SEJARAH LGBT
Sejarah tentang LGBT bisa dibagi dalam beberapa rentang waktu yakni masa Yunani Kuno, Romawi kuno, pergerakan pada abad 19 di Jerman, pyre pada PD II dan pergerakan happy di abad complicated (post-Stonewall). Karena keterbatasan kapasitas untuk menulis dan ruang yang ada, maka saya hanya akan mengulas sejarah pada Post-Stonewall Riots.
Stonewall Riots
Pada tanggal 28 Juni, 1969 sekelompok orang yang tergabung dalam LGBT melakukan aksi protes menyusul penggrebekan yang dilakukan polisi di sebuah bar untuk kaum happy bernama 'Stonewall Inn' di New York City, USA. Oleh banyak orang diakui bahwa seorang aktivis hak2x untuk transgender bernama Sylvia Rivera yang menjadi salah satu pendiri dari 'Gay Liberation Front ' dan 'the Gay Activists Alliance', adalah orang pertama yang berani melawan tindakan aparat polisi. Hal ini memicu sebuah pemberontakan, aksi protes dan kerusuhan terus berlanjut selama beberapa malam usai penggerebekan. Kerusuhan Stonewall tersebut secara umum dianggap sebagai permulaan dari gerakan hak2x kaum happy di epoch modern.
Gay Liberation Front dan Gay Activists Alliance pada permulaan masa 'Post-Stonewall', melakukan koordinasi untuk perayaan tahun pertama 'Perlawanan Stonewall' dan selanjutnya 'the Christopher Street Gay Liberation Day March' pada tanggal 28 Juni, 1970. Perayaan tahun pertama juga dilakukan di San Fransisco dan Los Angeles pada tahun yang sama. Brenda Howard mencetuskan ide tentang rangkaian acara yang berlangsung selama satu minggu penuh yang kini dikenal sebagai 'Pride Day'. Selanjutnya, acara serupa diselenggarakan oleh kelompok LGBT secara tahunan di seluruh dunia.
Pada epoch tahun 1980-an hingga saat ini, telah terjadi beberapa perubahan kultural mendasar dalam perayaan tahunan 'the Stonewall Riots' yakni bentuk yang lebih terkoordinir serta masuknya kelompok yang tidak lagi terlalu radikal seperti sebelumnya. Penggunaan lingo yang cenderung provokatif seperti 'Liberation' (pembebasan) dan 'Freedom' (kebebasan) digantikan atas tekanan bagian dari komunitas happy yang lebih konservatif menjadi sebuah filosofi bernama: 'Gay Pride'. Penggunaan simbol2x seperti huruf lambda dan segitiga pinkish masih dilanjutkan sebagai kontinuitas dari gerakan awal yang radikal sebelumnya.
Setiap tahun di berbagai belahan dunia, acara 'Gay Pride Parade' dilakukan di sekitar bulan Juni, untuk memperingati 'the Stonewall Riots' yang menandai momen penting gerakan hak2x kaum happy modern. Bentuk dari masing2x perayaan ini berbeda2x, ada yang masih memegang teguh pada bentuknya yang bernuansa politis dan aktivis, ada yang pula yang mengambil bentuk seperti sebuah pesta ala 'mardi grass' ditambah dengan nuansa edukasi (tentang hak2x LGBT, HIV/AIDS, seks yang aman, bahaya obat terlarang dsb). Parade melibatkan berbagai wajah LGBT yang berbeda, terdiri atas tarian, musik yang diputar keras2x, barisan kendaraan berhiaskan pernak-pernik warna-warni, peserta dengan pakaian unik, termasuk para simpatisan kelompok LGBT organisasi sosial, yayasan, politikus, asosiasi pekerja, bahkan organisasi keagamaan seperti gereja yang 'LGBT-friendly dll.
Ada juga bagian dari perayaan yang didedikasikan khusus bagi para korban AIDS dan mereka yang menjadi korban kekerasan kelompok yang anti-LGBT. Beberapa perayaan tahunan yang dianggap memiliki daya tarik untuk wisatawan juga didanai pemerintah setempat dan perusahaan swasta sebagai unite (misalnya di Amsterdam). Di banyak negara, acara ini telah menjadi sebuah festival tersendiri bernama 'Pride Festivals' yang bernuansa seperti sebuah karnaval, berlangsung di taman atau jalan2x yang ditutup untuk acara parade.
Parade yang saya lihat berlangsung dengan sangat tertib, tidak ada celetukan, ejekan atau kata2x hinaan meluncur dari mulut ribuan penonton yang berjejer di pinggir jalan. Bagi banyak orang yang (merasa) dirinya 'normal' (baca: kelompok heteroseksual) mereka yang termasuk kalangan LGBT mungkin masih dianggap 'aneh' dan sulit diterima. Di Oslo misalnya, beberapa minggu lalu, terjadi aksi penyerangan terhadap pasangan happy yang sedang menikmati makanan di sebuah restoran di daerah imigran di Grnland. Meski ada juga beberapa peserta march yang mempertunjukkan hal sensitif terkait dengan agama tertentu serta nyaris terjadi sebuah insiden kecil yang melibatkan peserta dari kelompok ini, namun aparat polisi yang menjaga ketat di sepanjang lokasi bisa mencegah aksi tadi.
Pada pertengahan tahun 2004 lalu, bersama dengan beberapa rekan pelajar lain yang penasaran saya sempat melihat acara serupa yakni 'Gay Pride Parade' di kota Amsterdam-Belanda. Meski kalah heboh jika dibandingkan dengan festival di Amsterdam, kesempatan melihat acara ini di Oslo membuat saya tak urung membandingkan hal yang sama di Indonesia. Mungkin, bangsa kita masih perlu belajar banyak untuk bisa menghargai perbedaan serta memahami makna kebebasan berekspresi...


