cerita dewasa ‘Semalam Bersama Penyanyi Cafe’
December 10, 2011
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !
cerita mega ‘Semalam Bersama Penyanyi Cafe’,Malam itu saya cooking dengan clientku di sebuah cafe. Sebuah rope datang menghibur pengunjung cafeteria dengan nada irama jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan layak baik. Aku memperhatikan si penyanyi. Seorang putri berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya adil amat berlimpah jazzy. Gadis ini wajahnya tak terlalu cantik. Tingginya minim bertambah 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya merupakan legok pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.
“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama rope bakal menemani saudara semua. Jika tersedia yang kepingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau andaikan kepingin ask lagu.. silakan”.
Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu start menyapa pengunjung Cafe. Aku cuma tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan customer menyita perhatianku. Sampai kabin mungil hari telingaku menangkap perubahan kiat bermain bermula si keyboardist. Aku melihat ke jurusan rope tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.
Felicia bermain solo keyboard seraya menyanyikan irama “All of Me”. Lagu Jazz yang amat berlimpah sederhana. Aku menikmati segala ragam nada irama dan berusaha mengerti segala ragam musik. Termasuk jazz yang adil ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya. Felicia ternyata bermain amat berlimpah aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafeteria yang sanggup bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba saya menjadi amat berlimpah tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan ask laguku dan memberikannya melalui pelayan cafeteria tersebut.
“The Boy From Ipanema, please.. And your mobile number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas ask sekalian menuliskan angka HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lamban kabin mungil hari saya mendengar bunyi Felicia.
“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”
Bahasa badan Felicia menunjukkan bahwa dia kepingin tahu dimana saya duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku jitu di hadapan rope tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia menimpali senyumku. Dia start memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku joke menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Aku balik berbicara dengan clientku. Tak lamban kudengar bunyi Felicia menghilang dan berganti dengan bunyi penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.
“Felicia.” jelas catatan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.
“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”
“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kabin mandi. Kenapa kepingin tahu HP-ku?”
“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku lantas terang. Kudengar gelak enteng bermula Felicia.
“Rayuan ala Boy, nih?”
“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang layak buatmu yang adil sexy.. Oh ya, balik bermula cafeteria pukul berapa? Aku damping balik ya?”
“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat awak dengan temanmu?”
“Oh.. dia clientku. Sebentar berulang dia balik kok. Aku cuma mengantarnya mencapai parkir mobil. Bagaimana?”
“Okay.. Aku nanti ya.”
“Okay.. See we soon, sexy..”
Aku melanjutkan pandak percakapan dengan customer dan kabin mungil hari mengantarkannya ke ajang parkir mobil. Setelah clientku balik saya balik ke cafe. Waktu berulang menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku balik bersimpah dan memesan prohibited tea. 30 menit saya habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku lantas menatap matanya seraya sesekali saya tersenyum. Kulihat Felicia dengan beriktikad awak menimpali tatapanku. Gadis ini menarik senggat membuatku kepingin mencumbunya.
Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya berniat menyalakan AC mobil layak mega sehingga suhu pada mobil adem sekali. Felicia jelas menggigil.
“Boy, AC-nya dikecilin yah?” lengan Felicia seraya meraih kenop AC bakal menaikkan suhu. Tanganku kencang menahan tangannya. Kesempatan bakal memegang tangannya.
“Jangan.. Udah akrab rumahmu kan? Aku tak kebal panas. Suhu segini saya terkini bisa. Kalau awak naikkan, saya tak tahan..” alasanku.
Aku adil kepingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat mengerti. Tangan kiriku berulang memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia bungkam saja.
“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis adem banget. Oh ya, awak berkenan jazz juga ya?”
“Hampir segala nada irama saya suka. Oh ya, terkini kali ini saya melihat penyanyi jazz perempuan yang dapat bermain keyboard. Mainmu terlena lagi.”
“Haha.. Ini malam mula mula saya berlangsung keyboard seraya menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tak terlihat canggung. Oh ya, kudengar mulanya mainmu berlimpah memakai scale altered widespread ya?” saya kabin mungil hari memainkan lengan kiriku di tangannya seolah-olah saya bermain piano.
“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu dapat berlangsung piano yah?” Felicia jelas terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu berlangsung klasik. Lalu tertarik jazz. Belum ahli kok.” Aku berhenti di hadapan kediaman Felicia.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku momen kami bersetuju ke rumahnya. Ya, saya menerima ajakannya bakal bersetuju pandak walaupun ini telah nyaris pukul 1 pagi.
“Aku persetujuan kediaman ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum balik semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”
Felicia bersetuju kamarnya bakal mengganti baju. Aku tak mendengar bunyi gerbang kabin dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia adil memancingku? Aku kencang berdiri dan berani membuka gerbang kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma dengan bra dan lancingan dalam. Di tangannya tersedia sebuah kaos. Kukira Felicia bakal berteriak terkejut maupun marah. Ternyata tidak. Dengan bebas dia tersenyum.
“Maaf.. Aku bakal pertanyaan kabin bersiram dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru saya yang terbata bata melihat pemandangan cantik di depanku.
“Di kamarku tersedia kabin mandinya kok. Masuk aja.”
Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya melihat tersedia sebuah keyboard. Aku tak beres ke kabin bersiram bahkan memainkan keyboardnya. Aku memainkan irama “Body and Soul” seraya menyanyi lembut. Suaraku awam aja juga permainanku. Tapi saya serius Felicia bakal tertarik. Beberapa kali saya membuat kesalahan yang kusengaja. Aku kepingin melihat sambutan Felicia.
“Salah tuh mainnya.” ulasan Felicia. Dia iring bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.
Dengan kencang Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku bersimpah sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan kedudukan bagai memelukku bermula belakang, dia menunjukkan sekilas catatan yang benar. Aku dapat merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah pukul 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang mesti saya lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia sama-sama bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tak bermaksud masalah denganku. Jika dia bungkam saja, saya dapat melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis mulus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.
“Katanya bakal ke kabin mandi?” tanyannya seraya tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka gerbang kamarnya.
“Oh ya..” saya berdiri.
Ada rasa sempit di dadaku menerima penolakannya. Tapi saya tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kabin mandi!
“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.
Kubawa dia ke kabin bersiram dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau bakal geram iya saya dapat saja. Yang jelas saya lantas berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia bahkan tertawa. Dia menimpali menyiramku dan kami sama-sama berair kuyup. Segera saya menyandarkannya ke pembatas kabin bersiram dan menciumnya!
Felicia menimpali ciumanku. Bibir kami sama-sama memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu adem dan berair kuyup. Bibir kami sama-sama berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan lancingan pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama berdiam cuma memakai lancingan dalam. Sambil lantas mencumbunya, lengan kananku meraba, meremas mulus dan menggiurkan payudaranya. Sementara lengan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya dapat meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.
“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya start memburu. Suaranya voluptuous sekali. Berat dan basah. Perlahan saya merasakan penisku ereksi.
“Egh..” saya menahan nafas momen kurasakan lengan Felicia menggenggam gagang penisku dan meremasnya.
Tak lamban dia mengocok penisku senggat membuatku bertambah terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di wadah air. Cukup berat bercinta di kabin mandi. Licin dan tak dapat berbaring. Sewaktu Felicia duduk, saya cuma dapat menggiurkan buah dada dan mencumbunya. Sementara bokong dan vaginanya tak dapat kuraih. Felicia tak bakal duduk. Dia berdiri berulang dan menciumi puting dadaku!
Ternyata lezat juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia layak aktif. Tangannya tak telah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia berulang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan lancingan dalam, saya melepasnya dan juga melepas lancingan pada Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku memencet lidahnya. Kami sama-sama menjilat dan menghisap.
Rintihan mungil dan desahan nafas kami sama-sama bergantian membuat alunan nada irama birahi di kabin mandi. Suhu yang adem membuat kami sama-sama merapat mencari kehangatan. Ada impresi yang berbeda bercinta momen pada kondisi basah. Waktu bercumbu, tersedia rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya bermula biasanya.
Aku menyalakan showering dan kabin mungil hari di rendah cairan yang mengucur bermula shower, kami semakin suam merapat dan sama-sama merangsang. Aliran cairan yang membasahi rambut, durja dan seantero tubuh, membuat badan kami bertambah panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas kira keras, selagi bibirku melumat bertambah ganas tepi Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap ke atas seraya memijat enteng pinggang, kabin kecil dan pundak Felicia. Dari aksen tubuhnya, Felicia amat berlimpah menikmati pijatanku.
“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.
Lidahku start menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya iring meremas pantatku. Aku merasakan buah dada Felicia bertambah tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.
“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku seraya tertawa ringan. Felicia memainkan bal matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya seraya menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan pucuk lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya pasti di pucuk putingnya.
“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.
Mulai bermula pucuk alat perasa mencapai akhirnya dengan seantero lidahku, saya menjilatnya. Kemudian saya menghisapnya dengan lembut, kira perkasa dan akhirnya kuat. Tak lamban kabin mungil hari Felicia kabin mungil hari membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.
“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku start beraksi.
Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku start mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil tepi kami sama-sama melumat. Aku berusaha plain membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti kala kocokanku. Kamu bekerja sama dengan koheren sama-sama memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya berulang dempet sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum telah bercinta dengan perawan, eksepsi dengan Ria yang integument daranya bersetuju sama ujung tangan pacarnya.
“Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya bertambah keras.
“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.
Rupanya Felicia merupakan jenis perempuan yang bersuara plain momen bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu bertambah hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku bertambah cepat. Beberapa detik kabin mungil hari saya berhenti. Mengatur nafas dan mengubah kedudukan kami. Felicia menungging dan saya ‘menyerangnya’ bermula belakang. Doggy style. Kulihat buah dada Felicia sececah terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan badung jariku meraba anusnya, kabin mungil hari memasukkan jariku.
“Hey.. Perih tau!” jerit Felicia. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir lezat rasanya..” Aku menghentikan memasukkan ujung tangan ke anusnya melainkan konstan bermain-main di sekitar anusnya senggat membuatnya geli.
Cukup lamban kami berpacu pada birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku nyaris tiba. Aku berusaha plain mengatur irama dan nafasku.
“Aku bakal nyampe, Felicia..”
“Keluarin di pada aja. Udah lamban saya tak merasakan semburan cairan pria” Aku kira terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau bunting gimana, pikirku.
“Aman, Boy. Aku tersedia remedi anti bunting kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tak yakin. Tapi kala bahlul ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok berulang dengan gencar. Felicia berteriak bertambah keras.
“Yes.. Aku juga nyaris sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”
Saat-saat itu bertambah dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tak tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..
“Aku orgasme. Sesaat kabin mungil hari kurasakan badan Felicia bertambah bergetar hebat. Aku berusaha plain menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.
Dia menjerit perkasa sekali kabin mungil hari membalikkan badannya dan memelukku. Kami kabin mungil hari bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, buah dada dan kabin mungil hari perutnya. Aku membuatnya kegelian momen hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil tuala dan mengeringkan badan kami berdua. Sambil lantas mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami sama-sama menggosok badan kami. Dengan badan bugil saya mengangkatnya ke ajang tidur, membaringkannya dan balik menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.
“Thanks Boy.. Sudah lamban sekali saya tak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”
Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku cuma berusaha melayani setiap perempuan yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.
Aku amat berlimpah terkejut momen tiba-tiba gerbang kabin terbuka. Sial, kami mulanya kurang ingat mengunci pintu!! Seorang perempuan muncul. Aku tak luang berulang menutupi badan telanjangku.
“Ups.. Gak perlu terkejut. Dari mulanya saya udah tangkap suara teriakan Felicia. Tadi bahkan telah mengintip kalian di kabin mandi..” istilah perempuan itu. Aku kecolongan. Tapi apa dapat buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.
“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” saya menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Gladys..” sapaku.
Kemudian saya berdiri. Dengan zakar lemah terayun saya mencari kaos dan lancingan pandak Felicia dan memakainya. Gladys bersetuju ke kamar. Busyet, ni anak diam sekali, Pikirku. Sudah pukul 2 pagi. Aku mesti pulang.
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !cerita dewasa ‘Sambil Menyelam Minum Air’
December 10, 2011
Congrats! Claim Ur FREE 30 Min Chat Time! Try Now!
cerita mega ‘Sambil Menyelam Minum Air’
Dulu saya luang bekerja di sebuah perusahaan privat pada negeri yang bergerak di disitribusi automotive di locus Bekasi. Ditempat itu, ucap aja PT. BT, besaran karyawannya layak banyak. Tapi beda itu yang menyebabkan saya menurunkan tulisan ini. Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang berulang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, keliru 1 diantaranya, telah membuat saya bagai balik merasakan asmara (yang dulu telah buyar bersama Galuh). Siswi tersebut, kita ucap aja namanya Muti, diperbantukan di disitribusi Personalia, sedangkan aku, bekerja di disitribusi PPIC.
Sebenernya disitribusi gawai kami kira berjauhan, melainkan akibat sama-sama mengerjakan ragam pekerjaan yang menyangkut dengan data, lewat setiap hari, kami selalu bertemu ditempat gambar copy. Awalnya sih, saya cuma sekedar mengagumi kecantikannya, akibat dengan cingur yang bangir, wujud tepi yang sensual, dihiasi legok pipit di kedua pipinya, membuat segala yang tersedia didirinya terlihat sempurna. Hari bikin yaum kami terlihat semakin akrab, apalagi berlimpah teman-temanku yang menyangka apabila saya berulang PDKT dengannya. Semua anggapan temanku, tak terlalu saya pikirkan, akibat saya merasa, Muti disini berulang belajar dan mengerjakan kewajiban yang diberikan sama sekolahnya, dan sebagai seorang pegawai di PT. BT, saya cuma sekedar membimbing dan membantu, andaikan seandainya tersedia sesuatu kondisi yang dia belum mengerti. Hampir 2 pekan saya mengenalnya, ternyata aksi dan kelakuannya semakin membuat saya terpesona.
Ketika saya mendengar gurauan keliru seorang temanku, yang berujar apabila dia percaya diri memberi Rp. 500.000,- terhadap Muti, andaikan Muti bakal menemaninya selama 2 jam, perasaanku apalagi semakin caring sama si Muti. Timbul perasaaan cemburu momen mendengar gurauan itu. Namun saya tak percaya diri bakal mengungkapkannya, akibat detik itu diantara saya dan Muti, tak mempunyai hubungan yang terlalu istimewa. Akupun merasa wajar, andaikan temanku berkata demikian, akibat dengan durja secantik itu, andaikan adil Muti memanfaatkan tubuhnya, barangkali harganya dapat diatas Rp. 350.000, per 2 pukul (harga tersebut diatas, merupakan taksiran rata-rata seorang massage lady yang telah dianggap cantik).
Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama Emma, Muti mengarah bidang datar kerjaku, awalnya gerangan bertanya mengenai sesuatu yang tersedia hubungannya dengan keperluannya, barangkali akibat merasa telah akrab, Muti juga bertanya mengenai no. HP ku, alasannya gerangan kendati mudah saja, apabila kelak dia bakal nanya sesuatu. Sambil konstan memperhatikan monitor, saya menyebutkan 1 persatu nomernya. Ketika mereka iring memperhatikan kiat kerjaku, tiba-tiba, “buukkk..” reduction sengaja, lengan Emma menyenggol bacaan yang saya apik disisi meja. Aku direk mengambil bukunya dengan kiat berjongkok. Alamak.. momen berjongkok, reduction berniat penjuru mataku melihat sesuatu yang amat berlimpah indah, 2 pasang pukang licin terpampang didepan wajahku.
Bukan cuma itu, akibat kedudukan penyangga Muti momen duduk, kira mengangkang, lewat momen ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang layak menggelitik kelelakianku. Ku amat amati dia memakai CD berwarna Pink, dengan pajangan krawang di sisinya. Mungkin akibat mereka terlalu inti memperhatikan buatan pekerjaanku, mereka tak menyadari (atau adil sengaja?) apabila di rendah meja, saya berulang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi. Karena kecut hati memanggil kecurigaan bermula kawan sekerjaku, terpaksa saya balik bersimpah dan menerangkan mengenai kiat gawai di PT. BT terhadap Muti dan Emma. Namun peristiwa yang terkini aja saya alami, konstan mengganggu pikiranku. Mungkin akibat saya tak pemfokusan dengan apa yang berulang kami bicarakan, Muti bertanya.
“Pak, mengapa kadang-kadang ngejelasinnya tak nyambung sih..”. Sebenarnya saya perasaan aib mendapat pernyataan bagai itu, bakal melainkan akibat merasa telah akrab, saya berbisik terhadap Muti dan menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Bukannya malu, Muti apalagi tersenyum mendengarnya.
“Kenapa tak disentuh aja Pak, kendati tak penasaran”, menganggu Muti. Emma yang tak tahu apa-apa, cuma melamun mendengar pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar penawaran Muti, saya apalagi berpikir yang tidak-tidak, dan membayangkan apa yang tersedia dibalik CD nya itu. Namun semuanya berusaha saya redam, akibat terpuji bagaimanapun, di PT. BT ini, saya mesti JAIM (Jaga Imej), supaya saya tak mendapatkan masalah. Bel istirahatpun berbunyi, dan kami direk mengarah bufet bakal santap siang. Baru aja saya beres makan, Muti mendekatiku dan berbisik “besok Bapak saya kelak di Hero sekitar pukul 09.00 pagi, tersedia yang kepingin saya bicarakan, saya kelak didepan ATM”. Walau singkat, tapi konstan membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang bakal dibicarakan? Mengapa waktunya yaum sabtu, sedangkan kan setiap yaum sabtu PT. BT libur.
Mengapa dia berbisik amat berlimpah alun alun kepadaku, apa kecut hati terdengar yang lainnya?. Besoknya, dengan konstan berpakaian apik (seperti andaikan bakal beranjak kerja), saya mengeluarkan motorku dan beralasan lewat durasi terhadap kedua anak adam tuaku. Menunggu merupakan kondisi yang amat berlimpah membosankan, akibat mencapai di Hero, pukul terkini menunjukkan bilangan 07.30, Setelah mencari sarapan, seraya ngerokok, saya iseng-iseng iring ngantri ATM, sedangkan cuma bakal liat sisa doang, akibat duit yang tersedia di dompetku, berulang tersedia sekitar Rp. 400.000,-. Dari jauh, saya telah tahu apabila putri yang mengarah kearahku merupakan si Muti, dan dini ini, dia terlihat amat berlimpah sexy, akibat Muti cuma mengenakan kaos dan lancingan jeans ketat.
“Udah lamban iya Pak? Kan Muti janjinya pukul 09.00, kini terkini pukul 08.45, Muti tak keliru khan?”, “Jangan mendatangkan saya Bapak dech Mut, saya kan belum nikah, dan ini beda di kantor, mendatangkan namaku aja dech, kendati dapat bertambah akrab”.
“Ok deh Pak, eh Fik”, seraya tersenyum Muti direk menggandeng tanganku.
“Fik, enaknya kita ke mana yach”, pertanyaan Muti.
“Terserah, emang bakal ngomongin apaan, kayaknya individu banget”.
“Ngga juga, Muti seneng aja apabila deket ama Fik, mengapa ya?” “Mau tahu jawabannya”, candaku.
“Ngga perlu Fik, Muti juga udah tahu, Muti rasa Muti menyukai Fik”, balas Muti polos. Tanpa disadari, barangkali akibat saking senengnya, saya yang start asal adil mengagumi Muti, direk memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Muti mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, apabila kita berulang tersedia dilokasi umum, tak lezat terlihat berlimpah orang. Akhirnya kami memutuskan mencari ajang yang pas bakal berduaan. Tapi akibat yang saya tahu cuma hotel ajang satu-satunya yang pas bakal berduaan reduction kecut hati terlihat anak adam lain, terpuji terlihat kira ragu, Muti akhirnya menyanggupinya. Sekitar pukul 09.30, kami telah mencapai di garis depan bureau hotel BI, dan mengambil sebuah kabin dengan fasilitas TV dan AC. Dengan kira ragu Muti memasuki gerbang kabin (mungkin akibat terkini mula mula kalinya), dan dia kira terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi momen dia melihat kabin mandinya.
“Enak juga iya Fik, kita dapat ngobrol berduaan disini, reduction kecut hati bakal terdengar maupun terlihat sama anak adam lain”. Muti direk merebahkan badannya ke ranjang, dan mencari siaran TV yang spesial menyiarkan bulletin musik. Kebetulan banget lagunya merupakan lagu-lagu romantis, yang secara tak langsung, iring mempengaruhi hawa hati kami. Lewat aiphone, saya memesan makanan dan soothing drink. Ketika saya menyalakan rokok, terdengar bunyi room child mengetuk gerbang dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Muti yang berulang rebahan, maksudnya gerangan bakal nawarin makanan, tapi Muti direk bangkit dan bertanya.
“Fik, apakah Muti keliru asalkan Muti mencintai Fik, Muti sebenernya perasaan aib mengakuinya, tapi asalkan tak diungkapkan, Muti kecut hati apabila Fik tak mengetahui apa sebenernya yang Muti harapkan. Maafin Muti yach, Muti udah ngerepotin Fik, sedangkan kan kini waktunya prei dan istirahat, tapi Muti apalagi meminta Fik menemui Muti”. Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan segala mengenai apa yang tersedia dihatinya, seraya membelai rambutnya (agar perasaannya menjadi bertambah tenang), saya joke berusaha meyakinkannya, bahwa segala yang dialami, merupakan wajar, andaikan seseorang mencintai musuh jenisnya, dan tak tersedia yang namanya salah, andaikan telah menyangkut perasaan hati.
Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan saya mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu apalagi membuat Muti percaya diri bakal menimpali ciumanku. Dia direk melumat bibirku, dan bagai seseorang yang tak bakal kehilangan sesuatu, dia memelukku dengan ekspres sekali. Sambil lantas menikmati bibirku, tangannya lantas mengelus dan mengusap seantero disitribusi tubuhku. Mungkin beginilah kiat dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi kini saya yang bingung, akibat dengan melihatnya wujud tubuhnya aja (waktu di kantor), dapat membuat saya “konak”, kini seantero tubuhnya telah melekat ekspres ditubuhku (walau berulang memakai pakaian lengkap).
Kedua payudaranya terasa bertambah mengeras, akhirnya kuputuskan bakal menikmati kondisi ini, akibat lurus hati saja, kadang-kadang, dulu akupun kerap menghayalkan bagaimana nikmatnya andaikan bercumbu dengan si Muti, apalagi andaikan berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya ngajakin kita lego daratan (maksudnya ntar duitnya bikin ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..). tanganku start berusaha membuka kaosnya, akibat saya tak bakal pandanganku yang tertuju terhadap kedua payudaranya, terhalang sama kaos yang dia kenakan. Pelan bakal melainkan pasti, akhirnya beda cuma kaosnya yang berhasil saya buka, BH nya joke telah saya lepaskan. Sejenak saya terpana melihat keindahan wujud payudaranya itu, bakal melainkan cuma sebentar, akibat saya kepingin ekspres menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua susunya, dengan akrab saya start menghisap putingnya yang telah kira mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati disitribusi tubuhnya, start bermula leher, lantas bergerak mendarat dan mengarah putingnya kembali.
“Yaa.. hisap lantas sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nick..maaattt.. teeeruuus.. aaccchhh..” Muti lantas meracau menikmatinya. Aku lantas merangsangnya, dan mencoba membuka lancingan jeans yang dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya amat berlimpah ketat, saya kesulitan bakal membukanya, untungnya Muti mengerti, dengan kira mengangkat pantatnya, dia start mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, saya menanti dan lantas mempermainkan susunya. Setelah jeansnya terlepas, lengan Muti berusaha bakal membuka segala yang saya kenakan. Satu persatu ujung lengan tangannya membuka buah baju kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan lancingan yang saya pakai, Muti cuma menyisakan CD aja yang berulang melekat ditubuhku.
Mungkin dia berulang ragu bakal membukanya, akibat diapun berulang mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, apabila dia berulang diamuk birahi, bakal melainkan dia berulang dapat menguasai pikirannya, saya serius dia merasa kecut hati di segel sebagai cewe yang agresif dan kecut hati andaikan saya tak menyukai tindakannya. Namun saya konstan menikmati hawa yang terjadi di pada kabin hotel ini. Aku lantas menggiurkan birahinya, ciumanku saya arahkan kedaerah perutnya, lantas kebawah menyusuri bolongan pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak bakal membuka CD yang berulang melekat ditubuhnya.
Secara perlahan saya mencoba membuka CD nya, seraya lantas mencumbunya, saya menciumi setiap locus yang terkini telihat momen CD nya start bergerak turun. Muti amat berlimpah menikmati segala sentuhan yang saya berikan, apalagi momen CD nya telah terlepas, dan saya start menjilati memeknya, dia lantas mendesah dan apalagi membuka pahanya lebar-lebar supaya lidahku dapat menjilati disitribusi pada memeknya. Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat saya demen berlama-lama mencumbuinya. Aku lantas menjilati, dan dengan ujung lengan telunjukku, saya menguji menggiurkan dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin saya percepat memainkan ujung lengan telunjukku, semakin ekspres balik dia menggoyangkan pantatnya. Muti lantas mendesah dan meracau tak karuan.
“Aacchhhh.. lantas sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. bertambah ke pada berulang Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati lantas yang.. itu.. sayang.. accchhh”. Karena rangsangan yang dia dapat bertambah hebat, pantatnya beda cuma digoyang-goyangkan, tapi apalagi diangkat-angkat ke atas, barangkali tujuannya supaya bolongan memeknya yang bertambah pada iring tersentuh sama lidahku. Dengan dukungan jari-jariku, saya lantas mengaduk-aduk kandungan memek Muti, saya jamah G-Spotnya secara perlahan, dia direk menggelinjang, lewat kuelus G-Spotnya nya dengan ujung lengan tengahku, Muti bertambah liar, bagai anak adam yang berulang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas bunyi apa yang pergi bermula mulutnya, akibat yang saya tahu, bolongan memeknya telah amat berlimpah berair sama cairan kemaluannya, seantero tubuhnya bagai menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya direk terdiam dan tergolek dengan lemas.
Melihat Muti telah mencapai orgasme, saya berusaha bakal tenang, melainkan kontolku telah amat berlimpah ekspres (walau berulang tertutup sama CD) dan kepingin ekspres merasakan nikmatnya memek Muti. Aku ekspres mencium dan menjilati “lubang surga” itu, supaya Muti dapat merasakan apa yang namanya multi orgasme. Usahaku ternyata berhasil, akibat cuma pada beberapa menit, tubuhnya balik bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang amat berlimpah menggairahkan, Muti balik merasakan kenikmatan itu. Karena beberapa kali mengalami orgasme, Muti terlihat amat berlimpah lelah, biar tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia amat berlimpah kenyang dengan lisan yang saya lakukan.
Dengan tersenyum, dia mencoba bakal melepaskan CD yang berulang melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia start menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan bagai itu, saya yang semula mendominasi permainan, cuma bungkam aja menikmati permainan Muti. Dengan tepi indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke pada mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku. Gila.. ternyata Muti beda cuma cantik bikin dilihat, ternyata Muti mempunyai kemampuan yang amat berlimpah terpuji pada menggiurkan dan memanjakan kita pada permainan seksnya.
Aku berusaha supaya tak mencapai kebobolan momen dia melakukan lisan terhadapku, bakal melainkan kenyataannya, segala spermaku telah memenuhi mulutnya, momen secara reflek, saya menjambak rambut dan menarik kepalanya seraya mendesah menahan kenikmatan detik spermaku bakal keluar. Tanpa perasaan jijik, Muti menelan segala benih yang tersedia di pada mulutnya, bagai tak puas, dia menjilati kontolku yang berulang tersedia sisa-sisa spermanya.
“Fik, lezat juga iya rasa benih lo, gurih-gurih gimana gitu..”, istilah Muti memuji. Aku cuma tertawa pendek mendengarnya, akibat bal mataku konstan memandang lekuk-lekuk badan Muti yang bugil reduction sehelai benangpun menutupinya. Kuperhatikan berulang “lembah” yang dihiasi sama bulu-bulu mulus itu, ternyata, warnanya kira memerah, barangkali akibat tergesek sama alat perasa dan jari-jariku.
“Makasih iya Mut..”, kataku seraya menciumi memeknya.
“Fik, dapat tak apabila Muti berharap memek Muti di jilatin lagi, abis lezat banget sih..”, pertanyaan Muti seraya memohon.
“Boleh aja sih, tapi dapat tak apabila Fik ngentot Muti, soalnya kontol Fik udah tak perkasa nich, pengen buru-buru berada di pada memek Muti. Boleh yach?” “Muti kecut hati Fik, istilah temen-temen Muti, rasanya perih banget, tak bakal ah.. ntar apabila perih gimana?”, dorong Muti.
“Pokoknya Muti rasain aja nanti, Fik apa temen Muti yang salah”, kataku seraya start menjilati memek Muti. Dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Muti membantu melebarkan memeknya supaya mempermudah ku di pada mencumbui memeknya. Kujilati klitnya senggat dia menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima. Sengaja saya lantas menjilati klitnya, supaya dia diamuk sama gairahnya sendiri, momen kulihat tubuhnya start menegang, dan mengalami orgasme, barangkalibakal yang keberapa kali, saya direk memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang telah amat berlimpah kencang. Kuciumi disitribusi rendah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di locus tersebut.
“Fik.. lezat sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh..” Muti menggelepar menahan birahinya yang semakin besar. Kulihat ujung lengan bangkok Muti start bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia lantas mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke pada bolongan memeknya yang telah amat berlimpah berair akibat banyaknya cairan pelicin yang pergi bermula pada memeknya memeknya. Sambil konstan membenamkan wajahku diantara 2 gunungnya, tanganku secara perlahan menarik lengan Muti yang berulang asik mengeluar masukan jarinya.
Awalnya dia menolak, tapi momen saya asuh jarinya kearah kontolku, Muti direk menggenggam dan mengocoknya. Setelah kira lama, saya meminta Muti supaya dia berada diatas tubuhku yang telah pada kedudukan berbaring. Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja saya menggesek-gesekan kontolku diantara bolongan memeknya, ternyata benar, apa yang saya lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan sama Muti bertambah menjadi-jadi, diapun start bergerak menggesekan kontolku ke disitribusi asing memeknya.
Akhirnya, terpuji dengan kedudukan berada di bawah, reduction sepengetahuan Muti, saya berusaha mengarahkan kontolku supaya dapat memasuki bolongan memeknya. Muti lantas menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan reduction disadarinya, ternyata kepala kontolku start bergerak memasuki memeknya momen dia menggerakan pantatnya bermula atas ke bawah.
Terasa mulus sekali momen kepala kontolku menyentuh disitribusi pada bermula bolongan surganya, tersedia perasaan nikmat yang berat bakal diungkapkan, dan reduction terasa, telah seantero disitribusi kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Muti lantas menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Akupun lantas mengeluar masukan kontolku ke pada bolongan memeknya (walau kira berat akibat posisiku berada di bawah).
Secara reflek Muti direk merebahkan tubuhnya diatas tubuhku momen dia telah mencapai orgasmenya. Namun akibat saya belum orgasme, saya direk membalikan badannya supaya berada di rendah tubuhku. Dengan sececah santai, saya lantas menggerakan “junior”ku, bakal melainkan akibat badan Muti yang jernih dan terawat, birahiku tak dapat mengerti andaikan saya kepingin bertambah lamban menikmati kemulusan tubuhnya. Akhirnya spermaku pergi di pada kehangatan bolongan memeknya.
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !

