Nama juga seperti mode, ada trend-nya. Sekarang, yang penulis amati, nama yang nge-trend adalah nama yang berbau barat, dan agak panjang. Biasanya nama hanya 2 kata, sekarang cenderung lebih panjang, 3 kata atau lebih. Tampaknya nama yang membumi (nama Indonesia asli), mulai jarang dipakai, terutama di perkotaan. Nama asli Sunda misalnya. Anak rekan-rekan penulis yang orang Sunda, sudah jarang menggunakan nama seperti Asep, Maman, Tatang (cowok), atau Euis, Imas, Neneng (cewek). Sekali lagi, ini bukan soal nama dari luar (barat) lebih baik daripada nama asli bangsa Indonesia. Tapi trend nama sekarang, memang bergeser ke arah sana. Khusus yang Muslim, selain memakai nama barat, sekarang trend-nya menggunakan bahasa Arab.
Bagaimana dengan Buddhis? Beberapa rekan penulis (terutama aktivis dan mantan aktivis vihara), menunjukkan kecenderungan yang sama. Mereka memberi nama anaknya dengan nama Buddhis. Suatu trend yang bagus. Konon katanya, kita yang bernama "baik" (apalagi mengambil nama dari orang-orang suci), akan berpikir ulang bila akan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Nama, yang merupakan harapan orang tua, setidaknya akan menjadi "rem" bagi kita. Mudah-mudahan saja hal ini benar adanya. Keempat, sebaiknya perhatikan singkatan/ inisial nama yang diberikan. Hendry Filcozwei Jan, bila disingkat HFJ. Mungkin Anda tak pernah memikirkan apa inisial nama anak Anda. Sebaiknya, inisial nama tidak berkonotasi dengan singkatan umum yang bermakna negatif. Misalnya saja: PKI, RSJ, HIV,... Mungkin ini pula yang jadi pertimbangan mengapa nama sebuah perumahan di Jakarta yang dipilih adalah Pantai Indah Kapuk bukan Pantai Kapuk Indah.
Anda bingung mencari nama yang cocok untuk anak Anda. Ada banyak hal yang bisa menjadi inspirasi:
- Nama Kota. Nama kota bisa dijadikan sumber inspirasi untuk nama anak. Kota kelahiran (ayah atau ibu atau gabungannya), kota tempat berbulan madu, kota/ kampung asal orang tua. Contoh nama: Anton Medan, Iwan Gayo (penulis Buku Pintar), Yan Asmi (personil group lawak De Bodor, Asmi = Asal Sukabumi atau Asli Sukabumi), Dayu AG (AG= Asal Garut), Evi Tamala (Tamala = Tasikmalaya), atau ada petinju yang memakai nama belakang Ortega (ternyata Ortega = Orang Tegal), Indra Safera (Safera diambil dari nama kota San Fransisko, lalu disisipi huruf" e", tempat almarhum dulu sekolah). Ada yang memberi nama Berlina untuk putrinya, terinspirasi nama kota Berlin, tempat mereka berbulan madu.
- Anak Buddhis. Ini beberapa nama anak (anak penulis) dan anak kenalan penulis (tentu ortunya Buddhis, dan umumnya adalah aktivis vihara) dan memberi nama Buddhis untuk anaknya. Ini sekedar contoh nama Buddhis yang dipakai. Unsur Buddhis dalam nama mereka adalah yang berwarna (selain hitam), penulis memberikan keterangan ♂ = laki-laki, ♀ = perempuan, dan kota tempat tinggal mereka. Anathapindika Dravichi Jan (♂), Revata Dracozwei Jan (♂) (nama ke-2 putra penulis, Bandung), Sujata Vonny Sidharta (♀), Lobzang Tundup William Sidharta (♂), Mingala Xin Sidharta (♂) (nama ke-3 anak Pak Handaka Vijananda, pendiri Ehipassiko Foundation, Jakarta), Sariputra Wiradinata (♂) (putra Dewi Astuti, ilustrator majalah Buddhis, Tangerang), Vimala Padmadevi (putri Agus Santera & Yuliana, Palembang), Suya Vidya (♂), Jalendra Kumara (♂), Candani Vassaputri (♀) (ke-3 anak Ideham Pendi & Astri Yanti, Palembang), Magha Dinna Utami (putri Hadi Susanto & Ratna, Palembang), Lyovan Agga Sumedho (putra Junaidi & Ratna Dewi, Palembang).
- Buku Buddhis. Memberi nama Buddhis menurut tradisi Thailand. Pemberian nama Buddhis ini berdasarkan hari lahir anak. Berikut ini pedoman huruf awal yang digunakan dalam pemberian nama Buddhis (huruf awal, contoh nama, dan artinya). Anak laki-laki lahir pada hari: Minggu: C (Cakrawala = alam semesta), Ch (Chatrajaya = payung kemenangan), J (Jayawajana = kemenangan cemerlang), S (Sandhi = melanjutkan), Jh, Ny (Nyanabala = kekuatan pengetahuan), Senin: T (Tejit = cerdas, tangkas), Th (Thawara = teguh), D (Doma = aliran air, barisan), Dh (Dhanabadi = orang kaya raya), N (Nathabala = kekuatan dari pengetahuan), Selasa: D (Danuja = bangkit oleh diri sendiri), T (Tarinetara = Dewa Indra), Th (Thanandara= kedudukan, kemuliaan), Dh (Dhanajati = harta benda/ kekayaan), N (Nanda = gembira, senang), Rabu: B (Bawara = unggul, sangat bagus), P (Pradibaddha = cinta kasih, sayang), Ph (Phocanya = kebenaran, kemenangan), F (Fangdi = pandangan soal yang baik), Bh (Bharata = aktor, pemain film), M (Meghindra = mega, awan), Kamis: S (Setyara = kuat, sehat), H (Hiranya = uang, emas), L (Labadha = sudah dapat), Jumat: K (Komuda = teratai merah), Kh (Khacon = menyebarkan), G (Gunakara = sumber kebaikan), Gh, Ng, Sabtu: Y (Yamana = sungai besar), R (Rajata = uang), L ((Lomfa = kesaktian dewa), W ((Wajrabala = punya kekuatan), Rabu tengah malam: A (Anukula = suka berbuat kebajikan), a, I, I, U, u, E, O (huruf kecil Pali) (Ongaca = berani). Adapun untuk nama anak perempuan lahir pada hari: Minggu: T (Temsiri = penuh keagungan, mulia), Th (Thapani = pantas dapat kedudukan), D (Daruni = wanita muda, gadis), Dh (Dharina = menjaga), N (Nathananda = gembira jadi filsuf), Senin: D (Darika = bintang , cahaya bintang), T (Traikisya = penyembuhan)), Th (Thirada = keteguhan, ketetapan), Dh (Dhanyalasma = ciri orang baik), N (Nawara = bunga mawar), Selasa: B (Bundarika = teratai putih), P (Prabassara = warna berkilau, indah), Ph (Phusaraga = permata warna kuning), F (Fongnadi = melambung di atas air), Bh (Bharani = nama bintang), M (Mandakanti = bulan purnama), Rabu: Y (Yuthika = pohon waktu Buddha lahir), R (Ramanari = wanita cantik), L (Laksmi = keberuntungan, kekayaan),W (Waruni = dewi), Kamis: A (Amara =orang tidak mati, Nibbana), a, I, I, U, u, E, O (huruf kecil Pali) (Obhiradi = sangat gembira), Jumat: C (Candracira = selalu cantik, indah), Ch (Chaysiri = kejernihan), J (Jofaka = seikat bunga, indah), Jh, S (Sundari = kata bijak), Ny (Nyanika = orang berpengetahuan), Sabtu: S (Sobhita = cantik, baik), H (Hemaratna = permata, emas), L (Lalita = menarik, belas kasihan), Rabu tengah malam: K (Kalyani = wanita cantik), Kh (Khaciwanna = menarik, indah), G (Gandharatana = mutiara yang indah), Gh, Ng. Catatan: Ada huruf awal yang tanpa contoh karena memang di buku tersebut tidak ada contoh nama dengan huruf awal tersebut. Anda bisa menggunakan nama dari bahasa lain (misalnya Pali), tapi yang terpenting tetap berpatokan pada huruf awal berdasarkan hari lahir anak. Karena keterbatasan tempat, kami hanya mencantumkan beberapa contoh nama. Dikutip dari "Paritta Mantra dan Nama Buddhis", penulis: Phra Kru Sanggha Kicwisuddhi & Hora Buracariya, diterjemahkan oleh Goey Tek Jong, Penerbit Sri Manggala, 2005.
Anathapindika. Hendry F.Jan menggendong putra pertamanya, Anathapindika Dravichi Jan (Dhika). Nama Buddhis: Anathapindika diambil dari daftar nama Buddhis yang ada di situs Samaggi Phala. (untuk melihat, silakan klik: Anathapindika).
Revata. Hendry F.Jan menggendong putra keduanya, Revata Dracozwei Jan (Ray). Nama Buddhis: Revata diambil dari daftar nama Buddhis yang ada di situs Samaggi Phala. (untuk melihat, silakan klik: Revata).


