IDP Siap Go International
May 22, 2012

T2 Garap Video Klip di Jepang
May 21, 2012

Ratna Listy Rilis Single ‘Jangan Menyerah’
May 21, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta - Cukup lama tak terdengar namanya, Ratna Listy ternyata kini lebih konsentrasi di dunia nyanyi. Ratna baru saja merilis singular terbaruJangan Menyerah.
Sejak tak lagi menjadi presenter Bedah Rumah, nama Ratna Listy memang jarang terdengar. Meski begitu, bukan berarti Ratna menghilang dari dunia entertain. Ratna yang usianya kini menginjak 38 lebih berkonsentrasi menjadi penyanyi.
Berkat penghargaan di ajang Anugerah Musik Indonesia 2010 untuk kategori Karya Musik Berbahasa Daerah lewat manuscript Janur Melengkung, Ratna tercambuk lebih tekun mendalami musik. Jangan Menyerah joke menjadi pertarungan kedua Ratna di industri musik.
"Saya joke masih punya keyakinan, para fans pasti menunggu comeback-nya saya di dunia tarik suara. Ya, mudah-mudahan saja single ini bisa ditanggapi positif para penggemar musik di Indonesia," harap Ratna, saat ditemui di Jakarta, Minggu (20/5).
Tembang Jangan Menyerahmerupakan lagu yang berkisah tentang nasehat antigalau. Ratna ingin siapa joke yang mendengar lagu tersebut tak besedih, meski tengah patah hati.
"Sebab kehilangan cinta itu bukanlah segalanya. Nah, lewat lagu Jangan Menyerah, saya ingin memberikan semacam motivasi," tutur ibu dari Reiki (8) dan Keisha (6) ini.
Ratna Listy berani menyebut bahwa cinta pertamanya di dunia karir adalah sebagai penyanyi. Maka itu sampai kapanpun dia tidak ingin meninggalkannya.
"Saya kangen saja sama dunia panggung (off air) atau tampil di module musik di layar-layar televisi," ujar bintang sinetronMenjemput Impianitu. mor
Kabar Terbaru, Konser Lady Gaga Digelar di Bali?
May 18, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta - Kabar terbaru beredar mengenai rencana konser Lady Gaga. Kemungkinan, konser Lady Gaga dipindah dan akan digelar di Bali.
Sebelumnya, konser Lady Gaga bertajuk 'Born This Way Ball II' akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 3 Juni mendatang. Namun karena mendapatkan penolakan dan tak mendapat izin dari kepolisian, konser tersebut sepertinya akan dipindah dari Jakarta.
Hal itu diperkuat dengan sikap Big Daddy selaku promotor. Sebagai promotor, Big Daddy belum menyakatan sikap apa joke kepada media. Dari sebuah sumber, Big Daddy kabarnya tengah berusaha semampunya untuk tetap menggelar konser Lady Gaga.
Namun ketika hendak dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, Big Daddy mendadak susah dihubungi. Sementara ormas FPI, melalui Habib Salim Alatas alias Habib Selon tetap menyatakan menentang dan menolak konser Gaga dimanapun konser itu digelar di Indonesia.
"Kami tetap menolak keras," tegasnya saat dihubungi wartawan melalui telepon selular, Jumat (18/5).
Salim menambahkan, FPI akan mendesak Kapolri untuk melarang adanya konser bintang cocktail dunia yang kerap tampil nyentrik itu. Pihak promotor joke sejauh ini, menurut Salim belum ada ajakan untuk membahas masalah konser tersebut secara musyawarah.
"Belum ada sama sekali. Kalau diundang kami pasti datang," terangnya.
Soegija, Nirwan Dewanto Dapat Pengalaman Bathin
May 18, 2012
BeritaMusik.COM, Jakarta - Nirwan Dewanto mengaku mendapat pengalaman bathin selama menjalani proses syuting film 'Soegija'. Nirwan yang seorang Muslim membintangi tokoh Soegija yang merupakan uskup pertama di Indonesia.
Nirwan yang selama ini berprofesi sebagai penyair, mengaku sempat menolak tawaran sutradara Garin Nugroho untuk membintangi Soegija. Namun, ia tidak menyesal sudah berani menerima pekerjaan itu.
"Masalahnya saya bukan aktor dan nggak punya waktu. Tapi saya bisa cuti dan syuting. Keputusan saya tepat karena punya pengalaman bathin di film ini, syuting itu seperti perang," ungkap Nirwan saat usai acara 'Apa Di Balik Soegija' di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (16/5)
Meski berperan sebagai seorang uskup bijak, Nirwan tidak terpengaruh. Ia joke malah senang bisa berbaur dengan teman-temanya yang baru diketahui ternyata beragama katolik.
"Saya juga bertemu teman-teman lama di sana dan baru tahu mereka Katolik tapi film ini nggak buat saya jadi katolik," tuturnya.
Film Soegija merupakan proyek terbaru Garin Nugroho mengenai sejarah yang mengambil latar tahun 2940-an. Film itu melibatkan lebih dari 2.775 orang dengan menggunakan enam bahasa dan menghabiskan dana Rp12 milyar. Film ini akan ditayangkan di seluruh di Indonesia mulai 7 Juni 2012. fei
Pembatalan Konser Lady Gaga: Menghadang Wakil Setan
May 18, 2012
Kontroversi Lady Gaga mencapai titik kulminasi dengan dibatalkannya konser bertajuk 'The Born This Way Ball'. Penyanyi eksentrik dari Amerika Serikat itu tak lagi punya kesempatan untuk unjuk gigi di stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
Hingga hari ini, izin konser Lady Gaga belum diberikan Polda DKI Jakarta, lantaran desakan dan rekomendasi dari berbagai organisasi dan ormas Islam di negara ini, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Front Pembela Islam (FPI).
Ormas yang terakhir disebut bahkan mengancam memicu kerusuhan di Jakarta jika Lady Gaga jadi tampil di bumi Indonesia. Demi keamanan, Polda Metro Jaya sebagai pemegang mandat penjaga stabilitas di Jakarta memilih tidak mengeluarkan surat izin konser yang rencananya akan digelar pada 3 Juni mendatang. Padahal, lebih dari 30.000 tiket telah terjual habis diserap a Little Monster, sebutan untuk fansnya. Harga tiketnya bervariasi dari R.000 hingga RѢ,25 juta, harga yang tidak semua orang Indonesia mampu membayarnya.
Kisruh izin konser Lady Gaga dipicu oleh penolakan sejumlah tokoh muslim konservatif karena dianggap mempromosikan penyembahan pada setan. "Dia adalah penyanyi coarse yang hanya mengenakan celana dalam dan bra ketika bernyanyi. Dia juga menyatakan diri sebagai utusan setan dan akan menyebarkan ajaran setan," kata Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salim Alatas.
Protes atas konser Lady Gaga juga disampaikan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Forum Umat Islam (FUI) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat. Isi suratnya meminta polisi mempertimbangkan pelaksanaan konser penyanyi wanita yang memiliki nama asli Joanne Stefani Germanotta tersebut.
Intinya, polisi diminta agar mengeluarkan kebijakan agar suasana Ibukota tetap kondusif. Surat permohonan penolakan itu telah ditanggapi Sekretariat Negara yang dilanjutkan kepada Polda Metro Jaya. Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, juga mengatakan hal yang sama.
Gamawan menilai Polri pasti telah memiliki pertimbangan khusus dan dipikirkan dengan matang, dengan tidak memberikan izin konser penyanyi yang gemar berdandan nyentrik itu. "Pastilah Pak Kapolri punya pertimbangan untuk masyarakat Indonesia," katanya.
Bukan kali ini saja konser Gaga ditolak publik. Sebelumnya, sebuah kelompok Kristen di Korea Selatan menolak pagelaran tersebut. Pemerintah Korsel tidak sampai tidak memberikan izin, hanya membatasi usia penonton konser. Alhasil, konser tersebut hanya dihadiri penonton berusia 18 tahun ke atas.
"Beberapa orang di kebudayaan tertentu memang bisa menerimanya, tapi efeknya bagi agama sangat besar. Bahkan orang dewasa sekalipun tidak boleh melihat penampilannya, yang berbau homoseksual dan porno," kata pendeta Yoon Jung-hoon yang menggawangi penolakan terhadap konser Gaga di korsel.
Sosok kelahiran New York,28 Maret 1986, ini memang penuh kontroversi. Ia berani tampil mendobrak kemapanan budaya, meski terkesan urakan dan nyeleneh. Tanpa tedeng aling-aling, ia memprokamirkan diri sebagai duta setan di dunia. Setan, yang mampu menghipnotis penonton menuju dunia lain, dunia setan.
Lirik lagunya, musiknya, dan penampilannya yang bertema setan, sudah membawanya pada pembenaran isu bahwa ia adalah pemuja setan. Plus penampilan coarse seksual menambah lekat lagi tarnish setan bagi Lady Gaga.
Tak pelak, kehadiran Lady Gaga mendapat penolakan dari kelompok agama Kristen, maupun agama Budha, di sejumlah negara lainnya di Asia. Termasuk di Indonesia, tentangan berasal dari kelompok masyarakat Islam.
Awal kehadirannya di pentas musik dunia pada 2008, Lady Gaga terbilang sukses. Dalam manuscript perdana The Fame, Lady Gaga lebih banyak mengeksplorasi lagu tentang ketenaran, kekayaan, dan budaya pop. Namun berbeda pada manuscript berikutnya, The Fame Monster. Di manuscript ini lagu-lagu Gaga bertemakan monster, vampir, dan kematian. Sementara di manuscript terbaru Born This Way, Lady Gaga seperti ingin mendirikan sekte kepercayaan dengan lagu-lagu bertema kepercayaan dan agama.
Sebagai artis yang membutuhkan personel branding, pilihan Lady Gaga menjadi The Mother Monster bisa jadi tepat. Pilihan uniknya ini mendapat sambutan pecinta musik dunia. Dalam waktu singkat ia berhasil menjaring delapan juta pengikut di Twitter.
Atas nama kebebasan berekspresi, Lady Gaga kerap mencampuradukkan sejumlah simbol sakral keagamaan dalam berbagai karyanya. Misalnya aksi Gaga sebagai biarawati di video klip Alejandro. Lady Gaga juga sering berpenampilan seronok saat tampil di atas panggung. Tak pelak, pilihannya itu mendapat perlawanan dari kelompok yang ingin mempertahankan kemapanan dan kesucian ajaran agama.
Alhasil, konser Lady Gaga di Indonesia kini telah berubah menjadi ‘medan pertarungan’ antara penjaga kesucian agama dan para pendobrak kemapanan yang berdalih kebebasan ekspresi seni. Sementara pihak penyelenggara ingin mengeduk keuntungan dari kehadiran puluhan ribu Little Monster di Gelora Bung Karno Jakarta.
Di mata para pendukung Lady Gaga, negara telah gagal menjaga semangat pluralisme di Republik ini. "Seni adalah seni, harus dipandang sebagai karya. Andaikan ada yang kurang diterima oleh sebagian masyarakat, selesaikanlah dengan cara bermartabat, bukan dengan cara ancaman, intimidasi, atau tindakan kekerasan," kata Wakil Ketua Komisi we DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin.
Namun para penentang Lady Gaga berdalih melindungi budaya Indonesia dari serbuan budaya asing yang melanggar norma agama.
Jadi, tak ada tempat bagi 'wakil setan' di negeri ini. Maklum, Indonesia merupakan negara dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Kesetanan Yang Maha Kuasa. (HP, dari berbagai sumber)
Lady Gaga Dicekal: Menghadang Konser Setan?
May 18, 2012
Kontroversi Lady Gaga mencapai titik kulminasi dengan dibatalkannya konser bertajuk 'The Born This Way Ball'. Penyanyi eksentrik dari Amerika Serikat itu tak lagi punya kesempatan untuk unjuk gigi di stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
Hingga hari ini, izin konser Lady Gaga belum diberikan Polda DKI Jakarta, lantaran desakan dan rekomendasi dari berbagai organisasi dan ormas Islam di negara ini, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Front Pembela Islam (FPI).
Ormas yang terakhir disebut bahkan mengancam memicu kerusuhan di Jakarta jika Lady Gaga jadi tampil di bumi Indonesia. Demi keamanan, Polda Metro Jaya sebagai pemegang mandat penjaga stabilitas di Jakarta memilih tidak mengeluarkan surat izin konser yang rencananya akan digelar pada 3 Juni mendatang. Padahal, lebih dari 30.000 tiket telah terjual habis diserap a Little Monster, sebutan untuk fansnya. Harga tiketnya bervariasi dari R.000 hingga RѢ,25 juta, harga yang tidak semua orang Indonesia mampu membayarnya.
Kisruh izin konser Lady Gaga dipicu oleh penolakan sejumlah tokoh muslim konservatif karena dianggap mempromosikan penyembahan pada setan. "Dia adalah penyanyi coarse yang hanya mengenakan celana dalam dan bra ketika bernyanyi. Dia juga menyatakan diri sebagai utusan setan dan akan menyebarkan ajaran setan," kata Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salim Alatas.
Protes atas konser Lady Gaga juga disampaikan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Forum Umat Islam (FUI) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat. Isi suratnya meminta polisi mempertimbangkan pelaksanaan konser penyanyi wanita yang memiliki nama asli Joanne Stefani Germanotta tersebut.
Intinya, polisi diminta agar mengeluarkan kebijakan agar suasana Ibukota tetap kondusif. Surat permohonan penolakan itu telah ditanggapi Sekretariat Negara yang dilanjutkan kepada Polda Metro Jaya. Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, juga mengatakan hal yang sama.
Gamawan menilai Polri pasti telah memiliki pertimbangan khusus dan dipikirkan dengan matang, dengan tidak memberikan izin konser penyanyi yang gemar berdandan nyentrik itu. "Pastilah Pak Kapolri punya pertimbangan untuk masyarakat Indonesia," katanya.
Bukan kali ini saja konser Gaga ditolak publik. Sebelumnya, sebuah kelompok Kristen di Korea Selatan menolak pagelaran tersebut. Pemerintah Korsel tidak sampai tidak memberikan izin, hanya membatasi usia penonton konser. Alhasil, konser tersebut hanya dihadiri penonton berusia 18 tahun ke atas.
"Beberapa orang di kebudayaan tertentu memang bisa menerimanya, tapi efeknya bagi agama sangat besar. Bahkan orang dewasa sekalipun tidak boleh melihat penampilannya, yang berbau homoseksual dan porno," kata pendeta Yoon Jung-hoon yang menggawangi penolakan terhadap konser Gaga di korsel.
Sosok kelahiran New York,28 Maret 1986, ini memang penuh kontroversi. Ia berani tampil mendobrak kemapanan budaya, meski terkesan urakan dan nyeleneh. Tanpa tedeng aling-aling, ia memprokamirkan diri sebagai duta setan di dunia. Setan, yang mampu menghipnotis penonton menuju dunia lain, dunia setan.
Lirik lagunya, musiknya, dan penampilannya yang bertema setan, sudah membawanya pada pembenaran isu bahwa ia adalah pemuja setan. Plus penampilan coarse seksual menambah lekat lagi tarnish setan bagi Lady Gaga.
Tak pelak, kehadiran Lady Gaga mendapat penolakan dari kelompok agama Kristen, maupun agama Budha, di sejumlah negara lainnya di Asia. Termasuk di Indonesia, tentangan berasal dari kelompok masyarakat Islam.
Awal kehadirannya di pentas musik dunia pada 2008, Lady Gaga terbilang sukses. Dalam manuscript perdana The Fame, Lady Gaga lebih banyak mengeksplorasi lagu tentang ketenaran, kekayaan, dan budaya pop. Namun berbeda pada manuscript berikutnya, The Fame Monster. Di manuscript ini lagu-lagu Gaga bertemakan monster, vampir, dan kematian. Sementara di manuscript terbaru Born This Way, Lady Gaga seperti ingin mendirikan sekte kepercayaan dengan lagu-lagu bertema kepercayaan dan agama.
Sebagai artis yang membutuhkan personel branding, pilihan Lady Gaga menjadi The Mother Monster bisa jadi tepat. Pilihan uniknya ini mendapat sambutan pecinta musik dunia. Dalam waktu singkat ia berhasil menjaring delapan juta pengikut di Twitter.
Atas nama kebebasan berekspresi, Lady Gaga kerap mencampuradukkan sejumlah simbol sakral keagamaan dalam berbagai karyanya. Misalnya aksi Gaga sebagai biarawati di video klip Alejandro. Lady Gaga juga sering berpenampilan seronok saat tampil di atas panggung. Tak pelak, pilihannya itu mendapat perlawanan dari kelompok yang ingin mempertahankan kemapanan dan kesucian ajaran agama.
Alhasil, konser Lady Gaga di Indonesia kini telah berubah menjadi ‘medan pertarungan’ antara penjaga kesucian agama dan para pendobrak kemapanan yang berdalih kebebasan ekspresi seni. Sementara pihak penyelenggara ingin mengeduk keuntungan dari kehadiran puluhan ribu Little Monster di Gelora Bung Karno Jakarta.
Di mata para pendukung Lady Gaga, negara telah gagal menjaga semangat pluralisme di Republik ini. "Seni adalah seni, harus dipandang sebagai karya. Andaikan ada yang kurang diterima oleh sebagian masyarakat, selesaikanlah dengan cara bermartabat, bukan dengan cara ancaman, intimidasi, atau tindakan kekerasan," kata Wakil Ketua Komisi we DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin.
Namun para penentang Lady Gaga berdalih melindungi budaya Indonesia dari serbuan budaya asing yang melanggar norma agama.
Jadi, tak ada tempat bagi 'wakil setan' di negeri ini. Maklum, Indonesia merupakan negara dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Kesetanan Yang Maha Kuasa. (HP, dari berbagai sumber)
Film Soegija Angkat Tentang Uskup Pribumi Pertama
May 17, 2012
Kamis, 17 Mei 2012 14:39 wib
Egie Gusman - BeritaMusik
JAKARTA- Sutradara kondang Garin Nugroho kembali membuat gebrakan dengan film terbarunya berjudul Soegija yang akan segera tayang pada 7 Juni 2012.
Film Soegija sendiri diadaptasi dari kisah nyata mengenai perjuangan seorang Uskup pribumi pertama dalam Gereja Katolik Indonesia di tahun 1940-an bernama Albertus Soegijapranata berlatar belakang penjajahan Belanda dan Jepang.
Film tersebut melibatkan lebih dari 2.775 pemain, menggunakan 6 bahasa (Indoneisa, Jawa, Inggris, Belanda, Jepang dan Latin). Dibuat di Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Ambarawa, Magelang dan Klaten. Film ini menghabiskan dana sebesar Rp12 miliar.
"Film ini tidak semata-mata memfokuskan diri kepada kelompok tertentu tetapi merayakan makna ke-bhinekaan bagi ke-Indonesiaan, inilah tawaran humanisme yang ditimba dari oase perjalanan dan perjuangan hidup Soegijapranata. Film ini menawarkan nilai pembangunan jati diri bangsa yang mencintai dan menghidupi kebhinekaan," jelas Garin.
Soegija diperankan oleh Nirwan Dewanto diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja katolik Indonesia kerika perang dunia kedua. Ketika Jepang datang ke Indonesia tahun 1942, Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Mohammad Abe) kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Hal itu membuat seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, Nobuyuki (Suzuki), selalu teringat anaknya di Jepang ketika masa perang. Begitupun dengan seorang tentara Belanda, Robert (Wouter Zweers) tersentuh ketika menemukan bayi di medan perang. Ia joke rindu pulang dan ingin bertemu ibunya. Sementara itu, hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tak mampu ia miliki karena perang.
Pesan dari film ini, tentunya tentang perjuangan tanpa tindakan kekerasan. Selain itu tentang keutamaan kehidupan berbangsa.
"Film ini tidak hanya mengisahkan tentang kepahlawanan Soegija tapi mengajak kita kembali nasionalisme dalam konteks zaman ini. Soegija mengingatkan bahwa perjuangan tidak identik dengan kekerasan dan memberi teladan melampaui diri dan agamanya. Keutamaan kehidupan berbangsa adalah belajar dan bekerja, membina kerjasama dan memupuk kebangsaan kita dengan terbuka," tandas Sekretaris Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia, Romo Benny Susetyo.
(rik)Syukur Tiada Akhir, Bahagia Tiada Ujung
May 16, 2012

Geisha Siapkan Album Baru
May 15, 2012



