Free Writer My Lovely Fox (Part 13) « Fanfiction Lovers

Author: Bee

Main Cast: Go Miho, Eunhyuk

Support Cast: Euncha, Leeteuk, Suju member termasuk Zhoumi dan Henry

Cameo : Ji Sangryeol, Lee Donggun, Oh Sanghee, Junsu JYJ, Lee Sora

Rating: AAbK

Genre: Romance

PS : Lee Sora, kakak Eunhyuk.

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6p

 

 

“Eomma, aku pergi!” kata Miho sambil mencium kedua pipi ibunya.

“Eommonim, kami berangkat dulu,” Eunhyuk ikut berpamitan pada ibu Miho. Pagi ini dia kembali menjemput Miho. Rutinitas ini sudah berjalan hampir satu bulan.

Dalam kurun waktu lebih dari tiga minggu, Miho dan Eunhyuk sudah seperti Miho dan Euncha dulu. Saling berbagi cerita, kirim-kiriman pesan, tiada hari tanpa menelepon dan bertemu. Yang hebatnya, tidak ada member Super Junior yang tahu. Eunhyuk cukup bangga akan hal ini.

Meski di satu sisi dia sudah menganggap Miho hanya sebagai Miho, tidak lagi terganggu oleh standing transgendernya, di sisi yang lain dia lega karena tidak harus menghadapi pandangan penasaran dari teman-temannya. Cukup Leeteuk saja yang mengalaminya.

Hyungnya itu kini berstatus sebagai kekasih Miho. Di mata publik, Leeteuk dan Miho adalah pasangan. Meski banyak orang tidak menyukai hal itu, tapi hal itu sudah ditetapkan oleh SME. Ironisnya, hal itu justru Eunhyuk yang menyarankan. Dialah yang membujuk Leeteuk, Manajer Hyung dan ikut membantu bicara pada Sooman Sajangnim mengenai solusi ini.

Penyerangan terhadap Miho yang waktu itu dipergokinya ternyata hanya awalnya. Semakin hari fans yang tidak pengertian semakin tidak terima dan Miho mendapatkan banyak ancaman serta serangan. Akhirnya setelah didesak oleh Leeteuk dan—secara diam-diam—oleh Eunhyuk, Miho menerima penawaran SME agar mengadakan konferensi pers untuk ‘meresmikan’ hubungannya dengan Leeteuk. Fakta bahwa hubungan itu sebenarnya tidak pernah terjalin, hanya diketahui oleh anak-anak Super Junior dan Manajernya. Bahkan Sooman Sajangnim mengira bahwa Leeteuk dan Miho benar-benar berhubungan, meski tidak mengatakannya secara terang-terangan.

Sejak saat itu Eunhyuk sering mengantar-jemput Miho latihan teater ataupun mengunjungi Leeteuk. Di depan Miho dia bersikap seolah semua orang tahu hal ini, tapi sebenarnya dia melakukannya dengan diam-diam. Sampai saat ini dia berhasil mengelak dari situasi yang bisa membuatnya terpergok, dan dia berharap akan terus begitu.

Eunhyuk tidak ingin kesenangannya yang tidak seberapa ini diganggu oleh siapapun. Selama dia bisa berada di dekat Miho, itu sudah cukup.

 

 

Leeteuk mengetik pesannya untuk Miho, “Nanti malam kamu bisa datang ke dorm? Anak-anak baru pulang dari Taiwan. Kami butuh bantuanmu menghabiskan makanan.”

Pria itu tersenyum membaca kembali smsnya sendiri. Sent.

Lalu hatinya girang. Yeah, ketemu Miho lagi. Kapan ya terakhir dia bertemu wanita itu? Kalau tidak salah seminggu yang lalu, sebelum Super Junior M berangkat ke Taiwan. Wanita itu datang ke acara perayaan yang diadakan oleh salah satu brand pakaian yang menggunakan Super Junior sebagai indication eksklusifnya. Tugasnya waktu itu adalah mendampingi Leeteuk, dan dia berhasil melakukannya dengan baik sekali.

Leeteuk menyadari, semakin hari dia semakin tertarik pada Miho. Saat ini dia sedang mengusahakan agar hubungannya dengan Miho bukan hanya di depan publik, tapi menjadi nyata. Sebab jujur saja dia tidak nyaman menjalani kehidupan pura-pura seperti ini. Selain itu perasaannya pada Miho juga bukan pura-pura. Meski Leeteuk tidak terlalu yakin bagaimana tepatnya perasaannya pada wanita itu, tapi dia tahu rasa suka itu ada.

Leeteuk tersenyum lagi dan menutup ponselnya. Kakinya melangkah ke area pemotretan. Sekarang kerja dulu, baru nanti memikirkan Miho.

 

 

Miho membuka ponselnya. Lalu tertawa kecil.

“Wae geurae?” di sebelahnya Eunhyuk bertanya penasaran.

“Oppa. Dia menyuruhku menghabiskan oleh-oleh kalian di dorm.” Miho menjawab sambil mengetik balasan untuk Leeteuk. “Siap, Boss! Demi makanan enak, Go Miho akan datang! Jam berapa, Boss?” ketiknya.

Eunhyuk mendengus. “Hah! Yang punya oleh-oleh siapa… yang nawar-nawarin siapa!” ujarnya pura-pura kesal. Miho mencibir menggodanya. Eunhyuk merasa ada yang mencubit kecil hatinya, seperti yang biasa terjadi kalau dia tahu Leeteuk menghubungi Miho. Hah, entahlah dia ini bodoh atau apa.

“Kamu ga ikhlas?” tanya Miho pura-pura tidak enak hati.

“Ne!” jawab Eunhyuk tegas. “Aku beli makanan kan untuk kumakan sendiri,” katanya melanjutkan. Aku ga ikhlas kamu dekat-dekat Leeteuk Hyung, bisik hatinya.

“Iiissh, kamu ini pelit banget sih?! Sebodo, yang penting aku udah diundang sama Hyung-mu, dan AKU AKAN DATANG… HAHAHAHA…” katanya menirukan suara Sinchan.

Eunhyuk menjitak kepala Miho. Mengundang pelototan wanita itu padanya. “Mwo?” Eunhyuk malah menantang.

Miho mengulurkan tangan hendak menjitak balik Eunhyuk, tapi cowok itu berhasil menghindar. Ujung-ujungnya mereka berdua malah saling melancarkan serangan sampai di depan gedung teater Miho. Di sana Eunhyuk bertanya, “Aku pengin lihat latihanmu, boleh?”

Miho tidak menatapnya, malah sibuk berusaha mengambil tas perlengkapannya dari bangku belakang mobil Eunhyuk. Karena tidak teraih-raih juga, akhirnya Eunhyuk membantu mengambilkan. Cowok itu agak mencondongkan badannya dan berhasil meraih tas Miho. Saat itu Miho menyadari betapa dekatnya tubuh Eunhyuk dengan dirinya. Dan apa yang sudah dicermatinya belakangan ini tampak jelas sekali lagi di benaknya. Sosok Eunhyuk, sedekat apapun pria itu padanya, tidak pernah menimbulkan rasa gugup dalam dirinya. Dia nyaman dan bahkan menikmati saat-saat kedekatan mereka.

Ketika Eunhyuk mengangsurkan tasnya, kedua pasang mata mereka bertemu. Miho tidak tahu kenapa tapi dia menyukai getaran yang timbul saat mereka saling bersitatap sedekat ini. Sayangnya seperti biasa, Eunhyuk selalu cepat-cepat berpaling. Ciss, dasar cowok petakilan, tidak bisa diam sejenak saja, pikirnya, padahal kan Miho masih ingin melihatnya. Tangannya terulur menjitak pelan kepala Eunhyuk. “Kena!”

Eunhyuk menoleh cepat. Kupingnya agak memerah. Miho berpikir itu karena Eunhyuk malu sebab Miho akhirnya bisa juga membalas. Dengan tiba-tiba dia tertawa penuh kemenangan, suaranya seperti setan, “Hiihihihihiii! Aku berhasil!”

Eunhyuk tampak kesal. “Eiish!” ujarnya mencoba membalas. Tapi Miho sudah lebih sigap, dia berhasil mengelak.

“Meeeerong!” kata wanita itu sambil keluar dari mobil Eunhyuk cepat-cepat dan memasuki gedung teater.

Di dalam mobil Eunhyuk cepat-cepat mengenakan jaket, topi dan kacamatanya. Begitu memastikan mobilnya telah terparkir dengan aman, dan jalanan cukup sepi, dia keluar sambil menunduk dan berlari memasuki gedung teater.

Walau tadi Eunhyuk sempat meminta ijin, itu hanya basa-basi. Ini bukan pertama kalinya cowok itu menonton Miho berlatih. Dia sudah beberapa kali ke sana saat sedang tidak ada jadwal, seperti hari ini. Dia sudah hapal letak ruang latihan Miho. Segera saja dia menuju ke lantai 2, tempat dimana latihan biasanya dilakukan. Sampai di depan pintu ruang latihan, dia bertemu Miho yang hendak meninggalkan ruang latihan. “Mau kemana?” tanya Eunhyuk terkejut.

“Ah, mau ke panggung. Ayo,” katanya sambil langsung menggandeng tangan Eunhyuk untuk turun. Eunhyuk menatap ruang latihan yang kosong dengan bingung. Sambil jalan Miho menjelaskan, “Aku belum cerita ya? Sejak dua hari yang lalu, kami sudah mulai berlatih langsung di atas panggung. Hari ini aku ke atas cuman untuk ngambil catatan naskahku yang kemaren ketinggalan.”

Eunhyuk mendengarkan lalu mengendapkan informasi itu dalam benaknya. Jadi ini akan jadi latihan panggung yang pertama dilihatnya. Sedang berpikir begitu, mendadak ponselnya bergetar. Ada sms masuk dari kakaknya. Mereka memang ada janji kencan hari ini, tapi dia juga ingin melihat latihan panggung Miho. Besok-besok waktunya tidak sesenggang hari ini.

Miho mengajaknya masuk melewati sebuah pintu bertirai. Di baliknya terdapat ruangan yang gelap. Pencahayaan hanya dipusatkan ke arah panggung. Selain itu, lampu yang dinyalakan sedikit sekali, hanya sekedar memberi tahu keberadaan jalan. Miho menyuruh Eunhyuk duduk di salah satu kursi, lalu dia sendiri berlari bergabung dengan beberapa temannya yang sudah lebih dulu datang.

Begitu duduk, Eunhyuk meraih ponsel dan membalas sms kakaknya, memintanya bertemu di gedung teater Miho, dan baru berkencan setelah makan siang. Dia tersenyum sayang. Bagi kakak beradik itu, saat-saat bertemu memang biasanya sangat menyenangkan, oleh karena itu mereka menyebutnya sebagai acara kencan. Tak berapa lama datang lagi balasan dari kakaknya. Akhirnya sambil menunggu latihan Miho dimulai, dia asyik ber-sms ria dengan sang kakak. Tak menyadari bahwa bangku-bangku penonton mulai terisi dengan orang-orang.

Ketika latihan dimulai, Eunhyuk berhenti berkirim pesan dengan kakaknya dan masih tak menyadari keberadaan serombongan orang di belakangnya. Dia mengikuti latihan Miho dan mengamati wanita itu dengan seksama. Meski sudah hapal alur ceritanya, Eunhyuk tak pernah bosan mengamati ekspresi Miho yang berubah-ubah di atas panggung. Sikap tubuhnya yang luwes mengikuti tuntutan naskah, suaranya yang berirama, Eunhyuk menikmati semuanya itu.

Cowok itu begitu larut dalam pengamatannya hingga ketika seseorang melintas di deretan bangku di depannya, dia merasa terkejut. Pria itu mengambil tempat sendirian agak jauh darinya, lalu duduk tenang. Apakah orang-orang umum diperbolehkan menonton latihan dengan bebas? Kalau dia kan sudah minta ijin dan bukan termasuk orang umum lagi, karena sudah beberapa kali menonton. Dan kok orang itu percaya diri sekali duduk di depan begitu? Biasanya orang baru kan duduk di belakang, pikirnya sambil menoleh. Saat itulah matanya membelalak.

Banyak sekali orang di belakangnya. Mereka semua memperhatikan panggung dengan seksama. Eunhyuk baru tahu bahwa play teater itu, latihannya saja sudah mengundang banyak sekali peminat. Segera dia berpaling kembali ke depan.

Saat itu ponselnya bergetar lagi. Kakaknya sudah sampai di depan gedung teater dan bingung harus memasuki gedung yang mana. Eunhyuk bangkit dari duduknya, tepat saat Ji Sangryeol memberi perintah menghentikan latihan untuk beristirahat. Dia sudah berdiri di jalanan sempit yang diterangi lampu seadanya hendak keluar menjemput kakaknya, tapi Miho sepertinya melihat ke arahnya dan hendak menyapa. Dia jadi bingung. Mana yang harus dilakukannya dulu? Menjemput kakaknya atau menemui Miho dulu?

Ternyata, Miho hanya melambai santai ke arahnya dan bukannya mendekat padanya, dia justru mendekati pria yang tadi datang terlambat dan mengejutkan Eunhyuk, sepertinya mereka saling kenal. Kalau begitu sebaiknya dia segera menjemput Sora Noona. Sebentar saja Eunhyuk sudah berlari menaiki tangga menuju pintu keluar.

“Oppa!” diluar Eunhyuk mendengar suara kakaknya berseru memanggilnya dengan panggilan khusus. Dia berputar-putar mencari, dan begitu ketemu, kakaknya sudah berdiri di dekatnya. Senyum Eunhyuk melebar lalu langsung memeluk kakaknya hangat.

“Noona!” serunya.

Lee Sora melepas pelukannya untuk melihat kondisi sang adik. Diamatinya wajah Eunhyuk, lalu setelah puas karena tidak menemukan kekurangan apapun, dia segera memberondong adiknya itu dengan berbagai pertanyaan. Tentang kesehatannya, pekerjaannya, teman-temannya, shownya, oleh-oleh, dan sebagainya. Eunhyuk menjawab semuanya dengan tidak kalah antusias. Dia menceritakan semuanya sambil menggiring kakaknya memasuki gedung teater.

“Geundae,” Sora memotong, “Kenapa di sini? Emang kamu mau categorical drama?”

Mereka memasuki ruang pertunjukan, Eunhyuk membimbing kakaknya duduk di sekitar tempat duduknya tadi. “Ani,” jawabnya pelan. “Temanku yang sedang latihan. Aku cuman nganterin dia. Jadi sekalian aja ngajak Noona ke sini. Kita belum pernah kan, kencan di gedung pertunjukan?” jawabnya lucu.

Sora menyeringai senang, tapi sebelum dia sempat berkata apa-apa, Eunhyuk lebih dulu berbicara, “Noona, tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet.” Sora mengangguk dan berkata dia akan menunggu Eunhyuk.

Merapatkan topinya, Eunhyuk berjalan keluar ruangan dan mencari toilet. Tidak butuh waktu lama. Dalam 10 menit dia sudah sedang berjalan lagi kearah ruang pertunjukan. Dia melihat beberapa orang gadis sedang berdiri berkerumun di depannya, lalu tiba-tiba salah seorang di antara mereka melihatnya dan mulai menunjuk-nunjuk padanya.

Perasaan Eunhyuk tidak enak. Mengikuti instingnya, dia membelok ke arah squad terdekat di sebelah kiri. Sambil menajamkan telinganya, dia mempercepat langkah. Firasatnya ternyata benar. Dia mendengar gadis-gadis itu menyebut-nyebut namanya. Mereka pasti fans. Sayangnya hari ini Eunhyuk benar-benar tidak punya mood dan persiapan untuk meladeni fans. Dia masih capek sekali sejak dari Taiwan kemarin. Dia hanya ingin bersantai dengan orang-orang yang membuatnya nyaman. Takutnya, kalau Eunhyuk memaksakan diri menemui fans, dia akan bersikap kurang baik dalam meladeni mereka dan membuat mereka kecewa. Jadi lebih baik dia menghindar.

Tapi rupanya gadis-gadis itu cukup gigih. Mereka berusaha mengejar Eunhyuk. Yang dikejar terus berusaha menghindar dengan berjalan semakin cepat. Bisa dibilang setengah berlari sekarang. Gedung ini sepertinya gedung lama. Dibangun dengan gaya barat, memiliki banyak lorong di dalamnya, sehingga Eunhyuk bisa dengan mudah berbelok mencari jalan, tapi dia yakin bahwa pada akhirnya nanti dia pasti akan harus mengakui bahwa dia tersesat. Sekarang saja dia tidak tahu sedang berada dimana.

Eunhyuk membelok ke kanan dan tiba-tiba dia menabrak tirai gelap yang dikiranya dinding. Seseorang menariknya ke dalam sana. Mulutnya dibekap sehingga teriakannya tidak bisa keluar. Sekarang ini dia berada di sebuah celah sempit, mungkin hanya setengah scale lebarnya. Di ujung celah itu terdapat jendela yang memberi cahaya ke dalam, memungkinkannya melihat siapa penyanderanya. Hatinya berdebar kencang.

 

 

Mau kemana, Eunhyuk? Pikir Miho ketika melihat pria itu keluar lagi setelah tadi sempat kembali ke dalam membawa seorang wanita. Miho tidak bisa melepaskan pengawasannya dari wanita itu dan Eunhyuk sejak mereka memasuki ruangan, meski mulut dan telinganya terus berkonsentrasi pada percakapannya dengan Donggun. Tingkah mereka mesra sekali, pikir Miho agak sengit.

Saat Donggun mengatakan sesuatu, perhatian Miho teralihkan pada beberapa gadis yang ikut keluar di belakang cowok itu. Mereka anggota kelas play dari Institut Seni Seoul yang hari ini kebetulan sedang mengadakan outdoor class di teater mereka. Memang, meski kecil dan sedikit gaung di dunia komersial, teater milik Ji Sangryeol ini dikenal bukan amatir dan konsisten menampilkan pertunjukan-pertunjukan berbobot. Jadi tidak heran kalau kelas play dari beberapa universitas maupun institut seni sering menghadiri latihan dan pertunjukan mereka sebagai salah satu sumber pembelajaran.

Insting Miho mengatakan bahwa beberapa gadis yang mengikuti Eunhyuk keluar itu bukan hendak belajar. Apakah mereka bisa mengenali Eunhyuk? Haruskah dia memperingatkan cowok itu? Ah, tapi bukankah dia seorang selebriti kawakan? Harusnya sudah terbiasa dengan serbuan fans yang tiba-tiba dong.

Tapi Eunhyuk lelah. Cowok itu baru datang tadi malam. Tadi pagi bukankah dia melihat sendiri kerutan-kerutan lelah di sudut mata Eunhyuk? Ah sebaiknya aku ikuti saja diam-diam. Kalau terjadi sesuatu, aku mungkin bisa membantu Eunhyuk, putus Miho.

Dengan sopan dia berpamitan pada Donggun, kemudian beranjak mengikuti gadis-gadis tadi. Dia berusaha sedekat mungkin dengan mereka agar bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Ternyata mereka memang bermaksud mengikuti Eunhyuk yang sekarang sedang di toilet.

Kejadian berikutnya cepat sekali. Tahu-tahu, begitu keluar dari toilet, Eunhyuk berbelok dan mulai berjalan cepat. Miho langsung sadar bahwa Eunhyuk sedang menghindari gadis-gadis itu. Padahal tadinya dia sudah hendak menolong Eunhyuk dengan mengalihkan perhatian mereka, tapi cowok itu malah lari. Gagal deh rencana jeniusnya. Terpaksa Miho mencari alternatif lain untuk menyelamatkan Eunhyuk. Dia ikut mengejar cowok itu di belakang para gadis tadi.

Lalu datanglah apa yang ditunggu-tunggu oleh Miho. Eunhyuk berbelok ke arah belakang panggung. Miho tahu jalan lain untuk mencegatnya. Semuanya tepat waktu. Ketika Eunhyuk melintas, Miho sudah siap di tempatnya.

Hap! Dia berhasil menyekap cowok itu sebelum pergi lebih jauh. Ketika Eunhyuk akhirnya melihat siapa penyergapnya, Miho bisa melihat matanya membelalak. Cengiran Miho tidak bisa ditahan. Dia puas operasinya berhasil. Operasi penyelamatan Eunhyuk.

 

 

Eunhyuk perlahan meletakkan tangannya di kedua sisi kepala Miho. Wanita itu sedang menoleh ke kiri, berusaha berkonsentrasi mendengarkan suara tapak kaki para pengejar Eunhyuk. Sama sekali tidak menyadari mata Eunhyuk yang lekat menatapi wajahnya.

Bahkan dalam jarak sedekat ini kulit Miho terlihat amat halus. Dalam posisi mereka sekarang, Eunhyuk dapat mencium aroma tangan Miho yang lembut. Wajah mereka hampir bersentuhan, membuat Eunhyuk hampir mengerang putus asa. Mata Miho tidak terpaut jauh dari matanya, sebab wanita itu memang tinggi. Untuk mencegah datangnya bayangan yang tidak-tidak, Eunhyuk mengalihkan pandangan. Dia menatap sisi kepala Miho.

Hal yang salah untuk dilakukan, sebab sekarang tanpa bisa dicegah dia membayangkan dirinya menciumi telinga mungil wanita itu. Mengharapkan jarinya bisa menyusuri kulit kepala Miho dan tersesat dalam helaian rambutnya yang halus mengikal.

Miho tiba-tiba berpaling dan melepaskan tangannya sehingga jarak antara kedua bibir mereka hanya beberapa senti saja. Hidung mereka sudah bersentuhan. Jangan ditanyakan sedekat mana tubuh mereka sekarang, yang jelas Eunhyuk sekarang sedang berusaha menghitung domba khayalan untuk mengalihkan perhatiannya dari lekuk-lekuk tubuh Miho yang terasa jelas di tubuhnya.

Miho sama sekali tidak menyadari efek kedekatan mereka. Setelah yakin keadaan aman, Miho mengeluarkan cengirannya. Dengan senang dia malah mengajak Eunhyuk bercanda. Digesek-gesekkannya hidung mereka berdua dan tangannya memegangi pinggang Eunhyuk.

Eunhyuk tidak kuat lagi. Ini jauh terlalu berat untuk ditanggung pria manapun. Dia mengangkat wajahnya frustasi, tidak sengaja menyenggol pucuk hidung Miho dengan bibirnya. Kemudian dia menatap Miho tepat di matanya. Dengan kendali diri yang tinggal setipis benang, dia memeluk Miho erat. Alih-alih mencium wanita itu seperti yang sangat diinginkannya, Eunhyuk meletakkan dagunya di bahu Miho sambil memejamkan mata. Tolong jangan sebut dirinya lemah. Dia sudah berusaha sekuatnya, tapi sihir Miho terlalu kuat memanipulasi akal sehatnya, pikirnya mengangkat sebelah tangan untuk membelai kepala Miho.

Tangan Eunhyuk kini berada di lekukan pinggang Miho. Memeluk wanita itu semakin lama semakin erat. Perlahan telapaknya bergerak menyusuri tulang punggungnya yang berlekuk menggoda. Bibirnya mengecup bahu Miho dari balik kaus yang dikenakan wanita itu. Bisa dibilang Eunhyuk saat ini sedang melumat Miho pelan-pelan dalam pelukannya.

Miho terkejut setengah mati. Awalnya dia terdiam karena kaget, lalu lama-kelamaan, kesadaran akan apa yang sedang dilakukan Eunhyuk menyiram hatinya dengan rasa dingin. Rasa dingin itu merembet terus keluar tubuhnya. Pelukan Eunhyuk kali ini berbeda. Dia sudah beberapa kali dipeluk cowok itu. Semuanya ringan dan menenangkan. Tapi kali ini berbeda, Eunhyuk membuatnya ketakutan. Apalagi mereka sedang berada di tempat sempit yang lebih sempit dari gang. Miho bisa merasakan kepanikannya datang seperti dia melihat dementor yang mendekat.

Eunhyuk yang belum menyadari datangnya kepanikan Miho, terus membelai punggung wanita itu. Di kepala Miho, tangan satunya melakukan apa yang sudah dari dulu didambakannya, meremas rambut Miho sedikit, kemudian menyusuri kulit kepalanya langsung dengan jemarinya. Nafasnya mulai terasa lebih berat karena emosi dan hasrat. Makin menumpulkan sensitivitasnya terhadap kondisi tubuh Miho.

Miho mencengkeram erat pinggang Eunhyuk. Kali ini ketakutannya jauh lebih mengerikan. Kalau biasanya dia akan menyembunyikan diri dalam dunia isolasi, sekarang dia tak mampu melakukannya. Secara keras kepala kesadarannya tidak mau tenggelam. Akibatnya tubuhnya mulai bergetar karena ketakutan mulai mencekamnya.

Miho mendorong Eunhyuk lalu bergerak menjauhi pria itu secepat yang dia bisa. Perasaan dan otaknya bekerja dengan tidak masuk akal. Dia ketakutan, tapi otaknya memberontak ketika ketakutan itu datang. Hatinya menyuruhnya berlari, tapi sesuatu di kepalanya menyadari Eunhyuk dengan begitu jelas. Pria itu adalah satu-satunya pria selain ayahnya yang bisa Miho peluk dengan nyaman, sekaligus pria yang saat ini menakutinya teramat sangat.

Kekalutan Miho tampak jelas. Eunhyuk bisa mendengar suara nafasnya yang memburu. Wanita itu menjauhinya dan bergerak ke sudut celah sempit tempat mereka berada, membuat Eunhyuk teringat akan hewan kecil tak berdaya yang ketakutan menghadapi pemangsanya di acara dokumentasi Afrika yang sering dia tonton. Seketika rasa bersalah menghantamnya, memupuskan gairah apapun yang sempat muncul. “Mihyung…” katanya tercekat.

Miho malah makin surut ke belakang. Matanya terbelalak.

Eunhyuk mengulurkan tangannya, Miho panik, karena sekarang tubuhnya sudah membentur dinding. Saat Eunhyuk melangkah mendekatinya, wanita itu tiba-tiba berteriak, “Ga (Korean, yang berarti ‘pergi’)! Jangan mendekat!”

Eunhyuk terkesiap. Matanya terkerjap mendengar seruan Miho. Sejenak kemudian dia menyadari apa yang dikatakan wanita itu, lalu mundur menurutinya. Sampai jarak mereka sejauh panjang celah sempit itu, Eunhyuk baru bisa melihat sedikit keberanian muncul di mata Miho. Sedikit sekali, tapi dia bernafas lega.

Kedua manusia itu terus saling menatap mengawasi satu sama lain. Eunhyuk begitu khawatir pada Miho sekaligus sedih karena reaksi Miho itu diakibatkan olehnya, sementara Miho terus terombang-ambing antara fobia dan kesadaran dirinya akan Eunhyuk. Entah sudah berapa lama mereka seperti itu ketika terdengar dering telepon.

Eunhyuk meraba sakunya, “O, Noona. … Ne, aku sudah selesai. … Ya, aku sebentar lagi kembali. … Maaf…” Miho mendengar suara Eunhyuk menjawab telepon.

Begitu telepon ditutup, Eunhyuk berkata, “Itu kakakku. Aku ingin mengenalkannya padamu. Dia—“

“GA!” jerit Miho. “Pergi dari sini! Aku tak ingin dekat denganmu sekarang!” Miho berseru putus asa, mengabaikan apapun penjelasan Eunhyuk.

Tanpa bisa dicegah, Eunhyuk terluka. Miho melihatnya, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Eunhyuk membangkitkan rasa takutnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Dekat-dekat dengan pria itu membuatnya gemetar, dan ketakutannya tidak menguasai seperti biasanya. Ketakutannya terasa. Dia tidak mau merasakannya. Eunhyuk harus pergi.

Melihat Miho menutup matanya rapat-rapat karena tidak mau melihatnya, Eunhyuk mundur dengan sedih. Dia memang merasa bersalah karena memeluk Miho dan meraba pinggangnya. Dia merasa bejat karena menimbulkan sinar ketakutan dalam mata wanita itu. Tapi hatinya begitu sakit mendengar Miho tak ingin dia membantu mengatasi ketakutannya, padahal biasanya dia bisa menenangkan wanita itu.

Akhirnya Eunhyuk berjalan mundur pelan-pelan. Dia keluar dari celah sempit itu dalam diam. Meninggalkan Miho dalam kesendirian. Sebelum benar-benar pergi, dia mengintip sekali lagi ke dalam celah, lalu berkata lirih, “Aku pergi.”

Hati Miho mencelos mendengar nada bicara Eunhyuk. Tapi matanya tidak mau membuka. Dia belum siap. Benar-benar belum siap.

 

 

“Kamu dimana?”

“Di kampus, Eonnie.”

“Temani aku, Eunchanie… Aku mohon.”

Euncha terdiam. Dia lalu menatap Jihoon di depannya. “Kemana?” Euncha bertanya pelan.

“Ke asrama Suju.”

“Eunhyuk Op—”

“Aku maunya denganmu!” ketus Miho langsung. Euncha mendengar Miho menarik nafas dengan gemetar.

“Eonnie gwaenchanha?”

Miho merintih, “Eunchanie, kumohon temani aku…”

“Ya. Aku akan pergi denganmu. Jam berapa, Eonnie?” jawabnya iba sambil menatap Jihoon yang melihatnya dengan penasaran.

“Jam 6. Aku di teater,” Miho menjawab lagi dengan gemetar.

“Oke. Eonnie yakin aku ga perlu datang sekarang?” tanya Euncha. Gadis itu pura-pura tidak melihat Jihoon yang membuang muka kecewa.

“Ga papa. Jam 6 aja.” Lalu diam sesaat. “Terima kasih, Eunchanie…”

“O, bukan apa-apa kok. Tapi Eonnie harus traktir aku.”

Miho tidak menjawab. Hanya terisak. Euncha bertanya-tanya apakah Miho sedang menangis. Kakaknya itu tidak pernah menangis beberapa tahun belakangan kecuali ketika mimpi buruk mendatanginya atau karena orang tuanya. Saat sedang sadar, wanita itu seolah jadi wanita tanpa kelenjar atmosphere mata setelah menyatakan diri sembuh dari depresinya.

Tanpa menjawab apapun lagi, Miho menutup teleponnya. Euncha hanya memandangi ponselnya dengan khawatir. Pelukan tangan Jihoon yang mengetat di pinggangnya mengembalikan kesadarannya akan situasi saat ini. “Mihonnie membutuhkanku,” katanya meminta maaf pada Jihoon.

Lelaki itu menatap Euncha dalam dan tahu bahwa tidak adil kalau dia memaksa Euncha tetap tinggal di sisinya. Gadis itu akan merasa terbebani. “Arasseo,” jawabnya.

“Maaf,” kata Euncha sambil membenamkan wajahnya di dada Jihoo.

Jihoon membelai kepalanya dengan sayang. “Sudahlah. Kalau aku berniat menikah denganmu, aku harus terbiasa dengan ini. Aku tidak keberatan kok.”

Euncha mendongak cepat. Memandangi wajah pria yang dalam beberapa minggu belakangan telah membuat dunianya berbeda. “Menikah?”

Jihoon mengecup Euncha singkat. “Ssireo? Eotteohke? Ayah dan ibuku sudah sangat ingin menyimpanmu dalam rumah sebagai menantu kesayangan…”

Euncha cemberut.

Jihoon tertawa, “Hahaha, tenang saja, aku sudah bilang pada mereka bahwa aku tidak mau cari uang sendiri. Aku ingin cepat kaya, jadi kau juga harus bekerja.”

Euncha tersenyum.

Jihoon jadi ingin mengecupnya lagi. “Dan mereka senang karena tahu kau akan bekerja di dekatku, jadi aku bisa selalu mengawasimu,” katanya sambil menggoda sudut mulut Euncha.

Euncha menoleh dan mencium Jihoon yang langsung dibalas oleh pria itu. Sesaat kemudian gadis itu melepaskan ciumannya. “Aku ga pernah nyangka akan menggunakan lab ini untuk bermesraan. Sama profesorku, pula,” ujarnya sambil tertawa.

Jihoon menggesekkan hidungnya pada hidung Euncha, “Biasakanlah. Kelak ini akan jadi ‘sarang’ kita.”

Euncha menekan ujung hidung Jihoon dengan telunjuknya, “Itu, kalau aku diterima.”

“Aku sudah bilang tadi kan, ini akan jadi ‘sarang’ kita. Aku bilang akan, bukan kalau.” Jihoon menukas.

Awalnya Euncha hanya menatap bingung. Lalu perlahan pengertian merambati hatinya. Matanya terbelalak, senyumnya terbit. “Aku… diterima?” serunya tertahan.

Jihoon menoleh ke belakang. Diambilnya berkas yang sedari pagi sudah dipegangnya erat. Diserahkannya berkas itu pada Euncha. “Keduanya. Bulan depan kau sudah mulai bisa meneliti sambil membantuku membuat silabus pengajaran. Dan kantor itu,” Jihoon menunjuk sebuah ruangan di depan mereka, “akan jadi kantormu.”

Euncha menjerit kesenangan. Dia mengangkat berkas di tangannya tinggi-tinggi dan menari-nari aneh. Kepalanya bergoyang-goyang menyebabkan rambutnya yang terurai terlempar ke sana kemari. Jihoon tertawa melihat tingkahnya. Setelah kesenangan itu mereda, Euncha segera membuka berkasnya dan membaca surat keterangan penerimaan sebagai mahasiswa master melalui jalur penelitian dan sebagai bagian staf pengajaran. Dia menatap Jihoon terharu. “Terima kasih, Oppa…”

Jihoon mengangkat bahu. “Aku tidak melakukan apa-apa. Itu semua Dewan yang memutuskan.”

“Terima kasih, Dewan” kata Euncha berlebihan sambil mengangkat tangan dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit.

Jihoon merengkuh lagi pinggang Euncha. “Tapi kau jangan lupa, kau tahu informasi lowongan ini dari aku. Dan aku yang mengantarmu sewaktu kau menyerahkan berkas. Jadi sebaiknya kau membayar jatahku sekarang juga, gadis manis…”

Euncha terkejut. Tapi senang. Tangannya disusurkan ke pundak Jihoon. “Eotteohke? Aku belum mulai kerja, jadi aku tidak tahu harus membayar pakai apa…” katanya pura-pura bodoh.

Jihoon tidak sabar lagi. “Pakai ini,” katanya cepat sebelum mencium Euncha dalam.

Akhirnya mereka malah asyik berciuman sampai ada orang yang memasuki lab dan membuat mereka berpisah dengan canggung.

 

 

Asrama Suju ramai sekali karena semua orang sedang berkumpul di sana, ditambah Miho, Euncha, dan Sora. Makanan tersebar di meja, begitu pula dengan berbagai jenis minuman. Semua orang tampak bersenang-senang malam ini.

Meski begitu dalam hati Miho merasa kacau saat melihat Eunhyuk. Cowok itu joke merasa tak karuan saat matanya menangkap keberadaan Miho. Mereka duduk terpisah sejauh lebar ruangan. Eunhyuk tak berani mendekati Miho, takut wanita itu ketakutan lagi, sementara Miho tak sanggup membayangkan dekat-dekat dengan Eunhyuk.

Hati Eunhyuk harus berulang kali menekan rasa tidak sukanya ketika Leeteuk berada dekat-dekat dengan Miho dan wanita itu hanya tertawa dengan riang. Kenapa Miho takut padanya, tapi tidak takut pada Leeteuk? Protes hatinya. Otaknya yang menjawab, itu karena kau sudah melanggar batasmu, bodoh!

Eunhyuk tidak tahan ketika Leeteuk menyuapi Miho sepotong dumpling. Dia beranjak keluar ke balkon. Sebaiknya dia di sana saja, jadi tidak perlu melihat semua itu.

Miho sendiri berusaha sekeras yang dia mampu untuk tidak memperhatikan Eunhyuk. Meski usahanya seringkali berakhir dengan kegagalan. Keceriaan ini seperti palsu karena Eunhyuk tidak tertawa bersamanya. Sedihnya, saat Eunhyuk tertawa, Miho tidak bisa ikut tertawa. Intinya, malam ini kemurungannya benar-benar berada di turn parah.

Dia dan Euncha datang berdua, setelah Eunhyuk datang bersama kakaknya. Pesta dadakan di asrama Suju memang dianggap antusias oleh semua orang. Bahkan Henry dan Zhoumi bisa bergabung bersama mereka. Dalam kondisi normal, Miho pasti sudah kegirangan karena ini pertama kalinya dia bertemu Henry dan Zhoumi. Sayangnya, Miho tidak dalam kondisi yang baik.

Henry mendekati Miho. “Noona, sejak kapan kau dekat dengan Leeteuk Hyung?” tanyanya.

“Ya!” seru Heechul. “Panggil dia Hyung!”

Henry melihat Heechul. Sinar matanya terkejut. “Waeyo?”

Para anggota Suju saling melirik. Hanya Leeteuk yang sudah meulai tertawa. Miho memukul lengan Leeteuk manja. “Oppa, kamu jahat!” katanya pelan.

Melihat interaksi di antara keduanya, semua anggota Suju kecuali Henry dan Zhoumi langsung merinding. “Hyung, sudahlah. Tidak ada media di sini, Manajer Hyung juga sudah pulang. Kalian jangan bertingkah begitu. Menjijikan!” protes Shindong dengan wajah hendak muntah.

Leeteuk makin terpingkal-pingkal, Miho akhirnya bisa tertawa lepas, mengikuti tawa Euncha yang juga sudah tertawa keras. Sora, Zhoumi dan Henry kebingungan. Saat itu Eunhyuk kembali memasuki ruangan karena hendak mengisi gelasnya kembali. Leeteuk bergerak mendekati Miho. Tanpa diduga pria itu mengecup pipi Miho lembut.

Kecuali Zhoumi dan Henry yang terkejut, semua member Suju mengeluarkan suara seperti muntah. Shindong, Heechul dan Kyuhyun bahkan melakukannya dengan berlebihan, mereka menggeletak ke lantai seolah pingsan. Yesung langsung bangkit meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Ryeowook. Sungmin membuang muka, Siwon dan Donghae menunjukkan ekspresi seolah dunia sudah kiamat.

Sora dan Euncha terpana, mulai mendeteksi ada yang tidak biasa dengan ekspresi Leeteuk. Eunhyuk terbelalak kaget. Hatinya bagai dicincang melihat Miho baik-baik saja setelah dicium Leeteuk. Dengan kasar dia meraih ponselnya lalu menelepon Junsu, hanya sahabatnya itu yang bisa diingatnya sekarang. Dia harus keluar. Sudah cukup, dia tidak sanggup lagi berada di sana. Tidak seorangpun menyadari kepergiannya. Tidak juga Miho.

Miho terlalu kaget dengan tindakan Leeteuk. Matanya terus menatap Leeteuk tak percaya. Berani sekali pria ini, pikirnya agak kesal. Leeteuk menangkap pandangan Miho dan hanya cengar-cengir dodol. Dalam hatinya dia bersorak, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dia senang melakukannya. Membuat Miho terkejut, begitu juga dengan yang lain, juga senang bisa mencium Miho.

Miho mendesis. Dia setengah jengkel, setengah bingung tak tahu harus bagaimana. “Aku mau ke kamar mandi,” katanya beranjak meninggalkan ruangan itu.

Di kamar mandi dia teringat Eunhyuk. Dimana cowok itu? Apakah dia melihatnya? Apa yang harus Miho katakan padanya mengenai ciuman tadi? Dengan jengkel Miho membuka penutup toilet. Kenapa dia harus teringat Eunhyuk? Perasaan apa ini? Kenapa dia merasa agak bersalah teringat ciuman tadi? Lalu sebuah pemikiran mendatanginya, pasti dia merasa bersalah karena dia baik-baik saja ketika Leeteuk berbuat begitu sementara terhadap Eunhyuk dia menunjukkan reaksi yang berlebihan. Ya, sekarang Miho mulai merasa bahwa reaksinya tadi siang pada Eunhyuk adalah berlebihan. Seharusnya dia tidak mengusir Eunhyuk. Seharusnya dia tidak mendiamkan cowok itu. Seharusnya dia tidak perlu ketakutan terhadap Eunhyuk. Seharusnya dia tidak memikirkan Eunhyuk! Untuk apa?!

Dengan kesal Miho memelorotkan celananya lalu mendesah. Dipakainya lagi celananya dan keluar mencari Euncha. Dia datang bulan dan tidak membawa pembalut. Mungkin Euncha bawa. Kalau tidak, lebih baik mereka pulang saja. Sepertinya itu lebih baik.

Ternyata Euncha tidak membawa pembalut, tapi sebelum Miho sempat mengusulkan untuk pulang, Euncha sudah pergi meninggalkannya dan mendekati Sora. Di sana dia mengajak wanita itu ke depan kamar mandi dan menjelaskan situasi Miho. Sora tidak membawa pembalut, tapi tampon. Miho menerima saja. Tidak masalah yang mana baginya. Saat itu Ryeowook datang hendak buang atmosphere kecil dan menyaksikan apa yang terjadi.

Awalnya pria itu tidak mengerti. Dia melihat tampon, dia melihat Miho menerimanya lalu masuk ke kamar mandi, tidak lama kemudian Miho keluar sambil mengucapkan terima kasih pada Sora. Tanpa disadari siapapun, termasuk dirinya sendiri, Ryeowook menyeletuk keheranan, “Mihyung, kau datang bulan?”

Muka Euncha memerah. Sora terlihat tidak enak ada cowok terang-terangan menanyakan hal seperti itu. Miho memandang Ryeowook polos. “Ya. Kenapa?”

“Kau datang bulan?!” Ryeowook baru menyadari pertanyaannya.

“O!” jawab Miho tidak sabar sambil keluar kamar mandi.

Ryeowook melupakan kepentingannya lalu segera menghambur ke ruang tengah. Di sana dia menubruk Leeteuk yang masih terpingkal-pingkal karena sekarang Donghae sedang menceritakan jati diri Miho yang ‘sebenarnya’ pada Zhoumi dan Henry. Kedua member terbaru Suju tersebut langsung tampak pias. Mulut mereka membuka-tutup tidak tahu harus bagaimana. Rasanya seperti dikhianati. Miho begitu cantik, dan ternyata makhluk itu adalah…

Hiiih, mereka berdua bergidik mengingat kecupan Leeteuk di pipi Miho. Henry, yang selama ini masih takjub dengan interaksi antar pria di Korea yang begitu leluasa menunjukkan kemesraan, menjauhi Leeteuk dengan segera. Mungkinkah Leeteuk benar-benar…

Keterkejutan Zhoumi dan Henry bertambah dengan datangnya Ryeowook. Cowok itu dengan muka kesal menerjang Leeteuk dan mulai memukuli lengannya. “Dasar pembohong! Pembohong! Sialan kau Hyung! Kau pembohong!” seru Ryeowook tidak terima.

Yang lain juga terkejut. Kenapa tiba-tiba Ryeowook menyerang Leeteuk? Yesung yang tadi akhirnya memutuskan keluar kamar lagi juga terkejut ketika di tengah jalan bertemu Ryeowook yang bermuka merah dan masam. Cepat-cepat diikutinya sang dongsaeng yang ternyata hendak menyerang Leeteuk.

Di mata Henry, Ryeowook terlihat seperti pacar pertama yang cemburu begitu mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan wanita baru, dalam hal ini adalah Miho. Jujur saja, Henry berada dalam kondisi shock yang cukup serius.

Yesung menarik Ryeowook menjauhi Leeteuk. “Ya! Neo wae geurae?!”

Oke, jadi yang datang belakangan ini adalah dia yang sudah lama memendam perasaan pada Ryeowook. Atau pada Leeteuk. Aaagh, sebenarnya dia bergabung dengan grup yang seperti apa sih? Henry makin pucat memikirkan nasibnya.

“Dia bohong pada kita!” teriak Ryeowook.

“Bohong apa?!” Yesung balas berteriak.

“Mihyung itu wanita! Leeteuk hyung tahu!” balasnya lagi tidak terima, menciptakan keheningan di dalam ruangan itu.

Miho, Euncha dan Sora yang datang bersamaan juga ikut terdiam mendengar seruan Ryeowook. Di antara mereka, hanya Sora yang merasa benar-benar salah tempat. Ini benar asrama Suju bukan sih? Kok orang-orang ini aneh sekali?! Tentu saja Miho wanita!

Henry dan Zhoumi merasa otaknya beku. Tadi katanya pria, sekarang wanita, yang benar yang mana sih?

“MWO?!” Heechul yang pertama berteriak. “Bohong!” tuduhnya pada Ryeowook. “Bagaimana kau bisa berkata begitu? Kau sendiri baca kan pesan-pesannya? Di sana—”

Ucapan Heechul dipotong oleh Ryeowook. “Kalau dia pria dia tidak mungkin datang bulan seperti sekarang!”

Ruangan sepi lagi. Ketiga wanita yang sedang berdiri itu sekarang berwajah merah. Begitu pula dengan Leeteuk. Saat seorang wanita sedang datang bulan dan terang-terangan didiskusikan, hal ini baru pernah dialaminya.

Akhirnya Miho memutuskan untuk bicara. Dia melangkah di antara kerumunan. “Ne, aku seorang wanita. Annyeonghaseyo, Go Miho-imnida,” ujarnya terdengar jelas sekali karena semua orang masih terdiam.

 

 

“Ya! Kau mau categorical sampai kapan?!” tanya Junsu pada Eunhyuk yang sedang terus memainkan game di komputernya.

“Aku mau tidur di sini,” ujarnya singkat. Mukanya berkerut-kerut. Bukan karena game, tapi karena perasaannya juga berkerut-kerut.

Junsu mendesah kesal. Besok dia harus berangkat dini hari, tapi sahabatnya ini tampaknya sedang tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya dengan kesal cowok itu membalikkan badannya menghadap dinding. Terserah Eunhyuk sajalah.

Ponsel Eunhyuk berdering. “Yoboseyo,” jawabnya singkat tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Oppa! Eodi?!” suara Sora melengking kesal. “Bagaimana aku pulang?!” kesalnya pada Eunhyuk.

Sial, aku lupa pada Noona, pikir Eunhyuk. “Ne, aku pulang sekarang.” Klik. Langsung dimatikannya ponsel. Tanpa peduli pada komputer Junsu yang masih menyala, Eunhyuk melangkah ke pintu. Di sana dia berseru, “Aku pulang, Junsu-ya!”

Junsu terkejut mendengar suara Eunhyuk. Padahal dia sudah hampir tertidur. “Ya! Ya! Katanya tadi mau menginap di sini?!!” ujarnya sambil bangun mengikuti Eunhyuk keluar.

“Ga jadi. Aku pulang. Makasih gamenya.” Eunhyuk menyahut tanpa menoleh meninggalkan Junsu yang kesal.

 

-cut-

wow.. Dewi Persik Operasi Keperawanan Hanya Demi Film Horor BeritaTerkini.us

Dewi Persik- Pemilik nama lengkap Dewi Murya Agung itu mengungkapkan KK Dheraj berani membayarnya Rp 1 miliar jika melakukan operasi selaput dara.Baru-baru ini, Dewi Persik membuat pengakuan yang mengejutkan. Dewi telah melakoni operasi keperawanan demi perannya dalam film horor terbarunya ‘Pacar Hantu Perawan’. Tapi, ia sebenarnya menerima tantangan tersebut tidak hanya demi uang semata.

“Satu miliar bukan angka yang kecil, tapi apakah seorang selebritas yang lain mau menerima tawaran ini? Belum tentu semua menerima ini,” pungkas mantan istri Saipul Jamil dan Aldi Taher itu.Hal itu disampaikan artis yang akrab disapa Depe itu saat berbincang dengan detikhot melalui ponselnya, Minggu (5/6/2011). Perempuan yang sudah dua kali gagal berumahtangga itu mengaku melakukan operasi keperawanan karena ditantang oleh sang produser KK Dheraj.

“Aku operasi perawan karena aku ditantang K2K (Production) untuk categorical film ini,” ungkapnya seraya tertawa.

Dalam film terbarunya itu, Dewi berperan sebagai Mondy, seorang perempuan yang awalnya tak percaya hal-hal mistis tapi karena kesalahannya dia selalu diganggu oleh makhluk halus.

Dewi Persik

KyraLv's Fanfic Base

The Tale of Fairytale (Part XXVI)

Chapter 26: Her Secret Is So Painful

Dua hari telah berlalu sejak malam yang menegangkan itu. Yongso masih terus teringat dengan wajah pucat sepupu kesayangannya waktu itu. Akan tetapi yang pale menegangkan adalah saat Faye dan Kihyun melaporkan hasil pemeriksaan pada malam itu. Yongso tidak dapat berhenti menangis.

“Dia masih belum sadarkan diri. Kondisinya cukup mengkhawatirkan karena selain tubuhnya melemah dia juga mendapat serangan jantung juga. Aku tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar, saat ini kita hanya bisa berdoa saja,” jelas Kihyun.

“Yaa, Kihyun-ah… sebenarnya ada apa dengan Toki?” tanya Kangin khawatir dengan dongsaeng ‘partner-in-crime’-nya.

“I, itu…” Kihyun ragu-ragu untuk menjawab. Ia malah mendesah, “Ini merupakan masalah rahasia, orang luar tidak boleh mengetahuinya.”

“Yaa! Di sini ada kakeknya Toki dan sepupunya, Yongso, kenapa kau tidak mengatakannya saja!?” bentak Heechul kesal. Kenapa orang-orang ini menyembunyikan rahasia terus?

“Jeungjobu-nim sejak awal sudah tahu, tapi kurasa Yongso eonni joke tidak perlu tahu. Sunbae tidak pernah memberitahu eonni mengenai hal ini, bukan?” ujar Kihyun.

Tapi Yongso ingin mengetahuinya. “Beritahu aku, Kihyun-ah,” pintanya.

“Sireo,” jawab Kihyun memegang janjinya terhadap sunbae-nya walaupun eonni favoritnya memintanya.

Namun Faye tidak tahan lagi. Ia mengatakan hal yang ia ketahui, “Dia menderita X disorder.”

“Mwo?” tanya Yongso tidak percaya. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Faye, ia tahu betul apa itu ‘X disorder’ yang dimaksud olehnya. “Yaa, jangan bercanda di saat begini… Toki tidak mungkin…” ujarnya.

Faye mendesah, “Yongso-chan, aku joke tidak akan bercanda. She is positive…

“Tidak, pasti hasil pemeriksaannya ada yang salah,” bantah Yongso tidak mampu menerima kenyataan. Ini lebih buruk dari pada terjangkit penyakit kanker.

Sambil tersenyum sedih Faye berkata, “Tidak ada yang salah, Yongso-chan. Sebab Toki sudah memilikinya sejak lahir, iie(tidak), mungkin sejak masih berupa janin…”

Tiba-tiba Yongso langsung jatuh pingsan. Untungnya Eunhyuk berada di sampingnya dan berhasil menangkapnya sebelum membentur lantai. Tidak hanya Eunhyuk yang panik, Kihyun joke sama paniknya sebelum gadis itu membawanya ke ER. Hanya Eunhyuk yang mendampingi Yongso karena yang lainnya menahan Faye untuk menjelaskan lebih jauh lagi.

“Aku tahu kalian tidak bodoh dan ketinggalan informasi, tapi kasus Toki agak berbeda dengan tujuh dari sembilan pasien X commotion yang pernah ada. Walaupun ada cara penanganan X disorder, tapi belum tentu hal tersebut seratus persen berpengaruh terhadapnya…” jelas Faye.

“Apakah X commotion benar-benar belum ditemukan cara pengobatannya?” tanya Siwon, dia pemuda yang penasaran dengan hal-hal yang mendunia, apalagi X commotion yang saat ini sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat.

“Kalaupun ada pengobatan tersebut tidak akan sepenuhnya berhasil terhadapnya. Karena cara pengobatan yang sedang kami teliti adalah remedy yang berada di dalam diri Toki,” jawab Faye tapi melihat ekspresi para member Super Junior ia masih harus menjelaskan hal yang lebih sulit lagi, “Dengar ya, cara pengobatannya hampir sama dengan kanker darah dan kanker tulang, tapi mereka tidak bisa menerima donor dari orang berkondisi normal, harus sesama penderita X commotion dengan kemiripan yang berbeda, yaitu memiliki remedy penangkal imunitas X commotion terhadap obat apapun. Toki tidak bisa mendapatkan remedy yang serupa, dia harus mendapatkan remedy dari sel yang sama dan genetikanya sama. Singkatnya ia hanya bisa mendapatkan donor dari orang yang sedarah dengannya dan sama-sama penderita X commotion dengan remedy yang berbeda.

“Antidote ini kebalikan dari milik Toki yang tidak menghasilkan hasil positif seperti miliknya untuk penderita lain, orang ini joke pasti akan membutuhkan remedy milik Toki karena keduanya seperti magnet yang saling tarik-menarik. Tapi salah satu dari mereka harus mati untuk tetap hidup,” jelas Faye.

“Bukankah Toki mempunyai saudara? Anak laki-laki waktu malam Natal itu,” kata Leeteuk mengingat kekacauan di malam Natal lalu.

“Anak laki-laki?” tanya Faye heran.

“Geurae, anak laki-laki yang ciri-cirinya mirip denganmu dan Toki tapi versi kecilnya,” jawab Leeteuk.

Faye tahu siapa yang dibicarakan oleh Leeteuk. “Maksudmu Hitoshi? Bagaimana kau bisa tahu tentang Hitoshi? Waktu itu di studio hanya ada Hankyung-ssi…”

“Ah, ceritanya panjang…” jawab Leeteuk sweatdropped.

“Tapi Hitoshi anak yang sehat tanpa kelainan apapun. Eh? Wait a second, bagaimana kalian tahu kalau keduanya bersaudara?” tanya Faye lagi.

“Aish, sudah dibilangi kalau ceritanya panjang!” bentak Kangin. Ia dan rekan-rekannya malas untuk menceritakan kekacauan waktu itu.

Soutaki menghela nafas. Beliau sudah terlalu tua untuk memaksa para anak muda ini untuk menceritakannya. Tapi beliau bisa menebak-nebak dengan beberapa informasi yang ia terima beberapa bulan yang lalu. Tidak heran kalau para member Super Junior tahu siapa ibunya Hitoshi kecil.

“Sebenarnya ada satu cara untuk menyelamatkan Toki dari kondisi kritisnya yang sekarang,” kata Faye tiba-tiba.

“Mwoya?” reaksi Heechul dengan mata melotot tertuju kepada Faye.

“Tapi hanya bersifat sementara dan hanya dapat memperpanjang hidupnya selama enam bulan sampai satu tahunan. Dengan memberikan sel darah yang sudah tercampur sel darah orang lain…” jelas Faye dengan matanya yang tertuju kepada Leeteuk dan Kyuhyun yang ada di sana.

“Faye-kun, jangan bilang kalau Toki pernah mendonorkan darahnya untuk orang lain,” kata Soutaki-sofu terkejut.

Erm, yeah, she did,” sahut Faye, “It’s roughly been 2 years passed. The accident… a surgery… and a comatose…

Tell me about that,” perintah Soutaki.

+ + +

Sementara itu dengan Hankyung dan Louis yang tidak bersama dengan rombongan yang menunggui sahabat mereka. Keduanya berada di run rumah sakit Louis bilang ia ingin membicarakan hal yang penting dengan Hankyung. Louis sudah menceritakan bagian kalau Toki menderita X disorder. Hankyung tidak terlalu terkejut. Ia tidak merasa heran karena ia melihat obat yang diminum oleh gadis itu. Akan tetapi Louis tidak hanya menceritakan hal tersebut. Ia menceritakan satu rahasia lagi yang ia dan Totto jaga terus.

Louis menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, ia bertanya, “Han Geng, aku pernah bilang bukan kalau kau akan bertemu dengan ‘Sigan’? Kau telah bertemu dengannya.”

“Sigan itu Toki, bukan?” balas tanya Hankyung dengan kepala tertunduk.

“Jadi kau sudah tahu dari dulu?”

“Tidak, aku baru saja menyadarinya. Kau dan Sigan tidak terpisahkan, jadi tidak mungkin sekarang kau tidak terus bersamanya. Tapi kau yang kulihat sekarang selalu bersama dengan Toki jadi aku berpikir, ‘oh, apakah mungkin mereka berdua adalah orang yang sama?’ dan sepertinya tebakanku benar,” jelas Hankyung.

Yeah, you’re right. Tapi dia tidak ingat padamu… Sebagian ingatannya hilang, dia tidak ingat saat belajar di Beijing. Mungkin sudah hampir dua tahun sejak ingatannya itu hilang…”

“Dua tahun? Berarti sejak tahun 2007?” tanya Hankyung.

“Ya, karena kecelakaan. Aku tidak ini merupakan kebetulan atau takdir, tapi kecelakaan yang menimpa Toki adalah kecelakaan yang sama dengan kecelakaan yang menimpa keempat rekanmu,” jawab Louis.

“Eh? Sama?”

“Tanggal 19 Apr 2007, Toki baru akan pulang ke Jepang setelah mengikuti sebuah acara di Korea, tapi mobil yang disetirinya tertabrak dan terguling ke samping hingga meledak… Untungnya dia berhasil menyelamatkan dirinya sebelum mobilnya meledak hingga hancur.”

“Yaa, bagaimana bisa mobilnya meledak?”

“Oi, ini Toki yang kita bicarakan… Mobilnya itu menyimpan dua tabung Nitrous yang dikontrol dengan menggunakan komputer, she is insane driver. Tapi karena tabrakan tersebut kontrol kendali komputernya rusak dan BAM! It exploded. She was your friends’ savior… Dia yang memanggil polisi dan ambulans dan membantu mereka keluar dari mobil serta memberikan pertolongan pertama. Bahkan dia melakukan operasi untuk mereka dan mendonorkan darahnya. Well, donoring her blood is banned though she did it. Tidak heran kalau mereka cepat sembuhnya karena darah X commotion itu memiliki tingkat regenerasi 80-150 persen lebih tinggi dari orang normal dan bila diberikan kepada orang sehat tingkat regenerasi orang itu akan naik sampai lima puluh persen. Buktinya anak itu selamat, bukan?”

“Siapa?”

“Cho Kyuhyun…”

“Kalau mereka mendengar hal ini pasti mereka akan sangat terkejut,” desah Hankyung.

“Tapi Ki-chan berjuang sampai akhir untuk menyelamatkan nyawa mereka. Dan pada akhirnya dia jatuh pingsan dan mengalami koma selama beberapa bulan dan kehilangan ingatannya… Dia tetap bertahan walaupun tulang rusuknya ada yang patah dan pendarahan di otaknya… Kedengarannya memang mustahil tapi tidak ada hal yang mustahil untuk penderita X disorder… Mereka tidak akan merasakan sakit dari luka-luka seperti itu…”

“Siapa saja yang menerima donor darah darinya?” tanya Hankyung penasaran.

“Yang pertama, yang pale banyak mendapatkannya mungkin Kyuhyun untuk mempertahankan hidupnya yang kritis, lalu Leeteuk yang katanya mendapat banyak jahitan, orang ketiganya aku tidak tahu antara Eunhyuk atau Shindong-chan. Tapi kalaupun keduanya sama-sama mendapatkannya, yang masih menyimpan ‘sel’ X commotion itu mungkin Eunhyuk karena saat kulihat dari information kalian Shindong-chan memiliki self-immunity yang tinggi jadi mungkin ‘sel’ tersebut sudah rusak.”

“Yaa, bagaimana bisa kau mengerti soal kedokteran seperti ini? Kau sama sekali bukan lulusan kedokteran,” ujar Hankyung kembali sweatdropped.

“Begini-begini ada gunanya juga lho punya kenalan dokter-dokter peneliti,” sahut Louis tersenyum nyengir tapi kemudian berubah menjadi senyuman sedih. “Mungkin karena inilah Toki-chan menolakmu…”

“Dia bilang kalau dirinya bukanlah manusia…” kata Hankyung mengingat yang terakhir dikatakan oleh Toki kepadanya.

Kali ini Louis terkejut dan dengan terbata-bata ia bertanya, “D-dia b-bilang b-begitu?”

“Oo, dia bilang begitu kepadaku,” jawab Hankyuung. “Kau tahu apa maksudnya?”

Louis mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. “Aish, kenapa anak itu menganggap dirinya bukan manusia… padahal dia tetaplah manusia walaupun hasil kloning dan percobaan genetika…” gumam Louis tidak jelas.

“Mwo? Kloning?” tanya Hankyung yang mendengar sebagian.

“Eh? Anieyo, lupakan apa yang telah kukatakan…” kata Louis sambil mengibaskan-ibaskan pergelangan tangannya.

“Yaa, jelaskan sekarang juga,” perintah Hankyung tetap tenang walaupun dalam dirinya ia merasa kesal. Ada berapa banyak rahasia yang tidak ia ketahui?

Pemuda bule itu menarik nafas sebelum menceritakan yang ia ketahui, “Sekitar 24 tahun yang lalu, di London ada seorang dokter ilmuwan yang meneliti tentang kloning. Beliau orang yang sangat jenius sampai bisa membuat makhluk mamalia lahir dari tabung sebagai pengganti rahim induknya dan pertumbuhannya lebih cepat. Lalu munculah penyakit kelainan X commotion itu. Anak yang dikandung oleh istri ilmuwan itu ternyata juga memiliki penyakit yang sama begitu lahir. Karena perasaan ingin menyelamatkan putra mereka, suami-istri ini membuat seorang anak lagi dan membuat genetika yang sama persis dengan putra mereka, bahkan mereka menyelipkan gen milik anak jenius kakak sepupu putra mereka… Karena mereka membutuhkan ‘back up’ secepatnya, setelah satu setengah bulan dikandung oleh sang Istri, janin hasil kloning tersebut dipindahkan ke dalam tabung untuk mempercepat pertumbuhannya. And for a initial time a child was innate from a cylinder… dan anak itu adalah Toki…”

“Selama tiga tahun sejak anak itu dikeluarkan dari tabung atau kata umumnya ‘lahir’, dia terus menjadi bahan penelitian karena ternyata dirinya juga mendapat penyakit yang sama tapi lebih unik karena tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan pada tubuhnya. Dan setelah tiga tahun penelitian itu Ilmuwan tersebut yakin kalau anak perempuan ini mampu menyelamatkan putranya. Tapi istrinya menjadi gila, selama tiga tahun itu pula beliau sering menyiksa ‘putri’nya yang tidak dia lahirkan secara langsung. Ingatan Toki sangat kuat, bahkan dia bisa mengingat dimulai saat ia membuka matanya ketika masih berada di dalam tabung. Dia akan terus mengingat perlakuan orang-orang laboratorium dan orang yang seharusnya ia panggil ‘Ibu’ kepadanya. Lalu ketika sang Istri menyiksanya hingga hampir mati dan beliau kurung di dalam kamar di atas menara tinggi, tapi adik si Istri menyelamatkannya. Beliau mengeluarkannya dari ruangan itu dan membawanya kepada kakek buyutnya yang datang berkunjung. Lalu Toki barulah diadopsi oleh Soutaki-sofu…”

“Bagaimana dengan reaksi sang Istri ketika menemukan anak perempuan yang dikurungnya menghilang?” tanya Hankyung.

“Dia marah, tapi kakek buyutnya memanggilnya dan dia dimarahi habis-habisan oleh beliau. Namun sang Istri tetap bersikeras meminta Toki untuk kembali karena putranya membutuhkan apa yang Toki miliki dan hal tersebut dapat mengorbankan nyawanya. Lalu dia dibawa ke Jepang oleh Kakek buyut dan tinggal di sana sampai lulus sekolah. Sebelum memulai kuliah di Paris, dia sempat ingin pulang ke kampung halamannya di Inggris, tapi begitu kembali ke sana dia langsung dibawa ke laboratorium lagi. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa kabur dan menemui kedua orangtuaku hingga kedua orangtuaku menghubungi Soutaki-sofu di Jepang. Sejak saat itu Toki tidak pernah kembali ke London karena sang Istri mengatakan untuk tidak pernah kembali lagi untuk menampakan wajahnya di hadapannya. Tapi hal itu tidak berakhir begitu saja…”

“Apa yang terjadi?” tanya Hankyung lagi begitu penasaran terhadap kisah tesebut.

“Kau ingat waktu di Beijing dulu aku dan Toki tidak menghadiri upacara kelulusan ‘kan? Waktu itu beberapa orang suruhan sang Istri menangkap Toki dan membawanya ke London dan dikurung di dalam sebuah gudang. She was roughly frozen to genocide there… It was chaotic… Dan sepertinya saat itu mereka kembali menjadikannya kelinci percobaan. Waktu itu Totto dan Faye ikut untuk menyelamatkan Toki juga dan mereka bilang, mereka tidak pernah melihat kondisi Toki sampai separah itu seumur hidup mereka. Tapi luka mishap dari penculikan itu berangsur-angsur pulih, dan hal itu berkat dirimu, Han Geng…”

“Aku?”

Yeah, dengan harapan untuk bertemu denganmu lagi dia berusaha untuk bangkit dan menjalani hidupnya seperti manusia normal lainnya walaupun kadang-kadang dia harus kembali ke rumah sakit untuk perawatan penyakitnya. Namun setelah kecelakaan Apr 2007 itu dia kehilangan tujuan hidupnya dan berubah menjadi pesimis dan tidak mau menerima cinta ataupun roman… Sekarang dia menganggap dirinya tidak berarti sebagai manusia… Dia pasrah kapan maut akan menjemputnya. Kalau saja dia ada sedikit semangat untuk terus hidup walaupun hanya sebentar…”

Hankyung kembali memikirkan Toki. Ia mengingat tingkah dan perilaku gadis itu ketika ia kembali bertemu dengannya. “Dia bukannya tidak punya semangat hidup, dia hanya takut dengan perpisahan…”

Louis tersenyum dan berkata, “Sepertinya kau lebih mengerti dia dari pada aku yang merupakan sahabatnya selama dua puluh tahun…”

+ + +

Sementara itu di Emergency Room Yongso akhirnya sadar dari pingsannya yang hanya sebentar. Eunhyuk dengan setia terus menemaninya di samping tempat tidur. Kihyun juga ada di sana untuk mengecek keadaan Yongso.

“Oppa…” ucap Yongso yang melihat Eunhyuk dalam pandangan matanya, lalu ia melihat Kihyun dan barulah ia teringat dengan kejadian sebelum dirinya pingsan. “Toki-ah…”

“Tenang saja, Yongso-ah. Toki sudah berada dalam penanganan dokter,” kata Eunhyuk tersenyum.

Yongso tahu senyuman itu. Ia tidak sepintar member 7Oceans yang mampu membaca situasi tapi ia bisa tahu kalau ada hal yang tidak beres di balik ekspresi pacarnya itu. “Geotjimalhaji mal-ayo…”

“Yongso eonni, Eunhyuk-ssi tidak bohong. Saat ini Toki sunbae sudah berada dalam penanganan dokter yang ahli,” sela Kihyun.

Yongso mendesah, “Kihyun-ah, aku tahu betul apa yang dikatakan oleh Faye. Mereka tidak akan bisa menyembuhkannya…”

“Tapi rasanya aneh…” kata Eunhyuk tiba-tiba.

“Apa yang aneh?” tanya Kihyun tidak mengerti.

“Hm, aneh saja… Ratu iseng bisa jatuh sakit seperti ini…” jawab Eunhyuk tampak murung.

She has debility too, y’know. Nobody always has such clever side if they don’t have any diseased side,” sela Kihyun dengan kepala mengangguk-angguk dan tangan menyilang di dada.

“Kihyun-ah, apakah benar-benar tidak ada cara untuk menyelamatkan Toki? A-aku tahu kalau kalian masih belum menemukan cara menyembuhkannya, tapi apakah tidak ada cara lain? Aku tidak ingin kehilangan dia…” tanya Yongso terasa ingin menangis.

Kihyun menggelengkan kepalanya. “Cara yang kami punya tidak akan berpengaruh untuk Toki sunbae. Tapi ada satu cara untuk memperpanjang hidupnya walau hanya sebentar…” jawabnya.

“Lakukan apa saja asalkan dia bisa sadar dan tersenyum lagi seperti dulu…” pinta Yongso begitu inginnya ia bertemu dengan sepupu kesayangannya itu.

Mata Yongso melirik ke arah Eunhyuk lalu ia mendesah, “Tapi hal ini membutuhkan bantuan Eunhyuk-ssi dan kedua rekannya…”

“Aku?” tanya Eunhyuk sambil menunjuk dirinya.

“Apa hubungannya antara Eunhyuk oppa dan teman-temannya dengan cara yang kau maksud, Kihyun-ah?” tanya Yongso bingung.

Sambil terpaksa Kihyun menjelaskan ‘rahasia’ yang tidak diketahui oleh banyak orang, “Mereka pernah menerima donor darah dari Toki sunbae. Eonni tahu ‘kan bagaimana jadinya kalau menerima transfusi darah dari pasien X disorder? Kurasa aku tidak perlu menjelaskan bagian ini. Kami hanya perlu donor darah dan sumsus tulang mereka untuk ditransplantasikan ke tubuh Toki sunbae. Mereka pasti masih punya sel ‘X genetic’ tersebut karena sel tersebut tidak mudah mati dan hilang.”

“Yaa, kami baru mengenal Toki tahun lalu dan dia tidak pernah mendonorkan darahnya untuk kami,” kata Eunhyuk.

“Kecelakaan itu…” gumam Yongso teringat dengan cerita Rain waktu itu.

“Kecelakaan?” tanya Eunhyuk bertambah bingung.

Yongso menoleh ke arah Eunhyuk dan berkata, “Kecelakaan itu yang membuat Toki kehilangan ingatannya… Dia mendonorkan darahnya dan melakukan operasi untuk kalian… saat kecelakaan dua tahun yang lalu…”

“D-dua tahun yang lalu…? Maksudmu…” ujar Eunhyuk terkejut.

Enough. Eunhyuk-ssi, kurasa kau sekarang sedikit mengerti. Kau, Leeteuk-ssi, dan Kyuhyun-ssi adalah penerima donor darah dari Toki sunbae. Sekarang aku butuh bantuan kalian bertiga… waktu kita hanya sedikit,” kata Kihyun sambil melihat jam tangannya, “kurasa Faye sunbae sudah selesai menjelaskan detailnya kepada yang lain di luar.”

“Tapi Kihyun-ah, Toki itu bergolongan darah O! Dia tidak mungkin sembarang menerima donor dari golongan darah yang lain,” sela Yongso teringat dengan hal penting itu.

“Tenang saja, Yongso eonni. Ini kasus khusus, kami bisa mengubahnya menjadi golongan darah O dengan teknologi dari X Genetic Unit,” jawab Kihyun sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi keluar meninggalkan pasangan lovey-dovey.

“MWO!?” seru Eunhyuk terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kihyun.

“Yaa, Oppa… kecilkan suaramu, ini di rumah sakit tahu!” peringat Yongso menabok pacarnya.

“Oops, miyan…” ujar Eunhyuk merasa malu.

+ + +

Setelah Faye menceritakan serta menjelaskan semuanya dari kisah kecelakaan Apr tahun 2007 yang lalu itu sampai saat ini ketika Toki membutuhkan bantuan dari orang-orang yang menerima darahnya. Entah mengapa tiba-tiba saja Leeteuk menangis bahkan hingga Kyuhyun yang bukan crybaby sampai juga ikut menangis. Kihyun sampai terkejut karena kedua pemuda itu tiba-tiba menangis.

“Y-yaa! Kenapa kalian menangis?!” bentak Kihyun yang panik.

“Aku tidak menangis,” bantah Kyuhyun sambil menghapus atmosphere matanya yang tidak berhenti-hentinya mengalir. Dasar sok keren…

“Kyuhyun-ah, ingusmu sampai mengalir,” kata Sungmin sambil menunjuk hidung Kyuhyun.

“Faye-ssi, bolehkah kami melihat Toki ?” tanya Leeteuk.

Faye mengangguk. “Boleh saja, tapi hanya boleh dua orang yang masuk. Dia masih berada di SICXGU…” Tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.

“Faye oppa,” panggil Hyesun yang baru datang bersama dengan manajer Ilsan, Presdir Lorry, Naomi, Cerberus, dan Kyo. Sayang, 7 Oceans tidak lengkap tanpa kehadiran El, Hiro, Rusty, dan Asuka yang saat ini berada di New York karena pekerjaan.

“Oh, kalian sudah datang…” kata Faye.

“Lorry, Ilsan-kun,” sapa Soutaki menganggukan kepalanya.

“Sou-sama,” sapa Lorry membungkuk 90 derajat di hadapan Soutaki. “Maaf, kami baru bisa datang. Bagaimana hasilnya?”

“Tidak dapat dipastikan… baik atau buruknya… tapi 70 persennya adalah buruk,” jawab Takumi.

Kyo yang pale jangkung di sana memandangi Faye dengan curiga. Ia bertanya kepada Kihyun, “Key, where’s Professor Ken’i?

Oh, Professor is still during London. He will come behind once a usually studious there is done,” jawab Kihyun, “Why did we ask? Is something wrong?

I’ll tell we later,” sahut Kyo dengan matanya tetap mengawasi Faye. “Now where is Louis? Or Totto?” tanyanya lagi.

Louis is somewhere together with Hankyung. But we don’t know where Totto is, maybe he got some work to do,” jawab Kihyun sambil mengangkat bahunya.

I guess,” desah Kyo.

“Aku harus pergi. Kihyun, sisanya kuserahkan padamu. Kalau ada apa-apa cepat beritahu aku,” kata Faye sambil menyerahkan information medical record yang sejak tadi dipegangnya terus.

Yes, Sir,” sahut Kihyun dengan malas sambil mengecek medical record tersebut.

“Otou-sama, sebaiknya kita juga pulang. Besok kita akan datang lagi,” ajak Takumi kepada ayahnya yang sebenarnya sudah sangat tua.

“Kau benar. Kalau begitu mohon bantuannya, Kihyun-san,” kata Soutaki.

“Hai! Serahkan saja padaku,” jawab Kihyun.

Akhirnya Faye dengan pada old man termasuk manajer Ilsan meninggalkan mereka, para anak muda. Member Super Junior pada bergiliran masuk untuk menjenguk Toki yang masih belum sadar. Leeteuk dan Heechul masuk duluan sebagai yang pale tua. (biasanya orang yang lebih tua mengalah, ini kagak sama sekali…)

Leeteuk kembali menangis begitu melihat kondisi Toki yang memilukan hati. Di sana Toki terbaring, dengan berbagai selang terpasang pada tubuhnya dan masker oksigen untuk membantu asupan oksigen ke dalam tubuhnya.

Leeteuk menangis tersedu-sedu sambil mengatakan kata-kata yang tidak jelas dia ngomong apa. Heechul menyuruhnya untuk berhenti menangis tapi tidak mempan.

“Toki-ah kenapa kau harus bernasib malang seperti ini…” ujar Leeteuk seperti sedang berkabung saja, “kenapa kau tidak bilang kalau kau adalah dokter yang menyelamatkan kami? Huwaaaa Toki-ah.”

“Yaa, berhenti menangis. Dia tidak akan mau bangun kalau kau terus-terusan menangis seperti ini,” kata Heechul.

“Hiks… Toki-ah, kau harus tetap bertahan dan berjuang. Karena Oppa (ceileh…) akan membuatmu terus hidup,” kata Leeteuk, “Fighting!”

“My rival, persaingan kita masih belum selesai. Skornya masih seri. Jangan sampai kau pergi duluan sebelum salah satu dari kita menang mutlak,” kata Heechul, “Aku ingin kau menemani Hankyung-i sampai tua. Kau adalah ‘My Rival’ yang pale kuat, jadi jangan sampai kalah!”

Setelah dua old boys itu, masuklah Ryeowook dan Sungmin, dua manusia favoritnya Toki. Keduanya sama seperti dua old boys, meninggalkan pesan—dukungan untuk gadis itu.

“Aku dan Ryeowook-ah tahu kalau kau pale menyukai kami di antara para member Super Junior. Kau selalu mengutamakan kami, kau selalu mendengarkan permintaan kami. Tidak bisakah kau memenuhi permintaan kami lagi? Kami ingin kau membuka matamu dan sehat kembali lalu menjahili member Super Junior seperti biasanya… Masih ada banyak hal yang ingin kami katakan kepadamu…”—Sungmin.

“Toki-ah, aku ingin membuat lagu lagi denganmu. Masih ada banyak hal yang harus kau ajarkan kepada kami… Dan lagi kau berjanji akan melakukan kolaborasi dengan Super Junior… Apakah kau tidak bisa memenuhi janji itu?”—Ryeowook.

Tidak hanya old boys dan cute boys yang meninggalkan pesan dan dukungan, member yang lain juga melakukan hal yang sama.

“Kau tidak seperti dongsaeng, kau lebih mirip ‘noona’ untukku. Noona yang perhatian, baik, dan menyenangkan. Kau sudah seperti keluargaku sendiri…”—Donghae.

“Sunbae dan coach dalam berbagai hal, aku sangat menghormatimu yang terus berjuang dan tidak berhenti untuk memberi semangat kepada orang lain. Kau adalah sunbae yang pale kuat…”—Siwon.

“Kau telah mengalahkanku dan Eunhyukkie dalam adu makan. Aku belum sempat membalas kekalahanku waktu itu. Aku juga belum berterimakasih padamu dan meminta maaf atas kecelakaan itu. Cepatalah sadar, Toki-ah!”—Shindong.

“Toki-ah, kau selalu tertawa setiap aku membuat lelucon garing. Kalau kau tidak ada siapa lagi yang akan tertawa?”—Yesung.

“Yaa, kita masih punya banyak rencana untuk Eunhyukkie dan Yongso yang belum kita lakukan, tapi kenapa kau malah berhenti sekarang? Maaf, kalau kejahilan kami sampai membuatmu seperti ini. Tapi kami hanya ingin melihatmu bahagia seperti saat kau membuat kami semua bahagia,”—Kangin.

Eunhyuk dan Yongso yang sudah baikan masuk duluan sebelum Kyuhyun. Magnae satu itu bilang dia masih belum siap untuk melihat Toki. Lovey-dovey itu bilang kalau Kyuhyun tidak perlu memaksakan diri sekarang.

“Toki-ah, gomawoeyo… berkat kau, aku bisa ‘menembak’ Yongso dan pacaran dengannya. Kali ini giliranmu… kau harus membalas perasaan Hankyung hyung dahulu…” kata Eunhyuk, “Terima kasih… karena kau telah menolong kami… Kami ingin membalas semuanya, tetapi kami tidak bisa melakukannya kalau kau terus terbaring seperti ini. Yongso-ah akan sangat sedih kalau kau tidak kunjung bangun juga, kau tidak ingin melihatnya menangis, bukan?”

Di samping Eunhyuk, Yongso duduk di kursi dan menggenggam tangan Toki yang terasa dingin di tangannya yang lebih hangat. Kalau saja Yongso tahu kondisi badan Toki, mungkin dia tidak akan melakukan hal seperti ini. Mungkin ia akan lebih menjaga sepupunya itu sampai dia muak dan merengut dengan lucunya.

Tangan yang dingin itu Yongso tempelkan ke pipinya. Walaupun dingin, tapi ada perasaan nyaman yang diberikan oleh tangan milik sepupunya itu. “Toki, aku berharap kau pulang kepada kami. Aku rindu dengan saat-saat waktu kita pertama kali bertemu. Aku tahu sekarang kau lebih kuat dari pada dahulu ketika kita masih kecil, aku yakin kau bisa melawan penyakit ini karena kau adalah sepupuku yang tak terkalahkan… Jangan seperti waktu itu, kau tiba-tiba menghilang dan begitu kau kembali kau bukanlah sepupuku yang kukenal… Miyanhae… aku pasti akan lebih menjagamu karena aku sebagai yang lebih tua…” tutur gadis itu.

Setelah masing-masing dari mereka kecuali Kyuhyun dan Hankyung menjenguk Toki di dalam ruang perawatan mereka pulang ke rumah tempat tinggal mereka. Yongso tidak ingin meninggalkan sepupunya itu tapi Kihyun bilang ia bisa datang lagi besok. Kihyun juga bilang kalau Leeteuk, Eunhyuk, dan Kyuhyun harus menjalani tes di lab besok. Mereka harus segera menemukan donor yang cocok sebelum kehabisan waktu.

+ + +

Hankyung dan Louis sedang berjalan menuju ruang tunggu di run rumah sakit. Mereka melihat Kihyun, Kyo, dan magnae Super Junior Kyuhyun sedang duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kihyun dan Kyo tampak sibuk mengobrol sementara Kyuhyun tetap diam merenung.

“Kyuhyun-ah, dimana yang lain?” tanya Hankyung.

Kyuhyun tampak kaget, sejak tadi ia terus melamun sehingga tidak menyadari kedatangan Hankyung dan Louis. “Oh, Hyung… mereka telah kembali duluan…” jawabnya.

“Oh, pantas tadi Heechul mengirimiku pesan,” kata Hankyung sambil melihat ponselnya.

“Oh! Kyo-chan, apa yang sedang kau lakukan di sini?” kata Louis sebagai pengganti salam kepada Kyo yang menggeram.

“Jangan memanggilku dengan sebutan ‘-chan’, Louis…” geramnya.

Sorry, we forgot that we are a grown adult male now,” balas Louis tetap santai, “yeah, my bad.

“Seperti biasa Louis oppa sama sekali tidak berguna,” desah Kihyun sweatdropped, “Oppa, kau yang akan mengantarkan Hankyung-ssi ‘kan?”

Yeah, so what?” tanya Louis heran.

Take him too,” jawab Kihyun sambil menunjuk ke arah Kyuhyun.

No problem,” sahut Louis, lalu bertanya lagi “dia sudah bisa dikunjungi ‘kan?”

“Tentu, tapi sebentar lagi waktunya pengobatan… in 5 minutes…” jawab Kihyun sambil melihat jam tangannya.

Aw, too bad…” gerutu Louis seperti anak kecil. “Geng-geng, Kyuhyun-ah, kita pulang sekarang, oke?”

“Lho? Bukankah kau mau melihat Toki dulu?” tanya Hankyung bingung.

Nah, got timed out. Besok masih ada kesempatan,” jawab Louis tersenyum nyengir.

“… baiklah…” desah Hankyung pasrah.

“Ayoo,” ajak Louis sudah bersiap untuk pergi tapi Kyuhyun menghentikan langkah pertamanya.

“Hyung pergi duluan saja, aku masih mau tinggal di sini dulu,” sela Kyuhyun.

Louis dan Hankyung mengerti alasan magnae satu itu ingin tinggal lebih lama jadi mereka merasa harus membiarkan keegoisan Kyuhyun yang satu ini. Toh, tidak berakibat buruk ini kok…

“Baiklah, tapi jangan berlama-lama, ya,” kata Hankyung menepuk pundak Kyuhyun.

“Arasseo,” sahut Kyuhyun tersenyum kecil.

“Kyu-chan, aku akan menjemputmu nanti setelah mengantarkan Geng-geng. Kau tinggal telepon aku bila kau sudah mau pulang,” kata Louis dengan lagaknya seperti banci.

Tapi Kihyun menyela, “Tidak perlu, Louis oppa. Biar aku atau Kyo yang mengantarnya. Oppa istirahat saja.”

“Hm, baiklah. Kuserahkan pada kalian ‘K’ siblings!” seru Louis sambil menarik Hankyung yang terlalu lambat untuk mengikutinya. Ia lupa untuk tidak bersuara keras di rumah sakit. Ia dan Hankyung masih mempunyai beberapa urusan yang harus diselesaikan.

Kihyun menghela nafas panjang dan berdiri dari duduknya. “Ah, waktunya untuk memberinya obat…” erangnya sambil menggerak-gerakan badannya yang kaku. “Kyo sunbae, siapa yang hari ini menjaga Toki sunbae duluan?” tanyanya.

“Aku…” jawab Kyo sambil mendesah, “Takumi-sama tadi memintaku karena tidak ada yang bisa karena Faye harus pergi, tapi aku tetap akan mengajukan diri walaupun orang itu tidak harus pergi.”

“Jeongmal? Tapi kau tidak boleh masuk ke ruangan dahulu selama satu jam ke depan,” ujar Kihyun, “Kyuhyun-ssi, kalau kau merasa lelah kau bisa istirahat di ruang kerjanya Toki sunbae. Kyo-chan juga boleh kok.”

I listened you, Key…” geram Kyo.

“Kamsahabnida…” ucap Kyuhyun mengangguk.

“Key, temui kami di sana setelah kau memberinya obat, oke?” perintah Kyo sambil merangkul Kyuhyun yang lebih pendek darinya.

“Iya, iya…” jawab Kihyun sambil berjalan ke arah ruangan tempat sunbae-nya.

Sementara Kyo dan Kyuhyun masuk ke dalam ruangan yang tidak jauh dari ruangan rawat. Di dalam ruang kerjanya Toki ternyata cukup luas. Kyo membuatkan secangkir teh hangat untuk Kyuhyun dan keduanya mengobrol semalam suntuk.

+ + +

Keesokan paginya Kihyun mendapati Kyo dan Kyuhyun tertidur di atas dua buah lounge panjang yang ada di dalam ruangan tersebut, lengkap dengan selimut dan bantal yang ia yakin pasti mereka curi dari ruang rawat yang kosong. Dan hal tersebut pasti idenya Kyo yang ketularan kebanyolannya Louis dan Toki. Ia melihat ke arah jam dinding dan memutuskan untuk membangunkan keduanya.

“Yaa! Bangun kalian berdua!” seru Kihyun sambil menepuk tangannya. Perlakuan spesial untuk Kyo dengan menginjak punggungnya.

“Jam berapa sekarang?” tanya Kyuhyun dengan suara serak karena tenggorokan yang kering.

“Jam 7. Kyuhyun-ssi, hari ini kau masih harus melakukan tes lab,” jawab Kihyun. “Yaa, Kyo! Bangun, tukang tidur!”

“Aa, semalam tidak terjadi hal yang gawat ‘kan?” tanya Kyo masih mengantuk.

“Tidak ada perubahan,” jawab Kihyun menggelengkan kepalanya, “Yongso eonni bilang dia akan membawa Leeteuk-ssi dan Eunhyuk-ssi kemari begitu Louis oppa selesai dengan urusannya.”

“Oh, begitu… Baguslah, kalau hari ini bisa cepat selesai akan semakin baik…” kata Kyo.

“Kihyun-ssi, bagaimana cara tes labnya?” tanya Kyuhyun.

“Oh, mudah… Aku hanya butuh representation darah, plasma darah, sel sumsum tulang belakang kalian…” jawab Kihyun.

“Ya, begitu mudah tapi begitu menyakitkan…” gumam Kyo sambil memutar bola matanya.

Kihyun menempeleng kepala Kyo dengan sebuah buku tebal. Pemuda itu sempat protes dengan benjol di kepalanya tapi dokter muda satu ini tidak menggubrisnya dan malah berkata, “Lebih menderita Toki sunbae yang harus menerima rasa sakit secara jiwa dan raga…”

I know… though can’t we stop attack me?” gerutu Kyo. Lalu ia teringat satu hal. “Ah, aku hampir lupa… Key, kalau bisa kau yang melakukan operasi itu, aku merasa kurang yakin kalau Faye yang melakukannya.”

“Eh? Kenapa? Faye sunbae itukan lebih ahli dari pada aku. Lagipula Faye sunbae ‘kan profesor…” tanya Kihyun heran.

“Sebenarnya waktu Toki kambuh lagi, aku menemukan dia sedang bertengkar dengan Faye. Dia mencekiknya seperti benar-benar ingin membunuhnya. Kalau aku tidak menariknya saat itu juga mungkin saat ini Faye tidak sedang berkeliaran sekarang,” cerita Kyo, “mungkin alasannya hanya satu, ia tidak ingin Faye merusak kebahagiaan Yongso-chan dengan memisahkannya dari pacarnya dan nantinya Faye harus menyesali hal tersebut. Toki sangat sayang terhadap keduanya, kau tahu itukan?”

“Aku tahu itu. Oh ya, Kyuhyun-ssi, apakah akhir-akhir ini kau pernah melihat Toki sunbae bentrok dengan Faye sunbae?” tanya Kihyun kepada Kyuhyun yang terkejut mendengar ceritanya Kyo.

“Eh? Kurasa tidak. Dia hanya meladeni Faye-ssi dengan canda seperti Louis,” jawab Kyuhyun.

“Aish, Yongso eonni kenapa tidak langsung menolak Faye sunbae saja sih? Jadi ribet begini ‘kan!” gerutu Kihyun sambil menendang patung anatomi manusia di sana yang kembali mengejutkan Kyuhyun. Yang sabar ya, Kyuhyun-ah…

+ + +

Beberapa hari kemudian hasil tes tersebut telah keluar dan ketiganya positif. Profesor Ken’i yang menjadi kepala penelitian dan operasi khusus X commotion telah kembali dan langsung menangani operasi cangkok sumsum tulang. Pertamanya donor dari Leeteuk sebagai percobaan donor dari golongan darah A pertama yang telah diubah dengan teknologi canggih(wkwkwk… mungkin di masa depan?). Donor dari Eunhyuk dan Kyuhyun sudah diambil duluan dan diawetkan.

Namun kata Profesor Ken’i belum tentu Toki akan bertahan dengan donor dari Leeteuk atau mungkin akan ditolak total. Begitu pula dengan donor dari kedua orang yang lain.

Sayangnya para member Super Junior harus segera kembali ke Korea setelah operasi tersebut dilakukan. Mereka harus segera melaksanakan promosi ‘It’s You’. Sebenarnya mereka tidak rela tapi mau bagaimana lagi pekerjaan ya pekerjaan. Hyesun juga harus segera kembali ke sekolah karena waktu cutinya akan segera habis. Yongso masih akan tetap menemani Toki yang masih belum sadar. Kata Profesor Ken’i sih tidak lama lagi Toki akan segera sadar. Yongso hanya bisa berdoa semoga Toki cepat sadar dan kembali menyindirnya seperti biasa.

+ + +

Ia bermimpi melihat anak-anak kecil bermain di sebuah taman bermain yang sepi tanpa orang dewasa. Penampilannya joke ikut berubah menjadi dirinya ketika masih berusia lima tahun. Ia bisa mendengar suara tawa anak-anak tersebut dan rasanya terdengar sangat familiar. Otomatis tubuhnya berjalan ke arah asal suara-suara tawa tersebut. Tapi langkahnya dihentikan oleh seseorang berkostum kartun harimau memakai pita besar di dadanya bertuliskan ‘Mr. Tiger’.

“Apakah kau tersesat?” tanya Mr. Tiger itu.

“Aku tidak tersesat, aku hanya ingin ke tempat mereka,” jawabnya sambil menunjuk ke arah kerumunan anak-anak itu.

“Benarkah? Baiklah, Mr. Tiger ini akan mengantarkanmu ke sana, tapi setelah itu kita pergi mencari orangtuamu, oke?” kata Mr. Tiger itu. Ia mengangguk setuju.

Lalu Mr. Tiger menggandeng tangan mungilnya dan mereka berjalan menghampiri anak-anak yang sedang asyik bermain itu.

Salah satu dari anak-anak itu, seorang anak laki-laki dengan rambut cokelat dan mata biru berseru, “Hey! Mr. Tiger datang!” anak itu tampak seumuran dengannya.

“Mr. Tiger, siapa yang kau bawa bersamamu?” tanya anak perempuan yang mirip dengan anak laki-laki tadi kecuali warna mata mereka. Anak perempuan ini memiliki warna mata hazel.

“Woah, Mr. Tiger membawa anak yang lebih cantik dari Nao-chan!” seru anak laki-laki berambut hitam dan bermata dim brown. Tapi ia mendapat timpukan dari anak perempuan yang tadi.

“Anak-anak, mereka teman baru kalian. Kalian berteman baiklah dan jangan bertengkar,” kata Mr. Tiger.

“Mr. Tiger, Ken-kun mengambil bonekaku!” seru anak perempuan yang lebih corpulent sambil menangis.

“Tidak, Mr. Tiger! Ryu-chan yang duluan melakukannya. Iyakan, El?” bantah anak laki-laki lain yang sebelah matanya berwarna merah. Di sebelahnya ada anak laki-laki dengan rambut dim brownish-red dan mata low blue, anak itu mengangguk.

“Hentikan, Ken-kun dan Ryu-chan… Glek! Hiro-kun! Jangan makan krayonnya!” seru Mr. Tiger panik mengurus anak-anak bandel tersebut. Dan anak-anak itu belum semuanya. “To-kun, Lou-kun, dan Fay-kun tolong bantu jaga mereka! Gyaaa! Ai-chan, Kyu-kun, Wook-kun, Ki-kun—jangan ikut-ikutan Hiro-kun!!”

“Mr. Tiger, Shinshin memakan semua snack-nya,” kata dua anak yang terlihat kekar.

“Iya, iya, In-kun dan Si-kun… Mr. Tiger akan membawakan break lagi. Chulie-kun, Teukie-kun, Sung-kun, Kou-kun—jaga yang lebih muda! Gyaaa! Hyuk-kun, Dong-kun, Min-kun, Mimi-kun, Henry-kun jangan ke danau!!! Kyo-kun, tarik Henry-kun!!!”

“Yessire!” sahut anak laki-laki mengenakan headband.

“Aah, John-kun jangan baca buku melulu, bantu Mr. Tiger juga dong,” rengek Mr. Tiger dengan anak-anak memanjati badannya. Lalu anak yang dipanggil In-kun, Ken-kun, dan Ryu-chan itu menerjang jatuh Mr. Tiger.

Ia tertawa kecil melihat seluruh hiruk-pikuk kekacauan di sekitarnya yang sungguh konyol. Senyumnya langsung mengembang pada wajah impasifnya.

“Ah, kau tertawa!” seru Kou-kun.

“Selamat datang di Mr. Tiger’s Furor Land!” seru Lou-kun tersenyum nyengir sambil rangkulan dengan Kou-kun.

“Ruu-niisan! Asu-kun! Tunggu aku!” seru Nao-chan dari kejauhan.

“Kejar kami, baka!” seru Ruu-kun dan Asu-kun, dua anak laki-laki yang pertama.

Ia bermain dengan anak-anak itu sampai matahari terbenam. Tiba-tiba ia merasa harus pergi tapi ia tidak ingin pergi. Ia masih ingin bersama dengan teman-teman barunya.

“Saatnya pulang,” kata Mr. Tiger kepadanya.

“Tapi aku tidak ingin pulang…” katanya sambil melihat ke arah matahari terbenam yang sangat indah.

“Keluargamu menunggu, teman-temanmu menunggu… Kau tidak boleh berlama-lama di sini…” kata Mr. Tiger.

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena mereka akan sangat sedih kalau kau tidak kembali. Ada seseorang yang sedang menunggumu, Kakakmu…” jawab Mr. Tiger.

“Baiklah…” ujarnya pasrah.

“Hey, lain kali datanglah lagi kemari! Datanglah lagi saat kau sudah tua dan keriput! Kami joke sudah tua dan keriput juga! Kita bermain sepuasnya seperti tadi!” seru Ryu-chan yang dirangkul oleh Hyuk-kun.

“Ya! Pasti aku akan datang lagi!” serunya sambil melambaikan tangan dan menangis.

Ia lalu berjalan bersama dengan Mr. Tiger menuju pintu keluar taman bermain tersebut. Sebelum ia menginjakkan kakinya keluar dari taman tersebut ia mendengar suara mereka.

“Bye bye, Toki-chan! Jangan sampai tersesat lagi ya!” seru mereka.

“Sampai nanti, Toki. Terima kasih karena kau telah menepati janjimu,” kata Kou.

Lalu taman bermain itu menghilang dalam kegelapan. Mr. Tiger hanya mengantarkan sampai sebuah pintu berwarna putih. Ia menatap heran ke arah Mr. Tiger.

“Masuklah, nanti kau akan bisa pulang,” kata Mr. Tiger.

“Pulang? Kemana?” tanyanya.

“Ke tempat orang-orang yang menyayangimu, Toki-chan,” jawab Mr. Tiger sambil membelai kepalanya, “Kau harus bisa menerima apapun, jangan menjauhkannya. Sampai jumpa lagi, Toki…” lanjutnya lalu menghilang bagaikan asap.

“T-tunggu! Mr. Tiger—bukan, tapi Kira!” serunya ditelan oleh kegelapan.

Ia bisa mendengar suara di sekitarnya walau sekelilingnya diselimuti oleh kegelapan pekat. Suara yang tidak asing lagi.

+ + +

Yongso tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang terbaring di depannya membuka matanya. Yongso langsung memanggil dokter yang saat itu sedang berjaga dan memberitahu para Gaisofu. Akhirnya setelah satu bulan lamanya, Toki terbangun dari tidur panjangnya. Yongso juga memberitahu para ‘Oppa’ member Super Junior yang entah ada di mana dan sedang melakukan apa.

Kelimabelas bocah ‘dorky’ itu langsung merasa lega mendengar kabar gembira tersebut. Apalagi ternyata Toki akan dipindahkan ke rumah sakit Kuzuryu cabang Seoul. Gadis itu masih membutuhkan donor dari ketiga pria Korea tersebut. Soutaki-sofu mengizinkan karena di sana masih ada sanak-saudara. Akhirnya Yongso merasa lega untuk pulang ke tanah air.

Suatu hari para bocah dorky itu berbondong-bondong menjenguk Toki di rumah sakit. Mereka hampir dimarahi oleh para suster kalau bukan karena daya tarik mereka, dasar idol…

Mereka patungan untuk membeli boneka-boneka binatang yang melambangkan para member Super Junior and dua orang member SJ-M. Ada dua boneka tambahan lagi yang bukan binatang untuk melambangkan Toki dan Yongso. Ada boneka kucing, anjing, kuda, kura-kura, rubah, musang, rakun, ular, ikan, monyet, beruang, babi, sapi, burung, dan ayam. Lengkap sudah peternakan Super Junior (--‘). Yongso dilambangkan dengan boneka peri.

“Oh, yang punyaku lebih baik daripada yang punya Toki how nice…” kata Yongso sambil memandangi boneka perinya.

“Yaa, seharusnya kau yang mendapat boneka babi,” ledek Toki yang sudah kembali sehat walaupun hanya mulutnya saja yang sehat untuk mengatai sepupunya itu.

“Eomma, nadobogo sipeosseo,” kata Ryeowook kembali memainkan play ibu dan anak lagi yang setelah sekian lama akhirnya muncul lagi.

“Yaa, kau membuat kami khawatir tahu!” sentak Heechul sudah seperti mau menangis.

Sorry guys, for creation we worry…” ujar Toki tersenyum lemah, “and appreciate you…

“Yaa, kau tahu? Hankyung hyung, Kyuhyunnie, dan Yongso-ah benar-benar susah dibujuk untuk pergi dari sisimu,” kata Kangin.

“Jeongmal? Aigoo, Kyuhyun-ah tidak punya teman categorical ya?” goda Toki tersenyum nyengir.

“S-siapa bilang…” bantah Kyuhyun malu-malu dan malah mojok digangguin sama Sungmin.

Yongso baru sadar sesuatu. “Yaa, aedeul-ah! Kita keluar dulu, berikan privasi untuk Hankyung oppa dan Toki-ah!” serunya mendorong para member selain Hankyung untuk keluar dari ruangan tersebut.

Begitu ditinggal oleh para ‘Mak Comblang’ wannabe itu suasana di antara Hankyung dan Toki jadi terasa canggung. Tidak ada yang tahu harus berkata apa. Hankyung ingin mengatakan soal masa lalu mereka tapi hal tersebut tidak akan nyambung dengan Toki yang masih belum mendapatkan memorinya kembali.

‘Apa yang harus kukatakan?’ batin Hankyung mulai berkeringat dingin.

“Sekarang kau tahu bukan alasan kenapa aku tidak bisa menerima lamaranmu?” tanya Toki tiba-tiba.

Hankyung agak terkejut tapi tetap mengangguk untuk menjawabnya. Kemana suaranya di saat seperti ini?

“Kalau begitu kau bisa melepaskanku ‘kan?” tanya Toki lagi.

“Tidak,” jawab Hankyung tegas, “aku tidak akan melepaskanmu…”

“Kenapa? Aku hanya akan menyusahkanmu…” ujar Toki tampak terkejut dengan jawaban Hankyung yang tidak disangkanya.

“Karena aku menyukaimu apa adanya. Aku tidak ingin menyesal seperti dulu lagi… Dulu aku kehilangan orang yang kucintai tanpa dapat membahagiakannya sedikit pun, tapi sekarang ada kau… Aku tidak peduli kalau kau mengidap penyakit mematikan apapun, asalkan aku bisa bersamamu saja itu sudah cukup…” ucap Hankyung dengan segenap hatinya.

Lagi-lagi kata-kata pemuda Cina itu membuat Toki menangis terharu. Apa lagi alasan yang harus ia katakan? Ia joke juga menyukai Hankyung. ‘Aku sudah tidak bisa menjauhkannya lagi, aku merasa sudah terikat padanya…’ katanya dalam hati.

“Toki, kalau aku melamarmu sekali lagi apakah kau akan menerimaku?” tanya Hankyung dengan ekspresi wajah yang membuat hati Toki luluh. Shotakon satu itu hanya bisa menjawab yang ada di dalam lubuk hatinya.

+ + +

Di balik pintu kedua bibir milik makhluk bernama Song Yongso dan Lee Hyukjae terangkat membentuk seringaian. Mereka tahu hal ini tidak lama pasti akan terjadi. Tidak hanya mereka yang memasang tampang licik, di belakang mereka masih ada tiga belas orang lainnya yang mempunyai seringaian yang sama. Di dalam kepala mereka sudah terpikirkan rencana selanjutnya. Tentunya dengan masih memikirkan kondisi aim yang masih belum sembuh benar.

Reunion

Kejadian ini terjadi saat sebelum ‘Failed Mission’. Saint Agnes Imperial Academy Tokyo mengadakan pertemuan reuni untuk sepuluh angkatan dari seluruh tingkat. Yongso mendapat undangannya dari Yuuya Shiraishi. Totto, Louis, ketujuh member 7Oceans, Faye, dan Kyo yang merupakan alumni juga akan datang. Secara spesial ketiga ‘trio evil’ itu mengajak Eunhyuk sebagai escort untuk Yongso tercinta.

Pagi-pagi sekali Asuka, Rusty, dan Naomi menculik Eunhyuk dari tempat tinggal sementaranya dan langsung dibawa ke rumah kakak-beradik Radiant(Rusty & Naomi) untuk didandani. Setidaknya penampilan Eunhyuk sebagai pasangan seorang alumni Imperial Academy harus kelihatan honorable. Naomi yang melakukan make-over. Asuka yang memilihkan baju. Dan Rusty yang mengajari ‘manner’ sebagai seorang escort yang honorable.

Begitu Eunhyuk selesai didandani ketiganya langsung merasa takjub dengan hasil kreasi mereka. Ternyata Eunhyuk tidak kelihatan terlalu ‘ssanti’ amat, malahan begitu didandani dengan benar dia kelihatan seperti seorang businessman atau bangsawan (wkwkwkwk…). Naomi merasa bangga dengan kemampuan mendandaninya.

Tidak hanya ketiganya yang merasa takjub—Totto, Louis, Cerberus, El, dan Hiro saja sampai tidak mampu berkata apapun. Tidak ada reaksi apapun dari Toki, tapi Yongso hampir meleleh dan pingsan begitu melihat penampilan Eunhyuk.

Para tamu undangan yang merupakan alumni ternyata adalah orang-orang yang terkenal dalam berbagai bidang terutama bisnis. Anak konglomerat juga pada berkumpul di sini. Tapi kesembilan pemuda tampan alumni Imperial Academy dari rombongan mereka langsung menarik perhatian para hadirin di ruangan itu. Bahkan ada cewek-cewek yang tidak henti-hentinya memperhatikan Eunhyuk yang telah disihir oleh ‘trio evil’.

“Lihat, Totto oppa dan yang lain benar-benar menarik perhatian wanita. Hm, mereka memang ganteng, kuakui itu,” kata Yongso sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Yaa, memang aku kurang ganteng dari mereka?” tanya Eunhyuk cemberut.

“Oppa? Yaa, tidak perlu kukatakan juga kau sudah tahu kalau kau lebih baik dari mereka,” jawab Yongso dengan nada menggoda.

“Aigoo, lihat mereka berdua… ck, ck…” decak Toki menggelengkan kepalanya. “Oi, cari private room untuk kalian berdua! Aku gerah melihatnya… ck, ck…”

“Bilang saja kau iri!” balas Yongso sambil menjulurkan lidahnya ke arah sepupunya.

Lalu Yuuya datang menghampiri mereka dengan senyum ‘all-about-business-smile’. Tiba-tiba mood Eunhyuk langsung down begitu melihat Yongso dengan akrabnya mengobrol dengan Yuuya. Di belakang Toki dan Naomi menikmati tontonan kecemburuan Sang Hoobae. Tapi mengingat soal Yuuya, Toki teringat satu hal. Tapi ia tidak mengatakannya dengan keras karena masih ingin menikmati kecemburuan Eunhyuk.

“Benarkah kau akan mengajakku ke Hawaii?” tanya Yongso tampak senang dengan pembicaraannya dengan Yuuya.

“Tentu saja, kita akan melakukannya di sana,” jawab Yuuya tersenyum lebar.

Eunhyuk hampir meledak di sana dan ia hampir saja menarik Yongso pergi di depan umum kalau bukan karena Naomi dan Toki menahannya.

“Kau tida perlu melakukan apapun,” kata Toki.

“Tapi kalau begitu Yongso akan jatuh ke tangan di—…” kata Eunhyuk tapi terpotong ketika seorang perempuan berteriak memanggil Yuuya.

“Yuuya-kun!”

“Oh, Shiori… kau sudah selesai?” tanya Yuuya kepada perempuan itu.

“Ya, aku sudah selesai. Oh, Ryutsu-chan!” seru Shiori ketika melihat Yongso.

“Osashiburi, Shiori-chan,” sapa Yongso tersenyum lebar.

Perempuan bernama Shiori itu langsung memeluk Yongso dan keduanya berbicara dalam bahasa Jepang dengan begitu cepat. Eunhyuk sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga.

“Oh? Itu Shiori Azusagawa, bukan?” tanya Naomi mengenal perempuan itu. “Memangnya dia temannya Yongso-chan, ya?”

“Yeah, dia juga tunangannya si Yuuya itu,” jawab Toki sambil memperhatikan reaksi Monkey Jewel.

“…MWO!?” seru Eunhyuk tapi langsung dibungkam oleh Asuka yang baru datang dengan Rusty setelah dikerumuni oleh para cewek alumni. “Yaa, kenapa kau tidak bilang dari tadi?”

“Lho? Kau ‘kan tidak tanya,” sahut Toki bersikap innocent.

“Aish, gara-gara kau tidak menjelaskannya aku jadi capek-capek cemburu hal tak berguna,” gerutu Eunhyuk.

“Cieee, Eunhyukkie cemburuan!” goda ‘Trio Evil’.

“Argh, molla!” seru Eunhyuk frustrasi dan malu.

Begitu Yongso lepas dari Yuuya dan Shiori, Eunhyuk terus menempel padanya. Kehadiran Eunhyuk mengusir para cowok yang melirik ke arah Yongso. Hari itu Eunhyuk tidak hanya menjadi chaperon tapi juga sebagai anjing doberman-nya Yongso tersayang (--‘).

kpopindofanfiction

author: dimel melsye (@dimeldimdim)

category : One shot / AG

Genre : loyalty , love, family

cast : Hyun Ri, SHINee, yuri SNSD, choi siwon SUPER JUNIOR.

* initial fanfic, ayey, hit chairman : @dimeldimdim. Eciyeh!!! (*0*)/ *

Entah kenapa aku masih menerima perhatian dia sedangkan aku sendiri kadang merasa terganggu ketika orang ini selalu menanyakan kabarku, rasanya tidak cukup sekali aku memberi tahukan kabarku padanya hari ini. aigoo ini awal dari bencana sepertinya. Jonghyun bencana. Eh tidak bisa begitu, umma sayang padanya. Kalo aku sayang umma, otomatis aku harus mengakui jonghyun yang selalu banyak komentar itu sebagai kakakku. Umma yang selama ini melatar belakangi ku agar aku tetap berkomunikasi dengan jonghyun. Dia tau apa? Adanya dia sok tau. Saat ini umma sedang sakit, aku berharap agar ia cepat sembuh, anak mana yang tega membiarkan umma nya sakit terlebih dengan kondisi dengan yang sangat kritis. Umma, dia orang baik. Sebenarnya umma tidak berpenyakit, dia orang yang sehat, tapi Tuhan berkata lain, waktu itu taemin oppa, kakak kedua ku setelah jonghyun, memanggil umma karena dia sudah akan berangkat ke luar negeri untuk kuliah, karena terburu-buru saat umma berlari menuruni tangga, ia terpeleset dan sampai 3 bulan terakhir ini kondisi umma masih koma, taemin oppa joke sekarang sudah tinggal di luar negeri, aku yang menyuruhnya untuk melanjutkan kuliah, karena dia mendadak putus harapan gara-gara kecelakaan yang dialami umma. dia ingin menjaga umma lirihnya waktu itu dan dia berpesan padaku agar menjaga umma, jangan kecewakan umma, penuhi apa yang umma mau. Kata-kata itu yang selalu kuingat setiap kali jonghyun mengganggu ku. Kenapa umma ? kenapa jonghyun ? taemin oppa pernah bercerita padaku kalau sebenarnya jonghyun itu anak yatim piatu. Entah darimana taemin oppa mendapatkan berita seperti ini, dia merahasiakannya, dan juga aku tidak terlalu ingin tahu lebih dalam tentang jonghyun oppa. Dan sejak saat itu aku tau mengapa aku tidak bisa dekat dengan jonghyun oppa seperti aku dan taemin oppa. Umma mengangkat anak laki-laki berumur 2 tahun dari panti asuhan sebelum aku lahir untuk menemani taemin oppa yang masih 1 tahun untuk bermain karena umma dan appa sibuk berbisnis. Bahkan sampai sekarang joke appa sibuk dengan karirnya. Hanya 3 hari kemarin appa menjenguk umma, kemudian pergi lagi dengan urusan bisnisnya. Maksudnya umma mengangkat anak lelaki adalah biar taemin oppa tidak kesepian dirumah. Hingga appa menyekolahkan jonghyun dan taemin oppa. Dan aku lahir sebagai anak kandung ke dua dari umma dan appa. Dan begitu lah, jonghyun dan taemin oppa sangat dekat sekali, tapi tidak denganku dan jonghyun oppa tidak sedekat aku dan taemin oppa. Aku juga kadang bingung, jonghyun itu baik tapi Jonghyun oppa juga sangat menyebalkan buat ku. Apapun yang kulakukan pasti selalu dikomentarnya. Kata umma, aku tidak boleh berkelahi dengan jonghyun oppa, dia oppa ku kata umma. Walaupun aku tau umma berbohong, jonghyun bukan oppa asli, ya aku selalu saja menjawab “ne..”

“Hari ini aku ada rencana sekedar bermain sekaligus curhat dengan yuri eonnie. Aku mau pergi ke rumahnya eonnie, tapi siapa yang menjaga umma? Apa sebaiknya nanti-nanti saja aku ke rumah yuri eonnie, tapi aku sudah kangen dengan yuri eonnie, lama sekali sudah aku tidak bertemu dia” pikirku

“kau dari tadi disini saja?” suara jonghyun oppa mengagetkanku

“ne…”

“kau sudah makan?”

“ne…”

“kau sudah mandi ?”

“ne…”

“kau ini pelit sekali membuka mulut, hanya menjawab seadanya saja”

“apalagi yang harus kujawab, salahmu sendiri kenapa menanyakan hal yang kau sendiri sudah tau jawabannya” jawabku kesal.

“kan, tanya… mana kutau kamu sudah melakukannya.”

“kamu sendiri liat piring bekas makan didepanku, artinya aku sudah makan. Kamu sendiri liat rambutku basah, artinya aku sudah mandi. Dan kamu tau aku tadi malam tidak pulang ke rumah, gara-gara kamu sibuk categorical dota dirumah minho, tandanya aku sudah lama disini oppaaa”

“baiklah, maaf”

“oppa?”

“ne…”

“aku bisa minta bantuan mu sehari ini saja”

“mwo tadi marah-marah, sekarang banyak maunya. Ngencet !. Tumben sekali kau meminta bantuanku, bicara padaku saja seadaannya, tumben kau membutuhkan ku? Memang aku sangat berharga untukmu. Hahahahahaaaaa *ketawa licik*”

“oppa, hari ini kau tidak kemana-mana kan ?”

“aku mau tanding basket dengan minho bruise ini, ada apa?”

“kamu nih categorical terus, pantas aja skripsimu gak beres-beres”

“jangan bahas skripsi lagi,otakku rasa tergeser kalo ingat skripsi itu. Katakan saja kau mau apa”

“aku mau pergi ke rumah yuri eonnie, ada urusanku sama dia, tidak sampai sore, hanya sampai jam 3 saja, aku minta bantuanmu untuk menjaga umma sampai jam 3, selanjutnya kau mau apa, terserah, kali ini aku membutuhkanmu oppa”

“oh, baiklah… jam 3 pulang ya”

“gomawo oppa” saking senangnya aku melompat ke jonghyun, dan tiba-tiba jantungku berdetak cepat, dan aku segera melepaskan pelukanku dari jonghyun oppa dan berlari pergi.

“astaga, dia bukan oppa asli. Nanti perasaanku macam-macam. Karena dia cukup gagah untuk jadi namjachingu-ku walau menyebalkan tapi tandanya dia perhatian” ucapku dalam hati. Dan aku mengintip di tikungan lorong rumah sakit jonghyun oppa masih tidak bergerak dari tempatnya dan wajahnya memerah. Ah, jonghyun oppa memang selalu begitu kalo dipeluk wanita, sama seperti waktu dia menang tanding basket kemarin ketika salah satu yeoja cheers memberi pelukan ucapan selamat, mukanya langsung merah tegang dan diam di tempat seperti yang aku lihat barusan. kemudian aku pergi sambil senyum-senyum.

—————jonghyun POV

“Apa yang dilakukan bocah tadi padaku ? dia memelukku? Senangkah dia? Jantung ku berdetak kencang, tanganku dingin, Astagfiruloh jong sadar dia dongsaeng mu . ah, dongsaeng? Walau sebenarnya bukan adik

kandungku, tapi dia cukup cantik jadi pacarku, astagfiruloooooohhhh sebaiknya aku ke kamar umma untuk menjenguk kondisinya sekarang” ucapku dalam hati.

—————jonghyun POV end

“yuri eonnie…!!!”

“ne, sebentar !” ucap suara dari dalam

Pintu terbuka dan aku langsung memeluk orang yang membuka pintu “ eonnie.. aku kangen sama kamu, aku mau curhat eonnie”

“hei, aku bukan yuri”

“mwo aku kaget, mengapa suara laki-laki yang ku peluk? “

Aku melepaskan pelukan itu, astagaaaaa itu minho oppa pacarnya yuri eonnie. Habislah aku. Aku menatap minho oppa. Alisnya berkerut, tandanya minta makan ? ah bodo, tandanya dia mau marah.

“m-mmaap, enggak sengaja, kukira tadi kau yuri eonnie, aku kangen sekali dengannya , dia ada didalam kan?”

“siapa kau?”

“aku Hyun Ri”

“rasanya aku pernah mengenalmu tapi dimana, aku lupa”

“ya, kau benar oppa, aku pernah bertemu denganmu waktu menonton pertandingan basket kemarin. Aku tau kau partner mainnya jonghyun oppa. Aku adiknya” sambil membungkuk dan berharap dia tidak jadi marah.

“berarti kau yeoja yang selalu sibuk dengan telepon genggam di mobil jonghyun waktu mengantarku pulang tanding basket, ya?”

“ne oppa”

“masuklah”

————-MINHO POV

“ne, sebentar !”

Aku membuka pintu dan kaget karena tiba-tiba mendapatkan serangan pelukan dari seorang yeoja kecil dan menyebutkan nama yeojachingu-ku.

“hei, aku bukan yuri. Siapa kau?” kataku. Rasanya aku pernah melihat yeoja ini, tapi dimana?

“aku Hyun Ri” sahutnya.

“rasanya aku pernah mengenalmu tapi dimana, aku lupa”

“ya, kau benar oppa, aku pernah bertemu denganmu waktu menonton pertandingan basket kemarin. Aku tau kau partner mainnya jonghyun oppa. Aku adiknya”

“berarti kau yeoja yang selalu sibuk dengan telepon genggam di mobil jonghyun waktu mengantarku pulang tanding basket, ya?”

“ne oppa”

“masuklah”

Oh, adik jonghyun. Mengapa jonghyun tidak mau cerita waktu kutanya dia siapa. Padahal aku penasaran sama anak ini rajin sekali mengutak-atik telepon genggamnya. Aku penasaran sama anak ini. Sepertinya dia dekat sama yuri, tapi dia juga tidak pernah cerita apapun tentang teman curhatnya ini. Mending aku cari tau sendiri, tanpa bertanya dengan jonghyun atau yuri sekalipun. Mereka pasti tidak menghiraukannya.

————–MINHO POV END

“yuri eonnie…..”

Aku bertemu yuri di dapur dan aku langsung memeluknya, dan kali ini aku tidak salah orang.

“lamanya sudah kau tidak categorical ke rumah ku?” ucap yuri

“iya eonnie, umma masih sakit, jadinya sepulang sekolah, aku menungguinya”

“loh, kalo kau sekolah, siapa yang menjaga umma?”

“ada jonghyun oppa disana, sekarang ini joke dia masih menunggui umma dirumah sakit”

“oh, kasian umma, kapan-kapan aku janji akan menjenguknya nanti, tapi belum sekarang, aku masih mengurus tes masuk universitas, nanti lah ya aku kesana dengan minho oppa, minggu depan mungkin, kau bisa menemaniku kan minho oppa?”

“ne..” sahut minho pendek.

“astaga, tanganku jadi dingin sendiri jika mengingat kasus di pintu depan tadi, dan ketika sesekali aku melirik ke minho, mengapa mataku dan matanya saling bertemu, astaga, aku malu sendiri, asalkan jangan merah sekarang deh muka ku” ucapku dalam hati.

—3 jam berlalu

“yuri eonnie, aku kembali dulu ya, aku mau menjaga umma dulu, aku tadi sudah janji sama jonghyun oppa mau pulang jam 3, katanya dia mau categorical basket bruise ini” kataku pada yuri.

“kau pulang dengan siapa?”

“aku bisa naik taksi dari sini, eonnie aku pulang ya”

“eh, kau ikut mobil minho oppa saja, dia juga mau menjemput jonghyun katanya di rumah sakit dia mau tanding basket dengan jonghyun”

“baiklah eonnie”

Setelah aku berpamitan dengan yuri eonnie, aku langsung mengekor di belakang minho oppa. Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, suasana garing sekali. Aku tidak punya teman bicara, dia juga tidak mengajakku bicara, ya sudahlah, aku diam saja sambil sok sibuk mengutak atik telepon genggam.

————-MINHO POV

Yuri mengizinkan aku membawanya kerumah sakit. Artinya kesempatan besarku mencari tau tentang yeoja manis yang satu ini. Sepertinya dia ter-addicted sekali sama telepon genggam. Atau aku langsung tanya nomor

hapenya?. Ah tidak mungkin. Aku harus pakai perantara. Siapa tapinya? Yuri? Tidak mungkin. Nanti dia ngamuk aku kontak sama yeoja lain. Sepertinya harapanku hanya jonghyun.

—————MINHO POV END

“sekolah dimana?” tiba-tiba minho bertanya mengagetkan

“sama seperti yuri eonnie, dia sunbae ku” jawabku singkat

“jadi kau masih class 11?”

“ne, emmm oppa…”

“ne?”

“oppa, aku minta maaf atas kejadian di depan pintu tadi, aku benar-benar tidak tau”

“tidak apa-apa, untung kau cantik”

“mwo ?”

“tidak apa apa”

“apa aku tidak salah dengar, minho oppa bintang basket kampus bilang aku cantik, aah pale salah dengar” ucapku dalam hati.

Tapi kenapa aku merasa ada yang mengawasiku di perjalanan ini, dan diam-diam aku melirik minho oppa, dan dia tertangkap basah sedang melirikku juga, pandangan ku dan dia bertemu dan kemudian aku memalingkan wajahku ke jendela meskipun aku lebih suka melihat matanya minho oppa dibandingkan pemandangan jendela. Astaga, matanya bening sekali, yuri eonnie kau beruntung memiliki namjachingu seperti minho oppa.

Perjalanan ini terasa lama sekali, sebentar lagi jonghyun oppa akan marah padaku kalo aku telat pulang, dia akan menceramahi ku sampai kupingku panas kalo dia batal tanding basket, tapi tak apalah, aku bersama lawan mainnya kok sekarang, pasti jonghyun oppa tidak telat datang ke pertandingan. Dan 10 menit berlalu akhirnya sampai juga.

“terima kasih minho oppa”

“ne, tolong sekalian kau panggilkan jonghyun agar cepat ya, aku tidak mau menunggu lama”

“ne..”

Astaga, sudah selesaikah perjalanan tadi, aku merasa kurang puas menatap mata minho oppa tadi. Astaga, sadar! Minho punya yuri eonnie. Sesampainya di kamar umma, aku memberitahu jonghyun oppa kalo minho oppa menunggunya di parkiran. Dan jonghyun oppa bergegas pergi. Tinggalah aku dan umma di kamar rumah sakit ini. Karena aku kecapekan bermain dengan yuri eonnie, aku tertidur dari jonghyun oppa pergi sampai dia pulang. Dan langsung lah dia mulai berkomentar

“kamu tidur dari tadi?”

“ ne.. aku capek”

“kamu categorical ke rumah yuri lama sekali sih ….dan bzzzzz bla blabla”

“ne” aku hanya menjawab seadaanya karena aku malas mendengar komentarnya yang panjang.

“he oppa, kamu sudah mandi ?”

“sudah lah, kau pulang sana, malam ini aku yang jaga umma, aku tidak ada janji keluar dengan temanku malam ini, tapi tidak tau, mungkin temanku yang kesini”

“siapa temanmu? Siwon oppa kah? Dia kesini?”

“bukan, aku lagi berantem sama siwon, aku kalah categorical dota kemarin, dia minta traktirin, tapi aku kabur setelah itu. Tapi palingan besok dia ngajak lagi main. Kenapa kamu nanyain siwon hyung? Kamu suka dengannya?”

“tidak kok, aku mau minta bagikan pulsa sama siwon oppa”

“dalam rangka apa dia membagikan pulsa?”

“dia kemarin ketemu aku sedang jalan di danau suram *namanya memang suram, tapi bukan suram dalam arti sebenarnya* bersama sekyung. Trus siwon oppa harus traktir aku pulsa”

“hah? Sekyung ? Shin sekyung?”

“iya oppa, aduh maaf aku lupa oppa”

“oh, berarti dia bakalan sibuk sama sekyung, dan lupa minta traktir sama aku dan aku bisa gantian minta traktir nasi padang sama dia *senyum terpaksa*”

“jangan bohong oppa, aku tau perasaanmu. Baru 2 hari kemarin kamu putusan kan sama sekyung ? tenanglah oppa, mungkin mereka hanya jalan-jalan saja. Belum tentu mereka pacaran.”

“halah, biarkan aja lah mereka. Anggap tidak ada apa-apa lagi antara aku dan sekyung. Hanya teman biasa. Lebih baik kamu pulang sekarang, terlalu malam tidak baik buat yeoja seprtimu pulang sendirian”.

“ne oppa”

Aku menarik tasku dan sepertinya ada yang kurang…. Scarf ku!! Ah mungkin ketinggalan dirumah yuri eonnie. Besok saja aku mengambilnya. Aku keluar kamar dan di tikungan lorong aku menabrak minho oppa.

“minho oppa.? Maaf” sambil membungkuk

“gwenchana, kau ceroboh lagi, senang sekali menabrak orang”

“maaf minho oppa, aku baru bangun tidur, keseimbanganku belum sepenuhnya kembali.”

“naik apa kamu? tadi headband mu ketinggalan di mobil ku, sekalian kamu ambil dan kamu sekalian saja aku antar pulang”

“scarf ku di mobil mu?”

“iya, ketinggalan tadi, ambil sekarang lalu ku kuantar pulang”

“apa tidak merepotkan mu oppa? Lebih baik aku mengambil headband ku dan naik taksi saja”

“gwenchana, daripada aku tidak ada kerjaan sekarang. yuk” kata minho menarik tanganku.

“ne oppa” jawabku. Astaga apakah perjalanan panjang tadi siang terulang lagi ? ya ampun, bagaimana bisa fikiranku seperti ini? Astaga. Minho oppa punya yuri eonnie.

“ngapain ke rumah sakit malam-malam begini oppa? Ada keluarga mu yang sakit?”

“tidak, hanya mau menemani jonghyun categorical diversion sekalian menunggui umma mu juga. Habisnya aku tidak ada kerjaan dirumah, sebaiknya aku kesini lalu aku bertemu denganmu, sekalian aku antar kamu pulang” sahut minho sambil mengedipkan matanya sebelah kiri.

JONGHYUN POV

Sebenar nya anak ini dari mana sih? Tumben sekali dia tertidur jam segini. Bangunkan saja, dia pasti belum mandi. Bajunya saja belum diganti dari tadi pagi.

“kamu tidur dari tadi?”

“ ne.. aku capek”

“kamu categorical ke rumah yuri lama sekali sih ….dan bzzzzz bla blabla”

“ne”

“he oppa, kamu sudah mandi ?”

“sudah lah, kau pulang sana, malam ini aku yang jaga umma, aku tidak ada janji keluar dengan temanku malam ini, tapi tidak tau, mungkin temanku yang kesini”

“siapa temanmu? Siwon oppa kah? Dia kesini?”

“bukan, aku lagi berantem sama siwon, aku kalah categorical dota kemarin, dia minta traktirin, tapi aku kabur setelah itu. Tapi palingan besok dia ngajak lagi main. Kenapa kamu nanyain siwon hyung? Kamu suka dengannya?”

“tidak kok, aku mau minta bagikan pulsa sama siwon oppa”

“dalam rangka apa dia membagikan pulsa?”

“dia kemarin ketemu aku sedang jalan di danau suram *namanya memang suram, tapi bukan suram dalam arti sebenarnya* bersama sekyung. Trus siwon oppa harus traktir aku pulsa”

“hah? Sekyung ? Shin sekyung?”

“iya oppa, aduh maaf aku lupa oppa”

“oh, berarti dia bakalan sibuk sama sekyung, dan lupa minta traktir sama aku dan aku bisa gantian minta traktir nasi padang sama dia *senyum terpaksa*” ucapku melemah. Bisanya sahabatku jadian dengan mantan pacarku dalam selang waktu 2 hari. Biarlah, bekasku juga kok ? maksudnya aku sempat memilikinya.

“jangan bohong oppa, aku tau perasaanmu. Baru 2 hari kemarin kamu putusan kan sama sekyung ? tenanglah oppa, mungkin mereka hanya jalan-jalan saja. Belum tentu mereka pacaran.”

“halah, biarkan aja lah mereka. Anggap tidak ada apa-apa lagi antara aku dan sekyung. Hanya teman biasa. Lebih baik kamu pulang sekarang, terlalu malam tidak baik buat yeoja sepertimu pulang sendirian”.

“ne oppa”

“Aku rasa benar headband yang di jok belakang mobil minho yang aku temui tadi bukan headband yuri, aku kenal dengan headband itu, headband itu yang dipakai oleh dongsaeng ku. Tapi kenapa saat ku tanya minho bilang itu headband yuri? Ah

mungkin sama? Atau? Ah tadi dongsaeng kan ikut mobil minho sepulang dari rumah yuri. Dan barusan anak itu pulang hanya memakai blazer dan tidak memakai scarf. Benarkah?” ucapku dalam hati. Aku menengok lagi keluar dan ternyata benar dia hanya memakai blazer, tidak kulihat ada lilitan headband di lehernya.

“oh mungkin dia mau mengembalikan headband itu, makanya dia bertanya nomor hape hyun ri padaku. ada apa sebenarnya dengan minho?” tidak seperti biasanya. Entahlah. Aku tidak mau menambahi list pikiran ku. Sudah terlalu penuh pikiranku. Lebih baik aku categorical diversion aja.

JONGHYUN POV end

Seperti biasa, aku menatap mata minho oppa dan lagi-lagi pandangan kami bertemu, ih ni orang tau aja kalo aku lagi liatin dia.

“ setiap aku sama kamu, kenapa kau selalu menatapku?” tanya minho oppa

“tidak apa-apa, hanya saja aku senang melihat mata mu”

“mwo mataku? Aku sendiri terkadang benci dengan mataku, aku lebih suka dengan hidungku”

“ne, hidungmu juga bagus” ucapku sedikit menghiburnya mungkin.

————-MINHO POV

Aku melirik anak ini. Aku bingung seperti apa mengawali pembicaraan, aku tau dia pasti bosan. Dia melirikku juga.

“ setiap aku sama kamu, kenapa kau selalu menatapku?” tanyaku.

“tidak apa-apa, hanya saja aku senang melihat mata mu” katanya

“mwo mataku? Aku sendiri terkadang benci dengan mataku, aku lebih suka dengan hidungku”

“ne, hidungmu juga bagus” ucapnya. Yang jelas aku tidak tau itu pujian atau sindiran atau bahkan hanya sedikt menghiburku mungkin karena nada bicaranya datar.

Aku sudah memiliki nomor hapenya, lebih baik aku sms dia, setidaknya sedikit yang kutau yeoja ini sebenarnya rame, cuma dia harus dipancing dulu agar suasananya jadi lancar. Ya mungkin sekedar mengucapkan terima kasih, sudah menghilangkan rasa bosanku malam ini.

—————MINHO POV END

Akhirnya aku sampai, dan mengucap terima kasih. Dan menutup pintu. Lalu aku mandi, setelah itu aku langsung ke kamar tidur, seperti biasa meraih hape dan aku kaget ada nomor baru yang sms di hapeku isinya :

From : 06xxxx

Selamat tidur, walau joke hanya mengantarmu aku mungkin sudah cukup baik mengenalmu, terima kasih senyummu mampu menghilangkan rasa bosanku. Ttd.orang ganteng

“Mwo?? Siapa ini ? oh aku tau ini si narsis pasti minho oppa, aku tau dia narsis karena dia heboh sekali menceritakan dirinya tadi di mobil, tapi narsis sih narsis aja cuma mengapa kata-katanya begini? dari mana dia dapat nomorku? Paling dari yuri eonnie” ucapku meyakinkan diri sendiri.

Replies : Gomawo minho oppa. Sedikit ku tau pasti yuri eonnie bosan dengan kenarsisanmu setiap hari.

Sent

30 menit kemudian. “Heh? Kok tentative ? ada yang salah dengan hape ku atau minho oppa atau operator? Eh enggak kok, nih ada sms masuk” omel ku.

From : yuri eonnie

Hyun Ri, aku dirumah sakit sekarang. Rumah sakit tempat umma. Kau bisa temani aku disini hyun? Aku kehilangan dia, maaf aku tidak bisa meneleponmu langsung, aku tidak kuat berbicara.

Aku langsung loncat dari tempat tidur, mengganti pakaian dan langsung ke rumah sakit tempat umma, dalam hati aku bingung, kenapa yuri eonnie sms seperti ini padaku, aku tidak boleh mengacuhkannya, yuri eonnie baik sama aku, sering dengerin kalo aku curhat, masa aku tidak ada disamping dia waktu lagi sedih, tapi ini mengapa? Rasaku tidak pernah dia sebegininya. Semoga baik-baik saja. Sesampainya aku dirumah sakit, aku berlari mencari yuri eonnie, ternyata dia duduk di depan ruang ICU sambil menangis.

“yuri eonnie, mengapa kau menangis?”

“minho-ya” sambil memelukku

“kenapa eonnie?”

“dokter bilang, dia bakal tinggalin aku , hyun… dia kehabisan darah hyun. Aku tidak tau dari mana tadi dia, kata orang-orang mobil dia melaju cepat trus dia banting stir, dan mobilnya menabrak pohon” bisik yuri eonnie sambil memelukku sampai baju ku basah karena airmatanya.

Dalam hati perasaanku juga langsung startle sendiri, ini salahku. Seandainya dia tidak mengantarku, pasti tidak begini keadaanya, berarti tadi sms pertama dan terakhir dia padaku. Aku merasa bersalah, pasti gara-gara aku, aku tidak akan mungkin melihat matanya lagi. Yuri eonnie, dia mau ujian akhir, jangan sampai dia down. Tapi kenapa rasanya cobaan ini berat sekali. Air mataku ikut jatuh juga. Tiba-tiba jonghyun oppa lewat di depan ICU. Matanya merah sekali. Paling dia habis categorical game. Tapi ini merah di matanya berberda, seperti habis menangis.

“hyun? Hyun ri? Kau belum pulang?” suaranya serak.

“sudah tadi oppa tapi aku kembali lagi karena aku dengar berita minho oppa kecelakaan”

“minho kecelakaan?”

“ne, oppa”

“banyak sekali cobaan ini, sahabatku juga meninggalkan aku. Hyun, mulai sekarang, kau dan aku hanya tinggal berdua”

“maksudmu apa oppa?”

“sebentar kau ikut aku” sambil menarik tanganku, tangan nya jonghyun oppa terasa dingin sekali, matanya berkaca-kaca seperti mau menangis lagi.

“ yuri eonnie, aku tinggal sebentar ya” aku meninggalkan yuri eonnie, tapi dia tidak sendiri, ada saudara perempuannya minho yang menenangkan dia.

“oppa, kenapa ini, kenapa kau menangis oppa?”

Jonghyun tidak menjawab pertanyaan hyun sampai di kamar tempat umma, terlihat banyak sekali dokter dan suster mondar-mandir.

“kenapa ini? Aku benar-benar tak mengerti apa-apa. Perasaanku campur aduk”

Tiba-tiba ranjang dikeluarkan dari kamar umma, ditutupi kain putih. Aku masih diam saja melihat apa yang barusan lewat dihadapanku.

“mulai sekarang kita tinggal berdua, biarlah appa melanjutkan bisnisnya, taemin melanjutkan beasiswanya, umma tenang disurga. Aku janji pada umma aku akan menjagamu” kata jonghyun lirih.

“ummmmmmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” aku terduduk lemas, atmosphere mata yang tadi turun satu persatu berubah jadi banjir airmata di wajahku. Jonghyun memelukku. Aku mengikuti ranjang itu yang di bawa ke ruang jenazah sambil dipapah jonghyun oppa, saat itu pula berpapasan dengan yuri eonnie dan para dokter membawa ranjang yang bertutup kain putih. Dan itu minho oppa. Yuri eonnie langsung memelukku dan membisikkan “yang tabah hyun ri, aku ngerti bagaimana rasanya diposisimu kehilangan orang yang pale aku sayang”

Tiba-tiba aku merasakan pusing dan guncangan tiba-tiba, yuri eonnie, jonghyun dan semua orang yang dihadapanku ini hilang semua, aku tinggal sendiri. “hooooooooiii, bangun! Kau harus sekolah”suara pivotal dan jinki, tetangga kembarku yang jahil, yang biasa menumpang categorical playstation milik taemin kalo pagi-pagi.

“astafirulooooooooh, Alhamdulillah Cuma mimpi” aku sambil ngecek hape, ternyata aku tertidur setelah membalas sms minho gara-gara menunggu laporan terkirimnya. Dan ada sms

From: jonghyun oppa

Kamu diantar minho hyung ya tadi malam? Cieeeeh J sebelum kau sekolah, bawakan aku makanan,aku lapar. Bikinkan 2 porsi ya. Satu buat aku, satu lagi buat minho, kalo kau baik bikinkan 3 porsi, kami kelaparan. Tadi malam minho ikut menginap di rumah sakit. Menemani aku categorical dota. Jangan lama ya ! cepat…

Dan artinya umma dan minho oppa baik-baik saja. Syukurlah! Saatnya aku mandi, bikin sarapan dan kerumah sakit, lalu ke sekolah, dan memulai lagi hariku dengan komentar jonghyun yang selalu panjang lebar serta matanya minho oppa kalo aku bertemu dengannya. Aku loncat dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.

THE END –

Halaman Gambar Menarik, Pelik, Artis Panas & Macam-Macam Lagi!: Kesemua 13 ahli kumpulan ikrar kekal bersama

Halaman Gambar Menarik, Pelik, Artis Panas & Macam-Macam Lagi!