Setelah menyaksikan latih tanding para pemain Tim National Indonesia untuk Piala Pelajar Asia U-15, melawan Tim SSB Urakan yang lebih senior, pada hari Minggu tanggal 22 Juni 2008 pk. 19.00 – selesai.
Gambar: Rasiman - Pelatih Tim Pelajar Nasional Indonesia, sedang memberi pengarahan bagi perkembangan permainan tim nya.
Ada
1. PEMAIN BERASAL DARI SSB.
Seluruh pemain Tim Pelajar
2. Banyaknya Kejuaraan-Kejuaraan.
Munculnya kejuaraan-kejuaraan juga merupakan hadiah-hadiah atau berkat-berkat bagi para pemain tersebut sejak usia 12 tahun untuk mengasah kemampuan dan bakat/ talenta alam mereka. Selain itu bagi mereka yang kurang berbakatpun, akibat latihan-latihan yang benar di SSB mereka, serta kesempatan-kesempatan untuk mematangkannya dalam kejuaraan-kejuaraan telah menjadi ujian yang nyata dalam perkembangan permainan mereka masing-masing. Walaupun masih banyak kejuaraan-kejuaraan masih bersifat rite atau sekedar rame-rame ketimbang secara resmi menuju prestasi. Tentunya hal ini tidak mengapa. Namun demikian, kesadaran para Pembina untuk sekedar mencari kemenangan semata dalam kejuaraan-kejuaraan seremonial tersebut, apalagi dengan memainkan pemain lewat usia, dengan menggantikan pemain-pemain berbakat mereka yang usianya benar, kiranya sudah waktunya ditinggalkan mulai detik ini juga. Karena pemain lewat usia, tidak dapat digunakan untuk pembinaan. Berkat dengan adanya kejuaraan-kejuaraan tersebut, sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baik mungkin. Pemain Tim Pelajar
3. Piala Menpora U-14, Ajang Prestasi Sebenarnya.
Kita bersyukur, adanya Kejuaraan Piala Menpora yang lebih resmi dan didukung oleh Kantor Kementrian Negara Pemuda & Olahraga, bahkan Menegpora Adhyaksa Dault selalu hadir dalam pembukaan Kejuaraan tersebut. Sehingga para pemain U-14 dari 32 SSB terbaik di Jabodetabek + Jabar bisa bertanding, berkompetisi, memperlihat kemampuan mereka dengan baik. Mereka memang berjuang & berusaha habis-habisan untuk memenangkan SSB mereka dalam Piala Menpora 2008 dibulan Mei yang lalu itu. Memang hanya 1 SSB yang berhasil menjadi Juara, tapi dibuktikan bahwa ada berkat bagi 39 pemain dari pelbagai SSB yang bisa terjaring oleh para pemandu bakat, yang pada waktu itu bertugas dengan baik & sungguh yakni Rasiman, Patar Tambunan & Adji Ridwan Mas.
4. Seleksi Administrasi Yang Ketat.
Sistim seleksi administrasi yang ketat juga perlu diberi acungan jempol, misalnya pada tahun 2007, mereka berhasil menangkap keraguan Usia Pemain lebih dari 17 orang dari pelbagai SSB. Dan ditahun 2008, hal ini menurun dengan dratis. TIM Seleksi Administrasi sudah bertindak seolah mereka seperti KPK, hal ini terpaksa dilakukan dan berhasil.
5. Seleksi Pemain Berbakat Terpilih oleh Pelatih.
Rasiman sebagai pelatih yang bersertifikat AFC & AFF dengan predikat terbaik, diberi kewenangan penuh untuk menyeleksi & merampingkan 39 pemain berbakat menjadi lebih kecil (saat ini telah menjadi 19 pemain). Melatih & membentuknya menjadi satu tim yang kokoh.
Bayangkan kalau Tim Pelajar
Mudah-mudahan usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh Pembina & Pelatih di SSB sejak usia dini (10-12 tahun), mereka yang terlibat di Piala Menpora 2008 & seluruh pemain yang telah berjuang, merebut setiap posisi tim secara fair, akan membawa hasil maksimal dalam menciptakan pemain yang berprestasi dan tahan lama.
If we are a copyright owners of this request and wish to news it, greatfully follow these directions to contention a copyright transgression notice.
Cancel
Jurusan Ilmu Nutrisi & Makanan Ternak Fapet Unram
dan
Pusat Pengkajian & Informasi Sapi Hissar (PUNJAHI) Fapet Unram
Jl. Majapahit 62 Mataram 83125 NTB
Informasi tentang berapa produksi atmosphere susu sapi Hissar apabila diberi pakan dedak padi, belum ada. Padahal air susu sapi tersebut diperah untuk mendapatkan uang tunai /dijual ke Kelompok Usaha Bersama (KUB, yang beranggotakan para wanita) sebagai bahan baku pembuatan permen susu (caramel) khas Sumbawa yang sangat digemari masyarakat Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu (1). mempelajari dampak pemberian dedak padi terhadap produksi susu sapi Hissar yang digembalakan, dan (2). mempelajari dampak pemberian dedak padi terhadap jumlah dan mutu atmosphere susu sapi Hissar yang dikandangkan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa, pemberian 0.5 kg dedak padi dalam ransum mampu meningkatkan rataan produksi susu sapi Hissar yang digembalakan (2400 ml vs 2600 ml) maupun yang dikandangkan (1300 ml vs 3200 ml). Selain itu, penambahan dedak padi sebesar 0.5 kg dalam pakan meningkatkan konsumsi pakan ( 139.2 vs 161.9 g BK/Kg B.75 /hari), konsumsi zat-zat makanan, konsumsi air minum (36.0 vs 42.0 liter/ekor/hari), serta kadar lemak (4.2 vs 5.8%) yang merupakan indikator mutu atmosphere susu.
Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan Sapi Hissar dari Punjab India pertama kali ke Indonesia pada tahun 1909, ditempatkan di tiga lokasi yaitu Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Sumbawa. Sampai saat ini hanya di Pulau Sumbawa sapi ini bertumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga sejak tahun 1999 pemerintah menetapkan Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa sebagai kawasan pengemban sapi Hissar nasional. Sapi ini dikenal sebagai sapi Hissar Sumbawa (Dilaga dan Arman, 2002 ), diperah susunya dan dijual ke Kelompok Usaha Bersama (KUB, anggotanya ibu-ibu), untuk diolah menjadi permen susu (caramel) khas Sumbawa yang sangat digemari masyarakat Nusa Tenggara Barat (Dilaga, 2001). Produksi susunya tidak sebanyak sapi FH, karena sapi Hissar merupakan sapi multiguna (penghasil susu, daging, dan tenaga kerja), dan seleksi kearah produksi susu memang belum dilakukan (Dilaga, et al., 2001). Berapa jumlah atmosphere susu yang diperoleh peternak dari seekor sapi Hissar? Apabila diberikan tambahan pakan berupa dedak padi, seberapa besar peningkatan jumlah maupun mutu susu sapi Hissar Sumbawa yang dapat dihasilkan? Data/informasi tentang hal itu tidak ada, dan untuk itulah penelitian ini dilakukan.
Empat ekor sapi Hissar Sumbawa dengan kisaran bobot badan 290– 300 kg, beranak 2 kali, dan sudah berproduksi selama 4 bulan digunakan dalam penelitian ini. Setiap perlakuan terdiri atas 2 ekor sapi laktasi. Perlakuan yang diberikan adalah:
Sapi yang mendapatkan perlakuan B terlebih dahulu dilatih mengkonsumsi dedak sebanyak 0.5 kg. Setelah dapat menghabiskan 0.5 kg dedak, barulah pengumpulan data dilakukan. Pemerahan dilakukan pagi hari. Cara pemerahan dan pemerahnya adalah sama pada semua ternak percobaan. Peubah yang diamati adalah jumlah atmosphere susu yang dihasilkan. Produksi susu dicatat, kemudian ditabulasi dan dilakukan analisis data dengan pendekatan eksploratif menggunakan blueprint dahan-daun (steam and root plot) dan diagram kotak-garis (box and hair plot) sebagaimana yang dikemukakan oleh Aunuddin (1988).


