Ketika Pemimpin Bermusik

March 18, 2012

ssJakarta – Musik milik siapa saja. Walhasil musik pada akhirnya menjadi pilihan untuk lebih merekatkan jalinan silaturahmi antara pemimpin dengan rakyatnya. Jika sudah begini, maka tak syak lagi musik joke bisa berubah konotasi menjadi salah satu piranti politis yang mustajab.

Belakangan ini banyak pemimpin dan pejabat yang masuk ke bilik rekaman dan merilis manuscript musik. Bukan hanya di negeri tercinta ini, tapi di belahan dunia lainnya. Gejala apakah ini?

Seluruh dunia terhenyak ketika Presiden AS Barack Obama tampil bernyanyi. Obama melantunkan lagu bernuansa blues “Sweet Home Chicago” bersama Mick Jagger serta sederet pemusik blues legendaris seperti Buddy Guy hingga B.B. King yang ditonton sekitar 5,2 juta pemirsa di YouTube.

Majalah Billboard mencatat, setidaknya ada 5 Presiden AS yang dianggap memiliki talenta musikal yaitu Thomas Jefferson (1801 -1809) yang terampil menggesek biola dan cello. Lalu Dwight Eisenhower (1953-1961) yang pernah merilis manuscript The President’s Favorite Music : Dwight D Eisenhower di tahun 1956.

Presiden Richard M. Nixon (1969-1974) mampu bermain piano dan akordeon. Bahkan Nixon menulis komposisi concerto “Richard Nixon Piano Concerto # 1” dan dimainkannya di depan publik pada tahun 1963. Nixon joke mengiringi penyanyi Pearl Bailey dengan permainan pianonya di Gedung Putih. Serta Presiden Bill Clinton (1993-2001) yang memperlihatkan kemampuan meniup saxophones.

Ketika presiden SBY meluncurkan manuscript bernuansa romansa bertajuk Rinduku Padamu yang juga menyertakan sederet artis musik Indonesia seperti Ebiet G. Ade, Kerispatih, Dhea Mirela dan sebagainya, maka respon seperti yang saya paparkan sebagai pembuka tulisan merebak lagi.

Ada yang menyebut, manuscript tersebut ingin mengangkat popularitas SBY yang terjungkal lantaran didera problematika panjang negeri ini mulai dari konflik politis hingga bencana alam. Tapi hebatnya, hingga kini Presiden SBY telah merilis sebanyak 4 manuscript solo. Luar biasa! Rasanya prestasi ini belum ada yang menandingi di seluruh dunia.

Yang jelas, banyak aim yang ingin digapai dengan merilis sebuah manuscript musik. Kita mungkin masih ingat pada paruh dasawarsa 60-an Presiden Sukarno juga ikut aktif terlibat dalam rilis manuscript bertajuk “Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso” (Irama Records 1965) yang melibatkan artis kesohor saat itu seperti Bing Slamet, Lilis Surjani, Nien Lesmana, Rita Zahara dan Jack Lesmana.

Saat itu bersama pemusik-pemusik yang sering diundang ke Istana, Bung Karno meracik sebuah ragam musik yang berkarakter Indonesia yaitu Irama Lenso untuk menangkal British Invasion yang sering disumpahserapahkan sebagai budaya kapitalis atau musik ngak ngik ngok. Di manuscript ini Bung Karno joke ikut menggubah lagu.

Memang, tak semua kepala Negara mampu bermain musik, menyanyi sekaligus menggubah lagu. Selain Bung Karno, tercatat pula Raja Thailand Bhumibol Adulyadej sebagai sosok raja yang menguasai ilmu musik. Dia menulis sederet komposisi jazz dan musik tradisional Thailand. Bhumibol bahkan pernah berjam event dengan pemusik jazz legendaris seperti Benny Goodman, Jack Teagarden dan Lionel Hampton.

Dalam masa konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno melalui siaran RRI pernah memainkan lagu “Terang Boelan” untuk menyindir lawan politiknya Tengku Abdul Rachman. “Terang Bulan” sendiri adalah lagu kebangsaan Malaysia yang dihibahkan Bung Karno ke Malaysia pada dekade ’50-an. Lagu “Terang Boelan” yang sebetulnya juga merupakan jiplakan atas lagu Prancis itu kemudian menjadi lagu kebangsaan Malaysia dengan judul “Negaraku.”

Ketika SBY merilis manuscript Rindu Padamu, ada pula yang menyebut ini merupakan perhatian seorang presiden terhadap seni musik tanah air. Apalagi belakangan ini, negeri jiran Malaysia banyak mengklaim lagu rakyat Indonesia sebagai khazanah musik Malaysia.
Tapi apapun maksud dan tujuan para pejabat merilis manuscript dan bernyanyi, hal ini sebetulnya bukanlah hal yang baru. Daftarnya joke lumayan berderet.

Ada Jenderal Wiranto yang merilis manuscript Untukmu Indonesiaku pada tahun 2000 yang menyanyikan lagu-lagu cocktail seperti “Tak Ingin Sendiri” karya Pance Pondaag serta beberapa lagu bernuansa patriotik dengan kemasan musik keroncong.

Amien Rais joke pernah merilis sebuah manuscript bertajuk Campursari Reformasi (2004) antara lain menyanyikan empat gubahan dari Ki Narto Sabdo. Album ini beredar memang pada saat tengah berlangsung musim kampanye Pemilihan Presiden RI. Jadi memang sangat sulit untuk melepaskan atmosfer penggarapan manuscript ini diluar sebagai atribut kampanye politik.

Di tahun 1992 Bill Clinton tiba-tiba meniup saxophone dalam acara televisi The Arsenio Hall Show membawakan lagu Elvis Presley “Heartbreak Hotel”.

Musik memang merupakan cerminan dari kelenturan atau fleksibiltas. Seorang jenderal yang kaku dalam tindak tanduk dan penampilan, mungkin ingin menggeser citra itu dengan bernyanyi. Tak peduli jika suaranya sember maupun sumbang.

Dan sangat sulit pula untuk selalu menampik bahwa para pejabat bernyanyi hanya karena keinginan untuk berekspresi di ranah seni musik secara murni. Sudah pasti ada muatan-muatan yang ingin direngkuh, contoh yang pale kongkret adalag ranah politik.

Jika diamati secara seksama, kualitas secara musikal memang agak terabaikan. Atmosfer sensasi lah yang terasa menyelimuti kegiatan musikal para pejabat tersebut. Simaklah tiupan saxophone Bill Clinton yang berkesan biasa biasa saja. Clinton menyadari hal itu. ”Aku bukan John Coltrane atau Stan Getz” timpalnya.

Tapi toh, ada beberapa pengecualian, misalnya keberhasilan mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman yang melesatkan strike “Tak Semua Laki Laki” karya Leo Waldy dalam industri musik Indonesia terutama dangdut.

Juga ada mantan Kapolri Hoegeng yang sukses melambungkan Irama Hawaii di TVRI bersama kelompok Hawaii yang dibentuknya The Hawaiian Seniors yang antara lain didukung oleh Bram Titaley hingga Mas Yos. Tanpa pretensi politik sama sekali. Musikalitas Hoegeng sangat mencuat dalam aroma musik Hawaii-nya.

Lalu ada pula Togar Sianipar mantan Kadispen Polda yang meluncurkan manuscript Suara Hati dengan dukungan pemusik Rinto Harahap dan dosen musik Rizaldi Siagian. Togar sendiri sebetulnya memang pernah aktif bermusik. Pada epoch 1970-an bersama rope kepolisian PTIK, dia sering tampil dalam acara musik di TVRI.

Dalam catatan saya, di luar Indonesia sendiri banyak sekali para pemimpin negara yang ramai-ramai merilis album. Mantan Presiden Zambia Kenneth Kaunda tahun 2005 silam merilis manuscript untuk membantu para pengidap HIV.

Mantan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi merilis albumnya yang berisikan impresinya terhadap lagu-lagu Evis Presley, di antaranya “Are You Lonesome Tonight” dan “Love Me Tender” pada tahun 2001. Di tahun 1999 mantan Presiden Filipina Joseph Estrada pernah merilis manuscript solo dengan diiringi sebuah orkestra lengkap.

Presiden Venezuela Hugo Chavez juga merilis manuscript bertajuk Canciones de Siempre (Song For All Time). Di manuscript ini Chavez menyanyikan lagu-lagu tradisional Venezuela. Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi merilis manuscript bertajuk Meglio Na Canzone.

Berlusconi tak hanya menyanyi tapi menulis sendiri lagu-lagunya. Pada akhirnya musik memang milik siapa saja. Entah itu rakyat kecil, alim ulama, politikus, negarawan dan entah siapa lagi. Tapi jika sang pemimpin hanya bernyanyi dan bermain musik, sementara sebagian rakyatnya masih berkubang dalam kesusahan dan kemelaratan.

Apakah masalah bangsa dan negara bisa pupus terhapus begitu saja hanya dengan bernyanyi?

Sumber

Beriklan di BeritaMusik.com

Izin ‘Goyang Sutra’ Julia Perez Dicabut

December 2, 2011

Izin 'Goyang Sutra' Julia Perez Dicabut

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin begitulah ungkapan yang cocok untuk artis dangdut Julia Perez. Hal itu dikarenakan izin ‘Goyang Sutra’ yang telah diterima Jupe harus dicabut. Entah dengan alasan apa alasan tersebut harus diterima kekasih Gaston itu.

“Rencana tanggal 4 nanti batal. Barusan dikasih tahu. Iya emang tadi dapat terus dicabut,” ujarnya saat dihubungi wartawan, Kamis (1/12/2011) malam.

Padahal, MUI dan FPI sudah mengizinkan akan tampilnya artis bom seks itu bergoyang. Bahkan walikota sendiri juga telah memberikan izin.

“Karena ada kelompok baru demo. Nah, jadi sebenarnya mau izin hiburan itu lewat siapa? Padahal mereka minta Jupe tampil sopan, kita udah oke-oke aja. Nggak coarse dan nggak goyang. Semua sudah pada schedulenya,” katanya lagi.

Seharusnya, Jupe akan mengisi sebuah acara di Bandung, Jawa Barat pada 4 Desember mendatang. Acara yang akan ditayangkan langsung oleh MNC TV itu tetap akan berjalan tanpa Jupe.

Sumber : IDFL

:

  • video berita tentang enclose bosco 1
  • siswa enclose bosco kena hiv

Sm*sh & Cherry Belle Raih Penghargaan Indigo Award

November 25, 2011

BeritaMusik.COM, Jakarta - Boysband dan girlsband yang tengah digilai saat ini, Sm*sh dan Cherry Belle mendapatkan penghargaan bergengsi Indigo Award, Kamis (24/11) malam.

Sm*sh mendapatkan penghargaan sebagai Best New Artist, sedangkan Cherry Belle dinobatkan sebagai Best Digital Video Tallent pada Indigo Digital Music Award yang diprakarasai oleh PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom).

Selain dinobatkan sebagai Best New Artist, SM*SH juga terpilih sebagai Best Duo/Group. Sementara artis serba bisa Agnes Monica dinobatkan sebagai Best Female Artist mendampingi Afgan yang keluar sebagi Best Male Artist. Adapun organisation rope Ungu menjadi pemenang kategori Best Band dan Ridho Rhoma Irama sabet Best Dangdut Artist.

Acara yang disiarkan langsung Kamis malam (24/11) oleh Trans TV mulai pukul 20.00 WIB tersebut dimeriahkan oleh artis-artis terkenal, antara lain: Agnes Monica, Ungu, Armada, 7 Icons, Drew, Billy Beat Box, Soimah, Syahrini, Killing Me Inside, PeeWee Gaskin dan Last Child serta dihadiri oleh para insan musik Indonesia yang mendapatkan nominasi.

Pemenang lain, Kotak sebagai Best Pop Artist, Tompi sebagai Best Jazz Artist/Band, Opick sebagai Best Religy Artist/Band, dan PeeWee Gaskin sebagai Best Social Media Artist. Group rope legendaris Koes Plus memperoleh penghargaan khusus, yakni Best Lifetime Achievement Award.

Selain sebagai Best Female Artist, komunitas digital Indonesia menobatkan Agnes Monica sebagai Artist of The Year dan kelompok rope anak muda Last Child sebagai Best Indie.

Para pemenang IDMA 2011 selain memperoleh tropi juga menerima uang tunai dari Telkom sebagai pemrakarsa kompetisi musik digital tersebut. Indigo Digital Music Awards 2011 yang diprakarsai Telkom Group memberikan penghargaan bagi insan musik Indonesia yang karya-karyanya diapresiasikan secara digital. mor

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.BeritaMusik.com around ponsel dan Blackberry !