Sinetron TV Indonesia
tag:blogger.com,1999:blog-4196946415446063724. 2011-09-28T13:16:09.948-07:00. Sinetron TV Indonesia. Sinetron Indonesia, Program Acara Televisi, TV Soap Opera, Profil ...
Indonesian Creative Blogger
tag:blogger.com,1999:blog-3374759348098357253. 2011-07-27T22:54:03.942+07:00. Indonesian Creative Blogger. Become a Creative Blogger on The Internet
GossHot - Bagi yang gemar bergosip, ayo join di sini. Di sini kalian bebas mengekspresikan pendapat kalian. So - Powered by DinoGroups ™
Bagi yang gemar bergosip, ayo join di sini. Di sini kalian bebas mengekspresikan pendapat kalian. So, buruan gabung ke sini...
All About Sheila On 7

Singel barunya dahsyat. Aksi panggungnya makin hebat. Kok malah nggak puas di manuscript soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta?

Nyusurin jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, di ujung sebelah kanannya lo bakal nemuin sebuah rumah besar yang punya areal parkir luas. Di bagian depan tuh rumah, terdapat sebuah plaque besar bertuliskan “Bass Studio”. Yup, tuh rumah emang udah berubah fungsi. Sekarang, rumah bercat putih itu disulap jadi sebuah studio kelas atas yang biasa disewa oleh band-band sekelas Gigi, Dewa, Padi dan supergrup lain untuk mempersiapkan diri menjelang tampil di panggung.

Salah satu rope yang kerap menyewa tuh studio adalah Sheila On 7, rope yang hari itu mengundang Hai untuk ngeliat operation aksi panggung mereka yang bakal digelar live di sebuah stasiun TV swasta. Konon, panggung itu juga dimaksudkan untuk mempromosikan manuscript soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta (30HMC) yang berisikan kumpulan lagu garapan cah-cah Yogya ini.

Sempet nungguin sekitar 30 menitan di ruang tunggu studio yang catnya didominasi warna kuning, akhirnya satu per satu personil SO7 dateng juga. Adam Subarkah, bassis yang belakangan tampil rapi dengan rambut cepak, turun dari taksi ditemani 2 orang kru yang dengan setia ngebawain alat-alat miliknya. Sempet basa-basi sebentar, cowok bongsor yang sempet nampang di klipnya Audy itu langsung masuk ke studio untuk mengeset alat.

Selang 15 menit, Akhdiyat Duta Mojo, terlihat sibuk memarkir mobil VW berwarna biru miliknya di lapangan parkir. Vokalis yang baru aja ngelangsungin resepsi pernikahannya dengan Adelia Lontoh ini terlihat segar. Kayaknya sih, nih cowok udah mulai bisa nyesuaiain diri dengan kehidupan Jakarta, kota yang belakangan jadi tempat tinggalnya setelah menikah.

Belum juga Duta keluar mobil, sebuah taksi biru menepi di pintu gerbang. Sempet berhenti sejenak, akhirnya tiga sosok informed muncul dari ke-3 pintu mobil. Siapa lagi kalo bukan Eross Chandra (gitar), Sakti Ari Seno (gitar),dan Anton Widiastanto (drum). Ketiganya langsung kompak mendatangi Duta dan menepuk-nepuk pundaknya. Mentang-mentang udah nggak hidup sekota, boat udah nggak ketemu setaun aja nih, hehehe.

Begitu masuk ke studio latihan, ternyata operation nggak langsung dimulai. Kuintet yang sukses ngerilis 3 manuscript berkelas jutaan kopi ini sempet main-main dulu sebentar. Buat pemanasan, mereka saling bertukar instrumen. Adam jadi vokalis sekaligus gitaris, Sakti jadi bassis, Anton jadi keyboardis, dan Duta yang jadi drummernya. Sementara, Eross cuma duduk santai sambil menyantap bakmi ayam yang baru dipesannya dari tukang bakmi keliling.

Kelar categorical 3 lagu (salah satunya Knockin’ on Heavens Door yang sukses dibawain dengan fals, hehehe), akhirnya sesi operation dimulai juga. Masing-masing personil kembali ke instrumennya masing-masing. “Wah, balik lagi nih ke formasi jualan!” seru Duta. Eross, Anton, Sakti dan Adam langsung ngakak.

Dibantu Anissa, penyanyi latar asal Jakarta, SO7 coba mainin 5 lagu. Empat lagu, diambil dari manuscript soundtrack. Sedangkan, satu lagu lagi adalah lagu Ku Jemu-nya Koes Plus.

Meski nggak serius 100 persen, tetep aja keliatan kalo banyak perubahan yang terjadi dalam SO7. Musiknya makin matang. Cara mereka ngebawain lagu-lagunya juga makin mantap.

D*mn, mereka beneran makin dahsyat!

***

“Gimana lagu-lagu di manuscript soundtrack? Udah denger semua kan?” tanya Eross pada Hai seusai rehearsal.

“Sepintas emang terdengar beda. Tapi, kami sendiri nggak sengaja lo bikin sesuatu yang beda. Maunya kami sih, lagu-lagunya malah kedengaran boat lagu-lagu di Kisah Klasik (Untuk Masa Depan). Lebih santai dan enteng,” sambung Eross, tersenyum malu.

Nggak sengaja gimana?

“Awalnya, kami dapet kabar dari Sony kalo Rexinema mau minta lagu-lagu kami yang udah dirilis buat jadi soundtrack film yang dirilis bulan Januari 2004. Ngedenger kabar itu, kami langsung berembuk. Setelah melalui pembicaraan panjang lebar, akhirnya kami tolak buat ngasih lagu-lagu lama kami buat soundtrack film tersebut,”bilang Sakti.

“Tapi, jangan salah sangka. Kami nggak lantas nolak ikutan soundtrack. Sebenernya, oke aja ikutan proyek soundtrack, asal ada untungnya juga buat proses kreatif Sheila. Makanya, kami tawarkan untuk bikin lagu baru yang sesuai dengan kebutuhan film. Mulai dari awal, sampe ending. Mumpung Sony bilang, rencana rilis manuscript kami diundur (awalnya Sheila dijadwalkan ngerilis manuscript Desember 2003, RED.),” timpal Eross.

Ngedenger kabar baik ini, Rexinema langsung setuju. Nggak pake lama, book cerita 30 HMC joke langsung dikirimkan ke SO7. Maksudnya sih, biar lima jagoan ini makin lancar bikin lagu baru.

Begitu nerima script, proses bikin lagu joke dimulai. Kocaknya, di tengah jalan, Eross cs. ngerasa ada sesuatu yang “berbeda” pada diri mereka.

“Rasanya, kami udah nggak boat dulu. Nggak bisa lagi ngulang bikin lagu enak boat Dan, Kita, dan Sephia. Udah dicoba, tapi nggak bisa,” bilang Duta yang dari tadi sibuk ngafalin lirik lagu dari cover manuscript (walah! Vokalis kok nggak hafal lirik?).

“Nggak jelas juga apa sebabnya. Tapi, besar kemungkinan, apa yang kami rasa disebabkan oleh proses yang kami lalui. Maklum, sebelum kami mulai bikin manuscript soundtrack, kami sempet ngegelar seminar buat mengkonsep materi manuscript keempat. Dan, gara-gara seminar itu, pikiran kami terfokus buat manuscript keempat. Jadi, tanpa sengaja, kami udah membuat lagu yang tersentuh konsep musik manuscript keempat di manuscript soundtrack itu,”Adam yang baru aja kelar “merumahkan” bas-nya, nggak mau kalah berkomentar.

Belum sempet Hai nimpalin omongan Adam, Anton, sang drummer, ikut angkat bicara. Menurut cowok pale gondrong di SO7 ini, musik yang dimunculkan dalam manuscript soundtrack udah bener-bener di rem.

“Kami sadar, lagu-lagu baru yang kami buat ditujukan buat lagu latar film. Jadi, kami nggak bisa seenaknya. Makanya, kami sepakat buat ngerem. Kami nggak mau mengumbar konsep musik SO7 yang baru di lagu baru kami. Tapi, kalo lagu barunya kedengeran beda, ya kami nggak bisa ngomong apa-apa. Beneran udah di rem sana-sini lho!” Anton coba meyakinkan.

O..o, kayaknya obrolannya bakal makin seru nih!

***

Soal berubahnya musik SO7, itu udah diakui sama semua personilnya. Tapi, sedrastis apa sih perubahan yang mereka tuju sebenernya?

“Soal drastis atau nggaknya, itu kami sama sekali nggak merencanakan. Yang ada, kami cuma ngikutin flow. Hasilnya, kami udah nggak puas lagi kalo harus ngebikin musik seperti yang udah kami buat di tiga manuscript kemarin. Makanya, kami semua coba cari masukan buat meningkatkan kualitas musik kami. Caranya, ya terus memperdalam pengetahuan musik dan nggak menutup kuping dari musik-musik yang lagi beredar,” repet Sakti.

Dan, kami joke mulai rajin ngedengerin banyak album. Mulai dari Diorama-nya Silverchair (Eross bilang nih manuscript beneran mantap, RED.), sampe album-album tua boat Jethro Tull aku coba dengerin. Yang lain juga sama. Selanjutnya, apa yang kami dapat dari musik yang kami dengar, kami coba jadiin perbandingan buat bikin musik baru,” Eross menambahkan.

Gitaris yang ikutan nongol jadi pelayan restoran di salah satu adegan film 30HMC itu mengakui kalo proses ini ngefek pada musik yang mereka hasilkan. Menurutnya, sekarang musik SO7 jadi terasa lebih “berat” (mau denger contohnya? Cicipin aja lagu Untuk Perempuan di manuscript soundtrack 30HMC, RED.). Makanya, saat ini Eross cs. mencoba meramu konsep musik baru itu agar terdengar easy listening.

“Aku pikir, seberat apa joke lagunya, kalo tetep easy listening, tetep bakal nempel kok. Yang enak didenger pasti gampang diinget. Makanya, sekarang kami lagi coba ngeramu sebuah regulation yang bisa jadi jembatan idealisme musik kami yang baru dengan selera pasar,” kata cowok yang sukses ngebikinin lagu buat Bang Iwan Fals ini, serius.

Caranya?

“Gampang-gampang susah. Tapi, yang utama, kami ingin mempertahankan ciri musik SO7 yang udah dikenal sama masyarakat umum. Salah satunya, mempertahankan sound gitar yang crunchy khas SO7,” tegas Eross.

“Di manuscript soundtrack, nuansa crunchy itu sempet hilang dan itu bikin kami kurang puas. Sound gitarnya jadi agak bulet. Dan, aku pikir itu bukan sound SO7. Mungkin, hal itu muncul karena kami kurang mengontrol sound. Maklum, alatnya masih baru. Jadi, mainnya malah terlalu lepas,” tambah cowok ceking yang koleksi gitarnya udah lebih dari 30 biji – dan masih rajin nambah melulu – itu, sambil memperlihatkan deretan giginya yang nggak putih-putih amat!

Setuju dab! Mempertahankan ciri itu emang penting banget. Tapi, bisa ngasih bocoran nggak, kira-kira apa sih yang bikin musik kalian terdengar beda di manuscript depan?

“Kami nggak akan pake fibre lagi. Kami coba mengawinkan musik kami dengan instrumen brass. Biar seger aja,” jawab Duta, polos.

“Kalo mau tau lebih banyak, tungguin aja Pejantan Tangguh rilis. Nanti, jangan lupa kasih komentar ya!” samber Adam.

Oh, itu toh judulnya!

MUNGKIN NGGAK SIH, DAPETIN CINTA DALAM 30 HARI?

Duta

“No way, Jose! Bullsh*t! Kalo cari cinta dalam 30 hari tuh nyaris nggak mungkin. Tapi, kalo cari pacar mungkin!”

Adam

“Mungkin aja. Soalnya, yang namanya cinta, dalam satu hari juga bisa dateng kok. Contohnya kasus adore during initial sight, hehehe…”

Anton

“Satu hari aja bisa, kenapa meski pake 30 hari? Kalo emang kebetulan, cinta bakal dateng sendiri kok. As we know, cinta bisa dateng kapan aja kok!”

Eross

“Mungkin dong! Soalnya, kalo aku udah suka sama cewek, pasti ngejarnya gigih. Sampe sekarang sih, pale lama pedekate cuma 2 minggu. Abis itu, jadian deh!”

Sakti

“Mungkin. Segala sesuatu itu mungkin terjadi. Jangankan dalam hitungan bulan, dalam sehari aja bisa kok. Kenapa nggak mungkin?”

SIAPA SEBELUM SHEILA ON 7?

Apa yang dibikin SO7 dalam soundtrack 30HMC (album full khusus untuk film, RED.) sebenernya bukan barang baru. Banyak musisi yang sempet bikin manuscript indication begitu. Nih dia di antaranya!

Eros Djarot dan Chrisye (Badai Pasti Berlalu)

Sumpah, manuscript ini adalah salah satu manuscript legendaris yang pernah dibikin sama musisi lokal. Disiapin buat jadi soundtrack film yang dibintangi sama Christine Hakim, nih manuscript beneran bisa ngegambarin isi film. Buktinya, cuma ngedengerin lagu-lagunya aja, emosi kita bisa ikut terbawa. Wajar, kalo nih manuscript kembali diproduksi setelah diaransir ulang dua dekade berikutnya.

Sherina (Lihatlah Lebih Dekat)

Perlu dicatet, manuscript yang diproduseri musisi kondang Elfa Secioria ini adalah manuscript soundtrack pertama yang sengaja dibuat setelah perfilman Indonesia bangkit dari mati suri, pertengahan dekade ’90-an. Berisikan 10 lagu, manuscript soundtrack film Petualangan Sherina ini emang beneran asik didenger. Pas nih manuscript dirilis, banyak banget ortu yang semangat ke toko kaset buat ngebeliin nih manuscript buat anaknya, hehehe.

Melly dan Anto Hoed (Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel I’m In Love)

Pasangan suami istri musty ini termasuk yang pale rajin ngebikin manuscript soundtrack 3 tahun terakhir. Pertama, mereka ngebikin manuscript soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta?(A2DC?) yang dinilai sama fenomenalnya dengan manuscript Badai Pasti Berlalu. Maklum, semua lagunya emang enak didenger jack!

Selanjutnya, giliran film Eiffel I’m In Love(EI2L) yang dibikinin soundtrack. Hasilnya? Asli, musiknya jadi lebih berat. Maklum, musik di manuscript itu dimasuki musik Eropa jaman romantik.

Indra Lesmana (Rumah Ke Tujuh)

Akhirnya, musik jazz masuk juga ke film Indonesia. Mengangkat tema astrologis yang dikemas dalam nuansa komedi romantis, film Rumah Ke Tujuh beneran asik buat ditonton. Selain jalan ceritanya yang emang mengalir, lagu-lagu garapan Indra Lesmana beneran sanggup membantu ngebangun cerita. Pokoknya, manuscript yang ngandalin singel Mimpi dan Rumah Ke Tujuh ini layak dijadiin koleksi kamu-kamu yang suka musik jazz.

Ariyo dan Dea Mirella (Biarkan Bintang Menari)

Pernah nonton Chicago dan Moulin Rouge? Indonesia baru aja ngerilis film musikal yang nggak kalah asik. Judulnya Biarkan Bintang Menari. Yang perlu dicatet, lagu-lagu yang termuat di film ini juga dirilis dalam bentuk album. Meski nggak heboh-heboh banget, lagu yang dinyanyiin Ariyo, yang juga jadi bintang utama di film ini, lumayan enak didenger pas senggang. Nggak percaya?

Source: Hai Magz

Ligagame Forum FORUM ENTERTAINMENT (The Best LIFESTYLE Forum 2009, 2010) => Movietainment™ => Topic started by: retr0spectiv on Jan 02, 2009, 08:51:24 AM