Happy Salma Senang Perankan Istri Kedua Soekarno

April 20, 2012

KUALITAS akting Happy Salma sudah tak diragukan lagi. Buktinya, ia meraih Piala Citra untuk perannya sebagai pelacur dalam 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Nah kabar terbaru, Happy bakal bermain dalam sebuah film yang didalamnya ia akan memerankan salah satu istri Soekarno. Inggit Ganarsih. Jadi istri keduanya Soekarno dan saya kagumi karakter ini karena selama 20 tahun menemani Soekarno sekaligus membiayai, mungkin dia satu-satunya yang ada di wilayah domestik pendiri bangsa, ungkapnya bersemangat. Happy dirasa pas memerankan tokoh yang satu ini sebab ia sebelumnya pernah memerankannya dalam sebuah monolog. Namun, penonton masih harus sabar menunggu sebab film yang bercerita tentang sembilan istri Soekarno ini terhadang proses yang rumit. Filmnya mundur-mundur terus. Mungkin karena ini kan harus banyak pengumpulan information soal sembilan wanita itu. Ini kan soal kejadian benaran bukan fiksi. Jadi saya pikir lebih baik mundur agar lebih matang produksinya dengan hasil maksimal, kilahnya.Happy juga berpendapat soal keseksian. Ini menyangkut perannya di pementasan Roro Mendut pada 14 Apr lalu dimana tubuh seksinya cuma dibalut dodot dan kemben.Ini kan konteksnya cerita legenda dan ini Indonesia. Kita bukan tinggal di Arab. Saya pikir dengan konteks yang pas, nggak masalah. Kalau pake gamis misalnya, bukan tema legenda lagi, tukas istri bangsawan Bali, Cokorda Bagus Dwi Santana ini.Tarian Jawa memang begitu. Saya gunakan pakem yang turun-temurun. Kalau dibebankan gerakan atau pakaian nggak sopan, berarti nenek moyang kita nggak sopan dong Ngeres, diam juga bisa. Balik lagi ke orangnya, imbuhnya.Bagi Happy sendiri, artian seksi bisa diartikan banyak hal. Multitafsir. Saya nggak bisa jawab, ujar Happy yang mengaku tidak merasa seksi.Ya, alhamdulillah. Saya sendiri sebagai perempuan kadang terasa oke atau nggak pede. Yang penting bukan orang lain, tapi understanding dengan suasana hati sendiri, kata Happy.Saya tidak lakukan hal coarse atau memancing yang menimbulkan opini. Kalau orang anggap begitu (seksi) ya salah mereka. Kalau bisa media jangan panas-panasi, pungkasnya.(INS/jpnn)

Cornelia Agatha Ingin Memasyarakatkan Teater

April 13, 2012

BeritaMusik.COM, Jakarta - Cornelia Agatha benar-benar jatuh cinta dengan teater. Lia, begitu ia disapa, ingin memasyrakatkan teater dan memperkenalkan teater ke semua lapisan.

Tak tanggung-tanggung, sebagai awal cita-citanya itu, Lia akan menggarap teater jenis monoplay berjudul 'Korla' yang akan tayang pada 21 Apr mendatang. Lia tidak saja bermain dalam teater tersebut, tapi ia juga menjadi sutradara dan produser.

Berikut petikan wawancara BeritaMusik.COM dengan Cornelia Agatha yang namanya terkenal lewat sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan'. Bagaimana ambisi istri Sonny Lalwani yang memiliki dua anak kembar, Tristan dan Makaila (5) ini di dunia teater, mengapa ia berani dan begitu yakin menyutradarai pementasan teater meski teater kalah populer dari film dan sinetron.

Kabarnya tengah menggarap monoplay 'Korla', monoplay itu apa sih?

Monoplay itu sama dengan monolog. Tapi kalau monolog itu, si tokoh hanya sendirian, benar-benar mengeksplore si tokoh. Tapi kalau monoplay itu kita bisa taruh segala macam di situ. Ada musik, nyanyian, tarian, banyak ornamen pokoknya. Saya nyanyi dan nari juga di sini.

Saya Didukung penari, ada penyanyi juga seperti Tompi, ada model. Tapi tetap, sebagai aktor, fokusnya ke aku. Kalau joke ada tokoh-tokoh di situ, mereka dilarang berdialog.

Monoplay ini pertama di Indonesia?

Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau saya bilang ini yang pertama, mungkin orang lain pernah ada yang membuat seperti ini. Saya tidak bisa mengklaim.

Ceritanya tentang apa?

Korla ini sebenarnya nama tokoh. Jadi dia ini, dia bercerita, wanita yang senang berimajinasi. Yang diimanjinasikan dia itu percintaannya yang selalu gagal dan selalu menjadi korban laki-laki. Sampai akhirnya dia menghadapi masalah kejiwaan. Saya nggak kasih tahu endingnya, itu nanti jadi surprise.

Cerita ini dari Lia sendiri?

Ceritanya dari penulis (Tommy F. Awuy), aku ngobrol-ngobrol sama penulis. Dia tanya mau cerita apa. Aku pikir kalau cerita yang ringan itu ya percintaan. Tapi aku mau yang ringan, tapi yang berbobot. Dia kasih cerita begini begitu, lalu aku tambahkan apa. Judulnya 'Korla', itu dari nama aku. Jadi ceritanya tentang kehidupan percintaan. Korla bisa dibilang korban laki-laki.

Bagaimana ceritanya mau dan berani menyutradarai teater?

Ini nekad banget sebenarnya. Sebagai sutradara, saya masih anak bawang banget. Tapi saya didukung banyak orang yang memang berkompeten di sini. Saya juga masih diajarin dengan pelatih akting. Awalnya sih saya nggak pede. Tapi kalau nggak pernah berani mencoba, kapan kita bisa tahu. Ini uncover tunggal dan pertamakali saya buat. Saya ingin membuat sesuatu intuk diri saya sendiri dan orang banyak.

Saya ngotot banget buat ini. Obsesi saya adalah membuat dunia teater itu bisa jadi gaya hidup, entertain. Saya buat yang ringan agar semua orang bisa menikmatinya. Target audisi yang mungkin ngga terlalu mengerti teater, jadi mau nonton. Tempatnya juga bukan tempat yang biasa untuk tempat teater, tapi saya pilih yang di open space.

Berapa lama mempersiapkan ini?

Persiapannya dua tahun. Tadinya mau lebih cepat, tapi diundur, karena saya pingin hasil yang maksimal. Durasinya nggak lama, cuma satu jam lebih. Tapi di sini saya nyanyi, menari, baca puisi, jadi energinya cukup terkuras.

Paling susah dalam penggarapan proyek ini?

Paling susah itu energi dan pikirian. Sebagai pemain saya nyaman karena harus fokus bermain saja. Tapi sekarang, saya juga konseptor, jadi ibu. Apalagi saya juga harus memikirkan penjualan tiket.

Mengapa bisa begitu mencintai teater?

Awalnya itu di tahun 1997, saat itu ikut categorical teater judulnya 'Bayi di Aliran Sungai'. Awal categorical teater takut banget, kayaknya susah, bisa nggak yah. Tapi setelah categorical ternyata nggak sesulit yang dibayangkan.

Malah menurut saya tidak sesulit ketika di depan kamera. Kalau di atas panggung, kita bisa bebas mengekspresikan diri. Di teater itu kita terbuka untuk bisa menjadi apa saja. Di teater, kekayaan aktor ada di situ sebenarnya. Jujur, saya lebih suka teater di banding film atau sinetron. Teater lebih menantang. Eksploitasi pemainnya lebih baik.

Sempat dimarahi?

Saya merasakan dimarah-marahi sutradara. Kalau di sinetron kan kita dimanja. Tapi di teater, ketika kita masuk Bulungan, siapa lu. Aku merasakan betul gemblengan Nano R Riantiarno. Di dunia ini, saya butuh mental sebagai pemain, dan aku mendapatkannya di teater. Saya lebih menghargai proses dan menjadi diri sendiri.

Tidak mau categorical film lagi?

Kemarin karena anak-anak juga masih kecil, jadi sulit untuk menerima tawaran film, apalagi sinetron. Teater Koma saya masih aktif, jadi nggak bisa bagi waktu lagi. Mungkin nanti lagi lah.

Dukungan keluarga bagaimana?

Keluarga sangat mendukung. Bahkan suami saya ikutan jadi produser juga di sini. Tapi jujur dengan anak cukup mengganggu konsentrasi saya saat latihan. Kalau saya mau jalan latihan, anak mau ikut, tapi saya kasih pengertian. Sedih juga sih, tapi lama-lama mereka mengerti.

Carey Mulligan Dibenci Guru Drama

January 18, 2012

LOS ANGELES, BeritaMusik.com -- Carey Mulligan (26) berharap guru-guru di salah satu sekolah play bergengsi di London, Inggris, mengetahui kesuksesan film-filmnya. Pasalnya, menurut mereka, dirinya tak layak menjadi aktris dan sebaiknya mempertimbangkan karier sebagai presenter anak.

Bintang film Shame ini amat sedih saat dia berusaha mewujudkan mimpinya dengan mengikuti audisi di Drama Centre London. Namun, saat itu, guru-guru play di sana justru menyarankan dia berhenti berakting.

”Aku penggemar berat play yang terobsesi dengan akting sejak kecil. Aku ingin tampil di sebuah musikal. Jadi, orangtuaku menyekolahkanku ke sekolah play saat aku 12 tahun. Tetapi, mereka malah menghentikanku,” kenang Mulligan.

”Daripada mendaftar ke universitas, aku memilih sekolah drama. Namun, guru-guru di Drama Centre London malah berkata agar aku jadi presenter anak di televisi,” ungkapnya.

”Saat audisi, aku memilih Psychosis 448, monolog tentang seseorang yang bunuh diri. Jadi aku berusaha menampilkan diriku dari seorang yang bahagia, lalu berakting memotong pergelangan tanganku,” katanya.

”Namun, mereka berkata, ’Pulang saja’! Atau setidaknya alami sesuatu yang lain,” kata Mulligan.

Ironisnya, saat ini Mulligan menerima reviews yang bagus untuk penampilannya di film Shame sebagai seseorang yang bunuh diri. (WENN/DOE)

Happy Salma Tekuni Akting Monolog

November 4, 2011



Aktris cantik Happy Salma kini tengah menekuni dunia akting  monolog. Ia harus menghafal naskah monolog untuk perannya.

Seperti dikutip dari www.detikhot.com, karena harus menghafal, maka hingga di rumah joke istri dari Tjokorda Bagus ini melakukannya. Termasuk  menghafal sebuah mantra.

“Memang kadang di rumah saya ngapalin naskah. Ada tuh naskahnya yang bacaannya boat mantra. Suamiku sampai yang serem banget. Jauh-jauh deh, katanya,” ungkap Happy  di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2011).

Walaupun merasa takut, namun Happy menganggap justru sang suamilah yang menjadi penonton terbaik.  Naskah yang sedang dihafal  Happy adalah monolog Ronggeng Dukuh Paruk yang terdapat dalam film terbarunya yang berjudul ‘Sang Penari’. Dalam monolog tersebut, ia harus menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa yang alunan lagunya seperti berdaya magis.(Mulia)