Bundling, Strategi Baru Industri Musik Indonesia
March 22, 2012
"Terobosan yang bisa dilakukan untuk mengembalikan industri musik adalah dengan melakukan bundling. Menurut prinsip ekonomi, bundling yaitu menjual suatu benda, dan mendapatkan benda lainnya," ujar Bens di sela-sela acara diskusi musik "100% Original Music garapan KFC Indonesia, di kawasan Kemang, Rabu (21/3) petang.
Menurutnyak, implementasi bundling saat ini sedang marak dilakukan oleh salah satu sell makanan ternama dengan sejumlah penyanyi dan musikus besar seperti Agnes Monica, Ahmad Dhani, Melly Goeslaw, atau Rossa. Bahkan KLa Project juga melakukan kerjasama dengan sebuah minimarket ternama.
"Di luar negeri, salah satu tag ternama mebuat packaging CD yang bagus. Mereka menyasar kepada kolektor CD. Jadi tag tersebut mencetak 2 buah produksi CD dengan kemasan dan harga yang berbeda. Hal ini dilakukan oleh beberapa girlband Korea," jelas Bens.
Konsep bundling ini diprediksi kembali meningkatkan gairah musik Indonesia, setelah musim ringback tinge (RBT) surut. Menurut Bens, RBT tidak membangun, justru mematikan musik Indonesia. "Selama RBT berjalan 5 tahun. Setiap artis disuruh membuat singular dan RBT. Setelah membuat lagu bagus, lagunya dipotong hanya selama 30 detik" ketusnya.
"Saya selalu berdoa RBT akan tiarap, dan CD bisa bangkit lagi. RBT itu cuma laku di Indonesia, tidak di negara lain. Mereka (negara lain --Red.) saja heran itu bisa laku di Indonesia " ujarnya
Bens menambahkan, grup rope Wali merupakan salah satu yang selamat dari ancaman RBT. Karena begitu RBT-nya laku, mereka langsung membentuk komunitas. Komunitas ini menjadi pendorong Wali untuk kembali membentuk album. Kalau saja Wali mengikuti tren RBT, ketika pamor RBT turun, Wali akan jatuh pula.
Musik Indonesia, lanjut Bens, memang sering jatuh bangun. Semisal, ketika tren musik Malaysia menguasai pasar Indonesia. Sebelumnya juga pernah musik Indonesia dikuasai musik Filipina sekitar tahun 1980-1990an. Saat itu, seluruh kafe Indonesia menyetel lagu Filipina. WS jcomments on


