Teater08's Blog

TOKOH DAN PENOKOHAN

Tokoh

Sama halnya dengan unsur tract dan pemplotan, tokoh dan penokohan merupakan unsur penting dalam karya naratif. Plot biasnya dipandang orang sebagai tulang punggung cerita, namun kita kita dapat juga mempersoalkan: siapa tokoh yang diceritakan, siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu, yang dalam cerita sering disebut peristiwa dalam plot, siapa pembuat konflik adalah bagian dari tokoh dan penokohan. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra dirinya, dalam banyak hal lebih menarikpehatian orang daripada berurusan dengan pemplotannya. Namun, hal itu tidak dapat diabaikan begitu saja karena kejelasan mengenai mengenai tokoh dan penokohan dalam banyak hal tergantung pada pemplotannya.

Kita sering mendengar istilah-istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisisasi secara bergantian dengan pengertian yang hampir sama dalam pembicaraan sebuah karya fiksi. Istialh-istilah tersebut sebenarnya tidak persis sama dan dipergunakan dalam pengertian yang berbeda walau ada sinonim dalam istilah-istilah tersebut. Ada istilah yang menyaran pada tokoh cerita dan teknik pengembangannya pada sebuah cerita. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh.

Penokohan

Albertime Minderop dalam mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi:

1. teknik ekspositaris,

2. teknik dramatik, dan

3. teknik identifikasi tokoh.

  1. 1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.

Dalam buku Pengkajian fiksi (1994:165) Istilah karakter (character) sendiri dalamberbagi literatur bahasa inggris menyaran pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap, ketertarikan, emosi, keinginan dan prinsip dignified yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian, impression dapat berarti ‘pelaku cerita’ dan dapat pula berarti ‘perwakatan’. Antara seorang tokoh perwatakan yang dimilikinya merupakan suatu kepaduan yang utuh. Penyebutan nama tokoh tertentu,tak jarang, langsung mengisyaratkan kepada kita perwatakan yang dimilikinya.Hal itu terjadi terutama pada tokoh-tokoh cerita yang telah menjadi milik masyarakat, seperti Datuk Maringgih dengan sifat-sifat jahatnya, Tini dengan keegoisannya,Hamlet dengan keragu-raguannya,dan sebagainya.

Tokoh ceritanya (character), menurut Abrams (1981:20),adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatukarya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas dignified dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekpresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tidakan. Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitasa pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca, khususnya dari pandangan teori resepsi, pembacalah yang memberi arti semuanya. Untuk kasus kepribadian sang tokoh pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal).

Kewajaran

Fiksi merupakan bentuk kajian sastra yang kreatif, maka cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh juga tak lepas dari keatifitas yang bebas dari seorang pengarang. Pengarang mempunyai hak penuh dalam menentuka dan menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya sesuai dengan selera, termasuk siapa tokohnya, bagaimana standing sosialnya, dan pemasalahan yang dihadapinya. Artinya, pengarang bebas untuk menampilkan dan memperlakukan tokoh, siapapun dia orangnya walau hal itu berbeda dengan dunia nyata.

Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia harus merupakan seorang tokoh yang hidup seacara wajar. Kehidupan tokoh dalam cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan betindak sesuai dengan tuntutan cerita Tokoh cerita mempundengan pewatakan yang disandangnya.

Tokoh cerita mempunyai posisi startegis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, dignified atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sebagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribadi kurang berkembang. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai penyampai pesan atau bahkan lebih merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian dan keinginan-keinginan pengaran Ada hubungan yang erat antara penokohan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh itu. Perwatakan berhubungan dengan karakterisasi atau bagaimana watak okoh-tokoh itu. Keduanya menyangkut diri tokoh dalam cerita rekaaan itu.

Waktu pertama membaca cerita kita langsung berkenalan dengan nama tokoh-tokoh. Karena kekuatan cerita dan daya tarik tokoh yang sebenarnya hanya bersifat rekaan pengarang itu, maka sering kali nama tokoh menjadi buah bibir masyarakat, baik tokoh itu baik maupun tokoh yang jahat. Saat ini begitu populer tokoh dalam sinetron Cinta Fitri, seperti Fitri, Farel, Fais, dan sebagainya. Nama tokoh-tokoh itu menjadi buah bibir dari anak-anak sampai orang tua. Bahkan banyak juga anggota masyarakat begitu kagum akan tokoh imajiner itu, sehingga member nama anaknya atau menimbulkan tokoh yang benar-benar hidup dengan nama tokoh itu. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanya rekaan pengarang.

Kalau didepan Aris Toteles menyatakan bahwa alur merupakan bagian terpenting dari cerita rekaan tau merupakan roh atau jiwa dari cerita itu, maka Hudson (1963:151-52) menyatakan bahwa penokohan merupakan bagian yang sangat penting bahkan lebih penting dari alur cerita.

Istilah penokohan disini berarti cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan uncertain cerita yang lain dan bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokoh itu.

Kesepertihidupan

Masalah kewajaran tokoh sering disebutkan dengan kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Seorang tokoh ceriota dikatakan wajar, relevan jika mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya (lifelike). Tokoh cerita hendaknya bersifat alami, memiliki sifat ‘kesepertihidupanan’. Namun usaha memahami atau bahkan menilai tokohcerita yang hanya berdasarkan dari seperti kehidupan saja tidak cukup. Tokoh cerita haruslah mempunyai dimensi yang lain selain kesepertikehidupan.

Realitas kehidupan kehidupan manusia memang pelu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tokoh cerita. Tokoh manusia nyata memang mempunyai kebebasan, namun tokoh fiksi tak pernah berada dalam keadaan benar benar bebas. Tokoh karya fiksi hanyalah bagian yang terikat pada keseluruhan artistic sesuai dengan tujuan karya fiksi itu sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan perbedaan pale penting antara tokoh fiksi dengan tokoh dunia nyata.

Tokoh Rekaan Versus Tokoh Nyata

Tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dalam dunia fiksi, sesuai dengan namanya adalah tokoh rekaan, tokoh yang tak pernah ada didunia nyata. Namun kita juga sering menemukan tokoh dalam dunia nyata yang ditemui dalam cerita-cerita sejarah. Pengangkatan tokoh-tokoh nyata, atau hanya berupa bentuk personifikasinya, dapat mengesani pembaca seolah-olah peristiwa yang diceritakan bukanlah cerita imajinatif.

Pengangkatan tokoh sejarah dalam fiksi pada umumnya bukan berstatus utama. Hubungan antara tokoh sejarah dengan tokoh-tokoh utama biasanya hanya bersifat idensial. Pengangkatan tokoh cerita berdasarkan pengambilan bentuk personifikasi tokoh dalam kehidupan nyata.

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.

“Ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.

Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.

“Apa, Non?” takutnya Nek Yam salah dengar.

“Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.

Cara Pengarang Menampilkan Tokoh

Pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita yang diciptakannya. Ketiganya biasanya digunakan bersama-sama. Ketiga cara terseburt adalah:

(1) Metode analitis oleh Hudson (1966: 146) disebut metode langsung dan oleh Kenny (1966: 34) disebut metode deskriptif atau diskursif

(2) Metode tidak langsung yang juga disebut metode peragaan atau metode dramatisasi

(3) Metode kontekstual yang juga dikemukakan oleh Kenny (1936: 36)

Dalam metode analitis atau deskriptif atau langsung, pengarang secara langsung mendeskripsiksn keaadan tokoh itu dengan terinci (analitis). Deskripsi tentang sang tokoh itu dapat secara fisik (keadaan fisiknya), dapat secara psikis (wataknya), dapat juga keaadan sosialnya (kedudukan dan pangkat) yang lazim adalah ketiga-tiganya. Metode deskriptif ini dipandang berkedudukan lebih rendah daripada metode thespian karena pembaca kebanyakan menginginkan dramatisasi dari tokoh itu dan bukannya ingin diberitahu tentang keadaan tokoh tersebut.

Metode tidak langsung atau metode dramatik kiranya lebih hidup dari pada metode deskriptif. Pembaca igin diberi fakta tentang kehidupan tokohnya dalam suatu alur cerita dan tidak perlu dibeberkan tersendiri oleh pengarang. Penokohan secara thespian ini biasanya berkenan dengan penampilan fisik, hubungan dengan orang lain, cara hidup sehari-hari. Lukisan watakk tokoh semacam itu tidak diberi langsung oleh pengarang, tetapi harusdisimpulkan sendiri melalui cerita pengarang.

Metode thespian lebih banyak menampilkan tokoh melalui “action” atau lakuan tokoh itu dan dialog antara tokoh itu dengan tokoh lainnya. Cerita-cerita mutakhir kebanyakan tanpa deskripsi tokoh-tokoh , labih banyak menampilkan dramatisasi melalui lakuan dan dialog.

Metode kontekstual adalah metode menggambarkan watak tokoh melalui konteks bahasa atau wacana yang digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh tersebut. Kebanyakan cerita rekaan menggunakan tiga metode sakaligus. Namun demikian banyak juga yang didominasi oleh salah satu metode saja. Karya sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya: menggunakan metode langsung secara lebih dominan dari metode kedua dan ketiga. Karya sastra mitakhir biasanya menggunakan metode ketiga lebih dominan dari metode pertama dan kedua.

  1. 1. Jenis-Jenis Tokoh

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.

Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.

Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.

Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.

Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

Albertime Minderop (dalam Waluyo 2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Teknik ekpositoris adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

2.Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif. Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik. (Burhan Nurgiantoro, dalam goesprih.blogspot.com).

3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Klasifikasi jenis-jenis tokoh ada bermacam-macam. Berdasarkan peran tokoh it dalam cerita, terdapat tokoh sentral dan tokoh tokoh bawahan atau tokoh utama dan tokoh pembantu. Berdasarkan pembangunan konflik cerita, terdapat tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Tokoh protagonist dan antagonis termasuk tokoh sentral. Disamping itu terdapat juga tokoh wirayawan dan anti wirawan yang biasanya menggeser kedudukan tokoh antagonis dan tokoh protagonis. (panuti Sujiman, dalam Nurgiantoro 2004: 167).

Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam:

(1) tokoh utama

(2) tokoh tambahan

(3) tokoh protagonis

(4) tokoh antagonis

(5) tokoh sederhana

(6) tokoh bulat

(7) tokoh statis

(8) tokoh berkembang

(9) tokoh tipikal

(10) tokoh netral.

Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan kedalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.

Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:

1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakn tokoh yang pale banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh penjawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi klita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupak empati dari pembaca.

2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

Tokoh mirawan adalah tokoh tokoh penting disamping tokoh protagonis dan antagonis. Pada umumnya tokoh wirawan mempunyai pikiran yang luhur dan mempunyai budi budi pekerti yang luhur dan baik yang diwujudkan dalam pandangan dan tidak tanduknya yang mulia.

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat-watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.

2. Tokoh bulat, kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagi kemungkinan dan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya, terasa kurang informed karena yang ditampilkan adalah tokoh-tokoh yang kurang akrab dan kurang dikenal sebelumnya.

Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dibedakan dalam:

1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi ( Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).

2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.

Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilakan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaanya atau pekerjaanya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.

2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

Teknik Pelukisan tokoh

Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau lengkapnya: pelukisan sikap, sifat, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang berhubunggan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan kedalam dua cara atau teknik, yaitu teknik uraian ( telling) dan teknik ragaan ( showing) Abrams (dalam Nurgiantoro 1994: 194), atau teknik penjelasan, ekpositori (expository) dan teknik thespian (dramatic) Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 194), atau teknik diskursif (discursive), dramatik dan kontekstual Kenny (dalam Nurgiantoro 2002: 194). Teknik pertama dan kedua walaupun berbedda istilah, namun secara esensial tidak berbeda menyaran pada pelukisan secara langsung, sedangkan teknik yang kedua pada pelukisan secara tidak langsung.

  1. a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori atau teknik analitis adalah teknik yang pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap perkenalan.

  1. b. Teknik Dramatik

Teknik dramatik adalah teknik pelikisan tokoh cerita yang pengarangnya tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Sifatnya lebih sesuai dengan sisi kkehidupan nyata.

(1) Teknik Cakapan

Teknik cakapan adalah teknik percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita yang juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku

Teknik tingkah laku adalah teknik yang menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan

Teknik pikiran dan perasaan adalah teknik yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal yang akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya jua.

(4) Teknik Arus Kesadaran

Teknik arus kesadaran (steam of consciousness) adalah teknik yang merupakan sebuah karya narasi yang berusaha menangkap pandangan dan proses mental tokoh, tanggapan idera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, persaan, ingatan, harapan dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams, dalam Nurgiantoro 2002: 206).

(5) Teknik Reaksi Tokoh

Teknik reaksi tokoh adalah suatu reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata dan sikap serta tingkah-laku orang lain dan sebagainya yang merupakan “rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

(6) Teknik Pelukisan Latar

Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagi teknik yang lain.

(7) Teknik Pelukisan Fisik

Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaanya, atau pale tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu.

Identifikasi tokoh

Untuk mengenali secara lebih baik tokoh-tokoh cerita, kita perlu mengidentifikasi kedirian tokoh(tokoh) secara cermat dengan usaha-usaha melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

(1) Prinsip Pengulangan

Prinsip pengulangan adalah prinsip yang dapat menemukan dan mengidentifikasi adanya kesamaan sifat, sikap, watak, dan tingkah laku pada bagian-bagian berikutnya.

(2) Prinsip Pengumpulan

Prinsip pengumpulan adalah suatu prinsip yang dapat mengungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang kedirian yang “tercecer” diseluruh cerita tersebut.

(3) Prinsip Kemiripan dan Pertentangan

Identifikasi tokoh yang mempergunakan prinsip kemiripan dan pertentangan dilakukan dengan memperbandingkan antara seorang tokoh dengan tokoh lain dari cerita fiksi yang bersangkutan.

TOKOH DAN PENOKOHAN

Tokoh

Sama halnya dengan unsur tract dan pemplotan, tokoh dan penokohan merupakan unsur penting dalam karya naratif. Plot biasnya dipandang orang sebagai tulang punggung cerita, namun kita kita dapat juga mempersoalkan: siapa tokoh yang diceritakan, siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu, yang dalam cerita sering disebut peristiwa dalam plot, siapa pembuat konflik adalah bagian dari tokoh dan penokohan. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra dirinya, dalam banyak hal lebih menarikpehatian orang daripada berurusan dengan pemplotannya. Namun, hal itu tidak dapat diabaikan begitu saja karena kejelasan mengenai mengenai tokoh dan penokohan dalam banyak hal tergantung pada pemplotannya.

Kita sering mendengar istilah-istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisisasi secara bergantian dengan pengertian yang hampir sama dalam pembicaraan sebuah karya fiksi. Istialh-istilah tersebut sebenarnya tidak persis sama dan dipergunakan dalam pengertian yang berbeda walau ada sinonim dalam istilah-istilah tersebut. Ada istilah yang menyaran pada tokoh cerita dan teknik pengembangannya pada sebuah cerita. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh.

Penokohan

Albertime Minderop dalam mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi:

1. teknik ekspositaris,

2. teknik dramatik, dan

3. teknik identifikasi tokoh.

  1. 1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.

Dalam buku Pengkajian fiksi (1994:165) Istilah karakter (character) sendiri dalamberbagi literatur bahasa inggris menyaran pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap, ketertarikan, emosi, keinginan dan prinsip dignified yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian, impression dapat berarti ‘pelaku cerita’ dan dapat pula berarti ‘perwakatan’. Antara seorang tokoh perwatakan yang dimilikinya merupakan suatu kepaduan yang utuh. Penyebutan nama tokoh tertentu,tak jarang, langsung mengisyaratkan kepada kita perwatakan yang dimilikinya.Hal itu terjadi terutama pada tokoh-tokoh cerita yang telah menjadi milik masyarakat, seperti Datuk Maringgih dengan sifat-sifat jahatnya, Tini dengan keegoisannya,Hamlet dengan keragu-raguannya,dan sebagainya.

Tokoh ceritanya (character), menurut Abrams (1981:20),adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatukarya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas dignified dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekpresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tidakan. Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitasa pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca, khususnya dari pandangan teori resepsi, pembacalah yang memberi arti semuanya. Untuk kasus kepribadian sang tokoh pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal).

Kewajaran

Fiksi merupakan bentuk kajian sastra yang kreatif, maka cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh juga tak lepas dari keatifitas yang bebas dari seorang pengarang. Pengarang mempunyai hak penuh dalam menentuka dan menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya sesuai dengan selera, termasuk siapa tokohnya, bagaimana standing sosialnya, dan pemasalahan yang dihadapinya. Artinya, pengarang bebas untuk menampilkan dan memperlakukan tokoh, siapapun dia orangnya walau hal itu berbeda dengan dunia nyata.

Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia harus merupakan seorang tokoh yang hidup seacara wajar. Kehidupan tokoh dalam cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan betindak sesuai dengan tuntutan cerita Tokoh cerita mempundengan pewatakan yang disandangnya.

Tokoh cerita mempunyai posisi startegis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, dignified atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sebagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribadi kurang berkembang. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai penyampai pesan atau bahkan lebih merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian dan keinginan-keinginan pengaran Ada hubungan yang erat antara penokohan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh itu. Perwatakan berhubungan dengan karakterisasi atau bagaimana watak okoh-tokoh itu. Keduanya menyangkut diri tokoh dalam cerita rekaaan itu.

Waktu pertama membaca cerita kita langsung berkenalan dengan nama tokoh-tokoh. Karena kekuatan cerita dan daya tarik tokoh yang sebenarnya hanya bersifat rekaan pengarang itu, maka sering kali nama tokoh menjadi buah bibir masyarakat, baik tokoh itu baik maupun tokoh yang jahat. Saat ini begitu populer tokoh dalam sinetron Cinta Fitri, seperti Fitri, Farel, Fais, dan sebagainya. Nama tokoh-tokoh itu menjadi buah bibir dari anak-anak sampai orang tua. Bahkan banyak juga anggota masyarakat begitu kagum akan tokoh imajiner itu, sehingga member nama anaknya atau menimbulkan tokoh yang benar-benar hidup dengan nama tokoh itu. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanya rekaan pengarang.

Kalau didepan Aris Toteles menyatakan bahwa alur merupakan bagian terpenting dari cerita rekaan tau merupakan roh atau jiwa dari cerita itu, maka Hudson (1963:151-52) menyatakan bahwa penokohan merupakan bagian yang sangat penting bahkan lebih penting dari alur cerita.

Istilah penokohan disini berarti cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan uncertain cerita yang lain dan bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokoh itu.

Kesepertihidupan

Masalah kewajaran tokoh sering disebutkan dengan kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Seorang tokoh ceriota dikatakan wajar, relevan jika mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya (lifelike). Tokoh cerita hendaknya bersifat alami, memiliki sifat ‘kesepertihidupanan’. Namun usaha memahami atau bahkan menilai tokohcerita yang hanya berdasarkan dari seperti kehidupan saja tidak cukup. Tokoh cerita haruslah mempunyai dimensi yang lain selain kesepertikehidupan.

Realitas kehidupan kehidupan manusia memang pelu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tokoh cerita. Tokoh manusia nyata memang mempunyai kebebasan, namun tokoh fiksi tak pernah berada dalam keadaan benar benar bebas. Tokoh karya fiksi hanyalah bagian yang terikat pada keseluruhan artistic sesuai dengan tujuan karya fiksi itu sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan perbedaan pale penting antara tokoh fiksi dengan tokoh dunia nyata.

Tokoh Rekaan Versus Tokoh Nyata

Tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dalam dunia fiksi, sesuai dengan namanya adalah tokoh rekaan, tokoh yang tak pernah ada didunia nyata. Namun kita juga sering menemukan tokoh dalam dunia nyata yang ditemui dalam cerita-cerita sejarah. Pengangkatan tokoh-tokoh nyata, atau hanya berupa bentuk personifikasinya, dapat mengesani pembaca seolah-olah peristiwa yang diceritakan bukanlah cerita imajinatif.

Pengangkatan tokoh sejarah dalam fiksi pada umumnya bukan berstatus utama. Hubungan antara tokoh sejarah dengan tokoh-tokoh utama biasanya hanya bersifat idensial. Pengangkatan tokoh cerita berdasarkan pengambilan bentuk personifikasi tokoh dalam kehidupan nyata.

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.

“Ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.

Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.

“Apa, Non?” takutnya Nek Yam salah dengar.

“Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.

Cara Pengarang Menampilkan Tokoh

Pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita yang diciptakannya. Ketiganya biasanya digunakan bersama-sama. Ketiga cara terseburt adalah:

(1) Metode analitis oleh Hudson (1966: 146) disebut metode langsung dan oleh Kenny (1966: 34) disebut metode deskriptif atau diskursif

(2) Metode tidak langsung yang juga disebut metode peragaan atau metode dramatisasi

(3) Metode kontekstual yang juga dikemukakan oleh Kenny (1936: 36)

Dalam metode analitis atau deskriptif atau langsung, pengarang secara langsung mendeskripsiksn keaadan tokoh itu dengan terinci (analitis). Deskripsi tentang sang tokoh itu dapat secara fisik (keadaan fisiknya), dapat secara psikis (wataknya), dapat juga keaadan sosialnya (kedudukan dan pangkat) yang lazim adalah ketiga-tiganya. Metode deskriptif ini dipandang berkedudukan lebih rendah daripada metode thespian karena pembaca kebanyakan menginginkan dramatisasi dari tokoh itu dan bukannya ingin diberitahu tentang keadaan tokoh tersebut.

Metode tidak langsung atau metode dramatik kiranya lebih hidup dari pada metode deskriptif. Pembaca igin diberi fakta tentang kehidupan tokohnya dalam suatu alur cerita dan tidak perlu dibeberkan tersendiri oleh pengarang. Penokohan secara thespian ini biasanya berkenan dengan penampilan fisik, hubungan dengan orang lain, cara hidup sehari-hari. Lukisan watakk tokoh semacam itu tidak diberi langsung oleh pengarang, tetapi harusdisimpulkan sendiri melalui cerita pengarang.

Metode thespian lebih banyak menampilkan tokoh melalui “action” atau lakuan tokoh itu dan dialog antara tokoh itu dengan tokoh lainnya. Cerita-cerita mutakhir kebanyakan tanpa deskripsi tokoh-tokoh , labih banyak menampilkan dramatisasi melalui lakuan dan dialog.

Metode kontekstual adalah metode menggambarkan watak tokoh melalui konteks bahasa atau wacana yang digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh tersebut. Kebanyakan cerita rekaan menggunakan tiga metode sakaligus. Namun demikian banyak juga yang didominasi oleh salah satu metode saja. Karya sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya: menggunakan metode langsung secara lebih dominan dari metode kedua dan ketiga. Karya sastra mitakhir biasanya menggunakan metode ketiga lebih dominan dari metode pertama dan kedua.

  1. 1. Jenis-Jenis Tokoh

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.

Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.

Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.

Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.

Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

Albertime Minderop (dalam Waluyo 2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Teknik ekpositoris adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

2.Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif. Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik. (Burhan Nurgiantoro, dalam goesprih.blogspot.com).

3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Klasifikasi jenis-jenis tokoh ada bermacam-macam. Berdasarkan peran tokoh it dalam cerita, terdapat tokoh sentral dan tokoh tokoh bawahan atau tokoh utama dan tokoh pembantu. Berdasarkan pembangunan konflik cerita, terdapat tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Tokoh protagonist dan antagonis termasuk tokoh sentral. Disamping itu terdapat juga tokoh wirayawan dan anti wirawan yang biasanya menggeser kedudukan tokoh antagonis dan tokoh protagonis. (panuti Sujiman, dalam Nurgiantoro 2004: 167).

Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam:

(1) tokoh utama

(2) tokoh tambahan

(3) tokoh protagonis

(4) tokoh antagonis

(5) tokoh sederhana

(6) tokoh bulat

(7) tokoh statis

(8) tokoh berkembang

(9) tokoh tipikal

(10) tokoh netral.

Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan kedalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.

Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:

1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakn tokoh yang pale banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh penjawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi klita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupak empati dari pembaca.

2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

Tokoh mirawan adalah tokoh tokoh penting disamping tokoh protagonis dan antagonis. Pada umumnya tokoh wirawan mempunyai pikiran yang luhur dan mempunyai budi budi pekerti yang luhur dan baik yang diwujudkan dalam pandangan dan tidak tanduknya yang mulia.

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat-watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.

2. Tokoh bulat, kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagi kemungkinan dan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya, terasa kurang informed karena yang ditampilkan adalah tokoh-tokoh yang kurang akrab dan kurang dikenal sebelumnya.

Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dibedakan dalam:

1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi ( Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).

2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.

Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilakan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaanya atau pekerjaanya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.

2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

Teknik Pelukisan tokoh

Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau lengkapnya: pelukisan sikap, sifat, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang berhubunggan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan kedalam dua cara atau teknik, yaitu teknik uraian ( telling) dan teknik ragaan ( showing) Abrams (dalam Nurgiantoro 1994: 194), atau teknik penjelasan, ekpositori (expository) dan teknik thespian (dramatic) Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 194), atau teknik diskursif (discursive), dramatik dan kontekstual Kenny (dalam Nurgiantoro 2002: 194). Teknik pertama dan kedua walaupun berbedda istilah, namun secara esensial tidak berbeda menyaran pada pelukisan secara langsung, sedangkan teknik yang kedua pada pelukisan secara tidak langsung.

  1. a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori atau teknik analitis adalah teknik yang pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap perkenalan.

  1. b. Teknik Dramatik

Teknik dramatik adalah teknik pelikisan tokoh cerita yang pengarangnya tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Sifatnya lebih sesuai dengan sisi kkehidupan nyata.

(1) Teknik Cakapan

Teknik cakapan adalah teknik percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita yang juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku

Teknik tingkah laku adalah teknik yang menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan

Teknik pikiran dan perasaan adalah teknik yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal yang akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya jua.

(4) Teknik Arus Kesadaran

Teknik arus kesadaran (steam of consciousness) adalah teknik yang merupakan sebuah karya narasi yang berusaha menangkap pandangan dan proses mental tokoh, tanggapan idera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, persaan, ingatan, harapan dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams, dalam Nurgiantoro 2002: 206).

(5) Teknik Reaksi Tokoh

Teknik reaksi tokoh adalah suatu reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata dan sikap serta tingkah-laku orang lain dan sebagainya yang merupakan “rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

(6) Teknik Pelukisan Latar

Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagi teknik yang lain.

(7) Teknik Pelukisan Fisik

Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaanya, atau pale tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu.

Identifikasi tokoh

Untuk mengenali secara lebih baik tokoh-tokoh cerita, kita perlu mengidentifikasi kedirian tokoh(tokoh) secara cermat dengan usaha-usaha melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

(1) Prinsip Pengulangan

Prinsip pengulangan adalah prinsip yang dapat menemukan dan mengidentifikasi adanya kesamaan sifat, sikap, watak, dan tingkah laku pada bagian-bagian berikutnya.

(2) Prinsip Pengumpulan

Prinsip pengumpulan adalah suatu prinsip yang dapat mengungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang kedirian yang “tercecer” diseluruh cerita tersebut.

(3) Prinsip Kemiripan dan Pertentangan

Identifikasi tokoh yang mempergunakan prinsip kemiripan dan pertentangan dilakukan dengan memperbandingkan antara seorang tokoh dengan tokoh lain dari cerita fiksi yang bersangkutan.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, B. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Waluyo, H. J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: UNS.

TOKOH DAN PENOKOHAN

Tokoh

Sama halnya dengan unsur tract dan pemplotan, tokoh dan penokohan merupakan unsur penting dalam karya naratif. Plot biasnya dipandang orang sebagai tulang punggung cerita, namun kita kita dapat juga mempersoalkan: siapa tokoh yang diceritakan, siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu, yang dalam cerita sering disebut peristiwa dalam plot, siapa pembuat konflik adalah bagian dari tokoh dan penokohan. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra dirinya, dalam banyak hal lebih menarikpehatian orang daripada berurusan dengan pemplotannya. Namun, hal itu tidak dapat diabaikan begitu saja karena kejelasan mengenai mengenai tokoh dan penokohan dalam banyak hal tergantung pada pemplotannya.

Kita sering mendengar istilah-istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisisasi secara bergantian dengan pengertian yang hampir sama dalam pembicaraan sebuah karya fiksi. Istialh-istilah tersebut sebenarnya tidak persis sama dan dipergunakan dalam pengertian yang berbeda walau ada sinonim dalam istilah-istilah tersebut. Ada istilah yang menyaran pada tokoh cerita dan teknik pengembangannya pada sebuah cerita. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh.

Penokohan

Albertime Minderop dalam mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi:

1. teknik ekspositaris,

2. teknik dramatik, dan

3. teknik identifikasi tokoh.

  1. 1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.

Dalam buku Pengkajian fiksi (1994:165) Istilah karakter (character) sendiri dalamberbagi literatur bahasa inggris menyaran pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap, ketertarikan, emosi, keinginan dan prinsip dignified yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian, impression dapat berarti ‘pelaku cerita’ dan dapat pula berarti ‘perwakatan’. Antara seorang tokoh perwatakan yang dimilikinya merupakan suatu kepaduan yang utuh. Penyebutan nama tokoh tertentu,tak jarang, langsung mengisyaratkan kepada kita perwatakan yang dimilikinya.Hal itu terjadi terutama pada tokoh-tokoh cerita yang telah menjadi milik masyarakat, seperti Datuk Maringgih dengan sifat-sifat jahatnya, Tini dengan keegoisannya,Hamlet dengan keragu-raguannya,dan sebagainya.

Tokoh ceritanya (character), menurut Abrams (1981:20),adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatukarya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas dignified dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekpresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tidakan. Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitasa pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca, khususnya dari pandangan teori resepsi, pembacalah yang memberi arti semuanya. Untuk kasus kepribadian sang tokoh pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal).

Kewajaran

Fiksi merupakan bentuk kajian sastra yang kreatif, maka cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh juga tak lepas dari keatifitas yang bebas dari seorang pengarang. Pengarang mempunyai hak penuh dalam menentuka dan menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya sesuai dengan selera, termasuk siapa tokohnya, bagaimana standing sosialnya, dan pemasalahan yang dihadapinya. Artinya, pengarang bebas untuk menampilkan dan memperlakukan tokoh, siapapun dia orangnya walau hal itu berbeda dengan dunia nyata.

Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia harus merupakan seorang tokoh yang hidup seacara wajar. Kehidupan tokoh dalam cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan betindak sesuai dengan tuntutan cerita Tokoh cerita mempundengan pewatakan yang disandangnya.

Tokoh cerita mempunyai posisi startegis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, dignified atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sebagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribadi kurang berkembang. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai penyampai pesan atau bahkan lebih merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian dan keinginan-keinginan pengaran Ada hubungan yang erat antara penokohan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh itu. Perwatakan berhubungan dengan karakterisasi atau bagaimana watak okoh-tokoh itu. Keduanya menyangkut diri tokoh dalam cerita rekaaan itu.

Waktu pertama membaca cerita kita langsung berkenalan dengan nama tokoh-tokoh. Karena kekuatan cerita dan daya tarik tokoh yang sebenarnya hanya bersifat rekaan pengarang itu, maka sering kali nama tokoh menjadi buah bibir masyarakat, baik tokoh itu baik maupun tokoh yang jahat. Saat ini begitu populer tokoh dalam sinetron Cinta Fitri, seperti Fitri, Farel, Fais, dan sebagainya. Nama tokoh-tokoh itu menjadi buah bibir dari anak-anak sampai orang tua. Bahkan banyak juga anggota masyarakat begitu kagum akan tokoh imajiner itu, sehingga member nama anaknya atau menimbulkan tokoh yang benar-benar hidup dengan nama tokoh itu. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanya rekaan pengarang.

Kalau didepan Aris Toteles menyatakan bahwa alur merupakan bagian terpenting dari cerita rekaan tau merupakan roh atau jiwa dari cerita itu, maka Hudson (1963:151-52) menyatakan bahwa penokohan merupakan bagian yang sangat penting bahkan lebih penting dari alur cerita.

Istilah penokohan disini berarti cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan uncertain cerita yang lain dan bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokoh itu.

Kesepertihidupan

Masalah kewajaran tokoh sering disebutkan dengan kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Seorang tokoh ceriota dikatakan wajar, relevan jika mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya (lifelike). Tokoh cerita hendaknya bersifat alami, memiliki sifat ‘kesepertihidupanan’. Namun usaha memahami atau bahkan menilai tokohcerita yang hanya berdasarkan dari seperti kehidupan saja tidak cukup. Tokoh cerita haruslah mempunyai dimensi yang lain selain kesepertikehidupan.

Realitas kehidupan kehidupan manusia memang pelu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tokoh cerita. Tokoh manusia nyata memang mempunyai kebebasan, namun tokoh fiksi tak pernah berada dalam keadaan benar benar bebas. Tokoh karya fiksi hanyalah bagian yang terikat pada keseluruhan artistic sesuai dengan tujuan karya fiksi itu sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan perbedaan pale penting antara tokoh fiksi dengan tokoh dunia nyata.

Tokoh Rekaan Versus Tokoh Nyata

Tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dalam dunia fiksi, sesuai dengan namanya adalah tokoh rekaan, tokoh yang tak pernah ada didunia nyata. Namun kita juga sering menemukan tokoh dalam dunia nyata yang ditemui dalam cerita-cerita sejarah. Pengangkatan tokoh-tokoh nyata, atau hanya berupa bentuk personifikasinya, dapat mengesani pembaca seolah-olah peristiwa yang diceritakan bukanlah cerita imajinatif.

Pengangkatan tokoh sejarah dalam fiksi pada umumnya bukan berstatus utama. Hubungan antara tokoh sejarah dengan tokoh-tokoh utama biasanya hanya bersifat idensial. Pengangkatan tokoh cerita berdasarkan pengambilan bentuk personifikasi tokoh dalam kehidupan nyata.

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.

“Ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.

Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.

“Apa, Non?” takutnya Nek Yam salah dengar.

“Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.

Cara Pengarang Menampilkan Tokoh

Pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita yang diciptakannya. Ketiganya biasanya digunakan bersama-sama. Ketiga cara terseburt adalah:

(1) Metode analitis oleh Hudson (1966: 146) disebut metode langsung dan oleh Kenny (1966: 34) disebut metode deskriptif atau diskursif

(2) Metode tidak langsung yang juga disebut metode peragaan atau metode dramatisasi

(3) Metode kontekstual yang juga dikemukakan oleh Kenny (1936: 36)

Dalam metode analitis atau deskriptif atau langsung, pengarang secara langsung mendeskripsiksn keaadan tokoh itu dengan terinci (analitis). Deskripsi tentang sang tokoh itu dapat secara fisik (keadaan fisiknya), dapat secara psikis (wataknya), dapat juga keaadan sosialnya (kedudukan dan pangkat) yang lazim adalah ketiga-tiganya. Metode deskriptif ini dipandang berkedudukan lebih rendah daripada metode thespian karena pembaca kebanyakan menginginkan dramatisasi dari tokoh itu dan bukannya ingin diberitahu tentang keadaan tokoh tersebut.

Metode tidak langsung atau metode dramatik kiranya lebih hidup dari pada metode deskriptif. Pembaca igin diberi fakta tentang kehidupan tokohnya dalam suatu alur cerita dan tidak perlu dibeberkan tersendiri oleh pengarang. Penokohan secara thespian ini biasanya berkenan dengan penampilan fisik, hubungan dengan orang lain, cara hidup sehari-hari. Lukisan watakk tokoh semacam itu tidak diberi langsung oleh pengarang, tetapi harusdisimpulkan sendiri melalui cerita pengarang.

Metode thespian lebih banyak menampilkan tokoh melalui “action” atau lakuan tokoh itu dan dialog antara tokoh itu dengan tokoh lainnya. Cerita-cerita mutakhir kebanyakan tanpa deskripsi tokoh-tokoh , labih banyak menampilkan dramatisasi melalui lakuan dan dialog.

Metode kontekstual adalah metode menggambarkan watak tokoh melalui konteks bahasa atau wacana yang digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh tersebut. Kebanyakan cerita rekaan menggunakan tiga metode sakaligus. Namun demikian banyak juga yang didominasi oleh salah satu metode saja. Karya sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya: menggunakan metode langsung secara lebih dominan dari metode kedua dan ketiga. Karya sastra mitakhir biasanya menggunakan metode ketiga lebih dominan dari metode pertama dan kedua.

  1. 1. Jenis-Jenis Tokoh

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.

Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.

Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.

Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.

Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

Albertime Minderop (dalam Waluyo 2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Teknik ekpositoris adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

2.Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif. Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik. (Burhan Nurgiantoro, dalam goesprih.blogspot.com).

3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Klasifikasi jenis-jenis tokoh ada bermacam-macam. Berdasarkan peran tokoh it dalam cerita, terdapat tokoh sentral dan tokoh tokoh bawahan atau tokoh utama dan tokoh pembantu. Berdasarkan pembangunan konflik cerita, terdapat tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Tokoh protagonist dan antagonis termasuk tokoh sentral. Disamping itu terdapat juga tokoh wirayawan dan anti wirawan yang biasanya menggeser kedudukan tokoh antagonis dan tokoh protagonis. (panuti Sujiman, dalam Nurgiantoro 2004: 167).

Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam:

(1) tokoh utama

(2) tokoh tambahan

(3) tokoh protagonis

(4) tokoh antagonis

(5) tokoh sederhana

(6) tokoh bulat

(7) tokoh statis

(8) tokoh berkembang

(9) tokoh tipikal

(10) tokoh netral.

Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan kedalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.

Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:

1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakn tokoh yang pale banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh penjawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi klita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupak empati dari pembaca.

2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

Tokoh mirawan adalah tokoh tokoh penting disamping tokoh protagonis dan antagonis. Pada umumnya tokoh wirawan mempunyai pikiran yang luhur dan mempunyai budi budi pekerti yang luhur dan baik yang diwujudkan dalam pandangan dan tidak tanduknya yang mulia.

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat-watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.

2. Tokoh bulat, kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagi kemungkinan dan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya, terasa kurang informed karena yang ditampilkan adalah tokoh-tokoh yang kurang akrab dan kurang dikenal sebelumnya.

Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dibedakan dalam:

1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi ( Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).

2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.

Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilakan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaanya atau pekerjaanya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.

2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

Teknik Pelukisan tokoh

Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau lengkapnya: pelukisan sikap, sifat, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang berhubunggan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan kedalam dua cara atau teknik, yaitu teknik uraian ( telling) dan teknik ragaan ( showing) Abrams (dalam Nurgiantoro 1994: 194), atau teknik penjelasan, ekpositori (expository) dan teknik thespian (dramatic) Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 194), atau teknik diskursif (discursive), dramatik dan kontekstual Kenny (dalam Nurgiantoro 2002: 194). Teknik pertama dan kedua walaupun berbedda istilah, namun secara esensial tidak berbeda menyaran pada pelukisan secara langsung, sedangkan teknik yang kedua pada pelukisan secara tidak langsung.

  1. a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori atau teknik analitis adalah teknik yang pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap perkenalan.

  1. b. Teknik Dramatik

Teknik dramatik adalah teknik pelikisan tokoh cerita yang pengarangnya tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Sifatnya lebih sesuai dengan sisi kkehidupan nyata.

(1) Teknik Cakapan

Teknik cakapan adalah teknik percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita yang juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku

Teknik tingkah laku adalah teknik yang menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan

Teknik pikiran dan perasaan adalah teknik yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal yang akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya jua.

(4) Teknik Arus Kesadaran

Teknik arus kesadaran (steam of consciousness) adalah teknik yang merupakan sebuah karya narasi yang berusaha menangkap pandangan dan proses mental tokoh, tanggapan idera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, persaan, ingatan, harapan dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams, dalam Nurgiantoro 2002: 206).

(5) Teknik Reaksi Tokoh

Teknik reaksi tokoh adalah suatu reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata dan sikap serta tingkah-laku orang lain dan sebagainya yang merupakan “rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

(6) Teknik Pelukisan Latar

Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagi teknik yang lain.

(7) Teknik Pelukisan Fisik

Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaanya, atau pale tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu.

Identifikasi tokoh

Untuk mengenali secara lebih baik tokoh-tokoh cerita, kita perlu mengidentifikasi kedirian tokoh(tokoh) secara cermat dengan usaha-usaha melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

(1) Prinsip Pengulangan

Prinsip pengulangan adalah prinsip yang dapat menemukan dan mengidentifikasi adanya kesamaan sifat, sikap, watak, dan tingkah laku pada bagian-bagian berikutnya.

(2) Prinsip Pengumpulan

Prinsip pengumpulan adalah suatu prinsip yang dapat mengungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang kedirian yang “tercecer” diseluruh cerita tersebut.

(3) Prinsip Kemiripan dan Pertentangan

Identifikasi tokoh yang mempergunakan prinsip kemiripan dan pertentangan dilakukan dengan memperbandingkan antara seorang tokoh dengan tokoh lain dari cerita fiksi yang bersangkutan.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, B. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Waluyo, H. J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: UNS.

TOKOH DAN PENOKOHAN

Tokoh

Sama halnya dengan unsur tract dan pemplotan, tokoh dan penokohan merupakan unsur penting dalam karya naratif. Plot biasnya dipandang orang sebagai tulang punggung cerita, namun kita kita dapat juga mempersoalkan: siapa tokoh yang diceritakan, siapa yang melakukan sesuatu dan dikenai sesuatu, yang dalam cerita sering disebut peristiwa dalam plot, siapa pembuat konflik adalah bagian dari tokoh dan penokohan. Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra dirinya, dalam banyak hal lebih menarikpehatian orang daripada berurusan dengan pemplotannya. Namun, hal itu tidak dapat diabaikan begitu saja karena kejelasan mengenai mengenai tokoh dan penokohan dalam banyak hal tergantung pada pemplotannya.

Kita sering mendengar istilah-istilah tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisisasi secara bergantian dengan pengertian yang hampir sama dalam pembicaraan sebuah karya fiksi. Istialh-istilah tersebut sebenarnya tidak persis sama dan dipergunakan dalam pengertian yang berbeda walau ada sinonim dalam istilah-istilah tersebut. Ada istilah yang menyaran pada tokoh cerita dan teknik pengembangannya pada sebuah cerita. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh.

Penokohan

Albertime Minderop dalam mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi:

1. teknik ekspositaris,

2. teknik dramatik, dan

3. teknik identifikasi tokoh.

  1. 1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.

Dalam buku Pengkajian fiksi (1994:165) Istilah karakter (character) sendiri dalamberbagi literatur bahasa inggris menyaran pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap, ketertarikan, emosi, keinginan dan prinsip dignified yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut. Dengan demikian, impression dapat berarti ‘pelaku cerita’ dan dapat pula berarti ‘perwakatan’. Antara seorang tokoh perwatakan yang dimilikinya merupakan suatu kepaduan yang utuh. Penyebutan nama tokoh tertentu,tak jarang, langsung mengisyaratkan kepada kita perwatakan yang dimilikinya.Hal itu terjadi terutama pada tokoh-tokoh cerita yang telah menjadi milik masyarakat, seperti Datuk Maringgih dengan sifat-sifat jahatnya, Tini dengan keegoisannya,Hamlet dengan keragu-raguannya,dan sebagainya.

Tokoh ceritanya (character), menurut Abrams (1981:20),adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatukarya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas dignified dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekpresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tidakan. Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitasa pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca, khususnya dari pandangan teori resepsi, pembacalah yang memberi arti semuanya. Untuk kasus kepribadian sang tokoh pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal).

Kewajaran

Fiksi merupakan bentuk kajian sastra yang kreatif, maka cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh juga tak lepas dari keatifitas yang bebas dari seorang pengarang. Pengarang mempunyai hak penuh dalam menentuka dan menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita yang dibuatnya sesuai dengan selera, termasuk siapa tokohnya, bagaimana standing sosialnya, dan pemasalahan yang dihadapinya. Artinya, pengarang bebas untuk menampilkan dan memperlakukan tokoh, siapapun dia orangnya walau hal itu berbeda dengan dunia nyata.

Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia harus merupakan seorang tokoh yang hidup seacara wajar. Kehidupan tokoh dalam cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan betindak sesuai dengan tuntutan cerita Tokoh cerita mempundengan pewatakan yang disandangnya.

Tokoh cerita mempunyai posisi startegis sebagai pembawa dan penyampaian pesan, amanat, dignified atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sebagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribadi kurang berkembang. Tokoh cerita seolah-olah hanya sebagai corong penyampai penyampai pesan atau bahkan lebih merupakan refleksi pikiran, sikap, pendirian dan keinginan-keinginan pengaran Ada hubungan yang erat antara penokohan dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh itu. Perwatakan berhubungan dengan karakterisasi atau bagaimana watak okoh-tokoh itu. Keduanya menyangkut diri tokoh dalam cerita rekaaan itu.

Waktu pertama membaca cerita kita langsung berkenalan dengan nama tokoh-tokoh. Karena kekuatan cerita dan daya tarik tokoh yang sebenarnya hanya bersifat rekaan pengarang itu, maka sering kali nama tokoh menjadi buah bibir masyarakat, baik tokoh itu baik maupun tokoh yang jahat. Saat ini begitu populer tokoh dalam sinetron Cinta Fitri, seperti Fitri, Farel, Fais, dan sebagainya. Nama tokoh-tokoh itu menjadi buah bibir dari anak-anak sampai orang tua. Bahkan banyak juga anggota masyarakat begitu kagum akan tokoh imajiner itu, sehingga member nama anaknya atau menimbulkan tokoh yang benar-benar hidup dengan nama tokoh itu. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanya rekaan pengarang.

Kalau didepan Aris Toteles menyatakan bahwa alur merupakan bagian terpenting dari cerita rekaan tau merupakan roh atau jiwa dari cerita itu, maka Hudson (1963:151-52) menyatakan bahwa penokohan merupakan bagian yang sangat penting bahkan lebih penting dari alur cerita.

Istilah penokohan disini berarti cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan uncertain cerita yang lain dan bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokoh itu.

Kesepertihidupan

Masalah kewajaran tokoh sering disebutkan dengan kenyataan kehidupan manusia sehari-hari. Seorang tokoh ceriota dikatakan wajar, relevan jika mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia sesungguhnya (lifelike). Tokoh cerita hendaknya bersifat alami, memiliki sifat ‘kesepertihidupanan’. Namun usaha memahami atau bahkan menilai tokohcerita yang hanya berdasarkan dari seperti kehidupan saja tidak cukup. Tokoh cerita haruslah mempunyai dimensi yang lain selain kesepertikehidupan.

Realitas kehidupan kehidupan manusia memang pelu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tokoh cerita. Tokoh manusia nyata memang mempunyai kebebasan, namun tokoh fiksi tak pernah berada dalam keadaan benar benar bebas. Tokoh karya fiksi hanyalah bagian yang terikat pada keseluruhan artistic sesuai dengan tujuan karya fiksi itu sendiri. Hal ini sebenarnya merupakan perbedaan pale penting antara tokoh fiksi dengan tokoh dunia nyata.

Tokoh Rekaan Versus Tokoh Nyata

Tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dalam dunia fiksi, sesuai dengan namanya adalah tokoh rekaan, tokoh yang tak pernah ada didunia nyata. Namun kita juga sering menemukan tokoh dalam dunia nyata yang ditemui dalam cerita-cerita sejarah. Pengangkatan tokoh-tokoh nyata, atau hanya berupa bentuk personifikasinya, dapat mengesani pembaca seolah-olah peristiwa yang diceritakan bukanlah cerita imajinatif.

Pengangkatan tokoh sejarah dalam fiksi pada umumnya bukan berstatus utama. Hubungan antara tokoh sejarah dengan tokoh-tokoh utama biasanya hanya bersifat idensial. Pengangkatan tokoh cerita berdasarkan pengambilan bentuk personifikasi tokoh dalam kehidupan nyata.

Untuk kedua kalinya, gadis muda itu tampak terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nek Yam. Terbisu sesaat. Entah hal apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran gadis itu.

“Ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak dinyana rangkai kata itu terlontar dari mulut gadis di depan Nek Yam.

Andaikata masih kuat, maunya Nek Yam berjingkrak-jingkrak saat kupingnya menangkap bunyi barusan.

“Apa, Non?” takutnya Nek Yam salah dengar.

“Apa ibu mau ikut saya ke Jakarta?” tak salah rupanya indera pendengaran Nek Yam.

Cara Pengarang Menampilkan Tokoh

Pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh-tokoh cerita yang diciptakannya. Ketiganya biasanya digunakan bersama-sama. Ketiga cara terseburt adalah:

(1) Metode analitis oleh Hudson (1966: 146) disebut metode langsung dan oleh Kenny (1966: 34) disebut metode deskriptif atau diskursif

(2) Metode tidak langsung yang juga disebut metode peragaan atau metode dramatisasi

(3) Metode kontekstual yang juga dikemukakan oleh Kenny (1936: 36)

Dalam metode analitis atau deskriptif atau langsung, pengarang secara langsung mendeskripsiksn keaadan tokoh itu dengan terinci (analitis). Deskripsi tentang sang tokoh itu dapat secara fisik (keadaan fisiknya), dapat secara psikis (wataknya), dapat juga keaadan sosialnya (kedudukan dan pangkat) yang lazim adalah ketiga-tiganya. Metode deskriptif ini dipandang berkedudukan lebih rendah daripada metode thespian karena pembaca kebanyakan menginginkan dramatisasi dari tokoh itu dan bukannya ingin diberitahu tentang keadaan tokoh tersebut.

Metode tidak langsung atau metode dramatik kiranya lebih hidup dari pada metode deskriptif. Pembaca igin diberi fakta tentang kehidupan tokohnya dalam suatu alur cerita dan tidak perlu dibeberkan tersendiri oleh pengarang. Penokohan secara thespian ini biasanya berkenan dengan penampilan fisik, hubungan dengan orang lain, cara hidup sehari-hari. Lukisan watakk tokoh semacam itu tidak diberi langsung oleh pengarang, tetapi harusdisimpulkan sendiri melalui cerita pengarang.

Metode thespian lebih banyak menampilkan tokoh melalui “action” atau lakuan tokoh itu dan dialog antara tokoh itu dengan tokoh lainnya. Cerita-cerita mutakhir kebanyakan tanpa deskripsi tokoh-tokoh , labih banyak menampilkan dramatisasi melalui lakuan dan dialog.

Metode kontekstual adalah metode menggambarkan watak tokoh melalui konteks bahasa atau wacana yang digunakan pengarang untuk melukiskan tokoh tersebut. Kebanyakan cerita rekaan menggunakan tiga metode sakaligus. Namun demikian banyak juga yang didominasi oleh salah satu metode saja. Karya sastra Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya: menggunakan metode langsung secara lebih dominan dari metode kedua dan ketiga. Karya sastra mitakhir biasanya menggunakan metode ketiga lebih dominan dari metode pertama dan kedua.

  1. 1. Jenis-Jenis Tokoh

Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokoh bulat (round character).

Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampai akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovert. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang tidak disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya.

Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara penampilan tokoh secara langsung melalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan ciri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatik, ialah cara menampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu cerita.

Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh.

Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja.

Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi.

Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akan terjadi.

Albertime Minderop (dalam Waluyo 2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan. Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Teknik ekpositoris adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

2.Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif. Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik. (Burhan Nurgiantoro, dalam goesprih.blogspot.com).

3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Klasifikasi jenis-jenis tokoh ada bermacam-macam. Berdasarkan peran tokoh it dalam cerita, terdapat tokoh sentral dan tokoh tokoh bawahan atau tokoh utama dan tokoh pembantu. Berdasarkan pembangunan konflik cerita, terdapat tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Tokoh protagonist dan antagonis termasuk tokoh sentral. Disamping itu terdapat juga tokoh wirayawan dan anti wirawan yang biasanya menggeser kedudukan tokoh antagonis dan tokoh protagonis. (panuti Sujiman, dalam Nurgiantoro 2004: 167).

Secara keseluruhan tokoh terdiri atas sepuluh ragam:

(1) tokoh utama

(2) tokoh tambahan

(3) tokoh protagonis

(4) tokoh antagonis

(5) tokoh sederhana

(6) tokoh bulat

(7) tokoh statis

(8) tokoh berkembang

(9) tokoh tipikal

(10) tokoh netral.

Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan kedalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal.

Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:

1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakn tokoh yang pale banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh penjawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi klita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupak empati dari pembaca.

2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.

Tokoh mirawan adalah tokoh tokoh penting disamping tokoh protagonis dan antagonis. Pada umumnya tokoh wirawan mempunyai pikiran yang luhur dan mempunyai budi budi pekerti yang luhur dan baik yang diwujudkan dalam pandangan dan tidak tanduknya yang mulia.

Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat-watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.

2. Tokoh bulat, kompleks adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagi kemungkinan dan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya, terasa kurang informed karena yang ditampilkan adalah tokoh-tokoh yang kurang akrab dan kurang dikenal sebelumnya.

Bedasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah novel, tokoh dibedakan dalam:

1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi ( Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).

2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.

Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan kedalam:

1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilakan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaanya atau pekerjaanya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.

2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

Teknik Pelukisan tokoh

Secara garis besar teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya atau lengkapnya: pelukisan sikap, sifat, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang berhubunggan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan kedalam dua cara atau teknik, yaitu teknik uraian ( telling) dan teknik ragaan ( showing) Abrams (dalam Nurgiantoro 1994: 194), atau teknik penjelasan, ekpositori (expository) dan teknik thespian (dramatic) Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 194), atau teknik diskursif (discursive), dramatik dan kontekstual Kenny (dalam Nurgiantoro 2002: 194). Teknik pertama dan kedua walaupun berbedda istilah, namun secara esensial tidak berbeda menyaran pada pelukisan secara langsung, sedangkan teknik yang kedua pada pelukisan secara tidak langsung.

  1. a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori atau teknik analitis adalah teknik yang pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap perkenalan.

  1. b. Teknik Dramatik

Teknik dramatik adalah teknik pelikisan tokoh cerita yang pengarangnya tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Sifatnya lebih sesuai dengan sisi kkehidupan nyata.

(1) Teknik Cakapan

Teknik cakapan adalah teknik percakapan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita yang juga dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan.

(2) Teknik Tingkah Laku

Teknik tingkah laku adalah teknik yang menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal, fisik.

(3) Teknik Pikiran dan Perasaan

Teknik pikiran dan perasaan adalah teknik yang melintas dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh dalam banyak hal yang akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya jua.

(4) Teknik Arus Kesadaran

Teknik arus kesadaran (steam of consciousness) adalah teknik yang merupakan sebuah karya narasi yang berusaha menangkap pandangan dan proses mental tokoh, tanggapan idera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, persaan, ingatan, harapan dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams, dalam Nurgiantoro 2002: 206).

(5) Teknik Reaksi Tokoh

Teknik reaksi tokoh adalah suatu reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata dan sikap serta tingkah-laku orang lain dan sebagainya yang merupakan “rangsangan” dari luar diri tokoh yang bersangkutan yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

(6) Teknik Pelukisan Latar

Suasana latar sekitar tokoh juga sering dipakai untuk melukiskan kediriannya. Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagi teknik yang lain.

(7) Teknik Pelukisan Fisik

Keadaan fisik seseorang sering berkaitan dengan keadaan kejiwaanya, atau pale tidak, pengarang sengaja mencari dan memperhubungkan adanya keterkaitan itu.

Identifikasi tokoh

Untuk mengenali secara lebih baik tokoh-tokoh cerita, kita perlu mengidentifikasi kedirian tokoh(tokoh) secara cermat dengan usaha-usaha melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

(1) Prinsip Pengulangan

Prinsip pengulangan adalah prinsip yang dapat menemukan dan mengidentifikasi adanya kesamaan sifat, sikap, watak, dan tingkah laku pada bagian-bagian berikutnya.

(2) Prinsip Pengumpulan

Prinsip pengumpulan adalah suatu prinsip yang dapat mengungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang kedirian yang “tercecer” diseluruh cerita tersebut.

(3) Prinsip Kemiripan dan Pertentangan

Identifikasi tokoh yang mempergunakan prinsip kemiripan dan pertentangan dilakukan dengan memperbandingkan antara seorang tokoh dengan tokoh lain dari cerita fiksi yang bersangkutan.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, B. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Waluyo, H. J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: UNS.


DRAMA KREASI

a. Drama Tragedi
Cerita play yang termasuk jenis ini adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Contoh film yang termasuk jenis ini di antaranya Romeo dan Juliet atau Ghost. Sementara contoh FTV misteri yang termasuk dalam jenis ini misalnya Makhluk Tengah Malam yang ending-nya bercerita tentang si istri yang melahirkan bayi genderuwo. Cerita ini bukan berakhir dengan kematian, tapi kekecewaan atau kesedihan. Oleh karena itu, cerita Makhluk Tengah Malam dapat digolongkan ke dalam jenis play tragedi.

b. Drama Komedi

1. Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain,
melainkan karena situasinya. Contoh play jenis ini antara lain Sister Act dan
Si Kabayan. Sementara contoh sinetron yang termasuk dalam jenis ini antara lain
Kawin Gantung, Bajaj Bajuri, dan Kecil-Kecil Jadi Manten.
2. Komedi Slapstic, cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para
pemainnya. Misalnya, saat di kelas terjadi kegaduhan karena sang guru belum
datang. Kemudian teman yang “culun” digoda teman yang lain dengan menulisi
pipinya menggunakan spidol. Contoh film komedi slapstic ini di antaranya The
Mask dan Tarzan.
3. Komedi Satire, cerita lucu yang penuh sindiran tajam. Beberapa film yang
termasuk jenis ini adalah Om Pasikom dan Semua Gara-Gara Ginah. Sementara contoh
sinetronnya adalah Wong Cilik.
4. Komedi Farce, cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan
kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu. Beberapa tayangan televisi yang
termasuk jenis ini adalah Srimulat, Toples, Ba-sho, Ngelaba, dan lain sebagainya.

c. Drama Misteri
1. Kriminal, misteri yang sangat terasa unsur keteganyannya atau torment dan
biasanya menceritakan seputar kasus pembunuhan. Si pelaku biasanya akan menjadi
semacam misteri karena penulis skenario memerkuat alibinya. Sering kali dalam
cerita jenis ini beberapa tokoh bayangan dimasukkan untuk mengecoh penonton.
2. Horor, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan roh halus.
3. Mistik, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang bersifat klenik atau unsur
ghaib.

d. Drama Laga/ Action

1. Modern, cerita play yang lebih banyak menampilkan adegan perkelahian atau
pertempuran, namun dikemas dalam environment yang modern. Contoh jenis sinetron ini
misalnya Deru Debu, Gejolak Jiwa, dan Raja Jalanan.
2. Tradisional, cerita play yang juga menampilkan adegan laga, namun dikemas
secara tradisional. Beberapa sinetron yang termasuk jenis ini antara lain
Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, Jaka Tingkir, dan Wali Songo.
Untuk jenis play laga ini biasanya skenario tidak banyak memakai dialog
panjang, tidak seperti skenario play tragedi atau melodrama yang kekuatannya
terletak pada dialog. Jenis ini lebih banyak mengandalkan movement sebagai daya
tarik tontonannya. Penontonnya bisa merasakan semangat ketika menonton film ini.

e. Melodrama
Skenario jenis ini bersifat nauseating dan melankolis. Ceritanya cenderung terkesan mendayu-dayu dan mendramatisir kesedihan. Emosi penonton dipancing untuk merasa iba pada tokoh protagonis. Penulis skenario cerita jenis ini jangan terjebak untuk membuat alur yang lambat. Konflik harus tetap runtun dan padat. Justru dengan konflik yang bertubi-tubi pada si tokoh akan semakin membuat penonton merasa kasihan dan bersimpati pada penderitanya. Contoh sinetron jenis ini antara lain Bidadari, Menggapai Bintang, dan Chanda.

f. Drama Sejarah
Drama sejarah adalah cerita jenis play yang menampilkan kisah-kisah sejarah masa lalu, baik tokoh maupun peristiwanya. Contoh film yang bercerita tentang peristiwa sejarah antara lain Nov 1828, G-30-S/PKI, Soerabaya ’45, Janur Kuning, atau Serangan Fajar. Sementara kisah yang menceritakan sejarah tapi lebih ditekankan pada tokohnya antara lain Tjoet Njak Dhien, Wali Songo, dan R.A. Kartini.

Elizabeth Lutters (2006:35)

BahasaMelayu . NOVEL . Watak dan Perwatakan Utama . Tingkatan 4 & Tingkatan 5 . Oleh : Sabariah Ibrahim. SMK Raja Perempuan, Ipoh
Penulisan Skenario Film

Penulisan Skenario Lanjutan 2A (Mohammad Ariansah)

GS1A, 27 Oktober 2008


Kaidah 3 Unit

 

Kaidah 3 section terdiri dari waktu, tempat dan aksi/action

 

  1. Aristotle: kaidah 3 section difokuskan/hanya berpusat pada aksi (plot)
  2. Kaidah 3 section muncul di Italia pada abad ke-16 dan perancis abad ke-17 (jaman renaissance)
  3. Penulis Yunani lebih menekankan perhatian pada waktu, tetapi bagi Aristotle tidak mutlak

 

 

Unit waktu:

Durasi yang dibutuhkan protagonis untuk mencapai tujuan/keinginan/hasrat (obyektif) mengahasilkan “perisitiwa yang mungkin terjadi setelahnya”

 

*) konsep kausalitas belum muncul di kebudayaan Yunani

*) kaidah waktu: sehari 24 jam?

 

Unit tempat:

-          spesifiksai teater

a.       peristiwa hanya terjadi di “bagian depan istana/rumah pemimpin”. Karena merupakan pertunjukan langsung, akibatnya environment menjadi statis dan terbatas.

 

-          spesifikasi film

a. Setting bersifat mutlak karena bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, tidak seperti yang ada di teater. Setting bisa sangat realistik.

 

 

Pengantar tentang Karakter

 

Karakter

Entitas atau sesuatu (thing) yang berkaitan pada makhluk (orang, binatang dan tumbuhan) atau “thing” yang ada dalam novel, film, teater atau karakter fiksi lainnya.

 

Teori tentang jenis karakter

 

Menurut Josip Novakovich

  1. Flat Character

Tokoh yang hanya memiliki 1 dimensi. Dari awal hingga akhir cerita tidak pernah berubah karakterisasinya. Biasanya terjadi pada ancillary actor (sidekick atau helper). Karakter cenderung datar.

 

  1. Round Character

Tokoh yang memiliki lebih dari 1 dimensi. Biasanya terjadi pada karakter utama. Membuat karakter menjadi lebih menarik.

 

 

Penciptaan Karakter

 

Sumber karakter:

-          Autobiografi : refleksi diri (membuat karakter dari diri sendiri: bisa secara separate impression atau benar-benar seperti orang yang sebenarnya)

-          Biografi : menceritakan orang lain (baik secara genuine chairman maupun metafora)

-          Gabungan

-          Metode daftar pertanyaan seperti hal 54-55 di Fiction Writer Workshop (nama, umur, tempat lahir, tempat tinggal, pekerjaan, penampilan, pakaian, kekuatan, kelemahan, obsesi, ambisi, kebiasaan, hobi, penyakit, keluarga orang tua, anak, saudara kembar, teman, binatang peliharaan, pandangan politik, sejarah erotis, buku favorit, hal yang ditakuti, hal yang disenangi, peristiwa traumatis yang pernah dialami, pengalaman pale menyenangkan, pertentangan pale besar antara dulu dan sekarang.

 

 

 

Teori tentang karakterisasi

 

Karakterisasi

Cara-cara yang dipertujukkan pada pembaca atau penonton untuk mengenal karakter

 

1. Repeated action

2. penampilan

unsur dasar dan jenis teater : KlikBelajar.com

Unsur-unsur dasar yang terdapat dalam seni teater terdiri dari:
1. Tema
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari suatu cerita dalam teater. Tema dapat diambii dari berbagai sumber mulai dari masalah percintaan, keluarga, lingkungan alam, penyimpangan sosial dan budaya, sejarah, sampai pada politik dan pemerintahan. Tema dispesifikasikan menjadi sebuah topik dan kemudian topik dikembangkan menjadi sebuah cerita dengan dialog-dialognya. Pada dasarnya nilai-nilai tema ini dapat diambii untuk kehidupan kita sehari-hari. Berikut ini contoh tema, topik, dan judul: Tema : Kehidupan Topik : Penindasan yang keji Judul : Kejamnya hidup

2. Plot
Plot adalah rangkaian peristiwa atau jalannya cerita. Plot terdiri dari konflik yang berkembang secara bertahap. Tahapan perkembangan tract adalah sebagai berikut:
a. Eksposisi, yang mengantarkan penonton untuk mengenal tokoh, karakter dan materi kisah.
Eksposisi/introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
b. Konflik, adanya masalah yang melibatkan tokoh- tokoh dalam cerita.
c. Komplikasi/intrik, adanya pengembangan masalah yang menyebabkan konflik semakin ruwet dan tegang. Namun belum tercapai jalan pemecahannya.
d. Klimaks, merupakan puncak berbagai perkumpulan konflik sehingga menimbulkan ketegangan bagi penonton yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
e. Resolusi/konklusi, terjadi penyelesaian konflik, di mana kisah dapat berakhir menyenangkan atau
berakhir tragis.

3. Latar Cerita
Latar memengaruhi jalannya cerita, bahkan watak tokoh. Pelatar inilah yang membuat sebuah play mempunyai karakteristik sendiri. Latar berguna untuk mewujudkan penggambaran yang mencerminkan tempatterjadinya cerita yang sedang dipentaskan.

4. Penokohan/Perwatakan
Penokohan/karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/kepribadian pelaku utama. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan berhubungan dengan nama pelaku, jenis kelamin, usia, bentuk fisik, dan kejiwaannya. Perwatakan berhubungan dengan sifat pelaku. Dalam teater penokohan dapat dikelompokkan ke dalam tiga macam, yaitu:
a. Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang pertama kali mengambil prakarsa dalam cerita. Tokoh
protagonis adalah tokoh yang pertama mengalami benturan-benturan atau masalah, memiliki sifat
yang baik sehingga penonton biasanya berempati.
b. Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang menentang tokoh protagonis atau tokoh yang menentang
cerita. Tokoh antagonis biasanya memiliki sifat jahat.
c. Tokoh tritagonis, yaitu tokoh penengah serta pendamai dua pihak (tokoh protagonis dan tokoh
antagonis) dan penyelesaian ketegangan.

B. Jenis-jenis Teater

Menurut karakteristiknya, jenis-jenis teater yang terdapatdi Nusantara sebagai berikut:
1. Teater Tradisional
Teater tradisional bersifat sederhana dan sangat kental kesan kedaerahannya. Teater tradisional terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Teater rakyat, bersifat sederhana, spontan, dan penuh improvisasi. Contoh: ketoprak (Jawa
Tengah), ludruk(JawaTimur), tarling (Jawa Barat), lenong (Betawi), barong (Bali), randai (Sumatra
Barat), dan Iain-Iain.
b. Teater klasik, bersifat mapan, teratur, jelas ceritanya, pelaku terlatih, dan pada umumnya
diselenggarakan di gedung. Contoh: wayang orang, wayang kulit, dan wayang golek.
c. Teater transisi, sifat dan gunanyasudahdipengaruhi oleh teater Barat. Contoh: komedi stambul,
sandiwara dardanela, dan sandiwara srimulat.
Berikut ini akan diuraikan beberapa contoh teater tradisional yang terdapatdi daerah.
a. Makyong (Riau)
Makyong adalah seni teater tradisional tertua dalam kebudayaan Melayu yang memadukan cerita, teori, dan musik. Cerita diambil dari kisah raja-raja dalam hikayat Melayu. Makyong sangat populer di Kepulauan Riau sekitar abad ke-19.
Teater makyong dipengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha-Thailand dan Hindu-Jawa. Nama makyong berasal dari Mak Hyang, nama lain dari Dewi Sri atau dewi padi. Sebagai seni pertunjukan yang sangat tua, makyong tumbuh dan berkembang seiring dengan kebudayaan Melayu. Teater makyong biasanya bercerita mengenal perjuangan seorang pangeran muda mencapai cita-cita. Kesukaran, bencana, dan penderitaan yang dialaminya selalu mendapat bantuan dari Tuhan. Inti cerita adalah perjuangan antara kebaikan dan kejahatan yang dimenangkan oleh kebaikan. Teater makyong menggunakan lagu dan tari untuk menyampaikan arti yang khusus.
Sebuah pertunjukan makyong diawali dengan protocol buka panggung panggung atau buka tanah oleh seorang pemain pemimpin. Ritual ini untuk mengendalikan hantu yang mengganggu jalannya pertunjukan. Pertunjukan ini digunakan untuk menyebarkan nilai sosial dan keagamaan serta konsep pemerintahan, tetapi sekarang makyong semata-mata untuk hiburan.
b. Gambuh (Bali)
Gambuh adalah nama play tari pale tua di Bali yang menyatukan cerita, tari, dan nyanyi. Menurut naskah kuno Bali, play tari gambuh lahir pada masa Pemerintahan Udayana sekitarabad ke-10. Kesenian gambuh mendapat dukungan dari para raja dan tetap dipelihara sebagai seni pertunjukan istana. Gambuh biasanya mengambil lakon cerita-cerita panji, yaitu rangkaian hikayat yang mengisahkan kehidupan, perang, dan kisah cinta para raja atau bangsawan dari Kerajaan Jenggala, Kediri, dan Gagelang. Cerita-cerita panji dibawa oleh para bangsawan Hindu Majapahit ke Bali ketika terjadi pengungsian besar-besaran karena serbuan Islam sekitar abad ke-14.
c. Wayang wong (Jawa Tengah)
Wayang wong merupakan bentuk play tari dari keraton berdasarkan suatu paduan cerita yang disadur dari wayang dan gerak-gerak tari keraton, seperti serimpi dan bedhaya. Wayang wong telah ada sejak abad ke-12 di Jawa Tengah. Menurut tradisi pencipta wayang wong adalah Hamengku Buwono we (1755-1792) dari Yogyakarta atau Mangkunegara we (1757-1795) dari Surakarta. Wayang wong bukan sekadar bentuk hiburan, melainkan bagian dari upacara kenegaraan, seperti khitanan, perkawinan, dan penyambutan tamu negara.
Gambuh dipertunjukkan terutama untuk mengisi upacara Manca Wali Krama, Ekadasa Rudra, Galungan, dan Kuningan. Selain itu, kesenian gambuh juga dipentaskan di keraton dalam rangka upacara perkawinan dan pelebon yang terangkum dalam upacara Panca Yudha. Gambuh biasanya di pertunjukkan selama sekitar 6 jam, dan diadakan pada siang hari. Namun jika kesenian gambuh dipentaskan pada malam hari hanya sebagai hiburan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Pertunjukan wayang wong terbagi menjadi tiga, masing-masing ditegaskan oleh hubungan perlambangan nada gamelan, pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Wayang wong berkembang dan dibakukan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Wayang wong biasanya dipentaskan di atas panggung tinggi lengkap dengan layar dan perlengkapan lain, masih dapatditemukan di kota-kota diPulau Jawa.

2. Teater Konvensional
Teater konvensional, bersifat sederhana, namun menonjolkan kesan manusiawi dan universal.

3. Teater Modern
Teater modern, hampir semua unsur dan gayanya dipengaruhi oleh teater Barat, ceritanya tertulis, pengarangnya teratur dan terorganisasi. Teater complicated terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Kontemporer, bersifat kekinian lebih mengutamakan kesan dan sensasi daripada kewajaran adegan.
Contoh: monolog, play absurd, dan play minikata.
b. Film, merupakan seni teater yang disajikan dalam bentuk yang lebih kompleks dan sempurna.

Unduh Tulisan

  1. bagi tw jg donk tentang lawak

  2. good pursuit

Tulis Komentarmu !