MAHITALA - SHOW YOUR FIGHTING SPIRIT: Jul 2007

PENDAKIAN KE PUNCAK-PUNCAK GUNUNG DI PEGUNUNGAN HIMALAYA

Bagian VII :

Dingboche (4360 M) – Chhukhung Villages (4750 M) –

Chhukhung RI (5559 M)

Jarak : 8,5 Km

Waktu Tempuh : 3 jam + 3 jam (normal)


The some-more extraordinary a conditions and larger a final done on (the climber), a some-more sweetly a blood flows after in recover from all that tension. The probability of risk serves merely to whet his recognition and control. And maybe this is a motive of all unsure sports. You deliberately lift a ante of bid and thoroughness in sequence as were, to transparent your mind of trivialties.

It’s a tiny scale indication for living, though with a disproportion : Unlike your slight life, where mistakes can customarily be recouped and some kind of concede patched up, your actions, for however brieft a period, are lethal serious.

A. Alvarez


The Savage God :


A Study of Suicide


“Dingboche” Pagi, Kamis 02 Nopember 2006 itu masih “buta” dan dingin begitu menusuk tulang, sebagian besar Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar masih bergelung nikmat didalam sleeping bag hangat masing-masing, tetapi “kehebohan” telah terjadi. Sujan tour beam leader kami dan Susanto menggedor pintu kamar Sani Handoko yang sekamar dengan Tjandra Laksanahadi (Didiet) untuk melaporkan bahwa George tidak sadar (nampaknya dari semalam sudah kritis). Mereka bergegas menuju kamar George yang sekamar dengan Susanto dan mendapati George tergolek lemah, tak berdaya, tidak ada respons yang berarti dan matanya sudah tak berkedip dan dominan warna putihnya. Tarikan nafasnya lemah, sulit dan terdengar suara seperti gemuruh atmosphere sungai Dudh Kosi dari dada George setiap menarik nafas. Mereka mencoba berkomunikasi tetapi tidak berhasil.

Pagi itu digelar rapat tidak resmi yang singkat dan kita memutuskan harus segera membawa turun George langsung ke Kathmandu dengan helikopter karena kondisi George benar-benar sangat gawat, tampaknya terlambat dalam hitungan jam akan berakibat sangat deadly dan akan menjadi penyesalan seumur hidup. Sani Handoko langsung berkoordinasi dengan Mr. Nava pimpinan First Environmental Trek Pte. Ltd di Kathmandu untuk mengatur pengiriman segera satu helikopter ke Pheriche untuk menjemput George.

Seperti yang sudah kita ketahui, hampir mustahil mengirim helikopter meskipun untuk penyelamatan nyawa manusia bila tidak ada yang menjamin pembayarannya (cash deposit) oleh seseorang / badan / organisasi di Kathmandu, karena biasanya semua tim pendaki berada di pegunungan. Sistim pembayaran adalah “cash before delivery” artinya, tidak ada uang tunai (US$) jangan harap ada helikopter terbang. Mr. Nava mengatur pengiriman helikopter, setelah lewat pembicaraan dengan Sani Handoko – Ketua Tim bahwa biaya penjemputan helikopter US$ 4500 akan dibayar tunai sekembalinya Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar di Kathmandu. Setelah menerima jaminan ini Mr. Nava “mampu” untuk mengirimkan helikopter tersebut ke Pheriche (4280 M).

Kesibukan joke terjadi dalam rangka mempersiapkan George untuk ditandu ke Pheriche (4280 M), desa di lembah sungai Khumbu Khola (ujung bawah area Khumbu – Glacier), sebelah barat Dingboche sekitar dua kilometer jauhnya yang dapat ditempuh satu jam perjalanan dari Dingboche. Sebagian anggota tim yang memang tidak mendaki ChhukhungRI memutuskan akan mengantar George ke Pheriche: yaitu Sani Handoko, Tjandra Laksanahadi, Suhanto, Mario yang didampingi 6 (enam) sherpa untuk “menggotong” George diatas tandu. Meskipun perjalanan dari Dingboche ke Pheriche relatif lebih mudah karena turun ke lembah sungai Khumbu Khola tetapi nyatanya “mengusung” tandu George cukup repot dan berat karena postur George yang tinggi besar itu.

Gambar 35

Himalayan Rescue Association Pheriche Clinic (4280 M).Tampak dari atas, Kamis 02 Nopember 2006


Himalayan Rescue Association dan Tokyo Medical College yang dilengkapi dengan fasilitas kesehatan dan sarana inap yang cukup memadai amat membantu melayani para pendaki memeriksa kesehatan mereka. Klinik tersebut dikawal 2 (dua) orang dokter Amerika dan sejumlah Tim Medis Lokal

Pukul 08.30 rombongan George tiba di klinik yang dioperasikan oleh Himalayan Rescue Asociation (HRA) di Pheriche, yang juga terdapat TokyoMedicalCollege. Di klinik tersebut ada 2 (dua) orang dokter berkebangsaan Amerika yang berpraktek dibantu Tim tenaga Medis lokal, George langsung diperiksa ternyata ada 2 (dua) hal pokok yaitu kadar O2 dalam darah sangat rendah dan hal ini amat berbahaya untuk syaraf dan otak serta tingkat kesadaran George yang minim, dokter mengatakan harus segera diterbangkan ke Kathmandu. Didapat kabar bahwa persiapan evakuasi terus dilakukan di Kathmandu, helikopter hanya muat 2 (dua) orang selain pilot, menurut rencana Mr. Nava akan ikut terbang untuk jemput George.

Gambar 36


Tjandra Laksanahadi (Didiet) di depan klinik di Pheriche, Kamis 02 Nopember 2006


Pheriche adalah “highest point“ terakhir dimana para pendaki berkesempatan memeriksakan kondisi fisik untuk terakhir kalinya. Disini Didiet dan beberapa anggota Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar memeriksakan kondisi fisiknya

Selama menunggu kedatangan helikopter, dokter di klinik Pheriche menginformasikan bahwa ada korban lagi seorang porter dari organisation lain yang diorganisir oleh perusahaan “trekking” lain “terjatuh” ke jurang sedalam 30 M dengan kepala nyaris “pecah” dan sudah “koma” selama 2 (dua) hari setelah kecelakaan.Tragisnya porter tersebut ditinggalkan begitu saja “terkapar” di klinik dan tidak diurus. Dokter menyatakan kalau hari ini tidak dibawa turun ke Kathmandu untuk menerima perawatan intensif di rumah sakit akan meninggal. Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar yang di Pheriche berembuk dan menyetujui untuk membawa korban porter itu dengan pertimbangan kemanusiaan. Keputusan diambil Mr. Nava tidak jadi ikut terbang ke Pheriche agar helikopter mampu mengangkut 2 (dua) orang, yaitu George dan porter yang koma tersebut. Sambil menunggu helikopter datang, Didiet dan beberapa rekan lain memeriksakan diri di klinik tersebut dengan biaya US$ 50 / orang, karena di Pheriche adalah kesempatan terakhir untuk memeriksakan diri sebelum menuju ke tempat yang lebih tinggi lagi.

Akhirnya Didiet mengutus porter kembali ke Dingboche dengan pesan agar anggota tim yang lain yang kondisinya kurang baik dan punya gejala AMS agar berangkat ke Pheriche untuk diperiksa. Cukup banyak yang berangkat ke Pheriche, antara lain: Tisi, Hani, Olin, Irsan, Irma, Susanto, dan Hasan sekalian menjenguk George. Ide Didiet cukup baik karena menyadari bahwa kondisi sebagian besar Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar di Dingboche ini, sudah “melorot” drastis.

Didiet yang nama lengkapnya Tjandra Laksanahadi adalah anggota Mahitala Angkatan Agni Loka, Sarjana Teknik Sipil Unpar lulusan tahun 1990, memang sudah matang dan berpengalaman. Hanya bekerja satu tahun di bidang Teknik Sipil yang kemudian memutuskan bergabung dengan Accenture Consulting Firm suatu perusahaan konsultan bergengsi waktu itu. Perusahaan ini awalnya bernama SGV Utomo, yang berganti nama menjadi Arthur Anderson, dan bagian consulting nya memisahkan diri dengan nama Anderson Consulting yang akhirnya berubah menjadi Accenture Consulting Firm.

Saat ini Didiet menjabat sebagai Senior Manager setelah bertugas selama 16 tahun di perusahaan Konsultan Multi National yang berbasis di Amerika itu. Suatu prestasi yang membanggakan. Bapak seorang anak yang bernama Reyhan (8 tahun) juga telah mendidik Reyhan untuk menjadi pecinta alam sejati, sadar & mencintai lingkungannya. Reyhan bersama Didiet sudah mengembara ke Gunung Halimun ketika Reyhan berusia 3 tahun, kemudian ke Way Kambas – Sumatera Selatan untuk lebih menggenal alam, satwa liarnya dan mengikuti module pelatihan & pendidikan di alam bebas oleh Pelopor Adventure Camp (PAC) yaitu perusahaan pelatihan manajemen dan pembentukan karakter di alam bebas (Outbound Training Center). Suatu pilihan yang pas telah dibuat Didiet bersama Aning, Ibu Reyhan yang juga bekerja sebagai pemasar produk asuransi dari Manulife Insurance.

George menunggu hampir 2 (dua) jam di klinik Pheriche sebelum helikopter datang sekitar pukul 10.00, hampir bersamaan dengan kedatangan anggota tim lainnya seperti : Hani, Tisi, Olin, Irsan, Irma, Susanto & Hasan yang sekaligus mengantar George terbang ke Kathmandu dan memeriksakan diri mereka, yang nantinya diketahui mereka terkena AMS ringan, baru dalam tahap pusing & mual. Dokter menyarankan bila besok pagi masih pusing maka tidak boleh melanjutkan perjalanan. Bila pusing hilang boleh terus melanjutkan pendakian ketempat yang lebih tinggi.

Suasana perpisahan dengan George amat mengharukan, sebagian rekan hanya diam membisu sambil mengigit bibir bawah, ada beberapa yang menghela nafas dalam dan menitikkan atmosphere mata menyaksikan helikopter yang membawa George dan korban porter, hilang lenyap dibatas lazuardi biru menuju Kathmandu. George didudukkan di kursi depan, samping kiri pilot, masih belum sepenuhnya sadar, sedangkan korban porter yang terjatuh ditidurkan dalam tandu dan diletakkan di bagian belakang helikopter, terbaring di lantai helikopter dengan kepala penuh balutan perban yang masih berdarah, dalam kondisi koma.

Gambar 37


George terbang ke Kathmandu, Kamis 02 Nopember 2006


Suasana saat mengantar George untuk kembali ke Kathmandu bersama porter organisation lain yang luka parah dikepala karena terjatuh di jurang sedalam 30 meter.


Haru biru menerpa perasaan kami Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar


Setelah melepas keberangkatan George & rombongan pertama ke Pheriche, 6 (enam) anggota Tim EBC 2006 – Mahitala Unpar (Lily Nababan, Chaca, Tjandra Heru, Milug, Ian, dan BHP) dengan didampingi Sujan (Tour Guide) melanjutkan jadwal perjalanan hari ini, aklimatisasi ke Chhukhung Village (4750 M) dan Chhukhung RI (5559 M). Pagi itu cuaca kelabu seakan mengerti akan kondisi George, juga perasaan kami ketika memulai perjalanan ke Chhukhung Village yang berjarak 5 Km dengan jarak tempuh 3 (tiga) jam. Pemandangan hari itu benar-benar spektakuler karena dapat melihat puncak-puncak atap dunia dengan salju abadinya. Perjalanan diawali dengan mengikuti sungai Imja Khola kearah timur. Tampak Lhotse (8501 M) dikiri kami dan Ama Dablam (6856 M) dikanan dan kami berjalan diatas batuan koral di dasar lembah yang amat besar, menuju Imja Tze / IslandPeak (6173 M). Setelah berjalan 3 Km, kami tiba didesa Bibre (4574 M), dari sini sosok Imja Tze (6173 M) sangat jelas & menawan.



Gambar 38


Milug di Bibre (4574 M),dan Ama Dablam (6856 M), Kamis 02 Nopember 2006


Milug Tri Sardjono dengan gayanya yang khas, berpose didepan Ama Dablam (6856 M) dalam perjalanan ke Bibre (4574 M) setelah melewati lembah sungai Imja Khola

Pukul 11.30 kami bertujuh tiba di Chhukhung Village (4750 M), setengah jam perjalanan dari Bibre (4574 M). Chhukhung dalam bahasa Nepali artinya “places between dual rivers”, adalah tempat diantara dua sungai, yaitu Imja Khola dan Niyam Khola dan diujung dasar Lhotse – Nuptse Glacier. Kami makan siang di Chhukhung VillageRI (5753 M) sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Chhukhung, gunung berbatu cadas hitam di utara ChhukhungVillage itu amat menantang (seperti gunung-gunung di Rocky Mountains Amerika Selatan).


Gambar 39 –


“Places between Two Rivers“ & Lily Nababan, Kamis 02 Nopember 2006




Gambar 40


“Places between Two Rivers“ tampak dari bukit, Kamis 02 Nopember 2006


Tempat ini benar-benar “sunyi“ dan memendam sejuta makna “Places between Two Rivers“, tampak di kejauhan : Tjandra Heru, Ian, porter, dibelakangnya : Lily, Sujan, Chaca dan Milug

Dari Chhukhung RI (5539 M) atau Chhukung View Point (5350 M) bila cuaca bagus dapat dilihat dengan jelas pale tidak keagungan 4 (empat) puncak atap dunia yaitu : Mt. Everest (8848 M) – puncak tertinggi didunia, Lhotse (8501 M) – puncak ke 4 (empat) dunia, Makalu (8463 M) – puncak ke 5 (lima) dunia, dan Cho – Oyu (8201 M) – puncak ke 6 (enam) dunia, semua puncak itu punya ketinggian diatas 8200 M tentunya pengalaman itu tidak dapat dilupakan seumur hidup.

Gambar 41


Island Peak (6173 M) dengan burung gagaknya, Kamis 02 Nopember 2006


Island Peak / Imja Tze (6173 M) merupakan puncak gunung yang sering digunakan untuk “aklimatisasi“ oleh para pendaki sebelum ke Mt. Everest (8848 M)


Terkenal dengan burung gagaknya yang agresif dan suka melubangi tenda / benda-benda yang ditinggal tanpa penjaga ketika pendaki melakukan “Summit – Attack“

Setelah makan siang dan beristirahat, Tjandra Heru, Lily Nababan dan Chaca memilih tinggal di Chhukhung Village dan langsung kembali ke Dingboche. Pukul 12.30 kami berempat: Milug, Ian, BHP didampingi Sujan mulai mendaki gunung batu terjal itu Chhukhung RI (5559 M).

Tanjakannya benar-benar maut dan edan. Kaki terasa pegal dan mulai kejang, sedangkan nafas terus tersengal-sengal menuntut supply oksigen lebih. Perjalanan dua setengah jam itu benar-benar menguras tenaga saya, dan membuat saya capai. Radang tenggorokan saya bertambah parah dan sakit dileher tidak hilang sedangkan sakit diare saya sudah sembuh, tapi masih lemas, yang akhirnya terobati lunas setelah melihat pemandangan sangat spektakuler di atas gunung berbatu cadas hitam itu. Banyak foto diambil disini, termasuk foto kami dengan bendera kebanggaan Mahitala Unpar dan Merah Putih. Perjalanan Turun ke Chhukhung Village dilakukan amat cepat, hanya 30 menit.

Gambar 42


Trio : Milug, Ian dan BHP di puncak Chhukhung (5350 M), Kamis 02 Nopember 2006


Pemandangan disini sungguh “fantastis“.


Trio Mahitala berpose bersama bendera kebangsaan Mahitala Unpar dengan latar belakang Lhotse (8501 M)


Gambar 43


Sang Merah Putih didepan Lhotse-Nuptse Ridge dan Lhotse (8501 M),

Kamis 02 Nopember 2006


Di ketinggian ini dapat dilihat dengan jelas 4 (empat) puncak dunia dengan ketinggian diatas 8200 M, yaitu Mt. Everest (8848 M – 1), Lhotse (8501 M – 4),

Makalu (8463 M – 5) dan Cho-Oyu (8201 M – 6)


Luar biasa ... ...

Pukul 15.30 kami berempat sudah sampai di Chhukhung Village, ternyata Tjandra Heru, Lily Nababan dan Chaca sudah kembali ke Dingboche, maka kami segera kembali ke Dingboche karena tidak ingin kemalaman dijalan. Perjalanan benar-benar dilakukan secara cepat menuruni lembah, menyusuri Imja Khola untuk menuju Dingboche. Udara dingin tidak dirasakan lagi, badan bergerak cepat sehingga sampai di Dingboche pukul 17.30, tepat sebelum keremangan senja menyelimuti Dingboche.

Malam itu udara begitu dingin di Dingboche, sehingga saya malas ke kamar, hanya duduk di dekat perapian yang hangat di restoran sambil mengeringkan sepatu, kaos kaki dan sarung tangan dan pikiran menerawang jauh. Sudah 2 buah kaos kaki saya hangus terbakar selama ini karena melamun di perapian, sedangkan kaos kaki kami dikeringkan di besi panas. Masih tergiang kata-kata Didiet kepada George yang setengah sadar di Pheriche, yang juga diulang di Kathmandu nantinya setelah bertemu George, setelah misi EBC selesai :

“George, eloe itu punya tugas yang lebih mulia dari kami. Secara sadar atau tidak eloe telah menyelamatkan nyawa Porter yang “sekarat” karena ditinggal oleh tim nya setelah jatuh ke jurang 30 meter. Sedangkan kami cuma naik beberapa gunung di Himalaya. Jadi eloe tidak boleh sedih …… “

Dalam benar makna kata-kata itu, begitu menggugah sanubari … … People always thinks as themselves and never bargain about a God’s devise and His functions … ….

Namaste,

Budi Hartono Purnomo

M-78188 AS


AfterSixHour
tag:blogger.com,1999:blog-6694849377121110467. 2011-08-16T00:41:51.161+07:00 . AfterSixHour. design, art, skateboarding, dan photography . AfterSix
Dr P Greg St Claire - Anesthesiology - 517-484-4451
Dr. P Greg St Claire, Anesthesiology, 517-484-4451, Okemos, Michigan, 405 W Greenlawn Ave
" Sweet Memory " - CaMpuR - CaMpuR

 

Mencoba meramaikan  MFM2 edisi Juni 2009 .  Dan temanya kali ini " Indonesian Cuisine ". Sebagai tuan rumah nya kali ini adalah mbak Pepy .

Gak terlalu susah sih , karena memang menu di rumah setiap hari ya ... masakan Indonesia. Untuk kali ini  aku coba masak Rendang Daging,  yang umumnya orang bilang Rendang Padang , tapi karena aku bukan orang Padang ... :) ya ku sebut aja Rendang Daging ... soalnya selain Daging ternyata ada juga yg bisa di rendang ( telor ... Jengkol dll ).

Rendang Daging agaknya memang menjadi menu wajib di Rumah Makan Padang, lauk berbahan daging berwarna kecokelatan ini berasa pedas dan gurih karena kelapa.

Menu satu ini , dah pasti ada di setiap Rumah Makan / Resto Padang , kalo gak ada berarti ... dah habis . he... he....  Dan biasanya aku kalo makan di RM Padang minta satu porsi lengkap Nasi Padang , yg terdiri dari Nasi , rendang , gulai kapau , sambel ijo , daun singkong rebus and krupuk kulit .... onde mande ... tambuah ciek lai Da ... he..he... duh jadi lapeeerrrr .

Ya udah deh ... selamat menghayal makan Nasi Padang :)

Resep sebagian dah aku modif . ( so ... mohon maaf kalo gak sesuai selera :) )

Bahan :

Daging Sapi  500 gram , pot.setebal 1 cm

Santan cair 1 liter dari satu butir kelapa

Santan Kental 500 ml dari 1 butir kelapa

Kelapa sedang 1/2 butir , parut panjang , sangrai lalu tumbuk halus sampai keluar minyak.

Daun jeruk 3 lbr, Cengkih 3 butir, Kayu Manis 2 cm, Daun Kunyit 1 lbr, Lengkuas 2 cm geprek , Sereh 1 btng geprek.

Bumbu Halus :

Bawang merah 8 butir , bawang putih 4 butir , Cabai merah 5 buah (kalo suka pedas bisa di tambah) , kunyit 1 cm , jahe 1 cm, ketumbar 1 sdt, jinten bubuk seujung sdt, merica seujung sdt, Pala bubuk seujung sdt. Garam secukupnya

Cara memasak :

1. Siap kan Penggorengan , masuk kan bumbu halus , daging dan bahan lainnya beserta Santan Encer , masak hingga daging lunak / setengah matang.

2. Tuang santan kental dan kelapa sangrai beserta garam, masak hingga bumbu meresap dan berminyak. Angkat sajikan.

 

AKUVET

Ketahanan pangan merupakan isu utama Departemen Pertanian dalam pembangunan pertanian Kabinet Persatuan Nasional, Kabinet Gotong Royong (1999-2004) maupun Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009). Hal ini karena ketahanan pangan sangat berkaitan erat dengan ketahanan soSial, ketahanan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan. Ketahanan pangan ini terkait dengan keterjangkauan pangan hingga sampai ke tingkat rumah tangga berkaitan erat dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia Indonesia. Kejadian kerawanan pangan dan gizi buruk mempunyai efek yang negatif bagi pemerintah yang berkuasa.

Beberapa hal yang termasuk dalam upaya membangun ketahanan pangan adalah: membentuk lembaga yang berfungsi sebagai pengelola cadangan pangan, distribusi pangan, penyangga pangan, juga keamanan pangan (menyangkut kesehatan dan mutu gizinya).

Lumbung Desa

Salah satu embrio dari lembaga cadangan pangan ini adalah lumbung desa: Keberadaan lumbung desa ini tidak lepas dari ide Residen Cirebon tahun 1902. Messman, orang Belanda, yang saat itu menjabat sebagai Residen Cirebon dan Sumedang (Jabar). Gagasan tersebut muncul oleh kekhawatiran Messman akan kemungkinan terjadinya kerawanan pangan di daerah yang dipimpinnya. Dalam pemikirannya, apabila para petani memiliki tabungan padi atau gabah maka pada masa-masa paceklik kebutuhan pangan mereka akan tetap tercukupi. Setelah ide diterima oleh pemerintah Hindia Belanda maka dinas yang menangani adalah Dienst voor Volkscreditwiysen (Dinas Perkreditan Rakyat). Dinas tersebut bernaung di bawah Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Pemerintah Hindia Belanda saat itu. .

Lumbung desa, baik yang dibangun atas prakarsa dan swasembada desa maupun bantuan pemerintah, pesat bermunculan di berbagai pelosok dan banyak diantaranya masih bertahan hingga paruh awal tahun 1990-an. Berdasar catatan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Ditjen Bangdes) tahun 1993-1994 diketahui masih terdapat 12.655 lumbung desa yang terutama terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura. Akan tetapi dengan berjalannya waktu maka keberadaan lumbung desa ini semakin lama semakin melemah karena kekurang mampuannya untuk beradaptasi dengan perkembangan jaman. Para petani sekarang ini lebih suka menjual hasil panennya dari pada menyimpan di lumbung desa.

CPPD (Cadangan Pangan Pemerintah Desa)

Keberadaan cadangan pangan di pemerintahan desa diamanatkan dalam PP 68/2002 tentang Ketahanan Pangan masih terbatas pada cadangan pangan masyarakat, sedanga untuk cadangan pangan pemerintah desa realisasiya belum nyata. Memang pada saat ini ada BULOG, tetapi dengan adanya Undang-undang Otonomi Daerah dimana Bulog menjadi Perum maka tentu berdampak pada manajemen stok beras sehingga kurang bisa menyentuh pada ketahanan pangan di tingkat keluarga. Selanjutnya perlu diuraikan mengenai CPPD ini:

1. CPPD di pedesaan harus didasarkan atas keragaman potensi lokal.

2. Prinsip yang dipegang adalah terjangkau, tanggungjawab, merata, terbuka.

3. CPPD/BUMDes adalah lembaga ekonomi dibawah pembinaan dan pengawasan Pemerintah Desa tetapi terpisah manajemennya sehingga aparat pemerintah desa tidak dapat ikut campur secara langsung.

Skema Pengembangan CPPD

1. Pola/Tipe1

Pengembangan section Usaha Pangan Mandiri (desa belum mempunyai BUMDes serta tidak ada usaha pendukung lainnya atau usaha ekonomi produktif yang eksis).

2. Pola/Tipe 2

Pengembangan Unit Usaha Pangan Mandiri (desa belum membentuk BUMDes tetapi sudah memiliki usaha simpan pinjam atau usaha ekonomi produktif lainya yang eksis)

3. Pola/Tipe 3

Pengembangan Unit Pangan dalam BUMDes (desa telah membentuk atau memiliki BUMDes yang terdiri dari sejumlah section usaha yang telah berkembang.


Begitu pentingnya cadangan pangan ini sehingga perlu para pengambil keputusan di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten, serta para Kepala Desa untuk mencari peluang mana yang dapat dilakukan untuk kemakmuran warganya. Idsya Allah.