Jarang ada manusia yang bersikap gentle, mengakui kesalahan yang telah ia perbuat, meminta maaf lalu memperbaiki diri. Kebanyakan, manusia malah melimpahkan kesalahan pada orang lain. Ia berusaha ngeles, atau menghindar.
Akan lebih runyam lagi bila orang yang sebenarnya berada di pihak yang salah itu sudah merasa kuat, hebat, mampu dsb. Orang semacam ini, andaipun salah, biasanya tidak sekadar menyalahkan orang lain, tapi mengajak berdebat, bahkan menggertak pihak lain yang sebenarnya ia rugikan.
Anehkah jika ada manusia yang tidak mau disalahkan? Sebenarnya tidak aneh. Begitulah karakter manusia. Sejak dulu dan sampai nanti, pada hakikatnya manusia memang tidak pernah rela menerima hukuman atas apa-apa yang telah ia perbuat sendiri. Bagaimana cara kita menyikapi orang yang maunya menang sendiri dan tidak barangsedikitpun mau mengalah? Hanya ada tiga: Sabar, Sabar dan Sabar. Tak ada gunanya menghadapi mereka dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan berikutnya. Anggaplah tetangga yang berperilaku seperti ini sebagai ujian atas kesabaran kita. Lagipula, bukankah dengan sabar kita menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan kita, Allah SWT?
Allah lah yang maha mengetahui, Ia tidak akan keliru menilai mana yang benar, mana yang salah. Allah tak akan salah menghukum makhluknya. Yang timbangan amal buruknya lebih berat akan dijebloskan ke dalam neraka, sedangkan yang amal baiknya lebih berat, dengan wajah tersenyum Allah janjikan masuk ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
Tetapi, dasar manusia. Di akhirat nanti joke masih ada yang berusaha untuk menghindari hukuman, ngeles, dengan berbagai cara agar tidak dimasukkan ke dalam neraka. Misalnya, yaitu tadi: menyalahkan orang lain atas kesalahan yang jelas-jelas ia lakukan sendiri. Ia berharap Allah mengampuni, memaafkan bahkan menghapus dosanya karena ia berhasil menunjukkan orang lain sebagai penyebab utama kesalahannya. Jika bahasanya kita sederhanakan, mungkin dialognya akan seperti ini, “Ya Allah, saya tidak sholat bukan karena malas. Tapi karena saya sibuk mengurus anak-anak saya.” Atau, “Ya Allah, saya tidak berpuasa karena pekerjaan saya berat. Pokoknya, macam-macam alasan yang disampaikan dengan harapan terhindar dari hukuman.
Dan yang pale mudah digunakan sebagai taktik ngeles manusia untuk menghindari hukuman akibat ketidakpatuhannya kepada Allah adalah orang tua. Banyak ummat manusia yang merasa tidak bersalah jika tidak terbiasa sholat, tidak mampu mengaji, tidak hobi mendengar ceramah dsb hanya karena orang tuanya dulu tidak mengajarkan ilmu agama kepadanya. Karena itu, menurutnya, orang tua dan nenek moyangnyalah yang seharusnya bertanggung jawab kepada Allah.
Alasan seperti ini pula yang sudah Allah catat dan abadikan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 173. Pada ayat ini Allah telah mewanti-wanti agar tidak menyalahkan orang tua atau nenek moyang atas pembangkangan kita kepada Allah yang telah kita lakukan sendiri.
Mengapa kita tidak bisa menyalahkan orang lain, menuduh orang tua kita atau nenek moyang kita sehingga kita menjadi “kafir”? Bukankah mereka yang melahirkan dan mendidik kita? Jawaban atas pertanyaan itu bisa dilihat pada surat Al A’raf ayat 172. Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, Betul, kami (roh-roh tersebut) bersaksi...”
Terlepas ada atau tidaknya campur tangan orang tua, nenek moyang, lingkungan, latarbelakang pendidikan, dsb, pada dasarnya kita harus menyadari bahwa roh dalam tubuh kita dulu telah bersaksi tentang Allah, dzat yang harus kita sembah dan tak boleh kita sekutukan. Maka, carilah kebenaran dan perbanyaklah kebajikan. Jangan menunggu diajak oleh orang lain. Ingat, di akhirat nanti, tak ada kesempatan lagi untuk ngeles.
Note: Tulisan ini pernah dimuat di buletin AN NUR, yang beredar di perumahan PURI GADING, BEKASI.