AfterSixHour
tag:blogger.com,1999:blog-6694849377121110467. 2011-08-16T00:41:51.161+07:00 . AfterSixHour. design, art, skateboarding, dan photography . AfterSix
Kimun666′s Weblog

SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an-2000an

By Kimung

Teman-teman, kita sudah sampai di epoch baru industri musik…

Wenk Rawk, 2007

Inilah promotion informasi pale diminati mengenai wajah indsutri musik baru Indonesia. Essay yang ditulis scenester pionir Wenk Rawk ini menggambarkan dengan gamblang bagaimana kini tag rekaman meluaskan ekspansi bisnis mereka dalam industri musik tanah air, yaitu dengan membuka divisi manajemen artis di tag rekaman. Ini adalah sebuah jalan pintas yang dilakukan perusahaan rekaman untuk mengeksploitasi artis-artisnya, ketika bisnis utama mereka semakin terpuruk akibat maraknya pembajakan di tanah air. Jelas fenomena manajemen artis di sebuah tag bukan suatu yang sehat karena tag tag rekaman jelas tidak kompeten untuk urusan manajemen artis, berpotensi merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait—artis, manajemen, label, dan rentannya konflik kepentingan tingkat tinggi, saat manajernya bingung harus membela kepentingan siapa bila terjadi bentrok antara artis dan label.

Memang sistem manajemen artis dalam sebuah tag rekaman bukanlah fenomena umum dan hanya beberapa gelintir perusahaan rekaman yang telah menerapkan hal ini. Namun itu sudah menjadi tak penting, karena yang terpenting adalah mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi.

Rawk menganalisis, penyebab kondisi tak sehat ini terjadi akibat semakin parahnya praktek pembajakan di Indonesia dan juga peran pemerintah yang berkesan main-main saja dalam mengatasi hal ini. Musisi-musisi independen jelas gerah dengan kondisi ini. Dengan kreatif, mereka lalu melawan sistem pembajakan dengan cara yang sama : pembajakan pula, namun kini yang membajak adalah musisi kreator karya mereka sendiri. Dan kemudian meledaklah fenomena yang mengguncang industri musik tanah atmosphere itu—penggratisan manuscript oleh para musisi atau band.

Koil, menjadi rope pionir fenomena ini. Mereka bekerja sama dengan sebuah perusahaan minuman dalam merilis manuscript mereka dan juga menjalin kerjasama dengan majalah Rolling Stone untuk mendistribusikan manuscript terbaru mereka, Blacklight Shines On secara gratis. Tak hanya itu, mereka juga memberi akses download manuscript gratis around website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak strange juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping manuscript terbarunya secara gratis around Tabloid Sun di Inggris.

Dan demikianlah, maka Otong dkk, tanggal 21 Sep 2007, tampil di sebuah studio di bilangan Cililitan, Jakarta Timur, untuk memperkenalkan manuscript Blacklight Shine On, sekaligus juga pembuatan video klip “Semoga Kau Sembuh Part II” yang disutradarai Rizal Mantovani dan juga merupakan soundtrack film Kuntilanak 2. ini adalah sebuah tonggak baru yang ditancapkan Koil setelah rilisnya manuscript Megaloblast enam tahun lalu, manuscript yang berhasil menembus angka fantastis. Album Megaloblast re-mix tahun 2003 berhasil menembus angka penjualan hingga 30.000 keping.

Blacklight Shine On dalam hal ini tak berpretensi memecahkan rekor Megaloblast. Album ini sangat penting karena menggunakan sistem baru dalam pendistribusiannya : penggratisan album. Otong memaparkan bahwa Blacklight Shine On, “…menyasar penikmat musik Indonesia dari lapisan menengah ke bawah. Kami menyajikan musik bagus dengan kualitas suara yang bagus pula, tapi dapat dibeli dengan harga murah.” papar Otong, menjelang syuting video klip yang disutradarai Rizal Mantovani.

Blacklight hine On, secara musikalitas memang snagat spektakuler. Namun yang tak kalah hebat adalah pengemasan lirik-lirik khas yang ditulis Otong. Beberapa lagunya, “Kenyataan dalam Dunia Fantasi”, “Semoga Kau Sembuh”, “Ajaran Moral Sesaat”, “Aku Lupa Aku Luka”, dan “Hanya Tinggal Kita Berdua” banyak menyoroti ketimpangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Otong yang menulis semua syair memberikan komitmen, “Kita butuh sesuatu untuk bangsa ini. Dari sinisme yang saya kemukakan di beberapa lagu awal, akhirnya toh saya tetap akan membela negara ini, apapun akibatnya.” Selain menggratiskan CD mereka, Koil juga membagikan manuscript pale ditunggu pecinta musik bawahtanah ini dalam format MP3. untuk mempromosikan manuscript mereka, Koil juga menggelar serangkaian tur mulai Nov di Jakarta, Bandung, Yogyakata, Surabaya, dan Denpasar.

***

Namun, itu adalah kini. Jauh sebelumya, Koil yang didirikan tahun 1993 oleh Otong, Doni, Imo, dan Leon dirintis dari awal di titik nol. Band yang sejak awal berdiri memutuskan memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri itu, merekam 8 lagu mereka dan merilisnya dalam singular berjudul Demo From Nowhere dalam format kaset yang dijual terbatas, hanya di Studio Reverse.

Musik Koil adalah musik stone yang dipenuhi sampling suara yang tidak hanya berasal dari instrumen musik tapi juga dari suara-suara yang ada di sekitar kita seperti suara air, besi dipukul, suara-suara binatang, suara orang pidato, dan lain-lain. Dari segi lirik, penulisan lirik-lirik yang mengekspresian rasa marah, kegelapan dan cinta, dituangkan dalam bait-bait lirik berbahasa Indonesia yang tertata apik. Ini adalah suatu nilai and karena lirik bahasa Indonesia masih jarang dipakai untuk jenis musik stone seperti Koil. Hal inilah yang menarik perhatian Budi Soesatio dari tag Project Q untuk merilis album-album Koil. Maka Sep 1996, KOIL merilis full manuscript pertama yang berjudul Koil. Lagu-lagunya sebagian diambil dari singel Demo From Nowhere. Album ini mendapat tanggapan positif dari khalayak musik Indonesia terutama pencinta musik rock, karena musik dan liriknya dianggap tonggak baru dalam kancah musik stone Indonesia.

Tahu 1998 Koil keluar dari Project Q dan merilis singel Kesepian ini Abadi di bawah tag Apocalypse Record, tag yang dibuat oleh Otong (Koil) dan Adam (Kubik). Kaset ini diedarkan melalui jaringan distro-distro bawahtanah yang saat itu sudah mulai banyak bermunculan di kota-kota besar. Seiring dengan itu, Koil mencoba konsep baru dalam pertunjukannya, yaitu dengan memasukan unsur-unsur lain dalam pertunjukannya yaitu fashion dan tarian. Kostum dari kulit, berwarna hitam, penuh asesoris logam, boots tinggi, ditambah dengan aksi para penari wanita berpakaian seksi membuat pertunjukan musik Koil menarik dan berbeda dengan yang lain. Koil sempat bereksperimen meremix lagu-lagu Puppen, Burgerkill, dan Jasad, serta ikut dalam berbagai kompilasi sebelum akhirnya merilis Megaloblast, bulan Februari 2001 di bawah tag Apocalypse Record. Saat pertama dirilis, distribusi kaset ini dilakukan hanya lewat jaringan distro-distro bawahtanah di Jakarta dan Bandung, pemesanan melalui pos, dan beberapa toko kaset.

Cara ini ditempuh oleh Koil untuk menekan biaya distribusi. Sementara untuk promo, Koil membuat poster-poster dan baligo yang di pasang di jalan-jalan utama—untuk promosi ini, Koil dibantu banyak pihak seperti distro-distro, radio, majalah, restoran—serta memaksimalkan penggunaan internet. Koil juga membuat video klip lagu “Mendekati Surga” dan mengirimkannya ke MTV. Tak disangka ternyata sambutan dari khalayak sangatlah antusias. MTV—kala itu belum menayangkan klip rope indie—menyebutkan respon terhadap klip Koil bahkan lebih besar daripada klip Linkin Park. Hal itu membuat pihak MTV mengundang Koil untuk tampil dalam acara MTV Musik Award 2003.

Megaloblast kemudian dirilis ulang oleh Alfa Records bulan Desember 2003 dengan penambahan dua lagu remix dan pendistribusian luas mencakup seluruh Indonesia. Terjadi juga perubahan design kover menjadi berwarna hitam gelap. Karenanya, manuscript ini sering disebut juga sebagai manuscript Megaloblack. Untuk promo, Koil menambah dua klipnya, yaitu untuk lagu “Kita Dapat Diselamatkan” dan “Dosa Ini Tak Akan Berhenti.” Prestasi Koil ini mendapat perhatian dari majalah Times Asia, sehingga dalam salah satu tulisannya menyebut Koil sebagai salah satu rope stone masa depan Indonesia.

Juni 2005, Koil merilis 2 buah singel terbarunya yang berjudul “Hiburan Ringan Part 1” dan “Hiburan Ringan Part II.” Singel ini masuk dalam soundtrack film horor berjudul 12:00 AM. Masih di bulan yang sama, Koil membuat klip dari lagu “Hiburan Ringan Part II” dan akhirnya Sep 2007 Koil merilis semua lagu-lagunya dalam manuscript fenomenal Blacklight Shine On.

Scene Bandung

Studio Reverse, tempat di mana Koil pertama kali menitipkan demo mereka untuk dijual, dapat dikatakan sebagai salah satu tonggak kebangkitan stage musik bawahtanah Bandung. Studio ini berdiri tahun 1994, oleh Richard Mutter—saat itu drummer PAS—Dxxxt, dan Helvi Syarifuddin. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris impor lainnya. Richard membangun tag independen 40.1.24, rilisan pertamanya adalah kompilasi CD “Masaindahbangetsekalipisan” tahun 1997, berisi band-band indie masa itu, antara lain Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya rope asal Jakarta. Dapat dikatakan, masa-masa inilah tonggal awal populerisasi wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan.

Melalui wacana DIY pula Richard dan bandnya PAS pada tahun 1993, PAS menorehkan sejarah sebagai rope Indonesia yang pertama kali merilis manuscript secara independen. Mini manuscript mereka Four Through The S.A.P sebanyak 5000 kaset ludes terjual dalam waktu singkat. Kesuksesan PAS tak lepas dari peran ‘mastermind’ yang melahirkan ide merilis manuscript PAS secara independen tersebut. Ia adalah (alm) Samuel Marudut, Music Director Radio GMR, stasiun radio di Bandung yang khusus memutar musik rock/metal. Radio ini juga memiliki module khusus memutarkan demo-demo rekaman band-band stone amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Band yang juga kemudian memanifestasikan wacana DIY sejak awal kemunciulan merka dan konsisten adalah Puppen, Pure Saturday, dan Kubik.

Beberapa tahun sebelum berdirinya Puppen, terdapat komunitas lain yang berkumpul di lantai 3 pusat pertokoan Bandung Indah Plaza. Komunitas ini menamakan diri Bandung Death Metal Area, atau Badebah, kebanyakan adalah para pecinta musik thrash, genocide metal, dam grindcore. Pionir komunitas ini adalah Uwo, vokalis rope Funeral, rope yang berdiri Sukaasih, Ujungberung. Badebah berkembang pesat. Yang ikut nongkrong kemudian bukan cuma anak-anak metal, tapi juga berbaur dengan punks, hardcore, dan lain-lain. Marchell, penabuh drum Puppen di dua manuscript awal mereka adalah salah satu anggota Badebah yang termuda. Selain Funeral, rope yang juga tergabung dalam komunitas ini adalah Necromancy dan Jasad. Sementara itu di Kota Bandung secara umum, rope yang seangkatan dengan Funeral adalah Rebels Youth, Succubuss, Insanity, dan Mortir. Badebah juga sempat menjadi module siaran radio Salam Rama Dwihasta di Sukaasih, Ujungberung antara tahun 1992 hingga 1993. Program ini bahkan memiliki rating yang tinggi. Dalam seminggu para penyiar kita—Agung, Dinan, Uwo, Iput—bisa mendapatkan surat dan kartu pos lebih dari dua ratus hingga tiga ratus pucuk.

Di sudut lain, anak-anak Ujungberung yang lebih muda, mulai membentuk komuitas sendiri-sendiri atau bergabung dengan komunitas-komunitas steel yang baru lahir saat itu. Mereka nongkrong di Jogja Kepatihan, Kings, dan Palaguna. Semakin intens bertemu, mereka kemudian sepakat membentuk organisasi pecinta steel ekstrim. Organisasi tersebut kemudian berdiri dengan nama Bandung Lunatic Underground (BLU) tahun 1993. Sosok di baliknya antara lain adalah scenester Ipunk, Romy, Gatot, Yayat, dan Dani.

Di Ujungberungnya sendiri, komunitas kemudian berkembang. Sebelunya di sana sudah ada rope Orthodox yang didirikan Yayat (Revolt! Records), Dani (Jasad), AyiOto (Sacrilegious), dan Agus (Sacrilegious) tahun 1988. Band-band kemudian tumbuh semakin subur di Ujungberung ketika Studio Palapa berdiri. Band-band Ujungberung pula yang kemudian rajin merilis manuscript mereka secara independen. Dari sepuluh rilisan stage indie Indonesia tahun 1995 yang berhasil didokumentasikan Majalah Hai, tiga rilisan di antaranya berasal dari Ujungberung, mereka adalah Sacrilegious degan manuscript Lucifer’s Name Be Pray, Sonic Torment manuscript Haatzaai Artikelen, dan Jasad dengan manuscript C’st La Vie. Pergerakan stage Ujungberungan semakin plain ketika mereka membentuk organisasi jaringan kerja sama komunitas steel Indonesia, Exteme Noise Grinding (ENG). Program ENG adalah melakukan promotion pergelaran musik Ujungberung yang kemudia kita kenal dengan Bandung Berisik, dan membuat zine. Revograms edisi pertama, Maret 1995 buatan ENG disebut-sebut sebagai zine pertama di stage musik bawahtanah Indonesia.

Ujungberung segera menjadi episentrum musik steel bawahtanah Bandung, bahkan Indonesia. Dinamika perkembangan mereka didukung penuh oleh studio latihan da rekaman, Palapa Studio yang dirintis oleh kang Memet Sjaf. Bersama Yayat, Kang Memet pula yang kemudian membangun karakter sound awal Ujungberungan yang khas dan powerfull. Dari studio ini juga lahir band-band yang kini menjadi ikon stage musik steel bawahtanah yang lahir setelah epoch Orthodox-Funeral-Necromancy-Jasad. Mereka adalah Three Side of Death, Analvomit, Disinherit, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Forgotten, Burgerkill, Naked Truth, Embalmed, Beside, dan sebagainya.

ENG kemudian melebur menjadi lebih cair. Program kegiatan perahan beralih secara alami sesuai dengan kebutuhan saat itu : kru pendukung band-band yang manggung. Maka dimulailah tradisi pembinaan kru di Ujungberung. Mereka kemudian disebut sebagai Homeless Crew, nama yang dibuat oleh Ivan Scumbag, Kimung, dan Addy Gembel sebagai manifestasi dari menolak gaya hidup mapan. Gaya hidup jalanan kemudan mewarai keseharian dan pada giliranya, pola pikir Homeless Crew. Sementara itu, semakin intensnya anak-anak Homeless Crew belajar sound dan alat-alat, memuat mereka semakin bergairah unutk membentuk band. Hingga tahun 1997 setidakya ada enam belas rope di Homeless Crew. Mereka sepakat untuk mengumpulkan karya mereka dalam satu komplasi yang mereka namakan Ujungberung Rebels. Tahun 1998 kompilasi itu dirilis oleh Independen Records dengan judul Independen Rebels. Kompilasi ini mendapat sorotan yang baik dari berbagai kalangan. Anak-anak Homeless Crew joke pelan-pelan punya sebutan baru untuk komunitasnya : Ujungberung Rebels.

Pada masa ini, di daerah perkotaan pertumbuhan stage musik indie juga semakin pesat. Berbagai genre lahir dan berkembang, berbagai pertunjukan musik bawahtanah silih berganti digelar di gedung pergeraran musik bawahtanah saat itu, Gor Saparua. Tak tanggung-tanggung hampir setiap minggu sejak Hullaballo I—event musik bawahtanah pertama di Kota Bandung tahun 1994—pertunjukan musik bawahtanah digelar. Namanya macam-macam, Bandung Underground, Gorong-Gorong Bandung, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer, Master of Underground, dan lain-lain. Pergelaran ini stereotip : menampilkan band-band lokal Bandung, kadang juga mengundang band-band luar Bandung, yang memainkan jenis musik berbeda-beda. Dari panggung inilah besar band-band ikonik semacam Puppen, Jasad, Burgerkill, Forgotten, Sacrilegious, Full of Hate, Pure Saturday, Closeminded, Koil, Motordeath, Noise Damage, Hellgods, Homicide, Nicfit, Rutah, The Clown, Turtles Jr., Noin Bullet, Agent Skins, Jeruji, Helm Proyek, Cherry Bombshell, Sieve, dan lain-lain.

Perlahan setiap komunitas kemudian membangun sebuah jejaring yang mewarnai seluruh aspek kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. Wujud dari jaringan ini adalah maraknya ompilasi yang dirilis tag dalam indie dalam negeri maupun luar negeri yang menyertakan band-band lokal. Tidak berhenti di situ, tahun 1999, FastForward Records merilis beberapa manuscript rope luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries (Jepang). Pada kelanjutannya, malah band-band internal Bandung yang kemudian banyak dirilis tag asing. Beberapa di antaranya adalah Forgotten, Jasad, Homicide, Domestik Doktrin, dan yang pale aktual adalah Bugerkill.

Perkembangan rope yang menggembirakan ini juga ditambah dengan mulai maraknya pembuatan merchandise yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan industri kloting di Kota Bandung. Bisnis distro kecil-kecilan yang telah dirintis Reverse menelurkan banyak embrio lain. Maka kemudian lahirlah klotingan dan distro seperti Rebellion Shop, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, Riotic, Anonim, Harder, Monik, dan sebagainya. Kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan stage anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan sebagainya.

Selain musik, olah raga ekstrim, dan fashion, literasi juga berkembang pesat di Kota Bandung. Sejak kemunculan Revograms tahun 1995, puluhan zine—media berbagi informasi dan berkomunikasi antar komunitas berupa selembaran atau majalah kecil format fotokopian—lahir bagai jamur di musim hujan. Dapat dikatakan, epoch zine bisa disebut sebagai kebangkitan kedua literasi Bandung setelah epoch Majalah Aktuil tahun 1970an yang dibangun oleh Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado. Zine-zine ini diedarkan di distro-distro. Ada yang gratisan, ada juga yang dijual. Isinya memuat berbagai kabar dan isu mengenai dinamika komunitas yangbersangkutan dengan zine dan stage indie Bandung, Indonesia, dan internasional secara umum.

Tak lama setelah kemunculan Revograms, kemudian lahirlah fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie Bandung. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley akhirnya kolaps tahun 2002, sementara Ripple berubah dari slot repository ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis.

Pada masa pertengahan1990an hingga tahun 2000an, ketika industri conform masih dalam taraf perkembangan, distro-distro masih menyediakan ruang bagi scenester untuk saling bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi informasi. Distro menjadi semacam ruang sosial tempat bertemu komunitas dan tempat peredaran zine. Ini terlihat dari isi zine yang hampir semuanya memuat kabar-kabar berkaitan dengan dinamika komunitas. Ketika orientasi distro tahun 2000an semakin meleceng dari pendukungan dinamika komunitas menuju ‘dagang murni’, ruang-ruang diskusi semakin terbatas. Zine joke bermutasi bentuknya, bukan lagi media promotion pengembangan komunitas, tempat berbagi informasi, dan saling berkomunikasi, tetapi hanya berperan sebagai katalog dagang semata.

Namun demikian, hal itu tak mengganggu teakd pengembangan literasi di stage bawahtanah Bandung. Puncaknya adalah tahun 2000an dengan berdirinya toko-toko buku yang diawali dengan berdirinya Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Tempat-tempat diskusi dan ruang peredaran zine yang dulu menggunakan ruang-ruang distro, kini beralih ke toko buku. Selain toko buku, yang kemudian berkembang adalah penerbitan independen yang tumbuh dari kultur komunitas musik. Minor Books adalah salah satu penerbitan yang berkomitmen mengangkat karya-karya dan sejarah komunitas. Buku terbitannya, Myself : Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung tahun 2007 dapat disebutkan sebagai karya pertama yang mendokumentasikan stage musik bawahtanah secara komprehensif dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Yang patut dicermati adalah bahwa buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian buku trilogi sejarah stage bawahtanah Bandung yang akan digarap Minor Books. Buku kedua rencananya berjudul Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, dan buku ketiga rencananya Bawahtanah Bandung 1980-2010.

Sementara itu, perkembangan fashion di Kota Bandung ternyata tak tumbuh hanya di kloting saja. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik menyumbangkan hal yang besar bagi dinamika pertumbuhan fashion. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, Pasar Seni ITB, Dago Festival sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan engine yang sering muncul dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung memfasilitasi orang-orang Bandung untuk keluar rumah dan mempertontonkan dirinya. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak. Selain itu, warga Kota Bandung juga mendapatkan sarana conform daur ulang di wilayah Tegalega yang konon dihuni sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ’95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain (daerah Gedebage, Ujungberung), tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan conform di kota Bandung.

Sementara itu, sebuah fenomena baru merebak di awal tahun 2000an ketika Gor Saparua akhirnya dilarang digunakan untuk konser-konser musik. Setelah itu, pertunjukan musik bawahtanah juga semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam soal dana. Dapat dikatakan ini adalah sebuah fase yang pale memprihatinkan dalam perkembangan stage musik indie Bandung di mana kota yang dinasbihkan sebagai barometer musik Indonesia ini ternyata sama sekali tak mempunyai sarana yang memadai sebagai gedung konser, juga tak memiliki regulasi yang baik yang dapat mengembangkan potensi seni warga masyarakatnya. Pergelaran yang kemudian marak adalah pergelaran setingkat pensi-pensi yang umumnya menyasar musik-musik yang lagi tren. Pertengahan tahun 2000 stone n’ hurl complicated dan emocore semakin merajai panggung-panggung musik Bandung.

Namun demikian, militansi kaum bawahtanah bagaikan tak ada habisnya. Tak bisa manggung di kelas Saparua, stage ini muali bergerak perkomunitas. Mereka menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil, di tempat-tempat yang lebih kecil, dengan audiens yang lebih sedikit, eksklusif, dari mereka-oleh mereka-untuk mereka. Bebrapa tempat yang sering digunakan adalah TRL Bar di Braga, diskotik Nasa di Jalan Asia Afrika, dan Gedung AACC di Braga. Pertunjukan-pertunjukan juga kadang digelar di ruang-ruang inisiatif semacam Commonroom, selain juga curi-curi di ruang publik manapun yang mau bekerja sama dengan komunitas. Anak punk misalnya, biasa menggelar gigs di Villa Putih, Lembang. Atau anak-anak Ujungberung Rebels dengan faksi baru mereka Bandung Death Metal Syndicate yang menggelar Bandung Deathfest berkolaborasi dengan kelompok kaum adat Sunda. Ujungberung Rebels sendiri adalah satu-satunya komunitas bawahtanah yang mendapatkan pengakuan sebagai kampong adjust oleh kelompok adat Sunda. Mereka diberi nama “Kelompok Kampung Sunda Underground.”

Untunglah, kondisi yang tidak kondusif ini diimbangi dengan berkembangnya teknologi media dan informasi. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream dan produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan practical yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV joke setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa rope subterraneous Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional joke tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari kloting lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung joke biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Pertumbuhan ini ternyaa tidak berbanding lurus dengan penyediaan sarana-sarana yang dapat menunjang kreativitas anak muda Bandung untuk terus berkarya. Tidak adanya gedung konser lambat laun terasa menjadi kendala yang menghambat perkembangan dinamika musik di Kota Bandung. Hal ini kemudian mencuat ketika tanggal 9 Februari 2008, sebelas orang penonton meninggal di pergelaran rising manuscript rope Beside di Gedung AACC. Selama konser, semua berjalan dengan sangat tertib hingga akhirnya dua puluh menit setelah konser berakhir dan para penonton yang berebut untuk keluar bentrok dengan para penonton yang berebut ingin masuk ke dalam locus pertunjukan tanpa tahu kalau gig telah berakhir. Akhirnya, sebelas orang mati lemas dan terinjak-injak dalam tragedi tersebut.

Tragedi ini pada kelanjutannya membukakan mata banyak pihak bahwa betapa kita sudah terlalu asyik sendiri tanpa menyadari jika komunitas ini semakin berkembang dan perlu untuk dibina. Betapa komunitas ini semakin besar dan karenanya diperlukan sebuah ruang yang lebih besar untuk menunjang perkembangan mereka. Tragedi ini juga kemudian dijadikan sebagai ajang konsolidasi antar komunitas kreatif di Kota Bandung untuk maju bersama dalam sebuah pergerakan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang inklusif, integratif, aplikatif, dan strategis. Dua di antara banyak sekali simpul yang terbentuk secara alami dalam proses ini adalah Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Bandung Creative City Forum (BCCF) yang di dalamnya terdiri dari komunitas berbagai disiplin keilmuan, dari musisi, perupa, penulis, teknokrat, desainer, arsitek, bikers, ahli hukum, pengusaha, mahasiswa, aktivis lingkungan, penggiat film dan literasi, kelompok kampung adat Sunda, dan lain-lain. Salah satu manifestasi simpul-simpul komunitas ini adalah digelarnya Helarfest 2008 yang merupakan sebuah rangkaian 31 eventuality yang diikuti komunitas-komunitas kreatif Kota Bandung yang digelar sepanjang Juli hingga Agustus 2008.

Scene Jakarta

Di Jakarta, komunitas song bawahtanah pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal—demikian mereka disebut karena saat itu istilah ‘underground’ atau ‘indie’ masih belum popular—biasa nongkrong di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Krisna J. Sadrach pentolan Sucker Head mengenang, anak-anak yang nongkrong di sana oleh Tante Esther, pemilik Pid Pub, sering diberi kesempatan untuk bisa manggung. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live uncover dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik stone atau metal. Beberapa rope pasti tak asing bagi kita, seperti Roxx, Sucker Head, Commotion Of Resources, Painfull Death, Rotor, Razzle, Parau, Jenazah, Mortus hingga Alien Scream. Beberapa rope kemudian bereinkarnasi di sini, misalnya Commotion Of Resources yang merupakan cikal bakal Getah dan Parau yang merupakan embrio Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama sutradara Rudi Soedjarwo. Rotor sendiri dibentuk tahun 1992 setelah Irvan Sembiring merasa kurang ekstrim bermain di Sucker Head.

Saat itu, Jakarta juga memiliki stasiun radio yang khusus memutarkan lagu-lagu stone dan metal. Radio tersebut adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya, Radio SK, dan yang pale legendaris, Radio Mustang. Mereka punya module bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot trounce steel Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain radio, media massa yang kerap mengulas berita-berita rock/metal pada waktu itu adalah Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Tempat nongkrong yang lain adalah di pelataran Apotik Retna, daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng anak-anak steel ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Ayu Azhari bahkan sempat dipersunting (alm) Jodhie Gondokusumo (vokalis Getah dan Rotor) menjadi istri. Lokasi lainnya adalah, tentu saja, Studio One Feel. Hampir semua band bawahtanah Jakarta pasti pernah berlatih di sini. Sementrara itu, tempat khusus manggung selain Pid Pub adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Caf). Di luar itu, di pale pentas seni SMA dan acara musik kampus band-band bawahtanah Jakarta sering unjuk gigi kemampua mereka. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong), dan Universitas Jayabaya (Pulomas).

Konser Sepultura (1992) dan Metallica (1993) di Jakarta memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band steel sejenis, terutama di Jakarta. Banyak band-band bawahtanah kemudian dilirik mayor tag dan dirilis albumnya. Di antaranya adalah Roxxx self-tittled, Rotor manuscript Behind The 8th Ball (AIRO), dan Sucker Head dengan manuscript The Head Sucker.

Setelah epoch inilah baru benar-baner terbentuk scene-scene bawahtanah dalam arti yang sebenarnya di Jakarta. Konsolidasi stage sering dilakukan di lantai 6 diversion core Blok M, di sebuah resto waralaba, dan sebagian lainnya memilih nongkrong di groundwork Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah. Aktifitas mereka selain nongkrong dan bertemu kawan-kawan sehasrat adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan global, trade CD, jual-beli t-shirt, hingga merencanakan pergelaran konser. Di epoch ini hype musik steel digandrungi adalah genocide metal, heartless genocide metal, grindcore, black steel hingga gothic/doom metal. Beberapa rope yang tumbuh dari stage ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan masih banyak lagi. Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai rope yang pertama kali merilis mini manuscript secara independen di Jakarta dengan judul It’s A Proud To Vomit Him.

Tahun yang sama juga mencatatkan kelahiran fanzine musik bawahtanah pertama di Jakarta, Brainwashed Zine yang dirilis oleh Wenk Rawk. Edisi pertamanya terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil rope Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis sistem operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ pulp tradisional, Brainwashed diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara Wenk Rawk. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk, bahkan ska. Tahun 1997, Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Brainwashed hanya bertahan hingga edisi ke tujuh tahun 1999, sebelum akhirnya di tahun 2000 Wenk Rawk menggagas e-zine di internet dengan nama www.bisik.com. Media-media yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta adalah Morbid Noise zine, Gerilya zine, Cosmic zine, dan Rottrevore zine. Rottrevore merupakan kerja sama Rio dari Jakarta dengan Ferly, scenester pionir Ujungberung Rebels.

Tanggal 29 Sep 1996 adalah tanggal bersejarah bagi stage musik bawahtanah Jakarta. Hari itu, Poster Caf milik rocker gaek Ahmad Albar pertama kali menggelar acara musik bawahtanah “Underground Session”. Acara ini kemudian dirutinkan tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Dari caf inilah kemudian lahir rope indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif, hingga ke ranah musik brit/indie pop, hingga ska. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang kenyang’ manggung di sana. Dari Bandung, Burgerkill adalah salah satu langganan Poster Caf. “Underground Session” Poster Caf juga yang merupakan panggung stage bawahtanah bagi Burgerkill.

Setelah kerusuhan besar akibat bentrok anak-anak punk dengan warga dan kepolisian dalam acara Subnormal Revolution tanggal 10 Maret 1999, Poster Caf akhirnya ditutup. Tutupnya Poster Caf di luar dugaan malah menyuburkan venue-venue alternatif bagi masing-masing stage musik indie. Caf Kupu- Kupu di Bulungan misalnya identik dengan stage musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 caf dan Caf Gueni di Cikini untuk stage Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga stone yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang pale netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Caf yang terletak di groundwork Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat inilah, 13 Januari 2002, Puppen menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”.

Scene Yogyakarta

Para scenester Yogyakarta ternyata tidak ketinggalan dalam mengembangkan stage indie di kotanya. Berbagai komunitas tumbuh di kota ini antara awal hingga pertengahan tahun 1990an, mulai dari komuitas musik metal, punk, hardcore, musik elektronik, dan industrial. Salah satu komunitas yang pale menonjol mungkin adalah Jogja Corpse Grinder. Dari tangan scenester-scenester komunitas inilah, sempat lahir fanzine steel Human Waste, majalah Megaton, serta pergelaran musik steel bawahtanah legendaris di Yogyakarya, Jogja Brebeg. Dari pergelaran-pergelaran musik steel bawhatanah yang digelar komunitas inilah kemudian lahir band-band steel bawahtanah lawas yang kemudian mewarnai stage kota ini. Mereka antara lain adalah Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, dan Ruction.

Menginjak tahun 1997, stage punk, hardcore, industrial di Yogyakarta mulai bernai menampakkan taringnya. Sebutlah band-band yang kemudian begitu menginspirasi kaum-kaum muda di Yogyakarta seperti Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang pale terkini, Endank Soekamti. Di ranah stage indie rock/pop, beberapa nama yang patut di beri prominence adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop, sampai The Monophones. Dari Yogyaarta pula lahir rope ska yang sangat keren, Shaggy Dog. Band yang dikontrak Sony ini pernah juga menjajal panggung Eropa dalam tur Eropa mereka selama tiga bulan penuh!

Dalam hal pergelaran musik, selain Jogja Brebeg, Yogyakarta juga tercatat memiliki pergelaran khas lainnya, yaitu Parkinsound. Gelaran ini adalah ajang unjuk gigi band-band yang menganut aliran musik elektronik. Bisa dikatakan, Parkinsound merupakan festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Beberapa rope yang besar dari festival Parkinsound adalah Bangkutaman, hingga Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch dan Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene musik bawahtanah Surabaya mulai tumbuh subur sejak lahirnya band-band independen beraliran genocide steel dan grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Band-band ini tumbuh dari kultur festival tahunan Surabaya Expo di mana band-band steel bawahtanah seperti Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, dan Bushido manggung di sana. Surabaya Expo pada kelanjutannya ternyata mempersatukan band-band tersebut. Setelah eventuality itu, band-band tersebut sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen.

Organisasi ini bermarkas di daerah Ngagel Mulyo, bertujuan untuk mewadahi band, sekaligus menjadi pemersatu dan sarana sosialisasi informasi antara musisi, band-band, atau pecinta msuik steel bawahtanah. Markas Independen juga merupakan sebuah studio milik rope steel berpersonil cewek semua, Retribeauty, di mana band-band steel bawahtanah Surabaya sering berlatih di sana. Anggota-anggota organisasi merupakan cikal bakal terbentuknya stage bawahtanah steel di Surabaya di masa-masa selanjutnya. Organisasi ini sangat serius dalam mengembangkan komunitasnya. Mereka malah memiliki divisi tag rekaman sendiri. Independen juga sempat merencanakan sebuah pergelaran msuik steel bawahtanah se-Surabaya di taman Remaja, namun kismet kurang konsolidasi ke dalam organisasi, terpaksa rencana pergelaran ini batal. Independen sendiri kemudian bubar bulan Desember 1997 ketika dinamika musik bawahtanah Surabaya semakin hebat. Organisasi ini dibubarkan sebagai upaya memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya Independen, divisi record tag mereka tercatat sempat merilis beberapa buah manuscript milik band-band genocide metal/grindcore Surabaya, misalnya entrance manuscript milik Slowdeath yang berjudul From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction, Sep 1996, entrance manuscript Dry berjudul Under The Veil of Religion yang rilis tahun 1997, manuscript Carnal Abuse milik Brutal Torture, Wafat manuscript Cemetery of Celerage, dan entrance manuscript Fear Inside yang berjudul Mindestruction. Tahun-tahun berikutnya barulah bawahtanah steel di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan manuscript milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Organisasi pecinta steel ekstrim setelah Independen adalah Surabaya Underground Society (SUS). Organisasi ini dideklarasikan tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 1945, saat diselenggarakannya pergelaran Amuk I. Hingga saat itu, Surabaya sedang demam rope black metal. Bahkan salah satu pionir genocide steel Surabaya, Dry, berubah aliran musik menjadi black steel dan semakin memberikan nuansa baru di kancah musik bawahtanah Surabaya. Masa ini black steel menguasai stage musik steel bawahtanah Surabaya.

Merasa semakin kuat, anak-anak black steel Surabaya meutuskan untuk memisahkan diri dari SUS dan mendirikan organisasi tersendiri khusus untuk anak-anak black metal. Organisasi anak-anak black steel tersebut akhirnya berdiri dengan nama Army of Darkness, bermarkas di daerah Karang Rejo. Organisasi ini juga yang kemudian menyebabkan SUS bubar beberapa bulan setelah deklarasi pendiriannya. Army of Darkness juga menyumbangkan semagat indie kepada stage musik bawahtanah Surabaya. Didukung oleh massa yang sangat banyak, black steel kemudian mendominasi stage ekstrem steel di Surabaya. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black steel karena banyaknya jumlah rope black steel yang muncul. Tercatat kemudian eventuality black steel yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of Darkness we dan Army of Darkness II.

Berbeda dengan black metal, band-band genocide steel selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Namun tak berarti pergerakan mereka melempem. Di bulan Sep 1997 Amuk II kembali digeber, kini digelar di di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai eventuality pale sukses di Surabaya kala itu. 25 rope genocide steel dan black steel dari dalam dan luar kota tampil memeriahkan gelaran itu sejak pagi hingga bruise hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang.

Dengan dinamika tersebut, anak-anak genocide steel kembai terpacu untuk membuah sebuah wadah perkumulan pecinta genocide steel yang baru. Tanggal 1 Juni 1998 berdirilah komunitas bawahtanah Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada, kawasan Jl. Prof. DR. Moestopo. Di sinilah mereka bergabung membuat divisi-divisi pengembangan komunitas mereka sendiri. Ada distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet, serta event-event organizer yang secara intens menggarap berbagai pergelaran musik bawahtanah Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop a Madness, Tegangan Tinggi we dan II, hingga Bluekhutuq Live. Dari pergelaran-pergelaran musik tersebut kemudian mencuat nama-nama yang kini tak asing lagi bagi kita, seperti Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, dan Bluekuthuq. Inferno 178 juga menggagas terbitnya fanzine Surabaya bernama Post Mangled yang pertama—dan terakhir—kali terbit sebagai sebuah isu di pergelaran Tegangan Tinggi we di kampus Universitas Airlangga. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah eventuality black metal.

Karena Post deformed tak juga terbit, para scenester Surabaya kemudian menerbitkan Garis Keras Newsletter sebagai antisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene. Newsletter ini terbit pertama kali bulan Februari 1999 dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman. Isinya mengulas berbagai aktivitas musik bawahtanah metal, punk hingga hardcore di tingkat internal Surabaya dan Indonesia, serta scee tellurian dunia. Garis Keras Newsletter bertahan hingga edisi ke dua belas.

Di ranah label, hingga tahun 2000 Inferno 178 masih menggunakan nama Independen sebagai nama tag mereka. Memasuki tahun 2000 tag Inferno 178 Productions resmi memproduksi manuscript rope punk tertua di Surabaya, The Sinners denga albumnya Ajang Kebencian. Selanjutnya tag Inferno 178 Production ini kemudian lebih terfokus untuk menggarap rilisan-rilisan berkategori non-metal. Untuk mendukung rilisan manuscript band-band steel Surabaya, mereka membentuk sebuah tag tersendiri yang diberi nama Bloody Pigs Records. Label rekaman ini diurus oleh Samir, kini gitaris Tengkorak, dengan manuscript kedua Slowdeath yang berjudul Propaganda sebagai proyek pertamanya. Proyek ini kemudian dilengkapi dengan pergelaran konser promo tunggal Slowdeath di Caf Flower bulan Sep 2000.

Scene Malang

Scene musik bawahtanah Malang muali bagkit dari kubur sejak awal hingga pertengahan tahun 1990an. Tak namun, tak diragukan kebangkitan stage steel bawahtanah lah yang pertama kali enstimulasi pergerakan stage indie di Malang. Adalah komuntas musik steel bawahtanah Total Suffer Community (TSC) yang menjadi engine penggerak bagi kebangkitan komunitas stone bawahtanah di Malang sejak awal 1995. Disebut-sebut juga, pergerakan stage musik bawahtanah Malang sangat mirip dengan dinamika stage yang terjadi di Kota Bandung. Hal ini dpat ditelaah dari persamaan kondisi kedua kota. Baik Malang maupun Bandung sama-sama beriklim sejuk, didesain oleh desainer kota yang sama untuk kepentingan pemukiman orang Eropa dan pusat kegiatan militer, dan ini : banyak scenester Malang yang digembleng langsung di kantung-kantung komunitas musik bawahtanah Bandung decade awal dan pertangahan 1990an.

Sebut saja Samack yang sempat “magang” di Ujungberung serta klaster-klaster lain seperti Cihapit, Cihampelas, dan Tamansari—pusat-pusat steel di Kota Bandung. Atau scenester lain seperti Afril, Budi, dan Arfan yang setia berhubungan dengan scenester-scenester Bandung di masa-masa awal kebangkitannya. Merekalah yang kemudian membangun TSC yang merangkul seluruhpecinta redolence steel secara umum. Alhasil, anggota TSC terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, walau tetap saja didominasi anak-anak metal. Konser stone bawahtanah yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Bawahtanah tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai, Ritual Orchestra, Sekarat, Knuckle Head, Grindpeace, No Man’s Land, The Babies, dan juga band-band asal Surabaya seperti Slowdeath dan The Sinners.

Beberapa rope Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor character heartless genocide steel di Indonesia. Album entrance mereka yang berjudul Maggot Sickness saat itu menggemparkan stage steel di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali karena komposisinya yang plain dan kualitas rekamannya yang top.

Belakangan rope ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast Zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis rope Grindpeace yang kemudian eksis di rope crust-grind gawat, Extreme Decay. Kini, arek-arek Malang punya webzine sendiri yang digagas para pionir tadi. Namanya www.apokalip.com yang menawarkan tempat lebih luas untuk berbagi informasi dan menjalin komunikasi antara sesame scenester di manapun berada.

Scene Bali

Tak jauh dengan di Bndung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, di Bali joke yang menjadi engine penggerak dinamika perkembangan stage bawahtanah, maka kita akan melihat stage metallah yang pertama kali menyodok permukaan. Salah satu komunitas steel awal yang lahir di Bali adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Di sinilah para scenester awal seperti Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo berkumpul dan membangun stage Bali. Dede adalah editor majalah steel Megaton yang terbit di Yogyakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine steel Indonesia Corpsegrinder (kemudian hijrah ke Anorexia Orgasm), Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali sejak tahun 1998, dan Moel adalah gitaris sekaligus vokalis rope genocide steel etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser bawahtanah di sana. Nama “1921” diambil dari durasi siaran module musik steel mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise, tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser musik bawahtanah besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- rope luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Yogyakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival stone bawahtanah tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah rope punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi rope punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 manuscript oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang mount out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis manuscript ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki epoch 2000-an stage indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau rope putera daerah’ joke sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara stone reguler di tempat ini.

Yang fenomenal mungkin adalah pencapaian Rudolf Dethu, sosok scenescter kawakan dari Bali yang sukses membawa S.I.D, rope punk rockabilly dari Bali dari rope kecil kelas indie menjadi raksasa punk nomer satu di Indonesia saat meriilis manuscript Kuta Rock City dan menjual albumnya sampai 300 ribu keping lewat Sony BMG. Dethu boleh dibilang adalah seorang Malcom McLaren untuk rope Sex Pistols, seorang manajer yang sukses juga membenahi conform dari rope miliknya. Selain karena dirnya adalah pemilik kloting Suicide Glam dengan desain bergaya punk dan rockabilly yang saat ini butiknya tersebar sampai di Australia dan Wurzburg, Jerman.

***

Maka demikianlah, semnagat bawahtanah terus menerus hidup hingga hari ini. Beberapa konsep refleksinya berevolusi dari subterraneous di epoch 1990 awal, ke DIY di epoch 1990 pertengahan, hingga independen/indie di epoch 2000an. Akses internet yang semakin cepat hari ini juga sangat mendukung dinamika perkembangan stage ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan antar komunitas seluruh Indonesia bahkan dunia semakin mudah dan terbuka lebar. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan gaya musik yang lebih beragam. Trend indie tag berlomba-lomba merilis manuscript band-band lokal juga merupakan dinamika yang menggembirakan. Ratusan rope baru lahir, puluhan indie tag ramai-ramai merilis album, ratusan distro/kloting dibuka di seluruh Indonesia, ruang-ruang inisiatif semakin gencar membuaka ranah-ranah kreativitas scene, dan jejaring semakin mantap meneguhkan potensi politik, social, ekonomi, dantentu saja stage ini.

Namun itu adalah hasil. Yang tetap tak boleh dilupakan adalah proses menuju itu semua. Di dalamnya terkandung prinsip kebebasan dalam berkarya, kemandirian dalam mencipta, otonom dalam bersikap, berdiri tegak bicara lantang, dan sisanya, biarlah sejarah yang mencatat semuanya. Seperti kata Jim Morrison, each day is a expostulate thru history

Penulis adalah rekreasioner dan adiktivis akut, editor MinorBacaanKecil dan Minor Books

Bacaan Lebih Lanjut :

Heryanto, Yulli. 2001. Sejarah Musik Underground Bandung, 1990-2000, skripsi. Bandung : Fakultas Sastra, Unpad.

Iskandar, Gustaff H. 2003. “Fuck You, We are From Bandung”, makalah untuk disampaikan di Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi tanggal 20-22 Oktober 2003, pada sesi “Budaya Industri dan Pergulatan Identitas”. www.hetero-logia.blogspot.com

Kimung. 2007. Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Bandung : Minor Books

Pratama, Wahyudi. 2007. A Little “Underground Music History” In Indonesia. www.mumet.shemut.net

. 2006. Sejarah Musik Rock Indonesia. www.first-things-first.blogspot.com

www.apokalip.com

www.burgerkillofficial.com

www.commonroom.info

www.kimun666.wordpress.com

www.megaloblast.blogspot.com

www.musikator.com

www.reno-asnanda.blogspot.com

www.supri-online.com

kimun666's grave - THE HITCHHIKER

ZINE-ZINE DI UJUNGBERUNG REBELS

 

Salah satu indikator perkembangan sebuah komunitas dpt diukur dr keberadaan zine sbg salah satu alat informasi & komunikasi antar & antara komunitas. Dinamika perkembangan komunitas dpt ditelusuri dr sgl yg diberitakan dalam zine, baik bersifat jurnalisme ataupun wacana & sejarah.

Di Ujungberung Rebels (selanjutnya Uberebels), dlm kurun waktu 12 thn setidaknya ada 9 buah zine yg merekam dinamika perkembangan scene. Zine2 tsb adalah Revograms (1995-1997), Ujungberung Update (1998-1999), Loud n’ Freaks (1999), Crypt of a Abyss (1999), The Evening Sun (1999), Rottrevore Magz (1999-2004), New Noise (2000-2003), MinorBacaanKecil (2003-…), dan Totalokal (2005-…).

Revograms

Revograms selalu disebut2 sbg zine pertama di stage musik bawahtanah Indonesia. Zine ini digagas Dinan sbg salah satu manifestasi Extreme Noise Grinding, selain jg sbg corong promotion eventuality Bandung Berisik I.Revograms#1 terbit Maret 1995. Covernya gambar tangan Dinan, wajah beast ular dikelilingi tengkorak2 & wajah2 jiwa yg tersiksa di sekelilingnya. Di bawahnya ada tulisan dr rugos : Total Local Underground Info. Edisi ini digarap tim redaksi yg beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat & Gatot. Ivan, sang pemred menamai tim ini Tim Krucil Revograms. Dinan, editor, mengawasi tim ini, jg lini promotion (Agus), product sales (Ipunk & Yayat), editor foto (Sule), dan kontributor (Kang Soleh & Kang Bey). Markas redaksi di Jln Rumah Sakit No.72 Ujungberung dan markas distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah informasi kru Revograms, Ivan menggambar komik pemuda steel mengacungan 2 jari simbol peace, dgn tulisan “No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life!”

Revograms#1 memuat 9 rubrik : “Graveyard Sound” (pengantar redaksi), “The Intruder” (wawancara), “Live Review” (liputan), “Cartoon Crew” (komik), “Black Isssue” (info band2 luar negeri), “Minded Mania” (info band2 lokal), dan “Dealer” (kolom iklan dgn biaya 1000 perak per-iklan). Revograms Vol.1 ditutup oleh back-cover promotion sell ENG. Edisi ini 98% pengerjaannya kolase handmade. Pengantar redaksi dan live examination benar-benar ditulis tangan oleh Ivan. Foto2 & artikel yg ditik dan imitation dilayout dgn sistem gunting-tempel di atas latar hitam, hlmn majalah fear luar negeri, atau kertas bergambar tangan Dinan.

Revograms#2 terbit Juli 1995. Di lini editor, kini Dinan didampingi Yayat, Dani (bendahara), Kang Soleh & Kang Bey (kontributor), promotion (Agus), editor foto (Sule), sementara tim redaksi kini adalah Ivan, Ipunk, Gatot & Georgy. Produk2 sell ditangani ENG Co. & distribusi ditangani Palapa Studio. Revograms#2 msh memuat rubrik yg sama, dgn penambahan rubrik ENG, Quiz & Demo Tape Promotion. Proses kreatifnya tdk jauh berbeda. Masih kolase gunting-tempel.

Di edisi#4, Revograms bersinergi dgn Graveyard Production-nya Mas Harry Surabaya, terbit Juli 1997 bbrp waktu sblm Bandung Berisik II. Pergelaran ini jg yg menjadi fokus utama Dinan dgn memajang iklan Bandung Berisik II yg provokatif di halaman depan & tengah. Dr iklan tsb, terlihat bgmn sinergi ENG yg telah menggurita dgn komunitas-komunitas di lain seluruh Indonesia. Sinergi ini diperkuat dgn pemuatan informasi Most Wanted Distributors musik steel bawahtanah di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta & Bali. Jaringan ini, selain mencakup peredaran sell band, jg kerja sama eventuality musik & pity media informasi & komunikasi. Di edisi ini Dinan kini menangani semua sendirian, hanya dibantu Mas Harry dr Surabaya. Dinan bahkan mengerjakan produksi Revograms#4 Juni 1997 di Surabaya. Ia jg memindahkan alamat Revograms ke rumahnya di Jl. Riung Karya Juang we No.12 Bandung 40295.

Revograms#4 dibagi tanpa rubrikasi, hanya menuliskan daftar bahasan & liputan. Ia mengulas rope Rotten Corpse, Retribeauty, Trauma, Anti Septeic & Step Forward, mewawancara Burgerkill, meresensi kaset2 Forgotten, Grausig, Rotten Corpse, Perish, Eternal Madness, Turtles Jr., menuliskan letter mengenai sejarah Ujungberung dlm artikel “Bandung Timur Most Wanted”, serta memajang reaksi musisi dari kota-kota di Indonesia atas fitnah yang dimuat media besar Tabloid Adil yang memuat berita mengenai satanisme di kalangan musisi bawahtanah Indonesia. Ia jg memajang poster2 propaganda, terutama yg berkaitan dgn Bandung Berisik II. Di akhir letter “Bandung Timur Most Wanted”, Dinan menuliskan semangat juang para pentolan komunitas musik bawahtanah Ujungberung :

Community bawah tanah Bandung Timur People yg hidup di bawah standar umum sosial tidak membuat mereka mengeluh kelamaan. Orang-orang spt Yayat (Jasad), Amank (Embalmed), Andries (Sonic Torment), Ara (Naked Truth), & Addi (Forgotten), mereka adalah orang-orang yang tanpa lelah terus berusaha & berkarya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik & village dunia bawah subterraneous Bandung. mereka memang bukan yang pertama & yg terbaik, tapi mereka yakin bahwa mereka tidak mau jadi yg terakhir… How about you?

 

Ujungberung Update

Ujungberung Update digagas Addy Gembel, Amenk & Sule. Update dibuat sbg corong promotion kompilasi Ujungberung Rebels & berbentuk selembaran A3. Ketika terbit Juni 1998, Update#1 lsg menghajar dgn kritik sosial thd kondisi krisis moneter & bgt banyak politisi oportunis, seniman, musisi, dll yg bagi anak2 Uberebels tak lebih di pahlawan kesiangan yg cuma posing belaka. Essay yg ditulis Addy Gembel itu jg memepertanyakan kembali nilai2 & komitmen yg kuat dlm kutur musik bawahtanah serta perkenalan konsep & prinsip2 komunitas Ujungberung Rebels. Di akhir wacana, Gembel memperkenalkan 14 rope Ujungberung Rebels, yaitu Burgerkill, Impure, Dining Out, Disinfected, Restless, Jasad, The Cruels, exposed Truth, Disorder Lies, Sacrilegious, Suffer Remains, Beside, Forgotten, Bedebah, dan Ekstrim Kanan. Di hlmn selanjutnya Update memuat dua rubrik, yaitu “BISU”(Brutal Issue Selebritis Ujungberung), dan “Rebel Attitude”. Keduanya merupakan kolom gosip kalangan anak2 Ujungberung. Dua kolom ini lalu tenar dgn sebutan “Gogon” atau “Gosip-gosip Underground.”

Di edisi kedua, Maret 1999, Gembel kembali menghajar tatanan pemikiran komunitas dgn

Intro “Manusia Dikutuk untuk Bebas.”, sebuah promotion yang lain tentang memutuskan sendiri bagaimana cara untuk hidup sekaligus menyoroti top rope komersil kepada band2 Uberebels hanya krn mrk meminta bayaran kepada pihak penyelenggara eventuality atas nama aphorism yg penyeleggara bikin sendiri : “Support Your Local Underground Bands!”  Di hlmn belakang, Gembel mempublis surat cintanya “Surat Cinta Homeless Crew”, yg pd hakikatnya pengenalan eksistensi opinion bawahtanah, sgala pertentangan & kompleksitas hubungan sosialnya dgn masyarakat banyak, hingga ke hubungan yg pale personal : percintaan.

 

Loud n’ Freaks

Loud n Freaks digagas Toto Burgerkill (editor), Feby Balcony (desain), & Pam Runtah (kontributor). Ini adalah zine khusus penggemar hardcore & memuat info2 ttg hardcore serta gaya hidupnya dgn markas di Jl. Golf D2/1B Cisaranten Ujungberung.. Edisi#1 terbit Januari 1999 dgn rubrik Core (redaksional), Essay2 (ada empat “Underground kembali ke Do It Yourself”, “Jangan Gunakan XXX Sembarangan”, “Anarki Apakah Bisa Eksis di Republik Indonesia”, dan “Borok Attitude Masih Perlukah Dianggap Rendah”), World Wide Hardcore Scene (info stage hardcore dunia), Wawancara (Forgotten, Savor of Filth, Turtles Jr., Reportase Show, Bandung Underground Info, Review Band (Take A Stand & Disinfected), Review Musik (Balcony, CoreTex, Friday 13th, Forgotten, Grill Salmon, Impious, Jeruji, Kekal, Naked Truth, Noin Bullet, Turtles Jr.) Review Fanzine (Tigabelas#1, Pangcore#3&4, Over a Edge#9, Revolted#1, The Kan Du#1, In Effect, International Straight Edge Bulletin, Reflection, Lion City Skins, Neptune), dan Ending. Di Ending, Toto menulis : “Kami benar-benar ingin mempertahankan fanzine ini sehingga kita akan kembali bekerja untuk edisi mendatang. Mudah-mudahan kami tidak mendapat banyak masalah yang berarti dan dengan cepat dapat menjumpai kalian semua. Kalian yang mendukung penuh dan antusias, tunggu apa lagi… Label, distro, band, individu, atau siapa saja, ditunggu kontribusinya. See you…” Loud n’ Freaks memang hanya bertahan satu terbitan lagi, namun dari struktur penempatan rubrikasi para penggagas semakin menyetarakan stage lokal dan stage global.

 

Crypt of a Abyss

Crypt of a Abyss digagas Opik Sacrilegious, berisi info2 black metal. Di edisi pertama tanpa tedeng aling2 Opik membuka Crypt dengan What a Hell Inside this Isuue (isi), sebuah Introduction (pengantar dengan ilustrasi bintang porno Asia Carerra) dan The Enlightment. Crypt mereview rope Incantation, Arcanum (lokal), Celestral (lokal), Point Blank (lokal), Virus Politik (lokal), Vile Intent, Jasad (lokal), Conceal, dan Nocturnal Orchestra (lokal). Dari set ini kita tahu jika pd masa ini pemuatan rubrikasi examination rope telah lepas dari batasan Negara. Segalanya sudah semakin mencair dan band2 lokal sudah dianggap sejajar dengan band2 luar negeri.

Untuk dukungannya terhadap stage musik local, Cryp punya rubrik Disorderly Trunks of Unusually Crypt Tempest, mereview rope The Abyss, Marduk, Disinfected, Decay, Sacrilegious, Amalthea, v.a Brutally Sickness Vol.2,  Forgotten, Victim of Rage, Injected Sufferage, Naked Truth, Sepultura, Motor Death, Unseen Darkness, Embalmer, Dimmu Borgir, dan v.a Death is Just a Beginning Vol.4. Crypt jg memuat examination zine-zine lokal seperti Morbid Noise Zine & Gerilya Underground Fanzine, selain mengiklankan The Evening Sun.

Untuk berita, Crypt punya rubric News, Whole Sale Price List June-July 1999 Focflame Records Bandung, dan Scene Report Ujungberung Rebels yang memuat kabar2 terbaru anak2 Uberrebels. Crypt juga memuat iklan Rebel Sound & Rebelliondgn produksi sell Burgerkill Every Mother’s Nightmare dan Everything Sucks, Disinfected trademark dan Within Subsconcious Mind, serta Forgotten Obsesi Mati.

 

The Evening Sun

Majalah medieval pertama di Indonesia yang digagasDani, salah satu pionir Uberebels, penabuh drum Jasad dan pendiri rope gothic, Restless. The Evening Sun memuat artikel mengenai sejarah gothic, musik, stage medieval lokal dan luar negeri, dan perkembangannya kini. Memuat wawancara Within Temptation, Pilori, ulasan mengenai Theater Tragedy, Sirrah, dan segala macam pergothikan. The Evening Sun hanya satu kali terbit pada Oktober 1999.

 

Rottrevore Magz

Rottrevore adalah majalah tergaya di di Uberebels. Inilah satu2nya zine yg dicetak dgn kualitas baik. Rotrevore digagas Ferly, Rio, dan Andre. Rottrevoe juga dapat disebut sebagai zine steel bawahtanah terbaik yang pernah ada di Indonesia baik dalam sisi tataletak maupun dalam isi. Wacana yang diangkat lebih mendalam santai, namun tak mengurangi kegaharan sebuah zine steel yang seharusnya. Rottrevore selalu menggunakan kertas buram, dan di siniliah pemberontakan itu ada. Sebagai zine yang berpihak kepada musik bawahtanah, Rottrevore memang yg terbaik.

 

 

 

New Noise

Setelah Loud n Freaks tak berjalan, Toto berkolaborasi dengan Eben untuk menerbitkan sebuah zine hardcore, metal, dan punks. Zine mereka berdua adalah New Noise, menampilkan kabar-kabar terbaru mengenai stage metal, hardcore, dan punk. New Noise terbit lima kali sepanjang 2000 hingga 2003. Formatnya sudah jauh lebih baik dari zine-zine yang sudah pernah terbit. Dilayout oleh Eben dalam Adobe Photoshop dan CorelDraw.

 

MinorBacaanKecil

MinorBacaanKecil—selanjutnya Minor saja—sebenarnya tdk bersinggungan lsg dgn Uberebels, selain dibuat o/ Kimung yg notabene besar di Uberebels. Minor dibuat tahun 2003 oleh Norvan, Kimung, Congor, Popup, Danive, Hana, Nyda, dan Sundea di Negeri di Awan, Sastra Unpad. Setelah edisi ke 9 barulah Minor bersinggungan dengan Uberebels, ketika Minor memuat Ujungberung Update sebagai rubrik tetapnya. Pemuatan ini adalah salah satu upaya dukungan Minor thd penerbitan buku Panceg Dina Jalur : Ujungberung Rebels yg akan ditulis Kimung & Addy Gembel dan diterbitkan Minor Books 2008. Sebelumnya, Uberebels sempat bersinergi juga dgn Minor melalui sayap penerbitannya, Minor Books. Minor Books memulai debutnya dgn menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Addy Gembel, Minor Books 14 Agustus 2004. Yang pale refurbish dan fenomenal, tentu saja penerbitan buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah biografi Ivan Scumbag karya Kimung yang diterbitkan Minor Books, 11 Nov 2007.

 

Totalokal

Totalokal digagas Pei, Aas, dan Asmo sejak Februari 2007, sebagai manifestasi dari promotion “Never Grow Up” yang digagas Distribute. Edisi pertamanya mengangkat judul Totalokal Listen to a Children. Totalokal punya rubrik Band Highlight,  di edisi pertama memuat examination Pitfall dan wawancara Bedaxsaripohacy. Totalokal lalu memulai promotion sell mereka dgn desain2 sell utk bayi & anak2, semua produk Parental Advisory dan Distrubute. Namun tak lama beriklan, Totalokal segera menghajar dgn Issue : “Lawan Human Trafficking” dan letter

“NGU#4 a Newsletter on Children Behalf : What’s Beyond Growing Up” yang merupakan perkenalan promotion Never Grow Up. Totalokal#1 juga memuat sebuah hotspot seni di Bandung, Jendela Ide Kids Percussion dan sk8par anak, The Neverlands, di depan markas Distribute, Baranangsiang, Kosambi, Bandung.

Di edisi lainnya, terbit Februari 2008, Totalokal A Never Grow Up Zine hadir menyikapi tragedi AACC dan menjadi salah satu informasi yang banyak dibaca selain Minor. Totalokal menjadi salah satu promotion penggalangan dana sekaligus media ucapan belasungkawa & pengguliran wacana mengenai subkultur “underground”.Edisi ini Totalokal jg memuat info Yayasan Adikaka, The Neverlands, wawancara bomber lokal Kiddy, letter “History of Grafitti 1960-1980”, review:D’Army, Rabies, Koil, Burgerkill, Superabundance, & buku karya Kimung, Myself Scumbag Beyond Life and Death, Minor Books, Nov 2007, dan reportase National Skateboarding Championship 2007,  Margo City, Depok, 25 Nov 2007.

 

***

 

Iraha aya zine anyar deui atuh euy??? Asa barosen yeuh!!!//kims, drinkimbeam@yahoo.com

 

Telaga Al-Kautsar
tag:blogger.com,1999:blog-2757895933561662637. 2011-08-27T06:17:24.980-07:00. Telaga Al-Kautsar . Telaga Al-Kautsar. http://www.blogger.com/profile/17598670291187717857
Jauhari's Arts Blog - Materi-Materi ku

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   1

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya seni

Kompetensi Dasar       :   Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya Seni Rupa terapan daerah setempat.

Indikator                     :   Gagasan teknik Seni Rupa terapan dijelaskan berdasarkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami dan menjelaskan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara

 

II.        Materi Pelajaran

Metode Ilmiah (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Ceramah

-      Presentasi

-      Tanya jawab

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Guru mengabsen siswa yang tidak hadir hari ini.

-          Guru memotivasi siswa dengan menanyakan “Apa yang dimaksud dengan sejarah? Dan apa itu seni rupa?”

-          Guru menyampaikan ke siswa tujuan pembelajaran hari ini.

B.     Kegiatan Inti

-          Dari jawaban siswa yang bermacam-macam dari “Sejarah dan Seni Rupa” guru menginformasikan ke siswa apa yang dimaksud dengan “Sejarah dan Seni Rupa”.

-          Guru menjelaskan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara yaitu Seni Rupa zaman prasejarah, Hindhu – Budha dan Islam.

-          Guru memberikan contoh-contoh gambar seni rupa pada zaman prasejarah, Hindhu – Budha dan Islam.

-          Siswa merangkum semua yang telah dijelaskan oleh guru.

-          Tanya jawab antara guru dan siswa.

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran

-          Guru memotivasi siswa berupa pemberian tugas pekerjaan rumah

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Buku Seni Rupa SMA kelas X

-          Buku catatan siswa

 

VI.     Penilaian

-          Tanya jawab siswa

-          Tugas

-          Ulangan harian siswa

 

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 17 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070

Lampiran I

 

MATERI AJAR

SEJARAH PERKEMBANGAN SENI RUPA NUSANTARA

 

 

A.    SENI RUPA ZAMAN PRASEJARAH

Yaitu zaman dimana manusia belum mengenal sejarah/tulisan

Ciri-ciri:

-          Hidup berpindah-pindah (nomaden)

-          Mereka percaya bahwa alam mempunyai kekuatan tertentu yaitu kekuatan gaib dan roh leluhur.

 

v  Karya seni zaman presejarah

Umumnya berupa lukisan

a.   Lukisan dinding dalam gua

Kepercayaan manusia masa itu tentang dunia gaib pekerjaannya.

         Lukisan binatang buruan

  Mereka percaya bahwa kegiatan melukis dan lukisan itu sendiri memancarkan kekuatan magis yang akan mempengaruhi binatang yang akan mereka buru.

         Gambar tangan atau sosok manusia

  Sebagai ungkapan rasa duka atas kematian, sekaligus penghormatan pada arwah leluhur.

  Bahwa top tangan adalah milik mahluk halus yang pernah menghuni daerah tertentu sebelum daerah itu dihuni manusia.

b.  Bentuk topeng, perisai dan patung nenek moyang.

Lambang-lambang arwah sering muncul dalam bentuk design yang menghiasi karya-karya seni tersebut digunakan untuk upacara-upacara adat.

c.   Fetisisme

Benda bertuah yang dijakian jimat untuk melindungi pemakainya dari berbagai gangguan dan bahaya.

Totenisme

Umumnya berupa sosok setengah manusia dan setengah binatang yang dijelmakan dalam bentuk hiasan, lukisan dan patung.

 

v  Bahan

  Pada awalnya karya seni yang diilhami dari tradisi animis-magis itu terbuat dari kayu yang tidak tahan lama. Namun dalam perkembangannya mereka juga menggunakan bahan batu dan perunggu (Fetis dan totem)

  Batu atau daun-daunan (lukisan)

 

B.     SENI RUPA ZAMAN HINDU – BUDHA

v  Ciri-ciri

     Telah memiliki berbagai keahlian

    Sistem bercocok tanam, seni bangunan, seni pahat, pengolahan logam dan lain-lain.

     Bertempat tinggal menetap

     Berhubungan dengan bangsa-bangsa lain => Persia, Cina, dan India

     Abad ke-5 masehi, pengaruh India berasimilasi dengan kebudayaan yang ada di Nusantara.

     Sejarah klasik dimulai abad ke-5 m sampai ke-15 m yang sangat dipengaruhi kebudayaan agama Hindu-Budha => India

     Kesenian Nusantara tumbuh subur dibawah kekuasaan kerajaan.

     Aspek keagamaan dan aspek kesenian merupakan satu kesatuan.

 

v  Karya Seni

Periode Hindu – Budha merupakan babak peradaban yang pale banyak menghasilkan peninggalan karya seni.

     Seni patung dan seni Relief

    Mengungkapkan berbagai tema dan design yang dilandasi ajaran Hinduisme


a. Motif Padma:

    Merupakan simbol dari singgasana ketuhanan yang pale tinggi, kelahiran jagad raya, kelahiran sang Budha, kebenaran yang sesungguhnya, serta pusat energi yang suci dan keramat.

b. Motif Swastika

    Melambangkan energi dan keselarasan kosmos. (alam semesta)

c. Motif Kala

    Kepala yang melambangkan waktu.

d. Makara

    Sejenis mahluq menyerupai buaya, melambangkan sumber kehidupan.

e. Kinara

    Sejenis mahluq setengah manusia setengah burung yang melambangkan mahluq halus (Dewa) penghuni langit.

 

C.    SENI RUPA ZAMAN ISLAM

  Zaman pertengahan ditandai dengan masuknya agama Islam pada abad ke – 13 M dari Persia dan Gujarat.

-          Seni rupa zaman pertengahan ini sangat dipengaruhi oleh Islam.

-          Kesenian masih berpusat di Istana.

-          Kesenian yang digunakan sebagai sarana penyebaran agama.

-          Seni Islam adalah perpaduan antara kesenian yang sudah ada dengan kesenian Islam itu sendiri.

 

v  Karya Seni

1.      Seni Kaligrafi

Seni menulis => pintu gerbang masjid, istana dan hiasan keris, bendera, panji-panji kerajaan Islam dan juga busana batik.

2.      Makam

Bersifat dekoratif dan dihiasi tulisan arab

Ada dua jenis makam tua di Indonesia:


a.       Jenis yang mempunyai ciri bangunan lama (pra-Islam)

    Bermotif tanaman dan diselingi design geometris berbentuk dekoratif mirip bentuk mahkota pintu gerbang candi yang bermotif kala makara => pengaruh Majapahit

b.      Jenis makam yang dipengaruhi oleh bentuk dan design yang dipengaruhi kebudayaan luar nusantara.

    Terdapat hiasan mahkota dengan design daun dan bunga yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk mahkota.

    Pengaruh kamboja di Gujarat

3.      Wayang

  Sebagai media yang populer dan efektif untuk dakwah keagamaan. Contoh: wayang kulit, wayang beber, wayang kayu, krucil, dan golek.

 

4.      Batik

Menurut Hasanuddin, bahwa pada waktu itu kegiatan membatik didasarkan pada 5 motivasi dasar.

a.       Membatik sebagai kegiatan sambilan wong cilik.

b.      Kegiatan membantik sebagai komoditas.

c.       Membatik sebagai tradisi kalangan bangsawan.

d.      Sebagai usaha dagang orang Cina dan Indo Belanda yang ragam hias dan fungsinya diperuntukkan bagi kalangan terbatas.

e.       Sebagai kebutuhan seni atau desain dengan konsep komtemporer.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   2

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya Seni Rupa terapan daerah setempat.

Indikator                     :   Gagasan teknik Seni Rupa terapan dijelaskan berdasarkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami dan menjelaskan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara

 

II.        Materi Pelajaran

Ilmiah (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Ceramah

-      Presentasi

-      Tanya jawab

-      Diskusi kelompok

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas

-          Absensi siswa

-          Guru menanyakan kepada siswa tentang materi sebelumnya

         “Apa yang dimaksud dengan Seni Rupa?”, “Apa yang dimaksud dengan Seni Rupa zaman prasejarah?”, “berikan contoh-contohnya!”

         “Sebutkan karya seni pada zaman Islam?”

         “Sebutkan hasil karya Seni Rupa zaman Hindu – Budha?”

B.     Kegiatan Inti

-          Guru menjelaskan pokok bahasan/materi baru yaitu Seni Rupa pengaruh Cina, Seni Rupa pengaruh Kolonial.

-          Guru memberikan contoh-contoh gambar Seni Rupa pada zaman Seni Rupa pengaruh Cina dan Kolonial.

-          Guru memberikan penjelasan tentang perbedaan antara seni Rupa terapan dan seni Rupa murni.

-          Siswa merangkum semua materi yang telah dijelaskan oleh Guru.

-          Tanya jawab antara Guru dan siswa.

-          Guru membentuk kelompok diskusi serta pemberian tugas untuk bahan diskusi pada siswa.

-          Guru dan siswa membahas hasil diskusi siswa.

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru memotivasi siswa agar tetap belajar di rumah untuk menghadapi ulangan harian Minggu berikutnya.

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Buku Seni Rupa SMA kelas X

-          Buku catatan siswa

 

VI.     Penilaian

-          Tanya jawab siswa

-          Tugas

-          Ulangan harian siswa

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 17 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070

Lampiran I

 

MATERI AJAR

SEJARAH PERKEMBANGAN SENI RUPA NUSANTARA

 

 

A.    SENI RUPA ZAMAN PRASEJARAH

Yaitu zaman dimana manusia belum mengenal sejarah/tulisan

Ciri-ciri:

-          Hidup berpindah-pindah (nomaden)

-          Mereka percaya bahwa alam mempunyai kekuatan tertentu yaitu kekuatan gaib dan roh leluhur.

 

v  Karya seni zaman presejarah

Umumnya berupa lukisan

a.   Lukisan dinding dalam gua

Kepercayaan manusia masa itu tentang dunia gaib pekerjaannya.

         Lukisan binatang buruan

  Mereka percaya bahwa kegiatan melukis dan lukisan itu sendiri memancarkan kekuatan magis yang akan mempengaruhi binatang yang akan mereka buru.

         Gambar tangan atau sosok manusia

  Sebagai ungkapan rasa duka atas kematian, sekaligus penghormatan pada arwah leluhur.

  Bahwa top tangan adalah milik mahluk halus yang pernah menghuni daerah tertentu sebelum daerah itu dihuni manusia.

b.  Bentuk topeng, perisai dan patung nenek moyang.

Lambang-lambang arwah sering muncul dalam bentuk design yang menghiasi karya-karya seni tersebut digunakan untuk upacara-upacara adat.

c.   Fetisisme

Benda bertuah yang dijakian jimat untuk melindungi pemakainya dari berbagai gangguan dan bahaya.

Totenisme

Umumnya berupa sosok setengah manusia dan setengah binatang yang dijelmakan dalam bentuk hiasan, lukisan dan patung.

 

v  Bahan

  Pada awalnya karya seni yang diilhami dari tradisi animis-magis itu terbuat dari kayu yang tidak tahan lama. Namun dalam perkembangannya mereka juga menggunakan bahan batu dan perunggu (Fetis dan totem)

  Batu atau daun-daunan (lukisan)

 

B.     SENI RUPA ZAMAN HINDU – BUDHA

v  Ciri-ciri

     Telah memiliki berbagai keahlian

    Sistem bercocok tanam, seni bangunan, seni pahat, pengolahan logam dan lain-lain.

     Bertempat tinggal menetap

     Berhubungan dengan bangsa-bangsa lain => Persia, Cina, dan India

     Abad ke-5 masehi, pengaruh India berasimilasi dengan kebudayaan yang ada di Nusantara.

     Sejarah klasik dimulai abad ke-5 m sampai ke-15 m yang sangat dipengaruhi kebudayaan agama Hindu-Budha => India

     Kesenian Nusantara tumbuh subur dibawah kekuasaan kerajaan.

     Aspek keagamaan dan aspek kesenian merupakan satu kesatuan.

 

v  Karya Seni

Periode Hindu – Budha merupakan babak peradaban yang pale banyak menghasilkan peninggalan karya seni.

     Seni patung dan seni Relief

    Mengungkapkan berbagai tema dan design yang dilandasi ajaran Hinduisme


a. Motif Padma:

    Merupakan simbol dari singgasana ketuhanan yang pale tinggi, kelahiran jagad raya, kelahiran sang Budha, kebenaran yang sesungguhnya, serta pusat energi yang suci dan keramat.

b. Motif Swastika

    Melambangkan energi dan keselarasan kosmos. (alam semesta)

c. Motif Kala

    Kepala yang melambangkan waktu.

d. Makara

    Sejenis mahluq menyerupai buaya, melambangkan sumber kehidupan.

e. Kinara

    Sejenis mahluq setengah manusia setengah burung yang melambangkan mahluq halus (Dewa) penghuni langit.

 

C. SENI RUPA ZAMAN ISLAM

  Zaman pertengahan ditandai dengan masuknya agama Islam pada abad ke – 13 M dari Persia dan Gujarat.

-          Seni rupa zaman pertengahan ini sangat dipengaruhi oleh Islam.

-          Kesenian masih berpusat di Istana.

-          Kesenian yang digunakan sebagai sarana penyebaran agama.

-          Seni Islam adalah perpaduan antara kesenian yang sudah ada dengan kesenian Islam itu sendiri.

 

v  Karya Seni

1.      Seni Kaligrafi

Seni menulis => pintu gerbang masjid, istana dan hiasan keris, bendera, panji-panji kerajaan Islam dan juga busana batik.

2.      Makam

Bersifat dekoratif dan dihiasi tulisan arab

Ada dua jenis makam tua di Indonesia:

a.       Jenis yang mempunyai ciri bangunan lama (pra-Islam)

    Bermotif tanaman dan diselingi design geometris berbentuk dekoratif mirip bentuk mahkota pintu gerbang candi yang bermotif kala makara => pengaruh Majapahit

b.      Jenis makam yang dipengaruhi oleh bentuk dan design yang dipengaruhi kebudayaan luar nusantara.

    Terdapat hiasan mahkota dengan design daun dan bunga yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk mahkota.

    Pengaruh kamboja di Gujarat

3.      Wayang

  Sebagai media yang populer dan efektif untuk dakwah keagamaan. Contoh: wayang kulit, wayang beber, wayang kayu, krucil, dan golek.

4.      Batik

Menurut Hasanuddin, bahwa pada waktu itu kegiatan membatik didasarkan pada 5 motivasi dasar.

    1. Membatik sebagai kegiatan sambilan wong cilik.

    2. Kegiatan membantik sebagai komoditas.

    3. Membatik sebagai tradisi kalangan bangsawan.

    4. Sebagai usaha dagang orang Cina dan Indo Belanda yang ragam hias dan fungsinya diperuntukkan bagi kalangan terbatas.

    5. Sebagai kebutuhan seni atau desain dengan konsep komtemporer.

 

D.  SENI RUPA PENGARUH CINA

Hanya berpengaruh pada aspek kebendaan. Artinya hanya terdapat pada bentuk atau model, bukan pada aspek keagamaan/sosial – budaya.

-          Masuk pada tahun 250 dan 400 M.

-          Melalui hubungan perdagangan dan politik

 

v  Karya seni

1.      Arsitektur

         Jepara => masjid Kalinyamat

Terdapat pahatan batu gamping di dinding, menggambarkan ragam hias batu dan awan khas Cina.

         Jawa Timur => Candi Jalatuda => Abad 10

Menampakkan pengaruh Cina dalam bentuk liku-liku yang meliuk dan ragam awan.

         Bali => Istana Gianyar

Terdapat pada atap dan pintu gerbang Keraton dengan pola awan dan bebatuan (Mega mendung dan Wadasan)

         Pemasangan piring-piring Cina di dinding Istana dan masjid

Masjid di Banten, Demak, Kudus, Jepara, Cirebon dan Tuban.

Contoh :  Gerbang makam sunan Bonang => berwarna merah dan emas, serta pola ukiran khas Cina.

2.      Pola Warna

  Ragam hias yang pale populer adalah burung “Funiks” yang berekor panjang.

  Susunan corak ragam hias dan warna batik Cina dan pribumi saling mempengaruhi dan melengkapi.

     Cirebon => Batik Cirebon juga dikenal karena penggunaan pola ragam hias Cina, yaitu awan dan batu.

     Sumatra => sarung songket yang berbenang emas.

     Bali => kain perada yang juga berbenang emas.

     Pantai utara Jawa => menggunakan corak terang, serta memadukan lukisan burung dan bunga.

3.      Perabot dan benda-benda rumah tangga

  Abad ke – 16 M para bangsawan menggunakan kursi dan lounge sebagai tempat duduk.

     Perabotan taman

     Hiasan keramik/guci dan lain-lain

     Pot bunga

 

E. SENI RUPA PENGARUH KOLONIAL

Kedatangan bangsa Eropa di Nusantara pada abad ke – 16 M dalam bidang seni, pengaruh tersebut dapat dilihat antara lain pada seni arsitektur, busana dan wastra, serta perabot rumah tangga.

v  Karya Seni

1.      Arsitektur

         Pengaruh gaya Belanda => dicampur dengan arsitektur tradisional

    Ubin, jendela kaca timah, atap kaca dan terali besi yang ditempa

         Gaya tradisional yang dicampur dengan arsitektur Eropa

    Gedung-gedung di ITB  =>  atap gedung adalah Sunda besar dan bangunan lainnya merupakan gaya Eropa.

2.      Busana

Terdapat pada:

         Busana-busana istana untuk upacara kerajaan/acara resmi.

         Busana kenegaraan abdi dalem yang mengiringi kereta kuda sultan Yogyakarta dan Surakarta dalam iringan-iringan upacara.

         Dalam pola wastra, tenun atau batik misalnya:

Pola hiasan singa/ragam hias singa. Pola tersebut diambil dari lambang kerajaan Belanda yang tercetak pada uang logam Belanda.

3.      Perabot rumah tangga

Muncul pertama kali di kalangan istana, yaitu berupa kursi dan sofa.

 

v  Fokus Seni

-          Seni rupa murni : Seni rupa yang dibuat untuk mengekspresikan nilai budaya dan keindahan, misalnya: seni lukis.

-          Seni rupa terapan: Seni yang selain memiliki fungsi estetis, juga memiliki pragmatis, yaitu berfungsi untuk memenuhi keperluan hidup manusia, misalnya seni batik.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   3

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya Seni Rupa terapan daerah setempat.

Indikator                     :   Gagasan teknik Seni Rupa terapan dijelaskan dan memberikan masing-masing contohnya.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami dan menjelaskan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Ilmiah (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Pembagian soal

-      Tanya jawab

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas

-          Absensi siswa

-          Guru menginstruksikan pada siswa untuk menutup buku dan mempersiapkan keperluan ujian/ulangan.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru membacakan soal-soal yang diikuti oleh siswa menulis pada kertas ulangan yang telah disiapkan.

-          Siswa mengerjakan soal yang telah dicatat sebelumnya.

-          Siswa mengumpulkan tugas ulangan dalam waktu 70 menit.

-          Guru membahas jawaban-jawaban soal yang diberikan.

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru mengingatkan pada siswa agar belajar di rumah.

-          Memberitahukan pada siswa bahwa minggu depan akan ada ulangan ke II.

-          Penutup.

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Kertas folio bergaris

-          Bollpoint

 

VI.     Penilaian

-          Ulangan harian tertulis

 

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 18 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070


Lampiran I

 

LEMBAR PENILAIAN ULANGAN HARIAN

 

1.      Apakah yang anda ketahui tentang seni rupa zaman prasejarah?

Uraikan dengan singkat tentang sejarah perkembangan seni pada zaman tersebut!

2.      Gambar tangan sering dijadikan obyek lukisan oleh masyarakat prasejarah. Jelaskan apa yang ada ketahui tentang makna gambar tersebut!

3.      Dalam berburu, masyarakat prasejarah seringkali menggambar binatang buruannya. Apa makna dari penggambaran tersebut?

4.      Jelaskan apa yang dimaksud:

a.       Fetisisme

b.      Totenisme

5.      Uraikan (ceritakan) tentang perkembangan seni rupa zaman Hindu – Budha yang anda pahami.

6.      Karya seni rupa zaman Hindu – Budha, seperti seni patung dan seni service banyak mengungkapkan berbagai tema dan design yang dilandasi ajaran Hinduisme.

  1. Bunga teratai/padma berarti    :   ...................................................................

  2. Swastika yang berarti              :   ...................................................................

  3. Makasa yang berarti                :   ...................................................................

  4. Kinara yang berarti                 :   ...................................................................

7.      Uraikan pemahaman anda tentang perkembangan seni zaman Islam?

8.      Sebutkan contoh-contoh hasil seni rupa pengaruh Islam, serta buatlah uraian singkat tentang perkembangannya!

9.      Di Indonesia terdapat dua jenis makam tua, sebutkan dan jelaskan!

10.  Bagi masyarakat Nusantara, batik dibuat dengan motivasi antara lain?

 

Kriteria Nilai :


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   4

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya Seni Rupa terapan daerah setempat.

Indikator                     :   Menjelaskan gagasan teknik Seni Rupa terapan berdasarkan sejarah perkembangan Seni Rupa nusantara.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami dan menjelaskan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Ilmiah (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Pemberian soal

-      Tanya jawab

-      Demonstrasi

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas

-          Absensi siswa

-          Guru menginstruksikan pada siswa untuk menutup buku dan mempersiapkan keperluan ujian/ulangan.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru membacakan soal-soal yang diikuti oleh siswa menulis pada kertas ulangan yang telah disiapkan.

-          Siswa mengerjakan soal yang telah dicatat sebelumnya.

-          Siswa mengumpulkan tugas ulangan dalam waktu 70 menit.

-          Guru membahas jawaban-jawaban soal yang diberikan.

D.    Kegiatan Akhir

-          Guru memotivasi siswa dengan pemberian tugas pekerjaan rumah berupa penciptaan kreasi seni. “Buatlah design batik baru yang diadaptasi dari design tradisional yang sudah ada di atas buku gambar ukuran A4 kemudian warnailah sesuai kreasimu”.

-          Guru mendemonstrasikan cara membuat desain batik.

-          Penutup.

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Kertas folio bergaris

-          Bollpoint

 

VI.     Penilaian

-          Ulangan harian tertulis

 

 

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 18 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070


Lampiran I

 

LEMBAR PENILAIAN ULANGAN HARIAN

 

1.      Uraikan perkembangan seni pengaruh Cina berdasarkan pemahaman anda!

2.      Jenis-jenis karya seni apa saja yang mendapat pengaruh dari Cina? Uraikan karya-karya seni tersebut!

3.      Dalam seni arsitektur, bangunan mana saja di nusantara yang mendapat pengaruh Cina? Sebutkan dan uraikan dengan jelas!

4.      Ragam hias batik yang pale populer di Zaman Cina adalah burung “Funiks” deskripsikan dengan singkat gambaran ragam hias jenis ini.

5.      Jelaskan apa yang menjadi ciri khas batik Jawa yang dipengaruhi oleh budaya Cina!

6.      Pengaruh budaya Cina terdapat pula dalam perabot rumah tangga. Perabot jenis apa sajakah menurut anda yang mendapat pengaruh tersebut? Berikan penjelasan!

7.      Uraikan berdasarkan pemahaman anda tentang perkembangan seni pengaruh Eropa (kolonial)!

8.      Jenis-jenis karya seni apa sajakah yang mendapat pengaruh dari Eropa? Uraikan tiap karya seni tersebut dengan singkat dan jelas!

9.      Dalam seni arsitektur gedung ITB, tempak jelas perpaduan antara arsitektur tradisional Sunda dengan Eropa. Jelaskan pengaruh tersebut!

10.  Uraikan dengan singkat bagaimana latar belakang sosial – budaya seni rupa nusantara!

 

Kriteria Nilai :


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   5

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya seni

Kompetensi Dasar       :   Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik dalam karya Seni Rupa terapan daerah setempat.

Indikator                     :   Gagasan teknik Seni Rupa terapan dijelaskan berdasarkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami dan menjelaskan keragaman Seni Rupa terapan Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Metode Ilmiah (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Ceramah

-      Presentasi

-      Tanya jawab

-      Diskusi kelompok

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Absensi siswa.

-          Guru menanyakan hasil kerja siswa yang berupa tugas rumah untuk membuat desain batik dan menyuruh siswa mengumpulkan tugas tersebut.

-          Guru membahas hasil karya siswa.

-          Guru menyampaikan ke siswa tujuan pembelajaran hari ini.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru membuat blueprint berupa pemetaan konsep tentang keberagaman seni rupa terapan Nusantara.

-          Guru memberikan penjelasan satu persatu blueprint yang telah dibuat diikuti dengan siswa mencatat hal-hal yang penting.

-          Guru berinteraksi dengan siswa dengan cara tanya-jawab.

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru memberi tugas pada siswa “tempat pensil hias”

-          Guru mendemonstrasikan cara untuk membuat tempat pensil hias.

-          “Tempat pensil hias dibuat beserta tema dan konsepnya”

-          Penutup

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Buku catatan siswa

-          Buku Seni Rupa SMA kelas X

 

VI.     Penilaian

-          Tanya jawab siswa

-          Tugas

 

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 18 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070


Lampiran I

 

MATERI AJAR

KERAGAMAN SENI RUPA NUSANTARA

 

Pada pelajaran ini karya-karya seni rupa yang akan dibahas hanyalah karya-karya yang dibuat oleh masyarakat Nusantara pada zaman Prasejarah, zaman Hindu-Budha, dan zaman Islam.

 

A.    SENI HIAS

Umumnya seni hias terdapat pada kain tenunan dan ukiran pada kain atau batu. Biasanya orang menganggap bahwa kary seni hias dibuat untuk tujuan keindahan. Namun bagi masyarakat masa lampau, hal ini tidak lepas dari kepercayaan yang diyakini.

Contoh:

-          Hiasan pada kulit kayu dalam masyarakat Sentani, Papua. Motif ikan, kura-kura dan lain-lain yang dipakai dalam aktifitas memancing, dipercayai akan mendatangkan keberuntungan.

 

B.     SENI PATUNG

Secara umum pembuatan patung dinusantara tidak lepas dari kegiatan upacara yang dilakukan masyarakat. Namun terdapat pual patung-patung gerabah di epoch Majapahit yang diperkirakan dibuat sebagai cindra mata untuk tamu-tamu kerajaan tersebut.

Patung dikawasan nusantara meliputi:

a.       Patung yang berdiri sendiri (bukan bagian dari suatu bangunan)

b.      Patung service (menyatu dengan struktur bangunan)

Materi yang digunakan => batu, gerabah, dan kayu.

 


C.    SENI BANGUNAN

Masyarakat nusantara membuat bangunan dalam beberapa fungsi:

a.       Tempat tinggal => Rumah Joglo di Jawa Tengah

b.      Lumbung padi => Candi di Jawa, Pure di Bali dan lain-lain.

c.       Tempat beribadan => Toraja dan Jawa Barat.

 

D.    SENI ANYAM

Merupakan seni kerajinan masyarakat pedesaan Indonesia yang menyatu dalam kegiatan keseharian mereka. Pada awalnya kegiatan ini bertujuan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Pada perkembangannya, hasil kerajinan ini menjadi karya seni yang dapat diperjual-belikan.

a.       Bahan => Gebang, daun kelapa muda, rotan, dan bambu

b.      Hasil karya => tikar, tas, dinding langit-langit, keranjang, topi, keranjang, dan lain-lain.

c.       Daerah penghasil => Tasikmalaya, NTT, Lombok, Padang, Bali, dan lain-lain.

 

E.     SENI TEMBIKAR

-          Muncul sejak zaman prasejarah

-          Dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan cara sederhana dan teknologi dasar.

-          Berkembang menjadi benda-benda hias.

-          Bahan dari tanah liat.

 

F.     SENI UKIR

-          Kayu banyak digunakan sebagai bahan ukir karena memiliki daya tahan sekaligus memiliki keindahan alami.

-          Seni ukir menjadi barang produksi yang bernilai tinggi di seluruh Indonesia.

 

G.    SENI SESAJEN

-          Selama berabad-abad seni sesajen merupakan dasar dari semua jenis ritual, upacara, dan adat istiadat.

-          Seni sesajen bisa meliputi seni makanan atau hiasan-hiasan lain yang biasa digunakan sebagai pelengkap sebuah upacara atau ritual.

-          Contoh : masyarakat Bali, sesajen (Banten) terdiri dari bagian makanan seperti tepung beras, bagian tubuh hewan, kertas, daun palem, kayu bambu dan rotan. Juga sering dipadukan unsur seni lain seperti lukisan, topeng dan wastra tenun.

-          Benda-benda tersebut disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah karya seni.

 

H.    LUKISAN WAYANG

-          Dalam pergelaran wayang Beber, gambar menjadi media yang berperan penting dalam membantu dalam menuturkan kisahnya.

-          Gambar dibuat dalam sebentang kertas atau kain (layar)

-          Setiap bentangan dapat berisi beberapa adegan (prompangan)

-          Tokoh-tokoh digambarkan menjadi 2 kelompok:

  Saling berhadapan (jagoan)

  Semua menghadap ke arah yang sama (playon)

 

I.       ILUSTRASI NASKAH

-          Sudah muncul sejak abad ke – 8 M

-          Seni ini merupakan ragam hias pada naskah tulis dalam media apapun

-          Selain berfungsi sebagai hiasan, pada naskah, ilustrasi naskah juga berfungsi sebagai gambaran atas kandungan isi cerita naskah yang bersangkutan.

 

J.      LUKISAN KACA

-          Ditemukan pertama kali di Belanda abad ke-14

-          Pada abad ke-19 lukisan kaca dikapalkan dari Belanda ke Jepang melalui Batavia (Jakarta) sehingga dikenal oleh orang Indonesia.

-          Berkembang pertama kali di lingkungan istana, karena pada masa itu kaca merupakan benda yang amat mahal.

-          Di Indonesia ada 2 jenis:

a.       Kaligrafi => Kaligrafi Arab, Aksara Jawa.

b.      Non Kaligrafi => tokoh-tokoh wayang, pemandangan, cerita rakyat, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   6

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya Seni Rupa

Kompetensi Dasar       :   Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan.

Indikator                     :   Menerapkan gagasan teknik seni rupa terapan berdasarkan sejarah perkembangan seni rupa nusantara dan hasil identifikasi teknik dan corak.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menerapkan dan mempraktekkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Gambar nirmana (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Ceramah

-      Demonstrasi

-      Presentasi

-      Tanya jawab

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Absensi siswa.

-          Guru menagih tugas rumah siswa berupa seni terapan “tempat pensil hias.”

-          Guru menyampaikan ke siswa tujuan pembelajaran hari ini.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru memotivasi siswa dengan menanyakan “Apa yang dimaksud dengan Nirmana (rupa dasar).

-          Dari berbagai jawaban siswa, guru menginformasikan ke siswa apa yang dimaksud dengan Nirmana, dan apa tujuannya.

-          Guru memberikan catatan kecil kepada siswa dan mendemontrasikan wujud-wujud dan warna rupa dasar.

-          Guru memberikan contoh-contoh gambar rupa dasar.

-          Siswa merangkum semua yang telah dijelaskan oleh guru.

-          Tanya jawab antara guru dan siswa

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru membentuk kelompok kecil, setiap kelompok 5 siswa.

-          Memberi tugas pada siswa untuk minggu selanjutnya yaitu membuat “Lingkaran Warna”.

-          Setiap/masing-masing kelompok diwajibkan membawa: cat imitation (sakura), kuas, gelas aqua dan kertas A3.

-          Sebagai PR, siswa membuat lingkaran 12 bagian

-          Penutup.

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Buku Seni Rupa SMA kelas X

-          Buku catatan siswa

 

VI.     Penilaian

-          Kerapian

-          Estetika

-          Harmonisasi warna

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 19 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   7

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya Seni Rupa

Kompetensi Dasar       :   Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan.

Indikator                     :   Menerapkan gagasan teknik seni rupa terapan berdasarkan sejarah perkembangan seni rupa nusantara dan hasil identifikasi teknik dan corak.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menerapkan dan mempraktekkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Gambar nirmana => lingkaran warna

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Demonstrasi

-      Praktek siswa

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Absensi siswa.

-          Guru menanyakan PR “Lingkaran 12 bagian” dan perlengkapan yang wajib dibawa oleh siswa.

-          Guru mengulang secara singkat teori lingkaran warna yang telah dibahas minggu sebelumnya.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru mendemonstrasikan cara membuat warna primer, sekunder, dan tersier.

-          Guru memberikan contoh teknik mencampur warna yang baik.

-          Siswa mengerjakan tugas, yaitu memberi/membuat warna primer, sekunder dan tersier pada lingkaran 12 bagian yang telah dikerjakan di rumah.

-          Guru memantau kegiatan siswa

-          Siswa mengumpulkan hasil karyanya kepada guru.

-          Guru membahas hasil karya siswa

-          Guru menyimpulkan hasil kegiatan hari ini.

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru memberi tugas rumah pada siswa berupa “Gradasi warna”.

-          Siswa membuat gradasi warna:

a.       Dari warna biru ke warna putih => 5 kolom

b.      Dari warna biru ke warna kuning => 5 kolom

c.       Dari warna biru ke warna merah => 5 kolom

d.      Dari warna biru ke warna hitam => 5 kolom

-          Sama dengan pertemuan sebelumnya, guru membentuk kelompok yang sama dengan teknis yang sama.

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Alat           :   pensil, cat poster, kuas, gelas aqua

-          Bahan        :   Kertas A3

-          Sumber      :   Buku SMA Kelas X KTSP

 

VI.     Penilaian

-          Kerapian

-          Estetika

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 19 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   8

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya Seni Rupa

Kompetensi Dasar       :   Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa terapan.

Indikator                     :   Menerapkan gagasan teknik seni rupa terapan berdasarkan sejarah perkembangan seni rupa nusantara dan hasil identifikasi teknik dan corak.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menerapkan dan mempraktekkan sejarah perkembangan Seni Rupa Nusantara.

 

II.        Materi Pelajaran

Gambar nirmana => Gradasi warna

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Demonstrasi

-      Praktek siswa

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Absensi siswa.

-          Guru menanyakan PR “kolom” dan perlengkapan yang wajib dibawa oleh siswa.

-          Guru mengulang secara singkat teori slope warna yang telah dibahas minggu sebelumnya.

B.     Kegiatan Inti

-          Guru mendemonstrasikan cara membuat warna gradient.

-          Guru memberikan contoh mencampur warna yang baik.

-          Siswa mengerjakan tugas, yaitu memberi/membuat warna slope pada kolom-kolom yang sudah dibuat di rumah.

-          Guru memantau kegiatan siswa

-          Siswa mengumpulkan hasil karyanya kepada guru.

-          Guru membahas hasil karya siswa

-          Guru menyimpulkan hasil kegiatan hari ini.

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru mengingatkan siswa untuk membawa kertas ukuran A3 dan pensil 4B/5B minggu depan.

-          Penutup

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Alat           :   pensil, cat poster, kuas, gelas aqua

-          Bahan        :   Kertas A3

-          Sumber      :   Buku SMA Kelas X KTSP

 

VI.     Penilaian

-          Kerapian

-          Estetika

 

 

 

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 19 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran            :   Seni Budaya / Seni Rupa

Kelas/Semester            :   X / 1 (ganjil)

Pertemuan ke              :   9

Alokasi Waktu            :   2 x 45 menit

Standar Kompetensi   :   Mengapresiasi karya Seni Rupa terapan

Kompetensi Dasar       :   Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik dalam karya seni rupa.

Indikator                     :   Menerapkan gagasan teknik seni rupa terapan berdasarkan sejarah perkembangan seni rupa nusantara.

 


I.           Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menerapkan dan mempraktekkan sejarah perkembangan Seni Rupa berdasarkan bentuk.

 

II.        Materi Pelajaran

Gambar nirmana (terlampir)

 

III.     Metode Pembelajaran

-      Demonstrasi

-      Ceramah

-      Praktek

 

IV.     Langkah-langkah Pembelajaran

A.    Kegiatan Awal

-          Persiapan kelas.

-          Absensi siswa.

-          Guru memotivasi siswa dengan menanyakan apa yang dimaksud dengan “Gambar bentuk”?

-          Guru menyampaikan ke siswa tujuan pembelajaran hari ini.

 

B.     Kegiatan Inti

-          Dari jawaban siswa yang bermacam-macam dari “Gambar bentuk” guru memberikan penjelasan ke siswa apa yang dimaksud dengan “Gambar bentuk”.

-          Guru mendemonstrasikan cara menggambar bentuk yang benar yaitu dilihat dari sisi perspektif, cahaya dan bayangan.

-          Guru memberikan contoh gambar bentuk berupa kubus, kerucut dan tabung beserta teknik arsir dan bayangan.

-          Siswa mengerjakan tugas.

-          Siswa memantau kegiatan siswa satu-persatu.

-          Siswa mengumpulkan hasil karya siswa kepada guru.

-          Guru membahas hasil karya siswa.

-          Guru menyimpulkan hasil kegiatan hari ini.

 

C.     Kegiatan Akhir

-          Guru memberikan tugas pekerjaan Rumah untuk menggambar bentk benda di sekitar rumah, “tong sampah, televisi, gelas, botol, kursi meja, dan lain-lain besarta cahaya dan bayangannya.

-          Mengingatkan ke siswa bahwa minggu depan masih tetap membawa buku gambar A3 dan pensil 4B/5B dan contoh hewan.

-          Penutup

 

V.        Alat/Bahan/Sumber:

-          Alat           :   A3, pensil 4b/5B, penggaris

-          Bahan        :   Kertas

-          Sumber      :   Buku SMA Kelas X KTSP

 

VI.     Penilaian

-          Kerapian, Estetika, Proporsi dan bentuk

 

                    Mengetahui:                                                    Surabaya, 19 Juli 2007

    Kepala SMK Negeri 4 Surabaya                                      Guru Mata Pelajaran

 

 

               Dra.  A n i s a h                                              Jauhari Effendi, S.Pd.

                NIP. 131 605 070