‘cerita seks’ Petualangan Cinta Yang Seru
December 10, 2011
Congrats! Claim Ur FREE 30 Min Chat Time! Try Now!
Kisahku yang 1 ini kejadiannya telah layak lama, Sejak saya menyerahkan tubuhku di Tohir, sopirku, dia kerap memintaku melakukannya berulang setiap kali tersedia kesempatan, bahkan terkadang saya dipaksanya melayani nafsunya yang mega itu.
Ketika di mobil dengannya tak renggang dia suruh saya mengoralnya, kalaupun tidak, amat tak dia mengelus-elus pukang mulusku maupun meremas dadaku. Pernah bahkan momen kedua anak adam tuaku pergi capital dia bawa saya bobok bersamanya di kamarku. Memang di hadapan anak adam tuaku dia bersikap padaku bagai mana pengemudi terhadap majikannya, bakal melainkan begitu jauh bermula mereka kondisi menjadi mengganti arah akulah yang mesti melayaninya. Mulanya gerangan saya benar kira jengkel dampak sikapnya yang kira kelewatan itu, tapi di beda disitribusi saya bahkan menikmatinya.
Tepatnya 2 pekan sebelum ebtanas, saya berulang belajar seraya selonjoran bersandar di pucuk ranjangku. Ketika itu durasi telah menunjukkan jam 23.47, suasananya sepi sekali betul bakal menghafal. Tiba-tiba konsentrasiku terputus sama bunyi ketukan di pintu. Kupikir itu Mamaku yang kepingin menengokku, tapi momen gerbang kubuka, jreenngg.. Aku tersentak kaget, si Tohir ternyata.
“Ih, ngapain gerangan Bang malam-malam gini, apabila keliatan Papa Mama kan kritis tahu”
“Anu Non, nggak dapat bobok nih.. Mikirin Non lantas sih, dapat nggak Non sekarang.. Sudah 3 yaum nih?” katanya dengan alat penglihat menatapi tubuhku yang terbungkus busana bobok pink.
“Aahh.. Sudah ah Bang, saya kan mesti belajar telah bakal ujian, nggak bakal detik ini ah!” omelku seraya menutup pintu.
Namun sebelum gerbang tertutup dia menahannya dengan kaki, lewat menyelinap bersetuju dan terkini menutup gerbang itu dan menguncinya.
“Tenang aja Non, segala telah bobok bermula mulanya kok, berdiam kita duaan saja” katanya menyeringai.
“Jangan ngelunjak Bang.. Sana cepet keluar!” hardikku dengan telunjuk mengarah ke pintu.
Bukannya menuruti perintahku dia bahkan melangkah mendekatiku, tatapan matanya tajem seolah menelanjangiku.
“Bang Tohir.. Saya sejumlah keluar.. Jangan maksa!” bentakku lagi.
“Ayolah Non, cuma pandak aja kok.. Abang telah kebelet nih, lagian kala Non nggak capek belakangan ini belajar cuma sih” ucapnya seraya lantas mendekat.
Aku lantas berkurang selangkah buat selangkah menghindarinya, jantungku semakin berdebar-debar bagai bakal diperkosa aja rasanya. Akhirnya kakiku terpojok sama pantai ranjangku senggat saya jeblok terduduk di sana. Kesempatan ini tak disia-siakan sopirku, dia direk mencengkam dan menindih tubuhku. Aku menjerit tertahan dan meronta-ronta di himpitannya. Namun sepertinya reaksiku bahkan membuatnya semakin bernafsu, dia tertawa-tawa seraya menggerayangi tubuhku. Aku menggeleng kepalaku kesana kemari detik dia bakal menciumku dan menggunakan tanganku bakal menahan lancar wajahnya.
“Mmhh.. Jangan Bang.. Citra nggak mau!” mohonku.
Aneh memang, sebenarnya saya dapat aja berteriak berharap tolong, tapi mengapa tak kulakukan, barangkali saya start menikmatinya dampak perlakuan bagai ini bukanlah mula mula kalinya bagiku, selain itu saya juga tak kepingin ortuku mengetahui skandal-skandalku. Breett.. Gaun tidurku cabik sececah di disitribusi celebration dampak berulang memberontak durasi dia memaksa membukanya. Dia telah berhasil memegangi kedua lenganku dan direntangkannya ke atas kepalaku. Aku telah benar-benar terkunci, cuma dapat menggelengkan kepalaku, itupun dengan mudah diatasinya, bibirnya yang tegas itu detik ini melekat di bibirku, saya dapat merasakan sungut pandak yang heartless menggesek sekitar bibirku juga bunyi nafasnya di wajahku.
Kecapaian dan tumbang daya membuat rontaanku melemah, bakal tak bakal saya mesti mengikuti nafsunya. Dia merangsangku dengan mengulum bibirku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, lidahnya lantas mendorong-dorong memaksa kepingin bersetuju ke mulutku. Mulutku joke pelan-pelan start terbuka membiarkan lidahnya bersetuju dan bermain di dalamnya, lidahku secara otomatis beradu dampak dia selalu menyentil-nyentil lidahku seakan mengajaknya iring menari. Suara desahan tertahan, bunyi nafas dan kecipak cairan liur terdengar jelas olehku.
Mataku yang terpejam terbuka momen kurasakan lengan kasarnya mengelusi pukang mulusku, dan lantas mengelus mengarah pangkal paha. Jarinya menekan-nekan liang vaginaku dan mengusap-ngusap belahan bibirnya bermula luar. Birahiku ke atas dengan cepatnya, terpancar bermula nafasku yang bertambah tak teratur dan vaginaku yang start becek. Tangannya telah menyusup ke balik lancingan dalamku, jari-jarinya mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitorisku, objek bagai kapri itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jarinya membuatku menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih berulang jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding di liang itu.
“Ooohh.. Non Citra beres tambahan ayu aja apabila berulang konak gini!” ucapnya seraya menatapi wajahku yang merona ahmar dengan matanya yang sayu dampak telah terangsang berat.
Lalu dia betot pergi tangannya bermula lancingan dalamku, jari-jarinya belepotan cairan bersih bermula vaginaku.
“Non cepet banget basahnya ya, amat amati nih berair gini” katanya memperlihatkan jarinya yang berair di hadapan wajahku yang lewat dijilatinya.
Kemudian dengan lengan yang satunya dia sibakkan busana tidurku sehingga payudaraku bugil yang tak memakai bra terbuka reduction terhalang apapun. Matanya melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudaraku yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan bersama kulitnya yang bersih mulus. Teman-teman cowokku bilang, bahwa wujud dan ukuran payudaraku contoh bakal anak adam Asia, ekspres dan berdiri bagai memiliki bintang film bokep Jepang, lain bagai memiliki bulai yang terkadang oversize dan mendarat ke bawah.
“Nnngghh.. Bang” desahku dengan mendongak ke kabin mungil merasakan mulutnya memagut payudaraku yang menggemaskan itu.
Mulutnya menjilat, mengisap, dan menggigit alun alun putingnya. Sesekali saya bergidik keenakan apabila sungut pendeknya menggesek putingku yang sensitif. Tangan lainnya iring bekerja di payudaraku yang sebelah dengan melakukan pijatan maupun memainkan putingnya sehingga kurasakan kedua objek peka itu semakin mengeras. Yang dapat kulakukan cuma mendesah dan meremasi rambutnya yang berulang menyusu.
Puas menyusu dariku, mulutnya perlahan-lahan mendarat mencium dan menjilati perutku yang papar dan lantas berlanjut bertambah ke rendah seraya tangannya menurunkan lancingan dalamku. Sambil memeloroti dia mengelusi pukang mulusku. Cd itu akhirnya terlepas melalui penyangga kananku yang dia angkat, setelah itu dia mengulum sejenak jempol kakiku dan juga menjilati kakiku. Darahku semakin bergolak sama permainannya yang seksi itu. Selanjutnya dia mengangkat kedua kakiku ke bahunya, badanku setengah terangkat dengan pangkal pukang menghadap ke atas.
Aku berserah aja mengikuti kedudukan yang dia inginkan, pokoknya saya kepingin menuntaskan birahiku ini. Tanpa membuang durasi berulang dia melumat kemaluanku dengan rakusnya, lidahnya menyapu seantero penjuru vaginaku bermula bibirnya, klitorisnya, senggat ke pembatas di dalamnya, anusku joke tak terhindar bermula jilatannya. Lidahnya disentil-sentilkan di klitorisku memberikan impresi yang asing awam di locus itu. Aku benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mataku merem-melek dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vaginaku mengirimkan rangsangan ini ke seantero badan yang membuatku serasa menggigil.
“Ah.. Aahh.. Bang.. Nngghh.. Terus!” erangku bertambah panjang di puncak kenikmatan, saya meremasi payudaraku seorang awak sebagai cairan muka rasa nikmat
Tohir lantas menyedot cairan yang pergi bermula sana dengan lahapnya. Tubuhku beres bergetar bagai bakal meledak. Kedua terbagi pahaku semakin ekspres mengapit kepalanya. Setelah kenyang menyantap makanan pembuka berupa cairan cintaku, barulah dia turunkan kakiku. Aku luang beristirahat dengan menunggunya membuka baju, tapi itu tak lama. Setelah dia membuka baju, dia singkap juga dasterku yang telah tersingkap, kami berdua detik ini bugil bulat.
Dia membentangkan kedua pahaku dan mengambil kedudukan berlutut di antaranya. Bibir vaginaku beres iring terbuka memancarkan corak ahmar merekah diantara bulu-bulu hitamnya, tersedia bakal menyambut yang bakal memasukinya. Namun Tohir tak direk mencoblosnya, terlebih dulu dia gesek-gesekkan penisnya yang mega itu di bibirnya bakal memancing birahiku supaya ke atas lagi. Karena telah tak betah kepingin cepat dicoblos, saya meraih gagang itu, plain sekali objek itu durasi kugenggam, panjang dan berurat lagi.
“Aaakkhh..!” erangku lembut seraya mengepalkan lengan erat-erat detik penisnya melesak bersetuju ke dalamku
“Aauuhh..!” saya menjerit bertambah plain dengan badan berkelejotan dampak hentakan kerasnya senggat zakar itu tertancap seluruhnya di vaginaku.
Untung aja kabin Papa Mamaku di dek alas dan letaknya layak jauh bermula kamarku, apabila tak absolut suara-suara ajaib di kamarku absolut terdengar sama mereka, bagaimanapun sopirku ini termasuk nekad percaya awak melakukannya di detik dan ajang bagai ini, tapi bahkan disinilah sensasinya ngeseks di ajang yang ‘berbahaya’. Dengan gerakan perlahan dia menarik penisnya lewat ditekan ke di berulang seakan kepingin menikmati dulu gesekan-gesekan di himpitan koridor sesak yang bergerinjal-gerinjal itu. Aku iring menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginaku mengimbangi sodokannya. Responku membuatnya semakin menggila, penisnya semakin lamban menyodok semakin heartless saja, kedua gunungku beres iring terguncang-guncang dengan kencang.
Kuperhatikan selama menggenjotku otot-otot tubuhnya mengeras, tubuhnya yang gelap perkasa bercucuran keringat, benar macho sekali, lelaki sejati yang memberiku kenikmatan sejati. Suara desahanku bercampur aduk dengan erangan jantannya dan derit ranjang. Butir-butir peluh nampak di sejukur tubuhku bagai embun, walaupun ruangan ini ber-ac tapi saya merasa bahang sekali.
“Uugghh.. Non Citra.. Sayang.. Kamu emang uenak tenan.. Oohh.. Non cewek amat ayu yang telah kakak entotin” Tohir memgumam tak karuan di pusat aktivitasnya.
Dia menurunkan tubuhnya senggat menindihku, kusambut dengan pelukan erat, kedua tungkaiku kulingkarkan di pinggangnya. Dia mendekatkan mulutnya ke celebration jenjangku dan memagutnya. Sementara di rendah sana penisnya bertambah beruntun mengaduk-aduk vaginaku, diselingi gerakan berputar yang membuatku serasa diaduk-aduk. Tubuh kami telah berlumuran peluh yang sama-sama bercampur, akupun semakin ekspres memeluknya. Aku mengerang bertambah tak karuan menyambut kulminasi yang telah mendekat ibarat arus mega yang bakal menghantam pantai pantai.
Namun begitu telah di ambang klimaks, dia menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa melepaskan penisnya, dia bangun mendudukkan dirinya, lewat otomatis saya detik ini diatas pangkuannya. Dengan kedudukan ini penisnya menancap bertambah di di vaginaku, semakin terasa juga otot dan uratnya yang bagai pangkal mendira itu menggesek pembatas kemaluanku. Kembali saya menggoyangkan badanku, detik ini dengan gerakan naik-turun. Dia merem-melek keenakan dengan perlakuanku, mulutnya aktif melumat payudaraku kiri dan daksina secara bergantian membuat kedua objek itu padat tanda gigitan dan cairan liur. Tangannya lantas menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, mengelusi punggung, pantat, dan paha.
Tak lamban kamar mungil hari saya balik mendekati orgasme, lewat kupercepat goyanganku dan mempererat pelukanku. Hingga akhirnya mencapai satu titik dimana tubuhku mengejang, hinder jantung mengencang, dan pandangan kira kabur lewat disusul erangan panjang bersama melelehnya cairan suam bermula vaginaku. Saat itu dia cokot putingku dengan layak plain sehingga gelinjangku bertambah tak karuan sama rasa pedih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyanganku joke bertambah mereda, tubuhku bagai binasa rasa dan ambruk ke kabin mungil tapi ditopang dengan lengannya yang kokoh.
Dia membiarkanku berbaring mengumpulkan daya sebentar, diambilnya ajang menelan di atas bidang datar mungil sebelah ranjangku dan disodorkan ke mulutku. Beberapa rengguk cairan membuatku bertambah enakan dan tenagaku start pulih berangsur-angsur.
“Sudah bugar berulang kan Non? Kita terusin berulang yuk!” jawab Tohir senyum-senyum seraya start menggerayangi tubuhku kembali.
“Habis ini sudahan yah, kecut hati ketahuan nih,” kataku.
Kali ini tubuhku dibalikkan di kedudukan menungging, kamar mungil hari dia start menciumi pantatku. Lidahnya menelusuri ms.v dan anusku memberiku impresi geli. Kemudian saya merasa dia meludahi disitribusi duburku, iya momen kulihat ke kabin mungil dia benar berulang membuang ludahnya beberapa kali ke locus itu, lewat digosok-gosokkan dengan jarinya. Oh.. Jangan-jangan dia bakal aktif sodomi, saya telah lemah dulu membayangkan rasa sakitnya ditusuk objek sebesar itu di locus anda sedangkan dia belum juga menusuk. Pertama kali saya melakukan anal sex dengan temanku yang penisnya tak sebesar Tohir aja telah pedih banget, bahkan yang sebesar ini, aduh dapat hilang nyawa terowongan pikirku.
Benar aja yang kutakutkan, setelah melicinkan locus itu dia bangun dengan lengan daksina membimbing penisnya dan lengan kiri membuka anusku. Aku meronta kepingin menolak tapi cepat dipegangi olehnya.
“Jangan Bang.. Jangan disitu, sakit!” mohonku setengah meronta.
“Tenang Non, nikmati aja dulu, ntar juga lezat kok” katanya dengan santai.
Aku mengerang seraya menggigit guling menahan rasa pedih dampak tusukan objek ketul di duburku yang bertambah sesak bermula vaginaku. Air mataku aja mencapai meleleh keluar.
“Aduuhh.. Sudah dong Bang.. Citra nggak tahan” rintihku yang tak dihiraukannya.
“Uuhh.. Sempit banget nih” dia mengomentariku dengan durja meringis menahan nikmat.
Setelah beberapa detik menarik dan mendorong akhirnya terantuk juga penisnya. Dia diamkan pandak penisnya disana bakal beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai bakal membiasakan awak dan mengambil nafas.
Aku menjerit mungil detik dia start menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah ekspres dan heartless sehingga
tubuhku joke iring terhentak-hentak. Tangannya meraih kedua payudaraku dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringat dan air
mataku bercucuran dampak impresi nikmat di tengah-tengah rasa pedih dan ngilu, saya menangis lain dampak sedih, juga bukan
karena benci, tapi dampak rasa pedih bercampur nikmat. Rasa pedih itu kurasakan terutama di dubur dan payudara, aku
mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, bakal melainkan saya juga tak berkenan dia menyudahinya. Terkadang saya harus
menggigit tepi maupun ganjalan bakal meredam jeritanku supaya tak pergi mencapai ke rendah sana.
Akhirnya tersedia sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuhku yang kuekspresikan dengan erangan panjang, iya saya mengalami orgasme
panjang dengan kiat heartless bagai ini, tubuhku menegang beberapa detik lamanya senggat akhirnya lemah bagai tak bertulang.
Tohir seorang awak menyusulku tak lamban kemudian, dia menggeram dan bertambah mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih
memburu dia mencabut penisnya dariku dan membalikkan tubuhku. Spermanya memancar dengan derasnya dan berceceran di sekujur
dada dan perutku, suam dan liat dengan baunya yang khas.
Tubuh kami tergolek lemah bersebelahan. Aku memejamkan alat penglihat dan mengatur nafas seraya merenungkan dalam-dalam kegilaan
yang terkini aja kami lakukan, sebuah hubungan terlarang sekitar seorang putri bermula famili berhararta dan terpelajar yang ayu dan
terawat dengan sopirnya seorang awak yang heartless dan berbeda kategori sosial. Hari-hari berikutnya saya beres semakin kecanduan seks,
terutama kelamin liar bagai ini, dimana tubuhku dipakai orang-orang heartless bagai Tohir, bermula situlah saya merasakan sensasinya.
Sebenarnya saya telah kepingin berhenti, melainkan saya tak dapat meredam libidoku yang tinggi, beres iya kujalani aja apa adanya. Untuk
mengimbanginya saya rutin merawat diriku seorang awak dengan fitness, olahraga, bersiram susu, sauna, juga mengecek bulletin suburku
secara teratur. Dua bulan ke hadapan Tohir lantas memperlakukanku bagai pesuruh seksnya mencapai akhirnya dia mengundurkan diri
untuk menemani istrinya yang menjadi TKW di Timur Tengah. Lega juga saya dapat terlepas bermula cengkeramannya, tapi terkadang aku
merasa kangen bakal keperkasaannya, dan keadaan inilah yang mendorongku bakal mencoba beragam ragam zakar senggat kini.
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !

