JAKARTA -- Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (
KNKT), Tatang Kurniadi, menjelaskan mengenai belum ditemukannya Flight Data Recorder (
FDR) pada black box pesawat Sukhoi Super Jet (SSJ) 100
yang kecelakaan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.Dijelaskan Tatng, penempatan Cockpit Voice Recorder (
CVR) dan
FDR selalu berdekatan. Penempatan dua alat itu di pesawat selalu berdekatan, ada
yang berdampingan, tapi selalu di bagian ekor (pesawat). Maksudnya apabila ada accident, maka bagian itu bisa lebih selamat. Kemudian, walaupun dia di bagian belakang, melihat kondisi semacam itu tidak menutup kemungkinan dua alat ini terlempar, terbakar, katanya.Dia mencontohkan posisi
FDR dan
CVR pesawat sebuah maskapai penerbangan lokal
yang pernah jatuh. Menurutnya, saat itu
CVR dan
FDR jatuh ke laut, posisinya di kedalaman 1,4 kilometer. Tapi, faktanya kita ambil (posisinya) hanya beda 50 meter, ujarnya.Jadi, dia meyakini,
CVR dan
FDR jika terlempar tidak terlalu jauh. Jadi, bukan karena apa-apa, karena ledakan mungkin lemparan dari daya
yang terjadi pada dua alat itu pada waktu bersamaan berbeda, ujar dia. Karenanya, Tatang yakin, kondisi
FDR tidak akan jauh kondisinya dari keadaan
CVR itu.Dia juga menegaskan, proses investigasi terhadap black box tetap dilakukan bersama-sama Rusia. Tidak ada pembagian. Karena mereka pahami apa
yang dilakukan Indonesia, harus dipatuhi karena itu protokol internasional, pungkasnya.Seperti diketahui, sampai saat ini
FDR di SSJ 100,
yang berfungsi merekam semua parameter information penerbangan belum berhasil ditemukan. Sedangkan
yang sudah ditemukan baru
CVR yang fungsinya merekam pembicaraan dalam kokpit selama dua jam terakhir.
CVR ditemukan oleh Tim Evakuasi SSJ 100, Selasa (14/5) di Gunung Salak. (boy/jpnn)