PUSPADANTA

Pada tanggal 31 maret 2000 dengan proses uji coba pada lembaga pendidikan anak non grave “SMART KIDS” di Giwangan pimpinan Hj Erwizbe Maimananti, SH. Terciptalah module baru “Broadcasting Junior” untuk siswa-siswi Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Dengan bermacam bentuk promosi alhamdulillah antusias masyarakat Yogjakarta cukup besar. Follow adult dari uji coba selama 6 bulan tersebut pada tanggal 11 Sep 2000 Puspadanta resmi berdiri tanpa bergabung dengan lembaga pendidikan non grave lain serta mendapat dana bantuan Rp 1.750.000 ( Satu Juta Tujuh Ratus Ribu Lima Puluh Rupiah ) dari Hj. Erwizbe Maimananti, SH sebagai tanda bukti dukungannya. Dana tersebut digunakan untuk menyewa rumah kepemilikan Hj Sudarto yang ada di Jl Imogiri Timur Km7 no.9 Grojokan, Wirokerten, Bantul ( Selatan Brimob 400mt ) selama 1 tahun. Dengan pengalaman Bunda Eny Esyta Kolopaking yang terlibat proses pendidikan diberbagai sanggar di Jakarta maka tercetuslah nama “Sanggar Bina Bakat Puspadanta” yang dikelola oleh Bunda Eny Esyta Kolopaking, Ali Masrum & Dedi Triyono ( tiga bersaudara ).

Langkah pertama adalah langkah terberat bagi kami karena kami dihimpit dari berbagai sudut kebutuhan dan berawal dari ketidaktahuan, kami mencoba menjalankan roda pendidikan. Pada mulanya Sanggar Bina Bakat Puspadanta bergerak hanya untuk segmen anak-anak saja. Akan tetapi setelah mendapat desakan dari respon masyakarat berbagai kalangan, antara lain : pelajar, mahasiswa, karyawan bahkan orang tua banyak yang berminat untuk bergabung dengan Sanggar Bina Bakat Puspadanta jika module yang diinginkannya ada di Sanggar Bina Bakat Puspadanta. Maka hadirlah module baru pada bulan kelima kami berdiri yaitu “Broadcasting Intro”yang mulai membidik segmen pelajar & mahasiswa. Selang beberapa waktu hadirlah program-program baru secara berturut-turut bagaikan wahyu yang tiada henti yaitu : Broadcaster Focus, Presenter TV & On Stage, Presentasi dan Kepribadian, Jurnalistik Radio, TV dan Media Cetak, Musik ( Gitar Akustik dan Elektrik, Keyboard ).

Kami terus berjuang untuk tetap hidup sambil memperjuangkan keinginan masyarakat. Hampir 100% penghasilan Sanggar Bina Bakat Puspadanta digunakan untuk memenuhi sarana & prasarana yang dibutuhkan. Sedangkan kami sebagai pengelola harus terus bertahan hidup. Bunda Eny Esyta Kolopaking tetap mengajar pada lembaga-lembaga lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada tahun kedua Sanggar Bina Bakat Puspadanta kami Berdua ( Ali Masrum & Dedi Triyono ) membuat usaha yang berfungsi sebagai behind adult untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maka terbentuklah usaha dibawah jaringan Puspadanta yaitu “Griya Idaman Property” yang bergerak dibidang renovasi bangunan. Alhamdulilah klien pertama kami adalah seorang mahasiswa yang yang mengikuti module Broadcasting Intro di Sanggar Bina Bakat Puspadanta. Dari sinilah kami belajar tentang complement rancang bangun dasar dari mulai rencana bangunan sampai bangunan jadi. Dan alhamdulilah klien kami terus bertambah tiap tahunnya, selalu saja ada yang mempercayakan jasa kami ( Alhamdulillah disaat gempa 26 mei 2006 tidak ada satupun bangunan yang kami kerjakan itu roboh ). Dari bunda mengajar dilembaga-lembaga lain dan dari jasa skill alhamdulilah kami mampu bertahan hidup bahkan sedikit demi sedikit memenuhi kebutuhan Sanggar Bina Bakat Puspadanta. Ditahun ketiga Puspadanta membuka usaha baru yaitu jasa advertising. Jasa ini juga diawali dari desakan kegiatan-kegiatan kita yang behubungan dengan publikasi. Karena hampir tiap bulan Sanggar Bina bakat Puspadanta mengadakan kegiatan diluar sebagai media promosi dan menambah pemasukan, antara lain workshop, pelatihan & event. Kami merasa ada celah dalam complement kerja promotion yang bisa memberikan tambahan incame untuk menambah behind adult dicelah-celah kekosongan sequence property. Dengan bertambahnya murid Sanggar Bina Bakat Puspadanta maka bertambah pula spesifikasi keinginan belajar. Kamipun membentuk Puspadanta Dunia Entertainment yang bergerak dibidang eventuality yang berguna untuk mem-back adult kegiatan Sanggar Bina Bakat Puspadanta dan menjadi wadah para mahasisiwa yang ingin terjun di bidang entertaint.

Memasuki 3 tahun usia Sanggar Bina Bakat Puspadanta memindah semua sistem operasional ke gedung pengelola sediri yang ada di kawasan Dusun Kerto 4/7 Pleret, Pleret, Bantul Jogjakarta tepat pada tanggal 11 Februari 2002. Alasan untuk pindah adalah karena biaya sewa yang semakin bertambah tinggi tiap tahunnya, lokasi semakin bising karena lalulalang kendaraan bermotor yang mengganggu konsentrasi belajar, lokasi yang tidak mampu lagi untuk menampung beberapa kegiatan yang akan kami rintis antara lain Production House. Pada awal perpindahan, banyak pengadaptasian dari berbagai segi terutama promosi. Mengingat alokasi tempat saat ini jauh dari pusat keramaian. Yang dilakukan adalah peningkatan promosi baik di media cetak ( KR, Minggu Pagi, Bernas, Radar Jogja , Aneka Yes dan Gaul Beken ), Radio ( MTV, Prambos Jogja & Semarang, PTDI Kota Perak, Star, Istakalisa, UNISI, Swaragama, Geronimo, Star FM, Salma Klaten, dll), Pamflet dan Brosur. Strategi promosi lain juga kami lakukan, antara lain : melalui kegiatan Workshop, pelatihan, Talkshow, pementasan, pemateri kampus to kampus dan lain-lain. Hasilnya alhamdulillah ada peningkatan peserta didik terutama yang dominan adalah mahasiswa. Mengingat perkembangan tersebut Sanggar Bina Bakat Puspadanta mampu mendapatkan ijin HO no. 503/ 24/ IGS/ 2004.

 

Dengan Motto : Langkah Tepat Membina Potensi Mental & Bakat, Sanggar Bina Bakat Puspadanta terus berkiprah dan berjuang membantu meringankan Tugas Pemerintah di bidang pendidikan non formal. Dengan selalu berpegang pada pepatah bijak “ Untuk Pintar Tidak Harus Mahal “Sanggar Bina Bakat Puspadanta mampu menembus peminat promote baik dari kalangan ekonomi bawah, menengah, atas dan konglomerat dengan jalinan kekeluargaan dan menerapkan subsidi silang bagi yang tidak mampu/ ekonomi bawah.

 

Dengan bukti nyata eksistensi anak didik Sanggar Bina Bakat Puspadanta yang menyebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia, ditahun kelima Sanggar Bina Bakat Puspadanta berubah menjadi Lembaga Bina Bakat Puspadanta dan sekarang berubah menjadi Lembaga Kursus & Pelatihan Bina Bakat PUSPADANTA. Semua module unchanging masuk kedalam module lembaga, namun kegiatan kesanggaran tetap berlangsung namun dikhususkan untuk kegiatan komunitas untuk menampung kreatifitas hasil lulusan. Dengan berubahnya Puspadanta menjadi lembaga maka diperlukan perbaikan mutu yang berdampak pada kwalitas hasil lulusan. Maka Lembaga Kursus & Pelatihan Bina Bakat PUSPADANTA mengembangkan section usaha yang menjadi user bagi semua murid yang ingin terus memperdalam ilmunya sampai mendapat kemampuan yang cukup.

Filosofi Berkurban, Filosofi Bermasyarakat dan Bernegara

Berkurban tidak harus dimaknai secara keagamaan, berkurban juga harus dimaknai secara filosofi. Setidaknya, ada tiga filosofi berkurban yang penting dimaknai manusia dan masyarakat bernegara agar mampu membangun bangsa dan negara.

Filosofi pertama. Berkurban adalah bukti ketulusan dan ketundukan.Bagi masyarakat bernegara, hal ini dapat dimaknai agar senantiasa berbuat dan bekerja tulus bagi kemajuan bangsa dan negara. Sekaligus mematuhi konstitusi atau hukum berlaku.

Berkurban yang merupakan bentuk ibadah umat Islam adalah sebuah revolusi kultural kebudayaan. Sebelum kejadian Nabi Ibrahim mengurbankan Nabi Ismail yang kemudian diganti dengan hewan sejenis kambing, sejarah memang dipenuhi dengan korban manusia. Sejak masa Nabi Ibrahim, barulah simbolisasi korban diganti hewan.

Simbolisasi itu menunjukkan bahwa Tuhan memerintahkan pada manusia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tidak boleh ada lagi manusia yang dikurbankan dalam sebuah upacara. Siapa pun, manusianya, tidak boleh menjadi kurban. Kurban manusia jelas melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.

Filosofi kedua terkait dengan konteks kinerja.

Berkurban mengajarkan keyakinan, kesetiaan, dan loyalitas tanpa batas.

Loyalitas, keyakinan, dan kepatuhan Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail harus dipedomani. Loyalitas dan keyakinan itu sangat relevan dengan prinsip-prinsip kerja.

Masyarakat bernegara juga harus memiliki kepatuhan, loyalitas, dan kesetiaan pada dasar dan ideologi Negara.

Spirit berkurban itu harus terus digali, dikembangkan, dan diimplementasikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu merupakan wujud dari eksistensi masyarakat bagi bangsa dan negara yang kita cintai.

Filosofi ketiga dalam berkurban adalah suggestion atau semangat berbagi bagi sesama anak bangsa. Spirit kepedulian penuh kepada bangsa dan negara.

Spirit berbagi dan kepedulian terus kita tumbuhkembangkan. Kepedulian antar sesama masyarakat bukan saja pada saat bencana tetapi juga di masa keadaan berjalan normal.

Dengan pemahaman seperti itu, dapat diyakini, semangat tolong-menolong dan bergotong-royong menjadi jati diri sejati bangsa. Pada akhirnya suggestion itu makin mengokohkan persatuan nasional yang harus dijaga sesuai amanah UUD.***