BAB I
PENDAHULUAN
Masa kejayaan islam mengalami puncak keemasan adalah pada masa Daulah bani Abbasiyah, pada masa itu berbagai kemajuan dalam segala bidang mengalami peningkatan seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sistem pemerintahan nya. Masa keemasan yang terjadi pada masa daulah bani Abbasiyah terjadi disaat masa kholifah Harun Ar- rasyid, dikala ia memimpin pemerintahan tersebut semua bidang dalam pemerintahan mengalami kemakmuran, karena adanya sistem pembayaran pajak dari hasil bumi yang dikelola kembali untuk kepentingan rakyatnya.
Oleh karena itu masyarakat merasakan kesejahteraan pada masa pemerintahan harun ar- rasyid tersebut. Selain dari kepempinan, kemajuan dan kejayaan islam pada masa daulah bani abbasiyah terjadi karena adanya gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh orang – orang yang di utus oleh pemerintah bahkan mendapat bayar yang besar dari pemerintahan. Berbagai buku yang berasal dari bahasa Persia dan yunani mulai diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa itu. Pada masa itu juga lahir berbagai ahli filsafat islam seperti ibnu sina, al – farabi, ar- raji dan berbagai ahli filsafat ilmu yang lainnya.
Para ahli filsafat islam tersebut tidak hanya mendalami satu ilmu melainkan keseluruhan dalam bidang ilmu, seperti kedokteran, matematika, filsafat, astronomi dan sebaginya. Sehingga tidak aneh kalau pada masa pemerintahan daulah bani Abbasiyah mengalami puncak keemasan dan kejayaan. Karena dalam pemerintahan daulah bani Abbasiyah banyak silih berganti kepemimpinan, dan hal itu juga yang secara tidak langsung yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran dari daulah bani Abbasiyah tersebut. Kemungkinan besar karena kurangnya kecakapan dari pemerintah yang memimpin negara, selain itu juga banyak pejabat pemerintahan yang hanya mementingkan kepentingan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyatnya, sehingga banyak terjadi korupsi dan ajang menikmati kemewahan untuk memperkaya dirinya, akibatnya pengeluaran kas negara lebih banyak dari pada pemasukan negara. Hingga muncullah berbagai faktor novice maupaun akstern yang menyebabkan kemunduran daulah bani Abbasiyah hingga akhirnya hancur.
Karena untuk membangun kembali sesuatu yang telah terjadi adalah dengan mempelajari sejarah sebagai cerminan untuk berhati – hati, sehingga teliti agar dapat menghindari hal- hal yang menghambat terbangunnya itu dan hal yang menyebabkan kehancurannya itu. sehingga kita termotivasi untuk membangun kembali peradaban islam dan dapat membangun kejayaan islam Pada masa sekarang.
b. Rumusan masalah
Dalam pembahasan makalah ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan sejarah peradaban islam daulah bani abbasiyah meliputi :
a. Asal mula daulah bani abbasiyah
b. Bentuk pemerintahan dari daulah bani abbasiyah
c. Masa kejayaan dan Kemajuan dari daulah bani abbasiyah
d. Masa kemunduran daulah bani abbasiyah
C. Metode
Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode literatur dengan menggunakan beberapa sumber buku yang berkaitan dengan masalah sejarah peradaban islam mengenai daulah bani abbasiyah.
d. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dengan berkelompok untuk bahan diskusi mata kuliah sejarah peradaban islam, selain itu juga untuk menambah pemahaman pada diri kita mengenai sejarah peradaban islam pada masa daulah bani abbasiyah, sehingga kita memahami dan mengerti agar menjadi cerminan dari sejarah tersebut untuk dapat membangun kembali sejarah peradaban islam pada masa kini dan yang akan datang agar islam ini benar- benar berjaya di muka bumi ini. Aamin
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN DAN PERADABAN PADA MASA DAULAH ABBASIYAH
A. Asal - mula Daulah Abbasiyah
Peradaban islam mengalami kejayaan pada masa Daulah Abbasiyah ,mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju karena adanya penerjemahan naskah – naskah asing terutama yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab, didirikannya perpustakan BaitAl-Hikmah dan terbentuknya ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir.kemajuan peradaban Abbasiyah sebagian disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan ini. Pusat kekuasaan daulah bani Abbasiyah berada di Bagdad. Daerah ini merupakan tempat bertumpu pada pertanian dengan sistem irigasi dan kanal di sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir sampai Teluk Persia perdagangan juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Bagdad yang menjadi kota movement perdagangan antara wilayah Timur dengan wilayah Barat , sebelum ditemukannya jalan laut timur Tanjung Harapan di Afrika selatan. Wilayah kekuasan ini membentang sepanjang 6500 km dari sungai Indus di India sampai keperbatasan barat Tunisia Afrika Utara, sedangkan.sebelah barat seluas 3000 km.
Penduduk daulah Abbasiyah terdiri dari berbagai etnik dan suku bangsa yang hidup diwilayah yang memiliki cuaca dan kondisi geografis yang sangat berbeda. Pemerintahan pada masa kekholifahan Daulah Abbsiyah dibagi pada masa :
1. Al – Syafah ( 749 – 754 ) 6. Al- Mansur ( 754 – 775 )
2. Al Mahdi ( 775 – 785 ) 7. Al – Hadi (785 – 786 )
3. Harun Al – Rasyid ( 786 – 809 ) 8. Al – Amin ( 809 – 813 )
4. Al – Ma’mun ( 813 – 833 ) 9. Al – Mu’tasim ( 833 – 842 )
5. Al – Wathiq ( 842 – 847 ) 10.Al Mutawakil ( 847 – 861 )
Ada beberapa alasan yang mengapa gerakan revolusi abbasiyah berhasil mendapat dukungan
1. Banyak kelompok umat yang tidak mendukung kekuasan Bani umayah yang korup, sekuler dan memihak sebagian kelompok.Abu al-Abbas yang menggerakan roda revolusi ini menggunakan beliefs keagamaan untuk meruntuhkan legitimasi kekuasaan Bani Umayyah. Isi dari legitimasi keagamaan untuk menggantikan Bani Umayyah dalam memimpin umat islam.
2. Dia memuji dan membela islam serta bersyukur pada Tuhan.Kemudian, dia berbicara mengenai keluarganya sendiri, bahwa ketakwaanya dan kedekatan kekerabatannya dengan Nabi Muhammad. Argumentasi ini sangat menarik dukungan terutama dari kalangan Syi’ah yang percaya bahwa kekhalifahan adalah hak keluarga Nabi Muhammad.
3. Propaganda politik Abbasiyah adalah mengenai pembagian kekayaan negara yang adil sebagaimana yang dijalankan pada masa Khulafa Rasyidin sebelum Bani Umayyah memonopoli kekayaan ini. Menurut promotion ini,menggulingkan kekuasaan Bani Umayyah diperintahkan oleh agama karena komitmen mereka dalam menegakan syariat Islam sangat rendah.Bani Abbas meyakinkan para pendukungnya bahwa Bani Umayyah tidak memerintah umat berdasarkan ajaran Muhammad Rasulullah.memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah tidak hanya hak bagi setiap umat tetapi juga kewajiban.
4. Suporter gerakan Abbasiyah yang utama dalam menggulingkan kekuasaan Bani Umayyah adalah para mawali keturunan Persia yang tingal di wilayah khurasan .kekuatan tentara dan sejatalah yang menetukan dalam mengguling kan imperium bani umayah yang masih memiliki pasukan yang kuat . karena itu abu al abbas sengaja merekrut orang orang khurasan yang di kenal sangat kuat ,pemberani dan ahli srtategi perang sebagai tulang pungung kekuatan militernya1 .sukses berkat organisasi tentara yang di persenjatai dan diorganisi dengan baik. Abu muslim al khurasan dapat mempersatukan dan memimpin pasukah yang terdiri dari orang orang arab dan non – Arab yang di perlakukan setara. Pasukan abbasiyah menghacurkan kekuatan kholifah umayah terahir , marwan bin Muhammad yang sempat melarikan diri kemesir sebelum terbunuh didesa busir pada bulan agustus 750. kholifah abbasiyah mengangap kekuasaanya berasal dari tuhannya (divine origin) dan menjadi penuntun yang benar bagi masyarakat muslim. Sehingga banyak para kholifah yang menjadi pelindung para ilmuan dan ulama2
B .Bentuk pemerintahan
1. khalifah abbasiyah pertama Abu al-Abbas Abd alloh bin Muhammad As –saffah di umumkan di masjid agung di khufah pada 132 H 749 M. As –saffah, dalam pemerintahannya ia melakukan:
a. Sang penumpang darah dengan dukungan dari paman pamannya berusaha membersihkan sisa - sisa kekuatan Bani umayyah.
b. Revolusi sosial dan politik ini dilakukan untuk mereformasi dinasti umayyah agar sesuai dengan ajaran murni islam. mereka menggulingkan kekuasaan daulah Bani umayyah yang di anggap korup, dekaden, otoriter dan sekuler.3
c. Wilayah timur imperium, khurasan, belum sepenuhnya dapat di kontrol pemerintah pusat tetapi masih di kuasai secara otonomi oleh gubernur bu muslim .ketika as –asaffaah meningal pada 134 751 .pemerintah abbasiyah di bawah kendali adiknya.
d. Abu jafar abd alloh bin Muhammad Al – mansur ( 709 813 ) setelah dapat mengalahkan pamannya Abdallah bin ali ,yang berusaha juga menjadi kholifah.
2. Pemerintahan Masa Al – Mansur
1. Dikatakan sebagai tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan abbasiyah.
2. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintah.
3. Merupakan Tulang punggung kekuatan Abbasiyah.. Al – mansur meningal karena sakit dalam suatu perjalanan haji kelima bersama rombongan keluarga dan pembesar abbasiyah dalam usia sekitar 65 tahun setelah memerintah selama lebih dari 21 tahun 4.
4. Pengangkatan wazir sebagai koordinator departemen 5 wazir pertama adalah khalid ibnu barmak yang berasal dari persia
5. membentuk protokol negara, sekertaris negara, kepolisian negara, disamping angkatan bersenjata dan lembaga kehakiman negara.6
3. Pemerintahan Al –mahdi
1. sangat renouned karena lebih lunak pada lawan politiknya, lebih dermawan dan lebih berperan dalam membela islam.
2. khalifah yang bernama Abu abdulloh Muhammad, abdulloh ini sejak usia 15 tahun telah ikut memimpin pasukan di medan peperangan.
3. perubahan penting terjadi fraksi politik khurasan dan sekelompok militer mulai menjadi saingan keluarga keturunan abbas.
4. Sebagian kalangan biroksi seperti secretariat kerja ( kuttab ) mulai menjadi kelompok lain .orang –orang non arab berasal dari budak yang telah di merdekakan.
5. Sebelum meningal Al – mahdi telah mempersiapkan dua anaknya, Al – hadi dan harun al – rasyid, untuk bergiliran mengantikan kekuasaanya, mereka di latih untuk ikut aktif mengurus jalannya pemerintah dan sesekali memimpin pasukan di medan pertempuran. Alasan al – mahdi mengangkat dua orang putra mahkota adalah agar kekuasaan abbasiyah tetap di tangan keluarga keturunan. Al – abbas. Setelah al –mahdi meningal, putra mahkota pertama, al – hadi.
4.Pemerintahan di masa Al – Hadi.
Dalam pemerintahan dia mengedalikan kerajaan dengan keras, sesuai dengan karakternya yang kasar dan mudah tersinggung. Al – hadi kurang menghargai orang orang non arab ( mawali ) dan kelompok syiah yang dulu menjadi tulang pungung kekuatan revolusi abbasiyah. Ia melangar keputusan ayahnya yang mengangkat saudaranya, harun untuk mengantikan tahtanya setelah meningal dengan mengangkat anaknya sendiri ja’far, sebagai putra mahkota akan tetapi dia meninggal secara tiba –tiba, sehingga semua yang direncanakan gagal.
5. Pemerintahan Harun Al-Rasyid
1. Dengan gelar Al - rasyid ( yang terbimbing ) , Abu ja’far harun bin Muhammad menjadi khalifah abbasiyah keempat pada 15 september 786, merupakan khalifah yang berhasil.
2. Pada masa pemerintahan ini, kondisi kerajaan terlihat lebih damai dengan kekayaan yang berlimpah ruah. Perkembangan peradaban juga sangat tinggi
3. Dia sangat dermawan terutama pada para penyair dan penyanyi yang memujanya. Namun, dia cenderung mengabaikan urusan keseharian yang diserahkan sepenuhnya pada para menterinya seperti keturunan barmak dan ibn al-rabi’.
4. Hanya dalam dua bidang ia terjun langsung yaitu memimpin pasukan yang diarahkan kedaerah kekuasaan Byzantium diwilayah bagian barat imperium Abbasiyah dan mengatur urusan administrasi
5. Daerah taklukan. Untuk itu, Khalifah Harun al Rasyid membangun angkatan laut. Dan menekuni administrasi keuangan.
6. Dermawan terhadap para penyair, perempuan, dia masih banyak meninggalkan banyak harta setelah meninggal.
Harun al-Rasyid menyiapkan dua anaknya untuk menjadi putra mahkota yaitu Muhammad atau al-amin yang dihadiahi wilayah Abbasiyah bagian barat dan Abdullah atau al-ma’mun yang diberi otonomi yang luas untuk mengatur wilayah Abbasiyah di bagian timur.setelah mengambil sumpah kedua putra mahkota di depan kabah untuk tidak saling berperang,Harun al rasyid masih menjabat sebagai khalifah sampai sekitar enam tahun yang merupakan periode anti klimaks. Karena sakit dan kelelahan ketika memimpin ekspedisi perang kedaerah khurasan, ia meninggal pada 809 m dengan meninggalkan api dalam sekam.
Harun al-Rasyid adalah khalifah yang banyak memanfaatkan kekayaan negara untuk keperluan sosial :mendirikan rumah sakit, Lembaga pendidikan kedokteran dan lembaga pendidikan farmasi,serta pemandian umum.bahkan memiliki sekitar 800 dokter.
Pada masa Harun al-Rasyid, institusi ini bernama Khizanah al-Hikmah (Hasanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.Sejak 815 M
6. pemerintahan Al - Amin
Putra mahkota tertuanya dari Al- rasyid, Al - amin tidak bersedia membagi kekuasaanya dengan saudaranya al-mamun dengan mengangkat anaknya sendiri yang masih kecil menjadi putra mahkota dan perang saudara joke tak terelakan lagi. 7
7. Pemerintahan Al- Am’mum
Kekuatan Al-Ma’mun bertumpu pada dua pondasi yaitu keluarga Tahir yang telah berjasa mengalahkan pasukan Al-Amin ,dan saudara Al-Ma’mun sendiri, Abu ishaq yang kemudian dikenal dengan Al-Mu’tasim.pada 827,al-Ma’mun memindahkan pusat kekuasaannya dari wilayah timur ke Bagdad.Dia juga berusaha memperkokoh pemerintahan dengan berusaha mengakhiri pemberontakan dan menguasai kembali pemerintahan propinsi. Dia mengubah nama khizanat al- hikmah menjadi Bayt Al- hikmah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku – buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantum, Etiopia dan India. Di bayt Al- hikmah juga terdapat observatorium astronomi untuk meliputi perbintangan.
Kemajuan yang terjadi pada masa daulah bani Abbasiyah disebabkan oleh dua hal:
1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa- bangsa arab dengan bangsa lainyang terlebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang pengetahuan.Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa –bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan agama islam, pengaruh dari Persia sangat kuat yaitu dalam bidang pemerintahan, selain itu juga dalm bidang perkembangan ilmu, filsafat dan sastra.8 Pengaruh dari India telihatdalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan Astronomi9
2. Sedangkan pengaruh dari yunani masuk melalui terjemahan – terjemahan dalam bidang ilmu, terutama filsafat.
3. Kemajuan dalam bidang terjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa kholifah Al- mansur hingga harun ar- rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya – karya dalam bidang astronomi ( mathiq ). Fase kedua masa kholifah Al- ma’mum hingga tahun 300H. buku – buku yang diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung pada masa setelah 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang – bidang ilmu yang diterjemahkan semakin luas.10
Pada awal penerjemah, naskah yang diterjemahkan dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran.kemudian,naskah-naskah filsapat karya Aristoteles dan plato jugu diterjemahkan .Dalam masa keemasan, karya yang diterjemahkan kebanyakan tentang ilmu-ilmu pragmatis seperti kedokteran.Namun karya-karya puisi,drama cerpen dan sejarah jarang diterjemahkan karena bidang ini dianggap kurang bermanfaat dan dalam bahasa Arab sendiri.
Upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para imuwan diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah- naskah Yunani dalam berbagai bidang ilmu terutama filsafat dan kedokteran. Sedangkan di Persia terutama dalam bidang tata negara dan sastra. Para penerjemah tidak hanya dari kalangan islam saja tetapi juga dari pemeluk agama Nasrani dari Syiria dan Majusi dari Persia. Biasanya naskah berbahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria kuno dulu sebelum ke dalam Bahasa Arab. Hal ini dikarenakan para penerjemah biasanya adalah para pendeta Kristen Syiria yang hanya memahami Bahasa Yunani dan bahasa mereka sendiri yang berbeda dari Bahasa Arab. Kemudian, para ilmuwan yang memahami Bahasa Syiria dan Arab menerjemahkan naskah tersebut ke dalam Bahasa Arab.
Pelopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al- Mansur yang juga membangun ibukota Baghdad. Dia mempekerjakan orang- orang Persia yang baru masuk islam, seperti Nawbaht, Ibrahim al- fazari, dan Ali Ibn Isa untuk menerjemahkan karya- karya berbahasa Persia dalam bidang Astrologi ( ilmu perbintangan ) yang sangat berguna bagi kafilah dagang baik melalui darat maupun laut. Buku tentang ketatanegaraan dan politik serta dignified seperti Kalila wa- Dimna dan Sindhind dalam Bahasa Persia diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Selain itu, manuskrip berbahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, Almagest karya Ptolemy, Arithmetic karyua Nicomachus dari Gerasa, Geometri karya Euclid juga diterjemahkan.
Penerjemahan secara langsung dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Arab dipelopori oleh Hunayn ibn Ishaq (w. 873), seorang penganut Nasrani dari Syiria. Dia memperkenalkan metode penerjemahan baru yaitu menterjemahkan kalimat, bukan menterjemahkan katas per-kata. Karena struktur kalimat dalam bahasa Yunani berbeda dengan struktur kalimat bahasa Arab. Selain itu, untuk memperoleh keakuratan dan keotentikan naskah,Hunain juga menggunakan metode penerjemahan dengan memperbandingkan beberapa naskah untuk mendapatkan naskah yang pale otentik yang kini dikenal dengan metode filologi.Gerakan penerjemahan ini sangat didukung oleh Khalifah al-Ma’mum yang membayar mahal hasil penerjemahan. Bahkan dia pernah membayar hasil penerjemahan setara bobot emas. Karena keinginanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai super energy dunia ketika itu, al-Ma’mum membentuk Tim penerjemah yang terdiri dari Hunain ibn Ishaq sendiri, dibantu anaknya, Ishaq dan keponakannya, hubaish, serta ilmuan lain seperti Qusta ibn Luqa, seorang beragama Kristen jacobite, Abu Bisr Matta ibn Yunus Seorang Kristen Nestorian,Ibn ‘Adi, Yahya ibn Bitriq dan lain-lain.Tim ini bertugas Menerjemahkan naskah-naskah Yunani terutama yang berisi ilmu-ilmu yang sangat di Perlukan seperti kedokteran.Keberhasilan penerjemah juga didukung oleh fleksibilitas. Bahasa Arab dalam menyerap bahasa asing dan kekayaan kosakata bahasa Arab.
a. Pengaruh gerakan penerjemahan terlihat dalm perkembangan ilmu pengetahuan umum terutama dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, kimia dan sejarah. Dalam bidang astronomi yang terkenal adalah Al- faraji sebagai Astronom islam pertama kali menyusun astrolobe. Al- fargani yang dikenal di eropa dengan nama Al- faragnus yang menulis ringkasan astronomiyang diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Gerard Cremon dan johanes hispalensis.11Dalam lapangan kedokteran dikenal nama Al-Razi dan Ibn Sina. Al-Raazi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak.12Sesudahnya, ilmu kedokteran berada di tangan ibn Sina.Ibn Sina yang juhga filosof, berhasil menemukan complement peredarandarah pada manusia dan juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah L-Sifa.
b. Dalam bidang optika Abu Ali A-Hasan ibn Al-Haythami,yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa, mata mengirim cahaya kebenda yang dilihat. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Dibidang matematika terkenal nama Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi,yang juga mahir dalaam bidang astronomi.Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, al-jabar wa al-Muqobalah.13 Dalam bidang sejarah terkenal nama Al-Mas’udi. Dia juga ahli dalam ilmu gografi.
c. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika jiwa kengaraan, etika, dan interpretasin terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Rusyd yang dibarat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisma.14
C.2. perkembangan dalam ilmu Agama
a. kalam mu’tazilah yang di gunakan sebagai madhab resmi negara pada masa pemerintahan Al –ma’mum
b. Hadis dan fiqih, ulama yang terlahir pada masa daulah bani Umayah dan meninggal pada masa daulah bani Abbasiyah adalah Abu hanifah karyanya adalah Al- fiqh al- akbar15, murid dari Abu hanifah yaitu Abu yusuf yang menulis kitab Al- kharaj16 yang masih dapat di baca hingga saat ini.Bidang hukum islam,karya pertama yang diketahui adalah Majmu al-Fiqih karya Zaid bin Ali (w.122 /740) yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidah.Sebenarnya mazhab Hanafi adalah Abu Yusuf (w.182/798).Abu Yusuf menjadi hakim utma pada masa Harun al-Rasyid. Dia sendiri menulis kitab tentang berbagai macam pajak dalam islam termasuk zakat.
C.3.Dalam bidang pendidikan. Pendidikan dibagi dalam dua tingkat17yaitu:
a. Makhtab atau kuttab dan mesjid yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak –anak mengenal dasar – dasar bacaan, hitungan dan tulisan, tempat para remaja belajar dasar – dasar ilmu agamaseperti tafsir, fiqih, hadis dan bahasa.
b. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya pergi keluar daerah menuntut ilmukepada seseorang atau beberapa ahli dalam bidangnya masing –masing .pada umumnya apabila ilmu yang dituntut berupa agama biasanya pengajaran berlangsung di masjid atau di rumah guru yang bersangkutan, bagi pengusa yang ingin belajar biasanya dilaksankan di istana atau di rumah pejabat yang bersangkutan. Dengan berkembangnya lembaga pendidikan kemudian berkembang pula perpustakaan. Perpustakaan pada waktu itu merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab- kitab disana juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.
C.4.Dalam bidang tafsir
Sejak awal telah dikenal dua metode penafsiran pertama, tafsir bi- Al-matsur yaitu interpensi tradisional dengan mengambil interpretasi dari nabi dan para sahabat. Kedua tafsir bi al- ra’yi yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran dari pada hadis dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa bani Abbas , akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir bi al- ra’yi ( tafsir rasional )sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan.
Al-Ma’mun mengembangkan lembaga
Ini dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa ini,Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium dan bahkan Etiopia dan India.Di institisi ini,al-Ma’mun memperkerjakan Muhammad ibn Musa al-Hawarizmi yang ahli di bidang aljabar dan astronomi.Direktur perpustakan Baitul Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan al-Ma;mun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakan tetapi sebagai pusat studi dan riset astronomi dan matematika.
Baitul Hikmah dikuasai oleh satu mazhab penerjemah di bawah bimbingan Hunayn ibn Ishaq. Mereka menerjemahkan karya-karya keilmuan lain dari Galen karya-karya filsafat dan metafisika Aristoteles dan plato.Di Baitul Hikmah terdapat juga observatorium astronomi untuk meneliti perbintangan.
C.5. Perkembangan Ekonomi.
Ekonomi imperium Abbasiyah digerakan oleh perdagangan.Kebutuhan pokok dan mewah dari wilayah timur imperium diperdagangkan dengan barang-barang dari hasil wilayah barat.Dikerajaan ini,sudah terdapat berbagai macam indrustri seperti kain linen di mesir,sutra dari syiria dan irak,kertas dari samarqand,serta berbagai produk pertnian seperti gandum dari mesir dan kurma dari Iraq.
Hasil-hasil indrustri dan pertanian ini diperdagangkan keberbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan negara lain. Karena indrustrialisasi yang muncul di perkotaan ini, urbanisasi tak dapat di bendung lagi.Perdagangan barang tambang juga semarak.Emas yang di tambang dari Nubia dan sudan barat (termasuk wilayah yang kini bernama Mali dan Niger) melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting.secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dunasti T’ang di china juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antar negara menambah semaraknya kegiatan perdagngan tingkat dunia. Kapal-kapal laut cina berlayar ke Bagdad, dilakukan melalui jalan darat melalui jalan sutra yang sudah digunakan sejak masa kuno.Barang-barang dari Eropa dan Afrika yang dikirim ke wilayah cina dan India pasti melalui Bandar-bandar dangang di Abbasiyah.Meski peperangan yang sporadik, Perdagangan dengan Byzantium di Eropa timur juga berlangsung,sedangkan Eropa barat masih dalam kegelapan.Perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara juga berlangsung dengan intensif.
D. kemunduran Daulah Bani Abbasiyah
Ada beberapa faktor yang menyebabakan keruntuhan pada masa Daulah Bani Abbasiyah diantaranya yaitu :
a. Persaingan antar bangsa
Khalifah abbasiyah didirikan oleh bani abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa bani umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelalah khalifah abasiyyah berdiri, dinasti bani abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska, ada dua sebab bani abbas memilih orang-orang Persia daripada orang Arab. pertama, sulit orang-orang Arab melupakan Bani Umayyah.Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya’ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, Khalifah Abasiyyah tidak ditegakan di atas’ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir ditubuh mmereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.
Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, melalui berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syaria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elmen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme kearaban, akibatnya disamping fanatisme keakraban muncul juga fanatisme bangsa- bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyah.
Kebangsaan ini tampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para kholifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak – budak bangsa Persia atau Turki dijadikan tentara atau pegawai.mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji.Oleh bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah memepertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki bangsa. Karena jumlah kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka, mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan atas kekuasaan kholifah.18 Kecenderungan masing- masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal kholifah Abbasiyah berdiri.
b. Kemerosotan ekonomi
Pada periode pertama, pemerintahan Abbasiyah merupakan pemerintahan yang sangat kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar hingga Bait Al- mal penuh dengan harta19. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari Al- kharaj semacam pajak hasil bumi.
Setelah kholifah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara mulai menurun, sementara pengeluran meningkat lebih besar. Hal itu terjadi karena makin menyempitnya wilayah kekuasan, banyak terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingankannya pajak dan banyaknya dinasti – dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak membayar upeti lagi. Sedangkan pengeluaran negara terus membengkak karena kehidupan para kholifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran joke makin beragam dan para pejabat banyak melakukan korupsi.
c. Konflik keagaman
Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan zindiq adalah mengoda rasa keimanan para kholifah. Al- mansur mencoba memberantasnya, Al- mahdi mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang zindiq dan melakukan mihnah untuk memberantas bid’ah20. Akan tetapi, semua kegiatan itu tidak menghenghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan dengan golongan zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah seperti gerakan yang dilakukan oleh Al- afsyin dan Qaramithah.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak bersembunyi dibalik ajaran syiah sehingga banyak yang bersifat ghulat ( ekstrim ) dan dianggap menyimpang dari ajaran syiah. Konflik yang di latar belakangi agama tidak terbatas pada konflk antara muslim dan zindik, atau ahli sunnah dengan syiah.
d. Ancaman dari luar
Kehancuran daulah bani Abbasyiah ini terjadi tidak hanya dari faktor novice tertapi juga dari faktor ekstren. pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. kedua serangan tentara mongol ke wilayah kekuasaan islam . sebagaimana telah di sebutkan , orang – orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah paus Urbanus 11 (1088-1099M) mengeluarkan fatwanya . Perang itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang kristen yang berada di wilayah kekuasaan islam.Namun , di antara komunitas- komunitas Kristen timur hanya Armenia dan manorit Lebanon yang tertarik dengan perang salib dan melibatkan diri dalam tentara salib itu.21
Pengaruh salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa hulagu khan , panglima tentara Mongol , sangat membenci islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian . Gereja-gereja Kristen berasiosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti islam itu dan diperkeras dikantong-kantong ahli al-kitab .Tentara Mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat islam , ikut memperbaiki yerussalem.
KESIMPULAN
Peradaban islam mengalami kejayan pada masa daulah bani abbasiyah , pada waktu itu berbagai bidang mengalami kemajuan mulai dari bidang politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Kemajuan pada waktu itu tidak hanya semata oleh jasa para kholifah yang memimpin pemerintahan yang dengan bijakssana, tetapi karena dukungan dari masyarakat sendiri yang hidup pada masa pemerintahan tersebut.
Kemajuan pada waktu itu disebabkan pula adanya gerakan penerjemahan yang dilakukan dari masa – kemasa pada saat pemerintahan daulah bani abbasiyah. Penerjermahan yang dilakukan ini oleh sebagian kholifah diberi bayaran yang sangat besar sekali, buku- buku yang diterjemahkan biasanya berasal dari bahasa Persia, yunani dan bangsa eropa, buku- buku tersebut diterjemahkan kedalam bahasa arab dan pada masa ini pula pertama kalinya dibangunkan perpustakan yang diberi nama Al – hikmah yang digunakan untuk membaca, menulis, berdiskusi dan sebagai tempat riset pada waktu itu.
Kemajuan pada saat itu juga melahirkan beberapa ahli filsafat islam seperti ibnu sina, al-farabi, ar-razi dan yang lainnya, yang ahli dalam berbagai bidang misalnya kedokteran, astronomi, filsafat, astrologi dan matematika dan lain sebagainya yang membangun kemajuan islam pada masa itu.
Karena kehidupan didunia ini tidak ada yang abadi begitu juga dengan pemerintahan bani abbas ini , setelah mengalami kejayaan akhirnya dalam berbagai bidang. kini tiba saatnya juga untuk mengalami kemunduran yang dilakukan oleh para pemerintahannya sendiri yang tidak lagi memperhatikan keadaan rakyatnya tetapi lebih mementingkan kepentingan sendiri, penerintahah banyak melakukan korupsi dan memperkaya dirinya sendiri sehingga pengeluran negara bertambah sangat banyak. Sehingga mulailah perekonomian pada saat itu merosot, selain dari faktor novice juga ada beberapa faktor yang datangnya dari luar seperti telah dipaparkan diatas.
Dinasti Buwaihi
Asal – usul dinasti buwaihi
Dinasti Buwaihi dirintis oleh tiga bersaudara: Ali, hasan dan Ahmad yang berasal dari Dailam. Bapak mereka adalah Abu sujai al buwaihi. Tiga saudara ini dalam sejarah di kenal sebagai tentara bayaran. Ketika terjadi perang antara makan Ibn kaki al-dailami dengan Mardawij, tiga bersaudara ini membelot dari makan dan berpihak kepada mardawij dengan alasan, Makan Ibn kaki al dailami tidak lagi mampu membayar mereka Mardawij menyambut baik keberpihakan mereka. Oleh karena itu, di samping di percaya memimpin pasukan, mereka diberi kewenangan untuk memimpin wilayah. Ali ibn buwaihi di percaya memimpin kirman dan Hasan Ibn buwaihi di percaya memimpin Asbahan, Ray dan Hamadjan.22
Ketika Bagdad ( kholifah Al mustakfi dari dinasti bani Abas ) dilanda konflik internal, Ahmad ibn buwaihi di panggil ke istana oleh khalifah al mustakfi dan ia di angkat menjadi komando militer ( amir al-umara ) dan berkuasa sekitar tujuh tahun 334–356 H / 945–967 M dan diberi gelar Mu’iz al-Dawlat, mereka lebih berpengaruh bahkan kholifah berada dibawah kendali mereka.23
a. Pembentukan kholifah Boneka
Ketika berkuasa di bagdad kholfah bani Abbas dijadikan penguasa simbolik ( dejure ) dan pengendalian pemerintah secara defacto berada ditangan para amir tiga bersaudara ini memiliki daerah kekuasaan masing – masing. Ahmad Ibn buwaihi berkuasa di Bagdad, Ali Ibn buwaihi ( ‘imad al dawlat’ ) berkuasa di farsi dan Hasan Ibn buwaihi ( Rukn al dawlat ) berkuasa dijibal, Rayy, dan isfahan.24
Bani buwaihi melucuti kekuasan politik dan sumber – sumber element para kholifah. Mereka menjadikan kholifah sebgai pemimpin agama dan sekaligus menjadi alat yang dapat mereka gunakan untuk mencapai ambisi mereka. Keunikan bani buwaihi adalah para amir buwaihi menganut syi’ah, tetapi mereka tidak menghapuskan kholifah ( sunni ). Hal ini kemudian melahirkan analisis historis yang beragam. Menurut satu fersi, mereka tidak menghapuskan kholifah karena khawatir akan mendapat penentangan dan berlawanan dari para amir yang masih mengakui kholifah bani Abbas.25
Sekalipun tidak menghapuskan kholifah, buwaihi berupanya mengakampanyekan syi’ah. Di Bagdad dengan beberapa gerakan :
1. Buwaihi mengintruksikan kepada pengelola masjid – masjid agar menuliskan kalimat berikut : “Alloh melaknat mu’awiyah Ibn abi supyan, yang merampas hak fatimah r.a.’ yang melarang hasan Ibn Ali dikuburkan berdampingan dengan makam kakeknya SAW. 26
2. Buwaihi menetapkan hari – hari bersejarah bagi syi’ah dijadikan perayaan resmi negara, seperti perayaan 10 Muharam untuk memperingati kasus karbala dan peringatan 12 Djulhijah yawm al-ghadir yang dalam keyakinan syi’ah, nabi SAW mewasiatkan kepada Ali ibn abi thalib sebagai penguasa duniawi dan agama peninggalan beliau.27
Perlakuan kasar terhadap kholifah antar lain dilakukan oleh Ahmad ibn buwaihi ( mu’iz al-dawlat ), Ahmad ibn buwaihi mendapat informasi bahwa kholifah al-mustakfi akan memecatatnya dari jabatan amir al-umara’. Pada saat kholifah sedang mengadakan pertemuan Ahmad ibn buwaihi bersama dengan dua pegawai dari dailam, datang pada kholifah, lalu ahmad ibn buwaihi sujud dan mencium dua tangannya. Kemudian dua pegawai Dailam juga menghadap kholifah menurut dugaan kholifah al-mustakfi, dua pegawai itu akan mencium tangannya juga, lalu menarik tangannya. Ikat kepalanya diputar, lehernya di cekik dan kholifah diseret kehadapan Ahmad ibn buwaihi. Kemudian kholifah dipenjarakan dan matanya dicongkel hingga buta dan ia meninggal di dalam penjara. Kemudian Ahmad ibn buwaihi mengngkat abu al-qosim al-fadhl ibn al-muqtadir sebagai kholifah dengan gelar al-muthi’. 28
Ahmad ibn buwaihi meninggal karena sakit ( 356 H ) dan diganti oleh anaknya, Bakhatiar ( 356-367 H / 967-978 M ) dengan gelar Izz al-dawlat. Bakhtiar berselisih dengan kholifah al-muth’I karena kholifah tidak mengijinkan pengunaan dana negara untuk melawan pasukan romawi. Akan tetapi, ia terus memaksa kholifah sehingga kholifah terdesak dan terpaksa menjual Qumashnya seharga 4 ribu dirham dan direbut oleh Bakhtiar untuk biaya perang. Kholifah al-mu'thi meninggal dan digantikan oleh al-tha'I. Pengganti baktiar adalah Adud al-dawlah ( 367-372 H ), pada masanya kholifah al-tha'i diperlakukan secara lebih baik dan Adud al-dawlah menikah dengan putri kholifah dan sebaliknya toxic Adud al-dawlah joke dikawin oleh kholifah.29
Kemajuan Buwaihi
Pada zaman Adud al-dawlah, bani buwaihi meraih kemajuan.
a. Pembangunan rumah sakit 'Bimaristan al-Adhudi" yang memiliki 24 tenaga medis dan rumah sakit yang dijadikan pusat studi kedokteran. Rumah sakit ini didiraikan pada tahun 987 M. 30
b. Pembangunan sekolah – sekolah dan observatorium di Bagdad, syiraj, Rayy dan istifham, serta gerakan penerjemahan yang dipelopori oleh Adud al- dawlah.
c. Gerakan penerjemahan inji dilakaukan dengan dua criteria dalam pemilihan materi yaitu : kemampuan menejerial dan kemampuan retorika. Oleh karena itu wajar apabila para menteri Buwaihi pandai dalam sastra.31
d. Muncul penyair ternama yaitu Abu Ali al-farisi yang menulis “kitab al-idhah” ( book of reason ) yang didedikasikan pada Adud al- dawlah
e. Lahir sejumlah pakar yang hingga saat ini masih dijadikan rujukan. Seperti
· Ibnu sina, filosof yang pernah menjadi hakim pada dinasti buwaihi
· Ibn masykawaih pakar sejarah yang kemudian menjadi seorang filosofis dengan karyanya Hayy Ibn Yaqzhan.
· Istakhri ahli ilmu bumi
· Nasawi pakar matematika dan beliau yang memperkenalkan angka India sehingga berkembang pesat.
· Kelompok Ikhwan al-shafa.32
· Al-Khawarijmi ahli bidang al jabar
· Ibn Haitsam ( Alhazen, w.1039 ), pemilik teori cahaya yang lebih sempurna dibandingkan dengan teori cahaya Euclid dan Ptolomius.33
Buwaihi dikenal sebagai dinasti yang berhasil menghidupkan kembali ajaran mu’tazilah. Pada waktu itu banyak berkembang gagasan mu’tazilah yang dikemukakan oleh para tokoh mu’tazilah pada masa dinasti buwaihi yaitu : Al-Qadhi Abu al-Jabbar, Abu khudzail al-Allaf, Alnazham, Bisr Ibn Mu’tamir.34
Kemunduran dinasti buwaihi
Sepeninggal Muiz al-Dawlah dilanda berbagai konflik internal, perebutan kekuasaan, buwaihi tidak dapat mengatasi persaingan ditubuh militer yang berasal dari dua suku : Dailam dan Turki saljuk. Salah satu peristiwa yang penting adalah jabatan malik Abd al-rahim sebagai amir al-umara berusaha direbut oleh panglimanya sendiri , Arselan al- Basasiri yang kemudian memperlakukan Malik Abd al-rahim dan al-Qaim dengan semena-mena.35
Disisi lain, Bizantium mulai mengadakan serangan kembali kedunia islam dan dinasti kecil diluar Bagdad memanfaatkan situasi ini denagn melepaskan diri dari kekuasan Bagdad dan menaklukan wilayah lain seperti fatimiah di kairawan menaklukan mesir dan sudan, dan memproklamirkan diri sebagai kholifah. Karena bertikai denagn Malik Abd al-rahim, Arselan basiri mengundang dinasti fatimiah untuk menguasai Bagdad. Hal itu membuat kholifah khawatir dan akhirnya meminta bantuan tugril Bek ( turki Seljuk ) yang berkuasa di jibal. Pada tanggal 18 Desember 1055 ( 447 H ), Tugril Bek memasuki Bagdad, Malik ibn al-rahim (amir al-umara) dipenjara, kekuasaan dinasti buwaihi berakhir dan selanjutnya dinasti bani Abbas bekerja sama dengan saljuk.36
Dinasti Saljuk
Asal – usul Dinasti Saljuk
Asal - usul dinasti Seljuk dinisbahkan kepada saljuk ibn Tuqaq. Tuqaq adalah ayah saljuk pemimpin suku oghus ( Ghuzz atau Oxus ) yang menguasai turkistan, tempat mereka tinggal. Saljuk ibn tuqaq pernah menjadi panglima inperium Ulghur yang ditempatkan diselatan lembah tahrim dengan kashgar sebagai ibu kota. Karena merasa tersaingi permaisuri ulghar merencanakan pembunuhan pada saljuk, akan tetapi rencana tersebut sudah diketahui oleh saljuk.
Dalam rangka menghindari pembunuhan saljuk dan pengikut setianya menyelamatkan diri kearah barat, yaitu daerah jundi ( jand ) yaitu daerah bagian Asia kecil yang dikuasai dinasti samaniyah yang dipimpin oleh Amir Abd al-Malik Ibn Nuh (954-961 M). Amir Abd al-malik Ibn nuh mengijinkan Seljuk tinggal di jundi dekat Bukhara.
Karena kebaikan pemimpin tersebut saljuk dan pengikutnya masuk islam dengan aliran yang dianut masyarakat setempat yaitu sunni.37 Selain itu juga ia membalas nya dengan membantu mempertahankan dinasti samani dalam menghadapi serangan – serangan dinasti ulghur. Dalam perang tersebut Seljuk meninggal dunia dan meninggalkan tiga anaknya yaitu : Arselan, mikail dan musa.38
Sepeningal saljuk, pimpinan suku di pegang oleh mikail. Akan tetapi , ia joke gugur ketika perang melewan dinasti ghaznawi yang hendak merebut khurasan dari samaniyan. Setelah wafat, mikail di gantikan oleh anaknya, tugril bek. Ia berhasil menguasai merv (ibu kota khurasan ), jurjan, tribistan, dailam dan karman (1037 m). selain itu, tugril bek memproklamirkan berdirinya dinasti saljuk dan diakui oleh dinasti bani abbas sekitar tiga tahun kemudian (1040 m). Setelah itu, tugril bek menguasai iran atau Persia, Anatolia, dan Armenia 39
Di bagdad terjadi penindasan yang di lakukan oleh dinasti buwaihi terhadap kholifah bani abbas. Karena bertikai dengan malik abd al-rahim, Arselan al-basasiri ( panglima militer ) mengundang dinasti fatimiyah untuk menguasai Bagdad. Pada tanggal 18 Desember 1055 (447 H) Tugril memasuki Bagdad, pertempuran terjadi antara tugril dan pasukan Arselan, dalam pertempuran itu arselan terbunuh, serta kholifah al-Qaim dikeluarkan dari penjara. Sedangkan malik Abdal-rahim ( amir al-umara ) dimasukan kedalam penjara. Dan sebagai kehormatan al-Qoim diberi gelar “ Raja timur dan barat”. Tugril bek meninggal dan digantikan oleh kemenakannya arselan karena tugril bek tidak mempunyai keturunan. 40
Kemajuan Dinasti Saljuk
1. Memperluas mesjid al-haram dan mesjid al-nabawi
2. Pembangunan rumah sakit Dinaisafur
3. Pembangunan gedung peneropong bintang dan pembangunan sarana pendidikan, yang sangat terkenal yaitu nizham al-mulk beliau adalah pemrakarsa berdirinya perguruan nizhamiyah yang berpusat di Bagdad dan cabang – cabangnya, Di Balkh, Naisafur, Hirah, Isfahan, Bashrah, Merv dan Mosul.
4. Diperguruan tinggi lahir ulama besar diantaranya : Imam al-haramayn aljuwaini, Imam al ghozali, Imam fakhr ar-razi, zamakhasyari,Imam al-qusyairi.
5. Dalam bidang eksakta, muncul sejumlah ulama yaitu :
· Umar ibn khayam ahli astronomi dan ilmu pasti.
· Ali yahya al-haslan ahli ilmu kedokteran, beliau menulis kitab al- manhaz fi al-thib
· Abu hasan al- mukhtar ahli ilmu kedokteran. Beliau menulis kitab Da’wat al-thibi
· Muhammad Ali al-samar qandi ahli ilmu kedokteran. Beliau menulis kitab Aghziarat al-mardha
Kemunduran Dinasti Saljuk
Dinasti saljuk dilanda konflik inner dan akhirnya wilayah kekuasannya dibagi – bagi menjadi kesultanan – kesultanan yang dikendalikan oleh para atabek ( para budak yang menjadi pembesar negara ) malik syah meninggalkan sejumlah anak : Barkiyaruk, Muhammad, Sanjar dan Mahmud. Ketika Barkiyaruk menjadi sultan, sanjar seringkali berusaha merebut kekuasaan. Setelah Sanjar meninggal saljuk menjadi kesultanan – kesultanan kecil.41
Secara eksternal, Eropa yang merasa ditindas oleh Seljuk melakukan perlawanan. Karena serangan - serangan dari Bizantium dan Eropa, saljuk menjadi lemah. Kelemahan saljuk diperparah lagi dengan adanya gerakan dinasti khawarizm yang berusaha merebut daulat Abasiyah dari tangan saljuk. Dinasti saljuk di Bagdad berakhir dan dilanjutkan oleh Atabek.42
1 Roberto marin - Guzman, renouned measure of a ‘abbasid revolution, a box investigate of Gothic Islamic amicable histori, ( cambride, Massachusetts : fulbright – laspau , 1990) , hal. 89 – 91 .
2 lapidus A Histori of Islamic ,hal 87
3 hugh kennedy, a early Abbased caliphate, a domestic Histori, ( London :croom helm,1981) hlm.
4 Ibid hal.93.
5 ibid hal 51; Harun Nasution ,islam ditinjau dari berbagai aspek,( Jakarta; ui – press 1985 ),j.h.67.
6 Badri yatim,loc.cit.
7 ibid hal. 115 - 133
8 Ahmad amin, dhuha al- islam jilid we ( kairo: lajnah Al- Ta’lif wa Al- nasyr, tanpa tahun ) hal.207.
9 ibid hal. 177 – 178.
10 Ibid. hal.288 – 290.
11 harun nasution ,op.cip. jilid we hal. 71
12 A.Razaq Naufal, Umat Islam dan Sains Moder, (Bandung:Husaini,1987),hlm. 47.
13 Ibid.hlm.88.
14
15 Kitab ini telah dikomentari oleh sejumlah ulama.lihat mudin al – Muhy al-din Muhammad ibnu baha al- hubbub al- qawl al- fashi syarh al- fiqh al- akbar li al-imamal-Azam abi hanifah ( turki : Maqtabah Al- haqiqah 1998 )
16 lihat malahusen ibn iskandar Al hanafi “kitab al- jawaharat al- munifat fi syarh washiyyatal- imam Al azhamAbi hanifat dalam Alrisa’il al- sab’at fi Al- aqo’id (haderabat : jam’iyah Dai’rah al- ma’arif 1948 ), h.74 –102 .
17 Hasan ibrahim hasan ,op.cip.hlm.129
18 Ahmad Amin, dhuha al – islam, jilid we ( kairo lajnah Al- Ta’lif wa Al – Tarjamah wa Al- Nasyr, tanpa tahun) hal.21
19 Philip k..Hitti. loc.cit.
20 Philip k. Hitti.op.cit. hal.470
21 nurkholis mazid khajanah intelektual islam ( Jakarta : Bulan Bintang,1984), hal.35
22 D.s. Margoliout, Op.cit, h. 241
23 Ibid.
24 Ibid
25 Hasan ibrahim hasan, sejarah, Op. cit.h. 205.
26 M. Syalabi, sejarah dan kebudayaan islam III, ( Jakarta: pustaka Alhusna, 1993 ), h.332.
27 Ahmad amin, zhur al –islam ( kairo: makhtabah al-nahdhah al-mishariyah,1999), jilid I, h.53
28 Muhammad jamal al-Din surur, Op.cit,h.53
29 Ibid. H. 58
30 Ahmad, amin. Op.cit. h. 57
31 Ibid.h.255
32 Philip k, Hitti, Op.cit. h. 472
33 Ibn atsir,al-kamil fi al-tarikh ( Beirut: Dar al-fikr, t.th.) j.VIII,h.479
34 siti maryam.dkk.,Op.cit.h.135
35 badri yatim.Op.cit, h. 72
36 W.Montomery watt, kejayaan Op.cit.h.233.
37 C.E.Bosworth, Barbarian Incursion : “the entrance of turk into a Islamic world” dalam D.S. richad , Islamic civillsation,950-1150,oxford: Bruno casier 1973.h.10-11
38 s. margoliuth,Op.cit.h. 124-243
39 siti maryam dkk.Op.cit.h. 136
40 s. margoliout, Op.cit.h. 242-243
41 D.S.Margoliouth,Op.cit.h. 245-246
42 Ibid.



SEJARAH NUSANTARA PADA ERA KERAJAAN ISLAM
Kerajaan Islam di Indonesia diperkirakan kejayaannya berlangsung antara abad ke-13 sampai dengan abad ke-16. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut didorong oleh maraknya lalu lintas perdagangan laut dengan pedagang-pedagang Islam dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dll. Kerajaan tersebut dapat dibagi menjadi berdasarkan wilayah pusat pemerintahannya, yaitu di Sumatera, Jawa, Maluku, dan Sulawesi.
Kerajaan Islam di Sumatera
Periode tahun tepatnya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera masih simpang siur dan memerlukan rujukan lebih lanjut.
• Kesultanan Perlak (abad ke-9 – abad ke-13)
Peureulak diarahkan ke halaman ini. Untuk kecamatan di Kabupaten Aceh Timur, lihat Peureulak, Aceh Timur
Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat
Naskah Hikayat Aceh mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di bagian utara Sumatera dilakukan oleh seorang ulama Arab yang bernama Syaikh Abdullah Arif pada tahun 506 H atau 1112 M. Lalu berdirilah kesultanan Peureulak dengan sultannya yang pertama Alauddin Syah yang memerintah tahun 520–544 H atau 1161–1186 M. Sultan yang telah ditemukan makamnya adalah Sulaiman bin Abdullah yang wafat tahun 608 H atau 1211 M.1
Chu-fan-chi, yang ditulis Chau Ju-kua tahun 1225, mengutip catatan seorang ahli geografi, Chou Ku-fei, tahun 1178 bahwa ada negeri orang Islam yang jaraknya hanya lima hari pelayaran dari Jawa.2 Mungkin negeri yang dimaksudkan adalah Peureulak, sebab Chu-fan-chi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Brunai memakan waktu 15 hari. Eksistensi negeri Peureulak ini diperkuat oleh musafir Venesia yang termasyhur, Marco Polo, satu abad kemudian. Ketika Marco Polo pulang dari Cina melalui laut pada tahun 1291, dia singgah di negeri Ferlec yang sudah memeluk agama Islam
Perkembangan dan pergolakan
Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Sultan ini bersama istrinya, Putri Meurah Mahdum Khudawi, kemudian dimakamkan di Paya Meuligo, Peureulak, Aceh Timur
Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.
Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.
Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:
Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988)
Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)
Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kerajaan Sriwijaya menyerang Perlak dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat yang melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.
Penggabungan dengan Samudera Pasai
Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (memerintah 1230 – 1267) menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Peureulak:
• Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).
• Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.
Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (memerintah 1267 – 1292). Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.
Daftar Sultan Perlak
Sultan-sultan Perlak dapat dikelompokkan menjadi dua dinasti: dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat. Berikut daftar sultan yang pernah memerintah Perlak.
1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840 – 864)
2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864 – 888)
3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888 – 913)
4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915 – 918)
5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928 – 932)
6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932 – 956)
7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956 – 983)
8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 5 (986 – 1023)
9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023 – 1059)
10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059 – 1078)
11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078 – 1109)
12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109 – 1135)
13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135 – 1160)
14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160 – 1173)
15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173 – 1200)
16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200 – 1230)
17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230 – 1267)
18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292)
• Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13 – abad ke-16)
• Kesultanan Malaka (abad ke-14 – abad ke-17)
Kesultanan Malaka (1402 – 1511) adalah sebuah kesultanan yang didirikan oleh Parameswara, seorang putera Sriwijaya yang melarikan diri dari perebutan Palembang oleh Majapahit. Ibu kota kerajaan ini terdapat di Melaka, yang terletak pada penyempitan Selat Malaka. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi sebuah entrepot dan menjadi pelabuhan terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-15 dan awal 16. Malaka runtuh setelah ibu kotanya direbut Portugis pada 1511.
Kegemilangan yang dicapai oleh Kerajaan Melaka adalah daripada beberapa faktor yang penting. Antaranya, Parameswara telah mengambil kesempatan untuk menjalinkan hubungan baik dengan negara Cina ketika Laksamana Yin Ching mengunjungi Melaka pada tahun 1403. Malah, salah seorang daripada sultan Melaka telah menikahi seorang putri dari negara Cina yang bernama Putri Hang Li Po. Hubungan erat antara Melaka dengan Cina telah memberi banyak manfaat kepada Melaka. Melaka mendapat perlindungan dari Cina yang merupakan sebuah kuasa besar di dunia untuk mengelakkan serangan Siam.
Sejarah
Parameswara pada awalnya mendirikan kerajaan di Singapura pada tahun 1390-an. Negeri ini kemudian diserang oleh Jawa dan Siam, yang memaksanya hijrah lebih ke utara. Kronik Dinasti Ming mencatat Parameswara telah berdiam di ibukota baru di Melaka pada 1403, tempat armada Ming yang dikirim ke selatan menemuinya. Sebagai balasan upeti yang diberikan Kekaisaran Cina menyetujui untuk memberikan perlindungan pada kerajaan baru tersebut. 1
Parameswara kemudian menganut agama Islam setelah menikahi putri Pasai. Laporan dari kunjungan Laksamana Cheng Ho pada 1409 menyiratkan bahwa pada saat itu Parameswara masih berkuasa, dan raja dan rakyat Melaka sudah menjadi muslim. 2. Pada 1414 Parameswara digantikan putranya, Megat Iskandar Syah.12
Megat Iskandar Syah memerintah selama 10 tahun, dan digantikan oleh Muhammad Syah. Putra Muhammad Syah yang kemudian menggantikannya, Raja Ibrahim, tampaknya tidak menganut agama Islam, dan mengambil gelar Sri Parameswara Dewa Syah. Namun masa pemerintahannya hanya 17 bulan, dan dia mangkat karena terbunuh pada 1445. Saudara seayahnya, Raja Kasim, kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah.
Di bawah pemerintahan Sultan Mudzaffar Syah Melaka melakukan ekspansi di Semenanjung Malaya dan pantai timur Sumatera (Kampar dan Indragiri). Ini memancing kemarahan Siam yang menganggap Melaka sebagai bawahan Kedah, yang pada saat itu menjadi bondman Siam. Namun serangan Siam pada 1455 dan 1456 dapat dipatahkan.
Di bawah pemerintahan raja berikutnya yang naik tahta pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah, Melaka menyerbu Kedah dan Pahang, dan menjadikannya negara vassal. Di bawah sultan yang sama Johor, Jambi dan Siak juga takluk. Dengan demikian Melaka mengendalikan sepenuhnya kedua pesisir yang mengapit Selat Malaka.
Mansur Syah berkuasa sampai mangkatnya pada 1477. Dia digantikan oleh putranya Alauddin Riayat Syah. Sultan memerintah selama 11 tahun, saat dia meninggal dan digantikan oleh putranya Sultan Mahmud Syah. 3
Mahmud Syah memerintah Malaka sampai tahun 1511, saat ibu kota kerajaan tersebut diserang pasukan Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Serangan dimulai pada 10 Agustus 1511 dan berhasil direbut pada 24 Agustus 1511. Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Bintan dan mendirikan ibukota baru di sana. Pada tahun 1526 Portugis membumihanguskan Bintan, dan Sultan kemudian melarikan diri ke Kampar, tempat dia wafat dua tahun kemudian. Putranya Muzaffar Syah kemudian menjadi sultan Perak, sedangkan putranya yang lain Alauddin Riayat Syah II mendirikan kerajaan baru yaitu Johor.
sunting Daftar raja-raja Malaka
1. Parameswara (1402-1414)
2. Megat Iskandar Syah (1414-1424)
3. Sultan Muhammad Syah (1424-1444)
4. Seri Parameswara Dewa Syah(1444-1445)
5. Sultan Mudzaffar Syah (1445-1459)
6. Sultan Mansur Syah (1459-1477)
7. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477-1488)
8. Sultan Mahmud Syah (1488-1528)
• Kesultanan Aceh (abad ke-16 – 1903)
Kesultanan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 Sep 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 – 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.1
Sejarah
Awal mula
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Diawal-awal masa pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup Daya, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.
Masa kejayaan
Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Melaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal dikarenakan adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang.
Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi’raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin ar-Raniry dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil.
Kemunduran
Kemunduran Kesultanan Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan diantara pewaris tahta kesultanan.
Traktat London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda untuk menguasai segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara Belanda akan menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.
Pada akhir Nopember 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas “Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan.” Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke pangkuan kolonial Hindia-Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan dari Soekarno kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat iturujukan?.
Perang Aceh
Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.
Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. outpost Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.
Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.
Sultan Aceh
Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.
Tradisi kesultanan
Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh
• Teungku
• Tuanku
• Pocut
• Teuku
• Laksamana
• Uleebalang
• Cut
• Panglima Sagoe
• Meurah
• Kerajaan Melayu Jambi
Kerajaan Malayu adalah nama sebuah kerajaan yang pernah ada di Pulau Sumatra. Pada umumnya, kerajaan ini dibedakan atas dua periode, yaitu Kerajaan Malayu Tua pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga Tamwa, dan Kerajaan Malayu Muda pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya.
Berdasarkan letak ibu kotanya, Kerajaan Malayu Tua atau Malayu Kuno sering pula disebut dengan nama Kerajaan Malayu Jambi, sedangkan Kerajaan Malayu Muda sering pula disebut dengan nama Kerajaan Dharmasraya.
Sumber Berita Cina
Berita tentang Kerajaan Malayu antara lain diketahui dari kronik Cina berjudul T’ang-hui-yao karya Wang P’u. Disebutkan bahwa ada sebuah kerajaan bernama Mo-lo-yeu yang mengirim duta besar ke Cina pada tahun 644 atau 645. Pengiriman duta ini hanya berjalan sekali dan sesudah itu tidak terdengar lagi kabarnya.
Pendeta we Tsing dalam perjalanannya pada tahun 671–685 menuju India juga sempat singgah di pelabuhan Mo-lo-yeu. Saat ia berangkat, Mo-lo-yeu masih berupa negeri merdeka, sedangkan ketika kembali ke Cina, Mo-lo-yeu telah menjadi jajahan Shih-li-fo-shih (ejaan Cina untuk Sriwijaya).
Menurut catatan we Tsing, negeri-negeri di Pulau Sumatra pada umumnya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Mo-lo-yeu. Tidak disebutkan dengan jelas agama apa yang dianut oleh Kerajaan Malayu.
Lokasi Malayu Tua
Dr. Rouffaer berpendapat bahwa ibu kota Kerajaan Malayu menjadi satu dengan pelabuhan Malayu, dan sama-sama terletak di Kota Jambi. Sedangkan menurut Ir. Moens, pelabuhan Malayu terletak di Kota Jambi, namun istananya terletak di Palembang. Sementara itu, Prof. George Coedes lebih yakin bahwa Palembang adalah ibu kota Kerajaan Sriwijaya, bukan ibu kota Malayu.
Prof. Slamet Muljana berpendapat lain. Istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi.
Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit. Slamet Muljana berpendapat bahwa istana Malayu terletak di Minanga Tamwa sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Kedukan Bukit. Menurutnya, Minanga Tamwa adalah nama kuno dari Muara Tebo (atau Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi).
Dikalahkan Sriwijaya
Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 mengisahkan perjalanan Dapunta Hyang membawa 20.000 orang prajurit meninggalkan Minanga Tamwa dengan perasaan suka cita penuh kemenangan. Prof. Moh. Yamin berpendapat bahwa prasasti ini merupakan piagam proklamasi berdirinya Kerajaan Sriwijaya di bawah pimpinan Dapunta Hyang.
Pendapat Moh. Yamin ternyata tidak sesuai dengan berita dalam catatan we Tsing bahwa pada tahun 671 Kerajaan Sriwijaya sudah ada. Dikisahkan, bahwa we Tsing mendapat bantuan dari raja Shih-li-fo-shih sehingga dapat memasuki pelabuhan Malayu dalam perjalanan menuju India.
Prof. Slamet Muljana yang telah mengidentifikasi Minanga Tamwa sebagai ibu kota Kerajaan Malayu berpendapat bahwa, prasasti Kedukan Bukit merupakan piagam penaklukan Malayu oleh Sriwijaya. Naskah prasasti tersebut menunjukkan bahwa dengan kekuatan 20.000 prajurit, Dapunta Hyang berhasil menguasai Minanga Tamwa, dan meninggalkan kota itu dalam suka cita.
Jadi, penaklukan Malayu oleh Sriwijaya terjadi pada tahun 683. Pendapat ini sesuai dengan catatan we Tsing bahwa, pada saat berangkat menuju India tahun 671, Mo-lo-yeu masih menjadi kerajaan merdeka, sedangkan ketika kembali tahun 685, negeri itu telah dikuasai oleh Shih-li-fo-shih.
Pelabuhan Malayu merupakan penguasa lalu lintas Selat Malaka saat itu. Dengan direbutnya Minanga Tamwa, secara otomatis pelabuhan Malayu joke jatuh ke tangan Kerajaan Sriwijaya. Maka sejak tahun 683, Kerajaan Sriwijaya tumbuh menjadi penguasa lalu lintas dan perdagangan Selat Malaka menggantikan peran Kerajaan Malayu.
Tentang Raja Chan-pi
Setelah beberapa abad berkuasa, akhirnya Kerajaan Sriwijaya mengalami kekalahan akibat serangan Rajendra Coladewa dari India sekitar tahun 1025. Kekuasaan Wangsa Sailendra di Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya joke berakhir. Sejak saat itu Sriwijaya menjadi negeri jajahan Rajendra.
Dalam berita Cina berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa Kerajaan San-fo-tsi tahun 1082 mengirim duta besar ke Cina yang saat itu di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Chan-pi bawahan San-fo-tsi, dan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian.
Pada zaman Dinasti Sung, istilah San-fo-tsi identik dengan Sriwijaya. Tidak diketahui dengan pasti apakah putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi adalah keturunan Rajendra, yang saat itu telah menguasai Sumatra dan Semenanjung Malaya. Sementara itu, raja Chan-pi kemungkinan besar adalah ejaan Cina untuk istilah Jambi.
Munculnya Wangsa Mauli
Kekalahan Kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Coladewa telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya sejak tahun 1025. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yang disebut dengan nama Wangsa Mauli.
Prasasti tertua yang pernah ditemukan atas nama raja Mauli adalah prasasti Grahi tahun 1183. Prasasti itu berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin. Yang mengerjakan tugas membuat arca tersebut bernama Mraten Sri Nano.
Prasasti kedua berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu prasasti Padangroco tahun 1286. Prasasti ini menyebut adanya seorang raja bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Ia mendapat kiriman arca Amoghapasa dari atasannya, yaitu Kertanagara raja Kerajaan Singhasari di Pulau Jawa. Arca tersebut kemudian diletakkan di kota Dharmasraya.
Dharmasraya dalam Pararaton disebut dengan nama Malayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat pula disebut sebagai raja Malayu. Tribhuwanaraja sendiri kemungkinan besar adalah keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja joke bisa juga dianggap sebagai raja Malayu, meskipun prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.
Yang menarik di sini adalah daerah kekuasaan Trailokyaraja pada tahun 1183 telah mencapai Grahi, yang terletak di perbatasan Kamboja. Itu artinya, setelah Sriwijaya mengalami kekalahan, Malayu bangkit kembali sebagai penguasa Selat Malaka. Namun, kapan kiranya kebangkitan tersebut dimulai tidak dapat dipastikan, karena raja Jambi pada tahun 1082 masih menjadi bawahan keluarga Rajendra.
Istilah Srimat yang ditemukan di depan nama Trailokyaraja dan Tribhuwanaraja berasal dari bahasa Tamil yang bermakna ”tuan pendeta”. Dengan demikian, kebangkitan kembali Kerajaan Malayu dipelopori oleh kaum pendeta. Namun, tidak diketahui dengan jelas apakah pemimpin kebangkitan tersebut adalah Srimat Trailokyaraja, ataukah raja sebelum dirinya, karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti Wangsa Mauli yang lebih tua daripada prasasti Grahi.
Daerah Kekuasaan Dharmasraya
Istilah San-fo-tsi pada zaman Dinasti Sung sekitar tahun 990–an identik dengan Kerajaan Sriwijaya. Namun, ketika Sriwijaya mengalami kehancuran pada tahun 1025, istilah San-fo-tsi masih tetap dipakai dalam naskah-naskah kronik Cina untuk menyebut Pulau Sumatra secara umum.
Dalam naskah berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225 disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Pong-fong, Tong-ya-nong, Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Ki-lan-tan (Kelantan), Fo-lo-an, Ji-lo-ting, Tsien-mai, Pa-ta (Batak ?, Patani ?), Tan-ma-ling, Kia-lo-hi (Kamboja), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), Kien-pi, Lan-mu-li, dan Si-lan (Sailan ?). Dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Srilangka (Si-lan), Kamboja (Kia-lo-hi), sampai Sunda (Sin-to).
Apabila San-fo-tsi masih dianggap identik dengan Sriwijaya, maka hal ini akan bertentangan dengan prasasti Tanyore tahun 1030, bahwa saat itu Sriwijaya telah kehilangan kekuasaannya atas Sumatra dan Semenanjung Malaya. Selain itu dalam daftar di atas juga ditemukan nama Pa-lin-fong yang identik dengan Palembang. Karena Palembang sama dengan Sriwijaya, maka tidak mungkin Sriwijaya menjadi bawahan Sriwijaya.
Sebaliknya, daftar tersebut tidak menyebutkan nama Mo-lo-yeu ataupun nama lain yang mirip Dharmasraya. Yang disebut adalah Kien-pi, yang mungkin identik dengan Jambi. Sementara itu, Jambi sendiri tidak sama dengan Dharmasraya karena kedua tempat tersebut terletak berjauhan.
Dengan demikian, istilah San-fo-tsi pada tahun 1225 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan identik dengan Dharmasraya. Jadi, daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan Kerajaan Dharmasraya, karena saat itu masa kejayaan Sriwijaya sudah berakhir.
Jadi, istilah San-fo-tsi yang semula bermakna Sriwijaya tetap digunakan dalam berita Cina untuk menyebut Pulau Sumatra secara umum, meskipun kerajaan yang berkuasa saat itu adalah Dharmasraya. Hal yang serupa terjadi pada abad ke-14, yaitu zaman Majapahit dan Dinasti Ming. Catatan sejarah Dinasti Ming masih menggunakan istilah San-fo-tsi, seolah-olah saat itu Sriwijaya masih ada. Sementara itu, catatan sejarah Majapahit berjudul Nagarakretagama tahun 1365 sama sekali tidak pernah menyebut adanya negeri bernama Sriwijaya.
Itu artinya, San-fo-tsi yang dikenal oleh Dinasti Ming memang bukan Sriwijaya, melainkan sebutan umum untuk Pulau Sumatra yang di dalamya antara lain terdapat negeri Dharmasraya dan Palembang.
Dikalahkan Singhasari
Pada tahun 1275 raja Kerajaan Singhasari di Pulau Jawa yang bernama Kertanagara memutuskan untuk menguasai lalu lintas perdagangan Selat Malaka. Tujuan utamanya ialah untuk membendung pengaruh kekuasaan Khubilai Khan penguasa Dinasti Yuan atau bangsa Mongol.
Menurut Nagarakretagama, rencana tersebut semula hendak dijalankan secara damai. Akan tetapi, raja Malayu menolak hal itu, sehingga Kertanagara terpaksa mengirim pasukan untuk menyerang Sumatra. Serangan tersebut terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Kebo Anabrang sebagai komandan.
Pasukan Kebo Anabrang mendarat dan merebut pelabuhan Malayu di Jambi. Mereka kemudian merebut daerah penghasil lada di Kuntu–Kampar. Dengan demikian, kehidupan ekonomi Kerajaan Malayu berhasil dilumpuhkan. Yang terakhir, Kebo Anabrang berhasil mengalahkan ibu kota Malayu, yaitu Dharmasraya.
Tidak diketahui dengan pasti kapan istana Dharmasraya jatuh ke tangan pasukan Singhasari. Prasasti Padangroco tahun 1286 hanya menyebutkan tentang pengiriman arca Amoghapasa sebagai hadiah Singhasari untuk ditempatkan di Dharmasraya. Dalam prasasti itu, Tribhuwanaraja bergelar maharaja, sedangkan Kertanagara bergelar maharajadhiraja, sehingga terbukti kalau saat itu Sumatra telah menjadi bawahan Jawa.
Sepasang Putri Malayu
Naskah Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan bahwa pasukan Kebo Anabrang kembali ke Jawa tahun 1293 membawa dua orang putri Malayu bernama Dara Jingga dan Dara Petak. Keduanya dipersembahkan kepada Raden Wijaya menantu Kertanagara. Kertanagara sendiri telah meninggal setahun sebelumnya.
Raden Wijaya merupakan raja pertama Kerajaan Majapahit. Ia mengambil Dara Petak sebagai istri yang kemudian melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit. Sementara itu, Dara Jingga diserahkan kepada seorang “dewa”. Ia kemudian melahirkan Tuan Janaka yang kelak menjadi raja Malayu bergelar Mantrolot Warmadewa. Namun ada kemungkinan lain bahwa Raden Wijaya juga mengambil Dara Jingga sebagai istri, karena hal ini lumrah sebab Raden Wijaya pada waktu itu telah menjadi raja serta juga memperistri semua anak-anak perempuan Kertanagara. Dan ini dilakukan untuk menjaga ketentraman dan kestabilan kerajaan setelah peralihan kekuasaan di Singhasari.
Mantrolot Warmadewa identik dengan Adityawarman Mauli Warmadewa, putra Adwayawarman. Nama Adwayawarman ini mirip dengan Adwayabrahma, yaitu salah satu pengawal arca Amoghapasa dalam prasasti Padangroco tahun 1286. Saat itu Adwayabrahma menjabat sebagai Rakryan Mahamantri dalam pemerintahan Kertanagara. Jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi. Mungkin yang dimaksud dengan “dewa” dalam Pararaton adalah tokoh ini. Dengan kata lain, Raden Wijaya menikahkan Dara Jingga dengan Adwayabrahma sehingga lahir Adityawarman.
Adityawarman sendiri menggunakan gelar Mauli Warmadewa. Hal ini menunjukkan kalau ia adalah keturunan Srimat Tribhuwanaraja. Maka, dapat disimpulkan kalau Dara Jingga (dan juga Dara Petak) adalah putri dari raja Dharmasraya tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa keduanya lahir dari permaisuri raja Malayu bernama Putri Reno Mandi.
Dharmasraya Zaman Majapahit
Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebut Dharmasraya sebagai salah satu di antara sekian banyak negeri jajahan Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatra. Dharmasraya memang telah ditaklukkan oleh Singhasari dan menjalin persaudaraan melalui perkawinan antara Dara Petak dan Raden Wijaya pada akhir abad ke-13. Namun, tidak dapat dipastikan apakah kemudian Dharmasraya tunduk begitu saja terhadap Majapahit sebagai kelanjutan dari Singhasari.
Dalam catatan Dinasti Ming, negeri San-fo-tsi (atau Sumatra) terbagi manjadi tiga dan masing-masing berusaha meminta bantuan Cina untuk lepas dari kekuasaan She-po (atau Jawa). Ketiga negeri tersebut masing-masing dipimpin oleh Seng-kia-lie-yulan, Ma-ha-na-po-lin-pang, dan Ma-na-cha-wu-li.
Secara berturut-turut pada tahun 1375, 1376, dan 1377 ketiganya mengirimkan duta besar ke Cina meminta bantuan. Namun pada tahun 1377 tentara She-po menyerang dan menghancurkan San-fo-tsi. Sejak saat itu ketiga negeri di San-fo-tsi disatukan dan diganti namanya menjadi Chiu-chiang.
Seng-kia-lie-yulan adalah Adityawarman raja Pagaruyung. Ma-ha-na-po-lin-pang adalah ejaan Cina untuk Maharaja Palembang. Sementara Ma-na-cha-wu-li adalah ejaan untuk Maharaja Mauli raja Dharmasraya.
Meskipun Adityawarman adalah cucu Srimat Tribhuwanaraja, namun ia tidak memiliki hak atas takhta Dharmasraya karena ia lahir dari Dara Jingga. Adityawarman kemudian mendirikan Kerajaan Malayapura di Pagaruyung, sedangkan Dharmasraya dipegang oleh Maharaja Mauli, yaitu keturunan Tribhuwanaraja lainnya.
Rupanya setelah Gajah Mada meninggal tahun 1364, negeri-negeri jajahan di Sumatra berusaha untuk memerdekakan diri dengan meminta bantuan Kerajaan Ming di Cina. Akan tetapi, Maharaja Hayam Wuruk yang saat itu masih berkuasa di Majapahit berhasil menumpas pemberontakan Pagaruyung, Palembang, dan Dharmasraya pada tahun 1377.
Catatan Cina menyebut bahwa setelah pemberontakan tersebut, kerajaan-kerajaan di San-fo-tsi dijadikan satu dengan nama Chiu-chiang. Menurut naskah Ying-yai-seng-lan, nama Chiu-chiang sama dengan Po-lin-pang. Itu berarti, setelah tahun 1377, wilayah jajahan Majapahit di Sumatra dijadikan satu dengan berpusat di Palembang.
• Kesultanan Johor-Riau
Kesultanan Johor yang terkadang disebut juga sebagai Johor-Riau atau Johor-Riau-Lingga adalah kerajaan yang didirikan pada tahun 1528 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah, putra sultan terakhir Malaka, Mahmud Syah. Sebelumnya daerah Johor-Riau merupakan bagian dari Kesultanan Malaka yang runtuh akibat serangan Portugis pada 1511.
Pada puncak kejayaannya Kesultanan Johor-Riau mencakup wilayah Johor sekarang, Singapura, Kepulauan Riau, dan daerah-daerah di Sumatera seperti Riau Daratan dan Jambi.
Sebagai balas jasa atas bantuan merebut tahta Johor Sultan Hussein Syah mengizinkan Britania pada 1819 untuk mendirikan pemukiman di Singapura. Dengan ditandatanganinya Traktat London tahun 1824 Kesultanan Johor-Riau dibagi dua menjadi Kesultanan Johor, dan Kesultanan Riau-Lingga. Pada tahun yang sama Singapura sepenuhnya berada di bawah kendali Britania. Riau-Lingga dihapuskan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1911.
Pada tahun 1914, Sultan Ibrahim, dipaksa untuk menerima kehadiran Residen Britania. Dengan demikian Johor efektif menjadi koloni Mahkota Britania.
Johor menjadi salah satu negara bagian Malaysia ketika negara itu didirikan pada 1963.
Raja-raja Johor
Raja-raja Kesultanan Johor-Riau (1528-1824)
1. 1528-1564: Sultan Alauddin Riayat Syah II (Raja Ali/Raja Alauddin)
2. 1564-1570: Sultan Muzaffar Syah II (Raja Muzafar/Radin Bahar)
3. 1570-1571: Sultan Abd. Jalil Syah we (Raja Abdul Jalil)
4. 1570/71-1597: Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II (Raja Umar)
5. 1597-1615: Sultan Alauddin Riayat Syah III (Raja Mansur)
6. 1615-1623: Sultan Abdullah Ma’ayat Syah (Raja Mansur)
7. 1623-1677: Sultan Abdul Jalil Syah III (Raja Bujang)
8. 1677-1685: Sultan Ibrahim Syah (Raja Ibrahim/Putera Raja Bajau)
9. 1685-1699: Sultan Mahmud Syah II (Raja Mahmud)
10. 1699-1720: Sultan Abdul Jalil IV (Bendahara Paduka Raja Tun Abdul Jalil)
11. 1718-1722: Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil/Yang DiPertuan Johor)
12. 1722-1760: Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (Raja Sulaiman/Yang DiPertuan Besar Johor-Riau)
13. 1760-1761: Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah
14. 1761: Sultan Ahmad Riayat Syah
15. 1761-1812: Sultan Mahmud Syah III (Raja Mahmud)
16. 1812-1819: Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah (Tengku Abdul Rahman)
Raja-raja Kesultanan Johor (1824-sekarang)
1. 1819-1835: Sultan Hussain Shah (Tengku Husin/Tengku Long)
2. 1835-1877: Sultan Ali (Tengku Ali; tidak diakui oleh Inggris)
3. 1855-1862: Raja Temenggung Tun Daeng Ibrahim (Seri Maharaja Johor)
4. 1862-1895: Sultan Abu Bakar Daeng Ibrahim (Temenggung Che Wan Abu Bakar/Ungku Abu Bakar)
5. 1895-1959: Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu Bakar
6. 1959-1981: Sultan Ismail ibni Sultan Ibrahim
7. 1981-kini: Sultan Mahmood Iskandar Al-Haj
Kerajaan Islam di Jawa
• Kesultanan Demak (1500 – 1550)
Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Pada masa sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca “Prawoto”).
Cikal-bakal Demak
Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati,rujukan? yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syekh Siti Jenar.
Demak di bawah Pati Unus
Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.
Demak di bawah Sultan Trenggono
Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto
Kemunduran Demak
Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus. Ia ditentang oleh adik Sultan Trenggono, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen. Pangeran Sekar Seda Lepen akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya “dihabisi” oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri adipati Jepara, dan hal ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.
Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam peperangan oleh pasukan Joko Tingkir, menantu Sunan Prawoto. Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.
• Kesultanan Banten (1524 – 1813)
Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.
Sejarah
Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.
Puncak kejayaan
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.
Masa kekuasaan Sultan Haji
Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung
Penghapusan kesultanan
Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.1
Daftar pemimpin Kesultanan Banten
• Sunan Gunung Jati
• Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570
• Maulana Yusuf 1570 – 1580
• Maulana Muhammad 1585 – 1590
• Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.2)
• Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650
• Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
• Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687
• Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
• Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
• Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
• Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
• Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
• Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
• Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
• Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
• Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
• Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
• Aliyuddin II (1803-1808)
• Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
• Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
• Muhammad Rafiuddin (1813-1820)
• Kesultanan Pajang (1568 – 1618)
Kesultanan Pajang adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.
Asal-usul
Sesungguhnya nama negeri Pajang sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, ada seorang adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Nama aslinya adalah Dyah Nertaja, yang merupakan ibu dari Wikramawardhana, raja Majapahit selanjutnya.
Dalam naskah-naskah babad, negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.
Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas jasanya itu, Jaka Sengara diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.
Kesultanan Pajang
Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kesultanan Demak.
Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memeberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.
Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara putri Sultan Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Ia joke menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.
Perkembangan
Pada awal berdirinya tahun 1549, wilayah Kesultanan Pajang hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.
Pada tahun 1568 Sultan Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan putri Sultan Hadiwijaya.
Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Sultan Hadiwijaya.
Peran Wali Songo
Pada zaman Kesultanan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, raja baru pengganti Sultan Trenggana.
Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai sultan. Ia juga menjadi go-between pertemuan Sultan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568. Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Sultan Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang.
Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.
Mungkin yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550.
Pemberontakan Mataram
Tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Sultan Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.
Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.
Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.
Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.
Keruntuhan
Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.
Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.
Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.
Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.
Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang joke dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.
Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
Daftar Raja Pajang
1. Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya
2. Arya Pangiri bergelar Sultan Ngawantipura
3. Pangeran Benawa bergelar Sultan Prabuwijaya
• Kesultanan Mataram (1586 – 1755)
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.
Masa awal
Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.
Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.
Sultan Agung
Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Kerta (Jw. “kert”, maka muncul sebutan pula “Mataram Kerta”). Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).
Terpecahnya Mataram
Amangkurat we memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhunan” atau “Yang Dipertuan”). Pemerintahan Amangkurat we kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana we (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana we (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi “king in exile” hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah epoch Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.
Peristiwa Penting
• 1558 – Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.
• 1577 – Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede.
• 1584 – Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram, bergelar “Ngabehi Loring Pasar” (karena rumahnya di utara pasar).
• 1587 – Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi. Sutawijaya dan pasukannya selamat.
• 1588 – Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar “Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama” artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.
• 1601 – Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai “Panembahan Seda ing Krapyak” karena wafat saat berburu (jawa: krapyak).
• 1613 – Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau “Prabu Pandita Hanyakrakusuma”. Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar “Susuhunan Hanyakrakusuma”. Terakhir setelah 1640-an beliau menggunakan gelar bergelar “Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman”
• 1645 – Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.
• 1645 – 1677 – Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC.
• 1677 – Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat we mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.
• 1680 – Susuhunan Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura.
• 1681 – Pangeran Puger diturunkan dari tahta Pleret.
• 1703 – Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.
• 1704 – Dengan bantuan VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta we (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan.
• 1708 – Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya pada 1734.
• 1719 – Susuhunan Paku Buwono we meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta II (1719-1723).
• 1726 – Susuhunan Amangkurat IV meninggal dan digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.
• 1742 – Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.
• 1743 – Dengan bantuan VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama belum dapat melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas bantuan VOC.
• 1745 – Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton.
• 1746 – Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota baru yang dinamai Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus Perang Tahta III yang berlangsung lebih dari 10 tahun (1746-1757) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.
• 1749 – 11 Desember Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru dapat ditundukkan sepenuhnya pada 1830. 12 Desember Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. 15 Desember outpost Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.
• 1752 – Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan Mangkubumi-RM Said.
• 1754 – Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. 23 September, Nota Kesepahaman Mangkubumi-Hartingh. 4 November, PB III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.
• 1755 – 13 Februari Puncak perpecahan terjadi, ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar “Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah” atau lebih populer dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
• 1757 – Perpecahan kembali melanda Mataram. R.M. Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar “Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha”.
• 1788 – Susuhunan Paku Buwono III mangkat.
• 1792 – Sultan Hamengku Buwono we wafat.
• 1795 – KGPAA Mangku Nagara we meninggal.
• 1813 – Perpecahan kembali melanda Mataram. P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar “Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam”.
• 1830 – Akhir perang Diponegoro. Seluruh daerah Manca nagara Yogyakarta dan Surakarta dirampas Belanda. 27 September, Perjanjian Klaten menentukan tapal yang tetap antara Surakarta dan Yogyakarta dan membagi secara permanen Kerajaan Mataram ditandatangani oleh Sasradiningrat, Pepatih Dalem Surakarta, dan Danurejo, Pepatih Dalem Yogyakarta. Mataram secara de facto dan de yure dikuasai oleh Hindia Belanda.
• Kesultanan Cirebon (sekitar abad ke-16)
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan “jembatan” antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Sejarah
Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah atmosphere bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, atmosphere rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
Perkembangan awal
Ki Gedeng Tapa
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.
Ki Gedeng Alang-Alang
Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.
Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)
Pangeran Cakrabuana (…. –1479)
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang – ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.
Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.
Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.
Panembahan Ratu we (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu we dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.
Panembahan Ratu II (1649-1677)
Setelah Panembahan Ratu we meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.
Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat we adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.
Panembahan Girilaya adalah menantu Sul