Andrew Darwis No Komeng Juragan...
Andrew Darwis No Komeng Juragan...
Lamaran Ditolak, Video Syur Wanita Muda Disebar di Internet
Pria dengan inisial we melakukan adegan syur bersama seorang perempuan asal Desa Siwa, L (26).
Video terdiri dari dua sesi dengan durasi yang berbeda. Diduga diambil di salah satu hotel di Makassar, Sulawesi Selatan, menggunakan kamera dari telepon seluler.
Dalam video tampak keduanya melakukan hubungan layaknya suami istri. Video sesi pertama berdurasi 10 menit, sementara video kedua mengambil latar di toilet kamar hotel yang sama.
"Video ini sudah menjadi perbincangan warga sekitar sepekan lalu," kata Emang, salah seorang warga Desa Siwa.
Emang membenarkan bahwa pemeran perempuan merupakan warga sedesanya. "Yang perempuan adalah warga Siwa dan menurut informasi dia sudah tidak ada di sini," ujarnya.
Sementara itu Kapolsek Pitumpanua Kompol Kasok membenarkan video mesum yang beredar di Kecamatan Pitumpanua, namun pihaknya belum bisa memproses temuan ini. Alasannya tempat kejadian perkara (TKP ) bukan di Pitumpanua melainkan disinyalir di salah satu hotel di Kota Makassar, Sulsel.
"Si perempuan ini sudah tidak ada di Siwa dan laki-laki berada di Kabupaten Pinrang, tempatnya bekerja sebagai pegawai honorer," ujarnya.
Kasok menduga design beredarnya video mesum tersebut diduga akibat ditolaknya lamaran pria terhadap perempuan lawan mainnya dalam video tersebut. "Mungkin karena sakit hati lamarannya ditolak, maka dia mengedarkan video itu," pungkasnya.
%-(
Incoming hunt terms:
,,lina siwa ,video lina siwa ,vidio prohibited lina siwa ,video porno lina siwa ,wajo bugil ,video lina pinrang ,LINA SEX WAJO SULSEL ,lina siwa prohibited ,LINA WAJO SULSEL ,www lina prohibited siwa comassalaamu’alaikum wr. wb.
Hidup sebagai kacung adalah sebuah tragedi besar. Seorang kacung tidak paham apa joke kecuali apa yang dijejalkan ke dalam otaknya oleh orang yang dengan sukarela ia jadikan majikan. Ia tidak menelan apa joke kecuali apa yang disuapkan ke dalam mulutnya, dan lambungnya akan mencerna apa joke yang diberikan padanya.
Di jaman complicated seperti ini, ada saja manusia yang dengan senang hati menjadikan dirinya sebagai kacung. Bukan hanya orang kampung yang tinggal di daerah terpencil dan tidak makan bangku sekolah saja yang gampang dibohongi, namun juga mereka yang sudah memiliki titel sarjana, kerja kantoran pekerja pabrik, dan mengenakan dasi setiap harinya. Mereka sendirilah yang telah menobatkan diri sebagai kacung. Allah SWT telah memuliakannya lebih tinggi daripada alam semesta ciptaan-Nya dan malaikat-malaikat yang selalu setia pada titah-Nya, tapi justru dirinya sendirilah yang memilih untuk merendahkan diri sedemikian rupa.
Kacung ada di mana-mana. Ada gadis-gadis muda yang konon sudah tidak lagi merasa memiliki derajat lebih rendah daripada laki-laki, namun berteriak-teriak histeris sampai pingsan ketika artis pujaan hatinya melenggang menuju panggung. Ada santri yang sudah puluhan kali khatam Qur’an dan ribuan kali memperbarui ikrarnya untuk hanya constant pada perintah Allah, namun fatwa kyai idolanya dianggap lebih canggih daripada Kitab Suci. Ada juga mahasiswa-mahasiswa muda yang siap mati demi perjuangan yang tidak jelas juntrungannya.
Sekarang ini, yang dipertuhankan manusia bukan hanya Allah. ‘Tuhan-tuhan’ itu ada dimana-mana. Ada yang mempertuhankan kesenangan pribadi, sehingga segalanya halal asalkan memuaskan. Apa bedanya istri yang sah dan setia menunggu di rumah dengan seorang pelacur yang bisa dibayar untuk kesenangan beberapa jam? Tidak ada yang tahu bagaimana seorang hedonis berpikir, karena mereka memang sudah tidak lagi berpikir.
Ada juga yang mempertuhankan demokrasi. Segalanya sah asalkan rakyat menerimanya dengan suara bulat. Kalau tidak bulat, mayoritas joke bolehlah. Maka minuman keras di tengah masyarakat pemabuk sah-sah saja. Pelacuran di kawasan lokalisasi adalah wajar. Rokok joke menjadi halal-halal saja, karena para ‘ulama’ banyak yang menginvestasikan dana dalam industri tersebut. Suara rakyat adalah suara Tuhan! Begitulah kata Akbar Tanjung dalam sebuah acara talkshow di GWW IPB, tahun 1999 silam. Tapi bukankah Tuhan punya hak penuh untuk tidak setuju?
Ada yang mempertuhankan organisasinya sendiri. Apa joke yang dikatakan oleh para petinggi, maka itu harus dianggap sebagai sebuah kebenaran. Apalagi kalau organisasi itu memakai ‘atribut’ keislaman, maka fatwanya bisa dianggap sama dengan wahyu Allah sendiri. Bukan main!
Yang pale menakjubkan tentunya ketika manusia joke dianggap sama seperti Tuhan. Seorang raja dengan congkaknya membiarkan hidup seorang manusia dan menghukum mati seorang yang lain, lalu berkata dengan yakin di hadapan Nabi Ibrahim as. : “Aku bisa menghidupkan dan mematikan seperti Tuhan!” Dengan cerdiknya Sang Nabi berseru, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat!” Maka selesailah sudah perdebatan tersebut.
Percaya atau tidak, di jaman yang (katanya) serba maju ini, masih juga banyak manusia yang berpikir dengan pola feodalisme, serba menurut begitu saja pada para idola. Apa joke yang dilakukan oleh sang idola dibenarkannya dengan sepenuh hati. Jika idolanya berkata bahwa aurat bebas dibuka sesuai keinginan sang pemilik tubuh (padahal tubuh ini hanyalah milik Allah), maka ia joke akan menurut dengan patuhnya. Jika idolanya beranggapan bahwa “assalaamu’alaikum” bisa disubstitusi saja dengan “selamat pagi, siang dan sore”, maka para kacung joke membenarkannya. Jika sang idola yang sudah sekolah keluar negeri berfatwa bahwa ayat ini bisa dipakai dan ayat itu sudah usang, maka kacungwan dan kacungwati joke menyerah tanpa syarat. Jika ada yang mengkritik sang pujaan, maka para kacung joke berbaris rapat, mengangkat senjata, menebar ancaman, bahkan kemudian berpekik “Allaahu akbar!!!”, padahal Allah sudah jarang sekali ada di hatinya.
Suatu ketika, almarhum Rahmat Abdullah pernah bercerita di hadapan banyak orang di sebuah gedung olah raga di Bandung mengenai sebuah pengalamannya menjadi anggota DPR. Pada suatu hari, rapat berlangsung ketat dan makan waktu lama hingga adzan Ashar joke berkumandang. Dengan santainya sang Ustadz meminta waktu untuk shalat. Dalam perjalanan menuju tempat shalat, seorang ‘ulama’ lain yang berasal dari sebuah partai Islam menyalaminya dengan kagum atas keberaniannya meminta waktu istirahat untuk melaksanakan shalat. Ternyata, selama ini jarang sekali ada yang minta rapat ditunda untuk shalat sejenak. Duhai, betapa wakil rakyat yang Muslim joke sudah menjadi kacung bagi aturan-aturan anti-Islam. Sudah berapa lamakah hal ini terjadi?
Kita boleh saja mengagumi seseorang, menjadikannya sebagai guru, menjadikannya teladan, dan memintanya secara khusus untuk mengajari kita. Kita juga boleh aktif terlibat dalam sebuah organisasi, baik berupa ormas, LSM, OSIS, DKM, Karang Taruna, atau partai politik. Tapi kita harus selalu ingat bahwa manusia diciptakan bukanlah untuk menjadi hamba yang lain. Hanya satu yang harus kita jadikan majikan, dan tidak boleh tidak. Kita adalah hamba-Nya, bukan kacung orang lain.
Anda tidak bisa menjadi Muslim jika masih berpikir seperti kacung.
wassalaamu’alaikum wr. wb.
sumber:http://akmal.multiply.com/journal/item/283


