Idola Cilik, Mantaps…. : Blog Tempo Interaktif

Mardiyah Chamim

Sudah pernah nonton “Idola Cilik” di RCTI? Saya juga baru nonton beberapa kali gara-gara ada libur panjang pekan lalu. Cukup mengejutkan, kontes mencari idola yang satu ini sangat menghibur. Acaranya jauh lebih menyenangkan ketimbang kontes lain semisal Indonesian Idol, AFI, dan selusin epigon lain.

Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan kontes semacam ini. Efek psikologis buat peserta, keluarga, mana pernah dipikirkan pihak tv penyelenggara. Apalagi, ini melibatkan anak-anak kecil, jiwa-jiwa yang masih rapuh.

Tapi, rupanya ada sesuatu yang lain yang disuguhkan “Idola Cilik”.

Tim juri dengan komandan Ira Maya Sopha, penyanyi cilik epoch 70-an, ternyata cukup piawai mengemong para kontestan. Mama Ira, begitu dia dipanggil, dengan anggun memuji peserta yang semua dipanggil “sayang”.

Tak cuma memuji, Mama Ira juga tegas lo menyentil, bahkan menegur peserta yang sok-sok ganjen dewasa dan kehilangan spontanitas khas anak. Suara merdunya joke kerap berkumandang memompa semangat kontestan yang sedang bete. Suatu peran yang tidak mudah, terutama untuk sebuah acara dengan audiens anak-anak.

Tim juri yang oke memang kelebihan “Idola Cilik”. Mama Ira didukung tim juri yang kompak, yakni Kak Winda, Duta Sheila on 7 yang ternyata lucu, Dave Hendrik, dan tak ketinggalan presenter Okky Lukman nan centil. Tim juri inilah yang berulang kali membesarkan hati bocah-bocah itu, menekankan bahwa kalah-menang bukan masalah, dan yang pale penting adalah berusaha sebaik mungkin.

Nah, ada satu hal lagi kelebihan “Idola Cilik”. Suara para kontestannya, hm….. sedap!

Ada Siti, Silla, Septian, saya tak hapal nama-nama mereka. Menyenangkan sekali mendengar suara kanak yang polos. Suatu kali, ada peserta berduet menyanyi dengan sang ibunda –lupa pula judul lagunya–dengan aduhai. Si anak bersuara 1, ibunya ambil suara 2. Kompak, mereka saling pandang, bergandeng tangan, saling menguatkan. Siapa tak terharu sih menyaksikan pemandangan ini. That is a attribute between daughter and mom ostensible to be.
Lalu, ada Kiki. Si buyung dari Manado ini, pekan lalu, mengalunkan lagu “Kasih Tak Sampai” dengan anggun. Standing acclaim pengunjung studio, mata-mata yang basah berkaca-kaca, menegaskan betapa dahsyat efek suara bening Kiki. Saya sendiri ikut merinding saat Kiki mengulang bagian akhir lagu, persembahan khusus untuk sang ayah. “Tetaplah menjadi bintang di langit….”
Kasih Tak Sampai, salah satu nomor strike dari grup rope Padi, ini tergolong lagu yang susah dinyanyikan. Sepintas lagu ini terkesan sederhana, tapi rentang tinggi nadanya tak gampang dijangkau. Fadli (dipanggil “Opa” dalam kontes ini), vokalis yang dikenal dengan energy suaranya, menunjukkan kemampuannya sehingga lagu ini tampil megah, anggun, sekaligus lembut dengan selingan denting harpa. Sore itu, sungguh saya tak menyangka, Si Kiki kecil tampil lembut dan penuh daya magis. Salut.

Tentu saja ada kritik buat acara ini. Entah kenapa semua acara existence uncover lokal selalu berlarut-larut, cerewet ditaburi komentar juri-juri yang tak keruan juntrungnya. Saling ejek, saling maki, porsinya kebanyakan. Acara yang bisa dikemas 1,5 jam joke jadi diolor-olor sampai 3 jam. Capek, deh….

Mungkin mereka merujuk tim juri American Idol yang juga diwarnai komentar-komentar pedas Simon Cowell. Tapi, coba simak lagi, komentar Simon Cowell, Randy Jackson, dan Paula Abdul tak pernah berlarut-larut. Singkat, padat, jelas. Irama kompetisi joke bisa dijaga, tidak membosankan.

Anyway, selamat buat para Idola Cilik….

Dibalik Kesuksesan Program-Program Acara Trans tv Inspirasi Bisnis

Trans TV atau Transformasi Indonesia yang berdiri tahun 2001 sudah bisa unjuk gigi. Dengan usianya yang masih belia ia mampu merebut sebagai TV terbaik mengalahkan pendahulu-pendahulunya. ini tentu menjadi prestasi yang membanggakan. Lalu apa yang membuat Trans TV mampu mencapai prestasi tersebut? Trans TV bisa maju berkat module buatan sendiri yang menarik dan inovatif. Dengan sign “Milik Kita Bersama” Trans TV terus melakukan inovasi dalam program-progam acaranya. Dibawah naungan Trans Corp milik seorang konglomerat Chairul Tanjung, ia membeli saham TV7 sebesar 49 persen yang sebelumnya dimiliki oleh Kelompok Kompas Gramedia. Lalu apa saja module acara yang dianggap berhasil mengangkat nama Trans TV? berikut ini beberapa module acara yang saya anggap punya andil besar dalam membesarkan Trans TV.

Ceriwis

Acara accumulation uncover di Trans TV yang tayang tiap hari. Dengan presenter Indy Barends dan Indra Bekti serta didukung rope Simply Fresh. Acara ini memiliki tema yang berbeda setiap harinya, seperti hari Senin, di mana para pendukung acara mengabulkan permintaan pemirsa untuk berdandan dengan unik, atau Minggu (Sunday Santai) ketika para keluarga Ceriwis berjalan-jalan. Namun, di setiap acara Ceriwis selalu mendatangkan bintang tamu yang berbeda-beda. Membongkar rahasia artis denagn foto foto dalam Diana Dalam Berita. Tetapi salah satu ruh nya dari acara ceriwis adalah Gaya atau kata-kata yang diucapkan indie ataupun bekti, seperti kata “buagusss” yang diucapkan dengan gaya yang khas, sehingga diikuti oleh para penggemarnya, bahkan presenter-presenter tv lainpun ikut mengucapkannnya, sehingga acara ceriwis semakin melekat dibenak pemirsa setianya.

Extravaganza

Variety uncover di Trans TV yang menampilkan berbagai cerita seru dalam bentuk sketsa komedi, yang diangkat dari kisah keseharian, film, bahkan legenda masa silam. Extravaganza juga menyajikan segmen yang bukan hanya berupa sketsa komedi, namun juga ada Bincang Bincang Extravaganza dan Extranews yang juga dikemas dalam komedi. Dibintangi oleh para pemain serba bisa yang terdiri dari: Tora Sudiro, Ronal Surapradja, Indra Birowo, Tike Priatnakusumah, Mieke Amalia, Sogi Indra Dhuaja, Rony Dozer, Virnie Ismail, Maia Ahmad, dan Aming. Selalu ditayangkan setiap Sabtu dan Senin malam.Tayangan perdana pada 5 Apr 2004.

Wisata Kuliner

Sesuai dengan namanya, acara ini menayangkan masakan-masakan dari berbagai daerah dengan kekhasannya masing-masing. namun tidak hanya masakan daerah saja, tetapi juga menu-menu restoran besar yang berasal dari mancanegara. kata-kata khas dalam acara ini adalah “mak nyuss”.

Good Morning

Ditayangkan setiap hari pukul 08:30 dan menyampaikan berita aktual, kriminal sampai gosip. Program ini dibawakan oleh Rieke Dyah Pitaloka dan Ferdy Hasan dibantu oleh Maudi Kusnaedy khusus untuk hari Sabtu dan Minggu.

Reportase Investigasi

Menguak berbagai jenis masalah yang sebelumnya belom diketahui oleh kebanyakan masyarakat kita. Sebagai contoh beberapa waktu lalu reportase investigasi memberikan tayangan tentang isu Bakso tikus dan formalin, sehingga masalah ini menjadi perbincangan hangat disemua lapisan masyarakat, sampai-sampai pemerintah joke turun tangan mengatasinya.

Dorce Show

Acara yang banyak digemari ibu-ibu dipresenteri oleh Dorce Gamalama. Banyak topik yang diangkat dalam acara ini. Kata-kata nya adalah ucapan terakhir dari dorce gamalama “Semua kelebihan milik allah, dan semua kekurangan milik saya”.

Cerita Sore

Dengan cerita-cerita yang syarat dengan hikmah, dan didukung oleh presenter-presenter yang ahli didalamnya, seperti ust. ahmad al habsy dll, serta Abang dari Uje (ust. Jefry).

Bajaj Bajuri

Kata-kata khas yang ada di acara ini adalah ucapan “Maaf” yang disampaikan dengan gaya khasnya, sedikit-sedikit memakai kata maaf, yang dalam cerita tersebut sampai kesal dibuatnya.

Bioskop Transtv

Menyajikan Berbagai Film action, dan juga banyak film-film yang belom pernah ditayangkan di tv-tv indonesia.

Dan inti dari kesuksesan acara-acara tersebut adalah keunikan, khas, dan punya karakter yang kuat, sehingga tidak heran jika acara-acara Trans Tv banyak menginpirasi stasiun tv lain untuk membuat acara sejenis.

Search Terms: spectacular transtv, profil indra bekti 2007, indra bekti, kesuksesan trans tv, trans tv, gramedia, chairul tanjung maia ahmad, bisnis Trans tv, tema accumulation uncover ceriwis, Trans TV Indonesia, foto simply uninformed band, kesuksesan gramedia, foto indra bekti dan indy barends, foto artis dyah pitaloka, dorce gamalama,ceriwis di transtv, reportase investigasi, prestasi trans tv, empatmata trans, module dorce show, spectacular abg, foto mieke amalia, trans tv wisata kuliner, goodmorning, dibalik kesuksesan, dibalik kesuksesan ceriwis
Brooke Burke - David Charvet Ikat Pernikahan - MSN Entertainment

Pembawa acara Dancing With a Stars Brooke Burke dan mantan bintang Baywatch David Charvet telah mengikat tali pernikahan setelah lima tahun berkencan.

Brooke, Sabtu (13/8) pagi mengisyaratkan di akun Twitternya, dengan posting bahwa dia memiliki berita besar untuk dibagi. Wakilnya belakangan mengkonfirmasi mengenai perkawinan tersebut kepada E! News, sebagaimana dilaporkan Reuters, Senin (15/08).

Pasangan itu, yang keduanya berusia 39 tahun dan memiliki dua anak bersama, menikah pada Jumat di atas kapal pesiar di lepas pantai Karibia, St. Bart, demikian laporan majalah Life & Style.

Brooke juga adalah ibu dari dua putri --yang berusia 9 dan 11 tahun-- dari perkawinannya sebelumnya dengan ahli bedah plastik di "Extreme Makeover" Garth Fisher. (antara/dar)

:: HIBURAN > GoSiP Artis dan Selebriti ... 05 Nov 02 10:59 WIB Agnes Monica: "Saya sedih sering dipojokan" Meski didera berbagai ... New Rival's for Agnes Nama Carla ...
Bionaturally - Suku Dayak Pemburu Kepala Dari Kalimantan !


Shrunken smoked heads of slain enemies

Deep in a erotic jungle of Borneo, a confidant English ethnologist hacked divided with his machete to make advance by a unenlightened vegetation. The short, pointy parang was designed to be drawn quickly, a improved to strike for a neck. Yet while Charles Hose no doubt carried a blade during a many days and nights he spent vital among a peoples of Borneo, this immoderate spectator of a cultures of a outrageous Southeast Asian island was also armed with a subtler colonial weapon: a camera. Hose took many a well-aimed shot, and among his concentration were Borneo’s headhunters. Still, he wasn’t a usually snap-happy white chappie sporting britches and holding pictures; others, like a Dutch, were during it too.

Gallery inside a Kayan Dayak residence with skulls and weapons backing a wall

Photo 1900-1930

In truth, Charles Hose was armed not usually with a camera yet with a pen. Stationed on Borneo as a Resident Magistrate during British Imperial sequence there, this courageous questioner available all he saw in his book, The Pagan Tribes of Borneo, published in 1912, and this enclosed a sermon on headhunting:

“It is transparent that a Ibans are a usually clan to that one can request a abuse head-hunters with a common inference of a word, namely, that head-hunting is followed as a form of sport,” write Hose, yet he after states that these same people “are so sexually clinging to head-hunting that mostly they do not twinge to pursue it in an unsportsmanlike fashion.”

Ibu Dayak soldier headhunters from Longnawan, North Borneo

Photo circa 1927

Before we get mislaid in difficulty over what does and does not consecrate sporting headhunting, let’s usually be transparent that a Iban are a bend of Borneo’s internal Dayak peoples. This sub-group of locals became famous as Sea Dayaks to Westerners during a colonial epoch underneath a dynasty of James Brooke (1803-1868), a Rajah of Sarawak, that is one of Borneo’s Malaysian states.

The aroused exploits of a Sea Dayaks in a South China Sea are good documented, due in no tiny partial to their assertive enlightenment of fight opposite rising Western trade interests in a 19th and 20th centuries. James Brooke and his Malays gave as good as they got, however, aggressive and wiping out 800 of a shabby pirates. The Ibans also became scandalous for headhunting, even if their being branded as pioneers of a use was unfortunate, and maybe off a mark.

Dayak male in possession of dual heads on strings

Photo 1900-1940

Charles Hose himself suspicion it “probable” that a Ibans “adopted a use of headhunting some few generations ago only… in fabrication of Kayans or other tribes among whom it had been established,” and that “the fast expansion of a use among a Ibans was no doubt mostly due to a change of a Malays, who had been taught by Arabs and others a humanities of piracy.”

Modern sources reduction disposed to imparting censure tie in a beginnings of this hideous activity among a Ibans with their territorial and genealogical expansionism. As their possess areas became overpopulated, they were forced to land on lands belonging to other tribes – trespassing that could usually lead to genocide during a time when heartless fight was a usually means of survival.

Armed Dayaks bustling with a scull of a head-hunted enemy, Central-Borneo

Photo 1894

Headhunting was also positively an critical partial of Dayak enlightenment some-more widely. A tradition of plea for aged headhunts kept a protocol alive until it was curtailed and afterwards gradually hammered out by outward division – namely, a power of a Brooke Rajahs in Sarawak and a Dutch in Kalimantan Borneo – in a 100 years heading adult to World War II.

Early on, Brooke Government reports report fight parties of Iban and Kenyah people – another organisation of tribes to whom headhunting was culturally critical – in possession of prisoner rivalry heads. Yet after on, with a difference of massed raids, a use of headhunting was singular to particular plea attacks or occurred as a outcome of possibility encounters.

Shaven-headed Dayak temperament a stalk with a parang unresolved from his side

Photo circa 1920

Even so, by Charles Hose’s time headhunting was evidently still adequate of an emanate for a ethnologist to persevere sections of his book to a subject. Hose even went so distant as to try probable explanations for a habits and beliefs that competence have underlain and upheld this horrible ferocity, charity dual probable theories:

“That a use of holding a heads of depressed enemies arose by prolongation of a tradition of holding a hair for a embellishment of a defense and sword-hilt,” and that: “The start of head-taking is that it arose out of a tradition of slaying slaves on a genocide of a chief, in sequence that they competence accompany and offer him on his tour to a other world.”

Medicine group of a Dusun-Dayaks in West Borneo

Without wishing to expel too most doubt on Hose’s perceptive colonial eye, contemporary scholars have offering somewhat opposite views on what headhunting meant to a people who used it. Within a formidable polytheist and animist beliefs of a Dayaks, beheading one’s rivalry was seen as a approach of murdering off for good a suggestion of a chairman who had been slain.

The devout stress of a rite also lay in a faith that it ushered in a finish of anguish for a community’s dead. The heads were put on arrangement during normal funeral rites, where a skeleton of kin were exhumed from a earth and spotless before being put in funeral vaults. Ideas of strength were also firm adult with a practice, and a taken heads were certainly prized.

Dayak arch in full normal fight dress

Photo 1900-1940

Those who competence lay snugly behind a thought that these barbarous practices distortion distant from Western courteous standards competence wish to consider again. During WWII, Allied infantry are famous to have collected a skulls of passed Japanese as trophies. In 1944 Life published a print of a immature lady posing with a sealed skull sent to her by her Navy boyfriend, an eventuality that caused open outrage.

Under Allied direction, a Dayaks themselves retaliated opposite a Japanese with their code of riotous crusade following ill diagnosis by a occupying forces. The hideous tradition temporarily reared a conduct again as US airmen and Australian special operatives incited internal tribesmen into a thousand-man headhunting army that killed or prisoner some 1,500 Japanese soldiers.

War workman with Japanese skull sent by her Navy boyfriend

Photo, Life Magazine 1944

In distant some-more new times, beheading by Dayak people again resurfaced. Kalimantan, a Indonesian apportionment of Borneo, has been injured by heartless outbreaks of racial assault given a late 1990s. In 2001, over 500 Madurese immigrants were killed and tens of thousands forced to flee, with a bodies of some victims decapitated in rituals all too suggestive of traditions past.

Conversion to Islam or Christianity and anti-headhunting legislation by a colonial powers competence have ostensible to conceal headhunting, yet aroused practices a universe over mostly have a robe of reappearing when situations get ugly.

http://www.environmentalgraffiti.com/featured/headhunting-tribes-borneo/20773