2010 02 19 Sex Bebas Cewek Sma

There are no posts associated to .

cewek mesum Videos - Pakistan Tube - Watch Free Videos Online

Watch cewek mesum online for giveaway on Pakistan Videos where we can hunt and watch thousands of videos online. In further to cewek mesum, we can also many renouned ...Source : cewek mesum Videos - Pakistan Tube - Watch Free Videos Online

cewek tukar baju tetek gebu

suruh cewek bugil,cewek terlanjang,cewek sma,ngintip cewek mandi,cewek panggilan,bugil ... Watch giveaway sex mms liaison clips of ... Added: 2010-02-10 10:54 ...Source : cewek tukar baju tetek gebu

cewek bugil Videos - Pakistan Tube - Watch Free Videos Online

Watch cewek bugil online for giveaway on Pakistan Videos where we can hunt and watch thousands of videos online. In further to cewek bugil, we can also many renouned ...Source : cewek bugil Videos - Pakistan Tube - Watch Free Videos Online

Telanjang' Bulat Sma (Official) - YouTube

0:32 Add to Cewek SMA Bokep Bugil Video Panas.wmv by ... 3:42 Add to PENYIMPANGAN SEX A 1 by asepmaman ... 02 Add to BUGIL SMA by CWKBUGIL ...Source : Telanjang' Bulat Sma (Official) - YouTube

Bebas Pesta Sex Anak Gaul 3gp Videos // Free YouTube Video ...

Bebas Pesta Sex Anak Gaul 3gp Free Download and save Bebas Pesta Sex Anak Gaul 3gp videos directly from Youtube, ... (Book 02, Chs 01-06) Free ... Cewek Friendster;Source : Bebas Pesta Sex Anak Gaul 3gp Videos // Free YouTube Video ...
Cerita Seks Dengan Ibu Mertua - Gossipkan Yuk

cerita seks dengan ibu


Tags: anak menantu cerita anak kandung, tapi cerita sedarah anak smp. Buat seks emak mertua ngentot dewasa,cerita o,cerita ,cerita seks.

Selengkapnya
Cubiculum Notatum surga kecil menulis

by Rendra Jakadilaga @therendra

Genre. Dalam bahasa Perancis, maknanya sebetulnya adalah jenis kelamin. Namun, dalam dunia seni dan literatur, istilah ini dipakai secara luas untuk mengelompokkan jagad karya ke dalam beberapa ruang. Mau disebut ruang juga sebenarnya rancu, karena tak ada dinding. Karya bisa menyeberang ke mana-mana. Namun, pengelompokan berdasarkan genre ini sangat membantu untuk penyebutan dalam diskusi, peletakan karya dalam galeri, penataan rak buku, dan sistem katalogisasi lainnya.

Dalam dunia seni, pengarya memakai ciri tertentu untuk secara jelas mengklasifikasikan suatu karya ke dalam genre tertentu. Katakanlah, ada garis yang nyata antara realisme dan naturalisme dalam seni lukis, antara paso doble dan tango dalam dunia tari, dan antara R&B dan Soul dalam ranah musik. Namun, lalu seiring perkembangan zaman, semuanya berkembang. Genre meluas. Atau malah menyempit, membagi ruang yang sudah dipetak menjadi lebih kecil lagi. Muncullah pop-art, breakdance, dan grunge. Semua menuntut diberi ruang baru.

Dalam dunia penceritaan—seperti literatur, film, dan komik—pengelompokan berdasarkan genre lalu menjadi jauh lebih praktis. Karya tak lagi dilihat dari gaya yang ditampilkan seperti dalam seni-seni lainnya, tapi dari isi. Bila ia bercerita tentang hantu dan hal-hal menyeramkan lainnya, maka ia horor. Bila ia bercerita tentang naga dan fantasi kanak-kanak lainnya, maka ia masuk ke bacaan anak. Inilah yang kemudian menyelamatkan komik dari paradigma “bacaan anak-anak”. Dan seterusnya. Seharusnya, jadi lebih sederhana, bukan? Tapi, tidak langsung begitu. Dalam dunia penceritaan, unsur dalam isi menyeberang kamar dengan seenaknya. Mengapa “War and Peace” dimasukkan ke Drama dan bukan genre Perang? Mengapa “Musashi” masuk kategori Aksi dan bukan Drama?

Sebaiknya tidak melihat sebuah karya itu sebagai sebuah entitas yang hanya mengandung unsur dari satu genre, tapi merupakan paduan harmonis unsur-unsur dari beberapa genre. Tentu saja, harus ada unsur yang mendominasi, agar pembaca tidak dibingungkan dengan isi. Anda tidak merasa nyaman bukan, jika mendadak cerita “Misteri Gunung Berapi” jadi naskah dua jam yang isinya lelucon melulu?

Itu sekilas pemahaman tentang apa itu genre. Sekarang mari menyelam lebih dalam!

Berikut ini saya akan paparkan secara singkat genre-genre yang umum anda dapati di rak sebuah toko buku (atau tidak, karena di Indonesia, kita tidak begitu menata toko buku).

DRAMA

Genre ini adalah genre pale umum. Ada banyak sekali definisi tentang apa itu drama. Sila kalian cari tahu. Makin banyak referensi, makin bagus.

Drama biasanya menarik kejadian sehari-hari sebagai bahan utama cerita, disajikan dengan cara sedemikian sehingga menarik emosi-emosi tertentu dari pembacanya. Drama adalah cerita dengan kewajaran, sebisa mungkin bercerita dengan aspek-aspek yang dekat dengan kehidupan para pembaca. Drama bisa saja menimbulkan perasaan sedih, haru, bangga, geli, marah, atau senang, sesuai tujuan penulisannya. Inilah yang kemudian membagi play ini menjadi beberapa genre kecil lagi.

Drama tragedi, yang memfokuskan pada penceritaan peristiwa-peristiwa menyedihkan, biasanya berakhir mengenaskan. Shakespeare adalah ahli dalam aliran satu ini. Drama komedi, yang tujuan praktisnya hanya membangkitkan tawa, namun secara utuh membungkus pesan dignified tertentu atau mengajak menertawakan diri sendiri karena benar. Drama cinta, atau roman, yang alur utamanya berkisah tentang pasang surut perjalanan hubungan dua insan, dengan tokoh-tokoh penghambatnya. Roman bisa berakhir menyenangkan, namun tak jarang juga sedih.

Penulis pemula biasanya akan banyak bermain di ranah ini, karena pale mudah pendekatannya. Tapi tak boleh anda anggap enteng. Karena play ini adalah genre pale populer, bisa dibilang sangat sulit untuk mengharapkan sebuah cerita tidak terulang. Karenanya, banyak membaca akan membantu anda berhati-hati mencari ide.
Untuk membangun suasana yang membangkitkan emosi, anda harus memperkaya diri anda dengan environment yang bermacam-macam. Berlatihlah menulis environment bukan hanya dengan rincian fisik, tapi juga rincian inderawi, seperti suara yang dihasilkan, bagaimana rasanya jika dicicipi, bagaimana perasaan yang bisa dibangkitkan oleh keadaan seperti itu, dan lain-lain.

Pikirkan finale yang berbeda, yang tak tertebak pembaca, yang mungkin tak tertebak oleh anda sebagai penulisnya sendiri. Diksi juga berperan sangat penting. Karena anda bercerita untuk menarik emosi sekaligus membangkitkan pemahaman pembaca, maka sangat penting untuk bercerita dengan harmoni yang menarik dan tak datar.

HOROR

Mungkin, anda hanya membayangkan hal menyeramkan bila mendengar kata ini. Horor, secara harfiah, memang berhubungan dengan naluri manusia pale dasar: rasa takut. Tentu saja, tak serta merta horor membatasi isi karya pada deretan makhluk abnormal yang terkenal memiliki kemampuan menyakiti manusia secara mental maupun fisik, sebut saja: Vampir, Werewolf, Hantu, Kuntilanak, Pocong, dan lain-lain.

Tentu saja, selama ia menyangkut rasa takut manusia, seharusnya sebuah cerita masih bisa diterima sebagai Horor. Horor meniadakan rasionalisasi peristiwa. Semua mungkin. Arwah perempuan yang keluar dari rekaman video. Panggilan telepon yang bisa membunuh. Namun begitu, kita mengecualikan rasa takut yang bisa dikelola akal sehat seperti takut dipecat, takut diceraikan, dan sebagainya sehingga ia tak dimasukkan ke dalam horor.

Horor lalu berkembang menjadi Thriller, Slasher, dan Urban Legend. Thriller lebih titik berat pada rasa tegang terus menerus. Slasher—yang saya benci—sepertinya hanya bercerita tentang pembunuhan atau penyiksaan dengan rincian yang luar biasa lengkap. Urban Legend memanfaatkan cerita rakyat setempat yang dihubung-hubungkan dengan peristiwa-peristiwa terkini.

Menulis Horor tidaklah semudah yang anda kira. Untuk dapat menciptakan diksi horor yang baik, anda terlebih dahulu harus bersentuhan dengan inti rasa takut anda sendiri. Esensi takut itu harus dipahami dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat anda menghadapi ketakutan mereka. Ini akan membantu anda menceritakan secara rinci perasaan tokoh dalam cerita anda.

Anda harus kreatif. Tapi tidak boleh terlalu kreatif sampai menggabungkan kuntilanak dengan putri duyung dan berharap seseorang akan takut dengan itu. Konyol! Tapi, anda bisa mengambil bagian Putri Duyung dari Seri Pirates of a Carribean terakhir untuk anda jadikan bahan misalnya. Jika anda memakai tokoh antagonis yang seram, pikirkan secara visible seperti apa penampilannya dan konsistenlah menceritakan sedikit-sedikit deskripsinya.

Rinci. Kekuatan horor ada pada rinci. Semakin anda rinci menggambarkan suasana, semakin mencekam cerita anda jadinya. Perasaan tokoh yang sedang merasa takut, jika diceritakan secara rinci joke akan membantu pembaca ikut merasakan takut yang serupa.

AKSI/LAGA

Kalau kita masukkan kisah Detektif, Olahraga, Silat, Perang, dan Petualangan ke dalam genre ini, bisa jadi inilah genre yang warnanya pale menarik. Genre Laga memang genre yang pale laku dalam dunia film karena begitu mudahnya dinikmati. Laga, secara umum, memiliki struktur di mana alur cerita diatur sedemikian rupa sehingga peristiwa demi peristiwa membentuk rantai yang kuat. Dalam cerita laga, yang terpenting adalah APA yang terjadi, emosi dan perasaan pembaca hanya jadi bumbu.

Ragam dalam Laga ini memang pale banyak. Kisah Detektif pale terkenal bisa diwakili oleh Petualangan Sherlock Holmes dan Seri Hercule Poirot. Genre olahraga tak banyak digarap dalam dunia literatur, tapi dalam film ada King dan Babe! Dan dalam komik ada Prince of Tennis dan Shoot!. Alur utamanya berputar di sekitar perjuangan tokoh utama meraih cita-citanya dalam Olahraga. Cerita Silat pernah sangat renouned di Indonesia lewat Kho Ping Hoo, Wiro Sableng, dan Senopati Pamungkas. Cerita yang diusung sebetulnya sangat-sangat-drama, namun nuansa silat sangat kental di dalamnya. Bayangkan saja, untuk berebut kekasih saja, seseorang harus bertarung dua belas jurus dan berakhir dengan salah satu muntah darah. Cerita perang berbeda dengan play dengan environment perang. “Grave of a Fireflies” adalah Drama dengan environment perang, sedangkan “The A-Team” adalah Laga Perang. Berhati-hati membedakannya. “Saving Private Ryan” mungkin sarat drama, tapi ia tetap kita golongkan sebagai Laga Perang. Jika anda tertarik dengan cerita Perang, referensi Film Perang Timur Tengah, Vietnam, dan Korea akan sangat membantu anda. Petualangan, yang saya maksud adalah cerita-cerita avonturir semacam Indiana Jones dan Tomb Raider yang betul-betul membawa pembaca/penonton menjelajah ke ranah yang mungkin dalam kehidupan nyata belum bisa mereka alami. Petualangan adalah ramuan padu antara adrenalin, cita-cita, rasa bangga, heroisme, dan secuil romansa.
Untuk menulis laga, satu hal perlu kita ingat: karena laga itu adalah rantai peristiwa yang harus kuat maka kerunutan harus konsisten. Dengan demikian, yang terpenting dalam penulisan cerita laga ini adalah LOGIKA. Anda sudah belajar ini di Bab sebelumnya, bukan?

Anda bisa mulai dengan menentukan apa tujuan akhir cerita anda dan dari mana anda hendak mulai. Lalu tariklah garis lurus antara kedua titik itu. Di dalamnya ciptakanlah rentetan peristiwa yang mengalir logis. Sesederhana itu. Tapi ada sedikit trik!

  1. Untuk cerita detektif, logika anda harus lebih kental dan beberapa tingkat lebih maju dari kebanyakan pembaca. Ini bisa dilatih dengan membaca kisah-kisah detektif atau kasus-kasus kriminal dari koran. Akan tetapi, potensi membosankan akan muncul manakala tokoh detektif kita tidak punya karakter yang unik. Lihatlah Kudo, Holmes, Poirot, dan Monk. Mereka legenda di ranah masing-masing. Takkan terlupakan.
  2. Untuk genre olahraga, pembaca mengharapkan akan muncul rasa bangga di akhir cerita, bahkan ketika si tokoh harus kalah. Pastikan anda betul-betul merasakan sendiri perjuangan yang dialami tokoh. Dan jangan lupa untuk memahami betul olahraga apa yang ditekuni sang tokoh.
  3. Untuk genre silat, ada bahasa tertentu yang berguna untuk anda kuasai. Misalnya: “jarak pendopo dari alun-alun hanya sepeminuman teh saja”. Tapi, tak selalu begitu, bergantung pada environment juga. Anda bisa kreatif dengan adegan. Anda bisa menamai jurus-jurus pahlawan anda dengan nama-nama menyeramkan atau malah konyol. Semua terserah anda. Yang penting, jagoan anda jangan terlalu mudah menangnya.
  4. Perang adalah tempat memetik simpati. Saya sarankan untuk tidak menulis laga perang kalau anda tidak punya pesan dignified untuk disampaikan. Pembaca tidak akan mengharapkan jagoan anda menang perang. Mereka hanya akan berharap tokoh itu belajar sesuatu dari perang itu sendiri.
  5. Petualangan itu ranah pale seru. Saya berkali-kali tenggelam menulis kisah seperti ini. Waktu kecil. Dalam petualangan yang penting adalah misi. Misi ini bisa jadi menyelamatkan seorang putri, mengambil tanaman obat di puncak gunung iblis, atau sesederhana mengembalikan batu bertuah ke gua belakang sekolah. Misi haruslah punya sederet penghambat. Penghambat bisa internal, eksternal, atau environmental. Lalu, biasanya ada sidekick, jadi tokoh kita takkan bertualang sendirian, juga membuka peluang timbul konflik. Saran saya: setelah menetukan misi dan titik awal, biarkan kepala anda dengan liar menciptakan peristiwa-peristiwa di antaranya.

FIKSI ILMIAH

Fiksi Ilmiah menjadi genre pale eksklusif dalam dunia literatur karena memiliki komunitas sendiri. Pecinta genre ini joke seringkali fanatik. Fiksi Ilmiah menggelar cerita yang dilatari sebuah fenomena ilmiah. Tentu saja, hanya berharap pada fenomena ilmiah itu tidak mungkin, penulis akan butuh drama, aksi, mungkin sedikit horor di dalamnya. Namun, anda akan dengan mudah mendeteksi sebuah kisah termasuk Fiksi Ilmiah atau bukan dengan mengamati unsur-unsur yang bermain di dalamnya.

Perbendaharaan Fiksi Ilmiah yang pale populer adalah robot. Robot menarik dijadikan cerita karena kemiripannya dengan manusia. Robot bisa dijadikan musuh, teman, keluarga, alat, bahkan pahlawan. Saksikan bagaimana drudge beraksi dalam “Terminator”, “I, Robot”, “A.I”, “Real Steel”, dan “Astro Boy”. Masing-masing cerita itu dialiri warna berbeda namun tetap kita kenali sebagai kisah fiksi ilmiah.

Kisah Alien dan penjelajahan ruang angkasa juga sering diangkat. Alien sama dengan robot, begitu mudah dijadikan bahan kisah karena kemiripannya dengan manusia. Namun, tentu saja, dengan menggambarkan bahwa visitor adalah intruder yang lebih higher saja sudah bisa menghasilkan ribuan kisah luar biasa. Ingat “War of a Worlds”, “E.T.”, “Aliens in a Attic”, dan “Ben 10”? Lain halnya jika manusia menjelajah ke luar angkasa mencari ranah baru. Kita lebih leluasa menampilkan kerakusan dan keegoisan yang sok meninggikan manusia sebagai ras, seperti dalam “Avatar”, “Starship Troopers”, dan “Planet of a Apes”. Tentu saja, kita bisa menciptakan epik yang super epik dari aliran ini: “Star Wars saga” dan “Star Trek”.

Penjelajahan waktu tak kalah populer dari dua perbendaharaan Fiksi Ilmiah di atas. Luar biasanya, ada seribu satu cara untuk menceritakan penjelajahan waktu. “Time Machine” dengan kendaraan mekanis yang berstruktur rumit. “Back to a Future” dengan sebuah mobil yang harus menembus kecepatan 88 mil/jam. “Time Traveller’s Wife” bahkan bisa melompati waktu tanpa alat. Di samping sarana penjelajahan waktunya sendiri yang bisa berbentuk apa saja, cerita kita bisa menciptakan alur yang fleksibel luar biasa. Dalam penjelajahan waktu, kamu bisa berada di mana saja kapan saja. Kreatiflah.

Di samping tiga arus utama dalam Fiksi Ilmiah, sebetulnya pembaca juga mengenal Rekayasa Genetika yang memperkenalkan Kloning, Penciptaan Makhluk Baru, dan Mutan; lalu masih ada Penemuan Luar Biasa yang mungkin berkisah tentang teknologi yang masih di luar alam potensi; Fenomena X yang bercerita tentang kejadian-kejadian aneh namun menjaganya bermain di koridor ilmiah seperti “The X-Files”; dan sebagainya.

Fiksi Ilmiah yang memang murni lahir dari imajinasi liar seorang penulis memiliki potensi pengembangan yang luar biasa luas. Meskipun, anda sebagai penulis tetap harus berpijak pada teori ilmiah, tapi pikirkan kembali: “apakah penjelajahan waktu dan visitor itu sesuatu yang sudah terbukti?”. Berpikirlah liar. Ciptakan cabang-cabang baru dalam ranah Fiksi Ilmiah. Satu saja syaratnya: bebaskan imajinasi anda.

FANTASI

Fantasi sangat dekat dengan dongeng. Tentu saja, dongeng tidak serta merta menjadi dominasi anak-anak. Orang dewasa joke butuh dongeng. Untungnya, kita punya “The Little Prince”. Ketika kita berbicara tentang fantasi, lagi-lagi kita berbicara tentang sesuatu yang liar. Sesuatu yang tak pernah ada di dunia ini namun kita ceritakan. Dan untuk apa kita melakukan itu? Untuk menyampaikan sebuah pesan yang tidak bisa disampaikan dengan cukup menarik dengan cara yang biasa-biasa saja.

Banyak cerita fantasi yang memang berasal dari benih-benih kegilaan. Namun kegilaan dalam artian positif. “Alice in Wonderland”—anda tak mungkin tak menangkap adanya lunatisme yang mengusik di sana: kelinci yang terobsesi dengan waktu, kembar yang selalu mengatakan hal yang berlawanan, tukang topi yang menggemari acara minum teh tanpa teh, dan tokoh utama yang mau-mau saja dibodohi petunjuk tertulis pada makanan atau minuman. Ini satu contoh kisah fantasi yang luar biasa. Jagad yang ia ciptakan akan membantumu memahami apa itu fantasi.

Seperti Fiksi Ilmiah, Fantasi juga genre yang memiliki komunitas fanatik sendiri, dan memiliki perbendaharaan tandingan: Sihir, Naga, Kerajaan, Kurcaci, Raksasa, Benda Bertuah, dan lain-lain.
Banyak cerita fantasi untuk anak-anak yang beralur sederhana seperti, seorang pangeran yang harus mengalahkan naga untuk menyelamatkan sang putri. Ya, naganya bisa diganti semak berduri. Dan kebanyakan penulis dongeng fantasi untuk anak-anak merasa cukup dengan itu. Tak banyak yang memikirkan cukup jauh seperti yang dilakukan J.K. Rowling ketika ‘mengandung’ Harry Potter.

“Harry Potter” adalah jagad rekaan yang sangat lengkap. Dengan konsep dunia sihir saja, Rowling berhasil mereka sebuah dunia yang tidak hanya berisi para penyihir dengan sapu dan tongkat sihir, tapi juga menyiapkan seluruh tokoh yang bahu membahu menciptakan jagad cerita: muggle, peri-rumah, goblin, troll, raksasa, duyung, centaur, dan binatang-binatang ajaib. Ia menciptakan juga Sekolah sihir, Kementrian sihir, Pasar Sihir, dan Desa Para Penyihir Klasik. Tak berhenti di situ, Rowling menyusun sejarah sihir yang rinci tentang para tokoh kunci, and dia betul-betul menerbitkan buku yang disebut-sebut dalam jagad cerita itu.

Tandingan “Harry Potter” mungkin hanya “Lord of a Rings”. Keduanya betul-betul mengeksploitasi dunia di mana sihir adalah sebuah kemampuan yang bisa dipelajari oleh orang-orang tertentu dan tidak ada yang tak mungkin. Saya takkan menyinggung kembali betapa epiknya kisah ini karena anda merasakannya sendiri. Masih ada “Narnia”, “Eragon”, dan lain-lain juga, bukan?

Seperti pada Fiksi Ilmiah, untuk menulis fantasi yang dibutuhkan adalah alat tulis, dan benak dengan imajinasi menggila. Anda bisa saja menciptakan kotak yang bisa mengabulkan semua keinginan dan menjebak tokoh utama untuk menghabiskan keabadian di dalamnya sebagai gantinya. Anda bisa saja menemukan sebuah taman di mana bayi-bayi lahir dari bunga yang mekar. Anda bisa saja menjadi salah satu dari seluruh manusia yang mengecil hingga sepersepuluh ukuran asli di dunia yang baru. Cuma satu saja yang anda tidak bisa: salah.

****

Ada jauh lebih banyak genre yang ada daripada yang bisa saya jelaskan. Namun, sila anda perluas wawasan anda. Baca bacaan dari aliran yang mungkin anda tidak suka. Cobalah menulis di luar aliran yang biasa anda tulis. Anda akan kaget mendapati sejauh mana anda sudah berkembang.

Cubipupils, kali ini tidak ada tugas dari saya. Bagaimana joke juga, saya berikan kesempatan pada kalian untuk bertanya. Bisa lewat email, bisa juga lewat comment. Terima kasih.

Ika Natassa (Author of divortiare)

Dengan ini saya menyatakan bahwa Cerpen berjudul "Rumah" yang dimuat di Majalah Femina edisi F51/2011 edar: 29 Desember 2011 adalah benar karya yang sangat mirip dengan cerita pada novel Divortiare karya Ika Natassa, terbitan Gramedia Pustaka Utama (Juni 2008) khususnya di halaman 145 - 152.

Berdasarkan pembicaraan saya dengan Saudari Asteria Elanda (Redaktur Pelaksana Feature Fem...

review some-more »
Kisah Beauty & a Beast: The Haque Sisters Revealed

rumah baru KBB