Sinetron Indonesia, Program Acara Televisi, TV Soap Opera, Profil Biodata Artis, Sinetron Terbaru, Reality Show Indonesian Television, Acara Komedi TV, Tanggal Lahir, Stasiun TV Indonesia, Sinetron Indosiar, Sinetron RCTI, Sinetron SCTV, FTV Video, Jadwal Siaran, Casting Pemain Sinetron, Soundtrack Lagu, Sinopsis Cerita, Bintang Sinetron, Hot Gosip. You wouldn't find foto bugil, film porno, bokep mesum or print telanjang cinema here, since this blog NOT PORN SITE.
mohon untuk meramaikan blog ini dengan cara mengirimkan artikel, komentar, kritik, foto, video dan lain sebagainya mengenai makhluk langka bin aneh bin ajaib yang ndeso, norak, katro, culun, anderistimit, njebret karet ini ke email: tukulers4mata@yahoo.com
MANUSKRIPSA OSTAFOLOGI MATIKIRI 02
Oleh: Ostaf Al Mustafa
Pahlawan tak dikenal dan maestro tergusur
Salut besar kepada mereka yang telah wafat dalam pertempuran melawan penjajah. Sebagian dari mereka anonim, tak berkubur di taman makam pahlawan, tak disebut veteran, bahkan ada yang tak diketahui letak kuburannya. Di setiap perayaan “Hari Proklamasi” dan “Hari Pahlawan”, keberadaan mereka bukan hanya tak dikenal, tapi juga dianggap nyaris tak pernah ada. Para pahlawan anonim itu disebut “pahlawan tak dikenal”. Kahar Muzakkar salah seorang dari pahlawan itu, kini tak diketahui kuburannya setelah beliau syahid, karena ditembak pasukan Jenderal Muhammad Yusuf. Dalam mitos, Kahar Muzakkar dipercaya masih hidup dan secara anonim memiliki identitas baru.
Orang-orang hanya ingat di setiap perayaan nasional ada perlombaan olahraga, musik, dan berbagai pesta kesenangan lainnya. Di bagian lain, rumah para maestro digusur dan diberi ganti yang merugikan. Bagi penikmat hari-hari libur nasional, para maestro itu mungkin juga anonim. Siapa mereka yang tergusur tak diketahui secara pasti. Pemerintah beserta aparat represifnya yang berwajah garang (polisi/tentara/satpol PP), yang ikut dalam operasi penggusuran juga tak mau tahu siapa para pejuang-pejuang renta itu. Mereka menempatkan para pahlawan maestro itu dalam kategori manusia anonim. Siapapun yang anonim di negara ini pasti mudah digusur, diintimidasi, dan dirugikan secara sum lahir dan batin.
Pada mulanya nama atau dalam bahasa Yunani berarti nonim/nonima, ditujukan pada para dewa-dewi. Para dewa mewakili semua unsur untuk disebut pahlawan, karena mereka kuat, cerdas, bijaksana, dan susah mati. Disebabkan mereka pahlawan, maka tentu saja pantas punya sebutan nama untuk dikenang. Ketika epoch dewa-dewi dipindahkan ke bumi, maka hanya para pahlawan yang berhak punya nama. Mitologi Yunani memuja dewa dan pahlawan dalam berbagai kisah peperangan dan pertandingan olimpiade purba. Pahlawan yang beratribut sebagai atlet, menjadi ikon baru legenda kepahlawanan.
Herkules, anak dewa Zeus dan juga pahlawan imajiner Yunani, yang pertama mencitrakan adanya pahlawan jenis baru di gunung Olympus. Pahlawan jenis baru semuanya bernama, kecuali kepada para atlet pecundang. Para pahlawan dipuja-puja dalam symposium (pertemuan dewa dan manusia) dan ecclesia (majelis manusia terhormat). Mereka yang kalah tetap tak bernama dan hilang begitu saja tanpa kenangan. Masih untung jika mereka sempat dikenang melalui nomor punggung. Sayangnya saat itu tak ada nomor apapun yang disablon di kaos atlet. Lukisan olimpiade purba, memperlihatkan atlet yang berlaga ada yang telanjang bugil. Tentu saja tak ada yang mengenakan nomor punggung dalam ketelanjangann.
Ketika para pecundang tewas saat turun gunung, mati mengenaskan di padang belantara, dan meninggal dikoyak-koyak rasa putus asa, semua tubuh mereka hancur begitu saja. Tak ada sebutan maestro bagi yang kalah dan juga tak ada mahkota daun victory (kemenangan) yang melingkar di kepala mereka. Pusara para pecundang tak terpahat nama apapun dan roh mereka berkeliaran jauh dari zona istana para dewa gunung Olympus. Para pahlawan Indonesia yang tak dikenal dan tak bernama, bernasib jauh lebih baik dari para pecundang Olimpiade. Mereka mendapat doa generik di hari Pahlawan berupa ucapan khidmat “Semoga roh mereka diterima disisi Tuhan”.
Anonimitas “Pahlawan tanpa tanda Jasa”
Terpujilah Omar Bakrie dkk yang menjadi guru dan teratributkan dalam istilah “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Istilah tersebut merupakan ‘reduksi penghargaan’ dan ‘penindasan struktural’ terhadap guru. Guru diberi julukan muluk-muluk, sedangkan kesejahteraan mereka diabaikan. Bukan hanya negara yang merestui julukan yang menindas tersebut, tapi pihak universitas ikut juga berperanan dalam penyebaran aphorism kosong itu. IKIP Ujungpandang (kini: Universitas Negeri Makassar) pernah memasang aphorism “pahlawan tanpa tanda jasa” di jembatan penyeberangan depan kampus 1 Pettarani. “Pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi bentuk penganoniman para guru, sehingga identitas mereka dihilangkan secara kolektif dan individu.
“Jadi guru jujur berbakti, memang makan hati”, demikian Iwan Fals dalam tembang “Omar Bakrie”. Guru jujur berbakti pasti selalu anonim, salah seorang yang nonim (bernama) hanyalah Omar Bakrie. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari Rezim Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, juga tak pernah tahu siapa lagi guru jujur berbakti, selain “Omar Bakrie”. Habibie, yang otaknya dibentuk “Omar Bakrie”, juga tak mengerti nasib guru jujur berbakti lainnya. Habibie tak tahu menahu pada anonimitas guru-guru, meskipun telah menjadi presiden.
Indonesia punya guru jujur berbakti lainnya selain “Omar Bakrie” yakni Ki Hajar Dewantoro. Beliau menciptakan seloka “Tut Wuri Handayani” (memberi dorongan dari belakang) dan membuat suatu zona pendidikan yang disebut “Taman Siswa”. Ki Hajar Dewantoro adalak seorang priyayi Jawa bernama Raden Mas Suwardi, tapi berhasil membuat pendidikan “Taman Siswa” yang tak lagi ‘istana sentris’. Mungkin yang jadi masalah mengapa lambang “Tut Wuri Handayani” harus berupa sayap-sayap burung. Bentuk sayap burung itu mirip dengan sayap-sayap orang-orang mati yang terbang ke langit dalam lukisan-lukisan gereja Santo Petrus di Vatikan.
Dalam realitas Indonesia, sayap-sayap burung memang mewakili simbol “matinya pendidikan nasional”. Sayap-sayap itu menyimbolkan pula “terbangnya roh pendidikan jauh ke awan-awan”, meninggalkan bumi dan “Taman Siswa”. Ketika Plato mendirikan “Taman Akademos” untuk mengenang pahlawan Yunani, tak ada lambang sayap di gerbang sekolah itu. “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang telah mati, telah mengambil sayap-sayapnya masing-masing dari lambang “Tut Wuri Handayani”. Tak ada laporan dari Dinas Pendidikan Nasional tentang kemana terbangnya roh-roh “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Apakah label “jujur berbakti” juga telah terbang dalam sayap-sayap kematian tersebut? Tak pernah seorangpun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di lima rezim penguasa yang pernah tahu hal tersebut.
Melesetologisme Muhammad atau Ahmad
Suatu yang sangat untuk dianjurkan untuk meniru dan mengikuti sunnah Rasullah Muhammad SAW, baik dari segi nama, sunnah ibadah ritual, perintah, dan teladannya (uswatun hasanah). Memang harus diakui banyak dari kalangan Muslim yang memakai nama Muhammad atau Ahmad justru mencemarkan nama mulia tersebut. Nama Ahmad pertama kali tercantum dalam Kitab Taurat yang menukilkan adanya seorang nabi dari Gunung Faron. Kabar dari Nabi Musa a.s. itu dilanjutkan oleh Nabi Isa a.s. sebagaimana yang tertera dalam Injil Barnabas. Pemalsuan kitab Taurat dan penghilangan Injil Barnabas, telah membuat Ahmad menjadi ‘nabi Anonim’.
Skandal terbesar dari both kafir sides (dua sisi orang Kafir, Yahudi dan Nasrani) yakni menghilangan nama “Ahmad” dari kedua kitab suci tersebut. Kitab Taurat atau “Kitab Perjanjian Lama” yang telah menghilangkan nama “Ahmad” yakni dalam “Kitab Ulangan” fasal 33 terdjemah Melayu tjetakan Amsterdam 1928, “Maka datang Allah dari Torsina ya’ni menganugrahkan Musa dengan Kitab Torat, dan terbit dari Se’ir yaitu menganugrahkan Isa dengan Kitab Injil dan tjemerlang tjahayanya dari gunung Paron.” Bagian yang dihilangkan yakni “tjemerlang tjahayanya untuk Ahmad yang menerima Qur’an dari gunung Paron “.
“Kitab Perjanjian Lama” dari Lembaga Al-Kitab Indoensia (LAI) juga masih menghilangkan nama “Ahmad”. Dalam Kisah “Ashabul Kahfi” yang disiarkan TVRI diperlihatkan Maxmilianus (seorang tokoh penasehat agung kerajaan Philadelphia) yang menyebutkan versi asli dari kitab Taurat “fasal 33” tersebut. Maxmilianus menyebutkan tentang Ahmad yang menerima cemerlang cahaya Allah dari gunung Paron. Redaksi injil dalam terbitan Melayu dan bahasa Indoensia berbeda dengan ucapan Maxmilianus tentang nama Tuhan. Injil terjemahan Melayu menuliskan “Maka datang Allah dari Torsina”, sedangkan ucapan Maxmilianus menyebut “Maka datang Tuhan Jehova dari Gunung Tursina”. ‘Tuhan Allah’ adalah nama Tuhan versi Kristen, sedangkan ‘Tuhan Jehova’ berasal dari versi Yahudi. Sekarang ini jemaat Kristen Indonesia telah mempergunakan nama Tuhan berupa Allah dan juga Jehovah. Bila versi nama Tuhan bisa berbeda, maka bukan hal yang sulit jika harus menghilangkan nama “Ahmad” dalam “Kitab Perjanjian Lama”.
Dalam tradisi local genius pada indegenous knowledge (kearifan pengetahuan local) masyarakat suku Konjo Kajang (kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan) terdapat suatu pengagungan pada nama “Muhammad”. Suku ini memiliki penghargaan yang teramat tinggi pada nama “Muhammad”. Masyarakat Kajang (khususnya ‘Kajang Dalam’) yang masih kuat dalam tradisi asli, tak sembarangan menyebutkan nama “Muhammad”. Mereka juga tak menggunakan nama itu sebagai ‘identitas nama’ dari seorang joke di Kajang Dalam. Mereka tak ingin pengguna nama mulia itu, justru mencemarkan kesucian Muhammad Rasulllah SAW. Bila mereka ingin menyebutkan tentang Rasullullah SAW, beliau disimbolkan dengan penamaan “Sampeng lompo”, yang berarti “Orang yang termulia, yang terpercaya, yang teragung, dan yang terpilih.”
Orang-orang di luar Kajang menganggap keislaman masyarakat ‘Kajang Dalam’ tidaklah sempurna, karena sejumlah protocol ibadah tak dilakukan secara semestinya. Di masyarakat ini, malah sangat mencontoh prilaku sosial dan kemanusiaan Muhammad Rasulllah SAW. Sebagai contoh, rumah dan perabotan rumah tangga Amma Toa (pemimpin suku), ternyata yang pale sederhana dari semua rumah di ‘Kajang Dalam’. Rumah Rasullah juga amat sederhana, begitupun menantunya Ali bin Abi Thalib karamallahu wajha (k.w.). Rumah Rasulullah SAW tidak menyolok dari segi kemewahan.
“Bila masyarakat menderita, maka kamilah yang pertama mengalaminya. Bila masyarakat mendapatkan kesejahteraan, maka kamilah yang terakhir menikmatinya”, demikian falsafah kepemimpinan dari sang pemimpin suku, Amma Toa. Pola kepemimpinan yang langsung mengalami penderitaan masyarakat ini, dicontohkan pula dalam kehidupan sehari-hari Muhammad Rasulullah SAW, khalifah Umar bin Khattab r.a., khalifah Ali bin Abi Thalib k.w., dan khalifah Umar bin Abdul azis r.a..
Bandingkan dengan Soeharto, yang menjelang akhir masa kekuasaannya menggunakan nama ‘Muhammad’ dan bertitel ‘haji’. Ia justru yang pertama menikmati kesejahteraan yang teramat mewah. Nepot (keluarga/cucu) dan kroninya yang menikmati gemah ripah loh jinawi (sejahtera dan makmur). Soehartolah yang makin mempopulerkan pepatah Jawa “jer Basuki mawa bea” atau “kesejahteraan memerlukan pengorbanan”. Dalam konteks ril, pihak wong agung Istana Cendana yang “jer basuki” (sejahtera luar biasa), sedangkan wong cilik mengalami “mawa bea” (berkorban melulu).
Nama “Muhammad” telah dikorupsi dan dimanipulasi untuk pelangggengan kekuasaan dan kenikmatan Orba. Untung saja penggunaan nama “Muhammad”, tak berlangsung teramat lama. Kekuasaan Soeharto runtuh, karena didongkel oleh guliran reformasi. Di masa sakitnya, mantan penguasa Orba itu kembali sering disebut oleh media sebagai “Soeharto” dan bukan lagi “Muhammad Soeharto”.
Muhammad Rasullah SAW tak pernah menguntungkan keluarganya (ahlul attract dan ummul mukminin) dalam kemewahan nepotisme. Tak pantas nama Muhammad disandang Soeharto, karena kehidupan Soeharto sangat mementingkan kemewahan keluarga. Cucunya saja (anak Bambang Trihadmojo) yang menikah dengan artis Lulu Tobing, biaya pestanya mencapai lima milyar Rupiah. Uang sebanyak itu bila dibelikan Softex, bisa sedikit mengeringkan luberan Sumur Banjar Panji Satu di desa Siring Bojong. Sumur bencana yang diperkirakan akan terus menyembur Lumpur panas selama dua tahun. Seharusnya “Soeharto” harus tetap sebagai “Soeharto” dalam hidup dan matinya. Ia bukan lagi harus berlabel secara melesetologisme sebagai “Muhammad Soeharto”. Dengan demikian nama Rasullullah SAW tak lagi tercemar di Indonesia, seperti yang terjadi pada semua orang jahat, yang juga menggunakan nama depan “Muhammad” atau “Ahmad”. Banyak orang jahat di Indonesia telah memberi “lumpur najis’ pada nama “Ahmad” atau “Muhammad”.
‘Kamar belakang’ yang salah arah
Anak-anak sekolah dasar di jaman Orba diperintahkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk menggunakan istilah ‘kamar belakang’ sebagai pengganti istilah kakus, kloset, atau WC. Uniknya ‘kamar belakang’ bukan sekedar sebagai kata benda substitutif untuk kakus atau WC. Ia juga berfungsi ganda sebagai kata kerja untuk aktivitas pembuangan hajat kecil dan besar.
Bila ada anak-anak di jaman Orba berkata kepada ibu guru, “Bu, saya mau ke kamar belakang!” itu berarti “saya mau pipis atau berak.’ ‘Kamar belakang’ sebenarnya tak berorientasi menuju ke suatu kamar yang terletak di arah belakang sekolah. Mengapa sampai sebuah kata benda justru menjadi sekaligus sebagai kata kerja, itulah masalah gaya bahasa slang anak-anakisme (gaya bahasa yang dipergunakan anak-anak).
Memang dalam bahasa Inggris, suatu kata benda bisa menjadi kata kerja yang disebut gerund yakni menambahkan ‘ing’ pada kata benda tertentu. Book (buku) merupakan noun (kata benda). Bila book ditambahkan akhiran ‘ing’ maka menjadi suatu noun-ing (kata benda berbentuk ing) yakni booking yang berarti ‘memesan tempat’. Booking juga bukan hanya tentang memesan tempat, ia juga digunakan dalam segi trafficking (penjualan perempuan) dan eskploitasi perempuan di dunia pelacuran. Gaya bahasa anak-anakisme sampai kini belum di-booking (dibukukan) untuk menjadi suatu gaya bahasa resmi dalam pelajaran BINAR (Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar) dan EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
Gaya bahasa anak-anakisme merupakan sebuah kekeliruan ajar untuk anak-anak dalam penggunaan orientasi tempat. Itu juga sebuah ‘pendidikan salah arah/disorientatif’ yang dibenarkan dalam EYD? Bagaimana mungkin sebuah ‘kamar belakang’ di sebuah sekolah justru berada di samping kiri atau kanan sekolah? Kesalahan didik ini makin membesar di jaman Developmentalism (Pembangunisme) Orba hingga jaman SBY-JK. ‘Kamar belakang’ dalam disorientasi Pembangunanisme ternyata justru berada di depan rumah.
Mengapa MCK di depan rumah?
Di jaman Orba proyek kesehatan masyarakat selalu membangun ‘kamar belakang’ atau ruang MCK (Mandi Cuci Kakus) di depan rumah masyarakat pedesaan. Kesan yang ingin ditunjukkan dalam Pembangunanisme orba yakni agar WC/MCK yang telah dibangun mudah terlihat oleh pengawas proyek atau supervisor. Mereka bisa mengawasi selesai proyek itu tanpa turun dari mobil, cukup melihatnya sekilas dari jendela rayban mobil. Sekarang di jaman neo-Orba, MCK juga masih tetap dibangun depan rumah.
Sebagaimana biasa pengawas proyek pembangunan dari dinas Pekerjaan Umum (PU) dan dinas apapun di jaman Orba ada yang makan ‘gaji buta’ dan ‘komisi tuli’. Mereka mengawasi pembangunan suatu proyek cukup dari pernyataan ABS (Asal Bos Senang), ABK (Asal Bapak Korupsi), dan ABC (Asal Bapak Cincailah). Sudah diangggap cukup memadai bila mengawasi selesainya suatu proyek dalam keadaan mobil berjalan. Itulah sebabnya mengapa semua proyek WC atau MCK harus terletak di depan rumah, agar pengawas yang malas itu cukup melihatnya sambil lalu lalang.
Utang baru negara di ‘kamar belakang’
Hingga di jaman SBY-JK, ‘kamar belakang’ ini tetap dibangun di bagian depan rumah. Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Proyek Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) juga masih menempatkan ‘kamar belakang’ di bagian depan rumah. Proyek Pengentasan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) atau ‘Urban Poverty Project’ memang terkenal dengan ‘proyek kloset’. Proyek tersebut merupakan bagian dari paket penambahan utang negara dari charity (belas kasih) kapitalis neolibs, yang bergabung dalam World Bank.
P2KP di Sulawesi-Selatan dan sekitarnya, dikelola secara tripartite agreement (perjanjian tiga pihak) yakni pemerintah, Lembaga Penelitian Unhas, dan lSM asing. Pengawas proyek atau supervisi PPK dan P2KP yang malas, juga bermotif seragam dengan apa yang terjadi di jaman Orba. Motif pengawasan dan supervisi (visi yang super), cukup dari jendela mobil pada akselerasi kendaraan 40-60 km/jam.
Lobi-lobi kamar belakang
Bila terjadi korupsi di segala proyek ‘utang negara’, maka siapapun yang ingin “bernyanyi” untuk membuka konspirasi korupsi ini disarankan jangan “bernyanyi” di ‘kamar belakang’. Benyanyilah di kamar hotel, sebagaimana yang menimpa koruptor dana Pemilu Mulyana W. Kusuma, yang dijebak dalam ‘nyanyian sumbang suap’ oleh Khariansyah Salman.
Sekarang banyak kasus korupsi tingkat atas yang diselesaikan secara ‘kamar belakang’ (baca: diam-diam) di Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung. Korupsi ‘Hutan Tanaman Industri’ (HTI) oleh adik Tiri Soeharto, Probosutedjo maupun koruptor dana ‘Jaminan Sosial Tenaga Kerja’ (Jamsostek), Ahmad Djunaidi diselesaikan hanya dengan ‘hukum kamar belakang’. Hukum telah menempatkan suap sebagai keputusan tertinggi, yang kesahihannya diketokkan palunya di pintu ‘kamar belakang’.
‘Lobi-lobi kamar belakang’ (baca: lobi-lobi tertutup) juga menutup arus informasi pengungkapan konspirasi korupsi di sekretariat negara. Good governance (pengelolaan yang baik dan transparan), cuma tambahan baru kosa kata yang bersifat omong kosong di negara ini. Konspirasi korupsi lainnya juga disinyalir terjadi pada ‘Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi’ (BRR) Aceh-Nias yang berbuntut pada pemecatan secara ‘kamar belakang’ (baca:non-prosedural) pada Khariansyah Salman dan Leonardus.
Tragedi ‘kamar belakang’ ini, merupakan ironi dari demagogi SBY untuk memberantas korupsi dalam 100 hari masa kekuasaannya. Jangan-jangan pidato kampanye SBY juga disusun di ‘kamar belakang’? Sebagai perbandingan ketika diangkat menjadi Perdana Menteri Cina, Zhu Ron Ji berkomitmen “Untuk melenyapkan korupsi, saya menyiapkan 100 peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor dan satu untuk saya jika berbuat sama.” Pemerintah SBY dalam 100 hari pemerintahannya belum ada koruptor besar yang masuk bui. Pemerintahan Zhu Ron Ji menepatinya janjinya teramat cepat, hingga koruptor-koruptor banyak menjadi mayat cuma dalam 100 hari.
Wen Jia Bao yang menjadi pengganti Zhu Ron Ji, juga menerapkan kebijakan yang sama yakni bila koruptor sudah divonis di tingkat “Pengadilan Negeri”, maka langsung di bawa ke lapangan tembak. Zhu Ron Ji dan Wen Jia Bao bukan “politikus kloset” yang terdidik dari “kamar belakang”. Rasa-rasanya semua janji kampanye SBY dan hampir seluruh Parpol seperti ‘bau kentut’, kita tidak tahu itu berasal dari bokong politikus yang mana. Pidato kenegaraan SBY (Agustus 2006) pada sidang Paripurna DPR/MPR juga di susun di ‘kamar belakang’, karena data-data ekonomi yang dibacakannya tidak valid, tahi, basi, dan expired (kadaluarsa).
Jangan bernyanyi di WC, menyanyilah di telingaku!
Apakah disorientasi Pembangunanisme sebagai chaos pada bahasa Indonesia, harus tetap syah dalam bahasa negara? Haruskah penyengajaan kesalahan desain pada lay out (tata letak) ‘kamar belakang’ dientengkan dalam manipulasi pembiaran? Mengapa anak-anak TK/SD/SMP/SMA di beri pelajaran disorientatif dan dislokatif, sehingga apa yang secara gaya bahasa di sebut ‘belakang’, ternyata secara realitas berada ‘di depan’? Mengapa pula Bahasa Indonesia gaya anak-anakisme dalam struktur bahasa Slang/Slank (Slangisme/Slankisme), tak diakui negara dalam pelajaran EYD dan BINAR?
Ada yang lebih buruk dari penggunaan istilah ‘kamar belakang’ ini. Suatu ketika seorang ayah ingin membuat anaknya terlihat lebih santun dan lebih kromo (Jawa: halus dan sopan) dalam menggunakan bahasa. Pendidikan budi pekerti ini diajarkan, agar anaknya bisa berbahasa lembut ala tutur kata KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym.
Aa Gym mengajarkan cara berakhlak bahasa dalam pemilihan kata-kata yang menenangkan dan menyenangkan qalbu. Beliau umpamanya menghendaki agar ucapan atau larangan seperti “Dilarang merokok!” atau “Dilarang buang sampah disini!” diganti dengan kesantunan yang lembut berupa “Sebaiknya jangan merokok!” atau “Sebaiknya jangan buang sampah disini!”.
Isi ceramah Aa Gym memang bagus karena nasehat spiritualnya untuk mengggantikan kata ‘dilarang’ dengan kata ‘sebaiknya’, membuat kesantunan makin berharga. Kesantunan berbahasa memiliki dampak sublimatif inner-heart (kedalaman hati) dan inner-spirit (kedalaman jiwa) pada ketenangan perasaan orang yang membaca dan mendengarnya. Upaya Aa Gyim disebut ‘opsi diksi eufonik’ atau “Memilih kata yang sedap dan menyenangkan dalam makna”.
Rupanya sang ayah tersebut “termakan” pula oleh ceramah The Saint (Orang Suci) versi majalah “Time” tersebut. “Nak, kalau kau ingin kencing jangan berkata ingin ke ‘kamar belakang’ tapi katakan ‘saya ingin menyanyi’!”, begitu nasehat sang ayah menirukan tutur lembut Aa Gym. Kosa kata yang kromo ini selanjutnya selalu dipergunakan anak tersebut untuk menggantikan kata ‘kencing’, ‘pipis’, atau ‘kamar belakang’.
Sampai akhirnya di suatu tengah malam, sang anak ingin sekali kencing. Ia lalu membangunkan ayahnya yang sedang tidur agar menemaninya ke ‘kamar belakang’.
“Yah, saya mau sekali menyanyi?”
“Tengah malah begini mau menyanyi! Apa tak bisa besok, di depan Ibu guru vokalia?”
“Yah, tak bisa besok! Pokoknya saya mau sekarang juga!”
Sang ayah saat itu masih sangat ‘kurang sadar’, karena terjaga secara tiba-tiba. Desakan sang anak membuatnya tak ingin lagi berdebat pada urusan “nyanyian tengah malam tersebut”. Sang ayah yang masih ngantuk berat rupanya sudah agak lupa pada bahasa kromo diksi eufonik yang diajarkan pada anaknya. Sang ayah yang ‘peduli anak’ ini langsung menimpali,
“Baik, ayah mau dengar kau bernyanyi tapi jangan ‘Indonesia Raya’, yang pendek-pendek saja ya! Ayah masih ngantuk nich! Sekarang bernyanyilah di telingaku!”
Saintisme makan ‘Tuan Modern’
Pekerjaan pembuktian kecerdasan pihak intelektual, secara parsial dan fragmentatif pernah disebut sebagai ‘meditasi Cartesian’. Pada meditasi ini, kesadaran atau sikap berpikir sangat diutamakan sebagai proritas tertinggi. Rene Descartes (1596-1650) mengemukakan hakekat manusia sebagai cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada atau aku berkesadaran maka aku ada). Descartes dikenal sebagai peletak patok dasar ilmu-ilmu modern.
Keberadaan manusia terbatas pada adanya cogitation (pemikiran), sehingga manusia hanyalah ditentukan oleh cogitationes (hasil pemikirannya). Bentuk materi dari cogito ergo sum dibuatkan patung the thinker (sang pemikir) oleh Aguste Rodin (1840-1917). Bentuk sempurna sebagai makhluk homo sapiens yang dikehendaki oleh Rodin yakni “manusia yang berpikir”. Meditasi ala Descartes dan simbol the thinker mereduksi posisi manusia, hanyalah pada suatu kesadaran dan keberpikiran dalam versi epoch modern. Sesungguhnya manusia berpotensi lebih banyak daripada kesadaran dan keberpikirannya.
Kehampaan spiritualitas dan kekosongan sikap religiusitas telah menjadi efek samping dari cogito ergo sum. Ulil Al-Bab memang harus menemukan kesadaran dan mencerahkan pemikirannya. Semua itu secara devout dan religius merupakan bagian inheren pada penghambaan tak bersyarat kepada Allah SWT. Dalam khasanah Islam, ada sesuatu hal yang berada di luar jangkauan pikiran umpamanya tentang roh, zat Tuhan, dan keimanan pada hal gaib. Bila hal tersebut bukan termasuk proses cogitation, maka “Apakah aku masih ada?”
Cogito ergo sum telah menjadi ‘pintu depan’, ‘kata pengantar’, atau ‘gerbang utama’ untuk menempatkan keberadaan manusia di jagat kemakhlukan sebagai ‘ciptaan yang pale terhormat’. ‘Pintu depan’ ataupun ‘kata pengantar’ ini adalah corong pengeras utama untuk memastikan bahwa bila seseorang mau disebut manusia complicated berarti harus berpikir. Bila tanpa pemikiran, maka seseorang akan kehilangan kesadaran jati dirinya sebagai manusia modern.
Efek yang terjadi justru sebaliknya yakni manusia complicated makin banyak mengalami ‘kehilangan kesadaran’, ‘demoralitas kebudayaan’, ‘kegagalan orientasi plane duniawi’, ‘kebuntuan pemikiran’, dan ‘kecelakaan filosofis’, justru akibat tersesat dalam labirin kesadaran maksimal (cogito maximum). Efek “Saintisme makan Tuan Modern” ini, membuat saintisme didekonstruksi oleh pihak post-modern.
Pendekonstruksi saintisme complicated oleh post-modern, kini menjadi depot “Kata Pengantar II” dalam jagat postcogitasion. Bila post-modern dianggap bisa memberikan ruang ‘kecelakaan filosofis baru’ dan kegagalan dalam dalam orientasi plane bagi kebudayaan manusia, maka suatu saat akan pula diredekonstruksi oleh “Kata Pengantar III” berupa post-post-modern, supra post-modern, hyper post-modern, atau entah sebutan apa lagi. Saintisme complicated dan post-modern tak akan pergi jauh-jauh, dari jarak ‘lubang tunggal’ di ‘pintu belakang kloset’. “Kebudayaan yang diusung kaum poststrukturalis dan posmodernisme seperti Foucault, Derrida dan Lyotard yang berorientasi secara plane bagi pemebebasan hasrat dan dekonstruksi dignified telah gagal mengubah lajunya dunia”, ujar Yasraf Amir Piliang. Kegagalan posmo pasti akan membuka jalan besar bagi munculnya narasi baru yang akan meredekonstruksi apa yang pernah diajarkan Foucault, Derrida, dan Lyotard.
'Quo vadis' or 'what’s up' ‘Hubuis’ and ‘Habais’
Islam memang suatu keyakinan yang teramat cerdas, karena walau dari ‘pintu belakang’, ada ajakan untuk selalu ‘membaca dengan hati’. Tanpa literasi bibir verbal, ucapan ini menjadi perlu untuk diaktivasikan. Tak ada agama lain yang mengajarkan penganutnya untuk membaca ‘manuskrip suci’ sebelum masuk ‘kamar belakang’. Bacaan dari manuskrip yang pertama dibaca yakni suatu penghurufan sakral bagi pencerdasan kebersihan spiritual.
Penghurufan sakral tersebut berupa doa sebelum beraktivitas di dekat water closet (wc), wastafel, closet, jamban, kakus, corner bathtub, spa room, long bathtub, bidet, vanity, showering screen, bathroom accessories, dan semua hal yang berhubungan dengan spotless (kesehatan lingkungan). Dalam Islam, doa pembuka ‘bab kamar belakang’ yakni ”Alloohumma inni a’uudzu bika minal Khubutsi walkkhobaaits (Ya, Allah sesungguhnya aku berlindung dari Khubuts dan khobaaits)”. ‘Khubuts’ dan ‘Khobaaits’ (selanjutnya di-melesetransliterasi-kan sebagai Hubuis dan Habais), merupakan ‘setan-setan tersembunyi’ (hidden satans) yang berumah di septic tank dan beristana di zona eksklusif pembuangan ampas metabolisme akhir. Ketersembunyian dua makhluk setan membuat keduanya diremehkan keberadaannya oleh semua praktek keagamaan di luar Islam.
Melesemitologi ‘Hubuis’ dan ‘Habais’
‘Hubuis’ dan ‘Habais’ bertugas secara resmi di semua movement pembuangan hajat, baik di ruang tertutup maupun di alam terbuka. Keduanya mula-mula bertugas sebagai pegawai honorer (pegawai sukarela) dan pegawai magang dalam proyek penggodaan di masa evolusi makluk bersel satu yang masih menggunakan water closet berukuran super nano-nano. Pengangkatan dan latihan pra-jabatan keduanya sebagai Pegawai Negeri Setan (PNS) dilakukan jauh sebelum Adam dan Eve diekstradisi ke bumi. Adam dan Eve diturunkan ke bumi sekitar 4076 SM, sedangkan latihan prajabatan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ sebagai PNS terjadi pada 4666 SM.
Sebenarnya ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ telah menunggu penugasan ini sejak 6666 SM (triple six plus six). Saat itu Lucifer Azazil atau Belzeebub telah menjadi The Great Godfather (pemimpin utama) atau bos gank atas makhluk halus extra-terestial (di luar bumi) atau outer space (luar angkasa) yang disebut alien-genie. Lucifer Azazil kemudian terangkat sebagai ‘quasi malaikat’, angel look, atau pseudo-malaikat di langit teras pertama.
Pada 6660 SM (triple 6 0), Lucifer Azazil berhasil melakukan ghaswul fikr (serangan pemikiran) terhadap Tuhan sebagai ‘imunitas intelektual pertama’ pada rencana penciptaan Adam. Lucifer Azazil merupakan ‘‘quasi malaikat’ yang pale pertama menolak keberadaan Adam yang akan menjadi khalifah, acting God (wakil Tuhan), dan predator teratas di piramida rantai makanan di bumi.
‘Hubuis’ dan ‘Habais’ merupakan ‘aparat territorial’ Lucifer Azazil untuk menyesatkan Bani Adam (anak cucu Adam) sejak epoch Habil dan Qabil (Kain dan Abel). Godaan itu akan dilakukan ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ sampai akhirnya semua closet terestial (kloset di bumi) dan closet extra-terestial (kloset di angkasa luar) dihancurkan pada hari Armageddon (Kiamat).
“Kisah Dari Narnia”, mitologi neo-Yudaica
Dari sekian anak Adam dan Hawa, ternyata Azazil tak terlibat untuk menjerumuskan Peter dan Edmund (putra-putra Adam) maupun Susan dan Lusi (putri-putri Hawa) yang hidup dalam “Kisah Dari Narnia” karya C.J. Lewis. Azazil tak masuk sebagai salah satu tokoh dalam mitologi neo-Yudaica tersebut, sehingga ke-empat anak tak terlibat dosa apapun. Memang dalam dongeng itu ada juga pohon besar, tapi bukan jenis Khuldi.
Di bumi, ke empat anak itu dibimbing oleh seekor Singa bijak bernama Aslan. Di Unhas terdapat juga Aslan A. Abidin, tapi ia ‘Penyair Tamalanrea’ dan ‘Penyair abad 21’. Singa ini juga berbicara layaknya seperti penyair, ketika menunjukkan kearifan pada anak-anak Adam dan Hawa. Dongeng yang telah difilemkan ini, tak punya pesan dignified apapun. Ia dibaca seperti layaknya cerita pengantar tidur lainnya. Setelah anda terbangun, dongeng ini tak akan berarti apa-apa lagi. Kearifan Singa Aslan, hampir serupa dengan dongeng anak-anak lainnya.
‘Summa cum laude’ dan ‘summa cium ludah’
Prestasi yang bagus dan enthusiast klientisme —dalam persekongkolan dengan pejabat setan tertinggi dari golongan jin Ifrit—, membuat ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ diangkat Pegawai Negeri setan (PNS) golongan III A. ‘Hubuis’ dan ‘Habais’ lebih bagus karakternya dari kebanyakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka tetap menjalankan pola enthusiast klientisme kolusi, tapi juga didukung oleh prestasi kerja yang summa cum laude (sangat-sangat terpuji). Banyak juga PNS Indonesia cuma berprestasi ‘summa cium ludah’ alias ‘sangat-sangat menjilat atasan’. Prestasi kerja PNS Indonesia sebagai aparat pengabdi masyarakat sangat memprihatinkan. Para PNS Indonesia apa tidak malu pada prestasi jempolan dua aparat setan tersebut?
Mitostafologi Lucifer di epoch pra-genesis
Once on a time of zero a parasite in detail (Pada jaman dahulu kala ketika waktu belum menetapkan diri dalam jam, menit, dan detik), terdapatlah sejenis makhluk yang disebut alien-genie, bangsa united state of Jin (persatuan Negara jin). Makhluk pengembara ET (extra-terestial) yang amat cerdas ini sering mengadakan perjalanan antar-galaksi pada pada akselerasi warp-max (melebihi kecepatan cahaya). Bohemian (pengembara) antar-galaksi ini kemudian berdiam di bumi sebagai new comers (pendatang baru). Mereka tiba di bumi bersamaan dengan munculnya makluk bersel satu. Saat itu Tuhan dalam versi Genesis (Kitab Kejadian) masih “nyaris belum berbuat apa-apa” terhadap bumi. Di masa itu masih terjadi ‘dimensi waktu yang meleleh’.
‘Dimensi waktu yang aneh dan meleleh’ pada nothing a parasite in fact (tak ada fact detik) susah dimengerti oleh mereka yang daya processor pemikirannya rendah. Butuh kapasitas memori imajinasinya dan hard disk fiksinya yang banyak untuk memahami ‘dimensi waktu yang meleleh’. Pihak yang bisa menjelaskan joke hanya beberapa jenius tanpa tanding seperti Albert Einsteins (teori Lubang Cacing, teori Black Hole, dan teori Relativitas), Stephen Hawkings (Sang Kala), Nostrodamus The 3rd eye blind (Sang mata ketiga buta) yang juga paranormal lintas dimensi, dan Usthum arif billah.
Usthum arif billah, seorang ahli makrifat/Wali Allah yang mengerti rahasia yang Al-Kitab (Taurat dan Sabur). Ia mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Sabah Yaman ke Palestina sebelum mata Nabi Sulaiman a.s. (King Solomon) berkedip. Ia mampu melakukan praktek transportal pada kecepatan cahaya. Kekuatannya melebihi kemampuan jin Ifrit yang cerdik bernama Ashif bin Barkhiya. Jin Ifrit hanya menawarkan kemampuan transportal singgasana Ratu Balqis, sebelum Nabi Sulaiman a.s. berdiri dari tempat duduknya. Keberadaan tokoh Usthum arif billah ini dapat dilongok pada Al-Qur’an surah An-Naml 40, “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Di masa yang pacifico (damai) itu belum ada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan hari istrahat Tuhan yang disebut Minggu. Masa pacifico berada di epoch pra-genesis yakni “ketika Tuhan versi hikayat Israiliyat belum melakukan strukturisasi dan habitasi sempurna pada alam semesta”. Tuhan juga belum menyempurnakan bumi dan segala indication kemakhlukan. Masa pacifico disebut juga sebagai fase awal simulating-genesis (penciptaan simulasi) terhadap keberadaan berbagai makluk hidup. Sebagian dari alien-genie masih merupakan prototip jin generasi pertama. Alien-genie masih merupakan bentuk kasar dari cetak biru kemakhlukan. Mereka hidup dalam mega-proyeksi advance practical hologram (hologram practical tingkat lanjut).
Perang pertama para ‘makhluk cetak biru’
“Tak pernah ada binatang yang membikin perang, karena mereka tak mempunyai sesuatu yang dianggap luhur”, demikian pandangan Adolf Huxley. Amerikat Serikat berperang melawan Taliban, rakyat Irak, dan teroris Muslim, karena ada yang dianggap “luhur”. “Nilai luhur” itu seperti minyak bumi, uji coba senjata produk baru, dikte demokrasi ala Amerika, dan imperialisme ekonomi. Untuk jenis keluhuran yang berbeda, alien-genie menciptakan war of a worlds (perang lintas dunia). Suasana pacifico menjadi rusak ketika spesies alien-genie membuat “nilai luhur” berupa peradaban strukturalis dalam bentuk negara berkembang, negara maju, dan negara super power (adidaya). Negara maju dan super power ini mendapatkan “nilai luhur” dalam bentuk kolonialisasi negara-negara berkembang. Mereka joke berperang besar-besaran, membuat suasana teror tellurian dan mengacak-acak surface of earth (permukaan setting bumi) dan underground (bawah permukaan tanah) hingga ke core of earth (inti bumi) sedalam 4000 mil. Core of earth panasnya sama dengan permukaan kulit matahari yang telah berpijar 10 milyar tahun.
Alien-genie bukan hanya membuat kerusakan di kulit terluar bumi. Mereka juga berperang hingga sampai ke core of earth. Panas yang luar biasa tak berpengaruh pada kulit dan tak membuat mereka kebakaran jenggot. Alien-genie tercipta dari naar ‘api’, sehingga core of earth merupakan medium alternatif dan halaman belakang rumah mereka sendiri. Kulit alien-genie jauh lebih kuat dari pakaian para tokoh-tokoh komik super buatan komikus Marvel comic yang dipintal dari titanium polymer. Kostum titanium polymer berasal dari titanium yang kemudian dijahit menjadi selembut kain sutra. Kekuatan titanium (symbol ‘Ti’ and atomic series 22) melebihi sepuluh kali besi baja.
Alien-genie juga mampu melakukan alih rupa, secara sempurna tanpa perlu menggunakan topeng protoplasma polymer. Kemampuan alien-genie melebihi para alien dalam MIB (Man In Black) produksi Malibu comic atau Colombia Pictures. Rupa mereka agak melepuh karena panasnya core of earth, tapi setelah itu pulih kembali melalui skin neutralizer (alat penetralan kulit).
Neraka dalam semangka
Bila neraka terdapat di bumi sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, maka core of earth bisa menjadi salah satu specimen (contoh) dari titik kecil pijar neraka. Sampai sekarang kemampuan manusia untuk membuat lubang di bumi hanya sampai 8 mil. Bila bumi itu seperti semangka, maka manusia hanya mampu mengebor sampai di kulit terluar semangka tersebut. Jadi betapa rendah pengetahuan dan kemampuan manusia memahami bumi, sebab hanya mampu memahami “semangka” cuma sebatas kulit arinya.
Ilmu manusia hanyalah setitik atmosphere dari sisa celupan atmosphere laut di ujung jari, sedangkan ilmu Tuhan seluas seluruh isi samudra yang dikali dengan ketakberhinggaan. Ilmu manusia dalam mengebor “semangka”, bahkan belum mencapai pada tingkat “air semangka” yang membara di core of earth. Pesan Nabi Khaidir a.s. untuk Nabi Musa a.s. juga mengemukakan hikmah yang sama, ”Ilmu manusia bagai setetes atmosphere yang diminum burung Camar, sedangkan ilmu Tuhan sebanyak atmosphere di seluruh samudra”.
The strife of Devilisation
Peperangan yang dahsyat itu nyaris mirip perang Armagedon (perang bintang di bukit Gedon) yang akan dialami Laskar Mujahiddin/Laskar Jundullah/laskar Jihad contra serdadu teroris tellurian pihak kafir Yudeo-Nasrani. Armagedon merupakan the genuine strife of devilization (benturan peradaban setan yang sebenarnya), yang terjadi beberapa puluh tahun menjelang The Hour (penetapan hari kiamat) di negeri Syam. Clash of Civilization versi tesis akademis Huntington itu cuma sebuah langkah kecil bagi ‘teoritikus menara bulu’. Clash of Devilization merupakan sebuah langkah besar bagi dogs of war (anjing-anjing perang) Amerika dan kutu-kutu sekutunya di bulu-bulu sang anjing tersebut. “Tanpa bahasa, manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet.” ujar Aldoux Auxley. Sekarang dengan “bahasa perang”, manusia malah meresmikan kembali dirinya sebagai anjing. dan monyet. Perang ada juga yang berada pada monkey businees (arti leksikal: bisnis monyet) atau “Tindakan dan prilaku yang mencurigakan dan tidak jujur”.
Peperangan yang dilakukan alien-genie dilakukan tanpa time out (waktu istrahat), karena memang belum ada referensi waktu standard meant time (standar waktu utama) atau Greenwich Mean Time (GMT) tentang the tick (detik). Peperangan itu benar-benar all out (habis-habisan) dan belium omni contra omnes (perang semua melawan semua). Tuhan sebenarnya tak terlalu terganggu oleh ulah-ulah nakal makhluk-makhluknya yang membuat teror lintas dimensi. “Ketika” itu belum ada hari Minggu yang akan membuat-Nya terganggu di hari peristahatan. Unsur kata “ketika” sebenarnya paradoks, karena kata itu mengandung unsur waktu. Yach, ketika itu belum ada “ketika” (when) sebagai ‘kosa kata penunjuk waktu’. Masih bingung?
Time of zero a tick
Jika saja ada manusia yang pernah mengalami kondisi pragenesis atau simulating-genesis, maka tak ada itu “I hatred Monday” (Saya benci hari Senin). Perempuan yang akil balik juga tak perlu pembalut dalam sirkulasi hari rutin mensturasi. Tanpa adanya the tick (detik), maka tak ada utang negara dari World Bank yang jatuh tempo. Tak perlu dilakukan resukturisasi utang dengan IMF (International Monetary Fucker), bila tak ada the tick. Tak perlu mengalami ultahfrenia (cemas karena makin tua setiap kali berulang tahun), dalam “detik-detik proklamasi” di happy bird day (selamat hari burung) dan happy birth day (selamat ulang tahun). Happy bird day ditujukan buat anak laki-laki, sedangkan happy birth day untuk anak perempuan.
Ritual agama dalam time of zero a parasite tak lagi memiliki hari sakral seperti Sabbath Yahudi di hari sabtu, minggu untuk kebaktian Nasrani, dan jumat untuk pihak Muslim. Tanpa protocol agama di hari tertentu, maka pihak pendosa makin bertambah banyak antriannya di loket tiket neraka. Pada time of zero a tick, akan berkuasalah para penganut agnostic dan atheis komunis yang tak peduli pada agama dan chuek bebec dengan keberadaan Tuhan.
Dalam time of zero a parasite tak harus direpotkan oleh lagu dusta terpopuler di dunia yang menjadi kebohongan kronarki pada lagu “Happy Birthday” (Selamat Ulang Tahun). Dusta gratis terpopuler tersebut, terdapat dalam lirik “Panjang umurnya panjang umurnya serta mulia….”. Setiap tahun umur makin memendek, malah disebut long life (panjang umur).
Di Indonesia yang menyemarakkan ‘dusta gratis’ dalam lagu perayaan ultah itu bisa diurut mulai dari presiden, menteri beserta keluarga, para wakil rakyat beserta keluarga, hingga ulama/pendeta puritan, dan ustads karbitan. Dusta gratis itu memang secara realitas membuat mereka mulia, meskipun uang korupsi yang harus dipakai sebagai dana ultah foya-foya. Bila mereka mereka berulang-tahun dengan dana korupsi, maka akan menerima gratifikasi (oleh-oleh/bingkisan terima kasih). Gratifikasi makin menambah panjang missing couple of corruption (rantai terputus dari korupsi), yang susah diungkapkan bukti-buktinya.
Rezim waktu dan kronofilia
Sepatutnya setiap perulangan tanggal dan bulan kelahiran, tak usah melonggok kalender yang membenarkan usia yang makin tua. Tak perlu meniup lilin-lilin ultah yang telah membakar habis ujung-ujung umur. Rezim waktu atau chronarcy (kekuasaan waktu) tak perlu menguasai manusia. Tak perlu jam tangan yang memberati pergelangan, bila terjadi time of zero a parasite (suatu masa tanpa detik). Tanpa jam tangan atau jam dinding, maka tak ada time terror (terror waktu) pada tubuh dan tembok-tembok kantor.
Pada time of nothing the tick, manusia tak perlu mengalami jeratan simpul mati clock-bound (terikat oleh waktu). Tiada lagi trance of movement (kerasukan tindakan) seperti yang tertera dalam peribahasa kapitalisme time is money (waktu adalah uang). Time of nothing the tick membuat manusia complicated dapat terhindar dari kronofilia atau kronomania (kecintaan berlebihan atau kegilaan pada waktu). “Marilah kita berusaha sejauh mungkin menghapuskan jarak waktu yang membuat kita tak bisa menatap orang itu dengan mata kepala kita sendiri”, ujar Taine. Bila jarak waktu dihapuskan, maka setiap manusia akan bisa melihat sesamanya sebagai kawan (Yunani: socius) dan bukan sebagai budak (Latin: famulous).
Satu hal yang terbaik dari time of nothing the tick yakni tak akan pernah terjadi apa yang dikemukakan Aristoteles, “Dari waktu kelahiran mereka, sebagian telah ditandai untuk menjadi pelaksana dan sebagian sebagai pemberi perintah.” Tanpa waktu kelahiran, tak ada itu akte kelahiran yang menjadikan para warga negara sebagai produk angka-angka statistik. Pemerintah tak perlu menghitung natalitas (kelahiran) dan menebak waktu mortalitas (kematian). Alat-alat kontrasepsi yang dijual di ‘ATM kondom’ juga tak usah diadakan, karena tak ada “anak haram” yang harus lahir. Tak perlu seorangpun yang harus menjadi pemberi perintah untuk membawahi orang lain sebagai pelaksana perintah itu.
Stigmatisasi ticker “terorislam”
Ketika terjadi time of nothing the tick, maka tak ada lagi manipulasi ketakutan terhadap ticker (pelaku peledakan bom) yang selalu dituduhkan pada pihak Muslim garis keras. Saat itu tak perlu adanya agen khusus FBI, NSA, Mossadajjal, atau CIA yang datang menggurui aparat militer, polisi, dan pengamat inteljen Indonesia tentang doktrin tellurian antiterorisme Amerika. “Semua teroris pasti beragama Islam,” demikian stigamatisasi dari doktrin yang menyudutkan Islam tersebut.
Tak perlu George Walter Bush mengucapkan dualisme oposisi biner antara Amerika contra teroris, “Jika kalian bukan bagian dari kami, kalian adalah bagian dari Terorisme.” “Tak ada teroris Katolik, teroris Anglikan, teroris Hindhu, teroris Protestan, dan teroris Yahudi. Sekali lagi harus diketahui bahwa semua teroris berasal dari Islam!” Demikian tarnish yang disusun negara-negara neolibs, arahan Amerika dan Zionis-Israel.
Pasca peledakan World Trade Center (WTC) dan markas Pentagon, Bush hanya memberi dua opsi kepada orang-orang di luar Amerika Serikat yakni “Bergabung bersama kami atau bergabung dengan teroris.” Secara metadoks, Bush berkata, “Jika ummat Islam bergabung dengan Amerika, maka tak akan tertuduh teroris. Bila tak bergabung dengan Amerika Serikat pastilah itulah terorisnya”. Manalah mungkin ummat Islam ada yang mau bergabung dengan proganda Bush tersebut. Pihak Muslim tak mau bergabung, maka otomatis terstigmatisasi sebagai ‘jaringan permisif terorisme’.
Stigmatisasi terorisme, movement penelponan gelap, analisis inteljen, dan ramalan Australia/Amerika selalu menjadikan ummat Islam sebagai the many wanted enemy (musuh yang pale dikehendaki untuk dihancurkan). Konstruksi berita media seringkali berkonspirasi untuk menyudutkan adanya aktivitas pihak Muslim yang radikal dan fundamentalis. Memang ada Muslim yang ghuluw (berlebihan) dan ekstrim, tapi itu bukan generalisasi untuk menyatakan mereka sebagai teroris. Semua tuduhan yang mengarah ke the ticker (pengebom), pasti dinyatakan sebagai Terorislam (Teroris Islam).
‘Pyar-pyet’ PLN dan ‘telepon gelap’
Alangkah indahnya hidup dalam time of nothing the tick, tanpa adanya penelpon gelap yang mengabarkan ada bom di suatu hotel, pusat perkantoran, dan locus perbelanjaan. Tak usah lagi menonton aksi Densus 88 antiteror mengadakan show of force untuk menjinakkan ‘bom fiktif’ yang memang tak pernah ada di tempat tersebut. Hebatnya penelpon gelap itu sering menyesuaikan time of alert (waktu peringatan) dan time of risk calling (waktu penelponan bahaya) dengan ramalan inteljen Australia dan Amerika tentang adanya aktivitas terorisme. Bila Australia dan Amerika Serikat hendak mengeluarkan travel advisory dan travel warning, maka Densus 88 antiteror menindak-lanjuti dengan aksi penjinkaan bohong-bohongan. Aksi yang begituan sudah ada di cerita komik, jadi masyarakat tak bisa terus menerus dibohongi dengan “jinak-jinak bom merpati”.
Penelpon gelap itu suka membuka situs inteljen, hingga terinspirasi mencocokkan ramalan Amerika/Australia tentang keberaadan pengebom dari Radikalislam (Radikal Islam). Penelpon gelap itu pasti orang bayaran Australia dan Amerika. Ia mungkin penggila film spy-action yang psikopat, sehingga senang melihat kekacauan dari orang-orang yang batal bekerja, karena takut pada bom. Pelakunya juga memanfaatkan momen pemadaman lampu bergilir ‘pyar-pyet’ oleh PLN, jadi ia bisa menelpon pada saat gelap (baca: penelpon gelap). Penelpon bisa saja dari aparat inteljen yang kurang kerjaan dan ‘cari-cari perhatian’ dari gadis-gadis mall.
Pihak PLN yang sering ‘mati lampu’ dan ‘mati akal’ menghadapi krisis energi, pasti bersekongkol dengan ‘penelpon gelap’. Persekongkolan itu dilakukan agar tercipta kondisi seakan-akan PLN sedang ‘gawat darurat’, lalu harga listrik dinaikkan lagi. Teror PLN melalui aktivasi mati lampu bergilir, menciptakan opini publik tentang krisis energi di perusahaan “Habis Gelap Terbitlah Mati Lampu” itu. Ironisnya korupsi di PLN dan inefisiensi selalu selalu terjadi. Korupsi tak ada urusan dengan krisis apapun juga. Makin krisis PLN, makin marak terjadi korupsi.
Teroris tanpa spesifikasi jenggot
Media bergotong-royong melakukan konstruksi dan rekonstruksi in-dept reporting (reportase mendalam) dan in-dept interviewing (wawancara mendalam) bahwa memang teroris harus selalu dari Islam. Pelaku teror harus juga dikonstruksi dalam tipe Muslim radikal, ekstrim, dan fundamentalis yang semuanya harus berjenggot. Tuduhan teroris suatu saat akan juga dituduhkan akan kepada Muslim puber yang baru tumbuh jenggotnya dalam variasi jenggot pemula, jenggot fesyen, dan ‘jenggot gaul’.
Bila kaum Muslim tak mau dicurigai sebagai sebagai teroris, maka ikuti saran Peter Agung dari Rusia yakni “Semua jengggot wajib untuk dicukur habis”. Ketika saran ini dilaksanakan oleh kekaisaran Rusia, maka semua pendeta Kristen ortodoks terlihat berwajah lucu. Para pendeta berwajah lucu, karena dagu mereka sangat klimis. Bagi kaum Muslim yang tak berjenggot, maka ada satu pesan Rasullullah SAW yang tak lagi teraplikasikan tentang pemeliharaan jenggot. Spesifikasi jenggot disunnahkan, agar kaum muslim berbeda dengan rahib nasrani dan rabbi Yahudi yang sering ngetrend dengan memelihara kumis. Teroris tanpa jenggot pasti akan merepotkan Amerika Serikat, karena tak punya lagi ‘identifikasi spesifik pada wajah’ untuk memojokkan kaum Muslim. Pasti akan kadaluarsa semua folder foto tersangka teroris milik FBI dan CIA, ketika semua muslim yang tertuduh teroris telah berwajah licin dan mulus tanpa rambut-rambut zona muka.
Di AN-TV (acara Wanted) juga biasa disiarkan foto-foto tersangka teroris yang berasal atau pernah beraktvitas di Palu dan Poso. Semua yang terstigmatisasi wanted terrrorist (dicari sebagai teroris) pastilah berjenggot. Terjadi signified (penandaan) yang seragam dari semua pihak aparat keamanan seluruh dunia tentang jenggoteroris (teroris yang berjenggot). Jenggot telah menjadi suatu ‘bukti imajiner’ pada kecurigaan aparat negara tentang siapa yang pale patut dinyatakan sebagai teroris. Kriteria konvensional tentang jenggoteroris makin menguat setelah diketahui bahwa yang pale intens memelihara jenggot ternyata memang Muslim garis keras. Suatu saat George Walter Bush akan membuat newspeak tentang jenggoterorisme yakni, “Anda punya dua pilihan yakni berkomplot dengan kami yang bermuka mulus atau bergabung dengan orang-orang berjenggot.”


