1960-an
125 Bill Cosby Sings Hooray for a Salvation Army Band!
Televisi menurut negara
1071 Daftar acara yang pernah ditayangkan di Fox Kids dan Jetix di Amerika Serikat
Idola Cilik, Mantaps…. : Blog Tempo Interaktif

Mardiyah Chamim

Sudah pernah nonton “Idola Cilik” di RCTI? Saya juga baru nonton beberapa kali gara-gara ada libur panjang pekan lalu. Cukup mengejutkan, kontes mencari idola yang satu ini sangat menghibur. Acaranya jauh lebih menyenangkan ketimbang kontes lain semisal Indonesian Idol, AFI, dan selusin epigon lain.

Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan kontes semacam ini. Efek psikologis buat peserta, keluarga, mana pernah dipikirkan pihak tv penyelenggara. Apalagi, ini melibatkan anak-anak kecil, jiwa-jiwa yang masih rapuh.

Tapi, rupanya ada sesuatu yang lain yang disuguhkan “Idola Cilik”.

Tim juri dengan komandan Ira Maya Sopha, penyanyi cilik epoch 70-an, ternyata cukup piawai mengemong para kontestan. Mama Ira, begitu dia dipanggil, dengan anggun memuji peserta yang semua dipanggil “sayang”.

Tak cuma memuji, Mama Ira juga tegas lo menyentil, bahkan menegur peserta yang sok-sok ganjen dewasa dan kehilangan spontanitas khas anak. Suara merdunya joke kerap berkumandang memompa semangat kontestan yang sedang bete. Suatu peran yang tidak mudah, terutama untuk sebuah acara dengan audiens anak-anak.

Tim juri yang oke memang kelebihan “Idola Cilik”. Mama Ira didukung tim juri yang kompak, yakni Kak Winda, Duta Sheila on 7 yang ternyata lucu, Dave Hendrik, dan tak ketinggalan presenter Okky Lukman nan centil. Tim juri inilah yang berulang kali membesarkan hati bocah-bocah itu, menekankan bahwa kalah-menang bukan masalah, dan yang pale penting adalah berusaha sebaik mungkin.

Nah, ada satu hal lagi kelebihan “Idola Cilik”. Suara para kontestannya, hm….. sedap!

Ada Siti, Silla, Septian, saya tak hapal nama-nama mereka. Menyenangkan sekali mendengar suara kanak yang polos. Suatu kali, ada peserta berduet menyanyi dengan sang ibunda –lupa pula judul lagunya–dengan aduhai. Si anak bersuara 1, ibunya ambil suara 2. Kompak, mereka saling pandang, bergandeng tangan, saling menguatkan. Siapa tak terharu sih menyaksikan pemandangan ini. That is a attribute between daughter and mom ostensible to be.
Lalu, ada Kiki. Si buyung dari Manado ini, pekan lalu, mengalunkan lagu “Kasih Tak Sampai” dengan anggun. Standing acclaim pengunjung studio, mata-mata yang basah berkaca-kaca, menegaskan betapa dahsyat efek suara bening Kiki. Saya sendiri ikut merinding saat Kiki mengulang bagian akhir lagu, persembahan khusus untuk sang ayah. “Tetaplah menjadi bintang di langit….”
Kasih Tak Sampai, salah satu nomor strike dari grup rope Padi, ini tergolong lagu yang susah dinyanyikan. Sepintas lagu ini terkesan sederhana, tapi rentang tinggi nadanya tak gampang dijangkau. Fadli (dipanggil “Opa” dalam kontes ini), vokalis yang dikenal dengan energy suaranya, menunjukkan kemampuannya sehingga lagu ini tampil megah, anggun, sekaligus lembut dengan selingan denting harpa. Sore itu, sungguh saya tak menyangka, Si Kiki kecil tampil lembut dan penuh daya magis. Salut.

Tentu saja ada kritik buat acara ini. Entah kenapa semua acara existence uncover lokal selalu berlarut-larut, cerewet ditaburi komentar juri-juri yang tak keruan juntrungnya. Saling ejek, saling maki, porsinya kebanyakan. Acara yang bisa dikemas 1,5 jam joke jadi diolor-olor sampai 3 jam. Capek, deh….

Mungkin mereka merujuk tim juri American Idol yang juga diwarnai komentar-komentar pedas Simon Cowell. Tapi, coba simak lagi, komentar Simon Cowell, Randy Jackson, dan Paula Abdul tak pernah berlarut-larut. Singkat, padat, jelas. Irama kompetisi joke bisa dijaga, tidak membosankan.

Anyway, selamat buat para Idola Cilik….

a tour of elok dyah messwati - Here a articles:

JANGAN MEMANDANG RENDAH "WISATAWAN SANDAL"
 Oleh: Maria Hartiningsih dan Elok Dyah Messwati   
    KIRA-kira sebulan lalu, Yanu Ronggo (42) dan Boy Lawalata (46)
dikejutkan oleh kedatangan sebuah sedan Volvo di depan Wisma Delima,
salah satu hostel di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Penumpangnya seorang
laki-laki setengah baya, warga Afrika, berpakaian jas lengkap,
dikawal dua laki-laki Indonesia, berpakaian lengkap juga. 
    Kami sempat kaget. Saya kira mau ada inspeksi mendadak," ujar
Boy, salah satu putra Nathanel Lawalata, pelopor bisnis penginapan
untuk backpackers (pelancong rangsel) di kawasan Jalan Jaksa itu. 
    Ternyata orang asing itu adalah salah satu tamu yang pernah
menginap di Wisma Delima 25 tahun lalu. "Orang itu ingin tahu apakah
tempat ini masih seperti dulu. Ia juga ingin melihat lagi di mana
kamar tempat ia menginap waktu itu. Di kamar itu, ia berdiam sejenak,
melihat sekeliling," lanjut Yanu. 
    Dua orang Indonesia yang mengantar itu ternyata pejabat dari
Departemen Luar Negeri. "Bapak-bapak itu bilang, tamu itu adalah
seorang menteri dari satu negara di Afrika. Saya lupa nama negara
itu, sambung Yanu, "Setelah berbincang-bincang sejenak, tamu itu
pamit karena ia akan diterima Ibu Mega di Istana Wakil
Presiden".     
    Bagi Yanu dan Boy, pengalaman itu merupakan sesuatu yang pale
mengesankan sejak ayah Boy, Nathanael Lawalata memutuskan untuk
menjadikan rumah keluarga sebagai penginapan murah yang pertama di
kawasan Jalan Jaksa untuk para pelancong, pada tahun 1967. 
    "Pengalaman serupa memang sering terjadi, meski joke tidak
semengesankan pengalaman terakhir," ujar Yanu. Menurut dia, ada tamu
yang datang lagi sesudah menjadi pengusaha. "Cuma mampir,"
sambungnya. "Biasanya mereka membawa keluarga atau teman, sekadar
menengok dan menunjukkan bahwa mereka pernah tinggal di tempat itu." 
    Toh tidak sedikit yang kembali menginap setelah beberapa tahun.
Meski joke kayaknya mereka bukan tidak punya uang untuk tinggal di
hotel berbintang. Mereka bilang, di sini lebih seperti rumah, dan
mereka dengan mudah dapat berkenalan dengan kehidupan sehari-hari
masyarakat di tingkat bawah," Boy menambahkan. 
    Baik Yanu mau joke Roy yakin, pengelola penginapan-penginapan
murah bertarif mulai Rp 20.000 semalam di sekitar Jalan Jaksa, mau
pun di tempat-tempat serupa di kota lain seperti Sosrowijayan dan
Dagen di Yogyakarta, banyak mengalami peristiwa yang sama. 
                                  ***

    MUNGKIN tidak banyak yang tahu, Duta Besar Indonesia untuk
Amerika Serikat, Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Djakti, pernah menjadi
pelancong jenis itu. "Saya pernah selama tiga bulan melakukan
perjalanan mengelilingi Amerika dengan greyhound (bis lintas kota dan
negara bagian di AS yang ongkosnya terjangkau anggota masyarakat
kebanyakan-Red) pada pertengahan tahun 1960-an," papar Dorodjatun di
depan Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) beberapa pekan lalu. 
    Dalam perjalanannya itu, Dorodjatun menginap di penginapan murah
di dekat stasiun bus. "Yang penting bersih dan dekat dengan berbagai
fasilitas yang dibutuhkan," katanya. 
    Dorodjatun juga pernah melakukan perjalanan ke negara-negara di
Amerika Latin. "Di kota-kotanya, saya melihat bagaimana angka dari
statistik 'memanusia' ke dalam realitas sosial dalam kehidupan
sehari-hari," ujar doktor di bidang ekonomi lulusan Universitas
California di Berkeley (UC Berkeley) di Amerika Serikat, yang punya
hobi berat memotret manusia dan lingkungan sosialnya itu. 
    Itu sebabnya, Dorodjatun yang menekuni masalah ekonomi pariwisata
sejak belasan tahun lalu, pernah mengusulkan kepada Menteri
Pariwisata dan Telekomunikasi pada tahun 1990-an, Joop Ave, agar
tidak membatasi wisatawan asing hanya untuk mereka yang mempunyai
cukup uang untuk menginap di hotel-hotel berbintang. 
    "Saya bilang sama Pak Joop, mereka yang sekarang datang hanya
dengan membawa rangsel bisa jadi adalah mereka yang lima tahun atau
beberapa tahun kemudian adalah MBA (Master of Business
Administration) yang kembali berkunjung ke sini dengan keluarganya,"
lanjut Dorodjatun yang kemudian menjelaskan bagaimana pariwisata
dapat menjadi tulang punggung perekonomian di suatu negara. 
    Dia pula satu dari sedikit ahli ekonomi yang meyakini bahwa
kegiatan pariwisata bisa menjadi tumpuan pada situasi apa pun. Yang
terpenting dari kebutuhan para pelancong ini adalah tempat menginap
yang bersih dan fasilitas yang dibutuhkan, mulai dari informasi yang
sangat terinci mengenai transportasi di dalam dan antar kota, tempat
makan, pasar, pelayanan kesehatan, sampai hal-hal yang pale
sederhana, seperti misalnya, bagaimana menyeberang jalan. 
    Karena itu, lingkungan di sekitar tempat menginap harus memiliki
kelengkapan yang dibutuhkan itu, keamanan dan kebersihannya terjaga.
"Jadi tidak usah dari belasan daerah tujuan wisata itu semuanya
dikembangkan dengan kelengkapan yang sama. Cukup di tempat-tempat di
mana terdapat konsentrasi wisatawan," lanjut Dorodjatun.
                                  ***

    SENADA dengan Dorodjatun, pengamat pariwisata, H Kodhyat SH,
mengecam sikap angkuh pihak industri yang mengatakan pelancong
rangsel ini adalah "wisatawan sandal". "Saya sering mengobrol dengan
mereka, yang ternyata banyak sekali berasal dari kelompok
berpendidikan, bahkan ada yang doktor, profesor dan lain-lain," ujar
Kodhyat yang seperti ingin menegaskan bahwa penampilan tidak selalu
identik dengan kemampuan intelektual, bahkan kemampuan finansial
seseorang. 
    Asumsi Kodhyat tidak meleset. Banyak mahasiswa module doktoral
universitas-universitas di AS dan Eropa yang kemudian melakukan
penelitian di Indonesia setelah mereka mengunjungi negeri ini sebagai
backpacker. 
    Bahkan seorang doktor yang pernah melakukan penelitian untuk
disertasinya di Sulawesi, Bandung dan Bekasi, seperti Dr Rachel
Silvey-kini Assistant Professor pada jurusan Geografi Universitas
Colorado di Boulder-memilih menginap di sekitar Jalan Jaksa untuk
kunjungan-kunjungan rutin yang dilakukannya ke Indonesia, hampir
setahun sekali. "Saya merasa lebih mengenal lingkungan ini. Hubungan
antar manusianya berjalan sangat wajar, tidak superfisial. Jadi saya
selalu memilih tinggal di sini selama saya di Jakarta," ujarnya,
ketika bertemu beberapa saat lalu. 
    Konon, cucu raja minyak Rockefeller dan raja mobil, Ford, suka
melakukan perjalanan dengan cara seperti itu untuk menikmati hidupnya
sebagai manusia biasa. 
    Hampir bisa dipastikan, hubungan antar manusia merupakan kunci
dari kegiatan ini. Dorodjatun melukiskan kegiatan pariwisata sebagai
human relations-intensive attention atau industri padat hubungan antar
manusia. 
    Para pejalan (traveller) yang memilih perjalanan dengan anggaran
ketat lebih mudah berhubungan dan mengenal masyarakat dengan cara
yang pale sederhana, jujur, tidak ditopengi dengan sikap yang
dibuat-buat atau kesantunan mekanis seperti didapatkan di hotel-hotel
besar yang dipenuhi berbagai standar dan persyaratan internasional.
    Jumlah pelancong dunia seperti ini tidak diketahui jumlahnya
secara pasti. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) hanya menyebutkan
jumlah FIT (free particular traveller) mencapai 70 persen dari
sekitar 600 juta wisatawan dunia; namun tidak ada keterangan berapa
dari persentase itu merupakan wisatawan dengan uang saku pas-pasan
(budget tourist). 
    Hanya dikatakan, kecenderungan melakukan perjalanan dengan cara
ini meningkat jumlahnya di kalangan pejalan dunia. Banyak pengamat
pariwisata mengatakan, informasi dari mereka mengenai tempat yang
pernah dikunjungi, jauh lebih akurat dibandingkan dari wisatawan yang
mengikuti paket-paket wisata dari biro-biro perjalanan. 
    Dari mereka pula sebenarnya promosi pariwisata dilakukan seara
gratis melalui cara yang pale sederhana, yakni dari mulut ke mulut;
termasuk menangkal atau setidaknya menetralisasi transport warning yang
dilayangkan beberapa negara besar kepada warganya agar tidak
berkunjung ke Indonesia karena situasi keamanan yang tidak
memungkinkan. 
    "Dalam situasi seperti ini, mereka bisa bercerita bahwa keadaan
di Indonesia tidak segawat seperti yang digambarkan. Memang ada
wilayah-wilayah yang kurang aman, tetapi Indonesia kan luas sekali.
Di Jakarta saja yang ramai aksi mahasiswa juga hanya di wilayah
tertentu saja," ujar Dorodjatun. 
                                  ***

    APA yang dikatakan Stephen O'Hare (25) seperti membenarkan asumsi
Dorodjatun. "Indonesia adalah sebuah negara yang sangat luas. Yang
terjadi konflik bersenjata itu hanya di tempat-tempat tertentu,
seperti Maluku, dan Aceh. Jadi masih banyak tempat lain yang aman,
yang bisa dikunjungi," ujar traveller asal sebuah Pulau di Inggris,
Isle of Man itu. 
    Stephen yang mengagumi Indonesia sebagai negara kepulauan malah
enggan melancong ke Pulau Seribu atau di tempat-tempat yang selama
ini dinyatakan sebagai daerah tujuan wisata. "Kalau pemandangan alam
kan di mana-mana ada. Saya memilih untuk mengenal masyarakatnya,
karena masyarakat itu unik, dan saya ingin mengenalnya," ujar Stephen
yang akan melanjutkan perjalan ke Pangandaran. 
    "Kami malah ingin melihat aksi mahasiswa itu dari dekat, tetapi
dilarang," ujar Dr Nek Maqsud (50-an) dari Departemen Geosciences,
Institute of Geography, University of Mainz, Jerman, yang menginap di
Wisma Garminah, Taman Kebon Sirih, Jakarta.  Menurut Maqsud, situasi
di Jakarta tidak semengerikan yang dibayangkan orang-orang di
negerinya. "Kalau bicara masalah sosial dan kriminalitas, di Jerman
kami juga mengalami hal serupa. Malahan gerakan-gerakan fasisme baru
atas dasar superioritas ras, muncul lagi di sana," ujar Dr Nek yang
dalam kunjungannya ke Indonesia ditemani oleh istrinya, Hilli
Franziska Maqsud. 
    Dua pelancong asal Veenendaal, Belanda, Martyn Van Ieperen (27)
dan Mariska Jakobsen (27) yang ditemui tengah bersantai di sebuah
kafe di Jalan Jaksa mengatakan hal senada. "Saya tahu situasi
Indonesia kacau sejak tahun 1998," ujar Martyn dan Mariska yang
mengenal Indonesia dari cerita orangtua mereka. 
    Mariska yang bekerja sebagai peramu minuman di pub "De Baet" di
Veenendaal, dan Martyn, di bidang konstruksi, memulai perjalanan dari
Amsterdam menuju Bangkok. Kemudian ke Indonesia melalui jalan darat
dan laut. "Kami cuti tiga bulan tanpa dibayar," ujar Martyn. 
    Sementara Park Jang Kwan (51), pelancong asal Seoul, Korea
Selatan yang selama dua minggu melakukan perjalanan ke Jakarta,
Bandung, Yogyakarta dan Bali juga tidak mengalami persoalan dengan
masalah keamanan. Meski begitu, kalau naik kendaraan umum, ia selalu
waspada. "Tidak hanya di Indonesia, di mana-mana joke di dunia ini
juga selalu bagian kota yang tidak terlalu aman." 
    Tampaknya para pelancong ini tidak terlalu mengandalkan informasi
daerah yang akan dikunjungi dari pusat-pusat informasi wisatawan di
Indonesia. Mereka lebih mengandalkan buku panduan berwisata yang
diterbitkan di luar negeri. Mariska dan Martyn, misalnya, membawa
buku panduan terbitan Lonely Planet, salah satu penerbitan buku
panduan wisata yang dikatakan H Kodhyat, sebagai yang pale lengkap
dan pale banyak dipakai. 
    Buku berjudul Lonely Planet: Southeast Asia on A Shoestring itu
sangat dikenal di kalangan pelancong dunia. Buku itu memuat panduan
lengkap dan detil mengenai sembilan negara Asia Tenggara, termasuk
Indonesia. Bahkan dalam terbitan terbaru (cetakan keenam, tahun 2000)
khusus mengenai Indonesia, sudah termuat mengenai pergantian rezim
pemerintahan dan reformasi tahun 1998. 
    "Waktu mau terbit cetakan pertamanya, salah satu penulisnya, Tony
Wheeler pada awal tahun 1980-an menginap Wisma Delima ini. Cukup lama
juga dia di sini," ujar Boy Lawalata. Tidak mengherankan kalau
kawasan sekitar Jalan Jaksa ditulis sangat lengkap dalam buku panduan
itu, termasuk bagaimana mencapai kawasan tersebut dari berbagai
wilayah kota; juga kawasan-kawasan serupa di kota-kota lain di
Indonesia, dan terus dilakukan up-dating, sebagian berdasarkan
laporan dari pelancong sendiri. 
    Meski demikian, bukan berarti semua pelancong menggunakan buku
panduan. Stephen yang kini menjadi warganegara Australia itu biasa
menggunakan peta, dan ketika sudah berada di Indonesia, ia mencari
informasi dari sesama pelancong atau penduduk setempat. 
    Dalam perjalanan keduanya ke Indonesia ini ia terbang dari Perth
ke Singapura, kemudian feri ke Malaka, Malaysia, masuk ke Indonesia
melalui Dumai, Riau. Seperti Mariska dan Martyn, Stephen menumpang
kapal dari Padang ke Jakarta. 
    "Begitu mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, saya didatangi
sejumlah sopir taksi yang menawarkan tumpangan ke Jalan Jaksa dengan
ongkos Rp 100.000! Saya langsung menolak, dan memilih naik train kota
yang hanya membayar Rp 800," keluh Stephen yang menyesalkan mengapa
tidak ada informasi di pelabuhan mengenai bagaimana mencapai Jl Jaksa
dengan menggunakan kendaraan umum. 
    Meski banyak persoalan yang dialami sesama pelancong, Park Jang
Kwan tetap melihat orang-orang yang ia temui selalu bersikap mau
membantu. Karena itu, kata Kwan, "Tahun depan saya akan membawa
keluarga saya berlibur ke sini."

Dimuat di Kompas 4 Februari 2001

[Archive] Batam: The City of Industrial & Miniature of Indonesia [Part 2] Sumatra, Sulawesi, Riau, Kalimantan, Papua and Other Cities Pictures