A infrequent wander by a goofy haven

Jam enam pagi, Jakarta masih sunyi. Jam 8 pagi,Jakarta penuh sekali.Ucu sedang siap-siap, mo berangkat shooting. Sementara di luar,suara engine dari tetangga dengan knalpot dibongkar hampir membuat budeg.Apa dia tidak merasa harga BBM naik lagi?Tetangga yang aneh.Untung kami tinggal di lantai dua.Suara menyebalkan itu bisa agak tidak terdengar jikalau kami menutup jendela.

Setiap pagi,di sebelah kiri rumah, orang-orang (baca:pengangguran?) berkumpul di warung untuk minum kopi. Aku keluar jam setengah sembilan pagi dan di dekat pagar,ada 2 orang laki-laki duduk-duduk mainin handphone.Aku naik metromini 46 merah buruk rupa untuk turun di Matraman.Harus ke CCF sebentar. Dari CCF di Salemba,aku naik bis 67 jurusan Blok M untuk turun di Menteng.Bis penuh sekali dengan orang-orang yang mau bekerja. Tapi pemandangan bis penuh di pagi hari itu masih lebih menyenangkan daripada bis penuh jam 4-6 bruise dari Menteng,Diponegoro,hingga ke Salemba.Selain jalanan macet,di Salemba,depan RSCM,anak-anak UKI;UBK,dan anak-anak SMA rajin tawuran,sama boat rajin ujian.Aku benar-benar nggak habis pikir mengapa orang-orang itu tawuran.Apa nggak ada kerjaan lain yang lebih berguna?

Di dalam bis yang panas,seorang laki-laki masuk dan berdiri di depan penumpang.Another pengamen.Semua orang di sini agaknya sudah biasa dengan hal ini.Bahkan dalam rentang jarak 1 km dari Diponegoro sampai Salemba,kadang ada 3-4 pengamen.Gila.

Laki-laki itu berbadan besar.Usianya mungkin 30-an. Dia memakai kaos showering ape edisi nakata (palsu mungkin) dan membawa kertas folio bergaris-garis dengan tulisan tangan. Dia berkata seperti ini.

"Selamat pagi,para penumpang.Izinkanlah saya membacakan puisi untuk anda.Puisi yang akan saya baca ini realis karena saya ingin anda,para penumpang memahami isinya. Saya bukanlah penulis puisi surealis yang abstrak....."
(lalu dia membacakan puisi tentang becak,penderitaan,kenaikan harga BBM,pemerintah,dll).
Setelah itu, dia membaca puisi yang lain yang dia bilang,dia tulis bersama Widji Thukul.Pada akhir puisinya,dia berorasi seperti ini,

"Semua orang takut pada komunis karena komunis anti-tentara. Padahal komunis ada  di semua agama.Komunis,menyitir seorang penulis INggris (dia benar-benar menyebutkan salah satu nama asing) berasal dari kata komune,yang artinya kebersamaan. Jadi komunis itu bersama.Komunis adalah hal yang baik.Banyak pemerintahan komunis di dunia yang berhasil.Bahkan Soekarno sendiri adalah komunis."

Aku begitu heran karena semua orang tampak cuek dan tak peduli.Hebat sekali Indonesia ini sekarang.Perbincangan Komunis telah bisa masuk dengan liberalnya di bis kota.(sama seperti para pengurus masjid yang meminta sumbangan pembangunan)
Setelah orasi,ia tidak segera berhenti.Mengutip kata teman saya,Aldo,ia tiba-tiba jadi pelacur.Maksudnya,pelan-pelan curhat.Dia berkata bahwa ibunya berasal dari Aceh.Ia bangga karena ibunya anti-tentara dan tidak menjadi bagian dari birokrasi negara ini yang buruk lagi tercela.Di akhir kisah dan orasinya,dia bilang,"Terimakasih para penumpang.Wassalamualaikum.Thank we really much."

Di Megaria, dia turun. Tetapi satu menit kemudian,muncullah sosok lain.Another pengamen for sure.Ia laki-laki juga,dengan baju agak rapi dan wajah memelas.Dia berdiri di depan penumpang dan menggerak-gerakkan mulutnya.Aku tidak tahu dia bicara apa tapi dia hampir menangis.Ia lalu membagikan amplop-amplop kumal putih.Di amplop itu tertulis bahwa ia tunarungu dan tunawicara.Ia memohon simpati dan belas kasih para penumpang untuk memberikan receh demi hidupnya.Bis telah memasuki Taman Suropati dan laki-laki muda itu berteriak-teriak dengan suara yang aneh dari dekat pintu(teriakan seorang tunawicara).Aku betul-betul sedih dan terharu,tapi aku harus segera turun.

Sebentar kemudian, aku turun di Imam Bonjol,entah dengan perasaan heran atau lega atau bahkan muak karena menempuh perjalanan 3 km dalam waktu lebih dari 30menit.

Decadence and Nonsense - Was M Entertained?

Inilah dia novel kedua Windry Ramadhina setelah romansa sederhana dalam novel debutnya dulu yang berjudul Orange.

Metropolis sesungguhnya adalah karya yang lebih kuat, dan tentunya mengejutkan pembaca yang sudah pernah membaca Orange. Penyebabnya antara lain karena perubahan genre yang dapat dikategorikan drastis; dari romansa nyaris remaja ke genre kriminal yang lebih dewasa.

Saya merasa senang karena sekali lagi Windry menggunakan petilan dari tract cerita Metropolis sebagai kunci pemikat di sampul belakang novel ini, tidak sekedar umbar endorsement dari rekan penulis seperti strategi penulis pada umumnya. Sayangnya, dibandingkan dengan kunci pemikat Orange, petilan tract Metropolis yang ini kurang menarik sebenarnya sebagai kunci pemikat calon pembeli (dan pembaca) novel ini. Saya pernah membaca bab pertama Metropolis yang sengaja Windry lepas ke publik melalui web blog pribadinya, dan terus terang bab pertama itulah yang meyakinkan saya untuk rela membeli novel kedua Windry ini, yang harganya juga lumayan lebih mahal dari Orange.

Ya! Bab pertama! Karena saya orang yang sesungguhnya pelit untuk mengeluarkan uang membeli buku, langkah-langkah yang saya lakukan sebelum memutuskan untuk membeli adalah:

1. Membaca kunci pemikat di bagian belakang sampul buku tersebut. Jika penulisnya asing bagi saya alias saya tak pernah tahu kualitas tulisannya, strategi endorsement, sekalipun dari tokoh Sastra yang mumpuni, tidak akan membeli simpati saya. Biasanya novel yang hanya mengandalkan endorsement untuk memikat perhatian akan langsung saya lewatkan. Jika berbentuk sinopsis, dan menarik, maka saya akan mengambil langkah kedua, yaitu

2. Membaca bab pertama. Sebetulnya dari dua-tiga paragraf awal biasanya sudah ketahuan apakah novel tersebut akan menarik atau tidak untuk dibaca. Kalau sampai lebih 2 halaman saya baca cepat dan saya tidak merasa ingin tahu kelanjutannya, maka saya akan menaruh kembali buku itu di rak dan pindah ke buku lainnya.

3. Jika halaman pertama buku itu menarik, tetapi agak lamban atau rasanya kurang sreg, saya akan secara acak membuka halaman tengah buku tersebut dan membaca satu halaman. Sesudahnya, jika ternyata timbul rasa ingin tahu saya akan tract yang terlewat , dan juga tract berikutnya, maka buku itu menjadi layak untuk dipertimbangkan dibeli.

Tetapi apa yang terjadi dengan Metropolis? Bab pertamanya berjudul Kematian Leo Saada, dan paragraf pertamanya sangat menarik dan kuat menurut saya:

Hari ini Leo Saada dikembalikan ke bumi. Jasadnya yang digosongkan api disembunyikan di dalam peti kayu, lalu diarak dari sebuah gereja kecil di daerah pinggiran Jakarta ke pemakaman pribadi milik keluarga Saada. Pemakaman Leo dipimpin seorang priest tua yang pantas dikuburkan lebih dahulu, Seluruh keluarganya yang tamak menyaksikan, begitu pula teman-teman terdekatnya yang gemar berutang, relasi-relasi bisnis, dan anggota geng yang Leo pimpin sebelum mati.

Dahsyat betul! Hanya dari satu paragraf itu sudah tersedia begitu banyak bibit intrik dan konflik, narasinya demikian serius, nuansa yang timbul berkesan begitu kelam, pembaca jadi ingin tahu lebih banyak kisah di balik nama Leo Saada dan kematiannya.

Jujur saja, sedikit sekali isi rak buku populer-kontemporer, yang ditulis oleh orang Indonesia, dalam jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yang memiliki paragraf pembuka sekuat ini.

Baiklah, mari kita lanjutkan, apakah jalinan plotnya semenarik yang dikesankan oleh paragraf pertama yang digdaya ini? Apakah isi buku ini akan serapi paragraf pertamanya?

Segera pembaca dikenalkan pada tokoh utama Metropolis, seorang perwira kepolisian RI dari Reserse Narkotika, bernama Agusta Bram. Lebih akrab dipanggil Bram. Sepanjang cerita, pembaca akan mengikuti upaya Bram memecahkan kasus kematian Leo Saada yang ternyata berkaitan dengan sepak terjang sebuah jaringan kejahatan terorganisir yang menguasai Jakarta.

Leo adalah bagian dari 12 bos besar mafia kejahatan yang menguasai wilayah-wilayah Jakarta yang luas. Nampaknya satu per satu bos-bos mafia ini mati dibunuh. Pertanyaannya adalah, siapa orang di balik rentetan pembunuhan ini, dan apa motifnya? Apakah sekedar perebutan kekuasaan biasa, ataukah ada hal lain yang menyebabkan balance dunia hitam Jakarta tersebut terganggu?

Dalam upayanya menelusuri jejak-jejak petunjuk Bram joke membawa pembaca mengenal satu tokoh kunci bernama Miaa, perempuan muda yang tadinya dengan misterius selalu terlihat di setiap lokasi kejahatan.

Lalu dari Miaa, pembaca joke menelusur jejak misteri pada seorang lagi tokoh utama kedua, pemuda yang dari deskripsinya segera mengingatkan pada karakter dalam cerita manga bergenre kriminal dan misteri berjudul Death Note.

Johan Al nama tokoh itu, begitu rapuh dan misterius, selalu tersembunyi di belakang layar, dan dengan segera dapat ditebak apa perannya dalam serangkaian kejadian kriminal yang sedang ditangani Bram. Tidakkah ia mirip L, protagonis dalam Death Note? Ia protagonis tetapi juga tidak putih. Dalam Metropolis Johan adalah kebalikan L, dia antagonis tetapi juga tidak hitam. Ah, nama belakangnya saja Al, hampir seperti… yah… El. :D

Windry menggunakan semacam teka-teki berbentuk kode urutan pembunuhan untuk merajut tract di antara Bram dan Johan (dengan Miaa di tengah-tengah), tapi teka-teki ini terasa lemah daya gunanya karena kemudian pudar fungsinya begitu tokoh Johan diperkenalkan kepada pembaca.

Tapi terlepas dari itu, sampai dengan pertengahan novel, tract misteri terjalin cukup lancar, menggelitik rasa penasaran dan menimbulkan ketegangan malah, ketika si pembunuh bayaran yang seperti ninja sakti menghabisi satu-persatu incarannya sesuai urutan.

Di tengah buku, rajutan tract berpindah pusat pada sebuah klab malam bernama Metropolis, yang saya rasa diambil cetak birunya dari sebuah klab hiburan malam yang sungguh-sungguh ada di daerah Jakarta Pusat, dekat Sudirman-Thamrin. Di Metropolis inilah semua kunci jawaban berbagai misteri yang dirajutkan Windry dalam tract novel ini akan bertemu dan bermuara

Karena sang antagonis yang jauh lebih simpatik daripada tokoh protagonisnya sudah diperkenalkan dari pertengahan buku, fokus tract joke bergeser tidak lagi pada kasus pembunuhan bos-bos mafia. Cerita menjadi berfokus pada pertarungan secara tidak langsung antara dua tokoh utama Metropolis; Bram berusaha menangkap basah dan menghentikan Johan, sementara Johan memburu waktu untuk menyelesaikan “misi”nya.

Beberapa tokoh kunci lainnya dimunculkan, uniknya hampir semuanya perempuan, memberikan lebih banyak penjelasan tentang asal-usul Johan Al dan alasan di balik rancangan yang sedemikian rumit di balik pembunuhan bos-bos besar Sindikat 12.

Dalam Metropolis diberikan juga berbagai puntiran dalam plot, misalnya cerita tokoh Miaa, yang walaupun sudah bisa tertebak semenjak bab 6, tetapi tetap dapat diceritakan dengan baik oleh Windry hingga 5 bab berikutnya saat akhirnya puntiran tersebut dijabarkan dengan jelas.

Kesinambungan tract tetap terjaga, meskipun alurnya yang maju mundur dan berpindah sudut pandang dari satu tokoh ke tokoh lain. Demikian pula dengan ritme dan jeda adegan-adegan dalam tract cerita. Windry sepertinya memiliki kepekaan yang cukup baik dalam merangkai adegan. Deskripsinya dengan lancar membuat pembaca Metropolis bagaikan sedang menonton sebuah film.

Hanya saja sepertinya ada beberapa detil kecil yang terlewat, misalnya di halaman 123, saat Windry memberikan lebih banyak deskripsi tentang penampilan fisik Johan Al dari pandangan mata Miaa:

Kulitnya bersih dan betul-betul pucat seolah-olah dia jarang terkena matahari. Tubuhnya ramping. Rambutnya agak panjang serta kecoklatan karena dicat.

Entah Miaa tahu dari mana bahwa rambut coklat Johan adalah karena dicat jika ia tidak pernah melihat pembanding kondisi Johan sebelumnya. Jikalau ini hanyalah asumsi Miaa, karena deskripsi ini dari sudut pandang dia, tetap rasanya janggal saat dibaca.

Dalam rajutan tract Metropolis, Windry juga memberikan tokoh antagonis bayangan yang baru dijabarkan menjelang akhir cerita, yang sebetulnya bisa dibilang adalah penggerak utama keseluruhan tract Metropolis. Sayangnya tract misteri yang berujung pada antagonis bayangan ini agak kedodoran, seperti pada petunjuk pamungkas yang diberikan Windry baik kepada Bram dan pembaca yang menunjuk kepada identitas asli si antagonis bayangan ini.

Secara keseluruhan Metropolis sangat menarik sebagai sebuah buku bergenre misteri-kriminal. Plot kriminalnya benar-benar disusun serapi mungkin, tak diragukan lagi pasti didasarkan pada riset yang serius. Chemistry dan dialog di antara karakternya terasa nyata, ya, ya, semua karakter dalam Metropolis terasa 3 dimensi, masing-masing memiliki suara yang unik, dan jelas diperhitungkan dengan baik porsi peran dan waktu pemunculannya. Bisa dibilang tidak satupun karakter dalam buku ini yang sia-sia.

Dinamika konflik sepanjang buku terjaga konsistensinya, sangat nyaman untuk dibaca terus-menerus dari awal hingga akhir. Pilihan katanya juga tidak terlalu rumit (walau ada beberapa yang sempat saya garis bawahi, misalnya penggunaan istilah pesakitan dalam deskripsi kondisi fisik Johan Al) sehingga imajinasi pembaca mengalir lancar seiring narasi cerita. Ada banyak kekerasan dan darah yang tumpah dalam cerita ini, tetapi tidak digambarkan dengan coarse (sekali lagi, ini pasti karena kepekaan visible Windry saat menyusun adegan). Begitupun adegan-adegan romantis yang sedikit disisipkan sebagai penurun tegangan dalam buku, tidak terasa berlebihan, tapi tetap kental rasa manisnya.

Saya pribadi sangat menyukai bahwa benang merah sekaligus premis utama di sepanjang buku ini, tetap terjaga; tentang dendam atas kematian ayah. Saya juga sangat menikmati adegan-adegan telepon dengan pembicara misterius di ujung sana, hampir selalu suara lelaki.

Di klimaks cerita, Windry memberikan yang diinginkan pembaca, jumpa muka antara kedua tokoh utama dalam sebuah konflik fisik yang menegangkan, dan berujung pada satu pilihan: yang mana yang harus mati?

Untuk akhir plot, Windry kembali melakukan pekerjaan yang sangat rapi. Lihatlah kisah ini, berawal di kuburan, ditutup juga di kuburan. Kuburan siapa?

Tidak ada ruginya membeli dan membaca buku ini untuk mengetahuinya, karena Metropolis cukup layak dijadikan koleksi. Tiga ratus tiga puluh halaman cerita yang layak mendapatkan pujian.

Shop - ... - *ReViEwS* - Multiply Marketplace Indonesia
hai hai..setelah sekian lama akhirna bikin examination lagi nih.. Kali ini mau mengupas play You're beautiful, play yang baru saja selesai saia tonton..^__^
okeoke.tk
peluang bisnis bagus prospektif modal kecil cocok untuk bisnis sampingan bisnis rumahan
Profil Lengkap Super Junior - mp3 maut

Artis0-9ABCDEFGHIJ K LMNOPQRS TU V WXYZ