Lola Amaria Garap Film Lesbian

April 10, 2012

SELAIN cantik, artis dan produser film Lola Amaria dikenal sebagai sosok kontroversial. Yang terbaru, Lola merilis film bertitel Sanubari Jakarta yang menceritakan kehidupan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender.Film ini disutradarai sepuluh anak muda berbakat. Sebagai produser, Lola mengaku tak takut diprotes. Bukan masalah tabu, tapi ini ada di Indonesia terutama Jakarta. Ini internal content, tapi general issue. Artinya di belahan dunia manapun mereka itu ada. Jadi saya hanya mengangkat realitas di sini, kata Lola. Film ini merupakan kumpulan dari kisah nyata yang terjadi di Jakarta yang berisi sepuluh kisah masing-masing berdurasi sepuluh menit. Lola ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk saling menghargai perbedaan yang ada.Ini juga edukasi. Niatnya bikin film bukannya nge-judge atau membela, tapi lebih kepada kita manusia biasa yang punya hak untuk dihargai dan diterima. Siapa sih yang mau dilahirkan berbeda, ujarnya.Meski sudah maksimal fokus, Lola toh menemui beberapa kesulitan saat proses produksi film indie itu. Kesulitannya saya mengatur sepuluh kepala yang berbeda. Jadi saya harus pelan-pelan kasih tahunya. Jadi biar sama, biar ada satu kesatuan, ujarnya. Sampai sekarang, Lola sangat idealis. Dia bertekad selalu mendasari karya-karyanya dengan kejujuran dan tidak asal jadi. Sebagai pembuat film, saya akan membuatnya dengan jujur tanpa ada gejolak dengan siapa pun. Ada gejolak atau tidak, saya tetap membuat film, kata produser film Betina dan Novel Tanpa Huruf R itu.(BCG/jpnn)

Konten Lokal, Isu Internasional

April 10, 2012

JAKARTA - Setelah sukses dengan film Minggu Pagi di Victoria Park, sineas sekaligus aktris Lola Amaria kembali bersiap merilis film baru. Kali ini dia menjadi produser film omnibus yang dirangkai dari sepuluh film pendek. Film berjudul Sanubari Jakarta itu menggandeng sepuluh sutradara muda, salah satunya adalah artis Dinda Kanya Dewi.Film tersebut memiliki benang merah tentang kisah komunitas teenager lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Meski tema kisah yang diusung cukup kontroversial, Lola tidak khawatir. Kami hanya membuat film kok, dengan realitas yang sesuai aslinya. Sebenarnya, ini ada di Indonesia, terutama Jakarta. Tema ini internal content, tapi general issue. Artinya, di belahan dunia mana joke mereka itu ada. Jadi, saya hanya mengangkat realitas di sini, jelas Lola saat press discussion film Sanubari Jakarta di gedung PPHUI kemarin (9/4).Sineas 34 tahun itu menuturkan, pembuatan film tersebut tidak bertujuan memberikan persepsi tertentu atas kaum minoritas itu. Justru melalui film tersebut, Lola ingin mengajak masyarakat untuk memahami lebih dalam kehidupan mereka. Itu juga edukasi. Saya dan teman-teman niatnya bikin film, bukan nge-judge atau membela, tapi lebih kepada manusianya. Bahwa kita manusia biasa yang punya hak untuk diterima dan dihargai, tegasnya.Ketika ditanya soal jenis film yang cenderung indie, Lola memaparkan bahwa biaya film indie relatif lebih murah daripada film komersial. Selain itu, tidak ada intervensi dari pihak mana joke saat penggarapan film. Juga, saya suka semangatnya karena belajar dan seminar dengan teman-teman yang juga punya hasrat di film, papar dia.Soal pemilihan sutradara, Lola mengatakan hanya mengajak orang-orang yang memang memiliki passion membuat film. Dia joke menyatakan tidak punya kriteria khusus bagi para sutradara yang terlibat dalam film Sanubari Jakarta. Yang penting, mereka punya passion berlebih di film. Dan mereka senang kalau karya pertamanya dilihat banyak orang serta didistribusikan secara nasional. Kami nggak nyangka lho akhirnya bisa disaksikan di bioskop. Dan mereka nggak dibayar, tutur dia.Meski begitu, tak berarti Lola tidak mengalami kesulitan. Dia harus mampu mengatur sepuluh sutradara dengan perbedaan masing-masing. Dia juga sempat kesulitan menggabung-gabungkan film hingga menjadi suatu rangkaian utuh. Kesulitannya adalah saya mengatur sepuluh kepala yang berbeda. Sulit juga waktu penggabungan dari sepuluh film. Itu sampai seminggu, imbuh dia.Tiap-tiap film pendek yang masuk Sanubari Jakarta berdurasi sepuluh menit. Film-film itu adalah 1/2, Malam Ini Aku Cantik, Lumba-Lumba, Terhubung, Kentang, Menunggu Warna, Pembalut, Topeng Srikandi, Untuk "A", dan Kotak Coklat. Rencananya, film Sanubari Jakarta diputar di bioskop tanah atmosphere pada 12 Apr mendatang. (ken/c11/any)

Dilema, Totalitas Lesbian dan Produser

February 26, 2012

BeritaMusik.COM, Jakarta - Wulan Guritno sibuk 'Dilema'. Totalitas joke diberikan. Mulai menjadi lesbian, menggarap cerita sampai menjadi produser. Bagaimana cerita suka dukanya?

Berikut ini, wawancara BeritaMusik.COM dengan istri Adilla Dimitri ini di Sekai, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Awalnya 'Dilema'?

Awal Januari 2011, Robby mengajak saya buat film putus-putus. Ada Adilla, Aldi, karena semuanya menjalani segi kreatifitas, akhirnya saya jadi produser buat cari duit.

Saya mengundurkan diri dari part gambler. Saya ajak Mas Robert Ronny. dia gantikan posisi saya. dia gantikan saya sebagai director. Tetapi kami berlima sama-sama garap semuanya. Kami menjahitnya menjadi satu film, dengan sutradara empat orang.

Lalu?
Kami melibatkan Slamet Raharjo, Ray Sahetapy, Lukman Sardi, Pevita, Roy Marten, Reza Rahardian, Jajang C Noer, Winky, Kenes dan Baim Wong.

Bagaimana menyambung lima film itu menjadi 'Dilema'?
Pelan-pelan, nyambung-nyambung, lama-lama menjadi satu kesatuan cerita. Untuk mengembangkannya, tetap harus berdiskusi demi menyatukan banyak tokoh dan cerita.

Sulitnya, ya, adu argumentasi. Sulitnya lagi saat modifying karena harus membuang 50 menit dari 150 menit, jadi 100 menit. Sebenarnya nggak pengen buang.

Keberaniannya darimana?


Ya karena sudah 13 tahun terjun di dunia akting. Bertemu banyak orang dan terlibat di banyak produksi, membuat saya memiliki passion. Sekarang ilmunya masih belajar banyak, tapi kalau nggak berani sampe kapan?

Sekarang memberanikan diri saja. ini proyek bersama, yang saling bantu dan mengingatkan. Saya berani, juga karena saya suka film, categorical film dan yang belum pernah, bikin film.

Bagaimana rasanya?
Ini film pertama karya rumah produksi saya sendiri. Ini sungguh tanggung jawab panjang.

Habis Dilemaakan ada lagi yang lain. Saya nggak mau pakai bendera lain. kalau yang mau membantu banyak, tapi saya ingin proyek pertama ini sendiri. Saya pikir, mungkin rumah produksi besar saja, belum tentu bisa membuat film ini.

Susahnya dan perjuangannya bikin film ini seperti apa?
Robby Ertanto (sutradara 7 Hati 7 Wanita 7 Cinta, red) bisa meyakinkan saya. Sebelumnya saya mengatakan, 'Saya orang lama, tapi hanya pemain. Tak pengalaman menjadi produser'.

Tetapi Robby bisa meyakinkan saya, dan mengatakan saya bisa. Bertemu Januari 2011, lalu Maret 2011 sudah mulai yakin, dan kami nekat. Saat itu, saya sebagai produser belum kepikiran duit, tapi malah sudah tahu pemainnya. Kami mendatangi pemainnya dan krunya, dengan niat, dan segala kekurangan dan kelebihannya,"

Harapannya?
Film seperti ini komersial di luar negeri. Semoga populer di sini. Toh, ini masih kulit-kulitnya, tak terlalu dalam, bisa berat. Tipe ini baru, jadi harus setengah idealis, setengah komersil. Soal pemainnya yang kawakan semuanya, untuk menarik penonton. Selain karena juga harus diperankan oleh aktor-aktor hebat. Jadi ini bukan sekadar sensasi.

Targetnya apa?
Saya optimis Dilema ditonton, dengan biaya yang tak lebih dari Rp5 miliar. Seharusnya kan biayanya, Rp10 miliar hingga Rp15 miliar. Karena ini pilihan baru. Tetapi kami punya aim dan mudah-mudahan siapa joke yang menonton, dari segala segmentasi kena. Target utamanya 17 tahun ke atas.

Target untung?
Break eventuality point, kenalah. Siapa sih, yang nggak pengen untung. Tetapi, yang penting bisa menyenangkan orang, dan siap bikin film lagi," tuturnya.

Soal adegan lesbian dengan Pevita Pearce?
Adegan ciuman lesbi itu asli. Tanpa trik kamera. kalau pakai trik kamera mengganggu jalinan perasaan saya dengan Pevita. Saya pas adegan ciuman itu tanpa diputus-putus, dan hanya tiga kali adegan. Semuanya mengalir dengan dialog yang utuh dan intens.

Begitu sum dan menikmati?
Kalau Wulan Guritono yang melakukan, pasti saya nggak mau, geli. Tetapi karena itu Rima (peran Wulan), otomatis saya pengen mencium Pevita. Saya nggak ada persiapan, awalnya agak mikir juga. Saya baru sum setelah masuk ke Pulau Umang untuk syuting. Saat itu, saya mulai memperhatikan Pevita. Agar bisa jatuh cinta, saya perhatikan apa yang disuka dari Pevita. Ya, Pevita itu profesional. Aura dan chemistry-nya oke, nggak ada jarak.

Target penghargaan?
Pengen (penghargaan) yang terbaik (filmDilema). Selama ini piala yang saya dapat cuma empat. Tetapi memang usahanya, untuk yang terbaik. Semoga dengan penghargaan memudahkan untuk project berikutnya, seperti mudah mendapatkan sponsor. Ada The Reid, Negeri 5 Menara dan lainnya. Ya, siap bersaing di penghargaan. Sementara di bioskop, kan sudah pasti berbagi penonton.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Film dramaDilemaproduksi WGE Pictures dan 87 Films merupakan satu kesatuan film feature, yang terdiri dari lima cerita dan disutradarai empat sutradara. Yakni, Adilla Dimitri, Robert Ronny, Rinaldy Puspoyo, dan Robby Ertanto.

Dilema dengan bintang aktor dan aktris kawakan serta terkenal. Mulai dari Roy Marten, Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, Slamet Rahardjo, Jajang C Noer, Lukman Sardi, Ario Bayu, Winky Wiryawan, Reza Rahardian, Baim Wong, Verdi Solaiman, Wulan Guritno, Pevita Pearce, Rangga Djoned sampai Kenes Andari.

Film berdurasi 100 menit yang mengangkat cerita mulai dari dunia hitam, underground, premanisme dan sisi lain dari hukum dan dunia polisi di Indonesia ini siap rilis di bioskop nasional, mulai Kamis, 23 Februari 2012. mor

23 Februari 2012, ‘DILEMA’ Siap Dirilis di Bioskop

January 24, 2012

BeritaMusik.com - Setelah ditayangkan dalam Q Film Festival 2011 lalu, film omnibus DILEMA akhirnya siap untuk menyapa para penikmat film tanah air. Film produksi perusahaan film aktris cantik Wulan Guritno, WGE, ini akan premiere pada 20 Februari 2012 mendatang di seluruh bioskop tanah air.

DILEMA sendiri menceritakan kehidupan sosial di Jakarta. Lengkap dengan berbagai karakter di dalamnya. Mengenai kesuksesan, duka, kejahatan, cinta dan ambisi dalam lima cerita berbeda. Lima cerita itu juga disutradarai oleh lima orang yang berbeda.

Rinaldy Puspoyo menjadi sutradara dari The Big Boss, dengan aktor Reza Rahadian sebagai pemeran utama dan ditemani oleh Jajang C Noer serta Roy Marten. Suami Wulan, Adilla Dimitri kebagian The Officer, menggaet Ario Bayu sebagai seorang perwira muda polisi.

Segmen ketiga DILEMA adalah Rendezvous dengan Yudi Datau sebagai sutradaranya. Segmen ini cukup unik, lantaran menceritakan mengenai pasangan lesbi Pevita E Pearce dan Wulan Guritno. Sutradara Robert Ronny menggawangi The Gambler dan berhasil menghadirkan aktor comparison Slamet Rahardjo.

Tidak hanya itu, DILEMA juga menghadirkan salah satu karya sutradara muda berbakat, Robby Ertanto dengan Garis Keras yang menyuguhkan peran Winky Wiryawan dan Baim Wong mengenai persahabatan dan nilai dignified kemanusiaan. Tidak sabar menantikan film yang dibintangi oleh jajaran aktor papan atas Indonesia ini? kita harus menanti sampai 23 Februari 2012 nanti, di mana DILEMA akan mulai hadir di jaringan 21 Cineplex dan Blitz Megaplex.  (BM/aia)