Vakum 3 Tahun, Netral Dikabarkan Bubar
April 30, 2012

Jokowi Disuguhi Sayur Asem Buatan Bunda Iffet
April 16, 2012
JAKARTA, BeritaMusik.com — Dalam kesempatannya berkunjung ke "markas" rope Slank di Jalan Potlot III, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (16/4/2012), bakal calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (50), mengungkapkan bahwa ia dijamu hidangan lezat buatan Iffet Sidharta atau Bunda Iffet, manajer Slank yang juga ibu dari Bimbim, drumer Slank.
"Tadi dimasakin enak bener. Ada sayur asem, sambal, lalapan, ayam goreng, dan es cendol," cerita lelaki bernama sapaan Jokowi ini seusai bertandang ke "markas" grup terkenal tersebut, Senin.
Ia mengaku sudah berjanji sejak lama kepada para personel Slank—Kaka (vokal), Abdee (gitar), Ridho (gitar), Ivanka (bas), dan Bimbim—untuk berkunjung ke tempat mereka jika sedang berada di Jakarta. "Janjiannya sudah lama. Kalau ke Jakarta, categorical ke Potlot," tutur Jokowi.
Ketika ditanya maksud kedatangannya, Jokowi mengungkapkan bahwa ia hanya ingin bersilaturahim dan memenuhi janjinya. Ia menampik bahwa kunjungannya untuk menggalang dukungan menuju pemilihan gubernur DKI Jakarta mendatang. "Ini silaturahim aja. Saya sudah diundang berapa kali dan belum sempat. Tadi makan siang aja. Ndak ada ngobrol dukungan," ungkap Jokowi.
Ketika ditanya pendapatnya tentang Slank, Jokowi mengaku kagum kepada rope itu. Menurutnya, rope yang berdiri pada 1983 tersebut merupakan ikon anak muda dan legenda hidup dengan kemampuan bermusik yang apik. Ketika diminta untuk menyanyikan salah satu lagu Slank, Jokowi mengatakan bahwa dirinya tidak bisa bernyanyi. "Saya suka musik. Saya senang nonton acara musik. Tapi, kalau nyanyi, ndaklah," tandasnya.
Mari Kembali ke Penggemar!
March 18, 2012
Jakarta – Banyak rope bernama besar di Indonesia kini pusing tujuh keliling. Reputasi sebagai artis mainstream yang menjual manuscript jutaan keping, RBT diunduh hingga jutaan kali, memiliki segudang hits, penggemar tersebar dari Sabang sampai Merauke ternyata tak mampu menyelamatkan karir musik mereka secara berkepanjangan di masa depan.
Tak ayal setelah tiga atau empat manuscript dihasilkan nama besar mereka di beberapa tahun lalu hanya tinggal kenangan. Gone with a wind.
Banyak sekali contoh kasusnya jika ingin menyebut nama. Sosok-sosok artis atau rope yang sangat terkenal beberapa tahun lalu karena hampir setiap hari mendominasi layar kaca kita sekarang ini hanya tinggal seonggok nama besar saja.
Musik baru mereka tak lagi ditunggu, event organizer sudah jarang yang memanggil, sementara kehidupan harus terus berjalan dan membutuhkan ongkos tidak sedikit. Benar dapur harus tetap ngebul tapi darimana datangnya asap jika tiada api?
Sudah lama kita ketahui bahwa sistem dan mekanisme pembayaran royalti musik bagi artis/pencipta lagu di Indonesia tidak pernah beres, bahkan hingga epoch digital yang serba transparan dan dukungan authorised dari UU Hak Cipta dan UU ITE telah menjaminnya. Belum lagi masalah pembajakan musik yang masih menjadi lingkaran setan, malah semakin menghebat dan naik kelas berhubung kini pembajakan online (illegal downloading) semakin menjadi tren di Tanah Air.
Lalu bagaimana artis/pencipta lagu bertahan mendapatkan penghasilan dari profesi mereka sementara CD mereka tidak lagi laku bahkan dibajak, sementara tawaran manggung tak kunjung datang?
Banyak artis atau personel rope kemudian terpaksa hijrah dan berbisnis diluar musik agar tetap mendapat penghasilan. Banyak pula tag rekaman yang kemudian gulung tikar. Mereka merasa berbisnis musik semakin sulit di Indonesia. Pendengar musik semakin banyak namun pembeli musik semakin sedikit, itulah kenyataan pahitnya.
Beberapa penyebab kegagalan rope Indonesia dalam mempertahankan karir musik mereka hingga panjang umur di industri musik adalah karena kegagalan mereka dalam membangun basement massa penggemar (fanbase) dan tidak mengonsep rope mereka sebagai code sedari awal.
Rata-rata mereka sudah cukup puas dan terlena dengan kesuksesan hari ini sehingga sulit untuk berpikir bahkan terlalu malas untuk menyiapkan rencana pengembangan karir di masa depan.
Saya sering memerhatikan band-band mainstream di Indonesia kebanyakan memang dibesarkan oleh peran tag rekaman mereka, bukan besar karena dukungan fans. Beberapa bahkan sengaja direkayasa eksistensinya oleh tag rekaman dengan diguyur marketing budget yang sangat besar. Single mereka diputar oleh ratusan stasiun radio di seluruh Indonesia, tampil playback/lip sync di berbagai acara musik pagi di TV hingga manggung di berbagai konser gratisan dalam rangka promosi sebuah produk. Akhirnya mereka memang menjadi artis bernama besar namun sayangnya tidak mengakar.
Saking terlenanya dengan kesuksesan hari ini mereka seperti melupakan esensi utama membangun karir musik dan lebih sibuk wara-wiri di infotainment. Mereka malas mengembangkan fanbase dan lupa mengubah rope mereka menjadi sebuah brand yang menguntungkan. Akhirnya semakin sering kita mendengarkan kisah band-band mainstream yang karirnya membusuk sebelum waktunya tadi.
Sedikit sekali artis/band di Indonesia yang serius untuk mengembangkan fanbase. Padahal mereka yang berniat untuk menggarapnya sejak awal akan menikmati hasilnya kemudian. Pernahkah Anda memerhatikan bahwa di Indonesia jarang sekali kita memiliki penggemar musik (fans) yang constant dan berdedikasi?
Diluar Slankers dan Oi (fans Iwan Fals), sekarang ini kita hanya mengenal fans sebuah rope adalah juga fans dari rope lainnya. Jadi jika ia adalah penggemar Samsons maka bisa jadi ia juga penggemar Nidji, Kerispatih, bahkan ST12. Fans musik di Indonesia cenderung ngefan dengan lagu. Bahkan mereka hanya constant kepada singular yang hits. Jika sebuah lagu enak dan hits maka mereka akan nge-fan, jika ada lagu baru yang hits mereka akan segera pula berpindah.
Tidak ada lagi pengalaman mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan cara membeli album. Pengalaman memandangi sampul manuscript yang indah, membaca lirik yang menggerakkan, menyimak manuscript sendirian dengan CD actor di kamar sembari mengingat nama-nama orang dalam daftar terima kasih artis/band menjadi aktivitas yang langka sekarang.
Tidak perlu lagi menabung untuk membeli CD atau kaset karena semuanya sudah tersedia dengan mudahnya di dunia maya. Parahnya lagi, semakin sedikit yang membeli manuscript CD dan lebih senang mengunduh singular secara ilegal karena dianggap gratis dan halal. Ironisnya, banyak fans yang belakangan ini tanpa sungkan bahkan meminta link download manuscript yang ilegal kepada artisnya sendiri around Twitter atau Facebook.
Jangan salahkan juga jika mereka tidak paham tentang HKI (Hak Karya Intelektual) atau Hak Cipta karena memang sosialisasi tentang hal tersebut sangat minim dari pemerintah atau kalangan industri rekaman sendiri. Alhasil para penggemar musik ini memang tidak pernah diedukasi untuk menghargai hasil karya cipta artis/band dengan cara membeli manuscript atau mengunduh secara authorised musik mereka.
Ini agaknya merupakan imbas dari industri musik kita yang suka serba instan dan lebih mementingkan meraup keuntungan sesegera mungkin dibanding berinvestasi untuk membangun fanbase artis yang loyal. Kondisi ini semakin diperparah dengan eksposur yang salah dari pemberitaan artis-artis di infotainment yang lebih senang mengungkap gosip dan skandal kehidupan pribadi bukan membahas karya dan prestasi dari artis tersebut.
Sementara di saat menikmati konser dari artis idola, ternyata rata-rata fans juga masih jarang sekali yang rela masuk dengan membayar tiket dan setia menunggu jebolan. Lucunya untuk patungan membeli minuman keras biasanya sangat cepat dan ketika sampai di dalam venue seringkali bukannya menikmati konser melainkan terlibat tawuran dengan sesama penonton atau fans juga.
Kebanyakan para penonton konser artis-artis lokal kita hingga kini masih disubsidi oleh sponsor-sponsor komersial seperti rokok, telekomunikasi selular dan sebagainya. Tak heran jika sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang, harga tiket konser artis-artis Indonesia yang dilakukan di areal terbuka seperti tak pernah mengalami kenaikan berarti.
Bayangkan, untuk menyaksikan sebuah festival musik dengan line-up artis-artis terkemuka sebesar Soundrenaline saja mereka cukup merogoh kantong Rp 25 ribu. Bandingkan dengan tiket festival Big Day Out di Australia yang angka bisa mencapai Rp. 1,5 juta per harinya.
Idealnya seorang fan adalah aset berharga bagi artis/bandnya. Tak ada rope yang besar dan kemudian legendaris di dunia hanya karena dukungan tag rekaman, melainkan fans. Karena fans ini sejatinya akan selalu membeli CD, kaset, DVD, piringan hitam, merchandise, tiket konser sebagai bentuk dukungan nyata dan timbal balik mereka kepada artis idola yang telah ikut menghibur dan membahagiakan kehidupan sehari-hari dengan musik dan lagu yang mereka ciptakan.
Manajemen artis seharusnya bisa lebih mengeksplorasi ide agar tercipta fanbase yang constant terhadap artis mereka. Tidak perlu mahal dan repot pula mengelolanya. Hal-hal sederhana dan di jaman sekarang sudah menjadi standar adalah membuka akun di berbagai media sosial dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, ReverbNation, BandCamp, MySpace hingga blog. Namun sebelum semua itu dirambah ada baiknya juga kita mengecek apakah situs resmi artis kita masih ter-update informasi-informasi terbaru artis secara rutin dan periodik?
Dengan tren anjloknya angka penjualan manuscript rekaman fisik berupa CD, kaset maupun DVD seperti terjadi sejak tujuh tahun terakhir ini serta anjloknya angka pengunduh RBT, sudah semestinya rope dan manajemen mulai menerapkan strategi pemasaran baru dengan mengubah rope mereka menjadi sebuah brand yang memiliki nilai jual tak hanya di musik namun juga sebuah gaya hidup yang kemudian menginspirasi fanbase.
Sumber

Dikabarkan Meninggal, Bim Bim Tak Bisa Tidur
March 1, 2012
JAKARTA- Karena isu telah meninggal dunia, Bim Bim mengaku jadi kurang tidur lantaran harus melayani para fans (Slankers) yang minta konfirmasi.
"Iya, jadi kurang tidur. Karena kan kasihan kalau enggak dijawab. Yang biasanya kalau enggak mau jawab bisa kita hold, kalau kemarin harus dijawab," ucap pemain drum Slank itu ketika dijumpai di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2012).
Dengan kabar miring itu, yang Bim Bim takuti adalah fans yang datang dari luar Jakarta hanya ingin memastikan keberadaan dirinya.
"Takutnya orang-orang datang jauh-jauh ke Jakarta gara-gara berita itu," jelasnya.
Meski demikian, Bim Bim bisa mengambil hikmah dengan kejadian ini. Dengan begitu Bim Bim merasa harus lebih banyak memerhatikan orang lain.
"Hikmahnya sih di situ, banyak yang kangen. Ternyata orang-orang sangat memperhatikan gue. Berarti gue memang harus lebih memperhatikan orang lain juga," pungkasnya.(rik)
Diberitakan Meninggal, Bim Bim: Gue Baik-Baik Saja!
March 1, 2012
JAKARTA - Setelah ramai diberitakan telah meninggal dunia, kemarin, Bim Bim ‘Slank’ justru hadir di acara jumpa pers persiapan ulang tahun Slank ke 28 tahun di Cafe Rolling Stones, Ampera, Kemang, Jakarta Selatan, hari ini.
Bim Bim sempat telat hadir, sehingga para awak media bertanya-tanya apakah benar pemberitaan itu. Pembawa acara sempat bertanya kepada rekan Slank lainnya, Kaka soal keberadaan Bim Bim.
"Bim Bim ada, cuma lagi kena macet saja," jelas vokalis Slank itu kepada awak media, Kamis (1/3/2012).
Setelah 15 menit berlangsung, Bim Bim hadir dengan mengenakan kaos putih serta menggunakan celana jins panjang berwarna biru. Melihat kehadiran Bim Bim, pembawa acara langsung menyergapnya dengan pertanyaan soal isu kemarin.
"Sialan tuh yang bikin kabar," ucap Bim Bim kesal.
"Kasihan yang jantungan kalau baca berita gue meninggal dunia," tambahnya.
Saat ditanya kondisi kesehatannya, dengan santai penabuh drum itu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Gue baik-baik saja," tandasnya.(rik)
Bimbim Ketawa Dengar Hoax Meninggal
February 29, 2012
BeritaMusik.com - Kabar meninggalnya drummer grup rope Slank, Bimbim, dengan cepat sampai ke telinga Slankers. Tak ayal dalam hitungan menit, puluhan Slankers sudah ramai berkumpul di markas Slank yang juga tempat tinggal Bimbim, di Jl. Potlot, Duren Tiga Jakarta.
Menurut Bunda Iffet, yang juga ibunda Bimbim, dirinya sempat kaget saat pertama kali mendengar kabar tersebut. Apalagi kala melihat puluhan Slankers yang sudah berkumpul di kediamannya.
"Iya bunda juga kaget enggak tahu kabarnya dari mana, dibilang sakit jantung lah, Slankers pada ngumpul. Orang Bimbim sehat-sehat aja kok," jelas Bunda Iffet kala dihubungi BeritaMusik.com®, Rabu (29/02).
Lebih lanjut, Bunda Iffet menuturkan bahwa Bimbim sempat tertawa ketika mendengar bahwa dirinya diisukan meninggal dunia karena serangan jantung.
"Ya dia juga ketawa-ketawa, orang sehat-sehat aja kok. Ada dari ketua DKI, Dibo. Dia juga ketawa pas tahu gak bener," tutur Bunda.
Kabar meninggalnya Bimbim yang membuat heboh ini berawal dari BBM yang berisi: 'Berita duka, Bimo Setiawan Almachzumi (lahir di Jakarta, 25 Desember 1966) yang akrab disapa Bimbim Slank meninggal dunia hari ini pukul 18.42 WIB di usia ke-41 tahun lantaran serangan jantung. Saat ini di kediamannya, Jl.Potlot 14, Jakarta Selatan telan dipenuhi ribuan penggemarnya (Slankers). Selamat jalan Bimbim Slank, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Diah - GoodNews Management'. (BM/buj/sjw)
Diberitakan Meninggal, Bim Bim ‘Slank’ Ketawa
February 29, 2012
JAKARTA- Pentolan rope Slank, Bim Bim hanya tertawa mendengar kabar kematian dirinya karena serangan jantung. Saat isu itu berhembus, Bim Bim sedang rapat.
"Meninggal dari mana, orang kita baru banget selesai rapat sama ANTV nih. Makanya Bim Bim juga ketawa saja mendengarnya," kata manajer Slank dan ibu kandung Bim Bim, Bunda Iffet saat berbincang dengan BeritaMusik, Rabu (29/2/2012).
Sama dengan Bim Bim, Bunda Iffet menanggapi santai isu itu. Sambil tertawa, Bim Bim berdoa isu itu merupakan doa baginya agar bisa panjang umur.
"Ada-ada saja itu yang pertama kali bikin isu. Kata Bim Bim, mudah-mudahan itu menjadi doa panjang umur buat dia," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, kabar meninggalnya Bim Bim beredar dengan luas dan cepat di situs jejaring sosial. Tak ketinggalan, pesan berantai di Blackberry Messenger (BBM) menyebutkan drumer rope Slank itu meninggal dunia karena serangan jantung.
"Berita duka Bimo Setiawan Almachzumi (lahir di Jakarta, 25 Desember 1966) yang akrab disapa Bimbim Slank. Meninggal dunia hari ini pukul 18.52 WIB di usianya yang ke 41 tahun karena terkena serangan jantung. Saat ini kediamannya di Jl.Potlot 14 Jakarta Selatan telah dipenuhi ribuan penggemarnya (Slankers). Untuk anda yang akan melintasi wilayah kalibata dan sekitarnya sebaiknya balik arah.karena wilayah tersebut telah dipadati ribuan slankers," bunyi pesan itu.(rik)
Kaka ‘Slank’ Siap Beri Kejutan
November 16, 2011
BeritaMusik.COM, Jakarta - Kaka 'Slank' siap memberi kejutan kepada penonton Urban Jazz Crossover di Jakarta pada 18 Nov 2011. Seperti apakah?
"Yang pasti saya disuruh pakai baju," ujar Kaka tertawa dalam jumpa pers Magnum Filter Urban Jazz Crossover di Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (16/11).
Kaka lantas mengaku cukup antusias tampil di ajang musik jazz itu, meski dirinya rocker. "Saya sudah latihan kemarin sama rope dan itu suasana baru," paparnya.
Kaka akan membawakan dua lagu yang dirahasiakan. "Aku nyanyi dua lagu, tapi rahasia. Kemarin latihannya cukup baik tinggal manggung saja," paparnya. aji
Kejutan Menarik Urban Jazz Crossover
November 16, 2011
BeritaMusik.COM, Jakarta - Urban Jazz Crossover kembali digelar di Jakarta, 18 Nov 2011. Penggemar musik jazz diberi kejutan menarik.
"Pasti akan sangat menarik, apalagi arransemen lagu yang akrab di telinga penikmat musik dewasa diubah lebih jazzy," ujar Vicky saat jumpa pers Magnum Filter Urban Jazz Crossover di Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (16/11).
Vicky mengatakan, sebanyak 22 lagu populer dipersiapkan menghibur penikmat musik dewasa di Jakarta, kota terakhir pertunjukan. Sebelumnya Urban Jazz Crossover sukses menghibur penikmat musik di Medan, Surabaya dan Bandung.
Ia menambahkan dengan mengatakan, "Butuh ketelitian menggarap even ini. Tetapi anehnya meski saya sudah merasa pas, ternyata musiknya berubah terus karena ide saya nggak bisa berhenti," papar Vicky.
Urban Jazz Crossover melibatkan beberapa musisi seperti, Syaharani, Ari Lasso, Once, Krisyanto dan Raisha. Khusus di Jakarta akan disuguhkan penampilan spesial dari Kaka 'Slank'.
"Ini pertama kali saya kerja bareng Kaka 'Slank'. Tapi nggak susah dan dari latihan kemarin keren banget. Pasti akan menjadi kejutan buat penonton nanti," papar Vicky. aji


