Puluhan Pengacara Siap Class Action SMS Komodo
November 10, 2011
BeritaMusik.com - Sebanyak 40 pengacara yang tergabung dalam Komite Supremasi Hukum Indonesia (KSHI) menyatakan kesiapannya untuk melayangkan gugatan category movement terhadap SMS komodo karena pesan singkat itu diduga mengandung penipuan dan merugikan masyarakat.
"Setelah melihat perkembangan yang terjadi, kita putuskan untuk category action," kata Koordinator KSHI Achmad Salim, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (09/11/2011).
Ia menjelaskan, gugatan category movement adalah gugatan perdata yang diajukan oleh satu orang atau lebih atas nama sejumlah orang lain yang mempunyai tuntutan yang sama terhadap tergugat. Orang yang menjadi wakil itu mewakili kepentingan hukumnya atau mereka sendiri, serta kepentingan anggota kelas yang lain.
Achmad mengaku prihatin atas polemik yang disebabkan SMS Komodo. Apalagi SMS Komodo itu dinilainya sarat penipuan, antara lain telah melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khususnya pasal 28 ayat (1), pelanggarnya diancam hukuman kurungan 6 (enam) tahun penjara atau denda Rp1 miliar.
Sebelumnya, pakar telematika Abimanyu Wahjoewidayat membeberkan kejanggalan-kejanggalan SMS Komodo. Bahkan Abimanyu menilai SMS Komodo bersifat manipulatif dan oleh karenanya pemerintah diminta segera menghentikan SMS Komodo.
"Tidak masalah mempopulerkan Taman Nasional Komodo di dunia. Tetapi harus menggunakan cara-cara elegan dan terhormat. Bukan dengan cara manipulatif," katanya.
Achmad menambahkan, gugatan akan dilakukan Kamis (10/11) atau sehari sebelum pihak Yayasan New7Wonders yang berkedudukan di Swiss mengumumkan pemenang dari kontes Tujuh Keajaiban Dunia Baru untuk kategori Alam, yakni pada 11-11-2011.
Ketika ditanya akan didaftarkan dimana gugatan category movement itu, Achmad masih merahasiakannya. "Yang jelas di PN (Pengadilan Negeri)," katanya.
Sementara itu, pakar komodo Prof. Putra Sastrawan juga mengaku prihatin atas polemik tentang komodo yang masih saja terus berlangsung. Polemik ini tentu menyita banyak energi yang seharusnya energi itu tidak dibuang percuma dan digunakan untuk penyelamatan komodo itu sendiri.
Selain itu, menurut Putra, keberadaan komodo (Varanus Komodoensis) di bumi Indonesia seharus bisa menjadi alat pemersatu dan tidak dijadikan alat komoditas semata.
"Saya tidak melihat penggalangan dukungan komodo melalui SMS bermanfaat bagi pelestarian komodo secara berkesinambungan. Ini jadi salah kaprah," ujarnya.
Menurut dia, yang harus menjadi perhatian bersama adalah tentang nasib komodo itu sendiri. Ia menyebut, dari 3.000-an komodo yang tersebar di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, lebih dari 40% dalam keadaan lapar. (antara/dar)
Farhan: Pulau Komodo Lebih Pasti Dari Parpol!
November 8, 2011
BeritaMusik.com - Sebagai salah satu orang yang mendukung penuh voting Pulau Komodo, Farhan menegaskan pentingnya partisipasi warga Indonesia dalam voting ini. Pasalnya, dengan meramaikan voting ini, maka akan timbul manfaat yang sangat jelas bagi bangsa Indonesia sendiri.
"Bagian dari cara kita mempromosikan Indonesia jauh lebih luas lagi. Dengan Pulau Komodo jadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia, itu kebanggaan besar buat kita," ungkapnya saat ditemui di di Rolling Stone Cafe, Ampera Raya, Jakarta Selatan pada Senin (07/11) kemarin.
Selanjutnya, terlepas dari kontroversi tentang siapa yang menyelenggarakan voting ini, Farhan menjelaskan bahwa manfaat yang didapat dari voting ini sebenarnya sudah sangat jelas. Dia bahkan melanjutkan bahwa kegiatan bahkan lebih baik daripada kita harus memilih salah satu partai politik yang berpromosi dengan tidak jelas.
Ya iyalah, daripada kita harus ngevote partai nggak jelas, mendingan kita ngevote Pulau Komodo. Ketahuan jelas efeknya buat kita, bangsa Indonesia," lanjutnya.
Sebelumnya, ptia bernama lengkap Muhammad Farhan tersebut juga sempat berkelakar bahwa kesibukannya saat ini tak lain adalah memberikan suara untuk Pulau Komodo agar dapat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. (BM/ato/ris)
Audy Siapkan Lagu Demi Dukung Komodo
November 8, 2011
BeritaMusik.COM, Jakarta - Penyanyi Audy Item rupanya tak mau tinggal diam untuk mendukung Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia. Demi hal itu Audy bersama puluhan musisi menyiapkan sebuah lagu.
"Sebenarnya sudah dari kemarin mikir. Ini kan hal positif jadi saya pengen bikin sesuatu. Apalagi ini dibarengi sama musisi-musisi karena saya nggak mau cuma acaranya aja. Kita pengen bikin sesuatu yang bisa orang lain lebih tahu lagi tentang Komodo," terang Audy saat dijumpai di sela Konser Dukung Komodo di Rolling Stone Cafe, kawasan Ampera, Jakarta Selatan, Senin (7/11).
Audy berharap lagu tersebut mampu memberikan semangat bagi masyarakat untuk turut mendukung kemenangan Komodo.
"Baru kepikiran jadi belum tahu liriknya seperti apa yang pasti tadi sudah ngomong sama Abdee 'Slank' dan teman-teman musisi yang lain juga ikut mendukung pengennya sih secepatnya," bebernya.
Audy menambahkan,"musisinya kan segambreng semoga bisa cepat di realisasikan," imbuhnya. mor
Red Carpet Buat Hollywood
November 6, 2011
BeritaMusik.COM, Jakarta - Pengambilan gambar film-film Hollywood sudah mulai memilih lokasi di Bali dan Jawa. Sebuah perkembangan positif yang harus didukung dengan regulasi yang mendukung.
“Eat, Pray, Love” (yang dibintangi Julia Roberts), “Java Heat” (Mickey Rourke dan Kelllan Lutz), “I, Alex Cross” (Tyler Perry) adalah beberapa film yang memilih sebagian atau seluruh lokasi pengambilan gambarnya di sini.
Alam Indonesia yang lebih indah nan eksotis daripada negara lain, adalah infrastruktur yang sangat mendukung untuk memajukan bisnis film di mata dunia (Hollywood). Sebagai negara kepulauan, Indonesia punya sorga bawah laut ada di Raja Ampat (Papua Barat), Bunaken (Sulawesi Utara), Pulau Derawan (Kalimantan Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Pulau Weh (Aceh), Nusa Penida (Bali), bahkan laut mistis Samudera Indonesia.
Indonesia juga punya kaldera pasir yang luas yakni Bromo, pegunungan belerang Ijen (Jawa Timur), candi Buddha yang kokoh di Borobudur (Jawa Tengah), Danau Toba (Sumatera Utara) dan kadal raksasa komodo (NTT).
Kekayaan alam ini sangat menopang pengambilan gambar kelas dunia. Mengapa pulau-pulau karang di Phuket, Thailand Selatan, lebih dibidik oleh sequence James Bond untuk lokasi shooting? Padahal pulau-pulau di nusantara bisa lebih cantik dari Phuket?
Pertama, perizinan. Pemerintah Thailand sangat sadar bahwa film yang dibuat Hollywood di Thailand akan berdampak sangat positif terhadap dunia pariwisata. Lebih dari 13 juta turis asing berkunjung ke Thailand setiap tahun, dan ini jelas menghasilkan devisa yang sangat besar. Oleh karena itu, izin pembuatan atau pengambilan gambar dipermudah, dibuat elementary dan lebih professional.
Film movement “Point Break” (tentang peselancar/surfer) yang dulu (1991) dibintangi Patrick Swayze dan Keanu Reeves, sedianya akan dibuat ulang di Bali tiga tahun lalu, tetapi batal meskipun produser sudah mengeluarkan duit ratusan juta rupiah.
Sumber BeritaMusik.COM, mengungkapkan, orang yang ditunjuk oleh Warner Bros untuk mengurus izin lokasi, pengurusan equipment shooting di Ditjen Bea Cukai, tidak berpengalaman dan ternyata hanya menggerogoti uang produser.
Izin pengambilan gambar dan memasukkan apparatus sangat penting untuk kepastian melakukan sharpened bagi produser eksekutif mana pun.
Seorang produser eksekutif film-film laga Hollywood asal Indonesia yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di California, tahun lalu bertemu BeritaMusik.COM di sebuah hotel di Jakarta. Ia mengungkapkan, pemerintah Indonesia harus membuat terobosan dalam kemudahan izin lokasi dan Bea & Cukai untuk equipment shooting.
“Jangan sampai izin dan urusan bea masuk jadi ajang pemerasan bagi produser eksekutif. Kita pasti membayar semua pengurusan, tapi jelas jumlahnya dan kapan keluar izin dan equipment kita,” ujarnya.
Kedua, investasi yang pertama dan penting adalah naskah cerita. Sebuah ide yang bagus, tapi tidak dituangkan dalam naskah cerita yang kuat, tentu tidak akan menghasilkan film cerita yang bagus pula. “Kalangan Hollywood sangat selektif terhadap naskah cerita ini. Keputusan understanding atau tidaknya sebuah bakal filem, tergantung sekali pada naskah cerita,” ujar produser eksekutif asal Pasar Baru itu.
Filem “The Year Living Dangerously” (diambil dari judul Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1964 “Vivere peri coloso”, bahasa Italia) bercerita tentang pergolakan politik menjelang kejatuhan Presiden Soekarno (dibintangi Mel Gibson 1982) tidak didukung oleh nasakah yang kuat, sehingga film ini hanya tampil biasa-biasa saja. Lokasi pembuatan film ini di Filipina, karena pemerintah Ode Baru menolak permohonan izin produser.
Tahun lalu pengambilan gambar “Eat, Pray, Love” di Ubud, Gianyar, Bali dan menancap ke benak para penonton yang cinta Bali. Seorang teman di Barranquilla, Colombia, ingin naik sepeda seperti Julia Roberts, kalau suatu saat datang di Bali, katanya. Film tetap kuat menginspirasi orang untuk datang berwisata.
Karena itu, Menteri Marie Pangestu sangatlah tepat berkunjung ke Bali dan melihat bagaimana sutradara Rob Cohen, 62 tahun, sharpened “I, Alex Cross” di dekat villanya di Jarsi, Karangasem, bulan lalu. Mudah-mudahan pemerintah membuka kedua tangan menyambut dengan hamparan red carpet buat para produser Hollywood yang mau sharpened di sini dengan member izin dan gampang mengurus barang di Bea dan Cukai. mdr


