Sekedar Iseng Renaldy
tag:blogger.com,1999:blog-8691971961056907052. 2011-09-20T09:07:52.677+08:00. Sekedar Iseng Renaldy. Ku Bercerita Untuk Menghibur . Renaldy. http://www.blogger.com ...
SARA

Ketika Pendeta Irianto Kongkoli pejabat Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah
(GKST) tertembak mati 16 Okt 2006 lalu, media massa cetak dan elektronik jorjoran
memberitakannya, bahkan pejabat TNI-Polri termasuk pemerintah sigap merespon dan memberi
komentar. Tidak sampai dua kali duapuluh empat jam pasca penembakan terhadap Kongkoli, Menko
Polhukam Widodo AS dan Kapolri Jenderal Polisi Sutanto usai rapat tertutup dengan Tim pemantau
Kasus Poso DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, mengatakan, pelaku penembakan terhadap
Pendeta Irianto Kongkoli merupakan bentuk teror. Bandingkan, ketika dua warga muslim dibunuh
oleh amuk massa di Poso, 2 Sep 2006, sehari pasca eksekusi mati Tibo dilaksanakan, kejadian itu
hampir terlewatkan begitu saja dari pemberitaan media cetak dan elektronik.

BELUM genap sehari, peristiwa penembakan misterius terhadap Kongkoli, Wakil Kepala Divisi Mabes
Polri Brigjen Anton Bahrul Alam mengatakan, bahwa Mabes Polri segera mengirim sebuah tim yang
dipimpin oleh Brigjen Bekto. Tim seluruhnya beranggotakan Detasemen Khusus (Densus) 88
Antiteror Mabes Polri.

Bukan main. Ketika yang jadi korban seorang pendeta, meski hanya satu orang, Polri begitu
tanggap dan dalam waktu sangat singkat, Polri sudah mampu mengidentifikasi kasus itu sebagai
bentuk teror yang harus dihadapi oleh Densus 88 yang dipimpin seorang Jenderal bintang satu.
Tetapi mengapa sikap tanggap Polri tidak tampak ketika yang menjadi korban adalah warga Muslim
meski dengan jumlah yang jauh lebih banyak? Apakah karena istri sang Pendeta, Ajun Inspektur
Satu Rita Kupa adalah anggota Polwan di Polsek Palu Timur? Kesigapan aparat kepolisian itu
dikhawatirkan, sikap diskriminatif yang telanjang terhadap warga Muslim Poso.

Sebelum terjadi kasus penembakan misterius terhadap Pendeta Irianto Kongkoli, Menteri
Koordinator Politik dan Keamanan Widodo Adi Sutjipto menganggap kondisi keamanan Poso tidak
parah. Padahal ketika itu, warga Poso cemas akibat berkeliarannya kelompok ala ninja di tengah-
tengah mereka. Menurut laporan warga, kelompok berpenutup kepala ala ninja beraksi Senin
malam (2 Okt 2006) menghadang mobil sewaan di rute Parigi-Makassar. Sebelumnya, Sabtu (30
Sep 2006) dini hari hingga malam terjadi empat ledakan bom di Poso. Pada Sabtu (30 Sep 2006)
malam juga terjadi pelemparan granat oleh dua orang tak dikenal terhadap kerumunan orang di
Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota. Sedangkan pada Jumat siang (29 Sep 2006), terjadi
empat ledakan bom yang disusul pecahnya kerusuhan massa dengan membakar pos polisi,
membakar truk, serta mobil patroli aparat keamanan. Menurut catatan, sejak 22 Sep sampai
25 Oktober 2006 telah terjadi 11 kali ledakan bom, lima kali penemuan bom, 16 kali pembakaran,
dan 10 kali perusakan yang terjadi di Poso. Dua di antara bom yang meledak menewaskan dua
warga Poso.

Brigadir Jenderal Polisi Oegroseno, mantan Kapolda Sulawesi Tengah, pernah mengingatkan bahwa
konflik di Poso tidak bisa dianggap selesai karena suatu saat akan meledak lagi. Hal itu
disampaikannya seusai menyerahkan jabatan Kepala Polda Sulawesi Tengah kepada Komisaris Besar
Badrudin Haiti di Mabes Polri, Jakarta (31 Agt 2006) siang. Selanjutnya, Kepala Polri Jenderal
Sutanto menempatkan Oegroseno sebagai Kepala Pusat Informasi dan Pengolahan Data Divisi
Telematika Mabes Polri. Brigadir Jenderal Polisi Oegroseno dimutasi dari jabatan Kapolda pada saat
ia secara diam-diam merintis penyelidikan terhadap ke-16 nama yang disebut Tibo sebagai dalang
kerusuhan Poso III.

Masyarakat tentu belum lupa, semasa menjabat Kepala Polda Sulteng Brigadir Jenderal (Pol)
Oegroseno secara maraton telah memeriksa dan mempertemukan 16 orang yang diduga dalang
kerusuhan Poso III dengan Vabianus Tibo (60), Dominggus da Silva (39), dan Marinus Riwu (48),
terpidana mati kasus kerusuhan Poso III. Namun hingga kini tidak ada kejelasan tentang
keterlibatan ke-16 nama tokoh yang disebut Tibo dkk sebagai dalang pembantaian Poso III.

Wapres Jusuf Kalla tak mau ketinggalan mengkaitkan kasus penembakan terhadap Kongkoli sebagai
teror. Beberapa hari setelah pernyataan Menko Polhukam Widodo AS dan Kapolri Jenderal Polisi
Sutanto, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, Jumat (20 Okt 2006) siang mengatakan, kejadian di
Poso adalah teror. Hal senada dipertegas Kalla saat open house Idul Fitri di rumah pribadinya di
Makassar bahwa kasus yang terjadi di Poso adalah teror. Berikutnya, Wapres menganjurkan agar
aparat menggunakan UU No 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, karena
kasus Poso menimbulkan rasa takut masyarakat Poso untuk keluar rumah. Seharusnya, penerapan
UU Terorisme untuk kasus Poso dapat merujuk kepada realitas yang ada, selama ini UU Terorisme
justru menimbulkan masalah yang tidak perlu, karena UU tersebut hanya membidik pion bukan
para master dari kekerasan yang terjadi.

Direktori Bisnis "Kelompok Pengusaha dan Profesional Katolik Indonesia" Facebook
Kelompok Pengusaha dan Profesional Katolik Indonesia wrote a note patrician Direktori Bisnis "Kelompok Pengusaha dan Profesional Katolik Indonesia." Read a full content here.
BLOG UNTUK TUKUL ARWANA - EMPAT MATA: 03.18.2007

mohon untuk meramaikan blog ini dengan cara mengirimkan artikel, komentar, kritik, foto, video dan lain sebagainya mengenai makhluk langka bin aneh bin ajaib yang ndeso, norak, katro, culun, anderistimit, njebret karet ini ke email: tukulers4mata@yahoo.com


PALU – Memeriahkan putaran kedua U Mild U Bikers Safety Race to Asia (UMUB) 2008 yang digelar di kota Palu, Sulawesi Tengah, dua freestyler Eropa, Johnnie Do dan Stepahnie menunjukan atraksi terbaiknya di hadapan puluhan ribu pasang mata.

Meski di bawah terik matahari yang menyengat, pasangan ini tetap memperlihatkan aksi-aksinya yang membuat decak kagum penonton, saat mereka melakukan wheelie, stopie maupun bake out.

Selain itu yang menjadi acara unggulan UMUB adalah digelarnya seri kedua balap untuk mendapat satu tiket di ajang balap tingkat Asia. Pembalap asal Watampone, Bobby Alfiantara membuka peluang menuju kejuaraan FIM Asian GP 2009 setelah mencapai finish pertama di kelas bergengsi MP1 (110 cc 4 Tak Tune Up Seeded) seri kedua UMUB 2008.

Bobby memperoleh poin sempurna 50 dan menempatkannya sebagai salah satu wakil pembalap luar Jawa untuk bersaing dengan para juara di kota lainnya. Bobby berhasil menahan laju Renaldy dengan nilai 40 di posisi kedua dan Andi Acho yang hanya merebut 29 poin.

Di sirkuit baru non-permanen Pantai Talise, Bobby menunjukan keperkasaanya dengan mempertahankan gelar juara tahun lalu yang diraihnya di sirkuit STQ Palu. “Saya datang untuk mempertahankan gelar juara tahun lalu dan tahun ini untuk bersaing meraih tiket ke FIM Asian GP 2009,” ungkap Bobby.

Sedangkan di kelas MP3 (110 cc Tune adult Pemula), pembalap asal Mamuju, Sulawesi Barat, M.Yasir meraih urutan pertama dengan nilai 45 setelah menyudahi perlawanan Saddan Ahmad asal Gowa dan pembalap andalan tuan rumah, Moh. Rizki Irawan yang harus puas di urutan ketiga dengan nilai 32. Hasil ini membawa M.Yasir bersaing dengan para pemula lainnya dari Padang, Pontianak, dan Samarinda untuk merebutkan satu tiket ke FIM Asian GP 2009.

Seperti halnya di Bandung, seri kedua UMUB 2008 Palu menjadi locus ujicoba pembalap daerah menuju PON XVII di Samarinda, Juli mendatang. Tiga pembalap Sulteng, Yawan Jaya Hendra Pradisty dan Firmansyah akan mewakili daerah ini sebagai atlet Palu ke pesta olahraga nasional empat tahunan tersebut. Firmansyah berhasil lolos setelah mengalahkan Risky Nike. Kejuaraan berhadiah sum Rp1,2 milyar ini, berhasil mencatat 92 starter yang datang dari Region V Sulawesi.

Selain itu, locus kontes modifikasi juga mendapat respons positif dari kalangan modifikator Palu dan sekitarnya. Ajang modifikasi berhasil http://bp0.blogger.com/0m9o-V0hEOc/RpSQ8v8wQhI/AAAAAAAAAO4/dV3msNrOro/s1600-h/hondavario.jpgmenjaring 76 kontestan.

Tuesday, Jul 31, 2007
Tubeless nggak lagi jaminan

Saya tersentak kaget ketika mendapati sebuah ranjau paku bersarang di anathema belakang engine saya. Tak bisa dibilang paku juga sebetulnya karena memang bukan paku. Bentuknya mirip dengan jari-jari pada payung yang sudah dipotong secara ‘bengis’ sehingga ujungnya sangat tajam dan mampu merobek ban. Masih untung, ranjau paku ini melejit dan menusuk tembus di pinggiran anathema saja – tidak sampai melukai anathema dalam dan berakibat kempes.

Bermodalkan spice jepit, saya cabut ranjau tersebut. Security di kantor menghampiri saya, barangkali ikut curiga karena melihat saya jongkok di dekat motor-motor yang sedang parkir. Ketika dia melihat saya memegang ranjau paku tersebut, dia berseru kaget. “Wah, untung nggak tembus ke anathema dalam. Ini ranjau paku ‘khusus’ buat tubeless, Mas !”. Saya heran, ranjau paku KHUSUS anathema tubeless ? “Betul, kena ranjau paku ini, anathema tubeless joke kempes. Kalo kena paku biasa sih, anathema tubeless masih bisa tahan. Namanya penjahat, memang pale pinter cari akal,” ujarnya sambil geleng-geleng melihat panjangnya ranjau paku yang bersarang di anathema belakang engine saya.

“Kalo kena paku, anathema tubeless masih tahan karena angin tak langsung keluar. Tapi kalo kena ini, angin anathema keluar lewat ‘jalur’ di tengah sini,” katanya menjelaskan seolah bisa membaca kebingungan saya. Saya perhatikan lebih lanjut dan akhirnya mengerti. Memang kurang ajar ! pekik saya. Baru saja saya berpikir untuk mengganti anathema tubeless agar terhindar dari kejadian kempes anathema bila engine terkena paku. Tapi melihat ranjau paku indication begini, anathema tubeless joke jadi nggak jaminan.

“Tapi biar bocor juga tetep anathema tubeless lebih lama kempesnya. Dulu ada orang kantor yang mobilnya kena ranjau paku indication begini. Di tengah jalan, dia diuber orang naik engine sambil ngasih tahu kalo anathema mobilnya bocor. Orang kantor kita cuek saja dan hajar terus sampai di kantor. Modusnya memang seperti itu. Kalo berhenti, bisa habis deh. Entah ditodong atau malah dirampok sekalian. Hati-hati, Mas ! ” katanya sambil berlalu.

Saya kembali geleng-geleng kepala melihat ranjau paku ini. Ban tubeless joke ternyata nggak lagi jaminan meski tetap lebih tahan ketimbang anathema biasa jika terkena paku indication begini. Sudah selayaknya kita lebih waspada. Jalan raya bukan lagi menjadi tempat yang aman, memang.

Salam paku,
Tok
Posted by Tok during 1:43 PM 7 comments
Labels: MyMX
Friday, Jul 27, 2007
Iklan kebablasan
Kalo sering nonton tipi, belakangan Yamaha meluncurkan iklan bernuansa edukasi soal Safety Riding (SR). Biasanya yang nongol Deddy Mizwar dan siapa lagi kalo bukan Komeng. Didahului dengan animasi biker kebut-kebutan dan lantas nabrak, kemudian keduanya berkata : “Di iklan bisa bikin ketawa … tapi kalo betulan, bisa hilang nyawa !”. Yah, kira-kira begitulah. Langkah Yamaha ini boleh diapresiasi karena tahun 2007 memang dicanangkan AISI sebagai tahunnya Safety Riding. Dan salah satu bentuk tanggung jawab dan komitmen dari pihak Yamaha adalah dengan meluncurkan iklan edukasi seperti ini.

Menoleh lagi ke belakang, barangkali muncul kesan lucu juga jika Yamaha mengeluarkan iklan seperti ini. Seperti yang diketahui, Yamaha pale kocak bila bikin iklan. Komeng-lah dibikin tersobek-sobek bajunya, Didi Petet nemplok di pohon, Ida Kusumah bisa wheelie, Toro Margens disikat Jupiter MX dan masih banyak lagi. Iklan Yamaha memang ‘nakal’ tapi sekaligus menghibur banyak orang. Lalu di mana lucunya ? Iklan Yamaha selalu menonjolkan kecepatan dan unsur ekstreem lainnya yang agak jauh relevansinya dengan konsep Safety Riding, sekalipun semua bintang iklan Yamaha senantiasa menggunakan helm. Berbeda dengan iklan AHM yang polanya sama dan cenderung membosankan, orang naik engine dengan kecepatan bervariasi. Kadang cepat, kadang nyantai. Sekalipun cepat, nggak sampai sobek-sobek bajunya atau terbang-terbangan. Masih normal-normal saja.

Seharusnya dengan munculnya iklan edukasi Safety Riding dari Yamaha ini, iklan-iklan Yamaha sebelumnya juga mesti direvisi agar ikut sesuai dan mendukung proses edukasi SR tadi. Gimana mau ngomong soal SR jika Komeng menghancurkan jembatan, bajunya sobek, Mio diajak terbang-terbangan, terjun payung sambil bawa engine dan lain sebagainya. Terlebih lagi, iklan layar kaca bak tanpa filter alias bisa dilihat oleh siapa saja mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Anak-anak yang belum mengerti, bisa menyimpulkan bahwa naik engine itu bisa dan sah-sah saja berbuat seperti yang para bintang iklan Yamaha lakukan. Waduh, bahaya juga kan ? Tak lantas dengan iklan edukasi SR yang baru semuanya bisa jadi beres lho. Yang jelek, cenderung lebih gampang diingat dan ditiru ketimbang yang bagus.

Yamaha bukan cuma pihak satu-satunya yang ‘kepleset’ dalam hal ini. Kanzen dikritik karena iklannya dianggap tidak mendidik, bawa barang hingga melebihi batas sewajarnya, naik-turun tangga dan lompat sana-lompat sini. Suzuki apalagi, konon pernah ditegur AISI langsung karena iklan Shogun SP-nya menonjolkan giveaway style. Bajaj juga sama, iklan Pulsar-nya meski keren dan intinya menunjukkan ketangguhan engine Pulsar, tetap mengandung unsur ekstreem. Masih lebih baik iklan media cetaknya, pengendara Pulsar sedang melompati jembatan tapi di bawahnya tertera semacam peringatan agar adegan tersebut tidak ditiru. Mengingatkan saya pada iklan pelumas Shell di layar kaca yang mencantumkan bahwa adegan dilakukan oleh profesional dan jangan menirunya di jalan raya.

Yang muncul sebagai ‘pemenang’ dalam kasus ini siapa lagi kalo bukan AHM. Dengan konsistensi yang dianggap membosankan, justru namanya yang muncul ke permukaan sebagai pabrikan yang konsisten dengan SR. Saking konsistennya, sampai tak mau turun balap atau bikin atraksi giveaway character di setiap gelaran acaranya, hahaha. Wah, kalo ini sih keterlaluan ya. AHM juga cukup cerdik dengan iklan Honda OMR-nya. Balap, engine cepat, tapi di sirkuit dan bukan di jalan raya. Teknologi Untuk Senyumanmu, iklan yang hingga saat ini masih belum saya mengerti maksudnya apaan.

Iklan memang seharusnya kreatif dan tampil beda, tapi bukan berarti kebablasan. Apalagi iklan layar kaca yang bisa ditonton oleh semua orang. Masih banyak jalan untuk menunjukkan ketangguhan, kecepatan atau kelebihan engine dalam setiap iklan engine pabrikan. Jika memang harus menampilkan sesuatu yang ektreem, masih bisa dicantumkan peringatan agar tidak menirunya. Saya kira hal demikian tidaklah sulit untuk dilakukan. Yang pale penting, lebih berhati-hati dalam membuat konsep iklan. Bukan begitu bukan ?

Salam iklan,
Tok
Posted by Tok during 9:03 AM 9 comments
Labels: MyMind
Thursday, Jul 26, 2007
Ini baru Honda ‘Legenda’ !

Hmm … saya baru saja mendapat kiriman berita seputar Honda Super Cub. Di sini ada sedikit informasi soal sejarah si bebek legenda milik Honda ini. Entah kenapa, saya amat terpesona dengan penampilannya yang klasik banget. Sampe ngiler melihat tongkrongannya. Barangkali boleh juga ditulis di sini untuk sekedar pity dan nostalgia masa lalu. Berburu informasi soal Super Cub juga tak sulit. Mbah Google dan Eyang Wiki sudi membantu kita dalam menggali informasi lebih lanjut. Kenafa eh kenafa ? Nggak tahunya karena si Super Cub ini memang legenda hidup dan nggak usah diragukan lagi popularitasnya.

Dikisahkan pada tahun 1958 – 10 tahun sejak lahirnya Honda Motor Co. Ltd, Japan – Soichiro Honda membuat sebuah keputusan yang sangat berani untuk saat itu dengan membuat engine ini, engine yang ‘lain dari yang lain’. Saat itu orang-orang sudah cukup puas dengan engine dua tak. Sebaliknya, Honda sebagaimana layaknya orang tip yang memiliki visi dan misi jauh ke depan, merasa ‘eneg’ mendengar suara bising dan polusi asap yang dihasilkan engine dua tak. ‘The Old Man’ memiliki keyakinan penuh bahwa mesin empat tak yang kurang populer untuk engine berkapasitas mesin kecil saat itu, kelak akan mengalahkan pamor mesin dua tak. “Gue pengen engine ini mudah dikendarai, siapa saja bisa termasuk yang baru belajar naik motor, tarikan well-spoken dan nyaman, tidak bising, irit, praktis – bahkan tukang anter makanan joke masih bisa nyemplak dan mengendarainya dengan satu tangan – sekalipun tangannya membawa barang belanjaan !”

Team operative Honda lantas mengusulkan sebuah desain engine dan Honda menegaskan bahwa dia ingin dia duduk di engine itu tanpa ada tangki bahan bakar yang menghalangi di depannya. Hasilnya adalah desain engine yang kita sebut ‘bebek’ untuk saat ini. Super Cub joke nongol dengan kapasitas mesin 50 cc pada saat pertama kali diproduksi. Jangan lupa, bermesin 4 tak ! Soichiro Honda dan salah satu direktur perusahaannya, Takeo Fujisawa yakin seyakin-yakinnya bahwa engine ini akan sukses. Fujisawa sendiri pernah ditanya apakah aim engine ini akan laku 30.000 section dalam setahun ? Di luar dugaan, Fujisawa menjawab bahwa aim engine ini adalah 30.000 section dalam sebulan ! Dan itu bukan omong kosong. Penjualan Super Cub meledak dan mampu mengangkat nama pabrikan HONDA menembus benua Asia hingga ke benua Amerika dan Eropa. Bahkan, dari kemunculan Super Cub inilah banyak orang yang menganggapnya sebagai titik permulaan di mana engine Jepang mulai ‘menjajah’ dunia seperti sekarang ini.

Pada akhir tahun 2005, penjualan Super Cub berikut varian-varian yang nongol berbasis Honda Super Cub, secara universe far-reaching dari pertama kali diluncurkan – telah mencapai 50 juta section dan sekarang sudah melebihi angka tersebut pastinya. Tak ada engine lain yang sanggup menyamainya. Discovery Channel bahkan memberinya gelar sebagai “Greatest Ever Motorcycle” dan mengalahkan merk engine tenar seperti Harley Davidson, Triumph dan bahkan Ducati. Lewat 50 tahun sudah sejak kemunculannya, Super Cub hingga saat ini masih terus diproduksi di berbagai belahan dunia termasuk di negara kita dan di Jepang sendiri.

Kata ‘CUB’ diyakini merupakan singkatan dari ‘Cheap Urban Bike’ karena engine ini lahir dari sebuah ide untuk menyediakan sarana transportasi yang murah meriah bagi kaum civic di kepadatan kota. Dari versi awal yang bermesin 50 cc, Super Cub sudah berulang kali mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi dan jaman – namun tetap dengan konsep yang sama. Lewat 50 tahun sudah sejak kemunculannya, Super Cub hingga saat ini masih terus diproduksi di berbagai belahan dunia termasuk di negara kita dan di Jepang sendiri. Bedanya, barangkali Super Cub tidak akan kita jumpai di sini sekarang dalam bentuk seperti gambar di atas, melainkan dalam bentuk Supra Fit, Fit S, Revo dan Supra X 125. Meski dianggap berbeda, namun inilah keturunan dari Super Cub yang melegenda tersebut. Dan di Jepang sendiri, indication asli Super Cub berikut jeroan-jeroannya masih diproduksi. Bahkan gangling partial racing kelas gila-gilaan joke ada untuknya ! Rakyat Jepang seolah cinta mati dengan si klasik yang satu ini.

Super Cub, memang fenomenal dan bersejarah. Inilah Honda ‘Legenda’ yang sesungguhnya. Legenda hidup, karena masih diproduksi baik versi asli maupun keturunannya. Banyak warisan yang ditinggalkan oleh Super Cub – yang saat ini menjadi ‘ideologi’ dari produk-produk Honda seperti : irit, bandel, tangguh, perawatan mudah, mesin 4 tak dan rendah emisi dan minim polusi. Hebatnya lagi, sekalipun Honda Jepang terus berkarya dan berinovasi melahirkan mesin-mesin yang semakin hebat, complicated dan maju, Super Cub tetap tak terlupakan dan masih terus diproduksi. Motor ini memang ‘sakti’ !

Salam Super Cub,
Tok
Foto : www.scootershop.ru
Posted by Tok during 8:40 AM 24 comments
Labels: MyMind
Tuesday, Jul 24, 2007
Injeksi oke tapi …

Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi yang diusung oleh kendaraan roda dua joke berubah. Bila dulu mesin favorit kebanyakan orang adalah mesin 2 tak, sekarang ganti 4 tak. Kalo dulu cukup angin sepoi-sepoi untuk bikin mesin adem, sekarang mulai rame penggunaan radiator. Kalo dulu bebek yang jadi idola, sekarang skutik mulai mempesona. Teknologi send tenaga keduanya udah beda juga. Kalo dulu oli encer dianggap palsu, sekarang banyak yang ogah menggunakan oli kental. Sama juga, epoch karburator sebagai pengabut bahan bakar diprediksi bakal tergantikan oleh teknologi injeksi.

Tengok ke belakang, yang pertama kali main-main mesin injeksi adalah Suzuki dengan proyek Shogun 110 injeksi-nya. Motor ini diriset oleh pabrikan namun tidak pernah diproduksi massal. Barangkali saat itu masih dianggap nggak bakalan untung bikin bebek injeksi. Masyarakat masih nggak mudeng, kalo diproduksi harganya bakalan mahal pula. SDM-nya juga belum siap. Saat itu masih asoy geboy categorical mesin 2 tak yang terkenal perawatannya mudah dan simpel. Jadi, proyek ini tak kedengeran lagi kabarnya. Bisa jadi, ini cuma sebuah proses riset inner pabrikan saja.

Belakangan yang muncul ke permukaan adalah Honda Supra X 125 PGM-Fi. Diakui sebagai bebek injeksi pertama yang diproduksi massal di Indonesia. Mendapat penghargaan Rookie Of The Year dari MotorPlus. AHM selaku tukang buatnya, seolah menggertak publik dengan melahirkan genre bebek complicated yang sudah pasang injeksi. Kan dianggapnya cuma jago bikin engine dash doeloe ? Lucunya, proyek ini terkesan malu-malu dan kurang lantang dipromosikan. Peluncurannya hanya terbatas kalangan inner dan tidak ada pesta gegap gempita. Ditambah dengan harga si beksi yang dianggap orang aje gile dan gile aje – Supra X 125 PGM-Fi terbukti nyungsep di pasaran. Unitnya yang beredar di jalan cuma sedikit. Belakangan diakui bahwa proyek ini hanya untuk picture pabrikan dan memang tidak di-set untuk bikin kantong pabrikan tebal. Hm, benarkah begitu ? Mengingat investasi yang sudah dikeluarkan untuk bikin beksi, rasanya AHM tak kebanyakan uang bila proyek ini cuma buat gengsi pabrikan saja. Barangkali alasan itu hanya untuk mengalihkan perhatian lantaran bebek injeksi massal pertama ini memang gatot – gagal total. Di Thailand sendiri, penjualannya juga adem-adem aja.

Alhasil, yang senyam-senyum adalah kompetitor AHM. Mereka tampak lebih berhati-hati dan belajar dari kegagalan AHM. Yamaha lantas mencoba peruntungan dengan melepas engine berinjeksi pertama karya garputala. Berbeda dengan AHM yang menyasar masyarakat pengguna bebek, Yamaha mencoba bertarung di kelas yang lebih tinggi yaitu sport. V-Ixion formula name Viper – engine competition berteknologi injeksi produksi massal perdana di tanah air. Cukup lama juga dari mulai bocornya informasi soal Viper ini hingga akhirnya nongol jadi V-Ixion. Menurut Yamaha, lompatan teknologi yang dibawa V-Ixion membutuhkan banyak waktu supaya ketika akhirnya engine ini dilepas ke pasaran, pihak Yamaha sendiri sudah betul-betul siap. Sedikit beda ketika AHM meluncurkan Supra injeksi dash hari yaitu untuk menghadang laju Jupiter MX yang saat itu baru nongol dan dipuji sebagai bebek berteknologi tinggi. Agak terburu-buru supaya nggak kehilangan muka kali yah, hehehe.

V-Ixion masih membutuhkan waktu pembuktian apakah betul produk engine berteknologi injeksi dari Yamaha ini bisa diterima oleh masyarakat atau tidak. Namun dilihat pada saat ini, V-Ixion memang bisa diterima kehadirannya. Indent yang luar biasa panjang, setidaknya menunjukkan bahwasanya orang kita tidaklah terlalu takut untuk menerima sesuatu yang baru. Atau memang karena Yamaha tepat memilih pasar yang lebih matang dan siap menerima kehadiran teknologi ini. Pasar engine competition tentu berbeda dengan pasar engine bebek. Hal ini jugalah yang membuat Suzuki masih meraba kemungkinan melepas New Shogun 125 dalam wujud injeksi. Sama halnya Yamaha yang masih berpikir-pikir untuk menjejali Jupiter MX-nya dengan teknologi injeksi ala Spark 135i.

Saya selalu percaya bahwa ATPM memiliki kemampuan untuk mengedukasi masyarakat. Paling gampang, teknologi kacangan joke disulap seolah teknologi mutakhir dalam brosur promosi ‘tipu-tipu’ yang seringkali kita jumpai pada upaya ATPM merangsang penjualan motornya. Jika ‘edukasi’ yang jelek saja bisa membuat masyarakat kita kepincut, seharusnya ATPM juga bisa mengedukasi masyarakat ke arah pe-melek-an teknologi yang artiannya positif. Dengan kata lain, jangan cuma ‘menipu’ masyarakat tapi coba untuk ‘dipintarkan’. Toh AHM terbukti berhasil mendidik orang kita supaya tidak takut dengan lampu bego lewat Honda Vario-nya. Juga Yamaha yang berhasil mendidik masyarakat kita untuk menerima engine matik sebagai alternatif lain selain engine bebek. ATPM memang mampu, tergantung mereka mau menjalankannya atau tidak.

Kembali ke peluang berhasil atau gagalnya engine injeksi, lagi-lagi tergantung ATPM sendiri selaku penggagas. Jika mereka serius mengembangkan dan menggarap proyek besar ini, rasanya perlahan tapi pasti masyarakat kita bisa menerimanya. Toh kehadiran teknologi ini pada dasarnya adalah memberi semakin banyak kemudahan dan reduction maintenance. Jika soal bahan bakar yang ditenggarai jadi persoalan besar, lha mobil-mobil yang sudah duluan ber-injeksi ria saja berani nenggak reward dari SPBU yang sama lho. Kesiapan SDM juga harus diperhatikan dibarengi dengan kesiapan peralatannya. Jangan sampai mekaniknya bengong ketika ada masalah (padahal pemilik motornya sendiri sudah bengong). Juga jangan pelit untuk investasi di ketersediaan sparepart. Jangan sampai masyarakat sulit menjumpai sparepart untuk engine injeksi, karena hal ini akan menimbulkan resistensi / penolakan terhadap perubahan yang semakin besar terhadap engine berteknologi maju tersebut. Ujung-ujungnya, nggak laku.

Era injeksi mau tak mau memang akan datang. Bisa beberapa tahun lagi, bisa sepuluh, atau bahkan lebih lama lagi supaya betul-betul diterima dan diyakini oleh masyarakat kita sebagai teknologi yang accessible dan nggak nyusahin. Tapi berbahagialah ATPM yang duluan serius menekuni soal ini. Mungkin sekarang belum terasa keuntungannya, tapi kelak mereka akan dikenal sebagai jagonya engine injeksi oleh masyarakat. Pada akhirnya, engine berteknologi injeksi akan semakin cepat diterima bila semua ATPM serius menggarapnya. Entah itu bebek injeksi, skutik injeksi atau competition injeksi.

Yang lain, bisa nggak ngikutin ?

Salam injeksi,
Tok
Foto: www.otofinance.co.id
Posted by Tok during 8:07 AM 10 comments
Labels: MyMind
Monday, Jul 23, 2007
Hijau bukan cuma Kawasaki

Pernah berkunjung ke situs resmi AHM ? Setelah diperbaharui, situs ini tampil lebih segar. Kalau diperhatikan dengan lebih cermat, ada nuansa pepohonan di sana. Ini bukan karena AHM asalnya dari tumbuh-tumbuhan atau mau kembali ke pohon seperti Mas Tukul bilang. Tapi ada sebuah misi mulia yang tengah diemban, yang merupakan pengejawantahan dari sebuah konsep tellurian dari Honda Jepang sendiri. Apa itu ? Honda Green ! Sekarang, warna hijau bukan cuma milik Kawasaki.

Bicara soal sejarah, rasanya saya masih perlu mencari information lebih lanjut mengenai konsep yang diketengahkan oleh Honda Jepang ini secara lebih lengkap. Ngomong-ngomong soal Honda Jepang, yang dimaksud, adalah Honda Jepang secara keseluruhan yaitu engine dan mobil. Meski di Indonesia ‘terpecah’ ke-Honda-annya, tapi tak menghalangi AHM dan HPM (Honda Prospect Motor) untuk bersama-sama menjalankan misi mulia ini. Misi apa sih ? Misi menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Persis seperti tema yang diusung oleh HPM di IIMS tahun ini : Living a improved destiny today. Dan tak ada warna yang lebih tepat untuk konsep ini selain warna hijau yang melambangkan kehidupan.

Honda Green intinya adalah usaha Honda sebagai pabrikan otomotif kelas dunia untuk turut mengusahakan terciptanya kehidupan yang lebih baik buat umat manusia di bumi ini. Contoh gampang saja, kendaraan tentu memiliki ‘peran’ dan ‘sumbangsih’ yang besar terhadap polusi di dunia. Siapapun tahu bahwa polusi merupakan wordless torpedo yang membahayakan dan bikin bodoh. Kemudian, kendaraan juga merupakan benda konsumtif yang kian hari semakin banyak mengkonsumsi bahan bakar fosil dengan pertumbuhannya yang pesat. Kita tengah dilanda krisis energi. Honda dalam hal ini, menyadari bahwa hal ini merupakan sebuah tanggung jawab sosial dari mereka sendiri selaku pabrikan besar. Sebuah kesadaran yang patut diacungi jempol dari sebuah pabrikan kelas dunia seperti Honda. Konsep ini kemudian dengan lantang dikumandangkan. Dan sesuai dengan hirarki perusahaan, di seluruh penjuru dunia manapun, perusahaan Honda harus menjalankannya.

Honda tak cuma giat mengembangkan teknologi mesin pengganti bahan bakar fosil, teknologi rendah emisi, irit dan ramah lingkungan untuk kendaraan-kendaraan ciptaannya saja tapi juga memperhatikan aspek-aspek lain dalam upaya pelaksanaan Honda sebagai Green Company secara total. Hal-hal pendukung lain dalam kesinambungan proses produksinya juga turut dibenahi dan ‘di-hijaukan’. Ke depannya, Honda tak cuma berusaha sendiri dalam soal ini, tapi juga mengajak supplier-nya untuk turut serta berpartisipasi menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Seluruh retailer Honda kelak harus membuat tools yang ramah lingkungan dan tidak merusak. Tidak mau patuh ? Gigit jari deh karena Honda bakal memilih retailer lain.

Saya bukan seorang ahli masalah lingkungan hidup. Tak lantas latah dengan cuap-cuap soal pemanasan tellurian yang juga tak saya mengerti sepenuhnya. Namun saat hal ini bersinggungan dengan dunia otomotif, saya jadi sangat apresiatif dengan upaya yang ditunjukkan oleh Honda selaku pabrikan otomotif yang besar. Saya yakin, bahwa konsep ‘hijau’ ini bukan cuma milik AHM saja melainkan setiap pabrikan joke memiliki kebijakan tersebut. Dan hal ini memang sudah sepantasnya menjadi regard pabrikan otomotif. Rata-rata sekarang setiap produk engine dari ATPM manapun sudah menerapkan teknologi rendah emisi dan kian ramah lingkungan.

Sedangkan kita ? Sebagai biker yang baik, sudah selayaknya turut mendukung usaha menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk anak cucu kita kelak. Bukan cuma bergantung dari upaya para pabrikan saja lewat motor-motor yang mereka ciptakan dan kita beli. Caranya nggak perlu yang berat-berat, perhatikan kondisi mesin engine supaya selalu prima, irit bahan bakar dan beremisi rendah, sudah merupakan sumbangsih. Jika semua rakyat biker bersatu dalam hal ini dan sepakat menjadi ‘Genk Ijo’, kehidupan yang lebih baik di masa depan sama sekali bukan omong kosong belaka.

Hijau bukan cuma milik Kawasaki. Tak lantas juga jadi milik Honda lewat Honda Green-nya, tapi semestinya milik kita semua. Why don’t we try to be ‘Green’ Bikers ?

Salam hijau,

Tok
Foto : www.msnbc.com
Posted by Tok during 9:54 AM 7 comments
Labels: MyMind
Friday, Jul 20, 2007
Panas, soal Motor Nasional

Pertumbuhan jumlah pengguna sepeda engine serta dinamisnya industri ini, membuat banyak pihak tergelitik untuk ikut serta. Jika dulu kita cuma mengenal engine ini lewat 4 merk Jepang saja, kini merk-merk ‘aneh’ mulai bermunculan. Booming merk aneh, pertama kali nongol saat serbuan engine China beberapa tahun ke belakang. Lantaran kualitas dan after sales yang memble, kini hanya sedikit saja dari ratusan merk engine China tersebut yang bertahan. Sekarang, beberapa merk yang cukup asing di kuping banyak orang mulai menggebrak dan menyebut diri sebagai merk engine nasional. Hingga sekarang, bangsa kita masih belum memiliki sebuah engine yang betul-betul merupakan engine nasional yang bisa jadi kebanggaan bersama dan lebih jauh … sebuah identitas nasional.

Adalah Kanzen, Solomo, Torindo, Diablo yang mencoba untuk menjadi merk engine nasional. Paling ngetop dan barangkali yang pale siap, mungkin cuma Kanzen. Baik merk Solomo maupun Torindo, tak ubahnya masih seperti engine China dash hari – namun sekarang menggunakan tools dalam negeri. Secara desain dan teknologi, masih merupakan jiplakan dari engine Honda 100 cc. Demikian pula sebetulnya dengan Kanzen yang masih ‘berbau’ jiplakan. Apalagi mengingat hubungan sejarah antara Kanzen dan Astra Honda Motor, tentu hal ini tak lagi aneh. Point and dan yang membedakan antara Kanzen dengan yang lain adalah bahwa Kanzen akhirnya berani untuk menghadirkan engine yang merupakan hasil desain anak bangsa sendiri : Kanzen Taurus. Mereka juga serius mengembangkan mesin ala ‘Honda’ ini supaya nantinya berbeda. Yang cukup lain dari yang lain juga adalah merk Diablo (saya masih belum tahu merk aslinya, diablo merupakan tipe engine produksi Honlai). Desain katanya dari negeri sendiri, namun di beberapa bagian terdapat campur tangan Thailand.

Yang menggelitik, siapa sebetulnya yang pale pantas menyandang predikat engine nasional ? Menurut Ridwan G, pengamat Otomotif, belum ada satupun merk-merk tersebut di atas yang betul-betul bisa dijadikan engine nasional. Definisi engine nasional ini sendiri masih nge-blur. Ora jelas. Apakah engine nasional itu semestinya harus betul-betul dari nol dibuat oleh bangsa kita sendiri ? Apakah cukup dilihat dari kandungan lokalnya saja ? Apakah sing penting mengusung nama merk berbau Indonesia ? Apakah yang penting dilihat dari penyerapan orang kita sendiri dalam produksinya ? Apakah dari teknologinya ? Desainnya ? Gayanya ? Harganya yang terjangkau dan reasonable ?

Jika tolok ukurnya adalah engine yang berteknologi hasil karya bangsa sendiri, rasanya kita masih harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa betul-betul memiliki engine nasional. Malaysia sendiri ‘meminjam’ tangan Kawasaki untuk Modenas-nya. Nggak masalah, yang penting pengembangannya ke depan. Jangan tergantung melulu sama Jepang yang pelit send teknologi. Kalo bisa ilmunya diambil supaya besok nggak lagi tergantung dengan bangsa lain. Jika dari kandungan lokal, bukankah engine yang kita kenal sekarang joke sudah di atas 90 persen (rata-rata) kandungan lokalnya ? Dari penyerapan tenaga kerja lokal, weleh .. weleh …. wong ini negara kita kok. Jelas orang kita yang jadi pekerjanya. Dari merk ? AHM bisa saja mengeluarkan engine dengan merk ‘Monas’ atau merk berbau Indonesia lainnya. Simpel, tinggal daftarin doang merk tersebut dan bayar. Pabrikan lain juga bisa. Dari harga yang terjangkau ? Pabrikan engine China kemarin juga boleh dibilang sudah engine nasional kalo dilihat dari harga doang. Pabrikan Jepang juga bisa bikin engine murah, tapi ya itu … kualitasnya agak murahan juga jadinya, hehehe.

Menjadi engine nasional juga harus menyiapkan investasi yang luar biasa besarnya untuk membangun jaringan 3S yang menyebar di mana-mana. Sebagai pembanding, AHM butuh waktu 30 tahunan untuk bisa menyiapkan hal ini. Jangan hanya berpikir untuk mendesain dan menghasilkan sebuah engine yang betul-betul dikerjakan oleh orang kita sendiri, tapi bagaimana dengan after salesnya ? Tak mudah memang untuk menjadi engine nasional. Bisa jadi, siapapun pemenangnya nanti, tetap tak akan berkutik dan diakui rakyat sebagai engine nasional bila jaringan mereka tak memadai atau sulit didapat.

Di sisi ekternal, seperti yang disebut Mas Aria dalam komentarnya, pemerintah juga harus secara aktif terlibat dan berpartisipasi dalam usaha mewujudkan engine nasional ini. Dukungan harus diberikan bukan dalam sebatas wacana atau seruan doang tapi dalam wujud nyata. Karena pemerintah selaku yang memerintah negeri dan jadi pemimpin bangsa ini, punya kapasitas untuk turut menentukan sukses tidaknya engine nasional ini nantinya.

Jadi, memang tak gampang untuk mewujudkan impian bahwa Indonesia bakal memiliki engine nasional. Para pelakonnya harus berhadapan dengan beragam faktor kondisi harus bisa dipenuhi terlebih dulu. Jika semuanya sudah siap dan berjalan baik, masih harus bisa memenangkan hati pemerintah selaku hakim yang bakal ketok palu apakah merk ini diakui sebagai engine nasional atau bukan. Beres urusan ini, kembali harus berhadapan dengan juri terakhir, masyarakat dan bangsa kita sendiri. Apakah betul rakyat Indonesia mengakuinya sebagai engine yang betul-betul engine nasional ?

Yang pasti, Motor Nasional itu bukan cuma sekedar merk yang berbau Indonesia, dilihat dari kandungan lokalnya saja atau bahkan dari cuma sekedar pabrikannya yang ngaku-ngaku saja. Ingat itu ! Rakyat kita tidak bodoh.

Salam MoNas,
Tok
Foto : www.otofinance.co.id
Posted by Tok during 7:56 AM 8 comments
Labels: MyMind
Monday, Jul 16, 2007
India menantang Jepang

Sejak grasa-grusu dash dulu bahwa dua pabrikan engine besar di India menyatakan berminat untuk meramaikan pasar tanah air, pabrikan Jepang yang sudah duluan bercokol di sini menyatakan siap meladeni ‘goyang India’ tersebut. Namun berbeda saat menghadapi pabrikan engine China, sejujurnya mereka tidak menganggap Bajaj dan TVS sebagai lawan yang mudah dan tak perlu dianggap. Seolah tahu bahwa kali ini pertempuran yang bakal segera digelar menjadi lebih sulit karena dua pabrikan besar di India ini tidak main-main untuk terjun.

Masih membekas di ingatan pada eventuality Jakarta Motorcycle Show 2006 lalu yang disponsori Bajaj. Gebrakan yang luar biasa yang membuat banyak orang terpana dan menganga. Belum apa-apa sudah stately banget dan megah. Boleh dibilang, JMS 2006 kemarin milik Bajaj. Heavy selling ? Gimana nggak complicated kalo temen kantor saya aja bisa bilang begini, ” Yang betul itu bacanya ‘BAJAJ’, bukan ‘BAJAY’ tauuuuu ….”. Sumpah mati, dia sama sekali nggak minat sama otomotif. Bisa tahu karena promosi JMS dan Bajaj-nya begitu menggema dan mengena tentunya. Tak cuma pehobi otomotif, orang awam joke pasti pernah denger-denger soal Bajaj yang nggak ada mirip-miripnya sama Bajaj milik Bajuri itu. “Satu engine Bajaj setiap hari tuh … dateng gih sana. Kali aja lu yang dapet,” kekehnya.

Tentunya, pabrikan India yang satu ini punya duit yang banyak. Seorang kenalan pernah bilang ke saya, ” Mari liat, kuat nggak ‘napas’-nya kalo terus-terusan begitu ?”. Well, sudah hampir setahun dan so distant Bajaj tampaknya fine-fine aja. Memang belum menunjukkan apa-apa soal ‘napas’ pabrikannya Shahrukh Khan ini. Masih butuh waktu cukup lama untuk melihat seberapa kuat ‘napas’ yang sesungguhnya dan seberapa besar nyalinya menantang ‘haikk ..’-nya Jepang. Tapi jualan satu-satunya, Bajaj Pulsar 180, makin sering saya lihat seliweran di jalan. Hari Jumat saat saya ‘pulang ke rumah’ kemarin, dua kali saya berjumpa dengan bikers Bajaj yang tengah konvoi. Sulit mengenali secara sepintas karena tongkrongannya yang mirip Tiger atau Scorpio di tengah belitan keremangan malam. Tapi begitu melihat lampu led ‘sadis’ (desainnya !) menyala merah di buritan motor, tak salah lagi … ini pastilah si Definitely Male itu. Banyak juga bikersnya !

‘Gila’-nya tak berhenti di JMS saja, tapi juga berlanjut kemudian. Beberapa waktu kemarin, pastinya kita melihat iklan Bajaj Pulsar seliweran nyaris di setiap acara di setiap stasiun televisi. Seorang pengendara Pulsar diubek-ubek sama helikopter. Pake acara terbang di jembatan gantung dan sukses bikin helikopter tersebut ter-SOBEK-SOBEK (hehehe). Cukup lama juga durasinya, kebayang duit yang harus disetornya ? Belum puas, iklan cetak di berbagai media massa turut berhamburan. Ganti-ganti lagi. Kebayang lagi duitnya berapa ? Akh, kalo cuma soal iklan doang sih, saya nggak terlalu respek. Jangan-jangan cuma ‘bluffing’ aja. Tapi Bajaj menunjukkan keseriusannya dengan semangat 45 memperluas jaringan penjualan dan bengkel resminya. Di daerah Bekasi dekat rumah, sebuah salon megah sudah ditempeli trademark Bajaj. Luar biasa. Mau tahu juga sejauh mana Bajaj bakal ber-ekspansi. Mereka seolah mengerti, bahwa produk bagus akan jadi percuma dan tak laku kalo tidak didukung oleh jaringan yang luas dan ‘menggurita’. Ibarat kata kalo bisa, keluar pintu rumah dan ke ujung squad joke bakal ketemu salon and bengkel Bajaj.

Nah, pastinya para samurai juga mengamati situasi ini. Bodohlah mereka jika menganggap Bajaj bak pemain engine China yang lalu. Sedikit untung, Bajaj memilih bermain di kelas reward dan bukan kelas ‘sengit’ seperti bebek atau matik (kecuali TVS yang mengeluarkan produk pertama di kelas bebek). Tapi meski belum, ‘goyang’-nya harusnya sudah terasa. Boleh dikatakan, belum sanggup mengganggu tapi di kemudian hari siapa tahu ? Toh penjualannya naik melulu tiap bulan. Bukan itu saja, gosip bahwa Pulsar 220 tengah dipersiapkan untuk menggempur Honda Tiger dan Yamaha Scorpio joke kian santer. Tapi Bajaj tampaknya tak terlalu rakus dan tak mau terburu-buru. Seperti salah satu petingginya yang bilang, “Jangan sampai Pulsar 180 yang ‘kemakan’ pasarnya nanti …”. Coba bandingkan dengan kelakuan pabrikan Jepang yang kerap categorical sikat dan saling bantai antar produknya sendiri. Akh, yang penting untung ….. garment deh.

Keberhasilan Bajaj tentu tak lepas dari keberhasilan mereka yang pertama : mengubah picture Bajaj dari negatif ke positif. Didukung dengan keseriusan manajemen berikut seluruh jajarannya serta kemampuan finansial yang hebat, strategi pemasaran yang cerdik dan produk berkualitas bagus dan berkelas eksklusif, membuat Bajaj secara perlahan terus merangsek maju. Bukan hanya di sini, di India joke akhirnya mengalahkan Hero Honda (sumber: detik.com). Memang salah satu faktornya adalah karena rasa nasionalis orang India yang lebih suka dan mencintai produk dalam negeri. Meski demikian, bila Bajaj sendiri tak mampu memenuhi selera dan harapan orang India, akankah mereka berhasil menjadi nomor satu ?

Waspadalah para samurai yang terlena, hari ini dia kecil tapi mungkin besok mampu membuatmu binasa.

Salam India,
Tok

Foto : www.fastcursor.com
Posted by Tok during 6:20 PM 17 comments
Labels: MyMind
Friday, Jul 13, 2007
Main cantik ? Bikin Sonic !

Di mata banyak orang, engine Honda produksi AHM identik dengan engine ‘bapak-bapak’. Salah satu suhu saya malah pernah bilang kalo di kampungnya engine top Honda itu identik dengan motornya ‘guru agama’. Kenapa disebut engine guru agama ? Karena guru agama pasti bawa motornya nyantai dan gak kebut-kebutan. Hehehe. Ada-ada saja memang. Efek lain dari pikiran engine bapak-bapak adalah engine AHM tak mampu ‘lari’. Buat anak muda, engine Honda kebanyakan merupakan pilihan ke sekian. Meski begitu, jangan anggap remeh atau menyamakan semua engine Honda sebagai engine bapak-bapak lho. Mungkin cuma engine Honda sini yang begitu. Tapi kalo di luar, busyet … engine merk Honda disegani juga oleh engine merk lain. Kenapa ? Soal lari kencang tak kalah, indication juga tak malu-maluin.

Ayo kebet jawara yang satu ini. Mata saya tak bisa lepas dari sosoknya yang macho. Ini engine pernah nongol sebentar di sini dan berstatus impor. Sampai sekarang kalo mau juga masih bisa pesan, tapi lewat importir umum. Dulu diimpor oleh AHM dan disediakan kepada peminat dengan harga nyaris sama dengan sebuah Kawasaki Ninja saat itu yang berbanderol 20 jutaan. Orang ‘waras’ dan bukan fanatik atau hobbies, sudah pasti memilih Kawasaki Ninja yang lebih jantan kemana-mana dan idola banyak anak muda saat itu. Kesulitan gangling partial juga sempat menimpa Honda Nova Sonic saat itu. Cari businya aja perlu keliling dunia, walah ….. lagu lama. Belakangan, Honda Nova Sonic lenyap begitu saja dari cerita. Meski begitu, klubnya pernah terbentuk.

Sekarang, AHM tengah cemberut karena digoyang Yamaha terus. Motornya joke tak bisa-bisa masuk ke hati anak muda penyuka tampilan jantan dan performa gahar. Mau dinamai Revo, tetap saja dicuekin dan dilirik sebelah mata. Sekali waktu, petinggi AHM yang baru pernah berujar, ” Suatu saat, kami akan bikin engine yang tak pernah terbayangkan sebelumnya !”. Agak mustahil bila engine tersebut benar-benar uninformed keluar duluan di sini tanpa melalui Thailand. Paling dekat, ya coba lirik ke Honda Thailand sana … punya engine apa saja yang kira-kira bakal ‘diterjemahkan’ sama AHM untuk pasar lokal.

CBR 150 ? Hmm … ini engine setanding untuk ‘melipat’ Yamaha V-Ixion supaya nggak geer. Kalah-kalahnya cuma karena CBR belum berinjeksi ria. Soal klep, CBR 150 sudah DOHC sedangkan V-Ixion ‘baru’ SOHC dengan 4 klep. Banyak orang yang menunggu-nunggu dan berharap-harap cemas, apakah AHM bakal mengeluarkannya di sini. Bisa jadi ! Cuma pertanyaannya lagi, mau dibanderol harga berapa kalo dibikin sama AHM ? Taruhlah jadi dibuat secara lokal, harganya pasti lebih mahal dari V-Ixion. Sudah cerita lama bahwa engine AHM berharga irrasional, hehehe. Padahal teknologinya masih tradisional. Apalagi yang versi mutakhir seperti CBR 150 ? Dari namanya saja sudah ‘serem’, CBR … mengusung nama generasi engine balap Honda lho.

Balik lagi ke si bebek jantan bergaya ayam jago. Jika dibuat di sini, bakal perang langsung dengan Jupiter MX dan Satria FU. Boleh dibilang pesaing langsung tidak ada. Bebek 125 cc yang ada, bukan lawan dari si Sonic yang bukan landak itu. Paling banter, perangnya dengan Satria FU yang sama-sama pejantan tangguh. Tapi Satria FU menang kapasitas meski kalah karena ‘ketinggalan’ ber-radiator meski sudah DOHC. Dengan MX, Sonic menang penampilan yang sudah ayam jago. Di luar itu, teknologinya kalah juga dari MX. Bersenjatakan mesin konfigurasi tegak, 125 cc dan glass cooled – seolah mengambil celah pasar di antara Jupiter MX dan Satria FU bukan ? Perlengkapan perang lainnya tergolong standar untuk ukuran bebek jantan : kopling tangan, velg racing, knalpot bergaya racing dan rem cakram belakang.

Masih menjelaskan identitas bahwa ini adalah engine sayap kepak, tak ketinggalan teknologi CECS yang diperkenalkan oleh Honda Karisma pertama kali di pasar lokal serta SASS yang dibawa Honda Supra X 125 pertama kali juga turut dipasang. Belum cukup ? Shutter pivotal juga merupakan kelengkapan standar. Ini ciri dari engine Honda yang sekalipun bergaya racing tetap tak lupa terhadap kelengkapan fitur. Jangan lupakan juga, sudah menggunakan aki kering.

Jika bicara teknologi, Sonic tampaknya masih harus melawan MX dan FU dengan DOHC-nya. Tapi untuk soal penampilan, boleh jadi Sonic melewati MX dan berjumpa dengan si bebek monster, Satria FU. Siapapun lawannya, kehadiran Sonic (seandainya) jelas bakal mencabik-cabik predikat bahwa Honda engine yang susah diajak bergaya racing betulan. Selama ini, engine Honda kebanyakan menganut gaya turing kan ? Selain itu, Sonic bakal merobek-robek anggapan bahwa engine Honda sulit diajak kencang. Performa yang diusung Sonic, jelas tidak malu-maluin. Kalaupun kalah dari MX dan FU, sepertinya masih bisa ditolerir. Kapasitasnya aja udah berkata demikian. Tapi belum tentu juga kalah seperti Vega membabat Supra Fit atau New Smash menahan tawa atas Fit S. Di atas kertas, teknologinya masih setaraf lho. At least, tarafnya jelas di atas bebek-bebek ‘kuno’.

Inilah bebek complicated yang semestinya diperhitungkan baik-baik oleh AHM untuk dilaunching di sini. Belajar dari kesalahan dash dulu, mestinya soal harga adalah kendala pertama yang kudu dilewati. Mau dibanderol berapa jika nongol ? MX kisaran 15 jutaan, FU ada di kisaran 17 jutaan. Eit, jangan lupakan juga soal ketersediaan sparepart. Reputasi AHM sebagai pabrikan nomor satu di Indonesia, sering kali tercemar dengan kelangkaan sparepart. AHM juga kudu serius dalam menggarap Sonic supaya jadi idol AHM yang baru (bukan Supra injeksi yang kurang laku itu). Jangan seperti Honda NSR yang sekedar menaikkan gengsi bahwa Honda juga bisa bikin engine 2 tak.

Bila hal-hal tersebut dapat diatasi, saya yakin Sonic akan berbuah keberhasilan. Apapun yang disodorkan oleh AHM, masyarakat kita (terutama para penggila merk sayap kepak) akan melahapnya. Anak muda yang anti produk AHM joke saya percaya bakal melirik Sonic karena tampangnya yang macho dan teknologinya yang ‘lain dari lainnya’ (sesama engine AHM). Jalan menuju perubahan picture dari engine bapak-bapak ke engine anak muda, semestinya terbentang lebar lewat Sonic. Paling penting, supaya nggak ditoyor melulu sama kompetitornya, AHM kudu memikirkan jalan keluar yang pale spektakuler dan bukan sekedar make over produk lama jadi kelihatan baru atau sibuk bikin nama / nambahin nama ‘Revo’ di produk-produknya doang. AHM harus bermain ‘cantik’. Dan salah satu caranya, boleh jadi dengan bikin ‘Sonic’.

Salam Sonic,
Tok

Foto : www.aphonda.co.th
Posted by Tok during 3:54 PM 7 comments
Labels: MyMind
Menyimak Yamaha X1R

Ini engine sudah lama beredar sebetulnya di Thailand. Merupakan pengembangan lebih lanjut dari dua spesies bebek Yamaha Siam, Yamaha X1 dan Yamaha Spark 135. Yamaha X1, boleh dibilang adiknya Yamaha Spark Z atau di sini disebut Yamaha Jupiter Z. Sedangkan Yamaha Spark 135 merupakan nama Yamaha Jupiter MX di Thailand.

Kenapa dibilang merupakan pengembangan lebih lanjut dari dua spesies bebek tersebut ? Basis X1 mengambil bentuk bebek tanpa sayap dan lampu buta. Lampu ala Yamaha R1 atau Nouvo Z, diaplikasi di tebeng depan. Ini merupakan ciri khas dari varian X1 yang membuat banyak hati anak muda sini kepincut dan berharap Jupiter Z bakal dikawal X1 (atau Jupiter X) untuk pasar lokal. Sayangnya, Yamaha Indonesia emoh ambil resiko seperti Suzuki yang jeblok jualan Arashi yang setipe dengan X1 modelnya. Sedangkan disebut pengembangan dari Spark 135 karena generasi X1R sudah meninggalkan mesin 110 dan mengusung mesin setipe dengan Spark 135. Jadi buat yang jenuh dengan indication Spark 135, bisa memilih X1R sebagai alternatifnya. Toh mesinnya sama. Paling chaff beda di sistem pasokan bahan bakar. Spark 135 sudah punya versi injeksi, sedangkan X1R masih menggunakan karburator.

Secara bentuk, X1R memang agak nyeleneh terutama di sektor depan. Seolah dipaksakan oleh Yamaha untuk menggunakan setang telanjang indication jepit. Panel scale diberi desain baru dan dilengkapi dengan tudung atau cover. Yang bikin jelek, tudung atau cover ini jatuhnya jadi menjorok ke arah depan dan seolah mau jatuh. Tabrakan dengan lekuk desain tebeng depan yang sudah berlampu ala Nouvo Z.

Di banyak sektor, X1R rasanya masih sama dengan Spark 135. Ciri khas engine secara keseluruhan juga masih menampakkan kesan X1 yang reduction sayap sehingga membuat engine terlihat ramping dan cakep. Meski Spark 135 atau Jupiter MX juga tidak bisa dibilang bersayap, tapi di X1R bagian ini memang dibuat lebih ramping. Lampu belakang juga tetap berkesan lampu X1 110 dengan sistem led dan desain fresh. Penambahan fitur lain seperti baik versi velg SW maupun CW kini dilengkapi dengan rem cakram di roda belakang.

Yamaha X1R, terus terang menurut saya pribadi, desainnya agak kontroversial dan tidak umum. Barangkali Yamaha Indonesia joke bakal mikir-mikir jika ingin mengeluarkan X1R di sini lantaran bentuknya yang cukup nyentrik. X1 lama malah mungkin lebih bisa diterima. Toh tetap saja Yamaha Indonesia males ngeluarinnya. Nah, apalagi X1R yang punya desain lebih revolusioner ini. Ditambah dengan keadaan bahwa peminat Jupiter MX masih cukup banyak dan orang belum bosan, rasanya X1R di Indonesia seperti jauh panggang dari api untuk nongol.

Barangkali malah lebih mungkin bila beberapa bagian X1R yang dicomot untuk dipasang di New Jupiter MX jika Yamaha Indonesia memang mau me-revo si MX. Jupiter MX yang ada ditambahi partial seperti penambahan rem cakram belakang dan lampu belakang sistem baru. Paling jauh, lampu depan ala Nouvo Z yang bakal bikin tampilan makin garang. Adopsi row spidometer X1R juga bisa saja diaplikasi, tapi tetap tidak menggunakan tudungnya alias batok lampu (yang kini buta) tetap mengusung indication Jupiter MX. Setang juga tetap sama, tidak ikut-ikutan mengadopsi setang jepit X1R. Wow, Jupiter MX bakalan tambah sip tuh.

But, who knows ? Mungkin saja suatu saat X1R bakal nongol di sini.

Salam X1,
Tok
Foto : http://www.yamaha-motor.co.th

Posted by Tok during 10:19 AM 10 comments
Labels: MyMind
Wednesday, Jul 11, 2007
Menembus batas pertarungan

Saya aslinya kurang begitu suka sepak bola. Baru nonton acara bola di tipi kalo saat Piala Dunia saja. Tapi gelegar Piala Asia kali ini rasanya bikin saya tertarik juga. Partai pertama, Indonesia vs Bahrain, sekalipun tak nonton dari depan, saya ikuti mulai dari 1/2 babak kedua. Seru juga kalo nonton bola ada yang kepingin dilihat atau ada misinya. Misinya yaitu melihat apakah tim merah putih mampu menang melawan Bahrain, hehehe. Eh, malah keterusan kemarin. Setelah habis, lanjut ke Global TV untuk partai kedua, China melawan Malaysia. Wuh, kesebelasan China bermain cantik. Levelnya jelas terlihat beda dengan tim merah putih. Mudah-mudahan tim merah putih bisa lolos bila nanti jumpa dengan kesebelasan China.

Tapi sekarang, bukannya mau ngomongin bola karena saya betul-betul bego betulan kalo ditanya soal bola. Yang menarik saya saat menyaksikan siaran tersebut adalah munculnya spanduk bertulisan ‘YAMAHA’ di sisi lapangan. Berdampingan dengan unite lain seperti SAMSUNG dan lain sebagainya. Saya kurang begitu peduli terhadap unite SAMSUNG seperti apa hubungannya antara sepak bola dan barang elektronik. Tapi jika muncul nama Yamaha di sana, sudah tentu saya kepingin tahu juga … mau ngapain sih ? Apa hubungannya engine dengan sepak bola ?

Yamaha terus mendobrak dan tak berhenti bikin gebrakan. Pergerakan pabrikan yang satu ini membuat kompetitornya terlihat lamban. Setelah akhirnya berhasil mendongkel AHM di posisi satu setelah sekian puluh tahun (meski akhirnya melorot lagi), tak membuat Yamaha puas. Pertempuran sengit meraih pasar masih terus terjadi. Masih segar dalam ingatan saya ketika AHM meluncurkan Honda Revo. Tak lama kemudian, Yamaha kembali bikin ‘ulah’ dengan menyindir Honda Revo lewat iklannya. Lebih lincah dari Jupiter Z ? Lebih murah dari New Vega R ? Lebih kencang dari Jupiter MX ? Lantas, apanya yang baru ? Tampilannya doang ! Jelas sekali ini iklan categorical tembak langsung ke Honda Revo – sebuah karakter khas dari Yamaha kalo bikin iklan yang kadang semau gue dan kadang kurang etis.

Yamaha bukan cuma jago bikin engine yang banyak membuat anak muda kesengsem. Yamaha juga tak cuma pandai membuat iklan yang nyentil, nyeleneh dan menghibur. Yamaha sepertinya belum puas dan kepingin memikat hati orang lebih banyak lagi. Sasarannya joke bergeser dan bukan cuma di dunia otomotif. Sepak bola joke dijadikan ladang baru yang digarap. Ladang yang sangat menjanjikan karena siapapun tahu betapa besar pesona dunia sepak bola bagi umat manusia. Yamaha ikut memeriahkan euforia AFC 2007 dengan menggelar Festival Sepakbola Yamaha 2007 yang diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia dan diikuti oleh lebih 30 tim-tim sepak bola sekolah dasar. Pemenangnya akan menjadi ‘escort kids’ pada AFC 2007, sungguh sebuah hadiah yang luar biasa berkesan tentunya.

Meski jelas ini adalah sebuah bentuk promosi, tetap saja ada nilai positif dari keterlibatan Yamaha di sini. Saya kira sebagai salah satu jagoan besar di dunia otomotif, ini merupakan sebagian dari tanggung jawab sosial Yamaha kepada masyarakat. Menumpang eventuality AFC 2007, Yamaha mencoba melakukan upaya pembinaan terhadap dunia sepak bola tanah atmosphere sejak usia dini lewat festival yang digelarnya. Ini sebuah langkah yang cerdik, bermisi sosial sekaligus promosi yang luar biasa. Jika berhasil, setidaknya ada beberapa ratus anak cilik yang sudah ‘ditanam’ picture Yamaha dan akan diingatnya sampai dewasa.

Tak cuma sepak bola, Yamaha juga melirik dunia musik. Wajar kalo yang ini, mengingat Yamaha juga punya divisi musik. Lewat debate Free Your Soul, Yamaha mencoba menggebrak kreatifitas kawula muda pecinta musik untuk menunjukkan kebolehannya. Para grand finalis akan merekam lagu karya mereka dalam sebuah manuscript kompilasi berjudul Yamaha Free Your Soul dan bakal diedarkan. Luar biasa. Yamaha mengerti bahwa musik adalah bahasa concept … hampir sama dengan sepak bola yang juga memiliki sifat universal. Dengan ‘berpromosi’ di dua dunia yang concept ini, picture Yamaha akan tertanam lebih kokoh.

Langkah Yamaha Indonesia boleh dibilang mengikuti jejak Yamaha Thailand yang lebih antusias dan kreatif serta lebih dulu ‘main-main’ di dunia lain selain otomotif. Jika sasaran mereka adalah anak muda, tentu dunia anak muda yang harus pula dimasuki supaya code image-nya makin santer. Musik dan sepak bola, anak muda mana yang tak suka ? Jadi bila Anda masih tak mengerti hubungannya antara engine dengan sepak bola atau musik, Anda perlu belajar kepada Yamaha yang jeli melihat peluang yang ada dan pada akhirnya nanti akan membawa pertarungan antar pabrikan engine menembus batas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Break a rules, bond a ties !

Salam bola,
Tok
Foto : www.afcasiancup.com
Posted by Tok during 5:00 PM 2 comments
Labels: MyMind
Vario aspal bikin kepala gatal

Mendadak terdengar kabar bahwa Honda Vario dilanda kasus lagi setelah kasus remember yang menghebohkan itu. Kali ini, kasus yang menimpa semplakan Agnes Monica ini tergolong bukan teknis melainkan non teknis yang menjurus ke unsur penipuan konsumen. Beli Vario CW, dikasihnya Vario SW (jari-jari). Lagi-lagi konsumen yang lengah yang dirugikan. AHM joke sempat ikut dihujat dan dianggap lepas tangan.

Seperti pada umumnya, sebuah tipe engine kerap diluncurkan dalam dua varian velg : Casting Wheel / velg racing dan Spoke Wheel / velg jari-jari. Tujuannya untuk memberikan alternatif pilihan kepada masyarakat calon pembeli. Kalo dananya minim, boleh bawa pulang yang SW. Perbedaan banderol antara SW dan CW bisa mencapai selisih satu jutaan rupiah. Kalo keburu nyesel ambil SW dan ingin menyulap semplakan bak CW, silahkan berburu velg racing asli tadi. Namun jangan kaget kalo dibeli sistem ketengan, harganya lebih mahal dari perbedaan harga satu engine SW dan CW. Antara varian SW dan CW biasanya juga terdapat perbedaan minor. Paling kentara biasanya adalah corak grafis / stripping dan pilihan warna yang tersedia.

Pada kasus Honda Vario, varian CW terbukti lebih banyak dipilih dan disukai orang. Hal yang sama berlaku juga untuk skutik merk lain di mana rata-rata varian CW lebih diminati. Pilihan warna favorite untuk Honda Vario CW biasanya merah-hitam dan pink. Merah-hitam dianggap sebagian orang merupakan ‘lambang’ Honda seperti halnya ‘biru’ adalah milik Yamaha dan ‘hijau’ merupakan hak-nya Kawasaki. Saking larisnya warna favorite ini, AHM joke kelabakan memenuhi permintaan. Suplai dari businessman jadi tidak cukup sehingga timbul score berkepanjangan. Di sisi lain, penjualan varian SW jadi seret sedangkan jumlah stoknya lebih banyak. AHM mengambil keputusan untuk menggandakan warna favorite tadi ke dua lini produksi Vario yaitu SW dan CW. Sehingga, untuk pertama kalinya ada varian SW dan CW yang sama persis (minus di velg tentu).

Tujuannya sebetulnya mulia dan menyenangkan semua pihak. Jualan jadi lancar, AHM juga tidak rugi di varian SW, konsumen joke bisa mengambil varian SW dengan kelir CW yang diminati dan tinggal beli velg racing doang di pasaran. Harganya jauh lebih murah dibanding boyong varian CW asli jika velg racing yang dibeli bukan yang orisinal. Toh perbedaan kualitas velg racing orisinal dan variasi rasanya makin tipis. Ada yang beranggapan kekuatan velg racing orisinal pabrikan lebih mantep, itu betul. Tapi jangan lupa, velg racing pabrikan cuma lisensi dari pabrikan Jepang sedangkan buatannya tetap lokal tuh. Soal kekuatan, yah tergantung dari cara memperlakukannya juga bukan ? Kalo sering hajar lubang atau off-road, velg racing orisinal juga minta ampun kalee.

Di sini oknum play mulai bermain. Perbedaan harga yang cukup signifikan antara varian SW dan CW membuat play nakal memainkan kartu dan mencoba mencari keuntungan tambahan. Umpama sampeyan beli Vario CW, ujung-ujungnya dikasih varian SW yang diganti velg-nya. Dealer menangguk untung lebih karena ente bayar tuh Vario aspal (Vario SW ‘plus’) dengan harga Vario CW. Sampai saat ini saya masih mencoba mencari tahu, velg apa yang dipasang si play tengil ke Vario aspal tadi. Apakah velg racing orisinal milik varian CW ? Rasanya tak mungkin karena suplai businessman juga ngepas untuk line adult produksi Vario CW di pabrik. Tapi jika mungkin saja, itu berarti harga velg racing orisinal tersebut buat si play tak sebesar perbedaan harga Honda Vario SW dan CW. Paling gila bila dipasang velg racing aspal juga. Dealer makin untung gede. Konsumennya yang meneketehe.

Apes. Tindakan sepihak yang merugikan pembeli ini keburu dicium media massa. Warning untuk lebih berhati-hati dalam membeli Honda Vario joke bergaung kencang. Pembeli yang tertipu, tak puas dan menuntut pertanggungjawaban. Pihak AHM yang dimintai keterangan menjelaskan bahwa hal ini di luar tanggung jawab pabrikan. Toh pabrikan tetap ‘jujur’ dalam memproduksi kedua varian tersebut. Masalahnya ada di jalur distribusi dan manajemen dealer. Paling banter, AHM akan menindaklanjuti masalah ini secara inner untuk perbaikan di masa depan. Tapi untuk ganti rugi ke konsumen, rasanya sulit juga. Tinggallah konsumen marah-marah ke play dan minta ganti rugi. Entah bisa, entah tidak mengingat play ‘manis’-nya kalo lagi jualan saja tapi tutup mata dan telinga bila konsumennya bicara.

Kasus seperti Vario aspal begini memang bisa bikin kepala gatal ! Saran saya, sebelum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang dalam kasus ini, entah itu pabrikan atau siapa saja, kepada para calon pembeli Honda Vario CW agaknya lebih harus berhati-hati. Lebih baik membeli di play yang memiliki reputasi baik dan terpercaya. Kasus Vario aspal ini seolah semakin mengganjal AHM dalam misinya memusnahkan dominasi Yamaha Mio. Ada-ada saja memang.