Pesta Metalhead Terbesar Di Asia Tenggara
February 21, 2012

Metal adalah budaya, attitude, bukan sekadar raungan musik keras yang menggerinda. Juga, atribut hitam-hitam buka konklusi identitas metal, tapi hanya semacam penyeragaman ‘bahasa’, supaya saling mengenali dan saling menghargai. Metal juga tidak hanya tumbuh subur di ‘bawah tanah’ (underground), tapi juga di tersiar luas di ‘permukaan’. Dihayati oleh orang-orang yang berbalut kostum kusut, atau yang berseragam sekolah, hingga orang-orang berdasi. Ketika berbicara musik, khususnya metal, tak ada perbedaan status. Cobalah meng-eksklusifkan diri, dan yakinlah Anda akan terkucil.
Kebersamaan itulah yang akan dirayakan di Hammersonic – Jakarta International Metal Festival, sebuah pesta musik steel yang diyakini terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang akan digelar di Lapangan D, Senayan, 28 Apr 2012. Sebuah ajang pertemuan besar-besaran bagi Anda yang mengaku metalhead. Tak perduli dari mana Anda berasal. Yang penting Anda masuk golongan ‘metal during heart’. Sebuah ajang ekspresi sum yang sesungguhnya, dimana si kostum kusut akan berbaur dengan mereka yang terbiasa berdasi, yang selama ini hanya bisa menikmati steel dari headphone, dalam sebuah ruangan AC yang hening dan nyaman.
Apa yang akan Anda temukan di Hammersonic Festival? Mengapa terbesar di Asia Tenggara?
Satu yang pasti. Festival ini tidak digeber dengan choice band-band cegatan, alias rope yang turnya kebetulan melewati langit Indonesia. Puluhan ribu metalhead yang diestimasi bakal hadir, akan sangat beruntung bisa menyaksikan aksi panggung SUFFOCATION, rope genocide steel comparison asal New York (USA) secara eksklusif. Ada pula ‘raksasa’ genocide steel lainnya, seperti NILE (USA) dan CHTHONIC (Taiwan) yang baru pertama kali ini ke Indonesia. Lalu, deretan ‘siksaan’ diperpanjang oleh D.R.I., PSYCROPTIC, DIVINE CODEX, MASSACRE CONSPIRACY, NOTHNEGAL hingga IMPIETY. Nama-nama berbisa inilah yang diyakini bakal menarik massa steel dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. “Band-band itu langsung kami datangkan ke Indonesia,” tandas Ravel, upholder Revision Entertainment, pelaksana festival ini.
Sementara dari barisan lokal, band-band plain dengan ribuan massa fanatik seperti DEATH VOMIT, SERINGAI, DEADSQUAD, BURGERKILL, SUCKERHEAD, DEAD VERTICAL, KOIL hingga DREAMER sudah dipastikan akan mengentakkan palu suara nan beringas di atas dua tabernacle megah dengan semburan sound complement berdaya puluhan ribu watt. Selama sehari penuh, deretan rope cadas tersebut akan memborbardir kuping tanpa ampun, tanpa henti.
Nah, jelas tak ada alasan yang bisa dimaklumi buat mereka yang menyebut dirinya metalhead jika melewatkan pesta steel akbar ini. Karena selain choice rope yang fantastis, Hammersonic juga digarap dengan etika yang profesional. Seluruh rope yang tampil akan diperlakukan sama, tanpa terkecuali. Merasakan kemegahan panggung yang sama, siraman tata cahaya yang sama, dan menggeber distorsi yang sama cadasnya. Di sinilah adu nyali sesungguhnya. Bahwa Indonesia bukan hanya memiliki stage steel yang sangat besar dan plain – yang telah diakui oleh banyak rope internasional – namun juga dihuni band-band tangguh yang berkualitas. Dan itu semua akan dibuktikan di Hammersonic Festival. Horn up!!!!
indonews
Bandung Masuk 5 Besar Dunia Komunitas Musik Underground
September 25, 2008
Grup nada irama beraliran underground,
Beside, yang menggelar konser launching albumnya Sabtu lewat (9/2/2008) di AACC, merupakan 1 dari
sekitar 200 kubu nada irama underground di Kota bandung.
Besarnya besaran itu menjadikan Bandung
masuk jajaran 5 mega komunitas
underground terbesar pada perbandingan universal setelah Amerika, Jerman, Inggris
dan Belanda. Demikian disampaikan pengamat nada irama underground, Reggi Kayong
Munggaran, detik dihubungi detikbandung, Senin (11/2/2008). "Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah
dilakukan anak adam heran negeri mengenai subkultur di Bandung.
Ternyata Bandung memiliki animo yang layak mega terhadap nada irama underground,
hingga menempati kedudukan ke lima
komunitas terbesar undrground di dunia," tutur Reggi.
Menurut Reggi, besarnya animo
masyarakat, anak belia khususnya, terhadap nada irama underground merupakan
kecenderungan yang aneh. Begitupun menurut negara-negara beda penganut
subkultur yang sama. Musik underground sendiri, lanjut reggi, merupakan budaya
cangkokan. Dimana pada cara jalan pencariannya membentuk pembudidayaan memberdayakan diri
sendiri dan komunitas. Berangkat bermula pemikiran itulah, para pelaku musik
underground memiliki etos gawai ''''Do it Your Self". Karena musik
underground merupakan nada irama subkultur lain nada irama mainstream, dimana tidak
semua anak adam dapat menikmati, tak segala anak adam dapat melihat. Sehingga untuk
tetap melindungi keberadaan nada irama ini mesti dilakukan sendiri. "Grup
underground membuat konser sendiri, show sendiri, kecenderungannya lebih
eksklusif akibat kapitalisme telah mengakomodasi nada irama itu sendiri. Kalau musik
seperti ini siapa yang bakal mendengar, sanggar mana yang bakal membuat rekaman.
Kecuali sama orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap nada irama underground," jelas Reggi.
Reggi mengatakan, bermula sekian banyaknya kubu nada irama underground di kota
Bandung, telah berlimpah yang
melebarkan sisi ke heran negeri, bagai Eropa. Hal itu dapat terjadi momen ada
orang heran yang tertarik melihat
subkultur di metropolis Bandung,
sehingga mereka pun melakukan penggalangan dana bakal memanggul nada irama underground
Bandung bermain di dunia
internasional. Menyinggung mengenai pandangan rakyat mengenai musik
underground yang seringkali diidentikkan dengan kekerasan Reggi menuturkan,
para pelaku nada irama underground berserah tapi tak condong apatis. Untuk
mencairkan kesan masyarakat, mereka seringkali mengadakan propaganda anti
kekerasan. "Ke depannya, kami bakal melakukan propaganda anti HIV AIDS dan
anti narkoba," tambahan Reggi.


