Soal Lady Gaga, Polda Melunak
May 21, 2012

Promotor Konser Lady Gaga Ngadu ke DPR
May 21, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta - Tidak ingin gagal gelar konser Lady Gaga, Big Daddy Entertainment, promotor penyelenggara konser mengadu ke DPR.
Edi Purnomo yang mewakili Big Daddy Entertainment ditemani pengacara Minola Sebayang menyampaikan kepada wakil DPR, Priyo Budi Santoso untuk meminta perlindungan hukum atas izin penyelenggaraan konser Lady Gaga.
"Kedatangan kami ke sini untuk ketemu Priyo Budi Santoso. Sampaikan secara langsung tembusan surat yang dikirim ke Kapolri perihal perlindungan hukum untuk konser Gaga," ujar Minola di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/5).
Minola menegaskan, pihaknya ingin menyampaikan langsung kepada Priyo supaya tidak simpang siur. Big Daddy juga siap melakukan dialog terbuka kepada pihak yang mengecam kehadirannya di Tanah Air.
"Kami ingin berikan informasi langsung supaya tidak mendengar dari pihak lain. Klien kami siap berdialog, mediasi, apapun juga seperti konser yang dikhawatirkan. Pasti ada solusinya," tuturnya.
"Kan maunya konser yang beretika, bermartabat, dan tidak melanggar norma. Pro dan kontra kan terjadi. Kami harus menyatakan sikap, perlindungan hukum dan memberikan ketenangan terhadap mereka yang sudah beli tiket. Apalagi manajemen belum keluarkan statmen atas penolakan yang ada," terangnya. aji
Amanda Gonzales Jajal Karir Musik
May 7, 2012

Avenged Sevenfold Batal Konser Tadi Malam
May 2, 2012
Masalah keamanan adalah alasan Avenged Sevenfold membatalkan konsernya di pantai fair Ancol, namun Hingga saat ini pihak promotor belum memberikan alasan yang jelas tentang pembatalan konser tersebut.
Indonews - Ribuan penggemar rope Avenged Sevenfold yang datang dari berbagai daerah di Indonesia melakukan protes di depan tempat konser karena tidak ada kejelasan dari pihak promotor tentang pembatalan konser tersebut. “Karena situasi yang tidak kondusif di Jakarta pada hari konser, kami ingin informasikan bahwa kami dengan berat hati membatalkan konser demi keamanan para anggota grup rope dan untuk menghindarkan kejadian-kejadian yang tidak terduga,” kata Promotor konser Erie Posse ketika dihubungi di Jakarta, Selasa seperti dikutip Antara news.
Kabarnya A7X kecewa karena promotor tidak menyepakati perjanjian yang telah mereka buat dalam kontrak. Band asal California itu joke memilih untuk batal manggung meski sudah berada di Tanah Air sejak kemarin malam. Sementara itu hingga kini promotor ER dan juga Showmaxx yang menangani konser belum bisa dihubungi. Mereka belum mengkonfirmasi tentang apa yang terjadi dengan konser M Shadow cs tersebut.
Dikutip dari detik.com sisi waktu memang apa yang diminta A7X tidak bisa dikabulkan. Pihak manajemen pelantun ‘Side Winder’ itu joke terpaksa membatalkan konser secara sepihak. “Dari waktu memang tak cukup, maka pihak manajemen artis membatalkan sepihak, dan Showmaxx akan lakukan pengembalian uang atas tiket yang telah dibeli oleh konsumen,” tuturnya.
Sebelumnya, pihak promotor mengatakan jika pembatalan konser A7X karena masalah keamanan. Namun menurut Wakapolsek Pademangan AKP Deddy Kurniawan, hal tersebut terlalu berlebihan. “Mereka (promotor) sih nggak ngasih tahu alasan jelasnya ke saya, tapi kalau alasan keamanan sepertinya tidak ya,” tuturnya. Sementara itu, beberapa penggemar di lokasi bilang jika batalnya konser karena kekecewaan A7X terhadap persiapan dari promotor Showmaxx Entertainment. Hingga kini promotor belum memberikan penjelasan lebih rinci tentang pembatalan konser tersebut.
“Para personel A7X sudah langsung menuju bandara dan pergi,” ujar sumber di bandara Soekarno-Hatta, Selasa (1/5/2012). Menurut sumber, negara yang mereka tuju selanjutnya adalah Dubai. ʑX menang dijadwalkan untuk menggelar tur di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 4 Mei mendatang.
detik.com – antaranews.com

Kamu Gak Rock n Roll, Kebebasan Rock Miszy
April 18, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta - Mengusung musik beraliran rock, Miszy optimis singular Kamu Gak Rock n Roll yang penuh kebebasan stone sukses di belantika musik Tanah Air.
"Lagu Kamu Gak Rock n Roll, ceritanya tentang kebebasan, cerita tentang seseorang yang diatur-atur sama pacar yang mengekang dan posesif, yang selalu melarang ini dan itu. Intinya tentang kebebasan," ujar Kara vokalis Miszy di Hongkong Cafe, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Miszy, yang personelnya terdiri dari Kara (vokal), Ana (drum), Aca (bass) dan Randy (gitar) ini lantas memilih singular Kamu Gak Rock n Roll sebagai andalan. Alasannya, karena karakter Rock Miszy sesuai dengan lagu stone karya Dewiq dan Pay tersebut.
"Jujur, rocknya Kamu Gak Rock n Roll Miszy banget," tutur Ana.
Sukses, merilis Kamu Gak Rock n Roll membuat rope yang dalam bahasa Yunani artinya muda, bersemangat, enerjik dan tak mudah menyerah ini yakin, konsep mini albumnya yang akan rilis akhir Apr 2012 mendatang sukses.
"Responnya, alhamdulillah basgus untuk radio-radio di seluruh Indonesia. Rencananya, akhir Apr ini baru akan rilis mini albumnya. Kami optimis," tutur Kara.
Single perdana Kamu Gak Rock n Roll memang merupakan lagu perkenalan. Sedangkan 4 lagu dalam mini manuscript Miszy, merupakan entrance eksistensi Mizsy di belantika musik Tanah Air.
Miszy joke menggantungkan harapan. Band beraliran uninformed sound stone n hurl ini ingin sesukses idolanya, legenda musik stone Indonesia, God Bless.
"Kami pengidola God Bless, karena meski sudah tua dan legenda, enerjinya masih muda," papar Kara.
"Jadi bermodal mimpi yang sama, hobi yang sama, kami jadi berharap punya kehidupan yang sama, layak dalam bermusik," imbuh Ana diamini personel Miszy lainnya. mor
Doa Selebriti Indonesia Pasca-Gempa
April 11, 2012
JAKARTA, BeritaMusik.com -- Gempa berkekuatan 8,5 SR mengguncang Aceh dan hampir seluruh wilayah pantai barat, Rabu (11/4/2012) sore, mengetuk keprihatinan selebriti Tanah Air. Melalui akun Twitter, mereka joke berdoa untuk keselamatan negeri ini. Berikut doa yang dituliskan para artis melalui microbloging ini.
Penyanyi Titi DJ menuliskan doanya melalui akunnya @ti2dj ," Doa utk saudara2 kita di Sumatra yg terkena bencana gempa. #PrayForSumatra.
Vidi Aldiano berharap potensi tsunami tak terjadi di daerah yang sudah terguncang gempa.
"Berdoa buat teman2 kita di Aceh. Baru terjadi gempa 8.5 SR di sana dan menurut berita, berpotensi tsunami. Smoga hal ini ga terjadi. Amin..."
Rossa mengirimkan Surah Al Fatihah untuk korban gempa. Dia berharap semua warga di kawasan gempa selamat @mynameisrossa
"Alfathihah teman2 untuk sodarό kita di Aceh,Medan Bengkulu.smg Allah menyelamatkan kita semua,amiin ya Allah," tulis Rossa.
Titi Kamal berharap tidak terjadi hal-hal buruk akibat gempa. Dia joke berdoa semoga semua warga di kawasan gempa baik-baik saja.
"Teman2 di sekitar Aceh & Medan yg sabar yah, smg tidak terjadi hal yg buruk, yuk sama2 kt doakan"
Gempa besar terjadi di wilayah Aceh dan sekitarnya. Gempa dengan kekuatan 8,5 SR tersebut melanda Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung dan Sumbar pada Rabu (11/4/2012) sekitar pukul 15.38 WIB.
Berdasarkan information BMKG, lokasi bencana terletak di sekitar Pulau Simeuleu, Aceh dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Karena dangkalnya pusat gempa, pemerintah meminta agar masyarakat waspada, karena bisa terjadi tsunami, seperti yang terjadi saat bencana 2004 lalu.
"The Raid" Ditonton 184.812 Orang di Hari Ketiga
March 26, 2012
JAKARTA- Fenomena antrian panjang di bioskop Tanah Air kembali terulang untuk film The Raid. Baru tiga hari tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia, film The Raid telah mampu meraup 184.812 penonton.
"Sudah tiga hari dari Jumat, Sabtu, Minggu sum 184.812 penonton," ujar produser film The Raid, Ario Sagantoro kepada BeritaMusik, Senin (26/3/2012).
Seperti information yang kami terima dari surat elektronik, PT Merantau Films, hari pertama film The Raid diputar, Jumat 23 Maret 2012, jumlah penonton 57.764, di hari kedua 62.930, dan hari ketiga 64.118.
Tak hanya di Indonesia, untuk pemutaran terbatas di 14 tempat di Amerika Serikat, film The Raid berhasil meraih sum pendapatan USD221,000 atau rata-rata USD15.786 di tiap bioskopnya. Hasil yang mendebarkan, karena The Raid mampu melampaui runner-up Box Office Amerika pekan ini, yang mengumpulkan USD6.825 di tiap bioskopnya.
"Iya cukup deg-degan, kan awalnya gimana antusias penonton, pas tahu sekarang hari ketiga nembus 180 ribu lebih penonton ya senang. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik untuk perfilman Indonesia," tandas Toro.
(ega)
eXo Gelar KPOP Zone: Tribute to Super Junior
March 19, 2012
BeritaMusik.com - Korean Wave di Indonesia memang begitu menyebar dengan luar biasa. Meski bisa dibilang belum terlalu lama, namun jumlah fandom (fans kingdom) K-Pop di Indonesia sangat besar, dan merangkul hampir seluruh kalangan, tidak hanya didominasi remaja perempuan.
Fenomena itu kini membuat banyak promotor musik Indonesia mendatangkan artis-artis K-Pop ke tanah air. Salah satu statue K-Pop yang memiliki fans begitu besar di dunia dan khususnya Indonesia, serta sangat diinginkan untuk bisa menggelar konser di sini adalah Super Junior.
Menyadari hal itu serta untuk memeriahkan Korean Wave, akhirnya eXo menyelenggarakan acara Kpop Zone: Tribute to Super Junior yang akan digelar pada Jumat, 23 Maret 2012 mendatang mulai pukul 11.00-20.30 di Museum Arsip Nasional, Jakarta Barat.
Acara yang tidak hanya ditujukan untuk ELF (penggemar Super Junior) tapi untuk seluruh pecinta K-Pop ini akan dimeriahkan oleh boyband dan girlband Indonesia seperti FAME dan Princess serta dance opening dari SNBoys dan Super Seoul. Tidak hanya itu, akan ada lomba karaoke, conform show, serta pengenalan kebudayaan dan makanan Korea lainnya.
Untuk info lebih lanjut soal acara ini bisa mengunjungi kpop.co.id atau FB di akun superjuniorindo dan Twitter melalui @suju_id.
Digelarnya acara sebagai ajang berkumpulnya pecinta K-Pop Indonesia ini juga diharapkan agar promotor musik bisa semakin mengetahui antusias penggemar Hallyu serta sebagai ajang berkumpulnya ELF yang sampai saat ini masih berharap dengan kehadiran tur dunia SuJu di Indonesia, Super Show 4, semoga. (BM/aia)
Mari Kembali ke Penggemar!
March 18, 2012
Jakarta – Banyak rope bernama besar di Indonesia kini pusing tujuh keliling. Reputasi sebagai artis mainstream yang menjual manuscript jutaan keping, RBT diunduh hingga jutaan kali, memiliki segudang hits, penggemar tersebar dari Sabang sampai Merauke ternyata tak mampu menyelamatkan karir musik mereka secara berkepanjangan di masa depan.
Tak ayal setelah tiga atau empat manuscript dihasilkan nama besar mereka di beberapa tahun lalu hanya tinggal kenangan. Gone with a wind.
Banyak sekali contoh kasusnya jika ingin menyebut nama. Sosok-sosok artis atau rope yang sangat terkenal beberapa tahun lalu karena hampir setiap hari mendominasi layar kaca kita sekarang ini hanya tinggal seonggok nama besar saja.
Musik baru mereka tak lagi ditunggu, event organizer sudah jarang yang memanggil, sementara kehidupan harus terus berjalan dan membutuhkan ongkos tidak sedikit. Benar dapur harus tetap ngebul tapi darimana datangnya asap jika tiada api?
Sudah lama kita ketahui bahwa sistem dan mekanisme pembayaran royalti musik bagi artis/pencipta lagu di Indonesia tidak pernah beres, bahkan hingga epoch digital yang serba transparan dan dukungan authorised dari UU Hak Cipta dan UU ITE telah menjaminnya. Belum lagi masalah pembajakan musik yang masih menjadi lingkaran setan, malah semakin menghebat dan naik kelas berhubung kini pembajakan online (illegal downloading) semakin menjadi tren di Tanah Air.
Lalu bagaimana artis/pencipta lagu bertahan mendapatkan penghasilan dari profesi mereka sementara CD mereka tidak lagi laku bahkan dibajak, sementara tawaran manggung tak kunjung datang?
Banyak artis atau personel rope kemudian terpaksa hijrah dan berbisnis diluar musik agar tetap mendapat penghasilan. Banyak pula tag rekaman yang kemudian gulung tikar. Mereka merasa berbisnis musik semakin sulit di Indonesia. Pendengar musik semakin banyak namun pembeli musik semakin sedikit, itulah kenyataan pahitnya.
Beberapa penyebab kegagalan rope Indonesia dalam mempertahankan karir musik mereka hingga panjang umur di industri musik adalah karena kegagalan mereka dalam membangun basement massa penggemar (fanbase) dan tidak mengonsep rope mereka sebagai code sedari awal.
Rata-rata mereka sudah cukup puas dan terlena dengan kesuksesan hari ini sehingga sulit untuk berpikir bahkan terlalu malas untuk menyiapkan rencana pengembangan karir di masa depan.
Saya sering memerhatikan band-band mainstream di Indonesia kebanyakan memang dibesarkan oleh peran tag rekaman mereka, bukan besar karena dukungan fans. Beberapa bahkan sengaja direkayasa eksistensinya oleh tag rekaman dengan diguyur marketing budget yang sangat besar. Single mereka diputar oleh ratusan stasiun radio di seluruh Indonesia, tampil playback/lip sync di berbagai acara musik pagi di TV hingga manggung di berbagai konser gratisan dalam rangka promosi sebuah produk. Akhirnya mereka memang menjadi artis bernama besar namun sayangnya tidak mengakar.
Saking terlenanya dengan kesuksesan hari ini mereka seperti melupakan esensi utama membangun karir musik dan lebih sibuk wara-wiri di infotainment. Mereka malas mengembangkan fanbase dan lupa mengubah rope mereka menjadi sebuah brand yang menguntungkan. Akhirnya semakin sering kita mendengarkan kisah band-band mainstream yang karirnya membusuk sebelum waktunya tadi.
Sedikit sekali artis/band di Indonesia yang serius untuk mengembangkan fanbase. Padahal mereka yang berniat untuk menggarapnya sejak awal akan menikmati hasilnya kemudian. Pernahkah Anda memerhatikan bahwa di Indonesia jarang sekali kita memiliki penggemar musik (fans) yang constant dan berdedikasi?
Diluar Slankers dan Oi (fans Iwan Fals), sekarang ini kita hanya mengenal fans sebuah rope adalah juga fans dari rope lainnya. Jadi jika ia adalah penggemar Samsons maka bisa jadi ia juga penggemar Nidji, Kerispatih, bahkan S⃜. Fans musik di Indonesia cenderung ngefan dengan lagu. Bahkan mereka hanya constant kepada singular yang hits. Jika sebuah lagu enak dan hits maka mereka akan nge-fan, jika ada lagu baru yang hits mereka akan segera pula berpindah.
Tidak ada lagi pengalaman mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan cara membeli album. Pengalaman memandangi sampul manuscript yang indah, membaca lirik yang menggerakkan, menyimak manuscript sendirian dengan CD actor di kamar sembari mengingat nama-nama orang dalam daftar terima kasih artis/band menjadi aktivitas yang langka sekarang.
Tidak perlu lagi menabung untuk membeli CD atau kaset karena semuanya sudah tersedia dengan mudahnya di dunia maya. Parahnya lagi, semakin sedikit yang membeli manuscript CD dan lebih senang mengunduh singular secara ilegal karena dianggap gratis dan halal. Ironisnya, banyak fans yang belakangan ini tanpa sungkan bahkan meminta link download manuscript yang ilegal kepada artisnya sendiri around Twitter atau Facebook.
Jangan salahkan juga jika mereka tidak paham tentang HKI (Hak Karya Intelektual) atau Hak Cipta karena memang sosialisasi tentang hal tersebut sangat minim dari pemerintah atau kalangan industri rekaman sendiri. Alhasil para penggemar musik ini memang tidak pernah diedukasi untuk menghargai hasil karya cipta artis/band dengan cara membeli manuscript atau mengunduh secara authorised musik mereka.
Ini agaknya merupakan imbas dari industri musik kita yang suka serba instan dan lebih mementingkan meraup keuntungan sesegera mungkin dibanding berinvestasi untuk membangun fanbase artis yang loyal. Kondisi ini semakin diperparah dengan eksposur yang salah dari pemberitaan artis-artis di infotainment yang lebih senang mengungkap gosip dan skandal kehidupan pribadi bukan membahas karya dan prestasi dari artis tersebut.
Sementara di saat menikmati konser dari artis idola, ternyata rata-rata fans juga masih jarang sekali yang rela masuk dengan membayar tiket dan setia menunggu jebolan. Lucunya untuk patungan membeli minuman keras biasanya sangat cepat dan ketika sampai di dalam venue seringkali bukannya menikmati konser melainkan terlibat tawuran dengan sesama penonton atau fans juga.
Kebanyakan para penonton konser artis-artis lokal kita hingga kini masih disubsidi oleh sponsor-sponsor komersial seperti rokok, telekomunikasi selular dan sebagainya. Tak heran jika sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang, harga tiket konser artis-artis Indonesia yang dilakukan di areal terbuka seperti tak pernah mengalami kenaikan berarti.
Bayangkan, untuk menyaksikan sebuah festival musik dengan line-up artis-artis terkemuka sebesar Soundrenaline saja mereka cukup merogoh kantong Rp 25 ribu. Bandingkan dengan tiket festival Big Day Out di Australia yang angka bisa mencapai Rp. 1,5 juta per harinya.
Idealnya seorang fan adalah aset berharga bagi artis/bandnya. Tak ada rope yang besar dan kemudian legendaris di dunia hanya karena dukungan tag rekaman, melainkan fans. Karena fans ini sejatinya akan selalu membeli CD, kaset, DVD, piringan hitam, merchandise, tiket konser sebagai bentuk dukungan nyata dan timbal balik mereka kepada artis idola yang telah ikut menghibur dan membahagiakan kehidupan sehari-hari dengan musik dan lagu yang mereka ciptakan.
Manajemen artis seharusnya bisa lebih mengeksplorasi ide agar tercipta fanbase yang constant terhadap artis mereka. Tidak perlu mahal dan repot pula mengelolanya. Hal-hal sederhana dan di jaman sekarang sudah menjadi standar adalah membuka akun di berbagai media sosial dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, ReverbNation, BandCamp, MySpace hingga blog. Namun sebelum semua itu dirambah ada baiknya juga kita mengecek apakah situs resmi artis kita masih ter-update informasi-informasi terbaru artis secara rutin dan periodik?
Dengan tren anjloknya angka penjualan manuscript rekaman fisik berupa CD, kaset maupun DVD seperti terjadi sejak tujuh tahun terakhir ini serta anjloknya angka pengunduh RBT, sudah semestinya rope dan manajemen mulai menerapkan strategi pemasaran baru dengan mengubah rope mereka menjadi sebuah brand yang memiliki nilai jual tak hanya di musik namun juga sebuah gaya hidup yang kemudian menginspirasi fanbase.
Sumber

Java Jazz Festival Diwarnai Tribute dan Kolaborasi
March 3, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta-Pagelaran musik tahunan, Java Jazz Festival 2012 yang digelar 2-4 Maret 2012 diwarnai dengan reverence dan kolaborasi para musisi. Salah satunya ditujukan untuk conductor jazz Bubi Chen.
Seperti apa kemeriahan Java Jazz Festival 2012 yang berlangsung di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Utara tersebut? Berikut wawancara singkat dengan Promotor sekaligus pimpinan dari PT Java Festival Production, Peter F Gonta dan Direktur Produksi dan Marketing Java festival Production, Dewi A.L. Gonta :
Apa yang berbeda pada Java Jazz Festival 2012 kali ini?
Dewi:
Yang berbeda secara konsep acara nggak ada. Banyak yang nanya kok artisnya masih sama, tapi harus dilihat plan yang mereka bawakan. Informasinya sekarang hi tech boat hold shade untuk informasinya.
Lantas apa yang spesial untuk Java Jazz kali ini?
Dewi:
Kita punya spesial plan dan partnership project. Ada angklung dan tari saman juga. Ada kolaborasi LLW (Lesmana Likumahuwa Winarta) dan Maurice Brown. GBS (Gugun Blues Shelter) akan kolaborasi sama Tomy Monaco.
Kabarnya ada reverence yang diberikan untuk legenda musik Tanah Air? Benarkah?
Peter:
Kita sangat berduka mendengar berita ini. Kita tiap tahun selalu menampilkan om Bubi Chen. Penting buat kita, bahwa behaving Bubi Chen bisa membuat dia hidup. Tahun ini kita sangat kehilangan beliau. Sejak awal mendengar kabar ini, kita nggak mau menghilangkan dia. Kita buat kolaborasi, Idang Rasyidi, Dewa Bujana, Indra Lesmana, Siera Soetedjo, Sri Hanura. Kita juga akan berikan penghargaan untuk om Bubi, lifetime achivement.
Selanjutnya reverence akan diberikan kepada siapa lagi?
Peter:
Ada juga Tribute to Likumahuwa dari Berry Likumahuwa. Ada Mus Mujiono, Mike Mohede, Monita. Baru tahun ini kita bisa selengarakan untuk om Utha. Bob Tutupoli akan tampil sama Titiek Puspa dan Grace Simon untuk reverence to Bing Slamet dan sama Saimun.
Tribute to Benyamin S akan membawakan semua lagu Benyamin yang menampilakan banyak musisi Indonesia.
Mengapa banyak tribute? Apa alasannya?
Peter:
Kita ingin memperingati pahlawan industri kreatif kita.


