‘cerita seks’ Petualangan Cinta Yang Seru
December 10, 2011
Congrats! Claim Ur FREE 30 Min Chat Time! Try Now!
Kisahku yang 1 ini kejadiannya telah layak lama, Sejak saya menyerahkan tubuhku di Tohir, sopirku, dia kerap memintaku melakukannya berulang setiap kali tersedia kesempatan, bahkan terkadang saya dipaksanya melayani nafsunya yang mega itu.
Ketika di mobil dengannya tak renggang dia suruh saya mengoralnya, kalaupun tidak, amat tak dia mengelus-elus pukang mulusku maupun meremas dadaku. Pernah bahkan momen kedua anak adam tuaku pergi capital dia bawa saya bobok bersamanya di kamarku. Memang di hadapan anak adam tuaku dia bersikap padaku bagai mana pengemudi terhadap majikannya, bakal melainkan begitu jauh bermula mereka kondisi menjadi mengganti arah akulah yang mesti melayaninya. Mulanya gerangan saya benar kira jengkel dampak sikapnya yang kira kelewatan itu, tapi di beda disitribusi saya bahkan menikmatinya.
Tepatnya 2 pekan sebelum ebtanas, saya berulang belajar seraya selonjoran bersandar di pucuk ranjangku. Ketika itu durasi telah menunjukkan jam 23.47, suasananya sepi sekali betul bakal menghafal. Tiba-tiba konsentrasiku terputus sama bunyi ketukan di pintu. Kupikir itu Mamaku yang kepingin menengokku, tapi momen gerbang kubuka, jreenngg.. Aku tersentak kaget, si Tohir ternyata.
“Ih, ngapain gerangan Bang malam-malam gini, apabila keliatan Papa Mama kan kritis tahu”
“Anu Non, nggak dapat bobok nih.. Mikirin Non lantas sih, dapat nggak Non sekarang.. Sudah 3 yaum nih?” katanya dengan alat penglihat menatapi tubuhku yang terbungkus busana bobok pink.
“Aahh.. Sudah ah Bang, saya kan mesti belajar telah bakal ujian, nggak bakal detik ini ah!” omelku seraya menutup pintu.
Namun sebelum gerbang tertutup dia menahannya dengan kaki, lewat menyelinap bersetuju dan terkini menutup gerbang itu dan menguncinya.
“Tenang aja Non, segala telah bobok bermula mulanya kok, berdiam kita duaan saja” katanya menyeringai.
“Jangan ngelunjak Bang.. Sana cepet keluar!” hardikku dengan telunjuk mengarah ke pintu.
Bukannya menuruti perintahku dia bahkan melangkah mendekatiku, tatapan matanya tajem seolah menelanjangiku.
“Bang Tohir.. Saya sejumlah keluar.. Jangan maksa!” bentakku lagi.
“Ayolah Non, cuma pandak aja kok.. Abang telah kebelet nih, lagian kala Non nggak capek belakangan ini belajar cuma sih” ucapnya seraya lantas mendekat.
Aku lantas berkurang selangkah buat selangkah menghindarinya, jantungku semakin berdebar-debar bagai bakal diperkosa aja rasanya. Akhirnya kakiku terpojok sama pantai ranjangku senggat saya jeblok terduduk di sana. Kesempatan ini tak disia-siakan sopirku, dia direk mencengkam dan menindih tubuhku. Aku menjerit tertahan dan meronta-ronta di himpitannya. Namun sepertinya reaksiku bahkan membuatnya semakin bernafsu, dia tertawa-tawa seraya menggerayangi tubuhku. Aku menggeleng kepalaku kesana kemari detik dia bakal menciumku dan menggunakan tanganku bakal menahan lancar wajahnya.
“Mmhh.. Jangan Bang.. Citra nggak mau!” mohonku.
Aneh memang, sebenarnya saya dapat aja berteriak berharap tolong, tapi mengapa tak kulakukan, barangkali saya start menikmatinya dampak perlakuan bagai ini bukanlah mula mula kalinya bagiku, selain itu saya juga tak kepingin ortuku mengetahui skandal-skandalku. Breett.. Gaun tidurku cabik sececah di disitribusi celebration dampak berulang memberontak durasi dia memaksa membukanya. Dia telah berhasil memegangi kedua lenganku dan direntangkannya ke atas kepalaku. Aku telah benar-benar terkunci, cuma dapat menggelengkan kepalaku, itupun dengan mudah diatasinya, bibirnya yang tegas itu detik ini melekat di bibirku, saya dapat merasakan sungut pandak yang heartless menggesek sekitar bibirku juga bunyi nafasnya di wajahku.
Kecapaian dan tumbang daya membuat rontaanku melemah, bakal tak bakal saya mesti mengikuti nafsunya. Dia merangsangku dengan mengulum bibirku, mataku terpejam menikmati cumbuannya, lidahnya lantas mendorong-dorong memaksa kepingin bersetuju ke mulutku. Mulutku joke pelan-pelan start terbuka membiarkan lidahnya bersetuju dan bermain di dalamnya, lidahku secara otomatis beradu dampak dia selalu menyentil-nyentil lidahku seakan mengajaknya iring menari. Suara desahan tertahan, bunyi nafas dan kecipak cairan liur terdengar jelas olehku.
Mataku yang terpejam terbuka momen kurasakan lengan kasarnya mengelusi pukang mulusku, dan lantas mengelus mengarah pangkal paha. Jarinya menekan-nekan liang vaginaku dan mengusap-ngusap belahan bibirnya bermula luar. Birahiku ke atas dengan cepatnya, terpancar bermula nafasku yang bertambah tak teratur dan vaginaku yang start becek. Tangannya telah menyusup ke balik lancingan dalamku, jari-jarinya mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitorisku, objek bagai kapri itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jarinya membuatku menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih berulang jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding di liang itu.
“Ooohh.. Non Citra beres tambahan ayu aja apabila berulang konak gini!” ucapnya seraya menatapi wajahku yang merona ahmar dengan matanya yang sayu dampak telah terangsang berat.
Lalu dia betot pergi tangannya bermula lancingan dalamku, jari-jarinya belepotan cairan bersih bermula vaginaku.
“Non cepet banget basahnya ya, amat amati nih berair gini” katanya memperlihatkan jarinya yang berair di hadapan wajahku yang lewat dijilatinya.
Kemudian dengan lengan yang satunya dia sibakkan busana tidurku sehingga payudaraku bugil yang tak memakai bra terbuka reduction terhalang apapun. Matanya melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudaraku yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan bersama kulitnya yang bersih mulus. Teman-teman cowokku bilang, bahwa wujud dan ukuran payudaraku contoh bakal anak adam Asia, ekspres dan berdiri bagai memiliki bintang film bokep Jepang, lain bagai memiliki bulai yang terkadang oversize dan mendarat ke bawah.
“Nnngghh.. Bang” desahku dengan mendongak ke kabin mungil merasakan mulutnya memagut payudaraku yang menggemaskan itu.
Mulutnya menjilat, mengisap, dan menggigit alun alun putingnya. Sesekali saya bergidik keenakan apabila sungut pendeknya menggesek putingku yang sensitif. Tangan lainnya iring bekerja di payudaraku yang sebelah dengan melakukan pijatan maupun memainkan putingnya sehingga kurasakan kedua objek peka itu semakin mengeras. Yang dapat kulakukan cuma mendesah dan meremasi rambutnya yang berulang menyusu.
Puas menyusu dariku, mulutnya perlahan-lahan mendarat mencium dan menjilati perutku yang papar dan lantas berlanjut bertambah ke rendah seraya tangannya menurunkan lancingan dalamku. Sambil memeloroti dia mengelusi pukang mulusku. Cd itu akhirnya terlepas melalui penyangga kananku yang dia angkat, setelah itu dia mengulum sejenak jempol kakiku dan juga menjilati kakiku. Darahku semakin bergolak sama permainannya yang seksi itu. Selanjutnya dia mengangkat kedua kakiku ke bahunya, badanku setengah terangkat dengan pangkal pukang menghadap ke atas.
Aku berserah aja mengikuti kedudukan yang dia inginkan, pokoknya saya kepingin menuntaskan birahiku ini. Tanpa membuang durasi berulang dia melumat kemaluanku dengan rakusnya, lidahnya menyapu seantero penjuru vaginaku bermula bibirnya, klitorisnya, senggat ke pembatas di dalamnya, anusku joke tak terhindar bermula jilatannya. Lidahnya disentil-sentilkan di klitorisku memberikan impresi yang asing awam di locus itu. Aku benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mataku merem-melek dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vaginaku mengirimkan rangsangan ini ke seantero badan yang membuatku serasa menggigil.
“Ah.. Aahh.. Bang.. Nngghh.. Terus!” erangku bertambah panjang di puncak kenikmatan, saya meremasi payudaraku seorang awak sebagai cairan muka rasa nikmat
Tohir lantas menyedot cairan yang pergi bermula sana dengan lahapnya. Tubuhku beres bergetar bagai bakal meledak. Kedua terbagi pahaku semakin ekspres mengapit kepalanya. Setelah kenyang menyantap makanan pembuka berupa cairan cintaku, barulah dia turunkan kakiku. Aku luang beristirahat dengan menunggunya membuka baju, tapi itu tak lama. Setelah dia membuka baju, dia singkap juga dasterku yang telah tersingkap, kami berdua detik ini bugil bulat.
Dia membentangkan kedua pahaku dan mengambil kedudukan berlutut di antaranya. Bibir vaginaku beres iring terbuka memancarkan corak ahmar merekah diantara bulu-bulu hitamnya, tersedia bakal menyambut yang bakal memasukinya. Namun Tohir tak direk mencoblosnya, terlebih dulu dia gesek-gesekkan penisnya yang mega itu di bibirnya bakal memancing birahiku supaya ke atas lagi. Karena telah tak betah kepingin cepat dicoblos, saya meraih gagang itu, plain sekali objek itu durasi kugenggam, panjang dan berurat lagi.
“Aaakkhh..!” erangku lembut seraya mengepalkan lengan erat-erat detik penisnya melesak bersetuju ke dalamku
“Aauuhh..!” saya menjerit bertambah plain dengan badan berkelejotan dampak hentakan kerasnya senggat zakar itu tertancap seluruhnya di vaginaku.
Untung aja kabin Papa Mamaku di dek alas dan letaknya layak jauh bermula kamarku, apabila tak absolut suara-suara ajaib di kamarku absolut terdengar sama mereka, bagaimanapun sopirku ini termasuk nekad percaya awak melakukannya di detik dan ajang bagai ini, tapi bahkan disinilah sensasinya ngeseks di ajang yang ‘berbahaya’. Dengan gerakan perlahan dia menarik penisnya lewat ditekan ke di berulang seakan kepingin menikmati dulu gesekan-gesekan di himpitan koridor sesak yang bergerinjal-gerinjal itu. Aku iring menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginaku mengimbangi sodokannya. Responku membuatnya semakin menggila, penisnya semakin lamban menyodok semakin heartless saja, kedua gunungku beres iring terguncang-guncang dengan kencang.
Kuperhatikan selama menggenjotku otot-otot tubuhnya mengeras, tubuhnya yang gelap perkasa bercucuran keringat, benar macho sekali, lelaki sejati yang memberiku kenikmatan sejati. Suara desahanku bercampur aduk dengan erangan jantannya dan derit ranjang. Butir-butir peluh nampak di sejukur tubuhku bagai embun, walaupun ruangan ini ber-ac tapi saya merasa bahang sekali.
“Uugghh.. Non Citra.. Sayang.. Kamu emang uenak tenan.. Oohh.. Non cewek amat ayu yang telah kakak entotin” Tohir memgumam tak karuan di pusat aktivitasnya.
Dia menurunkan tubuhnya senggat menindihku, kusambut dengan pelukan erat, kedua tungkaiku kulingkarkan di pinggangnya. Dia mendekatkan mulutnya ke celebration jenjangku dan memagutnya. Sementara di rendah sana penisnya bertambah beruntun mengaduk-aduk vaginaku, diselingi gerakan berputar yang membuatku serasa diaduk-aduk. Tubuh kami telah berlumuran peluh yang sama-sama bercampur, akupun semakin ekspres memeluknya. Aku mengerang bertambah tak karuan menyambut kulminasi yang telah mendekat ibarat arus mega yang bakal menghantam pantai pantai.
Namun begitu telah di ambang klimaks, dia menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa melepaskan penisnya, dia bangun mendudukkan dirinya, lewat otomatis saya detik ini diatas pangkuannya. Dengan kedudukan ini penisnya menancap bertambah di di vaginaku, semakin terasa juga otot dan uratnya yang bagai pangkal mendira itu menggesek pembatas kemaluanku. Kembali saya menggoyangkan badanku, detik ini dengan gerakan naik-turun. Dia merem-melek keenakan dengan perlakuanku, mulutnya aktif melumat payudaraku kiri dan daksina secara bergantian membuat kedua objek itu padat tanda gigitan dan cairan liur. Tangannya lantas menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, mengelusi punggung, pantat, dan paha.
Tak lamban kamar mungil hari saya balik mendekati orgasme, lewat kupercepat goyanganku dan mempererat pelukanku. Hingga akhirnya mencapai satu titik dimana tubuhku mengejang, hinder jantung mengencang, dan pandangan kira kabur lewat disusul erangan panjang bersama melelehnya cairan suam bermula vaginaku. Saat itu dia cokot putingku dengan layak plain sehingga gelinjangku bertambah tak karuan sama rasa pedih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyanganku joke bertambah mereda, tubuhku bagai binasa rasa dan ambruk ke kabin mungil tapi ditopang dengan lengannya yang kokoh.
Dia membiarkanku berbaring mengumpulkan daya sebentar, diambilnya ajang menelan di atas bidang datar mungil sebelah ranjangku dan disodorkan ke mulutku. Beberapa rengguk cairan membuatku bertambah enakan dan tenagaku start pulih berangsur-angsur.
“Sudah bugar berulang kan Non? Kita terusin berulang yuk!” jawab Tohir senyum-senyum seraya start menggerayangi tubuhku kembali.
“Habis ini sudahan yah, kecut hati ketahuan nih,” kataku.
Kali ini tubuhku dibalikkan di kedudukan menungging, kamar mungil hari dia start menciumi pantatku. Lidahnya menelusuri ms.v dan anusku memberiku impresi geli. Kemudian saya merasa dia meludahi disitribusi duburku, iya momen kulihat ke kabin mungil dia benar berulang membuang ludahnya beberapa kali ke locus itu, lewat digosok-gosokkan dengan jarinya. Oh.. Jangan-jangan dia bakal aktif sodomi, saya telah lemah dulu membayangkan rasa sakitnya ditusuk objek sebesar itu di locus anda sedangkan dia belum juga menusuk. Pertama kali saya melakukan anal sex dengan temanku yang penisnya tak sebesar Tohir aja telah pedih banget, bahkan yang sebesar ini, aduh dapat hilang nyawa terowongan pikirku.
Benar aja yang kutakutkan, setelah melicinkan locus itu dia bangun dengan lengan daksina membimbing penisnya dan lengan kiri membuka anusku. Aku meronta kepingin menolak tapi cepat dipegangi olehnya.
“Jangan Bang.. Jangan disitu, sakit!” mohonku setengah meronta.
“Tenang Non, nikmati aja dulu, ntar juga lezat kok” katanya dengan santai.
Aku mengerang seraya menggigit guling menahan rasa pedih dampak tusukan objek ketul di duburku yang bertambah sesak bermula vaginaku. Air mataku aja mencapai meleleh keluar.
“Aduuhh.. Sudah dong Bang.. Citra nggak tahan” rintihku yang tak dihiraukannya.
“Uuhh.. Sempit banget nih” dia mengomentariku dengan durja meringis menahan nikmat.
Setelah beberapa detik menarik dan mendorong akhirnya terantuk juga penisnya. Dia diamkan pandak penisnya disana bakal beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai bakal membiasakan awak dan mengambil nafas.
Aku menjerit mungil detik dia start menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah ekspres dan heartless sehingga
tubuhku joke iring terhentak-hentak. Tangannya meraih kedua payudaraku dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringat dan air
mataku bercucuran dampak impresi nikmat di tengah-tengah rasa pedih dan ngilu, saya menangis lain dampak sedih, juga bukan
karena benci, tapi dampak rasa pedih bercampur nikmat. Rasa pedih itu kurasakan terutama di dubur dan payudara, aku
mengaduh setiap kali dia mengirim hentakan dan remasan keras, bakal melainkan saya juga tak berkenan dia menyudahinya. Terkadang saya harus
menggigit tepi maupun ganjalan bakal meredam jeritanku supaya tak pergi mencapai ke rendah sana.
Akhirnya tersedia sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuhku yang kuekspresikan dengan erangan panjang, iya saya mengalami orgasme
panjang dengan kiat heartless bagai ini, tubuhku menegang beberapa detik lamanya senggat akhirnya lemah bagai tak bertulang.
Tohir seorang awak menyusulku tak lamban kemudian, dia menggeram dan bertambah mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih
memburu dia mencabut penisnya dariku dan membalikkan tubuhku. Spermanya memancar dengan derasnya dan berceceran di sekujur
dada dan perutku, suam dan liat dengan baunya yang khas.
Tubuh kami tergolek lemah bersebelahan. Aku memejamkan alat penglihat dan mengatur nafas seraya merenungkan dalam-dalam kegilaan
yang terkini aja kami lakukan, sebuah hubungan terlarang sekitar seorang putri bermula famili berhararta dan terpelajar yang ayu dan
terawat dengan sopirnya seorang awak yang heartless dan berbeda kategori sosial. Hari-hari berikutnya saya beres semakin kecanduan seks,
terutama kelamin liar bagai ini, dimana tubuhku dipakai orang-orang heartless bagai Tohir, bermula situlah saya merasakan sensasinya.
Sebenarnya saya telah kepingin berhenti, melainkan saya tak dapat meredam libidoku yang tinggi, beres iya kujalani aja apa adanya. Untuk
mengimbanginya saya rutin merawat diriku seorang awak dengan fitness, olahraga, bersiram susu, sauna, juga mengecek bulletin suburku
secara teratur. Dua bulan ke hadapan Tohir lantas memperlakukanku bagai pesuruh seksnya mencapai akhirnya dia mengundurkan diri
untuk menemani istrinya yang menjadi TKW di Timur Tengah. Lega juga saya dapat terlepas bermula cengkeramannya, tapi terkadang aku
merasa kangen bakal keperkasaannya, dan keadaan inilah yang mendorongku bakal mencoba beragam ragam zakar senggat kini.
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !cerita dewasa ‘Sambil Menyelam Minum Air’
December 10, 2011
Congrats! Claim Ur FREE 30 Min Chat Time! Try Now!
cerita mega ‘Sambil Menyelam Minum Air’
Dulu saya luang bekerja di sebuah perusahaan privat pada negeri yang bergerak di disitribusi automotive di locus Bekasi. Ditempat itu, ucap aja PT. BT, besaran karyawannya layak banyak. Tapi beda itu yang menyebabkan saya menurunkan tulisan ini. Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang berulang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, keliru 1 diantaranya, telah membuat saya bagai balik merasakan asmara (yang dulu telah buyar bersama Galuh). Siswi tersebut, kita ucap aja namanya Muti, diperbantukan di disitribusi Personalia, sedangkan aku, bekerja di disitribusi PPIC.
Sebenernya disitribusi gawai kami kira berjauhan, melainkan akibat sama-sama mengerjakan ragam pekerjaan yang menyangkut dengan data, lewat setiap hari, kami selalu bertemu ditempat gambar copy. Awalnya sih, saya cuma sekedar mengagumi kecantikannya, akibat dengan cingur yang bangir, wujud tepi yang sensual, dihiasi legok pipit di kedua pipinya, membuat segala yang tersedia didirinya terlihat sempurna. Hari bikin yaum kami terlihat semakin akrab, apalagi berlimpah teman-temanku yang menyangka apabila saya berulang PDKT dengannya. Semua anggapan temanku, tak terlalu saya pikirkan, akibat saya merasa, Muti disini berulang belajar dan mengerjakan kewajiban yang diberikan sama sekolahnya, dan sebagai seorang pegawai di PT. BT, saya cuma sekedar membimbing dan membantu, andaikan seandainya tersedia sesuatu kondisi yang dia belum mengerti. Hampir 2 pekan saya mengenalnya, ternyata aksi dan kelakuannya semakin membuat saya terpesona.
Ketika saya mendengar gurauan keliru seorang temanku, yang berujar apabila dia percaya diri memberi Rp. 500.000,- terhadap Muti, andaikan Muti bakal menemaninya selama 2 jam, perasaanku apalagi semakin caring sama si Muti. Timbul perasaaan cemburu momen mendengar gurauan itu. Namun saya tak percaya diri bakal mengungkapkannya, akibat detik itu diantara saya dan Muti, tak mempunyai hubungan yang terlalu istimewa. Akupun merasa wajar, andaikan temanku berkata demikian, akibat dengan durja secantik itu, andaikan adil Muti memanfaatkan tubuhnya, barangkali harganya dapat diatas Rp. 350.000, per 2 pukul (harga tersebut diatas, merupakan taksiran rata-rata seorang massage lady yang telah dianggap cantik).
Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama Emma, Muti mengarah bidang datar kerjaku, awalnya gerangan bertanya mengenai sesuatu yang tersedia hubungannya dengan keperluannya, barangkali akibat merasa telah akrab, Muti juga bertanya mengenai no. HP ku, alasannya gerangan kendati mudah saja, apabila kelak dia bakal nanya sesuatu. Sambil konstan memperhatikan monitor, saya menyebutkan 1 persatu nomernya. Ketika mereka iring memperhatikan kiat kerjaku, tiba-tiba, “buukkk..” reduction sengaja, lengan Emma menyenggol bacaan yang saya apik disisi meja. Aku direk mengambil bukunya dengan kiat berjongkok. Alamak.. momen berjongkok, reduction berniat penjuru mataku melihat sesuatu yang amat berlimpah indah, 2 pasang pukang licin terpampang didepan wajahku.
Bukan cuma itu, akibat kedudukan penyangga Muti momen duduk, kira mengangkang, lewat momen ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang layak menggelitik kelelakianku. Ku amat amati dia memakai CD berwarna Pink, dengan pajangan krawang di sisinya. Mungkin akibat mereka terlalu inti memperhatikan buatan pekerjaanku, mereka tak menyadari (atau adil sengaja?) apabila di rendah meja, saya berulang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi. Karena kecut hati memanggil kecurigaan bermula kawan sekerjaku, terpaksa saya balik bersimpah dan menerangkan mengenai kiat gawai di PT. BT terhadap Muti dan Emma. Namun peristiwa yang terkini aja saya alami, konstan mengganggu pikiranku. Mungkin akibat saya tak pemfokusan dengan apa yang berulang kami bicarakan, Muti bertanya.
“Pak, mengapa kadang-kadang ngejelasinnya tak nyambung sih..”. Sebenarnya saya perasaan aib mendapat pernyataan bagai itu, bakal melainkan akibat merasa telah akrab, saya berbisik terhadap Muti dan menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Bukannya malu, Muti apalagi tersenyum mendengarnya.
“Kenapa tak disentuh aja Pak, kendati tak penasaran”, menganggu Muti. Emma yang tak tahu apa-apa, cuma melamun mendengar pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar penawaran Muti, saya apalagi berpikir yang tidak-tidak, dan membayangkan apa yang tersedia dibalik CD nya itu. Namun semuanya berusaha saya redam, akibat terpuji bagaimanapun, di PT. BT ini, saya mesti JAIM (Jaga Imej), supaya saya tak mendapatkan masalah. Bel istirahatpun berbunyi, dan kami direk mengarah bufet bakal santap siang. Baru aja saya beres makan, Muti mendekatiku dan berbisik “besok Bapak saya kelak di Hero sekitar pukul 09.00 pagi, tersedia yang kepingin saya bicarakan, saya kelak didepan ATM”. Walau singkat, tapi konstan membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa-yang bakal dibicarakan? Mengapa waktunya yaum sabtu, sedangkan kan setiap yaum sabtu PT. BT libur.
Mengapa dia berbisik amat berlimpah alun alun kepadaku, apa kecut hati terdengar yang lainnya?. Besoknya, dengan konstan berpakaian apik (seperti andaikan bakal beranjak kerja), saya mengeluarkan motorku dan beralasan lewat durasi terhadap kedua anak adam tuaku. Menunggu merupakan kondisi yang amat berlimpah membosankan, akibat mencapai di Hero, pukul terkini menunjukkan bilangan 07.30, Setelah mencari sarapan, seraya ngerokok, saya iseng-iseng iring ngantri ATM, sedangkan cuma bakal liat sisa doang, akibat duit yang tersedia di dompetku, berulang tersedia sekitar Rp. 400.000,-. Dari jauh, saya telah tahu apabila putri yang mengarah kearahku merupakan si Muti, dan dini ini, dia terlihat amat berlimpah sexy, akibat Muti cuma mengenakan kaos dan lancingan jeans ketat.
“Udah lamban iya Pak? Kan Muti janjinya pukul 09.00, kini terkini pukul 08.45, Muti tak keliru khan?”, “Jangan mendatangkan saya Bapak dech Mut, saya kan belum nikah, dan ini beda di kantor, mendatangkan namaku aja dech, kendati dapat bertambah akrab”.
“Ok deh Pak, eh Fik”, seraya tersenyum Muti direk menggandeng tanganku.
“Fik, enaknya kita ke mana yach”, pertanyaan Muti.
“Terserah, emang bakal ngomongin apaan, kayaknya individu banget”.
“Ngga juga, Muti seneng aja apabila deket ama Fik, mengapa ya?” “Mau tahu jawabannya”, candaku.
“Ngga perlu Fik, Muti juga udah tahu, Muti rasa Muti menyukai Fik”, balas Muti polos. Tanpa disadari, barangkali akibat saking senengnya, saya yang start asal adil mengagumi Muti, direk memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Muti mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, apabila kita berulang tersedia dilokasi umum, tak lezat terlihat berlimpah orang. Akhirnya kami memutuskan mencari ajang yang pas bakal berduaan. Tapi akibat yang saya tahu cuma hotel ajang satu-satunya yang pas bakal berduaan reduction kecut hati terlihat anak adam lain, terpuji terlihat kira ragu, Muti akhirnya menyanggupinya. Sekitar pukul 09.30, kami telah mencapai di garis depan bureau hotel BI, dan mengambil sebuah kabin dengan fasilitas TV dan AC. Dengan kira ragu Muti memasuki gerbang kabin (mungkin akibat terkini mula mula kalinya), dan dia kira terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi momen dia melihat kabin mandinya.
“Enak juga iya Fik, kita dapat ngobrol berduaan disini, reduction kecut hati bakal terdengar maupun terlihat sama anak adam lain”. Muti direk merebahkan badannya ke ranjang, dan mencari siaran TV yang spesial menyiarkan bulletin musik. Kebetulan banget lagunya merupakan lagu-lagu romantis, yang secara tak langsung, iring mempengaruhi hawa hati kami. Lewat aiphone, saya memesan makanan dan soothing drink. Ketika saya menyalakan rokok, terdengar bunyi room child mengetuk gerbang dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Muti yang berulang rebahan, maksudnya gerangan bakal nawarin makanan, tapi Muti direk bangkit dan bertanya.
“Fik, apakah Muti keliru asalkan Muti mencintai Fik, Muti sebenernya perasaan aib mengakuinya, tapi asalkan tak diungkapkan, Muti kecut hati apabila Fik tak mengetahui apa sebenernya yang Muti harapkan. Maafin Muti yach, Muti udah ngerepotin Fik, sedangkan kan kini waktunya prei dan istirahat, tapi Muti apalagi meminta Fik menemui Muti”. Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan segala mengenai apa yang tersedia dihatinya, seraya membelai rambutnya (agar perasaannya menjadi bertambah tenang), saya joke berusaha meyakinkannya, bahwa segala yang dialami, merupakan wajar, andaikan seseorang mencintai musuh jenisnya, dan tak tersedia yang namanya salah, andaikan telah menyangkut perasaan hati.
Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan saya mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu apalagi membuat Muti percaya diri bakal menimpali ciumanku. Dia direk melumat bibirku, dan bagai seseorang yang tak bakal kehilangan sesuatu, dia memelukku dengan ekspres sekali. Sambil lantas menikmati bibirku, tangannya lantas mengelus dan mengusap seantero disitribusi tubuhku. Mungkin beginilah kiat dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi kini saya yang bingung, akibat dengan melihatnya wujud tubuhnya aja (waktu di kantor), dapat membuat saya “konak”, kini seantero tubuhnya telah melekat ekspres ditubuhku (walau berulang memakai pakaian lengkap).
Kedua payudaranya terasa bertambah mengeras, akhirnya kuputuskan bakal menikmati kondisi ini, akibat lurus hati saja, kadang-kadang, dulu akupun kerap menghayalkan bagaimana nikmatnya andaikan bercumbu dengan si Muti, apalagi andaikan berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya ngajakin kita lego daratan (maksudnya ntar duitnya bikin ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..). tanganku start berusaha membuka kaosnya, akibat saya tak bakal pandanganku yang tertuju terhadap kedua payudaranya, terhalang sama kaos yang dia kenakan. Pelan bakal melainkan pasti, akhirnya beda cuma kaosnya yang berhasil saya buka, BH nya joke telah saya lepaskan. Sejenak saya terpana melihat keindahan wujud payudaranya itu, bakal melainkan cuma sebentar, akibat saya kepingin ekspres menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua susunya, dengan akrab saya start menghisap putingnya yang telah kira mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati disitribusi tubuhnya, start bermula leher, lantas bergerak mendarat dan mengarah putingnya kembali.
“Yaa.. hisap lantas sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nick..maaattt.. teeeruuus.. aaccchhh..” Muti lantas meracau menikmatinya. Aku lantas merangsangnya, dan mencoba membuka lancingan jeans yang dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya amat berlimpah ketat, saya kesulitan bakal membukanya, untungnya Muti mengerti, dengan kira mengangkat pantatnya, dia start mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, saya menanti dan lantas mempermainkan susunya. Setelah jeansnya terlepas, lengan Muti berusaha bakal membuka segala yang saya kenakan. Satu persatu ujung lengan tangannya membuka buah baju kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan lancingan yang saya pakai, Muti cuma menyisakan CD aja yang berulang melekat ditubuhku.
Mungkin dia berulang ragu bakal membukanya, akibat diapun berulang mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, apabila dia berulang diamuk birahi, bakal melainkan dia berulang dapat menguasai pikirannya, saya serius dia merasa kecut hati di segel sebagai cewe yang agresif dan kecut hati andaikan saya tak menyukai tindakannya. Namun saya konstan menikmati hawa yang terjadi di pada kabin hotel ini. Aku lantas menggiurkan birahinya, ciumanku saya arahkan kedaerah perutnya, lantas kebawah menyusuri bolongan pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak bakal membuka CD yang berulang melekat ditubuhnya.
Secara perlahan saya mencoba membuka CD nya, seraya lantas mencumbunya, saya menciumi setiap locus yang terkini telihat momen CD nya start bergerak turun. Muti amat berlimpah menikmati segala sentuhan yang saya berikan, apalagi momen CD nya telah terlepas, dan saya start menjilati memeknya, dia lantas mendesah dan apalagi membuka pahanya lebar-lebar supaya lidahku dapat menjilati disitribusi pada memeknya. Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat saya demen berlama-lama mencumbuinya. Aku lantas menjilati, dan dengan ujung lengan telunjukku, saya menguji menggiurkan dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin saya percepat memainkan ujung lengan telunjukku, semakin ekspres balik dia menggoyangkan pantatnya. Muti lantas mendesah dan meracau tak karuan.
“Aacchhhh.. lantas sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. bertambah ke pada berulang Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati lantas yang.. itu.. sayang.. accchhh”. Karena rangsangan yang dia dapat bertambah hebat, pantatnya beda cuma digoyang-goyangkan, tapi apalagi diangkat-angkat ke atas, barangkali tujuannya supaya bolongan memeknya yang bertambah pada iring tersentuh sama lidahku. Dengan dukungan jari-jariku, saya lantas mengaduk-aduk kandungan memek Muti, saya jamah G-Spotnya secara perlahan, dia direk menggelinjang, lewat kuelus G-Spotnya nya dengan ujung lengan tengahku, Muti bertambah liar, bagai anak adam yang berulang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas bunyi apa yang pergi bermula mulutnya, akibat yang saya tahu, bolongan memeknya telah amat berlimpah berair sama cairan kemaluannya, seantero tubuhnya bagai menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya direk terdiam dan tergolek dengan lemas.
Melihat Muti telah mencapai orgasme, saya berusaha bakal tenang, melainkan kontolku telah amat berlimpah ekspres (walau berulang tertutup sama CD) dan kepingin ekspres merasakan nikmatnya memek Muti. Aku ekspres mencium dan menjilati “lubang surga” itu, supaya Muti dapat merasakan apa yang namanya multi orgasme. Usahaku ternyata berhasil, akibat cuma pada beberapa menit, tubuhnya balik bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang amat berlimpah menggairahkan, Muti balik merasakan kenikmatan itu. Karena beberapa kali mengalami orgasme, Muti terlihat amat berlimpah lelah, biar tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia amat berlimpah kenyang dengan lisan yang saya lakukan.
Dengan tersenyum, dia mencoba bakal melepaskan CD yang berulang melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia start menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan bagai itu, saya yang semula mendominasi permainan, cuma bungkam aja menikmati permainan Muti. Dengan tepi indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke pada mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku. Gila.. ternyata Muti beda cuma cantik bikin dilihat, ternyata Muti mempunyai kemampuan yang amat berlimpah terpuji pada menggiurkan dan memanjakan kita pada permainan seksnya.
Aku berusaha supaya tak mencapai kebobolan momen dia melakukan lisan terhadapku, bakal melainkan kenyataannya, segala spermaku telah memenuhi mulutnya, momen secara reflek, saya menjambak rambut dan menarik kepalanya seraya mendesah menahan kenikmatan detik spermaku bakal keluar. Tanpa perasaan jijik, Muti menelan segala benih yang tersedia di pada mulutnya, bagai tak puas, dia menjilati kontolku yang berulang tersedia sisa-sisa spermanya.
“Fik, lezat juga iya rasa benih lo, gurih-gurih gimana gitu..”, istilah Muti memuji. Aku cuma tertawa pendek mendengarnya, akibat bal mataku konstan memandang lekuk-lekuk badan Muti yang bugil reduction sehelai benangpun menutupinya. Kuperhatikan berulang “lembah” yang dihiasi sama bulu-bulu mulus itu, ternyata, warnanya kira memerah, barangkali akibat tergesek sama alat perasa dan jari-jariku.
“Makasih iya Mut..”, kataku seraya menciumi memeknya.
“Fik, dapat tak apabila Muti berharap memek Muti di jilatin lagi, abis lezat banget sih..”, pertanyaan Muti seraya memohon.
“Boleh aja sih, tapi dapat tak apabila Fik ngentot Muti, soalnya kontol Fik udah tak perkasa nich, pengen buru-buru berada di pada memek Muti. Boleh yach?” “Muti kecut hati Fik, istilah temen-temen Muti, rasanya perih banget, tak bakal ah.. ntar apabila perih gimana?”, dorong Muti.
“Pokoknya Muti rasain aja nanti, Fik apa temen Muti yang salah”, kataku seraya start menjilati memek Muti. Dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Muti membantu melebarkan memeknya supaya mempermudah ku di pada mencumbui memeknya. Kujilati klitnya senggat dia menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima. Sengaja saya lantas menjilati klitnya, supaya dia diamuk sama gairahnya sendiri, momen kulihat tubuhnya start menegang, dan mengalami orgasme, barangkalibakal yang keberapa kali, saya direk memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang telah amat berlimpah kencang. Kuciumi disitribusi rendah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di locus tersebut.
“Fik.. lezat sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh..” Muti menggelepar menahan birahinya yang semakin besar. Kulihat ujung lengan bangkok Muti start bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia lantas mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke pada bolongan memeknya yang telah amat berlimpah berair akibat banyaknya cairan pelicin yang pergi bermula pada memeknya memeknya. Sambil konstan membenamkan wajahku diantara 2 gunungnya, tanganku secara perlahan menarik lengan Muti yang berulang asik mengeluar masukan jarinya.
Awalnya dia menolak, tapi momen saya asuh jarinya kearah kontolku, Muti direk menggenggam dan mengocoknya. Setelah kira lama, saya meminta Muti supaya dia berada diatas tubuhku yang telah pada kedudukan berbaring. Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja saya menggesek-gesekan kontolku diantara bolongan memeknya, ternyata benar, apa yang saya lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan sama Muti bertambah menjadi-jadi, diapun start bergerak menggesekan kontolku ke disitribusi asing memeknya.
Akhirnya, terpuji dengan kedudukan berada di bawah, reduction sepengetahuan Muti, saya berusaha mengarahkan kontolku supaya dapat memasuki bolongan memeknya. Muti lantas menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan reduction disadarinya, ternyata kepala kontolku start bergerak memasuki memeknya momen dia menggerakan pantatnya bermula atas ke bawah.
Terasa mulus sekali momen kepala kontolku menyentuh disitribusi pada bermula bolongan surganya, tersedia perasaan nikmat yang berat bakal diungkapkan, dan reduction terasa, telah seantero disitribusi kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Muti lantas menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Akupun lantas mengeluar masukan kontolku ke pada bolongan memeknya (walau kira berat akibat posisiku berada di bawah).
Secara reflek Muti direk merebahkan tubuhnya diatas tubuhku momen dia telah mencapai orgasmenya. Namun akibat saya belum orgasme, saya direk membalikan badannya supaya berada di rendah tubuhku. Dengan sececah santai, saya lantas menggerakan “junior”ku, bakal melainkan akibat badan Muti yang jernih dan terawat, birahiku tak dapat mengerti andaikan saya kepingin bertambah lamban menikmati kemulusan tubuhnya. Akhirnya spermaku pergi di pada kehangatan bolongan memeknya.
Chat 2 me :) Free 30 min Chat time ! Try Now !

