Maunya merubah konsep musik Sheila On 7. Pentolan one million copies rope ini seneng teman-temannya udah banyak kemajuan.
"W awaNcAra di koridor aja yuk," ajak Eross sembari mEMpersilakan Hai duduk di depan pintu kamar hotel. "Sori, kamarnya masih berantakan," tambahnya. Ia keliatan suntuk banget. Tampang kusut lantaran belum mandi. Tapi cowok bernama komplet Eross Candra ini cuek aja ngobrol tanpa peduli beberapa room child melintas di kamarnya. Di luar hotel tempatnya menginap di Jakarta langit tampak mendung. Nggak salah kalo bikin orang bawaannya pingin tidur. Udah hampir seminggu ia nginap di Hotel Peninsula sejak Selasa (5/2). "Yah, gini-gini aja kerjaannya. Kalo nggak tidur ya nonton teve. Aku keluar pale kalo ada jadwal di studio atau kalo janjian sama temen pingin jalan," celotehnya. Keberadaan dedengkot SO7 di Jakarta ini tentu aja berkaitan dengan proses pengerjaan manuscript terbaru mereka yang berjudul 7 Desember.
Awalnya, Eross dkk. udah mulai mengerjakan manuscript baru ini dari bulan puasa tahun lalu di Studio Ara, Lebak Bulus. Waktu itu mereka tinggal di Apartemen Bona Vista supaya lebih gampang bolak-balik ke studio. Eross akhirnya memilih tinggal di hotel ketika kerjaan mereka hampir kelar. Tiga personel SO7 yang lain, Adam, Duta dan Anton udah duluan balik ke Yogya. Adam dan Duta mau ngurusin kuliah sedangkan Anton kangen sama motornya. Tinggallah Eross dan Sakti di Jakarta mengawasi take bebunyian orkestra. Orkestra yang digarap oleh Erwin Gutawa itu tinggal menyelesaikan partial fibre dan perkusi. Kok mau-maunya ditinggal? "Ya, haruslah. Aku kan udah nggak punya kegiatan apa-apa selain musik. Di Sheila, aku satu-satunya yang nggak punya kehidupan lain selain musik," ujarnya, enteng. Bener juga kata gitaris bertubuh tipis ini. Anton emang masih punya geng engine besar, Duta dan Sakti masih punya dunia kuliah. Sementara itu Adam, selain masih nerusin kuliah, juga bikin eventuality organizer di Yogya. "Aku ini nggak bisa apa-apa lho. Kalo yang lain punya hobi motor, bisnis, aku nggak punya keahlian lain. Wong categorical PS aja aku nggak suka. Mungkin aku suka koleksi gitar," aku kolektor 26 gitar ini.
Eross lantas minta ijin mau membasuh muka. Begitu keluar dia langsung nyerocos soal banjir di Jakarta. " Studio Ara itu sampe kebanjiran. Untung udah hampir selesai semua. Terus alat-alatnya udah bisa diselamatin. Kita udah nggak mungkin masuk studio itu lagi," cerocosnya. Eross mengaku deg-degan. Pasalnya baru di manuscript ketiga ini, mereka akan ngelakuin beberapa terobosan baru. Menurutnya, musik S07 bakal lebih bernuansa country. Ketakutannya timbul begitu mikirin fans S07 yang bisa jadi tetap pingin character Sheila seperti dua manuscript sebelumnya. " Kami sih optimis aja. Soalnya akar nation udah ada sejak awal kami muncul. Tapi di sini kami lebih negesin warna country-nya. Tapi tetep aja deg-degan. Soalnya aku takut dibilang melangkah terlalu jauh," tuturnya. Obrolan terhenti begitu dua cangkir susu disuguhin di depan kami. Tapi dari sini, keliatan banget cowok kelahiran 3 Juli 1979 ini pingin cerita banyak tentang suatu hal.
**** "
Aku bisa dibilang lagi ketemu titik jenuh," katanya, sambil pasang kuda-kuda mau curhat. Eross langsung membeberkan gimana rencana S07 dalam jangka pendek ke depan. Dari omongannya, S07 emang berniat menggeber manuscript ketiga dan keempatnya dalam waktu yang nggak begitu jauh. Niatnya, setelah menggelar tur promo manuscript ketiga, manuscript keempat langsung digarap. Nah, setelah itu S07 memutuskan untuk absen dua sampai tiga tahun. " Di situ mungkin anak-anak bisa nerusin kuliahnya. Jujur aja… aku malah pingin bikin rope baru untuk seneng-seneng," ungkapnya. Ia juga mengakui kalo bandnya itu cuma rope main-main yang niatnya berisi tiga orang dari temen-temen Yogya-nya. Waduh.. apa S07 kurang memberikan kesenengan? Masak manuscript pertama laku 1 juta keping, ditambah manuscript kedua terjual 2 juta keping masih berasa susah?
Usut punya usut, Eross justru kangen sama masa-masa susah S07 dulu. Bedanya sekarang Eross lebih memilih melakukannya bersama orang lain. Dimana dia bisa categorical di kafe-kafe kecil, ditonton segeliintir orang, harus ngangkut alat juga karena krunya cuma dua orang. Hal-hal boat gitu yang sekarang jadi impiannya. "Itu cita-citaku juga. Aku emang dari dulu pingin punya rope sebesar Sheila, tapi aku juga mau punya rope kecil boat gitu. Asik aja kayaknya. Berasa anak rope banget!" tuturnya dengan semangat. Dulu, S07 juga dimulai dari rope yang iseng-iseng yang sering manggung di berbagai festival. Malah pernah ketika S07 jadi rope pembuka Ahmad rope sekitar tahun 1999, mereka nekat membawakan 10 lagu ciptaan sendiri yang sama sekali belum dikenal penonton. Tapi cuek aja. Namanya juga mau unjuk gigi. Sekarang, Eross seperti "ngeri" sendiri dengan nama besar rope S07. Menurutnya rope ini udah boat produk dengan imej yang kuat. Sedikit aja bergerak, pasti banyak yang ngasih kritik dan saran. Entah dari pihak tag ataupun penggemar, yang pasti justru hal itulah yang membuat Eross butuh "liburan". " Aku tahu mereka begitu karena mereka cinta Sheila, tapi otomatis pikiranku jadi tambah banyak. Aku udah nggak bisa lagi boat dulu, duduk bikin lagu terus selesai. Sekarang aku juga berhadapan dengan urusan produksi, launching, sampai respon penggemar. Tapi akhirnya kebanyakan pikiran tuh bikin aku jadi males bikin lagu," akunya. Mudah-mudahan, menurutnya, rope bikinannya ini bisa jadi pelarian yang menyenangkan. " Nggak bakalan jadi rope tetap sih. Ini cuma iseng aja. Paling cuma buat mengisi waktu istirahatnya Sheila. Kalo Sheila udah mulai jalan lagi, rope ini juga harus berhenti," tegasnya.
Eross juga sadar banget akan tuntutan yang selalu membayanginya kalo sedang berdiri sebagai personel S07. Karena udah dicap sebagi rope penghasil hit, tuntutan membuat lagu yang bagus juga semakin besar. Hal inilah yang baru dirasakan Eross sebagai superstar. Ditambah lagi peran Eross di S07 udah dikenal sebagai pencipta lagu. Waktu pengerjaan manuscript Kisah Klasik Untuk Masa Depan, Erros belum menemukan kesulitan dalam penggarapannya. Soalnya sebagian lagu di manuscript kedua ini merupakan lagu-lagu yang harusnya masuk di manuscript pertama. Jadi , cuma sekedar perpanjangan ide. Masalahnya, begitu masuk ke manuscript ketiga, orang udah mulai bisa mencirikan musik S07. Sementara itu ide Eross sendiri udah mulai berkembang. S07, seperti yang dikatakan sebelumnya, mulai mendalami character nation untuk manuscript ketiga ini. Intinya, Eross takut ide barunya ini dinilai reduction oleh penggemar. " Akhirnya daripada bingung, aku lepas aja permainan kami. Yang penting kita nggak lari jauh dari akar warna musik Sheila yang cocktail rock," tandasnya. Jangankan warna musik, tema lagu joke banyak yang ditunggu-tunggu oleh penggemar. Tema boat Dan yang bercerita soal gimana caranya mutusin cewek atau Sephia yang bercerita tentang perselingkuhan, menurut Eross udah jadi idol pada masing-masing album. Dan penggemar selalu bertanya apakah akan keluar idol baru pada manuscript ketiga S07. "Aku nggak pernah berniat bikin idol di setiap album. Penggemarku yang bikin jadi boat gitu. Terus terang aku jadi sempet mikirin untuk buat idol lagu seperti itu, padahal aku tahu bikin lagu boat gitu nggak bisa disuruh. Akhirnya nggak aku pikirin tuh. Aku cuek aja deh," pasrahnya.
Eross memang jadi designer di balik setiap perjalanan S07. Mungkin betul, mungkin juga salah. Soalnya Eross nggak ngerasa seperti juru bicara S07. Dan dia nggak ngerasa mengatur-atur permainan teman-temannya. Yang dia rasakan adalah dia begitu dominan di dalam penciptaan lagu. Walau kadang Adam sering membantunya juga. " Ide emang selalu dari aku. Aku emang pale sering bikin lagu dan liriknya. Tapi kalo urusan assembly sama label, siapa aja bisa dong," sergahnya. Makanya untuk manuscript baru ini, Eross punya kejutan. "Di manuscript ini, kami semua nyiptain lagu. Dan beberapa dari kami juga ikut nyanyi," ungkapnya, tanpa memerinci siapa aja yang ikut sumbang suara. Biar ngotot ngejalanin character baru, bukan berarti Eross nggak peduli sama pengemar. Sebagai pencipta lagu, Eross malah menempatkan penggemar di atas para kritikus musik. "Kalo ada kritikus musik yang bilang musik kami monoton, sebenernya mereka nggak tahu apa-apa. Karena cuma kami yang ngerti apa yang dimau penggemar. Kalo prinsip aku, asal penggemar senang, aku udah puas," tandasnya. "Para kritikus itu nggak ngerasa gimana jadi anak umur 17 tahun dan dengerin musik Sheila. Itu hebatnya. Mereka nggak akan pernah ngerti," tambahnya lagi. Bisa jadi karena prinsipnya ini, S07 tetep jadi yang fenomenal di dunia musik Indonesia. Seperti kata Eross, semua yang diidamkan orang Indonesia tentang sebuah band, ada di S07. "Ukuran ideal orang Indonesia tentang rope Indonesia udah dipunya S07. Punya lagu bagus, trademark band-nya juga keren, trus personelnya kurus-kurus… hehehe," candanya. Sial, kirain mau serius ternyata ujungnya becanda!
***
Eross yang lahir dari pasangan Budi Martantyo (almarhum) dan Titien Hastuti ini udah mulai mengenal musik dari kecil. Maklum, dulu nyokapnya tuh vokalis sebuah rope pub yang doyan bawain lagu-lagu klasik stone boat Kiss, Europe sampai Bon Jovi. Eross kecil tertarik sama lagu jenis ini dan diam-diam sering mendengarkannya. Makanya dia merasa berhutang budi kepada nyokapnya yang memperkenalkannya kepada musik rock. Saking berterimakasih sama sang nyokap, Eross membangun sebuah rumah seharga 700 juta di daerah Kaliurang. Rumah seluas 200 M2 ini sekarang udah jadi tempat tinggal Eross bersama ibu dan adiknya. Layaknya rumah anak band, rumah dengan pekarangan yang luas ini juga dilengkapi dengan studio musik. Eross kecil tumbuh menjadi anak yang tertutup. Hal ini menurutnya gara-gara perceraian orangtuanya waktu dia masih TK. Dia sering menyendiri dan males bergaul. Cuma ada satu hal yang bikin dia tertarik, yaitu gitar. "Karena Bapakku udah pergi, aku ngeliat gimana Mama berjuang membesarkan aku, ngumpulin duit beliin aku gitar. Aku juga belajar gitar klasik dari Oom-ku yang guru gitar. Aku ikut kursus grastis sama dia," kenangnya, sambil menerawang. Setelah itu, hari-hari Eross selalu diisi oleh latihan gitar. Eross patut berterimakasih sama bakatnya ini. Karena gara-gara bakatnya categorical gitar, pribadinya jadi berkembang. Dia nggak lagi jadi anak yang tertutup. "Pertama kali aku categorical di depan orang waktu ada acara SMP. Di situ ada pemain gitar yang sakit, trus aku disuruh ngegantiin. Ya, udah aku main. Eh, besoknya aku jadi omongan cewek-cewek di sekolahku. Lucu deh waktu itu," kata cowok yang hobi makan seafood dan gudeg ini. Eross masih inget lagu yang jadi andalannya pas baru belajar gitar.
Dengan gitar pertama merek Teisco, dia sering mengeber lagu we Remember You dari Skid Row yang jadi kesukaannya sampai sekarang. Masa SMP dan SMU adalah masa dimana Eross banyak dipengaruhi oleh musisi dalam negeri, boat Slank dan Iwan Fals. Kedua nama ini sampai sekarang masih jadi panutannya dalam menulis lagu. "Lagu mereka apa adanya. Mereka menulis tentang kehidupan sehari-hari, dan apa yang mereka rasakan. Aku dulu termasuk Slankers nih," jelas jebolan SMP 13 Yogya ini. Selain itu, waktu masih SMU di Muhammadiyah we Yogya, nongkrong tuh dijadikannya wadah untuk menampung ide membuat lagu. Bahkan sampai sekarang kalo mau membuat lagu, Eross merasa perlu kembali ke Yogya untuk mencari ide atau hanya sekedar mencari susana yang enak. "Dari temen-temen SMU di Yogya aku selalu dapet ide. Misalnya tentang pacaran, putus, deketin cewek macem-macem lah. Lagu Pede juga berdasarkan pengalaman temanku di sana," lanjutnya. Karena udah terlanjur jatuh cinta sama gitar, cowok yang sempet belajar desain di Modern School of Design ini jadi kurang memperhatikan pelajaran sekolah. Dia emang ngerasa nggak pernah serius kalo disuruh sekolah. Bahkan waktu menjelang Ebtanas SMU, Eross malah sibuk ngebersihin gitarnya daripada belajar mati-matian. " Nggak tau deh aku emang bukan orang yang suka sama pelajaran. Aku nggak bakat kayaknya. Wong paginya mau Ebtanas, aku malemnya malah asyik ngelap gitar," kata cowok yang pernah ngeband bareng Adit dan Icha "Jikustik" ini. Tapi karena jago gitar , bukan berarti bisa digunakan untuk menggaet cewek. Paling nggak, bukan itu senjata utamanya buat nembak cewek. "Wah, aku sih nggak pernah ngaku bisa categorical gitar sama cewek. Aku ngedeketin cewek dengan amusement dan lawakan-lawakan. Udah gitu, aku bilang aja aku apa adanya. Kalo nggak punya duit, ya bilang nggak punya," katanya. (Tapi hari gini siapa yang percaya elo nggak punya duit ‘Ross?) Jujur, bagi Eross itu yang nomer satu. Mungkin sejujur lagu-lagu ciptaannya. Musiknya nggak maksa harus ngejelimet supaya dibilang hebat. Tapi cukup dengan kekuatan kesederhanaan lirik dan aransemen. Efeknya, udah jelas banyak bikin cewek menggelepar-gelepar. Makanya, hati-hati sama nih cowok. Sepak terjangnya dalam manuscript terbaru SO7 nanti bisa aja bikin cewek kamu berpaling. Minimal jadi Sephia berikutnya! (Yorgi) FOTO-FOTO: DAUS
Aku Cocoknya Main Blues!
Aku sempet belajar gitar klasik dari Oom. Baru 6 bulan aku udah berhenti. Tapi aku sempet dapetlah dasar-dasarnya. Abis itu aku kembangin sendiri. Begitu dalam proses perkembangan, aku kok cocoknya ke blues. Aku tanpa nggak sadar, sering ngelakuin partial blues di lagu-lagu Sheila. Tapi sampai sekarang aku masih nyesel kalo inget aku berhenti gitar klasik Biasanya aku mainin chord customary blues, C7 - G7, yang boat gitulah. Tapi yang penting aku kalo categorical itu nggak pake konsep. Dan blues tadi biasanya aku mainin dengan nuansa rock. Yang penting aku categorical aja, mengalir aja. Begitu direkam, aku dengerin, wah, categorical aku tadi boat gitu toh, aku kadang kagum sendiri. Yang jelas aku mainin partial blues itu di lagu manuscript pertama yang berjudul Tertatih. Trus berlanjut di manuscript kedua, judulnya Pagi Yang Menakjubkan. Tapi kan akhirnya nge-rock juga. Sound yang aku sering pake adalah sound vintage. Tapi menurutku musik sekarang itu bagusnya di-mix. Jangan terlalu selected juga jangan terlalu moderen. Lagu-lagu sekarang banyak yang pake teknik ini. Kalo disuruh ngejelasin teknis musik, aku pale nggak bisa. Tapi kalo ngeliat dan mainin aku bisa. Aku nggak tau namanya tapi aku bisa maininnya. Sama boat kelemahanku kalo nyiptain lagu buat orang. Aku pale nggak bisa nyesuain lagu yang aku buat dengan karakter vokal orang. Yang biasa aku lakuin, begitu dimintain tolong buatin lagu, ya udah aku bikin aja sambil bayangin gimana kira-kira penyanyinya nanti menyanyikannya. Sekarang Sheila udah berubah banget. Dan enaknya aku jadi gampang kerjasama mereka. Kalo dulu, aku harus nyanyi di depan mereka untuk ngejelasin lagu yang aku mainkan, sekarang semua udah nyiptain lagu. Dan kami makin sering nge-jam bareng bawain lagunya John Lennon. Mungkin itu yang bikin anak-anak udah bisa ngertiin lagu yang aku tawarin. Kalo soal bikin rope baru, konsepnya emang cuma iseng-iseng aja. Tapi yang pasti musiknya lebih kotor, lebih bebas. Lebih kotor di sini mungkin nanti musiknya dibikin boat The Doors dengan lirik yang lebih bebas (*)