harus diseberangi seperti jalur by-pass dan jarak sependek mungkin. Jalur yang saya ambil akhirnya buncit – kuningan – menteng – kwitang – cempaka putih – by-pass – kelapa gading. Mungkin ini bukan jalur terbaik, tapi sampai saat ini saya belum menemukan jalur lain lagi. Awalnya terasa berat, apalagi pulangnya, jalan cempaka putih itu terasa panjang sekali dan jembatan HR. Rasuna Said itu tinggi sekali .. hehehe.. Setelah beberapa kali, mulai terbiasa. Dari rumah ke kantor sekitar 1 jam pas. Suatu saat saya ke kantor agak siang dan untuk naik sepeda udah tidak memungkinkan, akhirnya saya naik ojek lagi, dan pulangnya saya naik Transjakarta. Now, here’s a story begin…

Hari pertama pulang, saya bareng teman yang udah biasa naik bis. Kita naik mikrolet dulu dari highway ke arta gading, lalu jalan kaki ke tempat naik busway. Lumayan jauh beberapa ratus meter. Lalu kita nunggu bis nya. Setelah 15 menit kita naik, berdiri karna udah rame. Memang kalau di jalur busway, jalanan kosong, beda sama di jalur biasa yang macet gila2an. Akhirnya sampai ke UKI (Cawang). Lalu kita pindah dan naik yang ke arah grogol. Wah, bisnya kosong, nyaman. Sampai di kuningan saya nyambung ke arah ragunan, lalu turun di duren tiga. Lalu jalan kaki ke jl Bangka (lumayan jauh, bushel 1 km). Enak ya? Dari kantor jam 6 sampai rumah jam 19.45. Ok. Hari berikutnya saya coba lagi. Paginya naik ojek, pulangnya coba busway. Nah disini udah mulai gak nyaman. Nunggu bis bisa setengah jam sendiri. Dari cawang juga gitu, hampir setengah jam. Di kuningan saya nyambung kopaja, lalu turun di 7 eleven lanjut jalan kaki. Semua itu saya jalani sekitar 1 minggu. Hari sabtu saya masuk kantor dan coba ke kantornya naik bis juga, naik dari blok M. Waah, cobaannya bener-bener berat. Nunggu bis di depot lebih dari setengah jam gak muncul2. Kebetulan temen sms dan ngajak bareng, ya udah, improving nebeng mobil. Dan hari itu di kantor saya tepar.. Vertigo!! Sepertinya 1 minggu naik bis pulang kantor bikin badan saya drop. Nunggu bis, berdiri di bis, pindah bis, jalan kaki pulang, bener-bener bukan pilihan yang baik untuk badan saya yang sudah menua.

Hari ini saya naik sepeda lagi. Sebelumnya saya beberapa minggu naik sepeda gak ada kendala berarti. Yang penting ada masker (saya pakai masker moncong babi), kaca mata, lampu depan-belakang, helm, minum dan yang terpenting, bisa carrying fun!! Enakan gowes Jl. Bangka – Kelapa Gading daripada stranded di busway, gak nyaman malah bikin sakit.

Regards,

-ARZ-

Dengar Band

I’m unequivocally unapproachable of this one, so I’m going to speak about it a bit.

I get a event to write songs and play song with my mother Heather in a rope called Venna. Our entrance EP was only expelled on Common Cloud Records and some of a songs on this front have been operative their approach towards a correct recover for over 5 years. Needless to contend we were intensely anxious about this recover and wanted to do something additional special with a wrapping to applaud it.

With a band’s cultured being really DIY and friendly (shows are customarily played in a corners of venues, off of a theatre and divided from loudness of any sort) we wanted to go that instruction with a visible display of a music, right down to a recycled, eco-friendly wrapping materials and stone ‘n hurl zine-style photocopied insert. Here are some photos of a public routine and a final pieces-


Heather took on a charge of using any 8 page zine/insert by a sewing appurtenance to give them a hand-bound look.


Every root and vine of a cover painting was drawn in Illustrator and took about 5 days value of non-consecutive work to finish.

VGKids in Ypsilanti, MI did a illusory pursuit of hand-printing a 1 tone silk shade for a extraneous illustration, as good as some nominal promo stickers.

All a printed materials were fabricated by Heather and myself and afterwards lovingly wrapped in a coordinating immature twine.


I can’t assistance though consider that this is closer to how these things should be finished some-more often…

Tukul "Reynaldi" Arwana Fans Club
Tukul Arwana adalah pelawak dari Perbalan Semarang. Pada waktu muda, Tukul sering tampil melucu di panggung tujuh-belas agustusan, dan Tukul pernah mencari nafkah ...
Keindahan atau “beauty” adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,keindahan diartikan sebagai ...
RICHO REYNALDI
tag:blogger.com,1999:blog-2011476950556926001. 2011-04-21T15:23:22.403-07:00. RICHO REYNALDI . RIKO REYNALDI. http://www.blogger.com/profile/03042930489464778205