AfterSixHour
tag:blogger.com,1999:blog-6694849377121110467. 2011-08-16T00:41:51.161+07:00 . AfterSixHour. design, art, skateboarding, dan photography . AfterSix
AKUVET

Ketahanan pangan merupakan isu utama Departemen Pertanian dalam pembangunan pertanian Kabinet Persatuan Nasional, Kabinet Gotong Royong (1999-2004) maupun Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009). Hal ini karena ketahanan pangan sangat berkaitan erat dengan ketahanan soSial, ketahanan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan. Ketahanan pangan ini terkait dengan keterjangkauan pangan hingga sampai ke tingkat rumah tangga berkaitan erat dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia Indonesia. Kejadian kerawanan pangan dan gizi buruk mempunyai efek yang negatif bagi pemerintah yang berkuasa.

Beberapa hal yang termasuk dalam upaya membangun ketahanan pangan adalah: membentuk lembaga yang berfungsi sebagai pengelola cadangan pangan, distribusi pangan, penyangga pangan, juga keamanan pangan (menyangkut kesehatan dan mutu gizinya).

Lumbung Desa

Salah satu embrio dari lembaga cadangan pangan ini adalah lumbung desa: Keberadaan lumbung desa ini tidak lepas dari ide Residen Cirebon tahun 1902. Messman, orang Belanda, yang saat itu menjabat sebagai Residen Cirebon dan Sumedang (Jabar). Gagasan tersebut muncul oleh kekhawatiran Messman akan kemungkinan terjadinya kerawanan pangan di daerah yang dipimpinnya. Dalam pemikirannya, apabila para petani memiliki tabungan padi atau gabah maka pada masa-masa paceklik kebutuhan pangan mereka akan tetap tercukupi. Setelah ide diterima oleh pemerintah Hindia Belanda maka dinas yang menangani adalah Dienst voor Volkscreditwiysen (Dinas Perkreditan Rakyat). Dinas tersebut bernaung di bawah Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Pemerintah Hindia Belanda saat itu. .

Lumbung desa, baik yang dibangun atas prakarsa dan swasembada desa maupun bantuan pemerintah, pesat bermunculan di berbagai pelosok dan banyak diantaranya masih bertahan hingga paruh awal tahun 1990-an. Berdasar catatan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Ditjen Bangdes) tahun 1993-1994 diketahui masih terdapat 12.655 lumbung desa yang terutama terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura. Akan tetapi dengan berjalannya waktu maka keberadaan lumbung desa ini semakin lama semakin melemah karena kekurang mampuannya untuk beradaptasi dengan perkembangan jaman. Para petani sekarang ini lebih suka menjual hasil panennya dari pada menyimpan di lumbung desa.

CPPD (Cadangan Pangan Pemerintah Desa)

Keberadaan cadangan pangan di pemerintahan desa diamanatkan dalam PP 68/2002 tentang Ketahanan Pangan masih terbatas pada cadangan pangan masyarakat, sedanga untuk cadangan pangan pemerintah desa realisasiya belum nyata. Memang pada saat ini ada BULOG, tetapi dengan adanya Undang-undang Otonomi Daerah dimana Bulog menjadi Perum maka tentu berdampak pada manajemen stok beras sehingga kurang bisa menyentuh pada ketahanan pangan di tingkat keluarga. Selanjutnya perlu diuraikan mengenai CPPD ini:

1. CPPD di pedesaan harus didasarkan atas keragaman potensi lokal.

2. Prinsip yang dipegang adalah terjangkau, tanggungjawab, merata, terbuka.

3. CPPD/BUMDes adalah lembaga ekonomi dibawah pembinaan dan pengawasan Pemerintah Desa tetapi terpisah manajemennya sehingga aparat pemerintah desa tidak dapat ikut campur secara langsung.

Skema Pengembangan CPPD

1. Pola/Tipe1

Pengembangan section Usaha Pangan Mandiri (desa belum mempunyai BUMDes serta tidak ada usaha pendukung lainnya atau usaha ekonomi produktif yang eksis).

2. Pola/Tipe 2

Pengembangan Unit Usaha Pangan Mandiri (desa belum membentuk BUMDes tetapi sudah memiliki usaha simpan pinjam atau usaha ekonomi produktif lainya yang eksis)

3. Pola/Tipe 3

Pengembangan Unit Pangan dalam BUMDes (desa telah membentuk atau memiliki BUMDes yang terdiri dari sejumlah section usaha yang telah berkembang.


Begitu pentingnya cadangan pangan ini sehingga perlu para pengambil keputusan di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten, serta para Kepala Desa untuk mencari peluang mana yang dapat dilakukan untuk kemakmuran warganya. Idsya Allah.


Kimun666′s Weblog

SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an-2000an

By Kimung

Teman-teman, kita sudah sampai di epoch baru industri musik…

Wenk Rawk, 2007

Inilah promotion informasi pale diminati mengenai wajah indsutri musik baru Indonesia. Essay yang ditulis scenester pionir Wenk Rawk ini menggambarkan dengan gamblang bagaimana kini tag rekaman meluaskan ekspansi bisnis mereka dalam industri musik tanah air, yaitu dengan membuka divisi manajemen artis di tag rekaman. Ini adalah sebuah jalan pintas yang dilakukan perusahaan rekaman untuk mengeksploitasi artis-artisnya, ketika bisnis utama mereka semakin terpuruk akibat maraknya pembajakan di tanah air. Jelas fenomena manajemen artis di sebuah tag bukan suatu yang sehat karena tag tag rekaman jelas tidak kompeten untuk urusan manajemen artis, berpotensi merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait—artis, manajemen, label, dan rentannya konflik kepentingan tingkat tinggi, saat manajernya bingung harus membela kepentingan siapa bila terjadi bentrok antara artis dan label.

Memang sistem manajemen artis dalam sebuah tag rekaman bukanlah fenomena umum dan hanya beberapa gelintir perusahaan rekaman yang telah menerapkan hal ini. Namun itu sudah menjadi tak penting, karena yang terpenting adalah mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi.

Rawk menganalisis, penyebab kondisi tak sehat ini terjadi akibat semakin parahnya praktek pembajakan di Indonesia dan juga peran pemerintah yang berkesan main-main saja dalam mengatasi hal ini. Musisi-musisi independen jelas gerah dengan kondisi ini. Dengan kreatif, mereka lalu melawan sistem pembajakan dengan cara yang sama : pembajakan pula, namun kini yang membajak adalah musisi kreator karya mereka sendiri. Dan kemudian meledaklah fenomena yang mengguncang industri musik tanah atmosphere itu—penggratisan manuscript oleh para musisi atau band.

Koil, menjadi rope pionir fenomena ini. Mereka bekerja sama dengan sebuah perusahaan minuman dalam merilis manuscript mereka dan juga menjalin kerjasama dengan majalah Rolling Stone untuk mendistribusikan manuscript terbaru mereka, Blacklight Shines On secara gratis. Tak hanya itu, mereka juga memberi akses download manuscript gratis around website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak strange juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping manuscript terbarunya secara gratis around Tabloid Sun di Inggris.

Dan demikianlah, maka Otong dkk, tanggal 21 Sep 2007, tampil di sebuah studio di bilangan Cililitan, Jakarta Timur, untuk memperkenalkan manuscript Blacklight Shine On, sekaligus juga pembuatan video klip “Semoga Kau Sembuh Part II” yang disutradarai Rizal Mantovani dan juga merupakan soundtrack film Kuntilanak 2. ini adalah sebuah tonggak baru yang ditancapkan Koil setelah rilisnya manuscript Megaloblast enam tahun lalu, manuscript yang berhasil menembus angka fantastis. Album Megaloblast re-mix tahun 2003 berhasil menembus angka penjualan hingga 30.000 keping.

Blacklight Shine On dalam hal ini tak berpretensi memecahkan rekor Megaloblast. Album ini sangat penting karena menggunakan sistem baru dalam pendistribusiannya : penggratisan album. Otong memaparkan bahwa Blacklight Shine On, “…menyasar penikmat musik Indonesia dari lapisan menengah ke bawah. Kami menyajikan musik bagus dengan kualitas suara yang bagus pula, tapi dapat dibeli dengan harga murah.” papar Otong, menjelang syuting video klip yang disutradarai Rizal Mantovani.

Blacklight hine On, secara musikalitas memang snagat spektakuler. Namun yang tak kalah hebat adalah pengemasan lirik-lirik khas yang ditulis Otong. Beberapa lagunya, “Kenyataan dalam Dunia Fantasi”, “Semoga Kau Sembuh”, “Ajaran Moral Sesaat”, “Aku Lupa Aku Luka”, dan “Hanya Tinggal Kita Berdua” banyak menyoroti ketimpangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Otong yang menulis semua syair memberikan komitmen, “Kita butuh sesuatu untuk bangsa ini. Dari sinisme yang saya kemukakan di beberapa lagu awal, akhirnya toh saya tetap akan membela negara ini, apapun akibatnya.” Selain menggratiskan CD mereka, Koil juga membagikan manuscript pale ditunggu pecinta musik bawahtanah ini dalam format MP3. untuk mempromosikan manuscript mereka, Koil juga menggelar serangkaian tur mulai Nov di Jakarta, Bandung, Yogyakata, Surabaya, dan Denpasar.

***

Namun, itu adalah kini. Jauh sebelumya, Koil yang didirikan tahun 1993 oleh Otong, Doni, Imo, dan Leon dirintis dari awal di titik nol. Band yang sejak awal berdiri memutuskan memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri itu, merekam 8 lagu mereka dan merilisnya dalam singular berjudul Demo From Nowhere dalam format kaset yang dijual terbatas, hanya di Studio Reverse.

Musik Koil adalah musik stone yang dipenuhi sampling suara yang tidak hanya berasal dari instrumen musik tapi juga dari suara-suara yang ada di sekitar kita seperti suara air, besi dipukul, suara-suara binatang, suara orang pidato, dan lain-lain. Dari segi lirik, penulisan lirik-lirik yang mengekspresian rasa marah, kegelapan dan cinta, dituangkan dalam bait-bait lirik berbahasa Indonesia yang tertata apik. Ini adalah suatu nilai and karena lirik bahasa Indonesia masih jarang dipakai untuk jenis musik stone seperti Koil. Hal inilah yang menarik perhatian Budi Soesatio dari tag Project Q untuk merilis album-album Koil. Maka Sep 1996, KOIL merilis full manuscript pertama yang berjudul Koil. Lagu-lagunya sebagian diambil dari singel Demo From Nowhere. Album ini mendapat tanggapan positif dari khalayak musik Indonesia terutama pencinta musik rock, karena musik dan liriknya dianggap tonggak baru dalam kancah musik stone Indonesia.

Tahu 1998 Koil keluar dari Project Q dan merilis singel Kesepian ini Abadi di bawah tag Apocalypse Record, tag yang dibuat oleh Otong (Koil) dan Adam (Kubik). Kaset ini diedarkan melalui jaringan distro-distro bawahtanah yang saat itu sudah mulai banyak bermunculan di kota-kota besar. Seiring dengan itu, Koil mencoba konsep baru dalam pertunjukannya, yaitu dengan memasukan unsur-unsur lain dalam pertunjukannya yaitu fashion dan tarian. Kostum dari kulit, berwarna hitam, penuh asesoris logam, boots tinggi, ditambah dengan aksi para penari wanita berpakaian seksi membuat pertunjukan musik Koil menarik dan berbeda dengan yang lain. Koil sempat bereksperimen meremix lagu-lagu Puppen, Burgerkill, dan Jasad, serta ikut dalam berbagai kompilasi sebelum akhirnya merilis Megaloblast, bulan Februari 2001 di bawah tag Apocalypse Record. Saat pertama dirilis, distribusi kaset ini dilakukan hanya lewat jaringan distro-distro bawahtanah di Jakarta dan Bandung, pemesanan melalui pos, dan beberapa toko kaset.

Cara ini ditempuh oleh Koil untuk menekan biaya distribusi. Sementara untuk promo, Koil membuat poster-poster dan baligo yang di pasang di jalan-jalan utama—untuk promosi ini, Koil dibantu banyak pihak seperti distro-distro, radio, majalah, restoran—serta memaksimalkan penggunaan internet. Koil juga membuat video klip lagu “Mendekati Surga” dan mengirimkannya ke MTV. Tak disangka ternyata sambutan dari khalayak sangatlah antusias. MTV—kala itu belum menayangkan klip rope indie—menyebutkan respon terhadap klip Koil bahkan lebih besar daripada klip Linkin Park. Hal itu membuat pihak MTV mengundang Koil untuk tampil dalam acara MTV Musik Award 2003.

Megaloblast kemudian dirilis ulang oleh Alfa Records bulan Desember 2003 dengan penambahan dua lagu remix dan pendistribusian luas mencakup seluruh Indonesia. Terjadi juga perubahan design kover menjadi berwarna hitam gelap. Karenanya, manuscript ini sering disebut juga sebagai manuscript Megaloblack. Untuk promo, Koil menambah dua klipnya, yaitu untuk lagu “Kita Dapat Diselamatkan” dan “Dosa Ini Tak Akan Berhenti.” Prestasi Koil ini mendapat perhatian dari majalah Times Asia, sehingga dalam salah satu tulisannya menyebut Koil sebagai salah satu rope stone masa depan Indonesia.

Juni 2005, Koil merilis 2 buah singel terbarunya yang berjudul “Hiburan Ringan Part 1” dan “Hiburan Ringan Part II.” Singel ini masuk dalam soundtrack film horor berjudul 12:00 AM. Masih di bulan yang sama, Koil membuat klip dari lagu “Hiburan Ringan Part II” dan akhirnya Sep 2007 Koil merilis semua lagu-lagunya dalam manuscript fenomenal Blacklight Shine On.

Scene Bandung

Studio Reverse, tempat di mana Koil pertama kali menitipkan demo mereka untuk dijual, dapat dikatakan sebagai salah satu tonggak kebangkitan stage musik bawahtanah Bandung. Studio ini berdiri tahun 1994, oleh Richard Mutter—saat itu drummer PAS—Dxxxt, dan Helvi Syarifuddin. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris impor lainnya. Richard membangun tag independen 40.1.24, rilisan pertamanya adalah kompilasi CD “Masaindahbangetsekalipisan” tahun 1997, berisi band-band indie masa itu, antara lain Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya rope asal Jakarta. Dapat dikatakan, masa-masa inilah tonggal awal populerisasi wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan.

Melalui wacana DIY pula Richard dan bandnya PAS pada tahun 1993, PAS menorehkan sejarah sebagai rope Indonesia yang pertama kali merilis manuscript secara independen. Mini manuscript mereka Four Through The S.A.P sebanyak 5000 kaset ludes terjual dalam waktu singkat. Kesuksesan PAS tak lepas dari peran ‘mastermind’ yang melahirkan ide merilis manuscript PAS secara independen tersebut. Ia adalah (alm) Samuel Marudut, Music Director Radio GMR, stasiun radio di Bandung yang khusus memutar musik rock/metal. Radio ini juga memiliki module khusus memutarkan demo-demo rekaman band-band stone amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Band yang juga kemudian memanifestasikan wacana DIY sejak awal kemunciulan merka dan konsisten adalah Puppen, Pure Saturday, dan Kubik.

Beberapa tahun sebelum berdirinya Puppen, terdapat komunitas lain yang berkumpul di lantai 3 pusat pertokoan Bandung Indah Plaza. Komunitas ini menamakan diri Bandung Death Metal Area, atau Badebah, kebanyakan adalah para pecinta musik thrash, genocide metal, dam grindcore. Pionir komunitas ini adalah Uwo, vokalis rope Funeral, rope yang berdiri Sukaasih, Ujungberung. Badebah berkembang pesat. Yang ikut nongkrong kemudian bukan cuma anak-anak metal, tapi juga berbaur dengan punks, hardcore, dan lain-lain. Marchell, penabuh drum Puppen di dua manuscript awal mereka adalah salah satu anggota Badebah yang termuda. Selain Funeral, rope yang juga tergabung dalam komunitas ini adalah Necromancy dan Jasad. Sementara itu di Kota Bandung secara umum, rope yang seangkatan dengan Funeral adalah Rebels Youth, Succubuss, Insanity, dan Mortir. Badebah juga sempat menjadi module siaran radio Salam Rama Dwihasta di Sukaasih, Ujungberung antara tahun 1992 hingga 1993. Program ini bahkan memiliki rating yang tinggi. Dalam seminggu para penyiar kita—Agung, Dinan, Uwo, Iput—bisa mendapatkan surat dan kartu pos lebih dari dua ratus hingga tiga ratus pucuk.

Di sudut lain, anak-anak Ujungberung yang lebih muda, mulai membentuk komuitas sendiri-sendiri atau bergabung dengan komunitas-komunitas steel yang baru lahir saat itu. Mereka nongkrong di Jogja Kepatihan, Kings, dan Palaguna. Semakin intens bertemu, mereka kemudian sepakat membentuk organisasi pecinta steel ekstrim. Organisasi tersebut kemudian berdiri dengan nama Bandung Lunatic Underground (BLU) tahun 1993. Sosok di baliknya antara lain adalah scenester Ipunk, Romy, Gatot, Yayat, dan Dani.

Di Ujungberungnya sendiri, komunitas kemudian berkembang. Sebelunya di sana sudah ada rope Orthodox yang didirikan Yayat (Revolt! Records), Dani (Jasad), AyiOto (Sacrilegious), dan Agus (Sacrilegious) tahun 1988. Band-band kemudian tumbuh semakin subur di Ujungberung ketika Studio Palapa berdiri. Band-band Ujungberung pula yang kemudian rajin merilis manuscript mereka secara independen. Dari sepuluh rilisan stage indie Indonesia tahun 1995 yang berhasil didokumentasikan Majalah Hai, tiga rilisan di antaranya berasal dari Ujungberung, mereka adalah Sacrilegious degan manuscript Lucifer’s Name Be Pray, Sonic Torment manuscript Haatzaai Artikelen, dan Jasad dengan manuscript C’st La Vie. Pergerakan stage Ujungberungan semakin plain ketika mereka membentuk organisasi jaringan kerja sama komunitas steel Indonesia, Exteme Noise Grinding (ENG). Program ENG adalah melakukan promotion pergelaran musik Ujungberung yang kemudia kita kenal dengan Bandung Berisik, dan membuat zine. Revograms edisi pertama, Maret 1995 buatan ENG disebut-sebut sebagai zine pertama di stage musik bawahtanah Indonesia.

Ujungberung segera menjadi episentrum musik steel bawahtanah Bandung, bahkan Indonesia. Dinamika perkembangan mereka didukung penuh oleh studio latihan da rekaman, Palapa Studio yang dirintis oleh kang Memet Sjaf. Bersama Yayat, Kang Memet pula yang kemudian membangun karakter sound awal Ujungberungan yang khas dan powerfull. Dari studio ini juga lahir band-band yang kini menjadi ikon stage musik steel bawahtanah yang lahir setelah epoch Orthodox-Funeral-Necromancy-Jasad. Mereka adalah Three Side of Death, Analvomit, Disinherit, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Forgotten, Burgerkill, Naked Truth, Embalmed, Beside, dan sebagainya.

ENG kemudian melebur menjadi lebih cair. Program kegiatan perahan beralih secara alami sesuai dengan kebutuhan saat itu : kru pendukung band-band yang manggung. Maka dimulailah tradisi pembinaan kru di Ujungberung. Mereka kemudian disebut sebagai Homeless Crew, nama yang dibuat oleh Ivan Scumbag, Kimung, dan Addy Gembel sebagai manifestasi dari menolak gaya hidup mapan. Gaya hidup jalanan kemudan mewarai keseharian dan pada giliranya, pola pikir Homeless Crew. Sementara itu, semakin intensnya anak-anak Homeless Crew belajar sound dan alat-alat, memuat mereka semakin bergairah unutk membentuk band. Hingga tahun 1997 setidakya ada enam belas rope di Homeless Crew. Mereka sepakat untuk mengumpulkan karya mereka dalam satu komplasi yang mereka namakan Ujungberung Rebels. Tahun 1998 kompilasi itu dirilis oleh Independen Records dengan judul Independen Rebels. Kompilasi ini mendapat sorotan yang baik dari berbagai kalangan. Anak-anak Homeless Crew joke pelan-pelan punya sebutan baru untuk komunitasnya : Ujungberung Rebels.

Pada masa ini, di daerah perkotaan pertumbuhan stage musik indie juga semakin pesat. Berbagai genre lahir dan berkembang, berbagai pertunjukan musik bawahtanah silih berganti digelar di gedung pergeraran musik bawahtanah saat itu, Gor Saparua. Tak tanggung-tanggung hampir setiap minggu sejak Hullaballo I—event musik bawahtanah pertama di Kota Bandung tahun 1994—pertunjukan musik bawahtanah digelar. Namanya macam-macam, Bandung Underground, Gorong-Gorong Bandung, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer, Master of Underground, dan lain-lain. Pergelaran ini stereotip : menampilkan band-band lokal Bandung, kadang juga mengundang band-band luar Bandung, yang memainkan jenis musik berbeda-beda. Dari panggung inilah besar band-band ikonik semacam Puppen, Jasad, Burgerkill, Forgotten, Sacrilegious, Full of Hate, Pure Saturday, Closeminded, Koil, Motordeath, Noise Damage, Hellgods, Homicide, Nicfit, Rutah, The Clown, Turtles Jr., Noin Bullet, Agent Skins, Jeruji, Helm Proyek, Cherry Bombshell, Sieve, dan lain-lain.

Perlahan setiap komunitas kemudian membangun sebuah jejaring yang mewarnai seluruh aspek kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. Wujud dari jaringan ini adalah maraknya ompilasi yang dirilis tag dalam indie dalam negeri maupun luar negeri yang menyertakan band-band lokal. Tidak berhenti di situ, tahun 1999, FastForward Records merilis beberapa manuscript rope luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries (Jepang). Pada kelanjutannya, malah band-band internal Bandung yang kemudian banyak dirilis tag asing. Beberapa di antaranya adalah Forgotten, Jasad, Homicide, Domestik Doktrin, dan yang pale aktual adalah Bugerkill.

Perkembangan rope yang menggembirakan ini juga ditambah dengan mulai maraknya pembuatan merchandise yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan industri kloting di Kota Bandung. Bisnis distro kecil-kecilan yang telah dirintis Reverse menelurkan banyak embrio lain. Maka kemudian lahirlah klotingan dan distro seperti Rebellion Shop, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, Riotic, Anonim, Harder, Monik, dan sebagainya. Kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan stage anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan sebagainya.

Selain musik, olah raga ekstrim, dan fashion, literasi juga berkembang pesat di Kota Bandung. Sejak kemunculan Revograms tahun 1995, puluhan zine—media berbagi informasi dan berkomunikasi antar komunitas berupa selembaran atau majalah kecil format fotokopian—lahir bagai jamur di musim hujan. Dapat dikatakan, epoch zine bisa disebut sebagai kebangkitan kedua literasi Bandung setelah epoch Majalah Aktuil tahun 1970an yang dibangun oleh Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado. Zine-zine ini diedarkan di distro-distro. Ada yang gratisan, ada juga yang dijual. Isinya memuat berbagai kabar dan isu mengenai dinamika komunitas yangbersangkutan dengan zine dan stage indie Bandung, Indonesia, dan internasional secara umum.

Tak lama setelah kemunculan Revograms, kemudian lahirlah fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie Bandung. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley akhirnya kolaps tahun 2002, sementara Ripple berubah dari slot repository ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis.

Pada masa pertengahan1990an hingga tahun 2000an, ketika industri conform masih dalam taraf perkembangan, distro-distro masih menyediakan ruang bagi scenester untuk saling bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi informasi. Distro menjadi semacam ruang sosial tempat bertemu komunitas dan tempat peredaran zine. Ini terlihat dari isi zine yang hampir semuanya memuat kabar-kabar berkaitan dengan dinamika komunitas. Ketika orientasi distro tahun 2000an semakin meleceng dari pendukungan dinamika komunitas menuju ‘dagang murni’, ruang-ruang diskusi semakin terbatas. Zine joke bermutasi bentuknya, bukan lagi media promotion pengembangan komunitas, tempat berbagi informasi, dan saling berkomunikasi, tetapi hanya berperan sebagai katalog dagang semata.

Namun demikian, hal itu tak mengganggu teakd pengembangan literasi di stage bawahtanah Bandung. Puncaknya adalah tahun 2000an dengan berdirinya toko-toko buku yang diawali dengan berdirinya Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Tempat-tempat diskusi dan ruang peredaran zine yang dulu menggunakan ruang-ruang distro, kini beralih ke toko buku. Selain toko buku, yang kemudian berkembang adalah penerbitan independen yang tumbuh dari kultur komunitas musik. Minor Books adalah salah satu penerbitan yang berkomitmen mengangkat karya-karya dan sejarah komunitas. Buku terbitannya, Myself : Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung tahun 2007 dapat disebutkan sebagai karya pertama yang mendokumentasikan stage musik bawahtanah secara komprehensif dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Yang patut dicermati adalah bahwa buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian buku trilogi sejarah stage bawahtanah Bandung yang akan digarap Minor Books. Buku kedua rencananya berjudul Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, dan buku ketiga rencananya Bawahtanah Bandung 1980-2010.

Sementara itu, perkembangan fashion di Kota Bandung ternyata tak tumbuh hanya di kloting saja. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik menyumbangkan hal yang besar bagi dinamika pertumbuhan fashion. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, Pasar Seni ITB, Dago Festival sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan engine yang sering muncul dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung memfasilitasi orang-orang Bandung untuk keluar rumah dan mempertontonkan dirinya. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak. Selain itu, warga Kota Bandung juga mendapatkan sarana conform daur ulang di wilayah Tegalega yang konon dihuni sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ’95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain (daerah Gedebage, Ujungberung), tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan conform di kota Bandung.

Sementara itu, sebuah fenomena baru merebak di awal tahun 2000an ketika Gor Saparua akhirnya dilarang digunakan untuk konser-konser musik. Setelah itu, pertunjukan musik bawahtanah juga semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam soal dana. Dapat dikatakan ini adalah sebuah fase yang pale memprihatinkan dalam perkembangan stage musik indie Bandung di mana kota yang dinasbihkan sebagai barometer musik Indonesia ini ternyata sama sekali tak mempunyai sarana yang memadai sebagai gedung konser, juga tak memiliki regulasi yang baik yang dapat mengembangkan potensi seni warga masyarakatnya. Pergelaran yang kemudian marak adalah pergelaran setingkat pensi-pensi yang umumnya menyasar musik-musik yang lagi tren. Pertengahan tahun 2000 stone n’ hurl complicated dan emocore semakin merajai panggung-panggung musik Bandung.

Namun demikian, militansi kaum bawahtanah bagaikan tak ada habisnya. Tak bisa manggung di kelas Saparua, stage ini muali bergerak perkomunitas. Mereka menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil, di tempat-tempat yang lebih kecil, dengan audiens yang lebih sedikit, eksklusif, dari mereka-oleh mereka-untuk mereka. Bebrapa tempat yang sering digunakan adalah TRL Bar di Braga, diskotik Nasa di Jalan Asia Afrika, dan Gedung AACC di Braga. Pertunjukan-pertunjukan juga kadang digelar di ruang-ruang inisiatif semacam Commonroom, selain juga curi-curi di ruang publik manapun yang mau bekerja sama dengan komunitas. Anak punk misalnya, biasa menggelar gigs di Villa Putih, Lembang. Atau anak-anak Ujungberung Rebels dengan faksi baru mereka Bandung Death Metal Syndicate yang menggelar Bandung Deathfest berkolaborasi dengan kelompok kaum adat Sunda. Ujungberung Rebels sendiri adalah satu-satunya komunitas bawahtanah yang mendapatkan pengakuan sebagai kampong adjust oleh kelompok adat Sunda. Mereka diberi nama “Kelompok Kampung Sunda Underground.”

Untunglah, kondisi yang tidak kondusif ini diimbangi dengan berkembangnya teknologi media dan informasi. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream dan produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan practical yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV joke setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa rope subterraneous Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional joke tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari kloting lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung joke biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Pertumbuhan ini ternyaa tidak berbanding lurus dengan penyediaan sarana-sarana yang dapat menunjang kreativitas anak muda Bandung untuk terus berkarya. Tidak adanya gedung konser lambat laun terasa menjadi kendala yang menghambat perkembangan dinamika musik di Kota Bandung. Hal ini kemudian mencuat ketika tanggal 9 Februari 2008, sebelas orang penonton meninggal di pergelaran rising manuscript rope Beside di Gedung AACC. Selama konser, semua berjalan dengan sangat tertib hingga akhirnya dua puluh menit setelah konser berakhir dan para penonton yang berebut untuk keluar bentrok dengan para penonton yang berebut ingin masuk ke dalam locus pertunjukan tanpa tahu kalau gig telah berakhir. Akhirnya, sebelas orang mati lemas dan terinjak-injak dalam tragedi tersebut.

Tragedi ini pada kelanjutannya membukakan mata banyak pihak bahwa betapa kita sudah terlalu asyik sendiri tanpa menyadari jika komunitas ini semakin berkembang dan perlu untuk dibina. Betapa komunitas ini semakin besar dan karenanya diperlukan sebuah ruang yang lebih besar untuk menunjang perkembangan mereka. Tragedi ini juga kemudian dijadikan sebagai ajang konsolidasi antar komunitas kreatif di Kota Bandung untuk maju bersama dalam sebuah pergerakan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang inklusif, integratif, aplikatif, dan strategis. Dua di antara banyak sekali simpul yang terbentuk secara alami dalam proses ini adalah Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Bandung Creative City Forum (BCCF) yang di dalamnya terdiri dari komunitas berbagai disiplin keilmuan, dari musisi, perupa, penulis, teknokrat, desainer, arsitek, bikers, ahli hukum, pengusaha, mahasiswa, aktivis lingkungan, penggiat film dan literasi, kelompok kampung adat Sunda, dan lain-lain. Salah satu manifestasi simpul-simpul komunitas ini adalah digelarnya Helarfest 2008 yang merupakan sebuah rangkaian 31 eventuality yang diikuti komunitas-komunitas kreatif Kota Bandung yang digelar sepanjang Juli hingga Agustus 2008.

Scene Jakarta

Di Jakarta, komunitas song bawahtanah pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal—demikian mereka disebut karena saat itu istilah ‘underground’ atau ‘indie’ masih belum popular—biasa nongkrong di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Krisna J. Sadrach pentolan Sucker Head mengenang, anak-anak yang nongkrong di sana oleh Tante Esther, pemilik Pid Pub, sering diberi kesempatan untuk bisa manggung. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live uncover dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik stone atau metal. Beberapa rope pasti tak asing bagi kita, seperti Roxx, Sucker Head, Commotion Of Resources, Painfull Death, Rotor, Razzle, Parau, Jenazah, Mortus hingga Alien Scream. Beberapa rope kemudian bereinkarnasi di sini, misalnya Commotion Of Resources yang merupakan cikal bakal Getah dan Parau yang merupakan embrio Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama sutradara Rudi Soedjarwo. Rotor sendiri dibentuk tahun 1992 setelah Irvan Sembiring merasa kurang ekstrim bermain di Sucker Head.

Saat itu, Jakarta juga memiliki stasiun radio yang khusus memutarkan lagu-lagu stone dan metal. Radio tersebut adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya, Radio SK, dan yang pale legendaris, Radio Mustang. Mereka punya module bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot trounce steel Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain radio, media massa yang kerap mengulas berita-berita rock/metal pada waktu itu adalah Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Tempat nongkrong yang lain adalah di pelataran Apotik Retna, daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng anak-anak steel ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Ayu Azhari bahkan sempat dipersunting (alm) Jodhie Gondokusumo (vokalis Getah dan Rotor) menjadi istri. Lokasi lainnya adalah, tentu saja, Studio One Feel. Hampir semua band bawahtanah Jakarta pasti pernah berlatih di sini. Sementrara itu, tempat khusus manggung selain Pid Pub adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Caf). Di luar itu, di pale pentas seni SMA dan acara musik kampus band-band bawahtanah Jakarta sering unjuk gigi kemampua mereka. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong), dan Universitas Jayabaya (Pulomas).

Konser Sepultura (1992) dan Metallica (1993) di Jakarta memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band steel sejenis, terutama di Jakarta. Banyak band-band bawahtanah kemudian dilirik mayor tag dan dirilis albumnya. Di antaranya adalah Roxxx self-tittled, Rotor manuscript Behind The 8th Ball (AIRO), dan Sucker Head dengan manuscript The Head Sucker.

Setelah epoch inilah baru benar-baner terbentuk scene-scene bawahtanah dalam arti yang sebenarnya di Jakarta. Konsolidasi stage sering dilakukan di lantai 6 diversion core Blok M, di sebuah resto waralaba, dan sebagian lainnya memilih nongkrong di groundwork Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah. Aktifitas mereka selain nongkrong dan bertemu kawan-kawan sehasrat adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan global, trade CD, jual-beli t-shirt, hingga merencanakan pergelaran konser. Di epoch ini hype musik steel digandrungi adalah genocide metal, heartless genocide metal, grindcore, black steel hingga gothic/doom metal. Beberapa rope yang tumbuh dari stage ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan masih banyak lagi. Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai rope yang pertama kali merilis mini manuscript secara independen di Jakarta dengan judul It’s A Proud To Vomit Him.

Tahun yang sama juga mencatatkan kelahiran fanzine musik bawahtanah pertama di Jakarta, Brainwashed Zine yang dirilis oleh Wenk Rawk. Edisi pertamanya terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil rope Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis sistem operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ pulp tradisional, Brainwashed diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara Wenk Rawk. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk, bahkan ska. Tahun 1997, Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Brainwashed hanya bertahan hingga edisi ke tujuh tahun 1999, sebelum akhirnya di tahun 2000 Wenk Rawk menggagas e-zine di internet dengan nama www.bisik.com. Media-media yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta adalah Morbid Noise zine, Gerilya zine, Cosmic zine, dan Rottrevore zine. Rottrevore merupakan kerja sama Rio dari Jakarta dengan Ferly, scenester pionir Ujungberung Rebels.

Tanggal 29 Sep 1996 adalah tanggal bersejarah bagi stage musik bawahtanah Jakarta. Hari itu, Poster Caf milik rocker gaek Ahmad Albar pertama kali menggelar acara musik bawahtanah “Underground Session”. Acara ini kemudian dirutinkan tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Dari caf inilah kemudian lahir rope indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif, hingga ke ranah musik brit/indie pop, hingga ska. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang kenyang’ manggung di sana. Dari Bandung, Burgerkill adalah salah satu langganan Poster Caf. “Underground Session” Poster Caf juga yang merupakan panggung stage bawahtanah bagi Burgerkill.

Setelah kerusuhan besar akibat bentrok anak-anak punk dengan warga dan kepolisian dalam acara Subnormal Revolution tanggal 10 Maret 1999, Poster Caf akhirnya ditutup. Tutupnya Poster Caf di luar dugaan malah menyuburkan venue-venue alternatif bagi masing-masing stage musik indie. Caf Kupu- Kupu di Bulungan misalnya identik dengan stage musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 caf dan Caf Gueni di Cikini untuk stage Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga stone yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang pale netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Caf yang terletak di groundwork Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat inilah, 13 Januari 2002, Puppen menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”.

Scene Yogyakarta

Para scenester Yogyakarta ternyata tidak ketinggalan dalam mengembangkan stage indie di kotanya. Berbagai komunitas tumbuh di kota ini antara awal hingga pertengahan tahun 1990an, mulai dari komuitas musik metal, punk, hardcore, musik elektronik, dan industrial. Salah satu komunitas yang pale menonjol mungkin adalah Jogja Corpse Grinder. Dari tangan scenester-scenester komunitas inilah, sempat lahir fanzine steel Human Waste, majalah Megaton, serta pergelaran musik steel bawahtanah legendaris di Yogyakarya, Jogja Brebeg. Dari pergelaran-pergelaran musik steel bawhatanah yang digelar komunitas inilah kemudian lahir band-band steel bawahtanah lawas yang kemudian mewarnai stage kota ini. Mereka antara lain adalah Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, dan Ruction.

Menginjak tahun 1997, stage punk, hardcore, industrial di Yogyakarta mulai bernai menampakkan taringnya. Sebutlah band-band yang kemudian begitu menginspirasi kaum-kaum muda di Yogyakarta seperti Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang pale terkini, Endank Soekamti. Di ranah stage indie rock/pop, beberapa nama yang patut di beri prominence adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop, sampai The Monophones. Dari Yogyaarta pula lahir rope ska yang sangat keren, Shaggy Dog. Band yang dikontrak Sony ini pernah juga menjajal panggung Eropa dalam tur Eropa mereka selama tiga bulan penuh!

Dalam hal pergelaran musik, selain Jogja Brebeg, Yogyakarta juga tercatat memiliki pergelaran khas lainnya, yaitu Parkinsound. Gelaran ini adalah ajang unjuk gigi band-band yang menganut aliran musik elektronik. Bisa dikatakan, Parkinsound merupakan festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Beberapa rope yang besar dari festival Parkinsound adalah Bangkutaman, hingga Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch dan Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene musik bawahtanah Surabaya mulai tumbuh subur sejak lahirnya band-band independen beraliran genocide steel dan grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Band-band ini tumbuh dari kultur festival tahunan Surabaya Expo di mana band-band steel bawahtanah seperti Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, dan Bushido manggung di sana. Surabaya Expo pada kelanjutannya ternyata mempersatukan band-band tersebut. Setelah eventuality itu, band-band tersebut sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen.

Organisasi ini bermarkas di daerah Ngagel Mulyo, bertujuan untuk mewadahi band, sekaligus menjadi pemersatu dan sarana sosialisasi informasi antara musisi, band-band, atau pecinta msuik steel bawahtanah. Markas Independen juga merupakan sebuah studio milik rope steel berpersonil cewek semua, Retribeauty, di mana band-band steel bawahtanah Surabaya sering berlatih di sana. Anggota-anggota organisasi merupakan cikal bakal terbentuknya stage bawahtanah steel di Surabaya di masa-masa selanjutnya. Organisasi ini sangat serius dalam mengembangkan komunitasnya. Mereka malah memiliki divisi tag rekaman sendiri. Independen juga sempat merencanakan sebuah pergelaran msuik steel bawahtanah se-Surabaya di taman Remaja, namun kismet kurang konsolidasi ke dalam organisasi, terpaksa rencana pergelaran ini batal. Independen sendiri kemudian bubar bulan Desember 1997 ketika dinamika musik bawahtanah Surabaya semakin hebat. Organisasi ini dibubarkan sebagai upaya memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya Independen, divisi record tag mereka tercatat sempat merilis beberapa buah manuscript milik band-band genocide metal/grindcore Surabaya, misalnya entrance manuscript milik Slowdeath yang berjudul From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction, Sep 1996, entrance manuscript Dry berjudul Under The Veil of Religion yang rilis tahun 1997, manuscript Carnal Abuse milik Brutal Torture, Wafat manuscript Cemetery of Celerage, dan entrance manuscript Fear Inside yang berjudul Mindestruction. Tahun-tahun berikutnya barulah bawahtanah steel di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan manuscript milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Organisasi pecinta steel ekstrim setelah Independen adalah Surabaya Underground Society (SUS). Organisasi ini dideklarasikan tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 1945, saat diselenggarakannya pergelaran Amuk I. Hingga saat itu, Surabaya sedang demam rope black metal. Bahkan salah satu pionir genocide steel Surabaya, Dry, berubah aliran musik menjadi black steel dan semakin memberikan nuansa baru di kancah musik bawahtanah Surabaya. Masa ini black steel menguasai stage musik steel bawahtanah Surabaya.

Merasa semakin kuat, anak-anak black steel Surabaya meutuskan untuk memisahkan diri dari SUS dan mendirikan organisasi tersendiri khusus untuk anak-anak black metal. Organisasi anak-anak black steel tersebut akhirnya berdiri dengan nama Army of Darkness, bermarkas di daerah Karang Rejo. Organisasi ini juga yang kemudian menyebabkan SUS bubar beberapa bulan setelah deklarasi pendiriannya. Army of Darkness juga menyumbangkan semagat indie kepada stage musik bawahtanah Surabaya. Didukung oleh massa yang sangat banyak, black steel kemudian mendominasi stage ekstrem steel di Surabaya. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black steel karena banyaknya jumlah rope black steel yang muncul. Tercatat kemudian eventuality black steel yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of Darkness we dan Army of Darkness II.

Berbeda dengan black metal, band-band genocide steel selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Namun tak berarti pergerakan mereka melempem. Di bulan Sep 1997 Amuk II kembali digeber, kini digelar di di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai eventuality pale sukses di Surabaya kala itu. 25 rope genocide steel dan black steel dari dalam dan luar kota tampil memeriahkan gelaran itu sejak pagi hingga bruise hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang.

Dengan dinamika tersebut, anak-anak genocide steel kembai terpacu untuk membuah sebuah wadah perkumulan pecinta genocide steel yang baru. Tanggal 1 Juni 1998 berdirilah komunitas bawahtanah Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada, kawasan Jl. Prof. DR. Moestopo. Di sinilah mereka bergabung membuat divisi-divisi pengembangan komunitas mereka sendiri. Ada distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet, serta event-event organizer yang secara intens menggarap berbagai pergelaran musik bawahtanah Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop a Madness, Tegangan Tinggi we dan II, hingga Bluekhutuq Live. Dari pergelaran-pergelaran musik tersebut kemudian mencuat nama-nama yang kini tak asing lagi bagi kita, seperti Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, dan Bluekuthuq. Inferno 178 juga menggagas terbitnya fanzine Surabaya bernama Post Mangled yang pertama—dan terakhir—kali terbit sebagai sebuah isu di pergelaran Tegangan Tinggi we di kampus Universitas Airlangga. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah eventuality black metal.

Karena Post deformed tak juga terbit, para scenester Surabaya kemudian menerbitkan Garis Keras Newsletter sebagai antisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene. Newsletter ini terbit pertama kali bulan Februari 1999 dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman. Isinya mengulas berbagai aktivitas musik bawahtanah metal, punk hingga hardcore di tingkat internal Surabaya dan Indonesia, serta scee tellurian dunia. Garis Keras Newsletter bertahan hingga edisi ke dua belas.

Di ranah label, hingga tahun 2000 Inferno 178 masih menggunakan nama Independen sebagai nama tag mereka. Memasuki tahun 2000 tag Inferno 178 Productions resmi memproduksi manuscript rope punk tertua di Surabaya, The Sinners denga albumnya Ajang Kebencian. Selanjutnya tag Inferno 178 Production ini kemudian lebih terfokus untuk menggarap rilisan-rilisan berkategori non-metal. Untuk mendukung rilisan manuscript band-band steel Surabaya, mereka membentuk sebuah tag tersendiri yang diberi nama Bloody Pigs Records. Label rekaman ini diurus oleh Samir, kini gitaris Tengkorak, dengan manuscript kedua Slowdeath yang berjudul Propaganda sebagai proyek pertamanya. Proyek ini kemudian dilengkapi dengan pergelaran konser promo tunggal Slowdeath di Caf Flower bulan Sep 2000.

Scene Malang

Scene musik bawahtanah Malang muali bagkit dari kubur sejak awal hingga pertengahan tahun 1990an. Tak namun, tak diragukan kebangkitan stage steel bawahtanah lah yang pertama kali enstimulasi pergerakan stage indie di Malang. Adalah komuntas musik steel bawahtanah Total Suffer Community (TSC) yang menjadi engine penggerak bagi kebangkitan komunitas stone bawahtanah di Malang sejak awal 1995. Disebut-sebut juga, pergerakan stage musik bawahtanah Malang sangat mirip dengan dinamika stage yang terjadi di Kota Bandung. Hal ini dpat ditelaah dari persamaan kondisi kedua kota. Baik Malang maupun Bandung sama-sama beriklim sejuk, didesain oleh desainer kota yang sama untuk kepentingan pemukiman orang Eropa dan pusat kegiatan militer, dan ini : banyak scenester Malang yang digembleng langsung di kantung-kantung komunitas musik bawahtanah Bandung decade awal dan pertangahan 1990an.

Sebut saja Samack yang sempat “magang” di Ujungberung serta klaster-klaster lain seperti Cihapit, Cihampelas, dan Tamansari—pusat-pusat steel di Kota Bandung. Atau scenester lain seperti Afril, Budi, dan Arfan yang setia berhubungan dengan scenester-scenester Bandung di masa-masa awal kebangkitannya. Merekalah yang kemudian membangun TSC yang merangkul seluruhpecinta redolence steel secara umum. Alhasil, anggota TSC terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, walau tetap saja didominasi anak-anak metal. Konser stone bawahtanah yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Bawahtanah tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai, Ritual Orchestra, Sekarat, Knuckle Head, Grindpeace, No Man’s Land, The Babies, dan juga band-band asal Surabaya seperti Slowdeath dan The Sinners.

Beberapa rope Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor character heartless genocide steel di Indonesia. Album entrance mereka yang berjudul Maggot Sickness saat itu menggemparkan stage steel di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali karena komposisinya yang plain dan kualitas rekamannya yang top.

Belakangan rope ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast Zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis rope Grindpeace yang kemudian eksis di rope crust-grind gawat, Extreme Decay. Kini, arek-arek Malang punya webzine sendiri yang digagas para pionir tadi. Namanya www.apokalip.com yang menawarkan tempat lebih luas untuk berbagi informasi dan menjalin komunikasi antara sesame scenester di manapun berada.

Scene Bali

Tak jauh dengan di Bndung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, di Bali joke yang menjadi engine penggerak dinamika perkembangan stage bawahtanah, maka kita akan melihat stage metallah yang pertama kali menyodok permukaan. Salah satu komunitas steel awal yang lahir di Bali adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Di sinilah para scenester awal seperti Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo berkumpul dan membangun stage Bali. Dede adalah editor majalah steel Megaton yang terbit di Yogyakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine steel Indonesia Corpsegrinder (kemudian hijrah ke Anorexia Orgasm), Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali sejak tahun 1998, dan Moel adalah gitaris sekaligus vokalis rope genocide steel etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser bawahtanah di sana. Nama “1921” diambil dari durasi siaran module musik steel mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise, tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser musik bawahtanah besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- rope luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Yogyakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival stone bawahtanah tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah rope punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi rope punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 manuscript oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang mount out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis manuscript ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki epoch 2000-an stage indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau rope putera daerah’ joke sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara stone reguler di tempat ini.

Yang fenomenal mungkin adalah pencapaian Rudolf Dethu, sosok scenescter kawakan dari Bali yang sukses membawa S.I.D, rope punk rockabilly dari Bali dari rope kecil kelas indie menjadi raksasa punk nomer satu di Indonesia saat meriilis manuscript Kuta Rock City dan menjual albumnya sampai 300 ribu keping lewat Sony BMG. Dethu boleh dibilang adalah seorang Malcom McLaren untuk rope Sex Pistols, seorang manajer yang sukses juga membenahi conform dari rope miliknya. Selain karena dirnya adalah pemilik kloting Suicide Glam dengan desain bergaya punk dan rockabilly yang saat ini butiknya tersebar sampai di Australia dan Wurzburg, Jerman.

***

Maka demikianlah, semnagat bawahtanah terus menerus hidup hingga hari ini. Beberapa konsep refleksinya berevolusi dari subterraneous di epoch 1990 awal, ke DIY di epoch 1990 pertengahan, hingga independen/indie di epoch 2000an. Akses internet yang semakin cepat hari ini juga sangat mendukung dinamika perkembangan stage ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan antar komunitas seluruh Indonesia bahkan dunia semakin mudah dan terbuka lebar. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan gaya musik yang lebih beragam. Trend indie tag berlomba-lomba merilis manuscript band-band lokal juga merupakan dinamika yang menggembirakan. Ratusan rope baru lahir, puluhan indie tag ramai-ramai merilis album, ratusan distro/kloting dibuka di seluruh Indonesia, ruang-ruang inisiatif semakin gencar membuaka ranah-ranah kreativitas scene, dan jejaring semakin mantap meneguhkan potensi politik, social, ekonomi, dantentu saja stage ini.

Namun itu adalah hasil. Yang tetap tak boleh dilupakan adalah proses menuju itu semua. Di dalamnya terkandung prinsip kebebasan dalam berkarya, kemandirian dalam mencipta, otonom dalam bersikap, berdiri tegak bicara lantang, dan sisanya, biarlah sejarah yang mencatat semuanya. Seperti kata Jim Morrison, each day is a expostulate thru history

Penulis adalah rekreasioner dan adiktivis akut, editor MinorBacaanKecil dan Minor Books

Bacaan Lebih Lanjut :

Heryanto, Yulli. 2001. Sejarah Musik Underground Bandung, 1990-2000, skripsi. Bandung : Fakultas Sastra, Unpad.

Iskandar, Gustaff H. 2003. “Fuck You, We are From Bandung”, makalah untuk disampaikan di Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi tanggal 20-22 Oktober 2003, pada sesi “Budaya Industri dan Pergulatan Identitas”. www.hetero-logia.blogspot.com

Kimung. 2007. Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Bandung : Minor Books

Pratama, Wahyudi. 2007. A Little “Underground Music History” In Indonesia. www.mumet.shemut.net

. 2006. Sejarah Musik Rock Indonesia. www.first-things-first.blogspot.com

www.apokalip.com

www.burgerkillofficial.com

www.commonroom.info

www.kimun666.wordpress.com

www.megaloblast.blogspot.com

www.musikator.com

www.reno-asnanda.blogspot.com

www.supri-online.com

Pustaka Wayang

‘Ebook’ Wanda Wayang Purwa Gaya Surakarta

Disusun bersama oleh para pengajar ASKI ( Akademi Seni Karawitan Indonesia ) Surakarta, nama-nama nya tertulis di dalam Kata Pendahuluan.

Diterbitkan oleh Sub / Bagian Proyek Akademi Seni Karawitan Indonesia, Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1978 / 1979.

Pindaian ini bisa terlaksana atas bantuan Eko Prasetyo dan Rudy Wiratama Partohardono dari Surakarta yang bisa mengusahakan foto duplicate dari buku ini. Pindai dilaksanakan di Jakarta tanggal 10 Apr 2011 oleh B A Soewirjo.

Kata Pendahuluan di buku tersebut :

Seperti telah kita ketahui, bahwa pakeliran ada juga menggunakan middle pokok “rupa”, selain middle pokok lainnya seperti gerak, suara dan bahasa. Kesemuanya itu saling mendukung keberhasilan sajian. Medium rupa dalam wayang mempunyai unsur tatahan, sunggingan dan wanda.

Di dalam pakeliran “wanda” sebagai salah satu unsur middle rupa, berperan penting untuk memantapkan “rasa” suatu tokoh. Kemantapan ini bisa dicapai karena ada kesesuaian antara suasana adegan dengan wanda tokoh yang digunakan, di samping juga unsur-unsur penting lainnya, yaitu penyuaraan, sanggit, sabet, sulukan dan lain sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa ketetapan seorang seniman dalang memilih “wanda” mempunyai andil dalam keberhasilan sajian.

Untuk jelasnya di sini kami kemukakan contoh-contoh penggunaan “wanda” dari tokoh Baladewa :

- Pada adegan yang bersuasana netral “merdika” ( tidak ada “rasa” susah, marah dan sebagainya) digunakan Baladewa wanda “Paripeksa”.

- Dalam peperangan digunakan Baladewa wanda “Geger”.

- Untuk menghadiri suatu peralatan, Baladewa wanda “Jagong”.

- Dalam suasana marah, terkejut, wanda “Kaget” yang digunakan.

Dengan demikian jelas bahwa penggunaan wanda itu tergantung pada suasana yang ingin didukung. Tentunya penggunaan wanda seperti tersebut di atas adalah didasari oleh kebiasaan konvensionil dalang-dalang pada waktu terdahulu.

Dewasa ini jarang sama sekali seniman dalang memperhatikan masalah ini. Ini bisa kami amati pada consult pendahuluan, yaitu pengamatan terhadap sajian pakeliran, wawancara dengan dalang-dalang muda, adalah jarang memperhatikan masalah wanda tersebut. Salah satu sebab ialah kurangnya informasi tentang wanda.

Keadaan semacam ini perlu disesalkan, apalagi sampai saat ini belum ada sama sekali yang menulis tentang “Wanda Wayang”. Ditambah lagi adanya situasi yang mengkhawatirkan, yaitu makin menyusutnya seniman dalang yang tahu tentang “wanda”, karena usia mereka yang kebanyakan sudah lanjut, yaitu lebih dari 65 tahun.

Dengan pertimbangan tersebut maka kami juga memilih “wanda wayang” sebagai salah satu sasaran pendokumentasian. Karena terbatasnya dana, tenaga dan waktu, kami juga membatasi sasaran pada “wanda wayang purwa gaya Surakarta” yang terdapat di derah eks Karesidenan Surakarta.

Hasil pendokumentasian ini diharapkan bisa merupakan bahan penyusunan “Pengetahuan Wanda Wayang”, untuk melengkapi bahan perkuliahan di Akademi Seni Karawitan Indonesia, khususnya pada Jurusan Pedalangan. Lebih luasnya bagi para calon seniman dan seniman dalang, hasil ini diharapkan juga bisa memacu timbulnya kreativitas dalam sajian.

Daerah sasaran kami pilih yang tersebar, dan memiliki banyak dalang yang berpotensi. Informan kami pilih dalang-dalang tua yang mempunyai koleksi wayang lengkap, tahu tentang tatahan dan sunggingan wayang terutama tentang wanda. Setelah diadakan consult pendahuluan, kemudian ditentukan 15 informan yang tersebar di daerah Kabupaten Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Boyolali dan Surakarta.

Di bawah ini kami kemukakan nama, umur dan alamat dalang informan

  1. 1. Bapak Tiksnosudarso, 85 tahun, Jombor, Klaten *) saat laporan ini dibuat beliau sudah meninggal dunia.
  2. 2. Bapak Natacarita, 70 tahun, Ceper, Klaten.
  3. 3. Bapak Mintadiyata, 70 tahun, Manisrenggo, Klaten.
  4. 4. Bapak Nartosuwiryo, 65 tahun, Ngawangga, Klaten.
  5. 5. Bapak Sarwodisono, 67 tahun, Manggisan, Klaten.
  6. 6. Bapak Gondoijoyo, 68 tahun, Karangtalun, Klaten.
  7. 7. Bapak Gondopandoyo, 85 tahun, Senden, Klaten.
  8. 8. Bapak Sutino, 65 tahun, Eromoko, Wonogiri.
  9. 9. Bapak J (cetakan tidak terbaca), 69 tahun, Kedungleri, Wonogiri.
  10. 10. Bapak Sukarno, 64 tahun, Gombang, Boyolali.
  11. 11. Bapak Gondowarongko, 63 tahun, Pengging, Boyolali.
  12. 12. Bapak Gondopawiro, 67 tahun, Karangpandan, Karanganyar.
  13. 13. Bapak Parnowiyoto, 69 tahun, Manyaran, Wonogiri.
  14. 14. Bapak Naryocarito, 65 tahun, Kartosuro, Sukoharjo.
  15. 15. Bapak Yosocarito, 69 tahun, Surakarta.

Dalam mengumpulkan information kami adakan wawancara berkisar pada :

Nama wanda, ciri-cirinya, perbedaan dengan wanda yang lain pada tokoh yang sama, penggunaannya di dalam pakeliran, siapa penatah dan penyunggingnya, kapan dibuat, tiruan dari mana, siapa pembuat wandanya dan sebagainya.

Selain itu juga diadakan pemotretan untuk tokoh wayang yang sudah mempunyai nama wanda, secara ututh dan bagian-bagian yang menunjukkan ciri khususnya, karena ada sebagian yang belum mempunyai wanda.

Wanda wayang adalah merupakan kesatuan unsur-unsur yang terdiri antara lain :

  • Tunduk tengadahnya muka (praupan) wayang,
  • Ukuran dan bentuk sanggul,
  • Ukuran dan bentuk mata,
  • Keadaan badan, yaitu ukuran dan posisinya,
  • Ukuran dan tancap dari leher,
  • Datar dan tidaknya dan panjang dan pendeknya bahu,
  • Bentuk dari perut,
  • Busana yang dipakai,
  • Posisi kaki,
  • Sunggingan.

Setiap satu tokoh wayang bisa mempunyai lebih dari satu wanda. Misalnya tokoh Baladewa, mempunyai wanda : Geger, Paripekso, Kaget, Jagong dan sebagainya, yang masing-masing wanda bisa menimbulkan kesan dan penggunaan yang berbeda, walau tokohnya sama.

Dari keterangan yang dikumpulkan, sulit untuk diketahui kapan masing-masing wanda dibuat dan siapa pembuatnya. Keterangan yang ada masih simpang siur, sukar untuk bisa dipertanggung jawabkan. Sehingga kami hanya mengutarakan nama wanda, ciri-ciri dan penggunaannya.

Laporan kami susun berdasarkan abjad dari nama tokoh wayang dan demikian pula nama wandanya. Dengan menyantumkan ciri-ciri wanda dan penggunaannya.

Pada akhirnya tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para seniman dalang yang telah memberik informasi tentang wanda, dan kepada siapa saja yang telah membantu kami dalam pendokumentasian ini.

Team dokumentasi :

  1. 1. Dr. Soetarno, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  2. 2. R. Sutrisno, penganalisa, pengumpul information merangkap juru potret.
  3. 3. Bambang Murtiyoso DS., penganalisa.
  4. 4. Bambang Suwarno, penganalisa.
  5. 5. Sri Joko Raharjo, pengumpul data.
  6. 6. Sarwanto, pengumpul information merangkap juru potret.
  7. 7. Sudarko, pengumpul data.
  8. 8. Catur Tulus, pengumpul information merangkap juru potret.
  9. 9. Sukardi Sm., pengumpul data.
  10. 10. Sumanto, penganalisa merangkap pembuat laporan.
  11. 11. Rahayu Supanggah, penganalisa merangkap penanggung jawab.

Akhir dari Kata Pendahuluan.

Setelah Kata Pengantar ada daftar arti kata-kata istilah, misalkan untuk kata-kata yang mulai dengan huruf L :

Lancap = muka menengadah.

Longok = muka agak menengadah ( Lebih tunduk dari lancap ).

Luruh magak = muka agak menunduk.

Luruh = muka menunduk.

Lanyap = muka yang tengadah seperti melihat kejauhan.

Lencir = badan tinggi kecil.

…. dan seterusnya

Contoh uraian tokoh dan salah satu wandanya :

Samba wanda Bontit.

Ciri-ciri :

Mata - bedahan brebes nyamar

Raut muka - kelihatan tersenyum

Leher - longok

Pundak - lurus

Badan - agak besar

Langkah kaki - lebar (njonjong)

Busana - sumping bunga kluwih, jamang dua, sanggul kecil, gruda mendukung sanggul, pantat besar.

Gunanya : kalau Samba sebagai utusan, atau mencuri.

Sayangnya buku ini dicetak secara teknik stencil ( jaman tersebut ini teknik yang pale memungkinkan untuk menekan dana ) sehingga lampiran foto-foto buku ini tidak tercetak jelas, akibatnya makin tidak jelas ketika difoto duplicate / dipindai.

‘Ebook’ buku ini – tanpa lampiran foto-foto nya – dapat diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/9bienUfB/WandaWyngSurakartaASKI.html

Daftar nama tokoh dan wandanya yang diuraikan dalam buku ini :

Abimanyu wanda Bontit, Banjet, Brebes, Jayeng gati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, Bulus.

Anoman wanda Bambang, Barat, Manuko, Prambanan (Reco, Bambang).

Aswatama wanda Merong.

Bagong wanda Gembor, Ngrengkel, Sembada, Gilut, Jembar

Baladewa wanda Bantheng, Geger, Jagong, Kaget, Jago, Sembada, Sepuh.

Bambangan wanda Maya, Miling, Padasih.

Banuwati wanda Berok, Golek,

Bilung wanda Giti.

Bima wanda Bambang, Bedhil, Bugis, Gendhu, Gurnat, Jagong, Jagor, Kedhu, Ketug, Lindhu, Lindhu Panon, Lindhu Bambang, Lintang (Luntang), Panon, Mimis, Thathit.

Bratasena wanda Angkawijaya, Babad,Lindhu Bambang, ? (biasa), Bocah, Bondhan, Gurnat, Jaka, Lindhu Panon, Pecah Bungkus, Putran, Sembada.

Burisrawa wanda Canthuk.

Boma wanda Encik, Sumilih, Wingit/Sutijo.

Cakil wanda Bathang, Kikik, Panji, Gunung Sari.

Cangik wanda Cangik, Mangir.

Darmakusuma wanda Dhanyang, Demit, Deres, Dukun, Jimat, Panuksma, Puthut, Rangkung.

Denawa Nom wanda Barong, Blebar, Jaka, Kopek.

Denawa Raton wanda Bagus, Barong, Begog, Endog, Jaka, Macan, Mendhung, Wewe.l

Durga wanda Belis, Gedrug, Gidrah, Murgan, Surak, Wewe.

Dursasana wanda Gambyong, Golek, Canthuk.

Durmagati wanda Poncol.

Duryudana wanda Jaka, Janggleng, Jangkung, Rangkung.

Gareng wanda Prekul, Wregul, Gembor, Gembor Alit, Gondok, Kancil, Gulon, Wewe.

Gathutkaca wanda Gandrung/Gembleng, Gelap, Jaka, Guntur, Kilat, Sampluk, Pideksa, Thathit.

Guru wanda Karno, Rama, Reca/Arca.

Hudawa wanda Jaka, Jaran, Lapak, Lare, Tandang.

Indrajit wanda Setan.

Jayajatra wanda Bantheng.

Janaka wanda Bronjong, Gendreh, Janggleng, Jimat, Kadung, Kanyut, Kedhu, Kinanthi, Lintang, Malat, Malatsih, Mangu, Mangungkung, Muntap.

Kongso wanda Bogis, Belis.

Karno wanda Bedru, Geblag, Lonthang, Rangkung.

Kakrasana wanda Bantheng, Jagong, Sembada, Jaladara, Kilat, Slebrak.

Kartamarma wanda Bukuh, Merang.

Kayon wanda Jaler, Estri/Wedok.

Kenyawandu wanda Surak.

Kresna wanda Banjet, Botoh, Bontit, Surak, Gendreh, Jagong, Jangkung, Lendeh, Mangu atau Rondhon Sore, Mawur, Rondhon, Wedok.

Kumbakarno wanda Begog, Jaka, Wewe.

Kurupati wanda Sembada, Jangkung, Rangkung.

Limbuk wanda Gendroh, Bethem.

Nakula wanda Genes.

Narada wanda Reca.

Narayana wanda Bocah, Geblag, Widarakandang, Jaka, Srengat, Sembada.

Parekan wanda Rintik, Runtut.

Petruk wanda Genjong, Bagus, Cangak, Bujang, Sambel Goreng, Jamblang, Moblong, Jlegong, Boging.

Prabawa wanda Drigul, Bundhel.

Pragota wanda Poncol, Bundhel.

Permadi wanda Kadung, Jangkung, Rangkung, Jaka, Mriwis, Jayus, Mesem/Kinanthi, Pecel, Pengawe, Pengarih, Pengasih, Temanten.

Puntadewa wanda Jaka, Kinanthi, Lare, Malatsih, Miling, Putut.

Rara Ireng wanda Lentreng.

Rahwana wanda Begal, Belis, Bengis, Bogis, Gambyong, Klana.

Samba wanda Banjet, Bontit, Geblag, Gunung Sari, Lindur, Rengat, Layar, Sembada.

Semar wanda Brebes, Mega, Dhunuk, Dhukun, Glegek, Paled, Jenggel, Mesem, Mendhung, Jenggleng, Wedhon, Demit.

Sembadra wanda Banjet, Lanceng, Lentreng, Rangkung.

Setyaki wanda Akiki, Mimis, Wisuna

Srikandhi wanda Cemuris, Cemuris Nem, Nglanangi, Patrem

Siti Sundari wanda Gandes.

Togog wanda Barong, Gropak.

‘Ebook’ lain tentang (boneka pipih) wayang kulit yang sudah pernah disajikan Wayang Pustaka :

‘Ebook’ ‘ Pitakonan Lan Wangsulan Bab Wanda Wayang Kulit Purwa ‘ oleh R. Sutrisno (tahun 1964) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/05/pitakonan-lan-wangsulan-bab-wanda-wajang-purwa-r-sutrisno/

‘Ebook’ ‘ Bab Natah Lan Nyungging Ringgit Wacucal ‘ oleh Sukir (tahun 1930an, 1980) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/10/bab-natah-sarta-nyungging-ringgit-wacucal/

‘Ebook’ ‘ Princening GambarRinggit Wacucal‘ oleh RM Soelardi (tahun 1933, 1953) di URL :

http://wayangpustaka.wordpress.com/2010/03/05/ebook-wayang-printjening-gambar-ringgit-wacucal-1933-1953-karya-rm-soelardi/

smart people

Berburu Banteng (R Saleh). Foto: http://isandri.blogspot.com/

Jejak panjang seni lukis complicated Indonesia dirintis oleh Raden Saleh, lantas tumbuh dan berkembang sejak epoch naturalisme-realis Mooi Indie hingga kembalinya gejala Realisme Romantik abad 21. BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintis aliran seni lukis complicated (modern art) di tanah air. Seni lukis complicated ini berjarak dengan seni lukis tradisional yang telah tumbuh dan berkembang berabad-abad sebelumnya. Punya karakter dan ciri khas sendiri.

Pembentukan gaya seni rupa, pemilihan tema, pemakaian bahan lukisan serta fungsi kegunaannya berbeda dengan seni lukis tradisional. Raden Saleh melukis dengan maksud mengembangkan bakat seni pribadi atau potensi kreatif-artistik individu seniman, dengan wawasannya sebagai manusia budaya baru yang berpandangan universal.

Seni rupa complicated tidak lagi memahat patung nenek moyang dan menatah serta menyinggung tokoh-tokoh pewayangan dalam bermacam-macam bentuknya : wayang beber, kulit, golek, krucil. Pendek kata, seni rupa complicated Indonesia sama sekali bersifat baru.

Seni lukis complicated sesungguhnya dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia pada sekitar abad 17. Hanya saja, perintisan seni lukis complicated ini bagi bangsa Indonesia berlangsung ”secara tidak sengaja” atau ”tanpa direncanakan” mengingat terjadinya perintisan di tengah-tengah kegelapan dari zaman penjajahan, sebelum adanya kemerdekaan. Dus, ini tentu saja tidak masuk dalam kesadaran budaya mengimgat Indonesia saat itu masih merupakan bangsa terjajah.

Masa Perintisan

Raden Saleh memang perintis seni lukis complicated yang kesepian. Lahir dari rahim seorang ibu bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, Raden Saleh sejak kecil telah menampakkan bakat melukis yang kuat. Saat itu dia tinggal di daerah Terbaya, dekat Semarang dan sejak usia 10 tahun, dia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, pada orang-orang Belanda atasannya di Batavia.

Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School). Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga chosen Hindia-Belanda.

Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.

Kebetulan pula di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen outpost Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan lantas berinisiatif memberikan bimbingan.

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari indication pemandangan untuk lukisan. Ia joke menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826) setelah ia melihat karya Raden Saleh.

Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda.

Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen outpost Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa,Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Penguasaan teknik seni lukis masa akhir Renaissance Eropa yang bercorak realistis-naturalistis dengan jiwa romantis itu dilanjutkan oleh generasi pelukis Indonesia sepeninggal Raden Saleh. Ciri khasnya adalah lebih banyak mengambil tema kehidupan kaum bangsawan dan kehidupan binatang. Kepiawaian teknik, bentuk, karakter, terang gelap dan seterusnya, yang diterapkan dalam karya seni lukis tersebut, menjadi perhatian bagi pelukis-pelukis lain di Indonesia.

Yang menarik, ada masa kekosongan yang cukup lama sejak wafatnya Raden Saleh pada 23 Apr 1880 di Bogor. Dia memang tak mempunyai murid atau kawan yang mampu meneruskan bakat melukisnya. Yang tertinggal ada hasil karyanya. Diantaranya yang masih utuh adalah lukisan berjudul : Seorang tua dan Bola Dunia (1835), Berburu Banteng (1851), Bupati Majalengka (1852), Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), Harimau Minum (1863) dan Perkelahian dengan Singa (1870).

Era Mooi Indie

Baru kemudian pada awal abad ke-20, muncullah sejumlah nama pelukis Indonesia yang dianggap pelanjut Raden Saleh. Masih sedikit jumlahnya, namun terbatas kemampuannya pada pelukisan keindahan alam. Mereka adalah R Abdullah Suriosubroto (1878-1914), Wakidi (1889-1979) dan Raden Mas Pirngadi (1875-1936). Ketiga pelukis itu lazim disebut masuk dalam mazhab Hindia Molek atau Mooi Indie.

Tiga pelukis itu hidup berjauhan satu sama lain. Abdullah menetap di Bandung (Jawa Barat), Wakidi di Padang (Sumatera Barat) sedangkan Pirngadi menetap di Jakarta. Mereka berkarya tanpa pernah saling bertemu satu sama lain dan kemungkinan juga tidak banyak mengetahui karya satu sama lainnya. Hanya saja, tema yang dilukis mirip yaitu berupaya menampilkan keindahan alam Indonesia.

Mazhab Hindia Molek (1925-1938) ini tumbuh dan berkembang hingga menjelang kedatangan bala tentara Jepang. Saat itulah sejumlah pelukis pribumi Indonesia sedang belajar di berbagai sekolah, menempa diri dan mulai berkarya secara pribadi. Alirannya sungguh berbeda dari para pelukis epoch Hindia Belanda. Hanya saja mereka belum menonjol saat itu, atau sibuk dalam pergerakan nasional.

Pelukis R Abdullah Suriosubroto adalah putera Dr Wahidin Sudirohusodo, perintis pergerakan nasional ”Budi Utomo”. Tetapi berlainan dengan ayahnya, Abdullah sama sekali tidak tertarik dengan dunia pergerakan, dia mengambil jalan hidup berbeda. Dia berkesempatan belajar di negeri Belanda mengikuti tujuan ayahnya supaya Abdullah menempuh studi kedokteran, tetapi sesuai kenyataannya Abdullah malah belajar seni lukis di Den Haag.

Dalam melukis pemandangan alam, Abdullah dan Wakidi nampak lebih produktif maupun berkemampuan dibanding dengan Pirngadi yang tersita oleh pekerjaan rutinnya sebagai ilustrator museum antropologi di Jakarta. Abdullah wafat pada 1914, namun pekerjaannya sebagai pelukis aliran realis-naturalis nantinya dilanjutkan oleh puteranya, Basoeki Abdullah (1915-1993).

Wakidi (1889-1979) adalah pelukis berusia panjang. Wakidi yang orang tuanya asal Semarang, namun dia sendiri lahir di Plaju, Sumatera Selatan ini memilih untuk menetap di Sumatera Barat. Dia memperoleh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) yang berdiri sejak 1837 di Bukittinggi. Di sekolah inilah Wakidi mendalami pelajaran menggambar dan melukis (1903).

Mengingat kemampuan luar biasa yang dimiliki Wakidi di usia mudanya, setamat disana, dia memperoleh tawaran menjadi guru lukis dan menggambar untuk membina dan mengasuh anak-anak pribumi yang menempuh pendidikan di Kweekschool. Diantara murid Wakidi tercatat tokoh proklamator Bung Hatta dan mantan Ketua MPRS Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.

Tidak hanya di Kweekschool, beberapa tahun kemudian Wakidi ditawari menjadi guru di INS Kayutanam, yang didirikan M. Syafei pada tahun 1926. Di INS Wakidi ternyata juga disukai dan disenangi puluhan bahkan ratusan murid dan pengikut-pengikutnya.

Diantara murid-muridnya terdapat tokoh berkesinambungan yang berkiprah dalam peta seni lukis nasional seperti Baharuddin MS, Syamsul Bahar, Mara Karma, Hasan Basri DT. Tumbijo, Nasjah Jamin, Montingo Busye, Zaini, Nashar, Ipe Makruf, Alimin Tamin, Nuzurlis Koto, Arby Samah, Muslim Saleh, Mukhtar Apin, AA Navis, Mukhtar Jaos, Osmania dan banyak lagi hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini.

Adapun Basoeki Abdullah (1915-1993) memang tak pernah melihat wajah sang ayah. Namun setelah dewasa Abdullah yunior ini bertekad melanjutkan garis karya ayahnya. Dia menyelesaikan studinya di sekolah Katolik Solo untuk kemudian melanjutkan pendidikan seni lukisnya di Academic Voor Beldeende Kunsten sebagaimana mendiang ayahnya. Sebagai penganut mazhab Hindia Molek, dia bertindak lebih maju.

Basoeki Abdullah rajin menggelar pameran lukisan di berbagai kota besar di Jawa dengan menampilkan karya-karya potret, pemandangan alam dan lukisan binatang. Jadi, dia pelukis pertama sesudah Raden Saleh yang mampu melukis manusia. Tampak diantara indication lukisan potretnya adalah Gusti Nurul dari Istana Mangkunegaran, Surakarta dan Sri Paku Alam dari Yogyakarta.

Selain Basoeki Abdullah, para pelukis lain yang masih meneruskan gaya realisme adalah R.M. Surjo Subanto yang juga berkesempatan belajar di negeri Belanda dengan beberapa karyanya, seperti potret ”Wanita dalam Baju Kurung” dan “Gadis Bermain Gitar”. Ada pula nama-nama seperti Lee Man Fong, Soedarso, S Sudjojono, Affandi Koesoema dan Rustamdji. Para pelukis ini juga merupakan bagian salah satu dari gabungan dalam sanggar-sanggar seni lukis Indonesia, seperti ada yang tergabung dalam sanggar Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia 1938-1942), Poetera (Poesat Tenaga Rakyat), SIM (Seniman Indonesia Muda), dan sebagainya.

Hanya saja, dengan muncul dan berkembangnya beberapa sanggar seni lukis di Indonesia, maka tema-temanya joke mengalami perkembangan — tidak lagi terbatas pada keindahan alam, binatang dan potret manusia saja. Mulailah muncul lukisan yang bersifat kritis-realis yang melukiskan soal-soal kehidupan dan penderitaan rakyat sehari-hari seperti kehidupan orang cacat, orang miskin, pengamen, kaum buruh, hingga petani.

Era Persagi

Zaman pergerakan yang ditandai dengan terselenggaranya Sumpah Pemuda 1928, dan pecahnya Perang Asia Timur dengan Jepang sebagai pemenangnya mempengaruhi geliat seni lukis di tanah air. Mazhab Mooi Indie lantas dikecam dan dikritik habis, dianggap hanya mengabadikan keindahan alam Indonesia saja dan kurang tanggap terhadap kenyataan di sekitarnya yang tidak semuanya indah, serba enak, tenang dan damai.

Di sisi lain, pengembangan pada teknik melukis sangat diperhatikan pada masa itu, sehingga seni lukis realisme Indonesia makin memiliki identitas pribadi. Paska Sumpah Pemuda, terjadilah polemik kebudayaan yang riuh rendah dalam media massa. Terutama pada kurun waktu 1935-1939. Para pelukis tidak mau ketinggalan dan ikut ambil bagian. Tokoh-tokoh semacam Lee Man Fong, Ui Tiang Un, Henk Ngantung, Siauw Tik Kwie, Pirngadi, Subanto, Imandt, Jan Frank, Rudolf Bonnet ikut pula berdebat.

Sindudarsono Sudjojono (1913-1986) dan Affandi Koesoema (1907-1990) adalah dua tokoh yang pale menonjol pada masa itu. Berbeda dengan Affandi yang pendiam, Sudjojono adalah tokoh yang keras dan pemberang. Selain sebagai pelukis, dia juga kritikus seni lukis berlidah tajam. Pak Djon – begitu panggilan akrabnya – kerap mengecam Basoeki Abdullah sebagai tidak nasionalistis, karena hanya melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Kritik Pak Djon itu tentu saja membuat berang Basoeki.

Pak Djon dan Basoeki kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai atmosphere dan api, sejak 1935. Namun di luar itu, Pak Djon yang memang memulai karirnya sebagai seorang guru sekolah menengah dianggap pionir yang mengembangkan seni lukis complicated khas Indonesia. Pengikut dan muridnya banyak, sehingga komunitas seniman, menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Pak Djon lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa, buruh perkebunan di Kisaran, Sumatera Utara. Namun sejak usia empat tahun, ia menjadi anak asuh. Yudhokusumo, seorang guru HIS, tempat Djon kecil sekolah, melihat kecerdasan dan bakatnya dan mengangkatnya sebagai anak. Yudhokusumo, kemudian membawanya ke Batavia pada 1925. Djon menamatkan HIS di Jakarta. Kemudian SMP di Bandung dan SMA Taman Siswa di Yogyakarta. Dia joke sempat kursus montir sebelum belajar melukis pada RM Pirngadi selama beberapa bulan dan pelukis Jepang Chioji Yazaki di Jakarta.

Bahkan sebenarnya sedari awal dia lebih mempersiapkan diri menjadi guru para calon pelukis. Dia sempat mengajar di Taman Siswa. Setelah lulus Taman Guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta, ia ditugaskan Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Madiun pada 1931. Namun, Sudjojono yang berbakat melukis dan banyak membaca tentang seni lukis complicated Eropa, itu akhirnya lebih memilih jalan hidup sebagai pelukis profesional.

Pada 1937, dia joke ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Batavia. (Jakarta). Keikutsertaannya pada pameran itu, sebagai awal yang mempopulerkan namanya sebagai pelukis. Setelah itu, bersama pelukis Agus Djaja, Abdulsalam, Rameli, dan beberapa pelukis yang bekerja untuk bidang reklame di percetakan, dia mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Usia Persagi tidak panjang. Dibentuk 23 Oktober 1938 di salah satu Sekolah Dasar Jakarta di Gang Kaji dan bubar karena dipaksa Jepang pada 1942.

Di Persagi, Pak Djon menjadi Sekretaris dan sekaligus Juru Bicaranya. Diangkat sebagai Ketua adalah Agus Djaja dengan anggota-anggota L Setijoso, Rameli, Abdulsalam, S Sudiardjo, Saptarita Latif, H Hutagalung, S Tutur, Sindusisworo, T.B. Ateng Rusy’an, Syuaib Sastradiwirja, Sukirno dan Surono. Pelukis Wakidi di Padang dan Hendrodjasmoro di Yogyakarta merupakan anggota di luar Jakarta.

Semboyan ekstrim Persagi adalah : Teknik tidak penting. Yang penting isi jiwa ini tumpahkan di atas kanvas !

Lukisan Sudjojono punya ciri khas kasar, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. Objek lukisannya lebih menonjol pada pemandangan alam, sosok manusia, serta suasana. Pemilihan objek itu lebih didasari hubungan batin, cinta, dan simpati sehingga tampak bersahaja. Lukisannya yang staggering antara lain berjudul : Di Depan Kelambu Terbuka, Cap Go Meh, Pengungsi dan Seko.

Ketiga pelukis itu yakni Basoeki Abdullah, Sindudarsono Sudjojono dan Affandi itu hingga kini dianggap sebagai ikon conductor seni lukis Indonesia. Beberapa bulan sebelum Pak Djon meninggal di Jakarta, 25 Maret 1985, pengusaha Ciputra mempertemukan Pak Djon dan Basuki bersama Affandi dalam pameran bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sehingga Menteri P&K Fuad Hassan, ketika itu, menyebut pameran bersama ketiga raksasa seni lukis itu merupakan peristiwa sejarah yang penting.

Tentang Affandi

Affandi sendiri adalah kelahiran Cirebon pada 1907. Dia putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Pendidikan formalnya cukup tinggi, mulai dari HIS, MULO hingga AMS di jaman Belanda. Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh bidang lainnya.

Pada umur 26 tahun, pada 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung bersama Hendra Gunawan, Barli, Sudarso dan Wahdi.

Wahdi adalah salah satu pelukis yang belajar langsung dari Abdullah Suriosubroto, ayah dari Basoeki Abdullah. Kelompok Lima Bandung pimpinan Affandi ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini menjadi sebuah sebuah kelompok belajar bersama dan kerja saling membantu sesama pelukis yang ada di Bandung, termasuk sejumlah pelukis yunior.

Dalam melukis Affandi melangkah dengan lebih mengutamakan kebebasan berekspresi. Dilandasi jiwa kerakyatan, Affandi tertarik dengan tema kehidupan masyarakat kecil. Teknik melukis bentuk bahkan yang cenderung memperindah obyeknya seperti yang dilakukan angkatan Moi India atau India Jelita, dirasakan Affandi tidak mewakili kondisi masyarakat dengan kemelaratan akibat penjajahan.

Dengan pengalaman dan melihat kondisi masyarakat yang menderita, Affandi lebih tergugah mengungkapkan lewat tumpahan dan goresan warna kusam dan tema kemelaratan. Pengamatan terhadap sensitivitas lingkungan diungkapkan secara lugas, sehingga karyanya yang berjudul ”Pejuang Romusha” (1943) yang menampilkan rakyat dalam kemelaratan tidak disukai penguasa Jepang.

Humanisme Affandi terlihat juga pada karyanya ”Dia Datang, Menunggu, dan Pergi” (1944). Dalam karya ini ditampilkan seorang pengemis yang baru datang, kemudian meminta, lalu pergi. Raut muka pengemis yang kurus dengan pakaian lusuh, namun dari sisa ketegarannya masih bersemangat menjalani kehidupan walaupun dengan mengemis. Pengamatan Affandi seperti ini menunjukkan keprihatinan jiwanya terhadap penderitaan sesama antara anak bangsa. Tema-tema kerakyatan menjadi dominasi dalam karya-karya Affandi.

Memang, saat jaman penjajahan Jepang (1942-1945), para pelukis hidup susah seperti kebanyakan rakyat pada umumnya. Meski Persagi dibubarkan, aspirasinya tetap hidup karena wibawa Pak Djon dan Agus Djaja yang memberikan tuntutan melukis di jaman penjajahan yang singkat namun bengis itu. Prinsip mazhab Persagi tetap hidup yaitu untuk tidak terlalu menghiraukan teknik lukis, selain lebih dahulu berani melukis.

Beberapa tokoh muda pelukis muncul di jaman Jepang yakni Otto Djaja, Kusnadi, Kartono Yudokusumo, Baharuddin, Harjadi S, Njoman Ngendon. Mereka inilah yang nantinya menghidupkan sanggar-sanggar lukisan yang menjamur di awal kemerdekaan (1945-1950-an) dan menjadi tempat penghidupan para pelukis.

Pak Djon selama jaman Jepang diserahi memimpin Bagian Kebudayaan dari Poetera, singkatan dari Poesat Tenaga Rakyat yang dipimpin empat serangkai : Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Mansyur. Affandi sempat berpameran tunggal pada jaman ini, dengan izin dan perlindungan dari Pak Djon pada 1943. Setelah itu pameran tunggal karya-karya Kartono Yudhokusumo, Basoeki Abdullah dan Njoman Ngendon digelar pula secara berurutan.

Era Revolusi

Berakhirnya penjajahan Jepang dan tibanya Hari Kemerdekaan telah menggairahkan kehidupan para pelukis. Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ikut ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain ”Merdeka atau mati !”. Itulah hasil karya anak-anak ex Persagi. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan indication adalah pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di print itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono lantas menanyakan kepada Chairil soal itu, maka dengan enteng Chairil ngomong : ”Bung, ayo Bung !” Dan selesailah print bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.

Usut punya usut. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu ! Wah, wah, wah.

Era revolusi kemerdekaan di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah tema-tema kerakyatan. Obyek lukisan yang hanya berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang kurang cocok dan anti revolusi. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.

Di masa revolusi Basoeki Abdullah tidak berada di tanah air. Bisa jadi karena dia merasa terpojok pada serangan-serangan pedas pada karya-karyanya. Dia mendalami seni lukis di Eropa. Sempat pula dia bermukim di Italia dan Prancis untuk belajar langsung dari para pelukis dengan reputasi dunia.

Pada 6 Sep 1948 bertempat di Amsterdam sewaktu peringatan penobatan Ratu Belanda, digelar sayembara melukis, dan Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan Amerika. Dia berhasil keluar sebagai pemenang.

Basoeki banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis istana Raja Bhumibol Adulyadej.

Di tanah air, dengan kepindahan ibukota negara ke Yogyakarta, sejumlah seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung turut juga hijrah. Pada 1946 berdirilah sanggar Seniman Masyarakat di Yogyakarta dipimpin oleh Affandi sebagai perkumpulan seni lukis pertama yang potensial. Tidak lama kemudian, namanya diganti menjadi Seniman Indonesia Muda (SIM) dan kali ini pimpinan beralih ke S. Sudjojono.

Para pelukis epoch SIM saat itu adalah Affandi, S Sudjojono, Hendra, Sudarso, Trubus, Dullah, Kartono Yudhokusumo, Basoeki Resobowo, Rusli, Harjadi, Surono, Suromo, Abdulsalam, D Joes dan Zaini. Pameran sebagai hasil melukis bersama digelar pada waktu-waktu tertentu dalam sanggar saja.

Pada 1947 sebagian anggota SIM pindah ke Surakarta, termasuk S Sudjojono, sang Ketua. Anggotanya bertambah dengan Trisno Sumardjo, Oesman Effendi, Sasongko, Suparto, Mardian, Wakidjan dan Srihadi. Terbit pula satu majalah seni rupa dengan nama Prolet Kult. Lantas pada tahun yang sama, Affandi, Sudarso, Sudiardjo, Trubus dan Sasongko berpisah dari SIM dan bersama dengan anggota baru seperti Kusnadi dan Sudjana Kerton mendirikan perkumpulan bernama Pelukis Rakyat.

Lekra dan Manikebu

Rustamadji, Sumitro, Sajono, Saptoto dan C.J. Ali bergabung pula dalam Pelukis Rakyat. Dan pada 1948, Pelukis Rakyat menggelar pameran pertama dri cabang baru seni rupa Indonesia di pendopo timur Museum Sonobudoyo. Dua tahun kemudian, pada 1950 sebagian anggotanya seperti Nasjah Djamin, Bagong Kussudiardja, Kusnadi, Sumitro, Saptoto keluar dari Pelukis Rakyat karena tidak suka dengan pengaruh Lekra.

Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat adalah organisasi kebudayaan terbesar yang dekat dengan Presiden Soekarno. Affandi pernah menjadi salah satu pimpinan dan masuk di bagian seni rupa bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya. Bersama pelukis Sholihin, Rubai dan umaryo L.E. para anggota Pelukis Rakyat yang keluar ini kemudian mendirikan perkumpulan yang ingin terbebas dari Lekra bernama Pelukis Indonesia.

Perkumpulan seni lukis lain yang sudah berdiri di Yogyakarta sejak 1945, dengan kegiatan mengadakan kursus menggambar serta pembuatan poster-poster adalah Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) dengan Ketuanya Djajengasmoro dan anggota-anggota Sindusisworo (ex Persagi), Indrosugondo dan Prawito. Meski berbeda perkumpulan, mereka kerap menggelar pameran bersama. Pada 1948, misalnya, SIM dan Pelukis Rakyat mengadakan pameran bersama.

Sekolah Menengah Guru Gambar didirikan di Yogyakarta oleh Djajengasmoro bersama R.J. Katamsi yang juga banyak melahirkan kader-kader pelukis muda. Di Surakarta berdiri pula Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dengan Ketuanya Dr Moerdowo sejak 1945 dan perkumpulan seni lukis Pelangi yang diketuai Sularko antara 1947 – 1949.

HBS ini berusia panjang, bahkan di penghujung tahun 1980-an berusaha direvitalisasi dengan menggelar pameran akbar karya para anggotanya seperti Jeihan, Didik Suardi, Remy Silado, Srihadi Sudarsono dan lain-lain. Para anggota HBS kini tersebar di segala penjuru Indonesia.

Adapun di Bandung, setelah epoch Affandi dengan kelompok Lima-nya, berdiri pula perkumpulan-perkumpulan pelukis lain seperti Jiwa Mukti dan Pancaran Cipta Rasa dengan ketua masing-masing Barli dan Abedy. Kartono Yudhokusumo mendirikan pula Sanggar Seniman Bandung (SSB). Nasjah Djamin sebelum ke Jogjakarta sendiri sebelumnya di Medan pernah mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) bersama Hasan Djafar dan Hussein, dengan Ketua Ismail Daulay.

Selain ASRI, ada pula perkumpulan pelukis lain di Medan yang diketuai oleh Dr Djulham dengan anggotanya antara lain Tino Sidin. Tino Sidin ini belakangan hijrah ke Jakarta dan sering siaran di TVRI dalam acara menggambar untuk anak-anak. Adapun di Bukit Tinggi (Sumatera Barat), pada 1946 berdiri perkumpulan Seniman Muda Indonesia, disingkat SEMI yang diketuai Zetka dengan anggota antara lain A.A. Navis dan Zanain.

Sementara di Jawa Timur, sejumlah pelukis mendirikan Gabungan Pelukis Muda di Madiun dengan Ketuanya Widagdo dan pada 1952 berdiri pula Sanggar Prabangkara di Surabaya dengan Ketuanya Karyono Ys,

Pada 1952, maraknya perhimpunan pelukis berlanjut dengan berdirinya Pelukis Indonesia Muda (PIM) di bawah pimpinan Gregorius. Sidharta dan Widayat di Yogyakarta. Anggotanya kebanyakan mahasiswa-mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), kini menjadi Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI). Di Surabaya, pada tahun yang sama

Seusai revolusi fisik, Affandi kembali ke Jakarta dan mendirikan perkumpulan Gabungan Pelukis Indonesia dengan anggota-anggota antara lain Sutiksna, Nasjah Djamin, Handrio, Zaini, Sjahri, Nashar, Oesman Effendi dan Trisno Sumardjo. Lee Man Fong, pelukis dari epoch sebelum penjajahan Jepang mendirikan organisasi pelukis keturunan Tionghoa, Yin Hua pada 1955. Ada 100 lebih pelukis tergabung disitu dan aktivitasnya ramai.

Beberapa anggota Yin Hua ikut mewarnai sejarah seni lukis Indonesia. Selain Lee Man Fong yang karya-karyanya unik karena memiliki dua gaya (Barat dan Chinese Art), ada pula karya-karya atraktif dari Lim Wasim, Wen Peor, Lie Tjoen Tjay, Siauw Swi Tjing (kemudian merubah nama menjadi Chris Suharso), Samboja serta Liem Tjoe Ing.

Disusul pada 1959, berdiri pula Sanggar Bambu dengan pimpinan Sunarto Pr dan Mulyadi W. Anggota-anggota Sanggar Bambu antara lain adalah Syahwil, Danarto, Arif Sudarsono dan Wardoyo. Ini adalah perkumpulan pelukis pale penting pada epoch 1950-1960-an karena memiliki ciri khas sendiri. Sanggar Bambu melahirkan gaya dekoratif pada lukisan dengan garis serba meliuk, elaborate dan didominasi bentuk datar.

Desakan dan tekanan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang secara resmi mendesak para seniman, budayawan dan pelukis untuk secara agitatif memasukkan cita kerakyatan versi gerakan komunis membuat suasana kebebasan berekspresi sedikit terganggu. Lekra didominasi para pelukis di Jakarta. Kelompok ASRI dan Sanggar Bambu di Jogjakarta serta kubu seni lukis Bandung tentu saja tak menerima realitas ini. Mereka melawan.

Sesungguhnya Lekra menunggangi idealisme S Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan soal seni kerakyatan. Seni lukis yang bercita kerakyatan yang sesungguhnya berkonotasi netral dan biasa, dipakai sebagai corong politik. Lekra memasukkan gagasan tentang peranan kesenian, termasuk seni lukis, dalam perjuangan kelas. Seni lukis pada saat itu menjadi alat politik kelompok dominan yakni PKI.

Gerakan Manifesto Kebudayaan joke lahir pada 17 Agustus 1963. Gerakan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950-an memilih untuk membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga epoch ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat promotion sebagaimana didengungkan Lekra, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya.

Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) itu ditentang sengit oleh Lekra, dan celakanya Presiden Soekarno membela Lekra. Bung Karno menganggap pernyataan tersebut melemahkan semangat revolusi. Lalu diganyanglah Manikebu. Dan para pelukis yang mendambakan kebebasan kreatif, dihambat lajunya. Yang punya jabatan dan membela manikebu dicopot dari jabatannya.

Meski kurun waktu ini penuh kemelut, sebuah tonggak sejarah seni lukis sempat dilahirkan yaitu terbitnya kitab seni lukis bersejarah berjudul : ”Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Soekarno”. Ini adalah kitab seni rupa yang besar, yang hingga kini belum ada yang mampu menandinginya. Buku tersebut untuk jilid we dan II terbit pada 1956, dan jilid III dan IV terbit pada 1959.

Buku babon seni lukis yang dibuat atas dasar perintah Bung Karno itu memuat 384 reproduksi koleksi seni Presiden Soekarno dan disusun oleh Dullah, pelukis istana. Pada 1964 buku itu dicetak ulang dengan sejumlah reproduksi karya. Untuk edisi ini jumlah kitab menjadi lima seri. Yang ke 4 berisi 400 lukisan. Dan yang 1 jilid berisi 167 patung dan porselen koleksi Presiden Soekarno. Kitab yang diedarkan ke seluruh dunia ini disusun oleh Lee Man Fong, yang juga salah satu pelukis istana pada masa jabatan berikutnya.

Buku tersebut amat berarti bagi perkembangan seni lukis Indonesia. Karya-karya bagus Abdullah Suriosubroto, Basoeki Abdullah, Affandi, Hendra Gunawan, S Sudjojono, Dullah, Wakidi ada di sana. Ada pula karya pelukis kelas dunia seperti Diego Rivera. Juga karya pelukis asing yang pernah memberikan suggestion pada dunia seni lukis Indonesia seperti Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Arie Smit. Buku ini berjasa besar sebagai referensi berharga bagi dunia seni lukis.

Era Orde Baru

Pada 30 Sep 1965 meletus Gerakan 30 September. Dan serentak dengan itu, perjalanan politik Indonesia segera berbalik. Lekra joke bubar. Dengan begitu, faham yang meletakkan politik sebagai panglima dalam kesenian, termasuk seni lukis, juga terhapuskan. Para pelukis di berbagai kota kembali menikmati kebebasan menciptanya, tanpa perlu diganggu berbagai agitasi. Seni lukis kembali ke seni lukis.

Setahun kemudian, pada 1966 sejumlah seniman yang bergabung dalam Grup Sebelas Seniman Bandung muncul dalam pameran besar di Jakarta. Mereka antara lain adalah Achmad Sadali, But Mochtar, Popo Iskandar dan Srihadi Sudarsono. Semuanya adalah pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Seni Rupa. Aliran mereka jauh dari realisme sosial dan mengarah pada kubisme atau abstraksionisme.

Aktivitas kebebasan ekspresi melukis ini terus berlanjut dengan pameran lukisan di Gedung Pola, Jakarta pada Apr 1968. Sejumlah nama besar ambil bagian diantaranya Agus Djaja (mantan Ketua Persagi jaman Jepang), Otto Djaja dan Affandi. Kemudian yang lebih muda adalah Kusnadi, Srihadi Sudarsono, Suparto, Zaini dan Oesman Effendi. Serta yang generasinya di bawah mereka seperti Mustika dan Mulyadi.

Sejak itulah pameran demi pameran berlangsung tanpa pernah berhenti. Nov 1968 digelar Pesta Seni di Taman Ismail Marzuki (TIM), yang baru saja diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Ada 132 lukisan karya pelukis pilihan dari Yogyakarta, Jakarta dan Bandung ditampilkan di ruang pamer. Kekayaan corak para pelukis makin beragam dan makin berkembang. Realisme, Surealisme, Impresionisme, abstraksi, kubisme semua ada dan ambil bagian.

Sejumlah pengajar perguruan tinggi Seni Rupa juga ingin unjuk gigi. Pada 1969 digelar pameran bersama antara dosen ASRI Jogjakarta bersama dosen Seni Rupa ITB Bandung di Jakarta. Tampil saat itu Bagong Kussudiardjo, Budiani, Edhi Sunarso, Widayat, Fadjar Sidik, Abas Alibasyah, Mujitha kesemuanya dari Jogja, dan Erna Pirous, Rustam Arief, Imam Bukhori, Sanento Yuliman, T Sutanto, Umi Dahlan dan Haryadi Suadi, wakil dari Bandung.

Pameran bersama itu tampaknya hendak meredakan pertentangan dan pergulatan seru dua kubu seni lukis antara formalisme modernis ala ITB dan ekspresionisme nasionalis ala ASRI Jogjakarta yang terbentuk diantara mereka pada masa tersebut.

Era 1970-an adalah epoch kemapanan. Banyak pelukis yang mampu berpameran tunggal. Padahal, sesuai konvensi yang ada di lingkungan komunitas pelukis, bila ada pelukis yang melakukan pameran tunggal, maka dia akan segera terangkat sebagai sosok yang lebih menggenggam citra pelukis profesional. Pelukis-pelukis seperti Nashar, D.A. Peransi, Zaini, Popo Iskandar serta Mustika membuktikan hal itu.

Surabaya yang selama ini jarang ambil bagian dalam hiruk pikuk pameran seni lukis mulai bangkit pada epoch 1970-an. Muncul sejumlah nama yang amat menjanjikan. Kelompok ini bernaung di bawah bendera Kelompok Aksera atau Akademi Seni Rupa Surabaya. Diantara tokoh-tokohnya adalah Gatot Kusumo, Amang Rahman, O.H. Supono, Daryono dan Krishna Mustajab.

Hanya saja, Nashar, Zaini dan Popo Iskandar menjadi nama-nama pelukis yang menonjol dan terkuat pada epoch 1970-an. Rajin berpameran dan lukisannya diburu para kolektor. Tentu banyak yang lain yang juga patut dibicarakan, seperti karya-karya Srihadi Sudarsono, A.D. Pirous, O.H. Supono, Oesman Effendi dan sebagainya. Namun karya Nashar, Zaini dan Popo Iskandar mewakili semangat epoch 1970-an, yakni lirisisme dan berkembangnya generasi abstrak dan imajinatif, terutama Nashar dan A.D Pirous.

Lirisisme pada seni lukis memiliki arti : getar perasaan atau emosi pelukis menjadi subyek utama yang menghidupi kanvas-kanvas.

Lirisisme Versus Anto Lirisisme

Akan tetapi dominasi itu mendapat tantangan dari generasi pelukis yang lebih muda. Mereka terbawa oleh iklim progresif yang melanda sejumlah perguruan tinggi seni baik di Jakarta, Bandung, Yogyakarta maupun Surabaya. Gejala yang menonjol dari progresivitas itu adalah munculnya bentuk-bentuk geometris dan matematis pada kanvas-kanvas pelukis muda.

Itulah yang ditampakkan oleh pelukis-pelukis muda seperti Nanik Mirna, Harsono, Wardoyo Sugianto, Agustinus Sumargo lewat beberapa kali pameran mereka di Solo dan Jogjakarta. Di Bandung, Sugeng Santoso dan Anyool Broto juga menciptakan tema seni lukis yang sejalan. Sedangkan pelukis J Eka Suprihadi, Suatmadji dan Abdul Kholim melaju ke seni kolasi dan asemblasi.

Pada 1973, Danarto menggebrak di TIM dan sekaligus menciptakan monumen gejala lirisisme contra progresivitas ini dengan pamerannya yang kontroversial. Dia menggelar sejumlah kanvas kosong putih tanpa pigura. Danarto mengatakan kepada publik bahwa ia memaksudkan karyanya sekaligus sebagai arsitektur, lukisan dan patung. Benturan ini akhirnya melahirkan polarisasi lirisisme dan antilirisisme dalam seni rupa Indonesia.

Penyelenggaraan Biennale, atau pameran seni lukis dwi warsa (dua tahunan) di Jakarta mulai digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1974. Pada pameran itu dipajang ratusan lukisan karya pelukis Indonesia untuk dilombakan. Pameran biennale ini juga memilih lima lukisan untuk diangkat sebagai yang terbaik. Muncullah lima nama dengan lima karya yang dianggap terbaik.

Kelimanya adalah Karya Irsam berjudul ”Matahari di atas Taman”, karya Widayat berjudul ”Keluarga”, karya Abas Alibasyah dengan judul ”Lukisan Wajah”, karya Aming Prayitno dengan judul ”Pohon” serta karya A.D. Pirous berjudul ”Tulisan Putih”. Kelima karya dipilih oleh Dewan Juri yang terdiri dari Affandi, Popo Iskandar, Sudjoko, Fadjar Sidik, Alex Papadimitrou, Kusnadi dan Umar Kayam.

Penetapan pemenang ini akhirnya berujung masalah. Sejumlah pelukis muda memprotes karena perwujudan-perwujudan baru yang sifatnya anti-lirisisme, rasional dan bahkan juga eksperimentatif tak mendapat tempat. Lirisisme, dekoratifisme, kiblat tradisi dan nasionalitas yang dicanangkan oleh panitia diprotes. DKJ dianggap memihak pada seni lukis yang mapan.

Muncul-lah statemen Desember Hitam yang berisi tudingan bahwa seni lukis Indonesia sudah mati. Panitia menolak tuduhan tersebut. Sejumlah pelukis muda, mahasiswa STSRI ASRI di Jogjakarta mendapat sanksi. Mereka adalah Harsono, Bonyong Munni Ardhie, Siti Adiyati, Ris Purwono dan Hardi. Sanksi dari pimpinan Kampus STSRI ASRI ini mendapat simpati dari berbagai pihak.

Setidaknya dua kegiatan digelar. Pertama, pameran di Gedung Karta Pustaka Jogjakarta berjudul Nusantara-Nusantara yang menampilkan karya-karya berbau sindiran dan karikatural. Pesertanya adalah Samikun, we Gusti Bagus Widjaja, Wardoyo S, Kristiyanto, Sudarisman, Suatmaji, Agustinus Sumargo dan Agus Dermawan T. Kedua, pameran Seni Rupa Baru pada Agustus 1975 di TIM Jakarta. Tak hanya pelukis yang muncul tetapi juga grafikus dan beberapa pematung. Mereka adalah Anyool Subroto, Bachtiar Zainoel, Pandu Sudewo, Nanik Mirna, Muryoto Hartoyo, Harsono, B. Munni Ardhie, Hardi, Ris Purwana, Siti Adiyati dan Jim Supangkat.

Gerakan Seni Rupa baru ini memang menafikan imaji seni lukis konvensional terkait elemen-elemen lukisan, elemen-elemen gambar dan sebagainya. Dengan lahirnya seni rupa baru, kebebasan cipta pada pelukis muda nampak lebih lepas. Elemen-elemen ruang, gerak dan waktu dianggap sah sebagai bentuk karya seni rupa. Dampak gerakan ini memang luar biasa. Dan gerakan ini bertahan hingga epoch 1980 dan 1990-an.

Gerakan Seni Rupa Baru

Ramai pelukis muda mencari thought baru dalam menghasilkan seni rupa baru, termasuklah dalam mengeksplorasi efek multimedia. Selain itu, mereka turut melakukan seni persembahan, seni pemasangan dan seni video. Hal itu terlihat dalam karya pelukis muda Indonesia seperti Tulus Warsito, T Sutanto, Haryadi Suadi, Budi Sulistyo, Satyagraha, Nyoman Nuarta, Dede Eri Supria, Nyoman Gunarsa dan Aming Prayitno serta generasi sesudahnya seperti Heri Dono, Dadang Christanto, Tisna Sanjaya, Marida Nasution, Ivan Sagita, we Gusti Ayu Kadek Murniasih dan Agus Suwage.

Pada kurun ini, kemunculan Dede Eri Supria di penghujung 1970-an sangat memberikan harapan. Dede adalah salah seorang eksponen Seni Rupa baru yang pale serius, dan berjalan sebagai pelukis profesional. Karya-karyanya mengambil titik tolak bentuk realisme, namun ia mengocoknya dalam tema-tema yang sosialistik dan kritis. Sementara perwujudannya seringkali bernada surealistik.

Teknik Dede, yang mengambil gubahan potretis, amat bagus. Karya-karya pelukis yang pernah belajar di STSRI ASRI Jogjakarta ini umumnya berformat besar. Dan masalah-masalah sosial yang disentuhnya biasanya menggetarkan, seperti kehidupan orang miskin kota, urbanisasi, kesederhanaan orang-orang desa bahkan juga problem-problem sepakbola.

Pelukis Widayat lewat pameran tunggalnya pada 1985 dan 1990 menunjukkan bahwa dia adalah salah satu pelukis terkuat di Indonesia setelah Affandi. Karya-karyanya memendam teknik tinggi, dengan pengungkapan yang dekoratif keprimitifan. Widayat adalah salah satu pelukis yang memiliki semangat berkarya yang konstan dan ketangguhan memegang serta mengembangkan gaya.

Reputasi Widayat ini juga ditunjukkan oleh beberapa pelukis lain yang melejit di kurun ini seperti Srihadi Sudarsono, Nyoman Gunarsa, A.D. Pirous dan Amang Rahman. Nama-nama pelukis generasi berikutnya juga patut dipuji karena konsistensi mereka dalam berkarya dan menggelar pameran, seperti Made Wianta, Agus Kamal, Hening Swasona, Nisan Kristiyanto, Hardi, Pande Gde Supada, A.S. Kurnia, Salim M, Kamso Kholiban, Syahnagra, Ipung Gozali, Sukamto DS, Made Djirna, Ikhlas Taufik (Tikes), Godod Sutejo, Ivan Sagito dan tentu saja Dede Eri Supria.

Ivan Sagito, dengan teknik impasto yang bagus, menawarkan tema-tema surealistik yang kaya dengan fantasi. Obyek-obyeknya dia gali dari dunia kampung dan alam pedesaan di Yogyakarta. Sumur, wanita-wanita desa, rumah-rumah di kampung dia olah sedemikian rupa menjadikan unsur-unsur seni lukisnya yang aneh menyimpan greget keseraman.

Ivan mengejutkan dunia seni rupa Indonesia saat mulai berpameran di Singapura. Tak lama kemudian, dia menggelar pameran tunggal di Afrika Selatan tepatnya di The Pretoria Art Museum, Johannesburg, Afrika Selatan (2000) dan terakhir di Red Mill Gallery, Vermont Studio Centre, Amerika Serikat (2003). Lukisannya kini banyak diperdagangkan di galeri-galeri besar dunia. Konon karya pelukis yang kini tinggal di daerah Godean Yogyakarta ini, pada 2005 ada yang mencapai harga jual hingga Rp 1,3 milyar.

Kemapanan seni lukis Indonesia memang akhirnya porak-poranda akibat intervensi gagasan post-modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conseptual art): ”Instalation Art”, dan ”Performance Art”, yang pernah menjamur di berbagai pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam ”kolaborasi” sebagai mode 1996/1997.

Itulah dia yang disebut aliran progresif. Menampilkan seni lukis dalam berbagai ragam bentuk termasuk berkolaborasi dengan seni instalasi. Mereka juga sering tampil di berbagai galeri luar negeri. Nama-nama tersebut diantaranya adalah Heri Dono (kelahiran 1960), Dadang Christanto (kelahiran 1957), Tisna Sanjaya (kelahiran 1958), Marida Nasution (kelahiran 1956), we Gusti Ayu Kadek Murniasih (1966 – 2006) dan tentu saja yang pale akhir adalah Agus Suwage (kelahiran 1959).

Bersamaan itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi. Memasuki abad 21, seni lukis Indonesia terus berkembang dan muncul pula sejumlah profesi menjanjikan seperti art play yang menjadi penghubung antara pelukis dengan pihak gallery.

Yang menarik, ada kecenderungan bahwa aliran Mooi Indie tetap bertahan. Ini dibuktikan dari pameran pada 2007 lalu, saat lima pelukis muda yakni J.B. Iwan Sulistyo, P. Lanny Andriani, Idran Yusup, Sukriyal Sadin, dan Pardoli Fadli berpameran bersama di Boulevard Lounge-Hotel Nikko Jakarta, 9-15 Apr 2007. Mereka menampilkan sejumlah lukisan beraliran realisme-romantik. Akankah roda jaman berputar kembali ke awal setelah 100 tahun berlalu ? Kita lihat saja.

(Sumber utama tulisan ini adalah Buku dwi bahasa berjudul Perjalanan Seni Rupa Indonesia, dari Zaman prasejarah hingga Masa kini, yang diterbitkan Panitia Pameran KIAS 1990-1991).