MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATIKIRI 02
Oleh: Ostaf Al Mustafa
Pahlawan tak dikenal dan maestro tergusur
Salut besar kepada mereka yang telah wafat dalam pertempuran melawan penjajah. Sebagian dari mereka anonim, tak berkubur di taman makam pahlawan, tak disebut veteran, bahkan ada yang tak diketahui letak kuburannya. Di setiap perayaan “Hari Proklamasi” dan “Hari Pahlawan”, keberadaan mereka bukan hanya tak dikenal, tapi juga dianggap nyaris tak pernah ada. Para pahlawan anonim itu disebut “pahlawan tak dikenal”. Kahar Muzakkar salah seorang dari pahlawan itu, kini tak diketahui kuburannya setelah beliau syahid, karena ditembak pasukan Jenderal Muhammad Yusuf. Dalam mitos, Kahar Muzakkar dipercaya masih hidup dan secara anonim memiliki identitas baru.
Orang-orang hanya ingat di setiap perayaan nasional ada perlombaan olahraga, musik, dan berbagai pesta kesenangan lainnya. Di bagian lain, rumah para maestro digusur dan diberi ganti yang merugikan. Bagi penikmat hari-hari libur nasional, para maestro itu mungkin juga anonim. Siapa mereka yang tergusur tak diketahui secara pasti. Pemerintah beserta aparat represifnya yang berwajah garang (polisi/tentara/satpol PP), yang ikut dalam operasi penggusuran juga tak mau tahu siapa para pejuang-pejuang renta itu. Mereka menempatkan para pahlawan maestro itu dalam kategori manusia anonim. Siapapun yang anonim di negara ini pasti mudah digusur, diintimidasi, dan dirugikan secara sum lahir dan batin.
Pada mulanya nama atau dalam bahasa Yunani berarti nonim/nonima, ditujukan pada para dewa-dewi. Para dewa mewakili semua unsur untuk disebut pahlawan, karena mereka kuat, cerdas, bijaksana, dan susah mati. Disebabkan mereka pahlawan, maka tentu saja pantas punya sebutan nama untuk dikenang. Ketika epoch dewa-dewi dipindahkan ke bumi, maka hanya para pahlawan yang berhak punya nama. Mitologi Yunani memuja dewa dan pahlawan dalam berbagai kisah peperangan dan pertandingan olimpiade purba. Pahlawan yang beratribut sebagai atlet, menjadi ikon baru legenda kepahlawanan.
Herkules, anak dewa Zeus dan juga pahlawan imajiner Yunani, yang pertama mencitrakan adanya pahlawan jenis baru di gunung Olympus. Pahlawan jenis baru semuanya bernama, kecuali kepada para atlet pecundang. Para pahlawan dipuja-puja dalam symposium (pertemuan dewa dan manusia) dan ecclesia (majelis manusia terhormat). Mereka yang kalah tetap tak bernama dan hilang begitu saja tanpa kenangan. Masih untung jika mereka sempat dikenang melalui nomor punggung. Sayangnya saat itu tak ada nomor apapun yang disablon di kaos atlet. Lukisan olimpiade purba, memperlihatkan atlet yang berlaga ada yang telanjang bugil. Tentu saja tak ada yang mengenakan nomor punggung dalam ketelanjangann.
Ketika para pecundang tewas saat turun gunung, mati mengenaskan di padang belantara, dan meninggal dikoyak-koyak rasa putus asa, semua tubuh mereka hancur begitu saja. Tak ada sebutan maestro bagi yang kalah dan juga tak ada mahkota daun victory (kemenangan) yang melingkar di kepala mereka. Pusara para pecundang tak terpahat nama apapun dan roh mereka berkeliaran jauh dari zona istana para dewa gunung Olympus. Para pahlawan Indonesia yang tak dikenal dan tak bernama, bernasib jauh lebih baik dari para pecundang Olimpiade. Mereka mendapat doa generik di hari Pahlawan berupa ucapan khidmat “Semoga roh mereka diterima disisi Tuhan”.
Anonimitas “Pahlawan tanpa tanda Jasa”
Terpujilah Omar Bakrie dkk yang menjadi guru dan teratributkan dalam istilah “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Istilah tersebut merupakan ‘reduksi penghargaan’ dan ‘penindasan struktural’ terhadap guru. Guru diberi julukan muluk-muluk, sedangkan kesejahteraan mereka diabaikan. Bukan hanya negara yang merestui julukan yang menindas tersebut, tapi pihak universitas ikut juga berperanan dalam penyebaran aphorism kosong itu. IKIP Ujungpandang (kini: Universitas Negeri Makassar) pernah memasang aphorism “pahlawan tanpa tanda jasa” di jembatan penyeberangan depan kampus 1 Pettarani. “Pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi bentuk penganoniman para guru, sehingga identitas mereka dihilangkan secara kolektif dan individu.
“Jadi guru jujur berbakti, memang makan hati”, demikian Iwan Fals dalam tembang “Omar Bakrie”. Guru jujur berbakti pasti selalu anonim, salah seorang yang nonim (bernama) hanyalah Omar Bakrie. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari Rezim Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, juga tak pernah tahu siapa lagi guru jujur berbakti, selain “Omar Bakrie”. Habibie, yang otaknya dibentuk “Omar Bakrie”, juga tak mengerti nasib guru jujur berbakti lainnya. Habibie tak tahu menahu pada anonimitas guru-guru, meskipun telah menjadi presiden.
Indonesia punya guru jujur berbakti lainnya selain “Omar Bakrie” yakni Ki Hajar Dewantoro. Beliau menciptakan seloka “Tut Wuri Handayani” (memberi dorongan dari belakang) dan membuat suatu zona pendidikan yang disebut “Taman Siswa”. Ki Hajar Dewantoro adalak seorang priyayi Jawa bernama Raden Mas Suwardi, tapi berhasil membuat pendidikan “Taman Siswa” yang tak lagi ‘istana sentris’. Mungkin yang jadi masalah mengapa lambang “Tut Wuri Handayani” harus berupa sayap-sayap burung. Bentuk sayap burung itu mirip dengan sayap-sayap orang-orang mati yang terbang ke langit dalam lukisan-lukisan gereja Santo Petrus di Vatikan.
Dalam realitas Indonesia, sayap-sayap burung memang mewakili simbol “matinya pendidikan nasional”. Sayap-sayap itu menyimbolkan pula “terbangnya roh pendidikan jauh ke awan-awan”, meninggalkan bumi dan “Taman Siswa”. Ketika Plato mendirikan “Taman Akademos” untuk mengenang pahlawan Yunani, tak ada lambang sayap di gerbang sekolah itu. “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang telah mati, telah mengambil sayap-sayapnya masing-masing dari lambang “Tut Wuri Handayani”. Tak ada laporan dari Dinas Pendidikan Nasional tentang kemana terbangnya roh-roh “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Apakah label “jujur berbakti” juga telah terbang dalam sayap-sayap kematian tersebut? Tak pernah seorangpun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di lima rezim penguasa yang pernah tahu hal tersebut.
Melesetologisme Muhammad atau Ahmad
Suatu yang sangat untuk dianjurkan untuk meniru dan mengikuti sunnah Rasullah Muhammad SAW, baik dari segi nama, sunnah ibadah ritual, perintah, dan teladannya (uswatun hasanah). Memang harus diakui banyak dari kalangan Muslim yang memakai nama Muhammad atau Ahmad justru mencemarkan nama mulia tersebut. Nama Ahmad pertama kali tercantum dalam Kitab Taurat yang menukilkan adanya seorang nabi dari Gunung Faron. Kabar dari Nabi Musa a.s. itu dilanjutkan oleh Nabi Isa a.s. sebagaimana yang tertera dalam Injil Barnabas. Pemalsuan kitab Taurat dan penghilangan Injil Barnabas, telah membuat Ahmad menjadi ‘nabi Anonim’.
Skandal terbesar dari both kafir sides (dua sisi orang Kafir, Yahudi dan Nasrani) yakni menghilangan nama “Ahmad” dari kedua kitab suci tersebut. Kitab Taurat atau “Kitab Perjanjian Lama” yang telah menghilangkan nama “Ahmad” yakni dalam “Kitab Ulangan” fasal 33 terdjemah Melayu tjetakan Amsterdam 1928, “Maka datang Allah dari Torsina ya’ni menganugrahkan Musa dengan Kitab Torat, dan terbit dari Se’ir yaitu menganugrahkan Isa dengan Kitab Injil dan tjemerlang tjahayanya dari gunung Paron.” Bagian yang dihilangkan yakni “tjemerlang tjahayanya untuk Ahmad yang menerima Qur’an dari gunung Paron “.
“Kitab Perjanjian Lama” dari Lembaga Al-Kitab Indoensia (LAI) juga masih menghilangkan nama “Ahmad”. Dalam Kisah “Ashabul Kahfi” yang disiarkan TVRI diperlihatkan Maxmilianus (seorang tokoh penasehat agung kerajaan Philadelphia) yang menyebutkan versi asli dari kitab Taurat “fasal 33” tersebut. Maxmilianus menyebutkan tentang Ahmad yang menerima cemerlang cahaya Allah dari gunung Paron. Redaksi injil dalam terbitan Melayu dan bahasa Indoensia berbeda dengan ucapan Maxmilianus tentang nama Tuhan. Injil terjemahan Melayu menuliskan “Maka datang Allah dari Torsina”, sedangkan ucapan Maxmilianus menyebut “Maka datang Tuhan Jehova dari Gunung Tursina”. ‘Tuhan Allah’ adalah nama Tuhan versi Kristen, sedangkan ‘Tuhan Jehova’ berasal dari versi Yahudi. Sekarang ini jemaat Kristen Indonesia telah mempergunakan nama Tuhan berupa Allah dan juga Jehovah. Bila versi nama Tuhan bisa berbeda, maka bukan hal yang sulit jika harus menghilangkan nama “Ahmad” dalam “Kitab Perjanjian Lama”.
Dalam tradisi local genius pada indegenous knowledge (kearifan pengetahuan local) masyarakat suku Konjo Kajang (kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan) terdapat suatu pengagungan pada nama “Muhammad”. Suku ini memiliki penghargaan yang teramat tinggi pada nama “Muhammad”. Masyarakat Kajang (khususnya ‘Kajang Dalam’) yang masih kuat dalam tradisi asli, tak sembarangan menyebutkan nama “Muhammad”. Mereka juga tak menggunakan nama itu sebagai ‘identitas nama’ dari seorang joke di Kajang Dalam. Mereka tak ingin pengguna nama mulia itu, justru mencemarkan kesucian Muhammad Rasulllah SAW. Bila mereka ingin menyebutkan tentang Rasullullah SAW, beliau disimbolkan dengan penamaan “Sampeng lompo”, yang berarti “Orang yang termulia, yang terpercaya, yang teragung, dan yang terpilih.”
Orang-orang di luar Kajang menganggap keislaman masyarakat ‘Kajang Dalam’ tidaklah sempurna, karena sejumlah protocol ibadah tak dilakukan secara semestinya. Di masyarakat ini, malah sangat mencontoh prilaku sosial dan kemanusiaan Muhammad Rasulllah SAW. Sebagai contoh, rumah dan perabotan rumah tangga Amma Toa (pemimpin suku), ternyata yang pale sederhana dari semua rumah di ‘Kajang Dalam’. Rumah Rasullah juga amat sederhana, begitupun menantunya Ali bin Abi Thalib karamallahu wajha (k.w.). Rumah Rasulullah SAW tidak menyolok dari segi kemewahan.
“Bila masyarakat menderita, maka kamilah yang pertama mengalaminya. Bila masyarakat mendapatkan kesejahteraan, maka kamilah yang terakhir menikmatinya”, demikian falsafah kepemimpinan dari sang pemimpin suku, Amma Toa. Pola kepemimpinan yang langsung mengalami penderitaan masyarakat ini, dicontohkan pula dalam kehidupan sehari-hari Muhammad Rasulullah SAW, khalifah Umar bin Khattab r.a., khalifah Ali bin Abi Thalib k.w., dan khalifah Umar bin Abdul azis r.a..
Bandingkan dengan Soeharto, yang menjelang akhir masa kekuasaannya menggunakan nama ‘Muhammad’ dan bertitel ‘haji’. Ia justru yang pertama menikmati kesejahteraan yang teramat mewah. Nepot (keluarga/cucu) dan kroninya yang menikmati gemah ripah loh jinawi (sejahtera dan makmur). Soehartolah yang makin mempopulerkan pepatah Jawa “jer Basuki mawa bea” atau “kesejahteraan memerlukan pengorbanan”. Dalam konteks ril, pihak wong agung Istana Cendana yang “jer basuki” (sejahtera luar biasa), sedangkan wong cilik mengalami “mawa bea” (berkorban melulu).
Nama “Muhammad” telah dikorupsi dan dimanipulasi untuk pelangggengan kekuasaan dan kenikmatan Orba. Untung saja penggunaan nama “Muhammad”, tak berlangsung teramat lama. Kekuasaan Soeharto runtuh, karena didongkel oleh guliran reformasi. Di masa sakitnya, mantan penguasa Orba itu kembali sering disebut oleh media sebagai “Soeharto” dan bukan lagi “Muhammad Soeharto”.
Muhammad Rasullah SAW tak pernah menguntungkan keluarganya (ahlul attract dan ummul mukminin) dalam kemewahan nepotisme. Tak pantas nama Muhammad disandang Soeharto, karena kehidupan Soeharto sangat mementingkan kemewahan keluarga. Cucunya saja (anak Bambang Trihadmojo) yang menikah dengan artis Lulu Tobing, biaya pestanya mencapai lima milyar Rupiah. Uang sebanyak itu bila dibelikan Softex, bisa sedikit mengeringkan luberan Sumur Banjar Panji Satu di desa Siring Bojong. Sumur bencana yang diperkirakan akan terus menyembur Lumpur panas selama dua tahun. Seharusnya “Soeharto” harus tetap sebagai “Soeharto” dalam hidup dan matinya. Ia bukan lagi harus berlabel secara melesetologisme sebagai “Muhammad Soeharto”. Dengan demikian nama Rasullullah SAW tak lagi tercemar di Indonesia, seperti yang terjadi pada semua orang jahat, yang juga menggunakan nama depan “Muhammad” atau “Ahmad”. Banyak orang jahat di Indonesia telah memberi “lumpur najis’ pada nama “Ahmad” atau “Muhammad”.
‘Kamar belakang’ yang salah arah
Anak-anak sekolah dasar di jaman Orba diperintahkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk menggunakan istilah ‘kamar belakang’ sebagai pengganti istilah kakus, kloset, atau WC. Uniknya ‘kamar belakang’ bukan sekedar sebagai kata benda substitutif untuk kakus atau WC. Ia juga berfungsi ganda sebagai kata kerja untuk aktivitas pembuangan hajat kecil dan besar.
Bila ada anak-anak di jaman Orba berkata kepada ibu guru, “Bu, saya mau ke kamar belakang!” itu berarti “saya mau pipis atau berak.’ ‘Kamar belakang’ sebenarnya tak berorientasi menuju ke suatu kamar yang terletak di arah belakang sekolah. Mengapa sampai sebuah kata benda justru menjadi sekaligus sebagai kata kerja, itulah masalah gaya bahasa slang anak-anakisme (gaya bahasa yang dipergunakan anak-anak).
Memang dalam bahasa Inggris, suatu kata benda bisa menjadi kata kerja yang disebut gerund yakni menambahkan ‘ing’ pada kata benda tertentu. Book (buku) merupakan noun (kata benda). Bila book ditambahkan akhiran ‘ing’ maka menjadi suatu noun-ing (kata benda berbentuk ing) yakni booking yang berarti ‘memesan tempat’. Booking juga bukan hanya tentang memesan tempat, ia juga digunakan dalam segi trafficking (penjualan perempuan) dan eskploitasi perempuan di dunia pelacuran. Gaya bahasa anak-anakisme sampai kini belum di-booking (dibukukan) untuk menjadi suatu gaya bahasa resmi dalam pelajaran BINAR (Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar) dan EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
Gaya bahasa anak-anakisme merupakan sebuah kekeliruan ajar untuk anak-anak dalam penggunaan orientasi tempat. Itu juga sebuah ‘pendidikan salah arah/disorientatif’ yang dibenarkan dalam EYD? Bagaimana mungkin sebuah ‘kamar belakang’ di sebuah sekolah justru berada di samping kiri atau kanan sekolah? Kesalahan didik ini makin membesar di jaman Developmentalism (Pembangunisme) Orba hingga jaman SBY-JK. ‘Kamar belakang’ dalam disorientasi Pembangunanisme ternyata justru berada di depan rumah.
Mengapa MCK di depan rumah?
Di jaman Orba proyek kesehatan masyarakat selalu membangun ‘kamar belakang’ atau ruang MCK (Mandi Cuci Kakus) di depan rumah masyarakat pedesaan. Kesan yang ingin ditunjukkan dalam Pembangunanisme orba yakni agar WC/MCK yang telah dibangun mudah terlihat oleh pengawas proyek atau supervisor. Mereka bisa mengawasi selesai proyek itu tanpa turun dari mobil, cukup melihatnya sekilas dari jendela rayban mobil. Sekarang di jaman neo-Orba, MCK juga masih tetap dibangun depan rumah.
Sebagaimana biasa pengawas proyek pembangunan dari dinas Pekerjaan Umum (PU) dan dinas apapun di jaman Orba ada yang makan ‘gaji buta’ dan ‘komisi tuli’. Mereka mengawasi pembangunan suatu proyek cukup dari pernyataan ABS (Asal Bos Senang), ABK (Asal Bapak Korupsi), dan ABC (Asal Bapak Cincailah). Sudah diangggap cukup memadai bila mengawasi selesainya suatu proyek dalam keadaan mobil berjalan. Itulah sebabnya mengapa semua proyek WC atau MCK harus terletak di depan rumah, agar pengawas yang malas itu cukup melihatnya sambil lalu lalang.
Utang baru negara di ‘kamar belakang’
Hingga di jaman SBY-JK, ‘kamar belakang’ ini tetap dibangun di bagian depan rumah. Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Proyek Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) juga masih menempatkan ‘kamar belakang’ di bagian depan rumah. Proyek Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) atau ‘Urban Poverty Project’ memang terkenal dengan ‘proyek kloset’. Proyek tersebut merupakan bagian dari paket penambahan utang negara dari charity (belas kasih) kapitalis neolibs, yang bergabung dalam World Bank.
P2KP di Sulawesi-Selatan dan sekitarnya, dikelola secara tripartite agreement (perjanjian tiga pihak) yakni pemerintah, Lembaga Penelitian Unhas, dan lSM asing. Pengawas proyek atau supervisi PPK dan P2KP yang malas, juga bermotif seragam dengan apa yang terjadi di jaman Orba. Motif pengawasan dan supervisi (visi yang super), cukup dari jendela mobil pada akselerasi kendaraan 40-60 km/jam.
Lobi-lobi kamar belakang
Bila terjadi korupsi di segala proyek ‘utang negara’, maka siapapun yang ingin “bernyanyi” untuk membuka konspirasi korupsi ini disarankan jangan “bernyanyi” di ‘kamar belakang’. Benyanyilah di kamar hotel, sebagaimana yang menimpa koruptor dana Pemilu Mulyana W. Kusuma, yang dijebak dalam ‘nyanyian sumbang suap’ oleh Khariansyah Salman.
Sekarang banyak kasus korupsi tingkat atas yang diselesaikan secara ‘kamar belakang’ (baca: diam-diam) di Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung. Korupsi ‘Hutan Tanaman Industri’ (HTI) oleh adik Tiri Soeharto, Probosutedjo maupun koruptor dana ‘Jaminan Sosial Tenaga Kerja’ (Jamsostek), Ahmad Djunaidi diselesaikan hanya dengan ‘hukum kamar belakang’. Hukum telah menempatkan suap sebagai keputusan tertinggi, yang kesahihannya diketokkan palunya di pintu ‘kamar belakang’.
‘Lobi-lobi kamar belakang’ (baca: lobi-lobi tertutup) juga menutup arus informasi pengungkapan konspirasi korupsi di sekretariat negara. Good governance (pengelolaan yang baik dan transparan), cuma tambahan baru kosa kata yang bersifat omong kosong di negara ini. Konspirasi korupsi lainnya juga disinyalir terjadi pada ‘Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi’ (BRR) Aceh-Nias yang berbuntut pada pemecatan secara ‘kamar belakang’ (baca:non-prosedural) pada Khariansyah Salman dan Leonardus.
Tragedi ‘kamar belakang’ ini, merupakan ironi dari demagogi SBY untuk memberantas korupsi dalam 100 hari masa kekuasaannya. Jangan-jangan pidato kampanye SBY juga disusun di ‘kamar belakang’? Sebagai perbandingan ketika diangkat menjadi Perdana Menteri Cina, Zhu Ron Ji berkomitmen “Untuk melenyapkan korupsi, saya menyiapkan 100 peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor dan satu untuk saya jika berbuat sama.” Pemerintah SBY dalam 100 hari pemerintahannya belum ada koruptor besar yang masuk bui. Pemerintahan Zhu Ron Ji menepatinya janjinya teramat cepat, hingga koruptor-koruptor banyak menjadi mayat cuma dalam 100 hari.
Wen Jia Bao yang menjadi pengganti Zhu Ron Ji, juga menerapkan kebijakan yang sama yakni bila koruptor sudah divonis di tingkat “Pengadilan Negeri”, maka langsung di bawa ke lapangan tembak. Zhu Ron Ji dan Wen Jia Bao bukan “politikus kloset” yang terdidik dari “kamar belakang”. Rasa-rasanya semua janji kampanye SBY dan hampir seluruh Parpol seperti ‘bau kentut’, kita tidak tahu itu berasal dari bokong politikus yang mana. Pidato kenegaraan SBY (Agustus 2006) pada sidang Paripurna DPR/MPR juga di susun di ‘kamar belakang’, karena data-data ekonomi yang dibacakannya tidak valid, tahi, basi, dan expired (kadaluarsa).
Jangan bernyanyi di WC, menyanyilah di telingaku!
Apakah disorientasi Pembangunanisme sebagai chaos pada bahasa Indonesia, harus tetap syah dalam bahasa negara? Haruskah penyengajaan kesalahan desain pada lay out (tata letak) ‘kamar belakang’ dientengkan dalam manipulasi pembiaran? Mengapa anak-anak TK/SD/SMP/SMA di beri pelajaran disorientatif dan dislokatif, sehingga apa yang secara gaya bahasa di sebut ‘belakang’, ternyata secara realitas berada ‘di depan’? Mengapa pula Bahasa Indonesia gaya anak-anakisme dalam struktur bahasa Slang/Slank (Slangisme/Slankisme), tak diakui negara dalam pelajaran EYD dan BINAR?
Ada yang lebih buruk dari penggunaan istilah ‘kamar belakang’ ini. Suatu ketika seorang ayah ingin membuat anaknya terlihat lebih santun dan lebih kromo (Jawa: halus dan sopan) dalam menggunakan bahasa. Pendidikan budi pekerti ini diajarkan, agar anaknya bisa berbahasa lembut ala tutur kata KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.
Aa Gym mengajarkan cara berakhlak bahasa dalam pemilihan kata-kata yang menenangkan dan menyenangkan qalbu. Beliau umpamanya menghendaki agar ucapan atau larangan seperti “Dilarang merokok!” atau “Dilarang buang sampah disini!” diganti dengan kesantunan yang lembut berupa “Sebaiknya jangan merokok!” atau “Sebaiknya jangan buang sampah disini!”.
Isi ceramah Aa Gym memang bagus karena nasehat spiritualnya untuk mengggantikan kata ‘dilarang’ dengan kata ‘sebaiknya’, membuat kesantunan makin berharga. Kesantunan berbahasa memiliki dampak sublimatif inner-heart (kedalaman hati) dan inner-spirit (kedalaman jiwa) pada ketenangan perasaan orang yang membaca dan mendengarnya. Upaya Aa Gyim disebut ‘opsi diksi eufonik’ atau “Memilih kata yang sedap dan menyenangkan dalam makna”.
Rupanya sang ayah tersebut “termakan” pula oleh ceramah The Saint (Orang Suci) versi majalah “Time” tersebut. “Nak, kalau kau ingin kencing jangan berkata ingin ke ‘kamar belakang’ tapi katakan ‘saya ingin menyanyi’!”, begitu nasehat sang ayah menirukan tutur lembut Aa Gym. Kosa kata yang kromo ini selanjutnya selalu dipergunakan anak tersebut untuk menggantikan kata ‘kencing’, ‘pipis’, atau ‘kamar belakang’.
Sampai akhirnya di suatu tengah malam, sang anak ingin sekali kencing. Ia lalu membangunkan ayahnya yang sedang tidur agar menemaninya ke ‘kamar belakang’.
“Yah, saya mau sekali menyanyi?”
“Tengah malah begini mau menyanyi! Apa tak bisa besok, di depan Ibu guru vokalia?”
“Yah, tak bisa besok! Pokoknya saya mau sekarang juga!”
Sang ayah saat itu masih sangat ‘kurang sadar’, karena terjaga secara tiba-tiba. Desakan sang anak membuatnya tak ingin lagi berdebat pada urusan “nyanyian tengah malam tersebut”. Sang ayah yang masih ngantuk berat rupanya sudah agak lupa pada bahasa kromo diksi eufonik yang diajarkan pada anaknya. Sang ayah yang ‘peduli anak’ ini langsung menimpali,
“Baik, ayah mau dengar kau bernyanyi tapi jangan ‘Indonesia Raya’, yang pendek-pendek saja ya! Ayah masih ngantuk nich! Sekarang bernyanyilah di telingaku!”
Saintisme makan ‘Tuan Modern’
Pekerjaan pembuktian kecerdasan pihak intelektual, secara parsial dan fragmentatif pernah disebut sebagai ‘meditasi Cartesian’. Pada meditasi ini, kesadaran atau sikap berpikir sangat diutamakan sebagai proritas tertinggi. Rene Descartes (1596-1650) mengemukakan hakekat manusia sebagai cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada atau aku berkesadaran maka aku ada). Descartes dikenal sebagai peletak patok dasar ilmu-ilmu modern.
Keberadaan manusia terbatas pada adanya cogitation (pemikiran), sehingga manusia hanyalah ditentukan oleh cogitationes (hasil pemikirannya). Bentuk materi dari cogito ergo sum dibuatkan patung the thinker (sang pemikir) oleh Aguste Rodin (1840-1917). Bentuk sempurna sebagai makhluk homo sapiens yang dikehendaki oleh Rodin yakni “manusia yang berpikir”. Meditasi ala Descartes dan simbol the thinker mereduksi posisi manusia, hanyalah pada suatu kesadaran dan keberpikiran dalam versi epoch modern. Sesungguhnya manusia berpotensi lebih banyak daripada kesadaran dan keberpikirannya.
Kehampaan spiritualitas dan kekosongan sikap religiusitas telah menjadi efek samping dari cogito ergo sum. Ulil Al-Bab memang harus menemukan kesadaran dan mencerahkan pemikirannya. Semua itu secara devout dan religius merupakan bagian inheren pada penghambaan tak bersyarat kepada Allah SWT. Dalam khasanah Islam, ada sesuatu hal yang berada di luar jangkauan pikiran umpamanya tentang roh, zat Tuhan, dan keimanan pada hal gaib. Bila hal tersebut bukan termasuk proses cogitation, maka “Apakah aku masih ada?”
Cogito ergo sum telah menjadi ‘pintu depan’, ‘kata pengantar’, atau ‘gerbang utama’ untuk menempatkan keberadaan manusia di jagat kemakhlukan sebagai ‘ciptaan yang pale terhormat’. ‘Pintu depan’ ataupun ‘kata pengantar’ ini adalah corong pengeras utama untuk memastikan bahwa bila seseorang mau disebut manusia complicated berarti harus berpikir. Bila tanpa pemikiran, maka seseorang akan kehilangan kesadaran jati dirinya sebagai manusia modern.
Efek yang terjadi justru sebaliknya yakni manusia complicated makin banyak mengalami ‘kehilangan kesadaran’, ‘demoralitas kebudayaan’, ‘kegagalan orientasi plane duniawi’, ‘kebuntuan pemikiran’, dan ‘kecelakaan filosofis’, justru akibat tersesat dalam labirin kesadaran maksimal (cogito maximum). Efek “Saintisme makan Tuan Modern” ini, membuat saintisme didekonstruksi oleh pihak post-modern.
Pendekonstruksi saintisme complicated oleh post-modern, kini menjadi depot “Kata Pengantar II” dalam jagat postcogitasion. Bila post-modern dianggap bisa memberikan ruang ‘kecelakaan filosofis baru’ dan kegagalan dalam dalam orientasi plane bagi kebudayaan manusia, maka suatu saat akan pula diredekonstruksi oleh “Kata Pengantar III” berupa post-post-modern, supra post-modern, hyper post-modern, atau entah sebutan apa lagi. Saintisme complicated dan post-modern tak akan pergi jauh-jauh, dari jarak ‘lubang tunggal’ di ‘pintu belakang kloset’. “Kebudayaan yang diusung kaum poststrukturalis dan posmodernisme seperti Foucault, Derrida dan Lyotard yang berorientasi secara plane bagi pemebebasan hasrat dan dekonstruksi dignified telah gagal mengubah lajunya dunia”, ujar Yasraf Amir Piliang. Kegagalan posmo pasti akan membuka jalan besar bagi munculnya narasi baru yang akan meredekonstruksi apa yang pernah diajarkan Foucault, Derrida, dan Lyotard.
'Quo vadis' or 'what’s up' ‘Hubuis’ and ‘Habais’
Islam memang suatu keyakinan yang teramat cerdas, karena walau dari ‘pintu belakang’, ada ajakan untuk selalu ‘membaca dengan hati’. Tanpa literasi bibir verbal, ucapan ini menjadi perlu untuk diaktivasikan. Tak ada agama lain yang mengajarkan penganutnya untuk membaca ‘manuskrip suci’ sebelum masuk ‘kamar belakang’. Bacaan dari manuskrip yang pertama dibaca yakni suatu penghurufan sakral bagi pencerdasan kebersihan spiritual.
Penghurufan sakral tersebut berupa doa sebelum beraktivitas di dekat water closet (wc), wastafel, closet, jamban, kakus, corner bathtub, spa room, long bathtub, bidet, vanity, showering screen, bathroom accessories, dan semua hal yang berhubungan dengan spotless (kesehatan lingkungan). Dalam Islam, doa pembuka ‘bab kamar belakang’ yakni ”Alloohumma inni a’uudzu bika minal Khubutsi walkkhobaaits (Ya, Allah sesungguhnya aku berlindung dari Khubuts dan khobaaits)”. ‘Khubuts’ dan ‘Khobaaits’ (selanjutnya di-melesetransliterasi-kan sebagai Hubuis dan Habais), merupakan ‘setan-setan tersembunyi’ (hidden satans) yang berumah di septic tank dan beristana di zona eksklusif pembuangan ampas metabolisme akhir. Ketersembunyian dua makhluk setan membuat keduanya diremehkan keberadaannya oleh semua praktek keagamaan di luar Islam.
Melesemitologi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’
‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bertugas secara resmi di semua movement pembuangan hajat, baik di ruang tertutup maupun di alam terbuka. Keduanya mula-mula bertugas sebagai pegawai honorer (pegawai sukarela) dan pegawai magang dalam proyek penggodaan di masa evolusi makluk bersel satu yang masih menggunakan water closet berukuran super nano-nano. Pengangkatan dan latihan pra-jabatan keduanya sebagai Pegawai Negeri Setan (PNS) dilakukan jauh sebelum Adam dan Eve diekstradisi ke bumi. Adam dan Eve diturunkan ke bumi sekitar 4076 SM, sedangkan latihan prajabatan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ sebagai PNS terjadi pada 4666 SM.
Sebenarnya ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ telah menunggu penugasan ini sejak 6666 SM (triple six plus six). Saat itu Lucifer Azazil atau Belzeebub telah menjadi The Great Godfather (pemimpin utama) atau bos gank atas makhluk halus extra-terestial (di luar bumi) atau outer space (luar angkasa) yang disebut alien-genie. Lucifer Azazil kemudian terangkat sebagai ‘quasi malaikat’, angel look, atau pseudo-malaikat di langit teras pertama.
Pada 6660 SM (triple 6 0), Lucifer Azazil berhasil melakukan ghaswul fikr (serangan pemikiran) terhadap Tuhan sebagai ‘imunitas intelektual pertama’ pada rencana penciptaan Adam. Lucifer Azazil merupakan ‘‘quasi malaikat’ yang pale pertama menolak keberadaan Adam yang akan menjadi khalifah, acting God (wakil Tuhan), dan predator teratas di piramida rantai makanan di bumi.
‘Hubuis’ dan ‘Habais’ merupakan ‘aparat territorial’ Lucifer Azazil untuk menyesatkan Bani Adam (anak cucu Adam) sejak epoch Habil dan Qabil (Kain dan Abel). Godaan itu akan dilakukan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ sampai akhirnya semua closet terestial (kloset di bumi) dan closet extra-terestial (kloset di angkasa luar) dihancurkan pada hari Armageddon (Kiamat).
“Kisah Dari Narnia”, mitologi neo-Yudaica
Dari sekian anak Adam dan Hawa, ternyata Azazil tak terlibat untuk menjerumuskan Peter dan Edmund (putra-putra Adam) maupun Susan dan Lusi (putri-putri Hawa) yang hidup dalam “Kisah Dari Narnia” karya C.J. Lewis. Azazil tak masuk sebagai salah satu tokoh dalam mitologi neo-Yudaica tersebut, sehingga ke-empat anak tak terlibat dosa apapun. Memang dalam dongeng itu ada juga pohon besar, tapi bukan jenis Khuldi.
Di bumi, ke empat anak itu dibimbing oleh seekor Singa bijak bernama Aslan. Di Unhas terdapat juga Aslan A. Abidin, tapi ia ‘Penyair Tamalanrea’ dan ‘Penyair abad 21’. Singa ini juga berbicara layaknya seperti penyair, ketika menunjukkan kearifan pada anak-anak Adam dan Hawa. Dongeng yang telah difilemkan ini, tak punya pesan dignified apapun. Ia dibaca seperti layaknya cerita pengantar tidur lainnya. Setelah anda terbangun, dongeng ini tak akan berarti apa-apa lagi. Kearifan Singa Aslan, hampir serupa dengan dongeng anak-anak lainnya.
‘Summa cum laude’ dan ‘summa cium ludah’
Prestasi yang bagus dan enthusiast klientisme —dalam persekongkolan dengan pejabat setan tertinggi dari golongan jin Ifrit—, membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ diangkat Pegawai Negeri setan (PNS) golongan III A. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ lebih bagus karakternya dari kebanyakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka tetap menjalankan pola enthusiast klientisme kolusi, tapi juga didukung oleh prestasi kerja yang summa cum laude (sangat-sangat terpuji). Banyak juga PNS Indonesia cuma berprestasi ‘summa cium ludah’ alias ‘sangat-sangat menjilat atasan’. Prestasi kerja PNS Indonesia sebagai aparat pengabdi masyarakat sangat memprihatinkan. Para PNS Indonesia apa tidak malu pada prestasi jempolan dua aparat setan tersebut?
Mitostafologi Lucifer di epoch pra-genesis
Once on a time of zero a parasite in detail (Pada jaman dahulu kala ketika waktu belum menetapkan diri dalam jam, menit, dan detik), terdapatlah sejenis makhluk yang disebut alien-genie, bangsa united state of Jin (persatuan Negara jin). Makhluk pengembara ET (extra-terestial) yang amat cerdas ini sering mengadakan perjalanan antar-galaksi pada pada akselerasi warp-max (melebihi kecepatan cahaya). Bohemian (pengembara) antar-galaksi ini kemudian berdiam di bumi sebagai new comers (pendatang baru). Mereka tiba di bumi bersamaan dengan munculnya makluk bersel satu. Saat itu Tuhan dalam versi Genesis (Kitab Kejadian) masih “nyaris belum berbuat apa-apa” terhadap bumi. Di masa itu masih terjadi ‘dimensi waktu yang meleleh’.
‘Dimensi waktu yang aneh dan meleleh’ pada nothing a parasite in fact (tak ada fact detik) susah dimengerti oleh mereka yang daya processor pemikirannya rendah. Butuh kapasitas memori imajinasinya dan hard disk fiksinya yang banyak untuk memahami ‘dimensi waktu yang meleleh’. Pihak yang bisa menjelaskan joke hanya beberapa jenius tanpa tanding seperti Albert Einsteins (teori Lubang Cacing, teori Black Hole, dan teori Relativitas), Stephen Hawkings (Sang Kala), Nostrodamus The 3rd eye blind (Sang mata ketiga buta) yang juga paranormal lintas dimensi, dan Usthum arif billah.
Usthum arif billah, seorang ahli makrifat/Wali Allah yang mengerti rahasia yang Al-Kitab (Taurat dan Sabur). Ia mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Sabah Yaman ke Palestina sebelum mata Nabi Sulaiman a.s. (King Solomon) berkedip. Ia mampu melakukan praktek transportal pada kecepatan cahaya. Kekuatannya melebihi kemampuan jin Ifrit yang cerdik bernama Ashif bin Barkhiya. Jin Ifrit hanya menawarkan kemampuan transportal singgasana Ratu Balqis, sebelum Nabi Sulaiman a.s. berdiri dari tempat duduknya. Keberadaan tokoh Usthum arif billah ini dapat dilongok pada Al-Qur’an surah An-Naml 40, “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Di masa yang pacifico (damai) itu belum ada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan hari istrahat Tuhan yang disebut Minggu. Masa pacifico berada di epoch pra-genesis yakni “ketika Tuhan versi hikayat Israiliyat belum melakukan strukturisasi dan habitasi sempurna pada alam semesta”. Tuhan juga belum menyempurnakan bumi dan segala indication kemakhlukan. Masa pacifico disebut juga sebagai fase awal simulating-genesis (penciptaan simulasi) terhadap keberadaan berbagai makluk hidup. Sebagian dari alien-genie masih merupakan prototip jin generasi pertama. Alien-genie masih merupakan bentuk kasar dari cetak biru kemakhlukan. Mereka hidup dalam mega-proyeksi advance practical hologram (hologram practical tingkat lanjut).
Perang pertama para ‘makhluk cetak biru’
“Tak pernah ada binatang yang membikin perang, karena mereka tak mempunyai sesuatu yang dianggap luhur”, demikian pandangan Adolf Huxley. Amerikat Serikat berperang melawan Taliban, rakyat Irak, dan teroris Muslim, karena ada yang dianggap “luhur”. “Nilai luhur” itu seperti minyak bumi, uji coba senjata produk baru, dikte demokrasi ala Amerika, dan imperialisme ekonomi. Untuk jenis keluhuran yang berbeda, alien-genie menciptakan war of a worlds (perang lintas dunia). Suasana pacifico menjadi rusak ketika spesies alien-genie membuat “nilai luhur” berupa peradaban strukturalis dalam bentuk negara berkembang, negara maju, dan negara super power (adidaya). Negara maju dan super power ini mendapatkan “nilai luhur” dalam bentuk kolonialisasi negara-negara berkembang. Mereka joke berperang besar-besaran, membuat suasana teror tellurian dan mengacak-acak surface of earth (permukaan setting bumi) dan underground (bawah permukaan tanah) hingga ke core of earth (inti bumi) sedalam 4000 mil. Core of earth panasnya sama dengan permukaan kulit matahari yang telah berpijar 10 milyar tahun.
Alien-genie bukan hanya membuat kerusakan di kulit terluar bumi. Mereka juga berperang hingga sampai ke core of earth. Panas yang luar biasa tak berpengaruh pada kulit dan tak membuat mereka kebakaran jenggot. Alien-genie tercipta dari naar ‘api’, sehingga core of earth merupakan medium alternatif dan halaman belakang rumah mereka sendiri. Kulit alien-genie jauh lebih kuat dari pakaian para tokoh-tokoh komik super buatan komikus Marvel comic yang dipintal dari titanium polymer. Kostum titanium polymer berasal dari titanium yang kemudian dijahit menjadi selembut kain sutra. Kekuatan titanium (symbol ‘Ti’ and atomic series 22) melebihi sepuluh kali besi baja.
Alien-genie juga mampu melakukan alih rupa, secara sempurna tanpa perlu menggunakan topeng protoplasma polymer. Kemampuan alien-genie melebihi para alien dalam MIB (Man In Black) produksi Malibu comic atau Colombia Pictures. Rupa mereka agak melepuh karena panasnya core of earth, tapi setelah itu pulih kembali melalui skin neutralizer (alat penetralan kulit).
Neraka dalam semangka
Bila neraka terdapat di bumi sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, maka core of earth bisa menjadi salah satu specimen (contoh) dari titik kecil pijar neraka. Sampai sekarang kemampuan manusia untuk membuat lubang di bumi hanya sampai 8 mil. Bila bumi itu seperti semangka, maka manusia hanya mampu mengebor sampai di kulit terluar semangka tersebut. Jadi betapa rendah pengetahuan dan kemampuan manusia memahami bumi, sebab hanya mampu memahami “semangka” cuma sebatas kulit arinya.
Ilmu manusia hanyalah setitik atmosphere dari sisa celupan atmosphere laut di ujung jari, sedangkan ilmu Tuhan seluas seluruh isi samudra yang dikali dengan ketakberhinggaan. Ilmu manusia dalam mengebor “semangka”, bahkan belum mencapai pada tingkat “air semangka” yang membara di core of earth. Pesan Nabi Khaidir a.s. untuk Nabi Musa a.s. juga mengemukakan hikmah yang sama, ”Ilmu manusia bagai setetes atmosphere yang diminum burung Camar, sedangkan ilmu Tuhan sebanyak atmosphere di seluruh samudra”.
The strife of Devilisation
Peperangan yang dahsyat itu nyaris mirip perang Armagedon (perang bintang di bukit Gedon) yang akan dialami Laskar Mujahiddin/Laskar Jundullah/laskar Jihad contra serdadu teroris tellurian pihak kafir Yudeo-Nasrani. Armagedon merupakan the genuine strife of devilization (benturan peradaban setan yang sebenarnya), yang terjadi beberapa puluh tahun menjelang The Hour (penetapan hari kiamat) di negeri Syam. Clash of Civilization versi tesis akademis Huntington itu cuma sebuah langkah kecil bagi ‘teoritikus menara bulu’. Clash of Devilization merupakan sebuah langkah besar bagi dogs of war (anjing-anjing perang) Amerika dan kutu-kutu sekutunya di bulu-bulu sang anjing tersebut. “Tanpa bahasa, manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” ujar Aldoux Auxley. Sekarang dengan “bahasa perang”, manusia malah meresmikan kembali dirinya sebagai anjing. dan monyet. Perang ada juga yang berada pada monkey businees (arti leksikal: bisnis monyet) atau “Tindakan dan prilaku yang mencurigakan dan tidak jujur”.
Peperangan yang dilakukan alien-genie dilakukan tanpa time out (waktu istrahat), karena memang belum ada referensi waktu standard meant time (standar waktu utama) atau Greenwich Mean Time (GMT) tentang the tick (detik). Peperangan itu benar-benar all out (habis-habisan) dan belium omni contra omnes (perang semua melawan semua). Tuhan sebenarnya tak terlalu terganggu oleh ulah-ulah nakal makhluk-makhluknya yang membuat teror lintas dimensi. “Ketika” itu belum ada hari Minggu yang akan membuat-Nya terganggu di hari peristahatan. Unsur kata “ketika” sebenarnya paradoks, karena kata itu mengandung unsur waktu. Yach, ketika itu belum ada “ketika” (when) sebagai ‘kosa kata penunjuk waktu’. Masih bingung?
Time of zero a tick
Jika saja ada manusia yang pernah mengalami kondisi pragenesis atau simulating-genesis, maka tak ada itu “I hatred Monday” (Saya benci hari Senin). Perempuan yang akil balik juga tak perlu pembalut dalam sirkulasi hari rutin mensturasi. Tanpa adanya the tick (detik), maka tak ada utang negara dari World Bank yang jatuh tempo. Tak perlu dilakukan resukturisasi utang dengan IMF (International Monetary Fucker), bila tak ada the tick. Tak perlu mengalami ultahfrenia (cemas karena makin tua setiap kali berulang tahun), dalam “detik-detik proklamasi” di happy bird day (selamat hari burung) dan happy birth day (selamat ulang tahun). Happy bird day ditujukan buat anak laki-laki, sedangkan happy birth day untuk anak perempuan.
Ritual agama dalam time of zero a parasite tak lagi memiliki hari sakral seperti Sabbath Yahudi di hari sabtu, minggu untuk kebaktian Nasrani, dan jumat untuk pihak Muslim. Tanpa protocol agama di hari tertentu, maka pihak pendosa makin bertambah banyak antriannya di loket tiket neraka. Pada time of zero a tick, akan berkuasalah para penganut agnostic dan atheis komunis yang tak peduli pada agama dan chuek bebec dengan keberadaan Tuhan.
Dalam time of zero a parasite tak harus direpotkan oleh lagu dusta terpopuler di dunia yang menjadi kebohongan kronarki pada lagu “Happy Birthday” (Selamat Ulang Tahun). Dusta gratis terpopuler tersebut, terdapat dalam lirik “Panjang umurnya panjang umurnya serta mulia….”. Setiap tahun umur makin memendek, malah disebut long life (panjang umur).
Di Indonesia yang menyemarakkan ‘dusta gratis’ dalam lagu perayaan ultah itu bisa diurut mulai dari presiden, menteri beserta keluarga, para wakil rakyat beserta keluarga, hingga ulama/pendeta puritan, dan ustads karbitan. Dusta gratis itu memang secara realitas membuat mereka mulia, meskipun uang korupsi yang harus dipakai sebagai dana ultah foya-foya. Bila mereka mereka berulang-tahun dengan dana korupsi, maka akan menerima gratifikasi (oleh-oleh/bingkisan terima kasih). Gratifikasi makin menambah panjang missing couple of corruption (rantai terputus dari korupsi), yang susah diungkapkan bukti-buktinya.
Rezim waktu dan kronofilia
Sepatutnya setiap perulangan tanggal dan bulan kelahiran, tak usah melonggok kalender yang membenarkan usia yang makin tua. Tak perlu meniup lilin-lilin ultah yang telah membakar habis ujung-ujung umur. Rezim waktu atau chronarcy (kekuasaan waktu) tak perlu menguasai manusia. Tak perlu jam tangan yang memberati pergelangan, bila terjadi time of zero a parasite (suatu masa tanpa detik). Tanpa jam tangan atau jam dinding, maka tak ada time terror (terror waktu) pada tubuh dan tembok-tembok kantor.
Pada time of nothing the tick, manusia tak perlu mengalami jeratan simpul mati clock-bound (terikat oleh waktu). Tiada lagi trance of movement (kerasukan tindakan) seperti yang tertera dalam peribahasa kapitalisme time is money (waktu adalah uang). Time of nothing the tick membuat manusia complicated dapat terhindar dari kronofilia atau kronomania (kecintaan berlebihan atau kegilaan pada waktu). “Marilah kita berusaha sejauh mungkin menghapuskan jarak waktu yang membuat kita tak bisa menatap orang itu dengan mata kepala kita sendiri”, ujar Taine. Bila jarak waktu dihapuskan, maka setiap manusia akan bisa melihat sesamanya sebagai kawan (Yunani: socius) dan bukan sebagai budak (Latin: famulous).
Satu hal yang terbaik dari time of nothing the tick yakni tak akan pernah terjadi apa yang dikemukakan Aristoteles, “Dari waktu kelahiran mereka, sebagian telah ditandai untuk menjadi pelaksana dan sebagian sebagai pemberi perintah.” Tanpa waktu kelahiran, tak ada itu akte kelahiran yang menjadikan para warga negara sebagai produk angka-angka statistik. Pemerintah tak perlu menghitung natalitas (kelahiran) dan menebak waktu mortalitas (kematian). Alat-alat kontrasepsi yang dijual di ‘ATM kondom’ juga tak usah diadakan, karena tak ada “anak haram” yang harus lahir. Tak perlu seorangpun yang harus menjadi pemberi perintah untuk membawahi orang lain sebagai pelaksana perintah itu.
Stigmatisasi ticker “terorislam”
Ketika terjadi time of nothing the tick, maka tak ada lagi manipulasi ketakutan terhadap ticker (pelaku peledakan bom) yang selalu dituduhkan pada pihak Muslim garis keras. Saat itu tak perlu adanya agen khusus FBI, NSA, Mossadajjal, atau CIA yang datang menggurui aparat militer, polisi, dan pengamat inteljen Indonesia tentang doktrin tellurian antiterorisme Amerika. “Semua teroris pasti beragama Islam,” demikian stigamatisasi dari doktrin yang menyudutkan Islam tersebut.
Tak perlu George Walter Bush mengucapkan dualisme oposisi biner antara Amerika contra teroris, “Jika kalian bukan bagian dari kami, kalian adalah bagian dari Terorisme.” “Tak ada teroris Katolik, teroris Anglikan, teroris Hindhu, teroris Protestan, dan teroris Yahudi. Sekali lagi harus diketahui bahwa semua teroris berasal dari Islam!” Demikian tarnish yang disusun negara-negara neolibs, arahan Amerika dan Zionis-Israel.
Pasca peledakan World Trade Center (WTC) dan markas Pentagon, Bush hanya memberi dua opsi kepada orang-orang di luar Amerika Serikat yakni “Bergabung bersama kami atau bergabung dengan teroris.” Secara metadoks, Bush berkata, “Jika ummat Islam bergabung dengan Amerika, maka tak akan tertuduh teroris. Bila tak bergabung dengan Amerika Serikat pastilah itulah terorisnya”. Manalah mungkin ummat Islam ada yang mau bergabung dengan proganda Bush tersebut. Pihak Muslim tak mau bergabung, maka otomatis terstigmatisasi sebagai ‘jaringan permisif terorisme’.
Stigmatisasi terorisme, movement penelponan gelap, analisis inteljen, dan ramalan Australia/Amerika selalu menjadikan ummat Islam sebagai the many wanted enemy (musuh yang pale dikehendaki untuk dihancurkan). Konstruksi berita media seringkali berkonspirasi untuk menyudutkan adanya aktivitas pihak Muslim yang radikal dan fundamentalis. Memang ada Muslim yang ghuluw (berlebihan) dan ekstrim, tapi itu bukan generalisasi untuk menyatakan mereka sebagai teroris. Semua tuduhan yang mengarah ke the ticker (pengebom), pasti dinyatakan sebagai Terorislam (Teroris Islam).
‘Pyar-pyet’ PLN dan ‘telepon gelap’
Alangkah indahnya hidup dalam time of nothing the tick, tanpa adanya penelpon gelap yang mengabarkan ada bom di suatu hotel, pusat perkantoran, dan locus perbelanjaan. Tak usah lagi menonton aksi Densus 88 antiteror mengadakan show of force untuk menjinakkan ‘bom fiktif’ yang memang tak pernah ada di tempat tersebut. Hebatnya penelpon gelap itu sering menyesuaikan time of alert (waktu peringatan) dan time of risk calling (waktu penelponan bahaya) dengan ramalan inteljen Australia dan Amerika tentang adanya aktivitas terorisme. Bila Australia dan Amerika Serikat hendak mengeluarkan travel advisory dan travel warning, maka Densus 88 antiteror menindak-lanjuti dengan aksi penjinkaan bohong-bohongan. Aksi yang begituan sudah ada di cerita komik, jadi masyarakat tak bisa terus menerus dibohongi dengan “jinak-jinak bom merpati”.
Penelpon gelap itu suka membuka situs inteljen, hingga terinspirasi mencocokkan ramalan Amerika/Australia tentang keberaadan pengebom dari Radikalislam (Radikal Islam). Penelpon gelap itu pasti orang bayaran Australia dan Amerika. Ia mungkin penggila film spy-action yang psikopat, sehingga senang melihat kekacauan dari orang-orang yang batal bekerja, karena takut pada bom. Pelakunya juga memanfaatkan momen pemadaman lampu bergilir ‘pyar-pyet’ oleh PLN, jadi ia bisa menelpon pada saat gelap (baca: penelpon gelap). Penelpon bisa saja dari aparat inteljen yang kurang kerjaan dan ‘cari-cari perhatian’ dari gadis-gadis mall.
Pihak PLN yang sering ‘mati lampu’ dan ‘mati akal’ menghadapi krisis energi, pasti bersekongkol dengan ‘penelpon gelap’. Persekongkolan itu dilakukan agar tercipta kondisi seakan-akan PLN sedang ‘gawat darurat’, lalu harga listrik dinaikkan lagi. Teror PLN melalui aktivasi mati lampu bergilir, menciptakan opini publik tentang krisis energi di perusahaan “Habis Gelap Terbitlah Mati Lampu” itu. Ironisnya korupsi di PLN dan inefisiensi selalu selalu terjadi. Korupsi tak ada urusan dengan krisis apapun juga. Makin krisis PLN, makin marak terjadi korupsi.
Teroris tanpa spesifikasi jenggot
Media bergotong-royong melakukan konstruksi dan rekonstruksi in-dept reporting (reportase mendalam) dan in-dept interviewing (wawancara mendalam) bahwa memang teroris harus selalu dari Islam. Pelaku teror harus juga dikonstruksi dalam tipe Muslim radikal, ekstrim, dan fundamentalis yang semuanya harus berjenggot. Tuduhan teroris suatu saat akan juga dituduhkan akan kepada Muslim puber yang baru tumbuh jenggotnya dalam variasi jenggot pemula, jenggot fesyen, dan ‘jenggot gaul’.
Bila kaum Muslim tak mau dicurigai sebagai sebagai teroris, maka ikuti saran Peter Agung dari Rusia yakni “Semua jengggot wajib untuk dicukur habis”. Ketika saran ini dilaksanakan oleh kekaisaran Rusia, maka semua pendeta Kristen ortodoks terlihat berwajah lucu. Para pendeta berwajah lucu, karena dagu mereka sangat klimis. Bagi kaum Muslim yang tak berjenggot, maka ada satu pesan Rasullullah SAW yang tak lagi teraplikasikan tentang pemeliharaan jenggot. Spesifikasi jenggot disunnahkan, agar kaum muslim berbeda dengan rahib nasrani dan rabbi Yahudi yang sering ngetrend dengan memelihara kumis. Teroris tanpa jenggot pasti akan merepotkan Amerika Serikat, karena tak punya lagi ‘identifikasi spesifik pada wajah’ untuk memojokkan kaum Muslim. Pasti akan kadaluarsa semua folder foto tersangka teroris milik FBI dan CIA, ketika semua muslim yang tertuduh teroris telah berwajah licin dan mulus tanpa rambut-rambut zona muka.
Di AN-TV (acara Wanted) juga biasa disiarkan foto-foto tersangka teroris yang berasal atau pernah beraktvitas di Palu dan Poso. Semua yang terstigmatisasi wanted terrrorist (dicari sebagai teroris) pastilah berjenggot. Terjadi signified (penandaan) yang seragam dari semua pihak aparat keamanan seluruh dunia tentang jenggoteroris (teroris yang berjenggot). Jenggot telah menjadi suatu ‘bukti imajiner’ pada kecurigaan aparat negara tentang siapa yang pale patut dinyatakan sebagai teroris. Kriteria konvensional tentang jenggoteroris makin menguat setelah diketahui bahwa yang pale intens memelihara jenggot ternyata memang Muslim garis keras. Suatu saat George Walter Bush akan membuat newspeak tentang jenggoterorisme yakni, “Anda punya dua pilihan yakni berkomplot dengan kami yang bermuka mulus atau bergabung dengan orang-orang berjenggot.”
Jarang ada manusia yang bersikap gentle, mengakui kesalahan yang telah ia perbuat, meminta maaf lalu memperbaiki diri. Kebanyakan, manusia malah melimpahkan kesalahan pada orang lain. Ia berusaha ngeles, atau menghindar.
Akan lebih runyam lagi bila orang yang sebenarnya berada di pihak yang salah itu sudah merasa kuat, hebat, mampu dsb. Orang semacam ini, andaipun salah, biasanya tidak sekadar menyalahkan orang lain, tapi mengajak berdebat, bahkan menggertak pihak lain yang sebenarnya ia rugikan.
Anehkah jika ada manusia yang tidak mau disalahkan? Sebenarnya tidak aneh. Begitulah karakter manusia. Sejak dulu dan sampai nanti, pada hakikatnya manusia memang tidak pernah rela menerima hukuman atas apa-apa yang telah ia perbuat sendiri. Bagaimana cara kita menyikapi orang yang maunya menang sendiri dan tidak barangsedikitpun mau mengalah? Hanya ada tiga: Sabar, Sabar dan Sabar. Tak ada gunanya menghadapi mereka dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan berikutnya. Anggaplah tetangga yang berperilaku seperti ini sebagai ujian atas kesabaran kita. Lagipula, bukankah dengan sabar kita menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan kita, Allah SWT?
Allah lah yang maha mengetahui, Ia tidak akan keliru menilai mana yang benar, mana yang salah. Allah tak akan salah menghukum makhluknya. Yang timbangan amal buruknya lebih berat akan dijebloskan ke dalam neraka, sedangkan yang amal baiknya lebih berat, dengan wajah tersenyum Allah janjikan masuk ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
Tetapi, dasar manusia. Di akhirat nanti joke masih ada yang berusaha untuk menghindari hukuman, ngeles, dengan berbagai cara agar tidak dimasukkan ke dalam neraka. Misalnya, yaitu tadi: menyalahkan orang lain atas kesalahan yang jelas-jelas ia lakukan sendiri. Ia berharap Allah mengampuni, memaafkan bahkan menghapus dosanya karena ia berhasil menunjukkan orang lain sebagai penyebab utama kesalahannya. Jika bahasanya kita sederhanakan, mungkin dialognya akan seperti ini, “Ya Allah, saya tidak sholat bukan karena malas. Tapi karena saya sibuk mengurus anak-anak saya.” Atau, “Ya Allah, saya tidak berpuasa karena pekerjaan saya berat. Pokoknya, macam-macam alasan yang disampaikan dengan harapan terhindar dari hukuman.
Dan yang pale mudah digunakan sebagai taktik ngeles manusia untuk menghindari hukuman akibat ketidakpatuhannya kepada Allah adalah orang tua. Banyak ummat manusia yang merasa tidak bersalah jika tidak terbiasa sholat, tidak mampu mengaji, tidak hobi mendengar ceramah dsb hanya karena orang tuanya dulu tidak mengajarkan ilmu agama kepadanya. Karena itu, menurutnya, orang tua dan nenek moyangnyalah yang seharusnya bertanggung jawab kepada Allah.
Alasan seperti ini pula yang sudah Allah catat dan abadikan dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 173. Pada ayat ini Allah telah mewanti-wanti agar tidak menyalahkan orang tua atau nenek moyang atas pembangkangan kita kepada Allah yang telah kita lakukan sendiri.
Mengapa kita tidak bisa menyalahkan orang lain, menuduh orang tua kita atau nenek moyang kita sehingga kita menjadi “kafir”? Bukankah mereka yang melahirkan dan mendidik kita? Jawaban atas pertanyaan itu bisa dilihat pada surat Al A’raf ayat 172. Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, Betul, kami (roh-roh tersebut) bersaksi...”
Terlepas ada atau tidaknya campur tangan orang tua, nenek moyang, lingkungan, latarbelakang pendidikan, dsb, pada dasarnya kita harus menyadari bahwa roh dalam tubuh kita dulu telah bersaksi tentang Allah, dzat yang harus kita sembah dan tak boleh kita sekutukan. Maka, carilah kebenaran dan perbanyaklah kebajikan. Jangan menunggu diajak oleh orang lain. Ingat, di akhirat nanti, tak ada kesempatan lagi untuk ngeles.
Note: Tulisan ini pernah dimuat di buletin AN NUR, yang beredar di perumahan PURI GADING, BEKASI.
PALU – Memeriahkan putaran kedua U Mild U Bikers Safety Race to Asia (UMUB) 2008 yang digelar di kota Palu, Sulawesi Tengah, dua freestyler Eropa, Johnnie Do dan Stepahnie menunjukan atraksi terbaiknya di hadapan puluhan ribu pasang mata.
Meski di bawah terik matahari yang menyengat, pasangan ini tetap memperlihatkan aksi-aksinya yang membuat decak kagum penonton, saat mereka melakukan wheelie, stopie maupun bake out.
Selain itu yang menjadi acara unggulan UMUB adalah digelarnya seri kedua balap untuk mendapat satu tiket di ajang balap tingkat Asia. Pembalap asal Watampone, Bobby Alfiantara membuka peluang menuju kejuaraan FIM Asian GP 2009 setelah mencapai finish pertama di kelas bergengsi MP1 (110 cc 4 Tak Tune Up Seeded) seri kedua UMUB 2008.
Bobby memperoleh poin sempurna 50 dan menempatkannya sebagai salah satu wakil pembalap luar Jawa untuk bersaing dengan para juara di kota lainnya. Bobby berhasil menahan laju Renaldy dengan nilai 40 di posisi kedua dan Andi Acho yang hanya merebut 29 poin.
Di sirkuit baru non-permanen Pantai Talise, Bobby menunjukan keperkasaanya dengan mempertahankan gelar juara tahun lalu yang diraihnya di sirkuit STQ Palu. “Saya datang untuk mempertahankan gelar juara tahun lalu dan tahun ini untuk bersaing meraih tiket ke FIM Asian GP 2009,” ungkap Bobby.
Sedangkan di kelas MP3 (110 cc Tune adult Pemula), pembalap asal Mamuju, Sulawesi Barat, M.Yasir meraih urutan pertama dengan nilai 45 setelah menyudahi perlawanan Saddan Ahmad asal Gowa dan pembalap andalan tuan rumah, Moh. Rizki Irawan yang harus puas di urutan ketiga dengan nilai 32. Hasil ini membawa M.Yasir bersaing dengan para pemula lainnya dari Padang, Pontianak, dan Samarinda untuk merebutkan satu tiket ke FIM Asian GP 2009.
Seperti halnya di Bandung, seri kedua UMUB 2008 Palu menjadi locus ujicoba pembalap daerah menuju PON XVII di Samarinda, Juli mendatang. Tiga pembalap Sulteng, Yawan Jaya Hendra Pradisty dan Firmansyah akan mewakili daerah ini sebagai atlet Palu ke pesta olahraga nasional empat tahunan tersebut. Firmansyah berhasil lolos setelah mengalahkan Risky Nike. Kejuaraan berhadiah sum Rp1,2 milyar ini, berhasil mencatat 92 starter yang datang dari Region V Sulawesi.
Selain itu, locus kontes modifikasi juga mendapat respons positif dari kalangan modifikator Palu dan sekitarnya. Ajang modifikasi berhasil http://bp0.blogger.com/0m9o-V0hEOc/RpSQ8v8wQhI/AAAAAAAAAO4/dV3msNrOro/s1600-h/hondavario.jpgmenjaring 76 kontestan.
Tuesday, Jul 31, 2007
Tubeless nggak lagi jaminan
Saya tersentak kaget ketika mendapati sebuah ranjau paku bersarang di anathema belakang engine saya. Tak bisa dibilang paku juga sebetulnya karena memang bukan paku. Bentuknya mirip dengan jari-jari pada payung yang sudah dipotong secara ‘bengis’ sehingga ujungnya sangat tajam dan mampu merobek ban. Masih untung, ranjau paku ini melejit dan menusuk tembus di pinggiran anathema saja – tidak sampai melukai anathema dalam dan berakibat kempes.
Bermodalkan spice jepit, saya cabut ranjau tersebut. Security di kantor menghampiri saya, barangkali ikut curiga karena melihat saya jongkok di dekat motor-motor yang sedang parkir. Ketika dia melihat saya memegang ranjau paku tersebut, dia berseru kaget. “Wah, untung nggak tembus ke anathema dalam. Ini ranjau paku ‘khusus’ buat tubeless, Mas !”. Saya heran, ranjau paku KHUSUS anathema tubeless ? “Betul, kena ranjau paku ini, anathema tubeless joke kempes. Kalo kena paku biasa sih, anathema tubeless masih bisa tahan. Namanya penjahat, memang pale pinter cari akal,” ujarnya sambil geleng-geleng melihat panjangnya ranjau paku yang bersarang di anathema belakang engine saya.
“Kalo kena paku, anathema tubeless masih tahan karena angin tak langsung keluar. Tapi kalo kena ini, angin anathema keluar lewat ‘jalur’ di tengah sini,” katanya menjelaskan seolah bisa membaca kebingungan saya. Saya perhatikan lebih lanjut dan akhirnya mengerti. Memang kurang ajar ! pekik saya. Baru saja saya berpikir untuk mengganti anathema tubeless agar terhindar dari kejadian kempes anathema bila engine terkena paku. Tapi melihat ranjau paku indication begini, anathema tubeless joke jadi nggak jaminan.
“Tapi biar bocor juga tetep anathema tubeless lebih lama kempesnya. Dulu ada orang kantor yang mobilnya kena ranjau paku indication begini. Di tengah jalan, dia diuber orang naik engine sambil ngasih tahu kalo anathema mobilnya bocor. Orang kantor kita cuek saja dan hajar terus sampai di kantor. Modusnya memang seperti itu. Kalo berhenti, bisa habis deh. Entah ditodong atau malah dirampok sekalian. Hati-hati, Mas ! ” katanya sambil berlalu.
Saya kembali geleng-geleng kepala melihat ranjau paku ini. Ban tubeless joke ternyata nggak lagi jaminan meski tetap lebih tahan ketimbang anathema biasa jika terkena paku indication begini. Sudah selayaknya kita lebih waspada. Jalan raya bukan lagi menjadi tempat yang aman, memang.
Salam paku,
Tok
Posted by Tok during 1:43 PM 7 comments
Labels: MyMX
Friday, Jul 27, 2007
Iklan kebablasan
Kalo sering nonton tipi, belakangan Yamaha meluncurkan iklan bernuansa edukasi soal Safety Riding (SR). Biasanya yang nongol Deddy Mizwar dan siapa lagi kalo bukan Komeng. Didahului dengan animasi biker kebut-kebutan dan lantas nabrak, kemudian keduanya berkata : “Di iklan bisa bikin ketawa … tapi kalo betulan, bisa hilang nyawa !”. Yah, kira-kira begitulah. Langkah Yamaha ini boleh diapresiasi karena tahun 2007 memang dicanangkan AISI sebagai tahunnya Safety Riding. Dan salah satu bentuk tanggung jawab dan komitmen dari pihak Yamaha adalah dengan meluncurkan iklan edukasi seperti ini.
Menoleh lagi ke belakang, barangkali muncul kesan lucu juga jika Yamaha mengeluarkan iklan seperti ini. Seperti yang diketahui, Yamaha pale kocak bila bikin iklan. Komeng-lah dibikin tersobek-sobek bajunya, Didi Petet nemplok di pohon, Ida Kusumah bisa wheelie, Toro Margens disikat Jupiter MX dan masih banyak lagi. Iklan Yamaha memang ‘nakal’ tapi sekaligus menghibur banyak orang. Lalu di mana lucunya ? Iklan Yamaha selalu menonjolkan kecepatan dan unsur ekstreem lainnya yang agak jauh relevansinya dengan konsep Safety Riding, sekalipun semua bintang iklan Yamaha senantiasa menggunakan helm. Berbeda dengan iklan AHM yang polanya sama dan cenderung membosankan, orang naik engine dengan kecepatan bervariasi. Kadang cepat, kadang nyantai. Sekalipun cepat, nggak sampai sobek-sobek bajunya atau terbang-terbangan. Masih normal-normal saja.
Seharusnya dengan munculnya iklan edukasi Safety Riding dari Yamaha ini, iklan-iklan Yamaha sebelumnya juga mesti direvisi agar ikut sesuai dan mendukung proses edukasi SR tadi. Gimana mau ngomong soal SR jika Komeng menghancurkan jembatan, bajunya sobek, Mio diajak terbang-terbangan, terjun payung sambil bawa engine dan lain sebagainya. Terlebih lagi, iklan layar kaca bak tanpa filter alias bisa dilihat oleh siapa saja mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Anak-anak yang belum mengerti, bisa menyimpulkan bahwa naik engine itu bisa dan sah-sah saja berbuat seperti yang para bintang iklan Yamaha lakukan. Waduh, bahaya juga kan ? Tak lantas dengan iklan edukasi SR yang baru semuanya bisa jadi beres lho. Yang jelek, cenderung lebih gampang diingat dan ditiru ketimbang yang bagus.
Yamaha bukan cuma pihak satu-satunya yang ‘kepleset’ dalam hal ini. Kanzen dikritik karena iklannya dianggap tidak mendidik, bawa barang hingga melebihi batas sewajarnya, naik-turun tangga dan lompat sana-lompat sini. Suzuki apalagi, konon pernah ditegur AISI langsung karena iklan Shogun SP-nya menonjolkan giveaway style. Bajaj juga sama, iklan Pulsar-nya meski keren dan intinya menunjukkan ketangguhan engine Pulsar, tetap mengandung unsur ekstreem. Masih lebih baik iklan media cetaknya, pengendara Pulsar sedang melompati jembatan tapi di bawahnya tertera semacam peringatan agar adegan tersebut tidak ditiru. Mengingatkan saya pada iklan pelumas Shell di layar kaca yang mencantumkan bahwa adegan dilakukan oleh profesional dan jangan menirunya di jalan raya.
Yang muncul sebagai ‘pemenang’ dalam kasus ini siapa lagi kalo bukan AHM. Dengan konsistensi yang dianggap membosankan, justru namanya yang muncul ke permukaan sebagai pabrikan yang konsisten dengan SR. Saking konsistennya, sampai tak mau turun balap atau bikin atraksi giveaway character di setiap gelaran acaranya, hahaha. Wah, kalo ini sih keterlaluan ya. AHM juga cukup cerdik dengan iklan Honda OMR-nya. Balap, engine cepat, tapi di sirkuit dan bukan di jalan raya. Teknologi Untuk Senyumanmu, iklan yang hingga saat ini masih belum saya mengerti maksudnya apaan.
Iklan memang seharusnya kreatif dan tampil beda, tapi bukan berarti kebablasan. Apalagi iklan layar kaca yang bisa ditonton oleh semua orang. Masih banyak jalan untuk menunjukkan ketangguhan, kecepatan atau kelebihan engine dalam setiap iklan engine pabrikan. Jika memang harus menampilkan sesuatu yang ektreem, masih bisa dicantumkan peringatan agar tidak menirunya. Saya kira hal demikian tidaklah sulit untuk dilakukan. Yang pale penting, lebih berhati-hati dalam membuat konsep iklan. Bukan begitu bukan ?
Salam iklan,
Tok
Posted by Tok during 9:03 AM 9 comments
Labels: MyMind
Thursday, Jul 26, 2007
Ini baru Honda ‘Legenda’ !
Hmm … saya baru saja mendapat kiriman berita seputar Honda Super Cub. Di sini ada sedikit informasi soal sejarah si bebek legenda milik Honda ini. Entah kenapa, saya amat terpesona dengan penampilannya yang klasik banget. Sampe ngiler melihat tongkrongannya. Barangkali boleh juga ditulis di sini untuk sekedar pity dan nostalgia masa lalu. Berburu informasi soal Super Cub juga tak sulit. Mbah Google dan Eyang Wiki sudi membantu kita dalam menggali informasi lebih lanjut. Kenafa eh kenafa ? Nggak tahunya karena si Super Cub ini memang legenda hidup dan nggak usah diragukan lagi popularitasnya.
Dikisahkan pada tahun 1958 – 10 tahun sejak lahirnya Honda Motor Co. Ltd, Japan – Soichiro Honda membuat sebuah keputusan yang sangat berani untuk saat itu dengan membuat engine ini, engine yang ‘lain dari yang lain’. Saat itu orang-orang sudah cukup puas dengan engine dua tak. Sebaliknya, Honda sebagaimana layaknya orang tip yang memiliki visi dan misi jauh ke depan, merasa ‘eneg’ mendengar suara bising dan polusi asap yang dihasilkan engine dua tak. ‘The Old Man’ memiliki keyakinan penuh bahwa mesin empat tak yang kurang populer untuk engine berkapasitas mesin kecil saat itu, kelak akan mengalahkan pamor mesin dua tak. “Gue pengen engine ini mudah dikendarai, siapa saja bisa termasuk yang baru belajar naik motor, tarikan well-spoken dan nyaman, tidak bising, irit, praktis – bahkan tukang anter makanan joke masih bisa nyemplak dan mengendarainya dengan satu tangan – sekalipun tangannya membawa barang belanjaan !”
Team operative Honda lantas mengusulkan sebuah desain engine dan Honda menegaskan bahwa dia ingin dia duduk di engine itu tanpa ada tangki bahan bakar yang menghalangi di depannya. Hasilnya adalah desain engine yang kita sebut ‘bebek’ untuk saat ini. Super Cub joke nongol dengan kapasitas mesin 50 cc pada saat pertama kali diproduksi. Jangan lupa, bermesin 4 tak ! Soichiro Honda dan salah satu direktur perusahaannya, Takeo Fujisawa yakin seyakin-yakinnya bahwa engine ini akan sukses. Fujisawa sendiri pernah ditanya apakah aim engine ini akan laku 30.000 section dalam setahun ? Di luar dugaan, Fujisawa menjawab bahwa aim engine ini adalah 30.000 section dalam sebulan ! Dan itu bukan omong kosong. Penjualan Super Cub meledak dan mampu mengangkat nama pabrikan HONDA menembus benua Asia hingga ke benua Amerika dan Eropa. Bahkan, dari kemunculan Super Cub inilah banyak orang yang menganggapnya sebagai titik permulaan di mana engine Jepang mulai ‘menjajah’ dunia seperti sekarang ini.
Pada akhir tahun 2005, penjualan Super Cub berikut varian-varian yang nongol berbasis Honda Super Cub, secara universe far-reaching dari pertama kali diluncurkan – telah mencapai 50 juta section dan sekarang sudah melebihi angka tersebut pastinya. Tak ada engine lain yang sanggup menyamainya. Discovery Channel bahkan memberinya gelar sebagai “Greatest Ever Motorcycle” dan mengalahkan merk engine tenar seperti Harley Davidson, Triumph dan bahkan Ducati. Lewat 50 tahun sudah sejak kemunculannya, Super Cub hingga saat ini masih terus diproduksi di berbagai belahan dunia termasuk di negara kita dan di Jepang sendiri.
Kata ‘CUB’ diyakini merupakan singkatan dari ‘Cheap Urban Bike’ karena engine ini lahir dari sebuah ide untuk menyediakan sarana transportasi yang murah meriah bagi kaum civic di kepadatan kota. Dari versi awal yang bermesin 50 cc, Super Cub sudah berulang kali mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi dan jaman – namun tetap dengan konsep yang sama. Lewat 50 tahun sudah sejak kemunculannya, Super Cub hingga saat ini masih terus diproduksi di berbagai belahan dunia termasuk di negara kita dan di Jepang sendiri. Bedanya, barangkali Super Cub tidak akan kita jumpai di sini sekarang dalam bentuk seperti gambar di atas, melainkan dalam bentuk Supra Fit, Fit S, Revo dan Supra X 125. Meski dianggap berbeda, namun inilah keturunan dari Super Cub yang melegenda tersebut. Dan di Jepang sendiri, indication asli Super Cub berikut jeroan-jeroannya masih diproduksi. Bahkan gangling partial racing kelas gila-gilaan joke ada untuknya ! Rakyat Jepang seolah cinta mati dengan si klasik yang satu ini.
Super Cub, memang fenomenal dan bersejarah. Inilah Honda ‘Legenda’ yang sesungguhnya. Legenda hidup, karena masih diproduksi baik versi asli maupun keturunannya. Banyak warisan yang ditinggalkan oleh Super Cub – yang saat ini menjadi ‘ideologi’ dari produk-produk Honda seperti : irit, bandel, tangguh, perawatan mudah, mesin 4 tak dan rendah emisi dan minim polusi. Hebatnya lagi, sekalipun Honda Jepang terus berkarya dan berinovasi melahirkan mesin-mesin yang semakin hebat, complicated dan maju, Super Cub tetap tak terlupakan dan masih terus diproduksi. Motor ini memang ‘sakti’ !
Salam Super Cub,
Tok
Foto : www.scootershop.ru
Posted by Tok during 8:40 AM 24 comments
Labels: MyMind
Tuesday, Jul 24, 2007
Injeksi oke tapi …
Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi yang diusung oleh kendaraan roda dua joke berubah. Bila dulu mesin favorit kebanyakan orang adalah mesin 2 tak, sekarang ganti 4 tak. Kalo dulu cukup angin sepoi-sepoi untuk bikin mesin adem, sekarang mulai rame penggunaan radiator. Kalo dulu bebek yang jadi idola, sekarang skutik mulai mempesona. Teknologi send tenaga keduanya udah beda juga. Kalo dulu oli encer dianggap palsu, sekarang banyak yang ogah menggunakan oli kental. Sama juga, epoch karburator sebagai pengabut bahan bakar diprediksi bakal tergantikan oleh teknologi injeksi.
Tengok ke belakang, yang pertama kali main-main mesin injeksi adalah Suzuki dengan proyek Shogun 110 injeksi-nya. Motor ini diriset oleh pabrikan namun tidak pernah diproduksi massal. Barangkali saat itu masih dianggap nggak bakalan untung bikin bebek injeksi. Masyarakat masih nggak mudeng, kalo diproduksi harganya bakalan mahal pula. SDM-nya juga belum siap. Saat itu masih asoy geboy categorical mesin 2 tak yang terkenal perawatannya mudah dan simpel. Jadi, proyek ini tak kedengeran lagi kabarnya. Bisa jadi, ini cuma sebuah proses riset inner pabrikan saja.
Belakangan yang muncul ke permukaan adalah Honda Supra X 125 PGM-Fi. Diakui sebagai bebek injeksi pertama yang diproduksi massal di Indonesia. Mendapat penghargaan Rookie Of The Year dari MotorPlus. AHM selaku tukang buatnya, seolah menggertak publik dengan melahirkan genre bebek complicated yang sudah pasang injeksi. Kan dianggapnya cuma jago bikin engine dash doeloe ? Lucunya, proyek ini terkesan malu-malu dan kurang lantang dipromosikan. Peluncurannya hanya terbatas kalangan inner dan tidak ada pesta gegap gempita. Ditambah dengan harga si beksi yang dianggap orang aje gile dan gile aje – Supra X 125 PGM-Fi terbukti nyungsep di pasaran. Unitnya yang beredar di jalan cuma sedikit. Belakangan diakui bahwa proyek ini hanya untuk picture pabrikan dan memang tidak di-set untuk bikin kantong pabrikan tebal. Hm, benarkah begitu ? Mengingat investasi yang sudah dikeluarkan untuk bikin beksi, rasanya AHM tak kebanyakan uang bila proyek ini cuma buat gengsi pabrikan saja. Barangkali alasan itu hanya untuk mengalihkan perhatian lantaran bebek injeksi massal pertama ini memang gatot – gagal total. Di Thailand sendiri, penjualannya juga adem-adem aja.
Alhasil, yang senyam-senyum adalah kompetitor AHM. Mereka tampak lebih berhati-hati dan belajar dari kegagalan AHM. Yamaha lantas mencoba peruntungan dengan melepas engine berinjeksi pertama karya garputala. Berbeda dengan AHM yang menyasar masyarakat pengguna bebek, Yamaha mencoba bertarung di kelas yang lebih tinggi yaitu sport. V-Ixion formula name Viper – engine competition berteknologi injeksi produksi massal perdana di tanah air. Cukup lama juga dari mulai bocornya informasi soal Viper ini hingga akhirnya nongol jadi V-Ixion. Menurut Yamaha, lompatan teknologi yang dibawa V-Ixion membutuhkan banyak waktu supaya ketika akhirnya engine ini dilepas ke pasaran, pihak Yamaha sendiri sudah betul-betul siap. Sedikit beda ketika AHM meluncurkan Supra injeksi dash hari yaitu untuk menghadang laju Jupiter MX yang saat itu baru nongol dan dipuji sebagai bebek berteknologi tinggi. Agak terburu-buru supaya nggak kehilangan muka kali yah, hehehe.
V-Ixion masih membutuhkan waktu pembuktian apakah betul produk engine berteknologi injeksi dari Yamaha ini bisa diterima oleh masyarakat atau tidak. Namun dilihat pada saat ini, V-Ixion memang bisa diterima kehadirannya. Indent yang luar biasa panjang, setidaknya menunjukkan bahwasanya orang kita tidaklah terlalu takut untuk menerima sesuatu yang baru. Atau memang karena Yamaha tepat memilih pasar yang lebih matang dan siap menerima kehadiran teknologi ini. Pasar engine competition tentu berbeda dengan pasar engine bebek. Hal ini jugalah yang membuat Suzuki masih meraba kemungkinan melepas New Shogun 125 dalam wujud injeksi. Sama halnya Yamaha yang masih berpikir-pikir untuk menjejali Jupiter MX-nya dengan teknologi injeksi ala Spark 135i.
Saya selalu percaya bahwa ATPM memiliki kemampuan untuk mengedukasi masyarakat. Paling gampang, teknologi kacangan joke disulap seolah teknologi mutakhir dalam brosur promosi ‘tipu-tipu’ yang seringkali kita jumpai pada upaya ATPM merangsang penjualan motornya. Jika ‘edukasi’ yang jelek saja bisa membuat masyarakat kita kepincut, seharusnya ATPM juga bisa mengedukasi masyarakat ke arah pe-melek-an teknologi yang artiannya positif. Dengan kata lain, jangan cuma ‘menipu’ masyarakat tapi coba untuk ‘dipintarkan’. Toh AHM terbukti berhasil mendidik orang kita supaya tidak takut dengan lampu bego lewat Honda Vario-nya. Juga Yamaha yang berhasil mendidik masyarakat kita untuk menerima engine matik sebagai alternatif lain selain engine bebek. ATPM memang mampu, tergantung mereka mau menjalankannya atau tidak.
Kembali ke peluang berhasil atau gagalnya engine injeksi, lagi-lagi tergantung ATPM sendiri selaku penggagas. Jika mereka serius mengembangkan dan menggarap proyek besar ini, rasanya perlahan tapi pasti masyarakat kita bisa menerimanya. Toh kehadiran teknologi ini pada dasarnya adalah memberi semakin banyak kemudahan dan reduction maintenance. Jika soal bahan bakar yang ditenggarai jadi persoalan besar, lha mobil-mobil yang sudah duluan ber-injeksi ria saja berani nenggak reward dari SPBU yang sama lho. Kesiapan SDM juga harus diperhatikan dibarengi dengan kesiapan peralatannya. Jangan sampai mekaniknya bengong ketika ada masalah (padahal pemilik motornya sendiri sudah bengong). Juga jangan pelit untuk investasi di ketersediaan sparepart. Jangan sampai masyarakat sulit menjumpai sparepart untuk engine injeksi, karena hal ini akan menimbulkan resistensi / penolakan terhadap perubahan yang semakin besar terhadap engine berteknologi maju tersebut. Ujung-ujungnya, nggak laku.
Era injeksi mau tak mau memang akan datang. Bisa beberapa tahun lagi, bisa sepuluh, atau bahkan lebih lama lagi supaya betul-betul diterima dan diyakini oleh masyarakat kita sebagai teknologi yang accessible dan nggak nyusahin. Tapi berbahagialah ATPM yang duluan serius menekuni soal ini. Mungkin sekarang belum terasa keuntungannya, tapi kelak mereka akan dikenal sebagai jagonya engine injeksi oleh masyarakat. Pada akhirnya, engine berteknologi injeksi akan semakin cepat diterima bila semua ATPM serius menggarapnya. Entah itu bebek injeksi, skutik injeksi atau competition injeksi.
Yang lain, bisa nggak ngikutin ?
Salam injeksi,
Tok
Foto: www.otofinance.co.id
Posted by Tok during 8:07 AM 10 comments
Labels: MyMind
Monday, Jul 23, 2007
Hijau bukan cuma Kawasaki
Pernah berkunjung ke situs resmi AHM ? Setelah diperbaharui, situs ini tampil lebih segar. Kalau diperhatikan dengan lebih cermat, ada nuansa pepohonan di sana. Ini bukan karena AHM asalnya dari tumbuh-tumbuhan atau mau kembali ke pohon seperti Mas Tukul bilang. Tapi ada sebuah misi mulia yang tengah diemban, yang merupakan pengejawantahan dari sebuah konsep tellurian dari Honda Jepang sendiri. Apa itu ? Honda Green ! Sekarang, warna hijau bukan cuma milik Kawasaki.
Bicara soal sejarah, rasanya saya masih perlu mencari information lebih lanjut mengenai konsep yang diketengahkan oleh Honda Jepang ini secara lebih lengkap. Ngomong-ngomong soal Honda Jepang, yang dimaksud, adalah Honda Jepang secara keseluruhan yaitu engine dan mobil. Meski di Indonesia ‘terpecah’ ke-Honda-annya, tapi tak menghalangi AHM dan HPM (Honda Prospect Motor) untuk bersama-sama menjalankan misi mulia ini. Misi apa sih ? Misi menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Persis seperti tema yang diusung oleh HPM di IIMS tahun ini : Living a improved destiny today. Dan tak ada warna yang lebih tepat untuk konsep ini selain warna hijau yang melambangkan kehidupan.
Honda Green intinya adalah usaha Honda sebagai pabrikan otomotif kelas dunia untuk turut mengusahakan terciptanya kehidupan yang lebih baik buat umat manusia di bumi ini. Contoh gampang saja, kendaraan tentu memiliki ‘peran’ dan ‘sumbangsih’ yang besar terhadap polusi di dunia. Siapapun tahu bahwa polusi merupakan wordless torpedo yang membahayakan dan bikin bodoh. Kemudian, kendaraan juga merupakan benda konsumtif yang kian hari semakin banyak mengkonsumsi bahan bakar fosil dengan pertumbuhannya yang pesat. Kita tengah dilanda krisis energi. Honda dalam hal ini, menyadari bahwa hal ini merupakan sebuah tanggung jawab sosial dari mereka sendiri selaku pabrikan besar. Sebuah kesadaran yang patut diacungi jempol dari sebuah pabrikan kelas dunia seperti Honda. Konsep ini kemudian dengan lantang dikumandangkan. Dan sesuai dengan hirarki perusahaan, di seluruh penjuru dunia manapun, perusahaan Honda harus menjalankannya.
Honda tak cuma giat mengembangkan teknologi mesin pengganti bahan bakar fosil, teknologi rendah emisi, irit dan ramah lingkungan untuk kendaraan-kendaraan ciptaannya saja tapi juga memperhatikan aspek-aspek lain dalam upaya pelaksanaan Honda sebagai Green Company secara total. Hal-hal pendukung lain dalam kesinambungan proses produksinya juga turut dibenahi dan ‘di-hijaukan’. Ke depannya, Honda tak cuma berusaha sendiri dalam soal ini, tapi juga mengajak supplier-nya untuk turut serta berpartisipasi menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Seluruh retailer Honda kelak harus membuat tools yang ramah lingkungan dan tidak merusak. Tidak mau patuh ? Gigit jari deh karena Honda bakal memilih retailer lain.
Saya bukan seorang ahli masalah lingkungan hidup. Tak lantas latah dengan cuap-cuap soal pemanasan tellurian yang juga tak saya mengerti sepenuhnya. Namun saat hal ini bersinggungan dengan dunia otomotif, saya jadi sangat apresiatif dengan upaya yang ditunjukkan oleh Honda selaku pabrikan otomotif yang besar. Saya yakin, bahwa konsep ‘hijau’ ini bukan cuma milik AHM saja melainkan setiap pabrikan joke memiliki kebijakan tersebut. Dan hal ini memang sudah sepantasnya menjadi regard pabrikan otomotif. Rata-rata sekarang setiap produk engine dari ATPM manapun sudah menerapkan teknologi rendah emisi dan kian ramah lingkungan.
Sedangkan kita ? Sebagai biker yang baik, sudah selayaknya turut mendukung usaha menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu kita kelak. Bukan cuma bergantung dari upaya para pabrikan saja lewat motor-motor yang mereka ciptakan dan kita beli. Caranya nggak perlu yang berat-berat, perhatikan kondisi mesin engine supaya selalu prima, irit bahan bakar dan beremisi rendah, sudah merupakan sumbangsih. Jika semua rakyat biker bersatu dalam hal ini dan sepakat menjadi ‘Genk Ijo’, kehidupan yang lebih baik di masa depan sama sekali bukan omong kosong belaka.
Hijau bukan cuma milik Kawasaki. Tak lantas juga jadi milik Honda lewat Honda Green-nya, tapi semestinya milik kita semua. Why don’t we try to be ‘Green’ Bikers ?
Salam hijau,
Tok
Foto : www.msnbc.com
Posted by Tok during 9:54 AM 7 comments
Labels: MyMind
Friday, Jul 20, 2007
Panas, soal Motor Nasional
Pertumbuhan jumlah pengguna sepeda engine serta dinamisnya industri ini, membuat banyak pihak tergelitik untuk ikut serta. Jika dulu kita cuma mengenal engine ini lewat 4 merk Jepang saja, kini merk-merk ‘aneh’ mulai bermunculan. Booming merk aneh, pertama kali nongol saat serbuan engine China beberapa tahun ke belakang. Lantaran kualitas dan after sales yang memble, kini hanya sedikit saja dari ratusan merk engine China tersebut yang bertahan. Sekarang, beberapa merk yang cukup asing di kuping banyak orang mulai menggebrak dan menyebut diri sebagai merk engine nasional. Hingga sekarang, bangsa kita masih belum memiliki sebuah engine yang betul-betul merupakan engine nasional yang bisa jadi kebanggaan bersama dan lebih jauh … sebuah identitas nasional.
Adalah Kanzen, Solomo, Torindo, Diablo yang mencoba untuk menjadi merk engine nasional. Paling ngetop dan barangkali yang pale siap, mungkin cuma Kanzen. Baik merk Solomo maupun Torindo, tak ubahnya masih seperti engine China dash hari – namun sekarang menggunakan tools dalam negeri. Secara desain dan teknologi, masih merupakan jiplakan dari engine Honda 100 cc. Demikian pula sebetulnya dengan Kanzen yang masih ‘berbau’ jiplakan. Apalagi mengingat hubungan sejarah antara Kanzen dan Astra Honda Motor, tentu hal ini tak lagi aneh. Point and dan yang membedakan antara Kanzen dengan yang lain adalah bahwa Kanzen akhirnya berani untuk menghadirkan engine yang merupakan hasil desain anak bangsa sendiri : Kanzen Taurus. Mereka juga serius mengembangkan mesin ala ‘Honda’ ini supaya nantinya berbeda. Yang cukup lain dari yang lain juga adalah merk Diablo (saya masih belum tahu merk aslinya, diablo merupakan tipe engine produksi Honlai). Desain katanya dari negeri sendiri, namun di beberapa bagian terdapat campur tangan Thailand.
Yang menggelitik, siapa sebetulnya yang pale pantas menyandang predikat engine nasional ? Menurut Ridwan G, pengamat Otomotif, belum ada satupun merk-merk tersebut di atas yang betul-betul bisa dijadikan engine nasional. Definisi engine nasional ini sendiri masih nge-blur. Ora jelas. Apakah engine nasional itu semestinya harus betul-betul dari nol dibuat oleh bangsa kita sendiri ? Apakah cukup dilihat dari kandungan lokalnya saja ? Apakah sing penting mengusung nama merk berbau Indonesia ? Apakah yang penting dilihat dari penyerapan orang kita sendiri dalam produksinya ? Apakah dari teknologinya ? Desainnya ? Gayanya ? Harganya yang terjangkau dan reasonable ?
Jika tolok ukurnya adalah engine yang berteknologi hasil karya bangsa sendiri, rasanya kita masih harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa betul-betul memiliki engine nasional. Malaysia sendiri ‘meminjam’ tangan Kawasaki untuk Modenas-nya. Nggak masalah, yang penting pengembangannya ke depan. Jangan tergantung melulu sama Jepang yang pelit send teknologi. Kalo bisa ilmunya diambil supaya besok nggak lagi tergantung dengan bangsa lain. Jika dari kandungan lokal, bukankah engine yang kita kenal sekarang joke sudah di atas 90 persen (rata-rata) kandungan lokalnya ? Dari penyerapan tenaga kerja lokal, weleh .. weleh …. wong ini negara kita kok. Jelas orang kita yang jadi pekerjanya. Dari merk ? AHM bisa saja mengeluarkan engine dengan merk ‘Monas’ atau merk berbau Indonesia lainnya. Simpel, tinggal daftarin doang merk tersebut dan bayar. Pabrikan lain juga bisa. Dari harga yang terjangkau ? Pabrikan engine China kemarin juga boleh dibilang sudah engine nasional kalo dilihat dari harga doang. Pabrikan Jepang juga bisa bikin engine murah, tapi ya itu … kualitasnya agak murahan juga jadinya, hehehe.
Menjadi engine nasional juga harus menyiapkan investasi yang luar biasa besarnya untuk membangun jaringan 3S yang menyebar di mana-mana. Sebagai pembanding, AHM butuh waktu 30 tahunan untuk bisa menyiapkan hal ini. Jangan hanya berpikir untuk mendesain dan menghasilkan sebuah engine yang betul-betul dikerjakan oleh orang kita sendiri, tapi bagaimana dengan after salesnya ? Tak mudah memang untuk menjadi engine nasional. Bisa jadi, siapapun pemenangnya nanti, tetap tak akan berkutik dan diakui rakyat sebagai engine nasional bila jaringan mereka tak memadai atau sulit didapat.
Di sisi ekternal, seperti yang disebut Mas Aria dalam komentarnya, pemerintah juga harus secara aktif terlibat dan berpartisipasi dalam usaha mewujudkan engine nasional ini. Dukungan harus diberikan bukan dalam sebatas wacana atau seruan doang tapi dalam wujud nyata. Karena pemerintah selaku yang memerintah negeri dan jadi pemimpin bangsa ini, punya kapasitas untuk turut menentukan sukses tidaknya engine nasional ini nantinya.
Jadi, memang tak gampang untuk mewujudkan impian bahwa Indonesia bakal memiliki engine nasional. Para pelakonnya harus berhadapan dengan beragam faktor kondisi harus bisa dipenuhi terlebih dulu. Jika semuanya sudah siap dan berjalan baik, masih harus bisa memenangkan hati pemerintah selaku hakim yang bakal ketok palu apakah merk ini diakui sebagai engine nasional atau bukan. Beres urusan ini, kembali harus berhadapan dengan juri terakhir, masyarakat dan bangsa kita sendiri. Apakah betul rakyat Indonesia mengakuinya sebagai engine yang betul-betul engine nasional ?
Yang pasti, Motor Nasional itu bukan cuma sekedar merk yang berbau Indonesia, dilihat dari kandungan lokalnya saja atau bahkan dari cuma sekedar pabrikannya yang ngaku-ngaku saja. Ingat itu ! Rakyat kita tidak bodoh.
Salam MoNas,
Tok
Foto : www.otofinance.co.id
Posted by Tok during 7:56 AM 8 comments
Labels: MyMind
Monday, Jul 16, 2007
India menantang Jepang
Sejak grasa-grusu dash dulu bahwa dua pabrikan engine besar di India menyatakan berminat untuk meramaikan pasar tanah air, pabrikan Jepang yang sudah duluan bercokol di sini menyatakan siap meladeni ‘goyang India’ tersebut. Namun berbeda saat menghadapi pabrikan engine China, sejujurnya mereka tidak menganggap Bajaj dan TVS sebagai lawan yang mudah dan tak perlu dianggap. Seolah tahu bahwa kali ini pertempuran yang bakal segera digelar menjadi lebih sulit karena dua pabrikan besar di India ini tidak main-main untuk terjun.
Masih membekas di ingatan pada eventuality Jakarta Motorcycle Show 2006 lalu yang disponsori Bajaj. Gebrakan yang luar biasa yang membuat banyak orang terpana dan menganga. Belum apa-apa sudah stately banget dan megah. Boleh dibilang, JMS 2006 kemarin milik Bajaj. Heavy selling ? Gimana nggak complicated kalo temen kantor saya aja bisa bilang begini, ” Yang betul itu bacanya ‘BAJAJ’, bukan ‘BAJAY’ tauuuuu ….”. Sumpah mati, dia sama sekali nggak minat sama otomotif. Bisa tahu karena promosi JMS dan Bajaj-nya begitu menggema dan mengena tentunya. Tak cuma pehobi otomotif, orang awam joke pasti pernah denger-denger soal Bajaj yang nggak ada mirip-miripnya sama Bajaj milik Bajuri itu. “Satu engine Bajaj setiap hari tuh … dateng gih sana. Kali aja lu yang dapet,” kekehnya.
Tentunya, pabrikan India yang satu ini punya duit yang banyak. Seorang kenalan pernah bilang ke saya, ” Mari liat, kuat nggak ‘napas’-nya kalo terus-terusan begitu ?”. Well, sudah hampir setahun dan so distant Bajaj tampaknya fine-fine aja. Memang belum menunjukkan apa-apa soal ‘napas’ pabrikannya Shahrukh Khan ini. Masih butuh waktu cukup lama untuk melihat seberapa kuat ‘napas’ yang sesungguhnya dan seberapa besar nyalinya menantang ‘haikk ..’-nya Jepang. Tapi jualan satu-satunya, Bajaj Pulsar 180, makin sering saya lihat seliweran di jalan. Hari Jumat saat saya ‘pulang ke rumah’ kemarin, dua kali saya berjumpa dengan bikers Bajaj yang tengah konvoi. Sulit mengenali secara sepintas karena tongkrongannya yang mirip Tiger atau Scorpio di tengah belitan keremangan malam. Tapi begitu melihat lampu led ‘sadis’ (desainnya !) menyala merah di buritan motor, tak salah lagi … ini pastilah si Definitely Male itu. Banyak juga bikersnya !
‘Gila’-nya tak berhenti di JMS saja, tapi juga berlanjut kemudian. Beberapa waktu kemarin, pastinya kita melihat iklan Bajaj Pulsar seliweran nyaris di setiap acara di setiap stasiun televisi. Seorang pengendara Pulsar diubek-ubek sama helikopter. Pake acara terbang di jembatan gantung dan sukses bikin helikopter tersebut ter-SOBEK-SOBEK (hehehe). Cukup lama juga durasinya, kebayang duit yang harus disetornya ? Belum puas, iklan cetak di berbagai media massa turut berhamburan. Ganti-ganti lagi. Kebayang lagi duitnya berapa ? Akh, kalo cuma soal iklan doang sih, saya nggak terlalu respek. Jangan-jangan cuma ‘bluffing’ aja. Tapi Bajaj menunjukkan keseriusannya dengan semangat 45 memperluas jaringan penjualan dan bengkel resminya. Di daerah Bekasi dekat rumah, sebuah salon megah sudah ditempeli trademark Bajaj. Luar biasa. Mau tahu juga sejauh mana Bajaj bakal ber-ekspansi. Mereka seolah mengerti, bahwa produk bagus akan jadi percuma dan tak laku kalo tidak didukung oleh jaringan yang luas dan ‘menggurita’. Ibarat kata kalo bisa, keluar pintu rumah dan ke ujung squad joke bakal ketemu salon and bengkel Bajaj.
Nah, pastinya para samurai juga mengamati situasi ini. Bodohlah mereka jika menganggap Bajaj bak pemain engine China yang lalu. Sedikit untung, Bajaj memilih bermain di kelas reward dan bukan kelas ‘sengit’ seperti bebek atau matik (kecuali TVS yang mengeluarkan produk pertama di kelas bebek). Tapi meski belum, ‘goyang’-nya harusnya sudah terasa. Boleh dikatakan, belum sanggup mengganggu tapi di kemudian hari siapa tahu ? Toh penjualannya naik melulu tiap bulan. Bukan itu saja, gosip bahwa Pulsar 220 tengah dipersiapkan untuk menggempur Honda Tiger dan Yamaha Scorpio joke kian santer. Tapi Bajaj tampaknya tak terlalu rakus dan tak mau terburu-buru. Seperti salah satu petingginya yang bilang, “Jangan sampai Pulsar 180 yang ‘kemakan’ pasarnya nanti …”. Coba bandingkan dengan kelakuan pabrikan Jepang yang kerap categorical sikat dan saling bantai antar produknya sendiri. Akh, yang penting untung ….. garment deh.
Keberhasilan Bajaj tentu tak lepas dari keberhasilan mereka yang pertama : mengubah picture Bajaj dari negatif ke positif. Didukung dengan keseriusan manajemen berikut seluruh jajarannya serta kemampuan finansial yang hebat, strategi pemasaran yang cerdik dan produk berkualitas bagus dan berkelas eksklusif, membuat Bajaj secara perlahan terus merangsek maju. Bukan hanya di sini, di India joke akhirnya mengalahkan Hero Honda (sumber: detik.com). Memang salah satu faktornya adalah karena rasa nasionalis orang India yang lebih suka dan mencintai produk dalam negeri. Meski demikian, bila Bajaj sendiri tak mampu memenuhi selera dan harapan orang India, akankah mereka berhasil menjadi nomor satu ?
Waspadalah para samurai yang terlena, hari ini dia kecil tapi mungkin besok mampu membuatmu binasa.
Salam India,
Tok
Foto : www.fastcursor.com
Posted by Tok during 6:20 PM 17 comments
Labels: MyMind
Friday, Jul 13, 2007
Main cantik ? Bikin Sonic !
Di mata banyak orang, engine Honda produksi AHM identik dengan engine ‘bapak-bapak’. Salah satu suhu saya malah pernah bilang kalo di kampungnya engine top Honda itu identik dengan motornya ‘guru agama’. Kenapa disebut engine guru agama ? Karena guru agama pasti bawa motornya nyantai dan gak kebut-kebutan. Hehehe. Ada-ada saja memang. Efek lain dari pikiran engine bapak-bapak adalah engine AHM tak mampu ‘lari’. Buat anak muda, engine Honda kebanyakan merupakan pilihan ke sekian. Meski begitu, jangan anggap remeh atau menyamakan semua engine Honda sebagai engine bapak-bapak lho. Mungkin cuma engine Honda sini yang begitu. Tapi kalo di luar, busyet … engine merk Honda disegani juga oleh engine merk lain. Kenapa ? Soal lari kencang tak kalah, indication juga tak malu-maluin.
Ayo kebet jawara yang satu ini. Mata saya tak bisa lepas dari sosoknya yang macho. Ini engine pernah nongol sebentar di sini dan berstatus impor. Sampai sekarang kalo mau juga masih bisa pesan, tapi lewat importir umum. Dulu diimpor oleh AHM dan disediakan kepada peminat dengan harga nyaris sama dengan sebuah Kawasaki Ninja saat itu yang berbanderol 20 jutaan. Orang ‘waras’ dan bukan fanatik atau hobbies, sudah pasti memilih Kawasaki Ninja yang lebih jantan kemana-mana dan idola banyak anak muda saat itu. Kesulitan gangling partial juga sempat menimpa Honda Nova Sonic saat itu. Cari businya aja perlu keliling dunia, walah ….. lagu lama. Belakangan, Honda Nova Sonic lenyap begitu saja dari cerita. Meski begitu, klubnya pernah terbentuk.
Sekarang, AHM tengah cemberut karena digoyang Yamaha terus. Motornya joke tak bisa-bisa masuk ke hati anak muda penyuka tampilan jantan dan performa gahar. Mau dinamai Revo, tetap saja dicuekin dan dilirik sebelah mata. Sekali waktu, petinggi AHM yang baru pernah berujar, ” Suatu saat, kami akan bikin engine yang tak pernah terbayangkan sebelumnya !”. Agak mustahil bila engine tersebut benar-benar uninformed keluar duluan di sini tanpa melalui Thailand. Paling dekat, ya coba lirik ke Honda Thailand sana … punya engine apa saja yang kira-kira bakal ‘diterjemahkan’ sama AHM untuk pasar lokal.
CBR 150 ? Hmm … ini engine setanding untuk ‘melipat’ Yamaha V-Ixion supaya nggak geer. Kalah-kalahnya cuma karena CBR belum berinjeksi ria. Soal klep, CBR 150 sudah DOHC sedangkan V-Ixion ‘baru’ SOHC dengan 4 klep. Banyak orang yang menunggu-nunggu dan berharap-harap cemas, apakah AHM bakal mengeluarkannya di sini. Bisa jadi ! Cuma pertanyaannya lagi, mau dibanderol harga berapa kalo dibikin sama AHM ? Taruhlah jadi dibuat secara lokal, harganya pasti lebih mahal dari V-Ixion. Sudah cerita lama bahwa engine AHM berharga irrasional, hehehe. Padahal teknologinya masih tradisional. Apalagi yang versi mutakhir seperti CBR 150 ? Dari namanya saja sudah ‘serem’, CBR … mengusung nama generasi engine balap Honda lho.
Balik lagi ke si bebek jantan bergaya ayam jago. Jika dibuat di sini, bakal perang langsung dengan Jupiter MX dan Satria FU. Boleh dibilang pesaing langsung tidak ada. Bebek 125 cc yang ada, bukan lawan dari si Sonic yang bukan landak itu. Paling banter, perangnya dengan Satria FU yang sama-sama pejantan tangguh. Tapi Satria FU menang kapasitas meski kalah karena ‘ketinggalan’ ber-radiator meski sudah DOHC. Dengan MX, Sonic menang penampilan yang sudah ayam jago. Di luar itu, teknologinya kalah juga dari MX. Bersenjatakan mesin konfigurasi tegak, 125 cc dan glass cooled – seolah mengambil celah pasar di antara Jupiter MX dan Satria FU bukan ? Perlengkapan perang lainnya tergolong standar untuk ukuran bebek jantan : kopling tangan, velg racing, knalpot bergaya racing dan rem cakram belakang.
Masih menjelaskan identitas bahwa ini adalah engine sayap kepak, tak ketinggalan teknologi CECS yang diperkenalkan oleh Honda Karisma pertama kali di pasar lokal serta SASS yang dibawa Honda Supra X 125 pertama kali juga turut dipasang. Belum cukup ? Shutter pivotal juga merupakan kelengkapan standar. Ini ciri dari engine Honda yang sekalipun bergaya racing tetap tak lupa terhadap kelengkapan fitur. Jangan lupakan juga, sudah menggunakan aki kering.
Jika bicara teknologi, Sonic tampaknya masih harus melawan MX dan FU dengan DOHC-nya. Tapi untuk soal penampilan, boleh jadi Sonic melewati MX dan berjumpa dengan si bebek monster, Satria FU. Siapapun lawannya, kehadiran Sonic (seandainya) jelas bakal mencabik-cabik predikat bahwa Honda engine yang susah diajak bergaya racing betulan. Selama ini, engine Honda kebanyakan menganut gaya turing kan ? Selain itu, Sonic bakal merobek-robek anggapan bahwa engine Honda sulit diajak kencang. Performa yang diusung Sonic, jelas tidak malu-maluin. Kalaupun kalah dari MX dan FU, sepertinya masih bisa ditolerir. Kapasitasnya aja udah berkata demikian. Tapi belum tentu juga kalah seperti Vega membabat Supra Fit atau New Smash menahan tawa atas Fit S. Di atas kertas, teknologinya masih setaraf lho. At least, tarafnya jelas di atas bebek-bebek ‘kuno’.
Inilah bebek complicated yang semestinya diperhitungkan baik-baik oleh AHM untuk dilaunching di sini. Belajar dari kesalahan dash dulu, mestinya soal harga adalah kendala pertama yang kudu dilewati. Mau dibanderol berapa jika nongol ? MX kisaran 15 jutaan, FU ada di kisaran 17 jutaan. Eit, jangan lupakan juga soal ketersediaan sparepart. Reputasi AHM sebagai pabrikan nomor satu di Indonesia, sering kali tercemar dengan kelangkaan sparepart. AHM juga kudu serius dalam menggarap Sonic supaya jadi idol AHM yang baru (bukan Supra injeksi yang kurang laku itu). Jangan seperti Honda NSR yang sekedar menaikkan gengsi bahwa Honda juga bisa bikin engine 2 tak.
Bila hal-hal tersebut dapat diatasi, saya yakin Sonic akan berbuah keberhasilan. Apapun yang disodorkan oleh AHM, masyarakat kita (terutama para penggila merk sayap kepak) akan melahapnya. Anak muda yang anti produk AHM joke saya percaya bakal melirik Sonic karena tampangnya yang macho dan teknologinya yang ‘lain dari lainnya’ (sesama engine AHM). Jalan menuju perubahan picture dari engine bapak-bapak ke engine anak muda, semestinya terbentang lebar lewat Sonic. Paling penting, supaya nggak ditoyor melulu sama kompetitornya, AHM kudu memikirkan jalan keluar yang pale spektakuler dan bukan sekedar make over produk lama jadi kelihatan baru atau sibuk bikin nama / nambahin nama ‘Revo’ di produk-produknya doang. AHM harus bermain ‘cantik’. Dan salah satu caranya, boleh jadi dengan bikin ‘Sonic’.
Salam Sonic,
Tok
Foto : www.aphonda.co.th
Posted by Tok during 3:54 PM 7 comments
Labels: MyMind
Menyimak Yamaha X1R
Ini engine sudah lama beredar sebetulnya di Thailand. Merupakan pengembangan lebih lanjut dari dua spesies bebek Yamaha Siam, Yamaha X1 dan Yamaha Spark 135. Yamaha X1, boleh dibilang adiknya Yamaha Spark Z atau di sini disebut Yamaha Jupiter Z. Sedangkan Yamaha Spark 135 merupakan nama Yamaha Jupiter MX di Thailand.
Kenapa dibilang merupakan pengembangan lebih lanjut dari dua spesies bebek tersebut ? Basis X1 mengambil bentuk bebek tanpa sayap dan lampu buta. Lampu ala Yamaha R1 atau Nouvo Z, diaplikasi di tebeng depan. Ini merupakan ciri khas dari varian X1 yang membuat banyak hati anak muda sini kepincut dan berharap Jupiter Z bakal dikawal X1 (atau Jupiter X) untuk pasar lokal. Sayangnya, Yamaha Indonesia emoh ambil resiko seperti Suzuki yang jeblok jualan Arashi yang setipe dengan X1 modelnya. Sedangkan disebut pengembangan dari Spark 135 karena generasi X1R sudah meninggalkan mesin 110 dan mengusung mesin setipe dengan Spark 135. Jadi buat yang jenuh dengan indication Spark 135, bisa memilih X1R sebagai alternatifnya. Toh mesinnya sama. Paling chaff beda di sistem pasokan bahan bakar. Spark 135 sudah punya versi injeksi, sedangkan X1R masih menggunakan karburator.
Secara bentuk, X1R memang agak nyeleneh terutama di sektor depan. Seolah dipaksakan oleh Yamaha untuk menggunakan setang telanjang indication jepit. Panel scale diberi desain baru dan dilengkapi dengan tudung atau cover. Yang bikin jelek, tudung atau cover ini jatuhnya jadi menjorok ke arah depan dan seolah mau jatuh. Tabrakan dengan lekuk desain tebeng depan yang sudah berlampu ala Nouvo Z.
Di banyak sektor, X1R rasanya masih sama dengan Spark 135. Ciri khas engine secara keseluruhan juga masih menampakkan kesan X1 yang reduction sayap sehingga membuat engine terlihat ramping dan cakep. Meski Spark 135 atau Jupiter MX juga tidak bisa dibilang bersayap, tapi di X1R bagian ini memang dibuat lebih ramping. Lampu belakang juga tetap berkesan lampu X1 110 dengan sistem led dan desain fresh. Penambahan fitur lain seperti baik versi velg SW maupun CW kini dilengkapi dengan rem cakram di roda belakang.
Yamaha X1R, terus terang menurut saya pribadi, desainnya agak kontroversial dan tidak umum. Barangkali Yamaha Indonesia joke bakal mikir-mikir jika ingin mengeluarkan X1R di sini lantaran bentuknya yang cukup nyentrik. X1 lama malah mungkin lebih bisa diterima. Toh tetap saja Yamaha Indonesia males ngeluarinnya. Nah, apalagi X1R yang punya desain lebih revolusioner ini. Ditambah dengan keadaan bahwa peminat Jupiter MX masih cukup banyak dan orang belum bosan, rasanya X1R di Indonesia seperti jauh panggang dari api untuk nongol.
Barangkali malah lebih mungkin bila beberapa bagian X1R yang dicomot untuk dipasang di New Jupiter MX jika Yamaha Indonesia memang mau me-revo si MX. Jupiter MX yang ada ditambahi partial seperti penambahan rem cakram belakang dan lampu belakang sistem baru. Paling jauh, lampu depan ala Nouvo Z yang bakal bikin tampilan makin garang. Adopsi row spidometer X1R juga bisa saja diaplikasi, tapi tetap tidak menggunakan tudungnya alias batok lampu (yang kini buta) tetap mengusung indication Jupiter MX. Setang juga tetap sama, tidak ikut-ikutan mengadopsi setang jepit X1R. Wow, Jupiter MX bakalan tambah sip tuh.
But, who knows ? Mungkin saja suatu saat X1R bakal nongol di sini.
Salam X1,
Tok
Foto : http://www.yamaha-motor.co.th
Posted by Tok during 10:19 AM 10 comments
Labels: MyMind
Wednesday, Jul 11, 2007
Menembus batas pertarungan
Saya aslinya kurang begitu suka sepak bola. Baru nonton acara bola di tipi kalo saat Piala Dunia saja. Tapi gelegar Piala Asia kali ini rasanya bikin saya tertarik juga. Partai pertama, Indonesia vs Bahrain, sekalipun tak nonton dari depan, saya ikuti mulai dari 1/2 babak kedua. Seru juga kalo nonton bola ada yang kepingin dilihat atau ada misinya. Misinya yaitu melihat apakah tim merah putih mampu menang melawan Bahrain, hehehe. Eh, malah keterusan kemarin. Setelah habis, lanjut ke Global TV untuk partai kedua, China melawan Malaysia. Wuh, kesebelasan China bermain cantik. Levelnya jelas terlihat beda dengan tim merah putih. Mudah-mudahan tim merah putih bisa lolos bila nanti jumpa dengan kesebelasan China.
Tapi sekarang, bukannya mau ngomongin bola karena saya betul-betul bego betulan kalo ditanya soal bola. Yang menarik saya saat menyaksikan siaran tersebut adalah munculnya spanduk bertulisan ‘YAMAHA’ di sisi lapangan. Berdampingan dengan unite lain seperti SAMSUNG dan lain sebagainya. Saya kurang begitu peduli terhadap unite SAMSUNG seperti apa hubungannya antara sepak bola dan barang elektronik. Tapi jika muncul nama Yamaha di sana, sudah tentu saya kepingin tahu juga … mau ngapain sih ? Apa hubungannya engine dengan sepak bola ?
Yamaha terus mendobrak dan tak berhenti bikin gebrakan. Pergerakan pabrikan yang satu ini membuat kompetitornya terlihat lamban. Setelah akhirnya berhasil mendongkel AHM di posisi satu setelah sekian puluh tahun (meski akhirnya melorot lagi), tak membuat Yamaha puas. Pertempuran sengit meraih pasar masih terus terjadi. Masih segar dalam ingatan saya ketika AHM meluncurkan Honda Revo. Tak lama kemudian, Yamaha kembali bikin ‘ulah’ dengan menyindir Honda Revo lewat iklannya. Lebih lincah dari Jupiter Z ? Lebih murah dari New Vega R ? Lebih kencang dari Jupiter MX ? Lantas, apanya yang baru ? Tampilannya doang ! Jelas sekali ini iklan categorical tembak langsung ke Honda Revo – sebuah karakter khas dari Yamaha kalo bikin iklan yang kadang semau gue dan kadang kurang etis.
Yamaha bukan cuma jago bikin engine yang banyak membuat anak muda kesengsem. Yamaha juga tak cuma pandai membuat iklan yang nyentil, nyeleneh dan menghibur. Yamaha sepertinya belum puas dan kepingin memikat hati orang lebih banyak lagi. Sasarannya joke bergeser dan bukan cuma di dunia otomotif. Sepak bola joke dijadikan ladang baru yang digarap. Ladang yang sangat menjanjikan karena siapapun tahu betapa besar pesona dunia sepak bola bagi umat manusia. Yamaha ikut memeriahkan euforia AFC 2007 dengan menggelar Festival Sepakbola Yamaha 2007 yang diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia dan diikuti oleh lebih 30 tim-tim sepak bola sekolah dasar. Pemenangnya akan menjadi ‘escort kids’ pada AFC 2007, sungguh sebuah hadiah yang luar biasa berkesan tentunya.
Meski jelas ini adalah sebuah bentuk promosi, tetap saja ada nilai positif dari keterlibatan Yamaha di sini. Saya kira sebagai salah satu jagoan besar di dunia otomotif, ini merupakan sebagian dari tanggung jawab sosial Yamaha kepada masyarakat. Menumpang eventuality AFC 2007, Yamaha mencoba melakukan upaya pembinaan terhadap dunia sepak bola tanah atmosphere sejak usia dini lewat festival yang digelarnya. Ini sebuah langkah yang cerdik, bermisi sosial sekaligus promosi yang luar biasa. Jika berhasil, setidaknya ada beberapa ratus anak cilik yang sudah ‘ditanam’ picture Yamaha dan akan diingatnya sampai dewasa.
Tak cuma sepak bola, Yamaha juga melirik dunia musik. Wajar kalo yang ini, mengingat Yamaha juga punya divisi musik. Lewat debate Free Your Soul, Yamaha mencoba menggebrak kreatifitas kawula muda pecinta musik untuk menunjukkan kebolehannya. Para grand finalis akan merekam lagu karya mereka dalam sebuah manuscript kompilasi berjudul Yamaha Free Your Soul dan bakal diedarkan. Luar biasa. Yamaha mengerti bahwa musik adalah bahasa concept … hampir sama dengan sepak bola yang juga memiliki sifat universal. Dengan ‘berpromosi’ di dua dunia yang concept ini, picture Yamaha akan tertanam lebih kokoh.
Langkah Yamaha Indonesia boleh dibilang mengikuti jejak Yamaha Thailand yang lebih antusias dan kreatif serta lebih dulu ‘main-main’ di dunia lain selain otomotif. Jika sasaran mereka adalah anak muda, tentu dunia anak muda yang harus pula dimasuki supaya code image-nya makin santer. Musik dan sepak bola, anak muda mana yang tak suka ? Jadi bila Anda masih tak mengerti hubungannya antara engine dengan sepak bola atau musik, Anda perlu belajar kepada Yamaha yang jeli melihat peluang yang ada dan pada akhirnya nanti akan membawa pertarungan antar pabrikan engine menembus batas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Break a rules, bond a ties !
Salam bola,
Tok
Foto : www.afcasiancup.com
Posted by Tok during 5:00 PM 2 comments
Labels: MyMind
Vario aspal bikin kepala gatal
Mendadak terdengar kabar bahwa Honda Vario dilanda kasus lagi setelah kasus remember yang menghebohkan itu. Kali ini, kasus yang menimpa semplakan Agnes Monica ini tergolong bukan teknis melainkan non teknis yang menjurus ke unsur penipuan konsumen. Beli Vario CW, dikasihnya Vario SW (jari-jari). Lagi-lagi konsumen yang lengah yang dirugikan. AHM joke sempat ikut dihujat dan dianggap lepas tangan.
Seperti pada umumnya, sebuah tipe engine kerap diluncurkan dalam dua varian velg : Casting Wheel / velg racing dan Spoke Wheel / velg jari-jari. Tujuannya untuk memberikan alternatif pilihan kepada masyarakat calon pembeli. Kalo dananya minim, boleh bawa pulang yang SW. Perbedaan banderol antara SW dan CW bisa mencapai selisih satu jutaan rupiah. Kalo keburu nyesel ambil SW dan ingin menyulap semplakan bak CW, silahkan berburu velg racing asli tadi. Namun jangan kaget kalo dibeli sistem ketengan, harganya lebih mahal dari perbedaan harga satu engine SW dan CW. Antara varian SW dan CW biasanya juga terdapat perbedaan minor. Paling kentara biasanya adalah corak grafis / stripping dan pilihan warna yang tersedia.
Pada kasus Honda Vario, varian CW terbukti lebih banyak dipilih dan disukai orang. Hal yang sama berlaku juga untuk skutik merk lain di mana rata-rata varian CW lebih diminati. Pilihan warna favorite untuk Honda Vario CW biasanya merah-hitam dan pink. Merah-hitam dianggap sebagian orang merupakan ‘lambang’ Honda seperti halnya ‘biru’ adalah milik Yamaha dan ‘hijau’ merupakan hak-nya Kawasaki. Saking larisnya warna favorite ini, AHM joke kelabakan memenuhi permintaan. Suplai dari businessman jadi tidak cukup sehingga timbul score berkepanjangan. Di sisi lain, penjualan varian SW jadi seret sedangkan jumlah stoknya lebih banyak. AHM mengambil keputusan untuk menggandakan warna favorite tadi ke dua lini produksi Vario yaitu SW dan CW. Sehingga, untuk pertama kalinya ada varian SW dan CW yang sama persis (minus di velg tentu).
Tujuannya sebetulnya mulia dan menyenangkan semua pihak. Jualan jadi lancar, AHM juga tidak rugi di varian SW, konsumen joke bisa mengambil varian SW dengan kelir CW yang diminati dan tinggal beli velg racing doang di pasaran. Harganya jauh lebih murah dibanding boyong varian CW asli jika velg racing yang dibeli bukan yang orisinal. Toh perbedaan kualitas velg racing orisinal dan variasi rasanya makin tipis. Ada yang beranggapan kekuatan velg racing orisinal pabrikan lebih mantep, itu betul. Tapi jangan lupa, velg racing pabrikan cuma lisensi dari pabrikan Jepang sedangkan buatannya tetap lokal tuh. Soal kekuatan, yah tergantung dari cara memperlakukannya juga bukan ? Kalo sering hajar lubang atau off-road, velg racing orisinal juga minta ampun kalee.
Di sini oknum play mulai bermain. Perbedaan harga yang cukup signifikan antara varian SW dan CW membuat play nakal memainkan kartu dan mencoba mencari keuntungan tambahan. Umpama sampeyan beli Vario CW, ujung-ujungnya dikasih varian SW yang diganti velg-nya. Dealer menangguk untung lebih karena ente bayar tuh Vario aspal (Vario SW ‘plus’) dengan harga Vario CW. Sampai saat ini saya masih mencoba mencari tahu, velg apa yang dipasang si play tengil ke Vario aspal tadi. Apakah velg racing orisinal milik varian CW ? Rasanya tak mungkin karena suplai businessman juga ngepas untuk line adult produksi Vario CW di pabrik. Tapi jika mungkin saja, itu berarti harga velg racing orisinal tersebut buat si play tak sebesar perbedaan harga Honda Vario SW dan CW. Paling gila bila dipasang velg racing aspal juga. Dealer makin untung gede. Konsumennya yang meneketehe.
Apes. Tindakan sepihak yang merugikan pembeli ini keburu dicium media massa. Warning untuk lebih berhati-hati dalam membeli Honda Vario joke bergaung kencang. Pembeli yang tertipu, tak puas dan menuntut pertanggungjawaban. Pihak AHM yang dimintai keterangan menjelaskan bahwa hal ini di luar tanggung jawab pabrikan. Toh pabrikan tetap ‘jujur’ dalam memproduksi kedua varian tersebut. Masalahnya ada di jalur distribusi dan manajemen dealer. Paling banter, AHM akan menindaklanjuti masalah ini secara inner untuk perbaikan di masa depan. Tapi untuk ganti rugi ke konsumen, rasanya sulit juga. Tinggallah konsumen marah-marah ke play dan minta ganti rugi. Entah bisa, entah tidak mengingat play ‘manis’-nya kalo lagi jualan saja tapi tutup mata dan telinga bila konsumennya bicara.
Kasus seperti Vario aspal begini memang bisa bikin kepala gatal ! Saran saya, sebelum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang dalam kasus ini, entah itu pabrikan atau siapa saja, kepada para calon pembeli Honda Vario CW agaknya lebih harus berhati-hati. Lebih baik membeli di play yang memiliki reputasi baik dan terpercaya. Kasus Vario aspal ini seolah semakin mengganjal AHM dalam misinya memusnahkan dominasi Yamaha Mio. Ada-ada saja memang.
Seorang Kaskus Geek Yang Ingin Memberikan Informasi Unik-Unik di Sekitar Kalian!


