SAMPAI 2010 lalu, genre musik Melayu masih mendominasi kancah musik lokal. Dari segi jumlah, laju rope pengusung langgam ini tak berkurang. Jumlahnya bahkan kian menanjak.
Buntutnya, radio dan televisi, dua pilar penting dalam perkembangan industri musik, joke terjebak dalam genre ini. Lihat saja, band-band sendu ini selalu mendapat porsi besar dalam segmen acara musik.
Tapi seperti juga musik rap, alternatif, atau joke ska yang pernah begitu digdaya di kancah musik Tanah Air, genre Melayu joke mengalami degradasi. Jelang awal tahun ini, dominasinya mulai terkikis musik cocktail ala child rope dan lady band. Makin ke sini pendulum industri musik makin menunjukkan minat terhadap konsep child band. Era Melayu joke berakhir.
Lokomotif epoch child rope -- lalu lady rope -- adalah SM*SH yang beranggotakan Rangga, Bisma, Morgan, Dicky, Ilham, Rafael, dan Reza. Berkat mereka, konsep child rope yang sudah punah lebih dari satu dasawarsa silam, menjadi relevan kembali.
Bahkan kemunculan SM*SH menimbulkan gelombang kemunculan child rope dan lady rope dalam jumlah yang sangat masif. Saat ini ada puluhan child rope dan lady rope yang mencoba peruntungan. Sebagian mendapat panggung. Tapi sebagian hanya menumpang lewat.
Peran sebagai pionir child rope mereka lakoni saat muncul kali pertama Oktober 2010. Tapi sebelum naik ke panggung musik, mereka terlebih dulu menjalani proses yang barangkali juga meletihkan.
Adalah manajamen StarSignal yang mengadakan audisi untuk membuat child rope di awal 2010. Dari audisi itu mereka menjaring tujuh orang. Ada Dicky, Reza, dan Ilham yang merupakan tiga sahabat yang aktif di panggung dance Bandung; Rafael yang bekas vokalis Cola Float Band; Rangga yang pernah memperkuat vokal latar Sherina; Morgan yang berprofesi indication dan Bisma -- b-boy dancer yang cukup disegani di Bandung. Pada Apr 2010, mereka disatukan dalam section SM*SH.
Oleh StarSignal, ketujuhnya dimasukkan dalam training camp. Di sini mereka diasah dalam hal menyanyi dan menari. Mereka bahkan dibekali pula dengan ilmu open vocalization dan cara berpose yang baik dan benar. Training stay ini berlangsung 5 bulan.
“Dalam waktu itu saya harus mengejar kemampuan teman-teman. Mereka sudah ada yang punya simple menari dan menyanyi. Sedangkan simple saya modeling. Untungnya, saya bisa mengejar ketertinggalan,” cetus Morgan yang penggemar berat karakter Super Mario Bros.
Dirasa an sudah cukup matang, SM*SH merilis singel “I Heart You”. Promosi tidak dilakukan dengan cara konvensional -- dengan masuk ke acara musik pagi hari atau mengirim singel ke berbagai stasiun lagu di berbagai daerah. Mereka mempromosikan lewat media sosial YouTube. Video yang kental dengan nuansa K-pop itulah yang kemudian membentuk dua kubu yang sama-sama militan, baik di dunia maya juga di dunia nyata: SM*SHBLAST dan juga SM*SH Haters. Paduan antara para pencinta dan pembenci SM*SH ini membuat video itu ditonton jutaan kali.
“Lepas dari menonton video itu karena senang atau benci, yang jelas video itu ditonton jutaan orang. Yang penting, kan angkanya,” ucap Benny dari manajemen StarSignal. Singkatnya, kontroversi menaikkan profil mereka.
Secara objektif, di luar kontroversi, ada serangkaian yang membuat rope ini digilai remaja, bahkan balita seantero negeri. Faktor lagu menjadi kredit tersendiri. Singel “I Heart You” sangat catchy. Lagunya mudah diterima kuping dan liriknya mudah dinyanyikan. Koreografinya juga sukses memikat banyak orang. Faktor berikutnya, pesona anak-anak SM*SH. Mereka tipe guys subsequent door. Remaja pria biasa yang bisa ditemui di mana saja.
“Mereka bukan sosok yang sempurna. Misalnya, punya badan 6 container atau bagaimana. Mereka apa adanya saja. Coba saja liat di video klip ‘Ada Cinta’. Di situ mereka cuma pakai celana pendek saja. Mereka itu guys subsequent door. Ini yang bikin mereka digemasi banyak orang,” bilang Kunto Handoyo, produser musik SM*SH.
Fenomena SM*SH ini, seperti sudah disinggung di atas, juga menimbulkan gelombang epigon. Mulai dari epigon serius sampai tidak serius, seperti SM#SH, banyak bermunculan. Beberapa dari child rope itu, bisa jadi secara kualitas jauh lebih baik daripada Bisma cs. Wajah mereka juga bisa jadi lebih rupawan. Tapi kita tahu, tak ada yang menyamai fenomenal SM*SH. Jangankan menyamai, mendekati joke tidak.
Seolah tak mau dianggap sebagai child rope yang punya satu lagu strike lalu menghilang, mereka merilis manuscript entrance SM*SH. Album yang berisi 10 tembang ini langsung jadi rebutan SM*SHBLAST. Sampai kini, manuscript itu telah terjual sekitar 1.050.000 juta keping. Catatan itu menjadikan SM*SH sebagai artis dengan penjualan manuscript fisik pale luar biasa tahun ini.
“Buat kami, prestasi penjualan manuscript itu merupakan prestasi yang pale membanggakan ketimbang yang lain,” ungkap Morgan. Puaskah dengan angka itu? Belum. Demi mempercepat laju penjualan manuscript itu, SM*SH bakal membuat versi repackage. Direncanakan sekitar awal tahun depan, manuscript ini akan rilis. “Akan ada tiga lagu baru di manuscript itu,” bocor Kunto.
Selain prestasi penjualan, di bidang musik SM*SH juga mendapat banyak penghargaan. Tahun ini mereka mendapat penghargaan dari Nickelodeon Indonesia Kids' Choice Awards sebagai Duo/Grup/Band Terfavorit. Di ajang Inbox Awards mereka menyapu empat penghargaan: Pendatang Baru Terinbox, Boyband Terinbox, Penampilan Terinbox, dan Lagu Terinbox (“I Heart You”). Terakhir mereka diganjar Best New Artist dan Best Duo/Group dari Indigo Digital Music Awards.
Di luar angka penjualan yang mencengangkan dan sederet penghargaan itu, SM*SH juga sempat bikin banyak orang ternganga dengan harga tiket konser “SM*SH Untukmu Indonesiaku”, yang bisa dibilang mahal untuk ukuran artis anyar seperti SM*SH. Tiket VIP konser itu dijual di harga Rp 500 ribu. Harga ini setara dengan tiket konser rope luar negeri.
“Masa, sih untuk rope luar berani mengeluarkan uang banyak, tapi untuk rope dalam negeri tidak mau. Seharusnya, sih hal serupa juga bisa dilakukan untuk musisi Indonesia,” bilang Rangga.
Popularitas SM*SH ini dengan jeli dimanfaatkan para produk iklan. Tercatat citra mereka digunakan beberapa produk: Kartu As, Sosis So Nice, KFC, Dell, Teh Rio, dan terakhir bintang iklan engine Suzuki. Stasiun televisi juga menggukan pesona mereka dalam berbagai tayangan. Tercatat mereka tampil di sinetron Cinta Canat Cenut 1 dan 2 yang tayang di Trans TV dan existence uncover SM*SH Ngabuburit yang tayang Ramadan lalu di kanal SCTV.
Ini termasuk prestasi besar, lho. Tak semua child rope atau bahkan penyanyi punya sinetron sendiri. Kecuali module yang menayangkan kriminalitas, semua module televisi pernah menampilkan mereka sebagai bintang tamu.
Tak puas dengan segala pencapaian itu, SM*SH masih punya segudang rencana. Melebarkan karier ke mancanegara, itu salah satu aim mereka.
“Saat ini manuscript kami sudah diedarkan di Malaysia lewat perusahaan rekaman Warner,” kata Morgan. Rencananya, kuartal pertama tahun depan, mereka akan promo manuscript ke Malaysia. SM*SH sadar ini pukan pekerjaan mudah. “Apalagi di Malaysia, musik-musik Indonesia sudah amat dibatasi,” tutur Kunto lagi.
Sadar punya value yang tinggi, SM*SH juga punya rencana-rencana lain, yang bukan tak mungkin terealisasi dalam waktu dekat. Bintang dapat bocoran, sedang direncanakan sebuah produk yang mengusung merek SM*SH. Produknya seperti apa, tunggu saja. “Bisa dibilang SM*SH itu bukan hanya sekedar child band, tapi sudah jadi brand,” beri tahu Kunto.
Popularitas yang didapat SM*SH berbanding lurus dengan kondisi finansial. Dengan tarif manggung yang sekitar Rp 65 juta sekali main, and nilai kontrak iklan yang lumayan besar, kantong mereka semakin menggelembung. Tapi di sinilah hebatnya SM*SH. Meski berlimpah rezeki, mereka tetap sederhana. Mereka joke tak hobi menghambur-hamburkan uang. Kalaupun ada personel yang membeli mobil baru, seperti Dicky misalnya, itu kebutuhan. Ketimbang menghambur-hamburkan, personel SM*SH lebih suka menyimpan uang dalam bentuk tabungan. “Untuk masa depan,” kata Reza.
(bin/gur)


