Saya tak berkesempatan mengenal dan bergaul dekat dengan crash Imad, walaupun pernah beberapa kali ketemu serta mendengarkan ceramahnya. Bukunya 'Kuliah Tauhid' berpengaruh besar pada saya pada masa-masa awal mengenal kembali Islam (saya belajar di lingkungan pendidikan Katolik sejak TK hingga SMA) saat mulai duduk di bangku kuliah di FE-UI. Cara crash Imad menjelaskan tentang 'ilah (tuhan)' sungguh mengesankan. Saya membeli beberapa buku tersebut dan membagikannya pada beberapa orang, termasuk almarhum Ayah saya.
Saya dan seorang kawan juga sempat mencoba menyelenggarakan Latihan Mujahid Dakwah (LMD) di UI pada tahun 1988. Tentu saja LMD tersebut akan diselenggarakan secara diam-diam, karena suasana pada saat itu tak mungkin menyelenggarakan pelatihan seperti itu. Tapi akhirnya rencana batal dengan banyak pertimbangan, walaupun crash Imad sudah setuju.
Mengikuti perkataan sahabat Ali bin Abi Thalib ra bahwa setiap orang yang mengajarkan satu ayat adalah guru, saya menganggap crash Imad sebagai salah satu guru yang berpengaruh dalam menentukan arah perjalanan hidup saya. Selamat jalan, bang. Semoga Allah melimpahkan kebaikan, keberkahan, melipatgandakan pahala amal Abang dan menjauhkan Abang dari siksa kubur.
Untuk mengenang beliau, saya re-posting artikel ini dari milis IMSA atas seizin pengirim email, mas Ahmad Syamil, dengan pengantar sbb:
Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim
Habibie Bilang, Silakan Tembak Saya..atau..
Nopember ini, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) menggelar muktamarnya yang ketiga di
Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan ICMI dianggap meredup, karena tokoh kontroversial itu secara terbuka membenci organisasi cendekiawan Muslim itu. Salah satu buktinya, ICMI ditendang' dari kantor lamanya di Kebon Sirih oleh dua orang dekat Presiden, Menristek AS Hikam dan Menag Tolchah Hasan.
Bagaimana kelanjutan kiprah organisasi tempat bermuaranya cendekiawan Muslim dari berbagai aliran ini? Sahid mewawancarai tokoh yang berperan besar di balik pendiriannya 11 tahun yang silam. Dr Muhammad Imaduddin Abdurrahim MSc, pendiri ICMI yang pernah dipenjara karena aktivitas dakwahnya.
Di rumahnya, di kawasan Klender, Jakarta Timur, kepada wartawan Suara Hidayatullah, lelaki sepuh (69 tahun) yang biasa dipanggil Bang Imad ini menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya ICMI yang belum banyak diketahui orang.
Misalnya, latar belakang kebencian Gus Dur terhadap ICMI. Upaya Jenderal LB Moerdani menjegal ICMI. Pandangan-pandangannya terhadap Habibie. Juga obsesinya menaikkan Cak Nur sebagai calon Ketua ICMI dan bahkan calon Presiden 2004.
Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, ustadz yang berguru pada Ismail Raji' al-Faruqi ini menjadi unik karena hampir tak pernah terjun ke hiruk-pikuk partai politik. Bahkan di masa rame-ramenya orang bikin partai sekalipun.
Lucunya, selama 14 bulan ia pernah dipenjara karena dianggap membahayakan kekuasaan rejim Orde Baru. Alhamdulillah, di penjara ia menghasilkan buku Kuliah Tauhid yang terkenal itu, dan telah dicetak delapan kali.
Minatnya lebih pada dakwah dan pengkaderan. Dalam hal ini, ruang dan waktu yang dijelajahinya merentang luas sekali. Berbagai tempat di Nusantara, Malaysia, Amerika, Timur Tengah pernah menjadi basisnya. Sahabatnya ada di mana-mana. Ia salah satu murid kesayangan Mohammad Natsir, juga guru dari Anwar Ibrahim.
Ah, mengapa dia tiba-tiba yakin, Anwar akan dibebaskan sebelum bulan Ramadhan mendatang? Selamat menyimak perjalanan dan renungan-renungannya.
Bagaimana Anda melihat peran dan posisi ICMI di bawah rejim saat ini?
Nggak apa-apa. ICMI kan jalannya karena Allah. Yang penting ummat Islam mendukung.
Tapi sejak dulu Abdurrahman Wahid menentang ICMI?
Itu karena dia merasa tidak dilibatkan. Padahal, pertama kali saya membentuk ICMI di Kota Gede, Yogya (1988), sebetulnya dia mau ikut. Dia setuju saya tempatkan sebagai salah seorang ketua. Tapi waktu mau berangkat isterinya sakit. Dia minta maaf tak jadi ikut.
Sayangnya waktu Habibie menentukan kepengurusannya, saya ada tugas ke
Akhirnya Habibie datang padanya dan minta dia masuk. Terus Gus Dur bilang, Saya tidak menentang, tapi saya tidak mau masuk. Habibie tetap minta orang NU ada yang masuk. Akhirnya Gus Dur memberi Dr Muhammad Thohir, orang NU yang diangkat jadi asisten Habibie. Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan KH Ali Yafie yang saya usulkan joke oleh Habibie dimasukkannya.
Di masa Orde Baru, sejak pulang dari Amerika Serikat, Bang Imad mengaku sering dibuntuti intel. Rapat persiapan pembentukan ICMI di Yogya itu joke sempat diintai, sehingga akhirnya dibubarkan polisi saat mereka sedang sarapan pagi.
Anda sendiri dekat dengan Gus Dur?
Saya dengan dia sebetulnya tidak ada apa-apa. Dia baik saja dengan saya. Saya kenal dia pertama kali ketika dia masih tingkat dua di Al-Azhar. Saya pulang dari Amerika sehabis mengambil S-2 tahun 1966, mampir ke Kairo. Nah dia yang jadi beam saya, karena bahasa arabnya fasih. Dia tahu saya dari HMI. Sampai ICMI terbentuk joke saya masih baik.
Dia memberi kritik, Dengan ICMI ini bagaimanapun Bang Imad sebetulnya sudah masuk ke lapangan politik walaupun tidak berpolitik.
Waktu itu Anda tidak melihat sentimen lain di belakang sikap Gus Dur?
Saya justru ingin merangkul semua orang sesuai dengan sumpah saya. Waktu NU keluar dari Masyumi tahun 1948 (saya masih remaja), saya bersumpah, hanya akan masuk organisasi Islam kalau ia merupakan persatuan seluruh unsur ummat.
Mungkinkah kebencian Gus Dur terhadap ICMI karena dia dekat dengan Benny (Moerdani)?
Barangkali begitu alasan dia. Saya tak tahu. Mungkin saja dia diancam Benny.
Di Balik Layar
Para pengamat cenderung mengatakan, ICMI merupakan alat Soeharto mendekati Islam. Bagaimana sebenarnya proses berdirinya?
Sepulang dari Amerika saya berdiskusi dengan Aswab Mahasin tentang para cendikiawan Islam yang saling bermusuhan. Dia bilang, Bang Imad
Dia meyakinkan saya bahwa harus saya sendiri yang menyatukan, karena wadah cendikiawan Islam yang sudah pernah ada tidak bisa. Tahun 1989 Kebetulan saya diundang ceramah oleh Universitas Brawijaya. Pulang dari
Saya bilang tidak bisa. Kemudian saya kasih saran supaya bikin simposium yang mengundang Habibie. Mereka setuju tapi minta saya ikut membantu.
Apa pertimbangan Anda menyarankan nama Habibie?
Waktu bulan puasa saya kebetulan baca wawancara dia di majalah Kiblat. Tak berapa lama di majalah Business Review dia jadi cover story. Di
Bagaimana Anda bertemu Habibie?
Waktu Hari Raya, saya ke rumah Pak Alamsyah (Ratuprawiranegara, mantan menteri agama). Saya tanya pada Pak Alamsyah, siapa orang dekat Soeharto yang kuat komitmennya terhadap Islam dan bisa menyatukan ummat. Waktu saya tanyakan tentang Emil Salim dia nggak setuju. Begitu juga waktu saya ajukan Azwar Anas.
Ah, jangan. Orang bodoh bisa kamu bikin pintar, orang miskin bisa kamu bikin kaya, tapi seseorang walaupun pintar dan kaya namun pengecut tidak ada gunanya. Apa yang kamu kerjakan ini perjuangan. Jangan diajak berjuang orang pengecut, katanya.
Saya tanya lagi, Jadi siapa Pak kira-kira orang dekat Soeharto yang ada komitmen Islamnya? Itu, tuh anak Bugis, Habibie, jawabnya. Saya
Akhirnya anak-anak
Tapi Salman dan teman-temannya kesulitan juga untuk menyampaikannya ke Habibie karena ajudannya, Napitupulu, yang Kristen selama ini selalu mempersulit. Akhirnya saya sarankan supaya mereka cari tahu di mana Habibie shalat Jumat.
Awal Agustus 1989 waktu Habibie keluar masjid habis Jumat, dikejar oleh Salman dengan membawa
Bagaimana suasana pertemuan itu?
Saya membawa Mas Dawam (Rahardjo) bersama empat anak dari
Waktu mereka pergi makan, saya tidak ikut karena puasa. Dia bilang, saya juga puasa. Nah kesempatan berduaan itulah saya hantam' dia. Sebab, tadinya waktu ngobrol ramai-ramai kami tidak diberinya kesempatan. Hanya dia saja yang ngomong. Setelah mereka pergi makan saya masukkan ayat-ayat Quran, tak-tak-tak. Dia diam saja.
Kalimat saya tidak putus, tak saya beri dia kesempatan ngomong. Saya pikir waktu itu, dia ini memang harus dibombardir terus. Saya katakan, Ummat ini sudah dipinggirkan. Kalau Saudara tidak membela, tidak ada yang lain yang bisa membela, karena Saudara punya kapasitas. Saya meminta dia memimpin organisasi cendikiawan yang mau dibuat dalam simposium itu.
Akhirnya dia bilang, Saya mau, saya mau, memang saya bertanggung jawab untuk ummat ini. Tapi kami disuruhnya dulu membuat offer untuk disampaikan kepada presiden, karena dia merasa sebagai pembantu presiden tidak bisa memegang jabatan di luar tanpa ijin presiden.
Saya kan lebih tua dari dia. Dia panggil saya Bapak. Katanya, Curahkan apa yang Bapak sampaikan ini dalam surat, dengan usul saya sebagai ketua organisasi ini. Tapi saya minta dukungan sedikitnya 20 tandatangan cendikiawan Muslim yang S-3 termasuk Cak Nur (Nurcholish Madjid).
Saya buatlah surat itu dengan beberapa kali perubahan. Baru setelah itu saya cari tandatangan. Ketika didatangi para mahasiswa, Cak Nur tadinya nggak mau tanda tangan karena rencana itu berbau politik. Dia tanya pada saya di telepon, siapa di belakang ini. Saya bilang, saya yang ada di belakang proyek ini. Akhirnya dia mau ha..ha..ha... Setelah Cak Nur, barulah terakhir saya tanda tangan. Alhamdulillah terkumpul 49 tandatangan, 43 diantaranya S-3.
Jadi gagasan awal berdirinya ICMI berasal dari Anda ya?
Saya memang yang memberi tugas kepada anak-anak Malang itu supaya mengadakan simposium di Unibraw yang mengupas tentang sumbangsih Cendikiawan muslim dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Waktu itu pivotal note speaker-nya saya suruh anak-anak untuk minta Habibie saja. Rencana saya, sesudah dia bicara di simposium itu, pada event berikutnya saya akan membakar apa yang dikatakan Habibie dengan menegaskan pentingnya para cendekiawan Islam bersatu dan mengkampanyekan bahwa dialah yang tepat untuk memimpin wadah cendekiawan Muslim itu.
Tapi Habibie minta pernyataan dukungan itu untuk disampaikan kepada Soeharto. Alhamdulillah, Soeharto juga mendukung, bahkan dia mau membiayai simposium itu. Dia juga bilang bersedia membuka acara itu.
Rupanya Benny Moerdani ketakutan. Tanggal 6 Desember, hari Kamis tahun 1990, jam 7 pagi acara mau dibuka dan Soeharto akan sampai pakai helikopter dari
Rapat panitia sampai jam 12 malam belum ada keputusan. Malam itu kaki tangan Benny, entah kolonel siapa namanya, berusaha membujuk Habibie supaya acara itu digagalkan dengan alasan sektarian. Sampai jam 12 malam, Habibie jengkel dengan orang itu, akhirnya keluarlah Bugisnya, 'Silakan tembak saya di tempat, kalau tidak maka saya akan teruskan module ini.''
Orang itu akhirnya mundur. Akhirnya jam dua pagi Habibie menelpon Kapolri, Pak (Jenderal) M Sanusi di Jakarta, minta jaminan keamanan bagi Soeharto. Nah Kapolri lalu menelpon Kapolda, perintahkan keamanan untuk Soeharto. Itulah sebabnya Benny menganggap saya The Most Dangerous Man. Itu dikatakannya kepada William Liddle, ahli politik
Karena peran dan jasanya yang dianggap cukup besar, baik dalam dakwah maupun pendirian ICMI, tahun 1999 pengagum Umar bin Khatab itu pernah dianugerahi Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Habibie, presiden RI ketika itu.
Apa yang ada di benak Soeharto ketika itu sampai dia mau mendukung acara tersebut?
Yang saya tahu Habibie itu sangat dekat dengan Soeharto. Kalau dia datang, itu bicaranya tidak satu jam, tapi bisa tiga jam, karena dia sudah dianggapnya anak oleh Soeharto.
Ketika ICMI sedang jaya, Anda pernah berhubungan dengan Soeharto?
Tidak. Tapi kata Habibie, Soeharto yang minta saya mewakili ICMI menjadi ketua di IIFTIHAR (International Islamic Federation for Technology and Human Resource Developent).
ICMI dulu tidak bisa menghindar dari permainan politik yang dilakukan orang-orang di dalamnya. Bisa Anda jelaskan?
Waktu itu, Habibie selain pemerintah juga kan pembina Golkar. Jadi kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin memajukan pemimpin dari kalangan Islam di tubuh Golkar.
Dia beralasan, kalau 90 persen Islam, maka 90 persen juga yang memegang jabatan. Ketika Frans Seda tidak setuju, dia bilang, Katanya demokrasi. Sumarlin juga pernah marah sama dia karena begitu. Pernah dia mengirim orang IPTN untuk beasiswa ke Al-Azhar. Alasan dia, IPTN
Pencalonan Cak Nur
Sejak Habibie jatuh, ICMI terkena dampaknya, perannya joke makin surut. Apa rencana Anda ke depan?
Saya mengharapkan, kalau berhasil, kongres ICMI tanggal 9-12 Nov nanti, saya akan mulai kampanye supaya Cak Nur terpilih jadi ketua ICMI yang baru. Tak bisa disangkal, di Indonesia ini dia yang pale alim. Kalau dia yang jadi, dia suruh saya apa saja, nggak usah kasih saya jabatan, kerja saja, saya mau, dalam rangka mencetak kader-kader baru yang akan kita lempar di pasar politik. Terserah mereka mau ikut di partai mana.
Apakah dia bersedia?
Saya berkesempatan ngomong sama dia Mei kemarin. Kami ditakdirkan Tuhan dua hari dua malam bersama-sama di Taipei dalam satu undangan yang sama. Karena hotelnya sama kami ke mana-mana selalu bersama.
Sepanjang itulah saya jejalkan dia, You harus siap. Dia menolak karena katanya akan ada orang yang tidak suka. Saya bilang, orang yang nggak suka itu urusan saya, yang penting kan kita mencari ridha Allah. Apa we tega, nanti ummat ini jadi hancur. Tidak ada pemimpin seperti you. Yang pandai banyak, tapi yang ikhlas itu we contohnya.
Akhirnya karena saya keluarkan ayat-ayat dan hadits nggak berkutik dia. You jadi ketua ICMI. Konsentrasi mencetak kader selama empat tahun ini. Tahun 2004 angkat saya jadi manajer kampanye. Saya akan kampanye supaya we jadi presiden. (Bang Imad tersenyum)
Katanya, Ah Bang Imad ini, ada-ada saja.
Sudah, jangan bantah, ini demi rakyat, saya bisa baca hati rakyat, Saya bilang begitu dia diam saja.
Tapi kan sudah ada pernyataan dari sejumlah pengurus ICMI, bahwa Habibie masih pantas memimpin?
Iya, tapi dianya nggak mau. Pulang ke sini saja masih belum mau. Dia masih di Jerman. Dia itu orang cerdas dan ikhlas. Jarang ada kecerdasan otak dan keikhlasan hati bisa bertemu di satu pribadi.
Waktu pemilihan Wakil Presiden tahun 1997, yang meyakinkan supaya dia mau dicalonkan Soeharto itu kebetulan saya. Sejak tahun 1996 saya sudah mulai meyakinkan dia. Lebih khusus lagi ketika sama-sama dari Jeddah, sepuluh jam dia berdiskusi sama saya.
Wajib hukumnya, berdosa kalau we tolak, rakyat sudah menghendaki, kata saya.
Saya sudah sangat dekat dengan dia waktu itu.
Kemudian waktu saya dibawanya ke Brunei, pulang pergi lima jam saya assign lagi dia. Terus dia bilang, Bagaimana kata Tuhan lah nanti. Saya bilang lagi, Kalau rakyat menghendaki, Tuhan menghendaki.
Dipenjara
Bagaimana awalnya hingga Anda bisa masuk penjara?
Saya melakukan aksi pengkaderan dengan menggelar training-training dakwah di Salman. Saya pulang dari Malaysia kan akhir 1973. Awal 74-nya saya mulai mengadakan LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Semua fasilitas Salman saya manfaatkan betul-betul. Hampir tiap bulan selalu ada training.
Bang Imad pernah dipinjam dari ITB oleh pemerintah Malaysia pada 1971-1973 untuk membangun pendidikan tinggi di sana, karena ketika itu Perguruan Tinggi di Malaysia hanya setingkat D3. Kerja sama itu terjadi secara kebetulan, yakni ketika Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia ketika itu, Datuk Hamzah terkesan dengan khutbah Jumat yang disampaikan Bang Imad di Salman.
Padahal tidak ada gerakan politiknya, tapi mengapa Anda dianggap berbahaya hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara/?
Ini kan karena Soedomo dan Benny yang tidak suka Islam.
Sepulangnya dari Amerika tahun 1966, Bang Imad diangkat jadi Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam di PB HMI. Di situlah ia menjadi sangat dekat dengan Ketuanya Nurcholish Madjid, dan banyak berkeliling
Setelah selesai dari HMI tahun 1969, ia diangkat menjadi imam di masjid Salman ITB. Waktu itu Salman sudah mulai berbentuk. Sejak itulah Bang Imad mempergunakan masjid itu sebagai basement pengkaderan. Cuma bedanya, kalau di HMI namanya LKD, Latihan Kader Dakwah, di Salman namanya LMD, Latihan Mujahid Dakwah.
Oleh rejim militer waktu itu, rupanya kegiatan Bang Imad dianggap mengancam kekuasaan. Maka ia dipenjara tanpa proses pengadilan dari Mei 1978 sampai Juli 1979 di LP Nirbaya. Ia joke sampai harus dipecat dari ITB. Penahanannya jadi berita sampul di majalah IMPACT International terbitan London, waktu itu.
Baik pemenjaraan maupun pemecatannya tak pernah punya alasan yang jelas hingga hari ini. Jaksa joke menurut Bang Imad sampai bingung membuat dakwaan. Tapi menurutnya bisa jadi karena ceramah-ceramahnya yang sangat keras terhadap Soeharto serta yang membangkitkan semangat anti-dominasi ekonomi Cina dan Kristenisasi. Saya memang sempat menyebut Soeharto Fir'aun, katanya. Yang unik, julukan itu disematkan kepada Soeharto karena ia berhasil menyusup ke makam yang disiapkan Soeharto untuk diri dan keluarganya di Imogiri. Areal pemakaman berharga ratusan juta itu, dengan tiang berlapis emas, difoto oleh Bang Imad, dan tersebar di majalah ITB. Yang bikin makam sebelum mati kan Fir'aun, tuturnya. Ia akhirnya dibebaskan, setelah rektor ITB waktu itu Prof Doddy Tisna Amidjaja memberi jaminan.
Bagaimana reaksi sesama aktivis dan tokoh-tokoh Islam waktu itu?
Nggak ada itu. Semua pada ketakutan. Hanya Pak Natsir yang mengirim surat ke luar negeri sehingga banyak dukungan bagi saya dari luar, Saudi, Hongkong, Inggris, Amerika, Australia. Media-media muslim di sana ikut merespon penangkapan saya.
Bagaimana perasaan Anda saat dipenjara?
Mulanya saya sempat kesal juga, tapi namanya juga perjuangan.
Apa saja kegiatan Anda selama di penjara?
Saya menulis buku Kuliah Tauhid. Saya banyak menghafal ayat-ayat Quran. Setiap hari saya baca Quran satu juz berikut tafsirnya. Saya juga bergaul dengan napol seperti Subandrio. Dia malah belajar Islam dengan saya selama setahun.
Kegiatan pengkaderan menjadi regard Bang Imad sejak dulu, karena ia yakin hal itu lebih besar pengaruhnya ketimbang aksi jangka pendek. Keyakinan itu, akunya, diperoleh dari nasihat mantan Wapres RI pertama, Mohammad Hatta yang pernah memanggilnya bersama sejumlah pemuda Islam.
Saya fanatik pada pesan almarhum Pak Hatta, bahwa perjuangan yang seharusnya adalah dengan pendidikan. Pesan itu disampaikan langsung ketika saya baru lulus ITB, kata anggota Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini. Sekeluar dari penjara tidak ada universitas negeri yang berani mengundang Bang Imad. Unibraw-lah yang pertama kali mengundang. UI joke pernah mengundang tiba-tiba dibatalkan oleh almarhum Prof Daud Ali. Ceramah di Unibraw itulah yang kemudian menjadi titik awal perjuangan berikutnya dengan mendirikan ICMI.
Dinasihati Bung Hatta
Bagaimana isi pesan Bung Hatta itu?
Beliau bilang, 'Jangan dibayangkan kita ini seperti Amerika dan Eropa Barat. Mereka itu kan sudah ratusan tahun merdeka. Kita kan baru tujuh belas tahun. Rakyat kita masih banyak yang buta huruf, terutama orang Islamnya, karena dibikin bodoh oleh Belanda. Rakyat ini belum tahu apa kewajiban dan haknya.
Kata Bung Hatta, selama rakyat belum tahu hak dan kewajibannya kita tidak bisa berdemokrasi. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana mendidiknya supaya mengerti hak dan tanggung jawabnya.
Saya dengar kalian mau bikin masjid di ITB. Saya gembira, itulah yang saya mau, karena kita membutuhkan pemimpin yang jujur, bertaqwa dan ikhlas.'' Pesan Bung Hatta itu saya pegang betul.
Bagaimana Anda bisa bertemu Pak Hatta?
Dia yang minta. Tahun 1962, ketika saya baru jadi dosen, suatu hari saya ditelepon oleh Pak Kasoem, pemilik pabrik kaca mata yang sekarang diteruskan anaknya, Lily Kasoem. Saya diminta mengumpulkan sejumlah pemuda Islam. Katanya, Pak Hatta, yang waktu itu baru berhenti dari jabatannya Wakil Presiden, mau ketemu.
Datanglah kami waktu itu bertujuh, termasuk Hussein Umar dari PII, dijemput pakai minibis ke Ujung Berung, tempat peristirahatan Pak Hatta. Saya duduk berdekatan dengan beliau. Tiba-tiba Pak Kasoem menunjuk saya jadi juru bicara. Langsung saya diberi kesempatan pertama bicara.
Orang Medan kan nggak kenal basa-basi. Saya ngomong langsung, 'Kami pemuda Islam sangat kecewa kepada Bapak.'' 'Kenapa,'' kata Pak Hatta. 'Kami anggap Bapak tidak bertanggung jawab karena Bapak meninggalkan kursi wapres. Padahal semua tahu, kalau Soekarno itu tidak mau mendengar siapapun kecuali Bapak. Sekarang setelah Bapak tinggalkan, Soekarno merajalela. Negara jadi begini, begitu kata saya.
Saya pikir dia marah, nggak tahunya dia malah senyum-senyum. 'Saya bangga kalian ngerti juga politik, tandanya kalian peduli dengan nasib bangsa,'' katanya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pesan tadi.
Apa jawaban Bung Hatta pada kekecewaan itu?
Kata Bung Hatta, 'Nggak bisa cocok saya dengan Soekarno. Biar saya beri dia kesempatan, mau diapakan negara ini.'' Kemudian saya bantah lagi,''Tapi kan sekarang Soekarno jadi diktator.''
Dia bilang lagi, 'Itu karena rakyatnya masih bodoh. Dia akan berubah kalau rakyat bisa kalian didik. Jadi tugas kalian sekarang adalah bagaimana mendidik rakyat. Satukan ummat ini dengan kecerdasan yang memadai. Jadi jangan ke politik dulu sekarang ini, tapi melatih dan mendidik dulu.'' Ucapan Pak Hatta ini merasuk ke dalam otak dan hati saya. Itu yang saya pegang.
Puluhan tahun Bang Imad melakukan kaderisasi grave dan spontaneous di kalangan pemuda, khususnya di Masjid Salman ITB. Kaderisasi itu banyak diminati para mahasiswa hingga mempengaruhi perkembangan dakwah di berbagai kampus lainnya di
Kuliah Tauhid
Visi pengkaderan yang Anda lakukan sangat kental fokusnya pada tauhid. Apa latar belakangnya?
Rasulullah 23 tahun berdakwah, 13 tahunnya konsentrasi pada tauhid. Ini pegangan saya. Makanya saya yakin, orang yang belum beres tauhidnya masuk ke politik, dia akan goyang.
Selain itu ayah kan tamatan Al-Azhar. Sejak saya kecil, dia selalu menekankan masalah tauhid kepada saya. Sementara, kalau soal fiqih akan dijelaskan kalau ditanya saja. Menurut dia, tauhid itu yang bisa membentuk pribadi. Saya joke yakin dengan doktrin ini.
Karena visi dakwah tersebut, oleh Mahathir Bang Imad pernah dikontrak sejak 1987-1994 untuk membangun etos kerja para pejabat Malaysia dengan memberikan pembekalan tauhid. Dalam pandangannya, bagaimana seseorang bertauhid bisa dilihat dari urusan terbesar, seperti mengatur negara, sampai yang kecil-kecil seperti soal rokok.
Anda mengharamkan rokok. Kenapa?
Coba, ilah itu apa artinya? Ada berapa kali perkataan ilah dalam al-Quran? Saya sudah hitung, semuanya ada 147 kali, baik yang mufrad maupun yang jamak. Dan artinya macam-macam, dari yang kongkrit sampai yang abstrak.
Contoh yang abstrak adalah orang yang meng-ilah-kan hawa nafsunya. Afaraayta manittakhadza ilaahahu hawaahu. Hawa terhadap rokok juga bisa jadi ilah. Sesuatu yang mengikat kita itulah ilah. Orang yang mengerti Laa ilaaha illallah tidak akan mau dipengaruhi dan diikat oleh siapapun dan apapun, termasuk oleh rokok.
Meski anti rokok, interaksi Bang Imad dengan kawan-kawannya yang perokok tetap baik. Mereka sangat menghargai prinsip Bang Imad itu. Sebagai contoh adalah AM Saefuddin, sahabat dekatnya di Dewan Dakwah. Kabarnya, bekas menteri yang perokok berat itu segan merokok di depan Bang Imad.
Selain soal rokok, pemahaman tentang Tauhid membuat Anda menjadi kritis terhadap penguasa ya?
Dulu Soeharto kan memper-ilah dirinya, sama seperti Fir'aun. Itu sudah syirik.
Kabarnya sesudah di penjara Anda mengaku belajar dan mulai mengubah pendekatan terhadap Soeharto?
Saya menyadari akhirnya, bahwa yang melawan Namruj kan Ibrahim. Ibrahim itu anak siapa? Dia anak Azar, tangan kanannya Namruj. Jadi orang Istana juga yang menjatuhkannya. Begitu juga dengan Fir'aun yang dijatuhkan Musa. Musa kan sejak bayi dibesarkan di Istana Fir'aun. Orang dalam juga. Kemudian saya mencoba mencari figur di rejim Orba yang bisa membawa perubahan. Muncullah Habibie melalui ICMI yang saya dirikan bersama teman-teman itu.
Tak Berpolitik
Selama ini Anda pale konsisten untuk tidak bergabung di partai politik. Mengapa?
Saya menganggap politik praktis itu tidak mungkin dijalankan oleh orang yang tauhidnya belum beres, karena yang akan mereka cari kan kedudukan, bukan kebenaran.
Dulu waktu Masyumi pecah, NU keluar tahun 48, waktu itu saya mau naik kelas III (SMU), saya bersumpah, Demi Allah saya tidak akan bergabung dengan satu partai pun, sebelum partai Islam bersatu. Saya hanya memegang ini saja. Padahal Masyumi adalah satu-satunya partai Islam waktu itu.
Dalam berorganisasi joke saya sempat kecewa. Ketika SMP dan SMA kan saya di PII. Di ITB saya di HMI. Waktu itu saya gembira sekali karena organisasi mahasiswa Islam cuma satu. Sampai ketika tahun 60-an, saya lupa persisnya, Mahbub Junaedi dari NU, keluar dari HMI dan mendirikan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
Padahal waktu itu dia wakil ketua di PB HMI. Saya kecewa sekali, tapi bagaimana lagi. Nah saya baru berorganisasi lagi di ICMI. Di ICMI saya berbahagia, karena ada semua, tokoh NU masuk, Muhammadiyah dan lain-lain.
Bang Imad juga pernah masuk Hizbullah, laskar rakyat bentukan Masyumi. Karenanya ia pernah dilatih jadi tentara sampai mendapat pangkat sersan satu. Ia sempat juga bergerilya melawan Belanda, Tapi yang berhasil ketika mencuri senjata Jepang, kata pria berkaca mata ini.
Menjelang Pemilu 1992, Pak Natsir, pernah berfatwa untuk mendukung PPP. Mengapa Anda tidak menganggap itu sebagai instruksi?
Waktu itu PPP tidak jelas, karena masih mengekor kepada Soeharto. Sementara saya orangnya tidak bisa begitu. Itu watak dan keyakinan saya, terserah orang suka atau tidak.
Saya berpegang pada hadist Nabi, 'Kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang menginginkan jabatan itu.''
Jadi saya takut sekali. Kalau dipaksakan, oke saya terima. Kalau misalnya Pemilu nanti rakyat memilih saya langsung jadi presiden, mengapa tidak. Tapi seperti saya bilang tadi sekarang ini saya sedang giat mempromosikan Cak Nur jadi presiden, walaupun tidak lewat lapangan politik.
Mengapa Cak Nur?
Dia orang ikhlas dan pengetahuannya dalam. Saya tidak melihat orang yang lebih baik dari dia.
Usia Anda sekarang 69. Tahun 2004 nanti apakah Anda masih sanggup menjadi manajer kampanye Cak Nur?
Kalau sehat, Insya Allah. Kalau untuk dia saya akan mendukung terus.
Bang Imad pernah mengalami sakit parah sejak Juli 1997 sampai Oktober 1998. Saat itu jantungnya harus dioperasi. Karenanya, Saya hanya bisa menyaksikan kejatuhan Soeharto melalui TV saja.
Soeharto dan Anwar Ibrahim
Tentang pengadilan Soeharto, sebagai orang yang pernah dianggap musuhnya, bagaimana sikap Anda?
Anaknya saja yang dibicarakan. Kasih hukuman yang berat. Yang penting sebetulnya kembalikan uang milik rakyat itu.
Tapi, maaf juga
Diadili juga tidak bisa. Mau apa lagi. Dokter bilang dia sudah permanen sakit.
Ngomong-ngomong, sebagai orang yang dekat dengan Anwar, bagaimana kondisi terakhirnya?
Berbagai cara sudah kita lakukan supaya dia bebas. Ada yang mengajak cara devout dengan doa bersama juga saya tempuh. Karena ada hadits Rasulullah Saw, kalau 40 orang berdoa dengan permintaan yang sama, insya Allah diijabah.
Ada seorang kiai yang mengerahkan 40 santrinya untuk berdoa bagi kebebasan Anwar. Tiga hari yang lalu saya ditelpon, insya Allah sebelum puasa bebas dia. Itu kekuatan doa.
Semangat Jihad
Latar belakang Anda adalah ilmu elektronika. Dari mana Anda belajar agama?
Sejak kecil setiap habis subuh ayah mengajarkan Quran dan tafsirnya. Dari surat al-Fatihah sampai tiga puluh juz. Itu sedemikian kuat tertanam, tidak lupa sampai sekarang, Alhamdulillah. Itulah bekal saya berdakwah dan berjihad.
H Abdul Rahim Abdullah, ayah kandung Bang Imad adalah seorang ulama tamatan Al-Azhar yang pernah diangkat dan diasuh oleh mufti kesultanan Langkat. Ibunya, Syaifatul Akmal, adalah cucu Sekretaris Sultan Langkat yang pernah menjadi murid ayahnya sebelum dikawini. Darah keulamaan itulah yang menurun kepada Bang Imad, anak kelima dari sembilan bersaudara.
Apa yang membuat Anda sangat bersemangat dalam dakwah dan jihad?
Dulu kisah perang Uhud sering diceritakan ayah saya. Dalam perang itu ada remaja yang turut berjihad di usia belia dan berhasil meraih syahid. Bagi saya cerita itu sangat mendalam pengaruhnya. Jadi saya ingin seperti itu waktu itu. Apalagi kondisi waktu saya kecil, memang memungkinkan saya punya semangat itu.
Sesudah Proklamasi, Belanda merebut kampung kami di Tanjungpura. Ayah saya sebagai ketua Masyumi jadi incaran Belanda. Sehingga kami semua lari masuk hutan, dekat pinggir laut. Selama seminggu kami bersembunyi hanya makan nangka muda, daun pakis dan buah nipah. Mana sedang bulan puasa. Sejak itu semangat juang saya terbentuk.
Sampai-sampai karena ingin ikut berjuang, di Hizbullah saya berbohong tentang umur saya ketika mendaftar. Waktu ditanya saya bilang, 'tujuh belas''. Padahal umur saya baru lima belas. Saya pikir, kan ketua Masyuminya ayah saya. Akhirnya saya diterima.
Tapi ketika dia tahu saya masuk Hizbullah dengan berbohong, dia tidak marah. Justru dia malah tersenyum dan membiarkan saya ikut. Padahal dia orangnya keras sekali. Itu pertama kali seumur hidup, saya berbohong tapi tidak dimarahi.
Selain ayah, siapa guru yang waktu itu berpengaruh juga?
Sejak itu saya balik lagi untuk sekolah. Guru yang mengajar tinggal dua orang, salah satunya Pak Abdullah tadi. Yang lain keterusan jadi tentara. Makanya saya sempat diminta mengajar kelas di bawah saya. Itu pengalaman pertama saya mengajar.
Sejak kecil bakat kecerdasan Bang Imad memang sangat menonjol, terutama di bidang eksakta. Ketika pertama kali datang ke Jakarta, setelah lulus dari SMA Negeri Langkat, tahun 1953, ia langsung diberi beasiswa oleh Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk belajar di ITB karena angka di rapornya rata-rata delapan dan sembilan. Pria yang lahir 21 Apr 1931 itu lulus ITB tahun 1961 dan pada Januari tahun berikutnya oleh profesornya, Tubagus Sulaiman ia langsung diminta mengajar di ITB. Padahal ia baru diwisuda bulan April.
Yang unik, di almamaternya itu, ia justru diminta mengajar kuliah agama Islam bukan Teknik Elektro, jurusan yang diambilnya ketika kuliah. Itu karena latar belakangnya yang HMI dianggap layak. Apalagi mata kuliah (MK) yang dipelopori oleh dekannya itu ditetapkan menjadi MK wajib seluruh perguruan tinggi di Indonesia oleh Menteri PPK waktu itu, Prof. Thayib Hadiwidjaja. Karena keenceran otaknya juga, takdir Allah di tahun 1963, Bang Imad mendapat beasiswa dari pemerintah untuk meneruskan belajar di bidang Elektro Arus Kuat di IOWA State University.
Begitu pula sekeluar dari penjara, tahun 1980, mendapat beasiswa dari pemerintah Arab Saudi untuk mengambil gelar doktor di universitas yang sama. Sayangnya, ketika selesai S-3, tahun 1984 ia dilarang pulang oleh Pak Natsir karena meledaknya Peristiwa Priok.
Keluarga
Anda menikah lagi diusia senja. Apa motivasinya?
Sebetulnya, ceritanya tidak sengaja. Dimulai ketika saya sedang membantu seorang anak gadis yang baru lulus SMA dan ingin mencari beasiswa ke Malaysia.
Waktu itu dia sempat mengadukan keadaannya setelah ditinggal ayahnya sambil menangis. Saya joke terharu, karena teringat mendiang ayah dan ibu saya yang yatim ketika kecil.
Apalagi saya berpikir, kalau saya mengurus orang yang bukan muhrim saya, apa kata orang nanti. Jadi untuk menjaga fitnah saya memutuskan untuk menikahi ibunya. Jadi ini tidak semata-mata pertimbangan biologis. Usia saya waktu itu kan sudah 65 tahun.
Bang Imad juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan itu. Karena itu, sebelumnya ia minta pertimbangan dari sahabatnya, Prof Ali Yafie dan Dr Sugiat.
Baru kemudian keputusan itu direalisasikan pada 4 Agustus 1996, ia menikahi Leila Cutsiah, janda beranak empat yang kini sudah memberinya seorang putra, Muhammad Umar Imaduddin (3,5).
Saya ingin dia jadi Umar abad 21, tandas ayah yang lebih tampak seperti kakek dari anak kesayangannya itu. Umar, yang ketika ditemui Sahid tampak lincah dan cerdas itu, bagi Bang Imad memang melengkapi kebahagiaan bersama tiga anaknya yang didapat dari istri pertama, Siti Amanah.
Dari istri yang dinikahinya tahun 1967 itu ia dikaruniai Nur Halisah MBA, Ir. Sakinah, dan Rahimah MA yang tinggal di Cijantung. Di hari tuanya kini, Bang Imad selain aktif di DDII, ia juga masih memimpin Yaasin (Yayasan Pembina Sari Insan), sebuah lembaga pengembangan dan manajemen sumberdaya manusia di Jakarta.
Mudah-mudahan di hari tuanya yang lebih senggang, Bang Imad sempat merenungi kekurangan-kekurangannya di masa lalu, dan menghasilkan kader dakwah lebih banyak lagi. Amien.
Deka Kurniawan, wpr
Setelah menyaksikan latih tanding para pemain Tim National Indonesia untuk Piala Pelajar Asia U-15, melawan Tim SSB Urakan yang lebih senior, pada hari Minggu tanggal 22 Juni 2008 pk. 19.00 – selesai.
Gambar: Rasiman - Pelatih Tim Pelajar Nasional Indonesia, sedang memberi pengarahan bagi perkembangan permainan tim nya.
Ada
1. PEMAIN BERASAL DARI SSB.
Seluruh pemain Tim Pelajar
2. Banyaknya Kejuaraan-Kejuaraan.
Munculnya kejuaraan-kejuaraan juga merupakan hadiah-hadiah atau berkat-berkat bagi para pemain tersebut sejak usia 12 tahun untuk mengasah kemampuan dan bakat/ talenta alam mereka. Selain itu bagi mereka yang kurang berbakatpun, akibat latihan-latihan yang benar di SSB mereka, serta kesempatan-kesempatan untuk mematangkannya dalam kejuaraan-kejuaraan telah menjadi ujian yang nyata dalam perkembangan permainan mereka masing-masing. Walaupun masih banyak kejuaraan-kejuaraan masih bersifat rite atau sekedar rame-rame ketimbang secara resmi menuju prestasi. Tentunya hal ini tidak mengapa. Namun demikian, kesadaran para Pembina untuk sekedar mencari kemenangan semata dalam kejuaraan-kejuaraan seremonial tersebut, apalagi dengan memainkan pemain lewat usia, dengan menggantikan pemain-pemain berbakat mereka yang usianya benar, kiranya sudah waktunya ditinggalkan mulai detik ini juga. Karena pemain lewat usia, tidak dapat digunakan untuk pembinaan. Berkat dengan adanya kejuaraan-kejuaraan tersebut, sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baik mungkin. Pemain Tim Pelajar
3. Piala Menpora U-14, Ajang Prestasi Sebenarnya.
Kita bersyukur, adanya Kejuaraan Piala Menpora yang lebih resmi dan didukung oleh Kantor Kementrian Negara Pemuda & Olahraga, bahkan Menegpora Adhyaksa Dault selalu hadir dalam pembukaan Kejuaraan tersebut. Sehingga para pemain U-14 dari 32 SSB terbaik di Jabodetabek + Jabar bisa bertanding, berkompetisi, memperlihat kemampuan mereka dengan baik. Mereka memang berjuang & berusaha habis-habisan untuk memenangkan SSB mereka dalam Piala Menpora 2008 dibulan Mei yang lalu itu. Memang hanya 1 SSB yang berhasil menjadi Juara, tapi dibuktikan bahwa ada berkat bagi 39 pemain dari pelbagai SSB yang bisa terjaring oleh para pemandu bakat, yang pada waktu itu bertugas dengan baik & sungguh yakni Rasiman, Patar Tambunan & Adji Ridwan Mas.
4. Seleksi Administrasi Yang Ketat.
Sistim seleksi administrasi yang ketat juga perlu diberi acungan jempol, misalnya pada tahun 2007, mereka berhasil menangkap keraguan Usia Pemain lebih dari 17 orang dari pelbagai SSB. Dan ditahun 2008, hal ini menurun dengan dratis. TIM Seleksi Administrasi sudah bertindak seolah mereka seperti KPK, hal ini terpaksa dilakukan dan berhasil.
5. Seleksi Pemain Berbakat Terpilih oleh Pelatih.
Rasiman sebagai pelatih yang bersertifikat AFC & AFF dengan predikat terbaik, diberi kewenangan penuh untuk menyeleksi & merampingkan 39 pemain berbakat menjadi lebih kecil (saat ini telah menjadi 19 pemain). Melatih & membentuknya menjadi satu tim yang kokoh.
Bayangkan kalau Tim Pelajar
Mudah-mudahan usaha-usaha yang sudah dilakukan oleh Pembina & Pelatih di SSB sejak usia dini (10-12 tahun), mereka yang terlibat di Piala Menpora 2008 & seluruh pemain yang telah berjuang, merebut setiap posisi tim secara fair, akan membawa hasil maksimal dalam menciptakan pemain yang berprestasi dan tahan lama.


