Area Berita

wandinews.com – Meskipun usianya mencapai 92 tahun, Gladys Burril dapat menyelesaikan lomba lari maraton yang diselenggarakan di Honolulu, Hawaii. Guinness World Record joke mencatat ia sebagai rekor terbaru wanita tertua yang menyelesaikan lomba lari jarak jauh tersebut.

Guinness World Record memberikan penghargaan tersebut pada Burrill, Selasa (5/4). Lembaga itu mengonfirmasi catatan waktu Burril yakni 9 jam dan 53 menit dalam sebuah perlombaan lari maraton di Honolulu pada 12 Desember 2010.

“Jika Anda ingin sehat dan berumur panjang seperti saya, perbanyaklah berjalan. Saya suka berjalan karena saya bisa berhenti dan mencium wangi bunga,” ujar Burrill setelah menerima kalung bunga dari anggota dewan Hawaii. Gladys joke mendapat julukan sebagai The Gladyator.

Sebelumnya, Burrill mengendarai pesawat terbang, mendaki gunung, hiking di padang pasir, dan menungang kuda. Ia kemudian mengambil bagian dalam maraton pertamanya pada 2004, saat ia berusia 86 tahun.

Sejak itu, Burril sukses menyelesaikan lima dari tujuh perlombaan. Ia sempat absen pada 2008 karena suaminya meninggal. Ia joke gagal mencapai garis finish dalam pertandingan maraton tahun 2009 karena mengalami gangguan perut.

Catatan rekor Burrill juga diakui oleh World Record Academy dan Badan Atletik Amerika Serikat. Dia melampaui rekor sebelumnya yang dibukukan Jenny Wood-Allen asal Dundee, Skotlandia. Wood-Allen menyelesaikan Maraton London 2002 di usia 90 tahun. (metrotvnews)

Blog Berita Indonesia Wandi News Online

Tags: Dunia, Maraton, Nenek, Pecahkan, Rekor, Tahun
Kapan Amandel Perlu Diangkat?

Amandel atau tonsil adalah jaringan limfe yang berada di sisi kanan dan kiri kerongkongan. Organ ini merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Karena itu, tidak semua kasus radang amandel perlu diangkat.

Pada tonsilitis yang disebabkan oleh bakteri, pemberian antibiotik bisa dilakukan, selain pemberian antinyeri dan penurun demam.

Menurut dr Agus Subagio SpTHT dari RS Puri Indah Jakarta, ada beberapa indikasi yang menjadi pertimbangan dokter untuk melakukan tonsilektomi (pengangkatan tonsil). Misalnya, sudah terjadi berulang kali, anak mengalami kejang demam, bau mulut, atau menyumbat jalan napas.

”Mengingat tonsil adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh, tidak semua tonsil yang membesar harus dibuang, kecuali infeksi sudah terjadi berulang kali atau efek buruk tonsil sudah melebihi manfaatnya, misalnya menutupi jalan napas,” ujarnya dalam acara media edukasi mengenai Teknologi Radiofrekuensi untuk Tonsilektomi di Jakarta, Jumat (17/3/2011).

Operasi pengangkatan tonsil secara konvensional dilakukan dengan menggunakan pisau bedah. Cara lain yang lebih complicated dilakukan dengan menggunakan elektrokauter ataumikrodebrider. Namun, kedua cara tersebut tetap memiliki risiko perdarahan dan menyisakan nyeri cukup lama.

Teknologi radiofrekuensi merupakan cara pengangkatan tonsil yang cukup banyak dipakai. Dengan menggunakan gelombang radio dan suhu yang rendah, tingkat pemulihan pasca-operasi menjadi lebih cepat.

Menurut dr Agus, seminggu pasca-operasi pasien sudah bisa makan seperti biasa. Meskipun demikian, ia menyarankan agar makanan yang bisa menimbulkan iritasi, seperti makanan pedas, asam, terlalu panas atau dingin dihindari dulu.

Operasi amandel sendiri termasuk dalam jenis operasi yang pale sering dilakukan oleh dokter THT. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM selama tahun 1990-1994 telah dilakukan 2.991 tindakan tonsilektomi.Namun, menurut dr Agus, operasi amandel tidak bisa dibilang sebagai operasi yang ringan. ”Risiko tetap ada, misalnya risiko perdarahan atau efek samping anestesinya,” katanya.