Sinetron TV Indonesia: Apr 2009

Sinetron Indonesia, Program Acara Televisi, TV Soap Opera, Profil Biodata Artis, Sinetron Terbaru, Reality Show Indonesian Television, Acara Komedi TV, Tanggal Lahir, Stasiun TV Indonesia, Sinetron Indosiar, Sinetron RCTI, Sinetron SCTV, FTV Video, Jadwal Siaran, Casting Pemain Sinetron, Soundtrack Lagu, Sinopsis Cerita, Bintang Sinetron, Hot Gosip. You wouldn't find foto bugil, film porno, bokep mesum or print telanjang cinema here, since this blog NOT PORN SITE.

Lirik Lagu Alone At Last – Amarah, Senyum dan Airmata verse Chord Kode Gitar & Friedster

Lirik lagu Alone At Last Amarah, Senyum dan Airmata

Posting lirik ini di blog anda

TANGISI SAAT KU TAK ADA DISINI
PUTUS HASRATKU TAKKAN MATI
PUISIKU PALSU PENUH KECEWA
PILAH PENGAMAN DOKTRINMU
KUNCI MULUTKU… CINTA HULU LEDAKKU
SUMBUI HANGAT BUNYI LIDAHMU
TIMPA TANGANKU DAN

SISAKANLAH… ( tangisi hidupku )
KELAM… ( tangisi waktuku )
PEKATKANLAH… ( tangisi lakumu )
KACA… ( tangisi asaku )
JANGAN PERCAYA

APIKAN RASA BENCI TERTEKAN
ANCAMAN TERDENGAR PELAN
HALANGI LANGKAH MASA DEPANMU DAN

SISAKANLAH… ( tangisi hidupku )
KELAM… ( tangisi waktuku )
PEKATKANLAH… ( tangisi lakumu )
KACA… ( tangisi asaku )
JANGAN PERCAYA

Back : Jangan pernah terlintas
Jangan melangkah lepas
Bila melihat cinta
Jangan menahan marah
Jiwa inginkan hampa
Deras alirkan luka derita

NYAWA PERIH TANGANKU TERPISAH
PAKU LAMANYA SAKITKU TERLINTAS
CAMPAKKAN SEMUA JANJI PALSUKU
OMONG KOSONG MENTAH ITU JANJIKU
ANJING! KALIMAT YANG TERLINTAS
SAAT FOKUS HANCURNYA HIDUPKU
MULAI KUHUJAM CARA YANG SAMA
AMPUNAN LANGKAH SEBUAH SIKSA


Koleksi Download mp3 Alone At Last yang lain. Semua Album Alone At Last

...Dunia Baru... - Yang Mengendap

Jarang ada manusia yang bersikap gentle, mengakui kesalahan yang telah ia perbuat, meminta maaf lalu memperbaiki diri. Kebanyakan, manusia malah melimpahkan kesalahan pada orang lain. Ia berusaha ngeles, atau menghindar.

Akan lebih runyam lagi bila orang yang sebenarnya berada di pihak yang salah itu sudah merasa kuat, hebat, mampu dsb. Orang semacam ini, andaipun salah, biasanya tidak sekadar menyalahkan orang lain, tapi mengajak berdebat, bahkan menggertak pihak lain yang sebenarnya ia rugikan.

Anehkah jika ada manusia yang tidak mau disalahkan? Sebenarnya tidak aneh. Begitulah karakter manusia. Sejak dulu dan sampai nanti, pada hakikatnya manusia memang tidak pernah rela menerima hukuman atas apa-apa yang telah ia perbuat sendiri. Bagaimana cara kita menyikapi orang yang maunya menang sendiri dan tidak barangsedikitpun mau mengalah? Hanya ada tiga: Sabar, Sabar dan Sabar. Tak ada gunanya menghadapi mereka dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan berikutnya. Anggaplah tetangga yang berperilaku seperti ini sebagai ujian atas kesabaran kita. Lagipula, bukankah dengan sabar kita menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan kita, Allah SWT?

Allah lah yang maha mengetahui, Ia tidak akan keliru menilai mana yang benar, mana yang salah. Allah tak akan salah menghukum makhluknya. Yang timbangan amal buruknya lebih berat akan dijebloskan ke dalam neraka, sedangkan yang amal baiknya lebih berat, dengan wajah tersenyum Allah janjikan masuk ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.

Tetapi, dasar manusia. Di akhirat nanti joke masih ada yang berusaha untuk menghindari hukuman, ngeles, dengan berbagai cara agar tidak dimasukkan ke dalam neraka. Misalnya, yaitu tadi: menyalahkan orang lain atas kesalahan yang jelas-jelas ia lakukan sendiri. Ia berharap Allah mengampuni, memaafkan bahkan menghapus dosanya karena ia berhasil menunjukkan orang lain sebagai penyebab utama kesalahannya. Jika bahasanya kita sederhanakan, mungkin dialognya akan seperti ini, “Ya Allah, saya tidak sholat bukan karena malas. Tapi karena saya sibuk mengurus anak-anak saya.” Atau, “Ya Allah, saya tidak berpuasa karena pekerjaan saya berat. Pokoknya, macam-macam alasan yang disampaikan dengan harapan terhindar dari hukuman.

Dan yang pale mudah digunakan sebagai taktik ngeles manusia untuk menghindari hukuman akibat ketidakpatuhannya kepada Allah adalah orang tua. Banyak ummat manusia yang merasa tidak bersalah jika tidak terbiasa sholat, tidak mampu mengaji, tidak hobi mendengar ceramah dsb hanya karena orang tuanya dulu tidak mengajarkan ilmu agama kepadanya. Karena itu, menurutnya, orang tua dan nenek moyangnyalah yang seharusnya bertanggung jawab kepada Allah.

Alasan seperti ini pula yang sudah Allah catat dan abadikan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 173. Pada ayat ini Allah telah mewanti-wanti agar tidak menyalahkan orang tua atau nenek moyang atas pembangkangan kita kepada Allah yang telah kita lakukan sendiri.

Mengapa kita tidak bisa menyalahkan orang lain, menuduh orang tua kita atau nenek moyang kita sehingga kita menjadi “kafir”? Bukankah mereka yang melahirkan dan mendidik kita? Jawaban atas pertanyaan itu bisa dilihat pada surat Al A’raf ayat 172. Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, Betul, kami (roh-roh tersebut) bersaksi...”

Terlepas ada atau tidaknya campur tangan orang tua, nenek moyang, lingkungan, latarbelakang pendidikan, dsb, pada dasarnya kita harus menyadari bahwa roh dalam tubuh kita dulu telah bersaksi tentang Allah, dzat yang harus kita sembah dan tak boleh kita sekutukan. Maka, carilah kebenaran dan perbanyaklah kebajikan. Jangan menunggu diajak oleh orang lain. Ingat, di akhirat nanti, tak ada kesempatan lagi untuk ngeles.

Note: Tulisan ini pernah dimuat di buletin AN NUR, yang beredar di perumahan PURI GADING, BEKASI.

Merekam Jejak Miliarder Muda, Sandiaga S. Uno

Di Indonesia, relatif amat susah mencari orang sukses dalam usia yang relatif muda, setidaknya dalam usia di bawah 40 tahun. Namun demikian, diantara susahnya menemukan orang sukses tersebut, muncul milyarder muda, Sandiaga Salahuddin Uno.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia telah lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.

Sandi -demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa- tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya USD 245 juta.

Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orang tuanya. ”Orang tua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.

”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.

Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.

Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”

Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum se-booming sekarang. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.

Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja, Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.

Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja, Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.

Di tanah air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia joke kembali duduk di bangku kuliah The George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tutur ayah dari Anneesha Atheera dan Amyra Atheefa itu.

Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke tanah air. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orang tua,” katanya.

Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” movement krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka joke runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang pale sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.

Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.

Terpaksa ke Mal demi Anak

Sandiaga S. Uno adalah citra kesuksesan. Semua orang tahu hal itu. Namun, di balik aktivitasnya yang padat, dia merasa berdosa kepada keluarga. Sebab, waktunya hampir habis tersita untuk aktivitas bisnis dan organisasi. “Saya merasa nggak adil sama keluarga. Saya kerja begini untuk siapa? Rasanya ada yang hilang,” tutur Sandi.

Sandi mengaku, biasanya menjadikan Sabtu-Minggu sebagai hari untuk keluarga. Itu joke sangat terbatas. “Saya pale suka ke Senayan. Pasti Sabtu olahraga bareng keluarga di sana. Pagi lari, agak siang sedikit pukul-pukul bola, golf,” ceritanya.

Kemudian, biasanya mereka sekeluarga jalan-jalan ke mal. “Sebenarnya, saya pale nggak suka ke mal. Tapi, ya sedikit menyenangkan anaklah,” kata Sandi yang mengaku tak tertarik terjun ke dunia politik.

Sandi lantas tertawa mengingat polah lucu sang anak itu. “Jujur, saya selalu ingin ada di samping mereka. Saya ingin memberikan yang terbaik,” tambahnya dengan mimik serius.

Karena itu, Sandi kerap berangan-angan bahwa sehari itu bukan 24 jam. “Seandainya sehari itu ditambah empat jam saja, tambahan empat jam tersebut akan saya habiskan bersama keluarga,” tegasnya. (diolah daeri berbagai sumber)


Biodata Sang Miliarder

Nama Lengkap : Sandiaga Salahuddin Uno
Tempat/tanggal lahir : 28 Juni 1969


Pendidikan Formal :
- Bachelor of Business Administration, The Wichita State University, Kansas, AS, lulus 1990
- Master of Business Administration, The George Washington Univ., Washington, AS, lulus 92


Pengalaman Kerja
- Summa Group, Jakarta (Mei 1990-Juni 1993)
- Seapower Asia Investment Limited, Singapura (Juli 1993-April 1994)
- MP Holding Limited Group, Singapura (Mei 1994-Agustus 1995)
- NTI Resources Limited, Calgary, Canada (September 1995-April 1998)
- PT Saratoga Investama Sedaya (April 1998- sekarang)


teman-teman...memang klo kita lihat pak sandiaga S uno mempunyai latar belakang sebagai anak dari keluarga terpandang dan sudah pasti memiliki harta yang memungkinkan beliau memperoleh pendidikan di AS (Amerika Serikat) tetapi jangan lupa teman, pak sandiaga ini memperoleh nilai yang sangat baik di tempat kuliahnya, ini menandakan bahwa beliau memiliki kecerdasan yang memadai untuk bekerja dan sebagai karyawan beliau juga pernah bekerja layaknya karyawan biasa di perusahaan asing di negeri orang dan terbukti berhasil...jadi beliau juga terbukti sanggup untuk bekerja dengan orang lain...dan yang pale penting adalah bahwa pak sandiaga ini adalah orang yang tidak pernah menyerah dengan keadaan nya punya kerjaan yang mapan dengan gaji yang mapan pula, terbukti pada saat beliau menjadi pengguaran beliau bisa memutar otak dengan segala keahlian yang beliau punya untuk bangkit bahkan menjadi besar seperti ini...yang ingin saya tekankan adalah terlepas siapa di belakang beliau kenyataan nya beliau bisa keluar dari turn aman beliau (safety level) dan menggunakan semua yang beliau miliki (teman, uang, relasi) untuk berkembang...memang beliau bisa kita bilang sebagai orang yang beruntung krn memiliki keluarga dan relasi yang nota bene sebagai "Orang Kaya" tetapi itulah keberuntungan beliau...tak banyak orang yang berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang bisa sukses seperti beliau rata-rata mereka hanya menjadi "Penerus" usaha keluarga atau mendompleng nama orang tua tanpa mau bekerja keras...jadi teman-teman saran saya adalah, belajar dari beliau :
1. belajarlah dari buku, koran, dan lingkungan.
2. pada saat kita menjadi seorang pekerja, maka buktikan lah kalau anda mempunyai potensi dan dedikasi yang tdk dimiliki orang lain.
3. banyak lah baca biografi orang lain yang menurut anda bisa dijadikan "Role Model" dan pelajari cara mereka sehingga bisa sukses.
4. bangunlah relasi dengan teman-teman anda di sekolah dan di rumah.
5. berfikir positif dan konstruktif.
6. set aim ke depan
7. jangan mudah menyerah
8. berfikir kreatif (Out of The Box)
9. KONSISTEN dengan KOMITMEN
10. jangan mudah senang dan merasa nyaman atas apa yang telah kita capai

"JANGAN HANYA BISA MENGOMENTARI, TETAPI HARUS BISA MEMBUKTIKAN"
Diskusi @ BunuhDiri.org
pacarku mau bunuh diri, hanya karena hubungan kami nggak direstui sama ortunya. dia kelas 2 sma(17th), chinnese, putih, high-end teen, cakep biar agak ndud sepertinya ...