Menoelis soeka-soeka

05 Januari 2011,

SMS dari Da Naldo “ Bawa alat tidur, masak, minum, penerangan, atmosphere mentah, makanan 5 kali makan, obat pribadi, ponco dan jaket”. Ini bukan SMS jarkom untuk OSpek atau semacamnya, ini perlengkapan untuk Trip ke Pulau Sempu.

Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata atmosphere payau.

Secara geografis, Pulau Sempu terletak diantara 112 40′ 45″ – 112 42′ 45″ bujur timur dan 8 27′ 24″ – 8 24′ 54″ lintang selatan. Pulau itu memiliki luas sekitar 877 hektar, berbatasan dengan Selat Sempu (Sendang Biru) dan dikepung Samudera Hindia di sisi selatan, Timur dan Barat.

Pulau Sempu dapat ditempuh dari Malang melalui Pantai Sendang Biru, dan penyeberangan menggunakan perahu nelayan, serta mendapat perijinan.

http://id.wikipedia.org/wiki/PulauSempu

 

Gw kebetulan diajak untuk turut serta outing ke P. Sempu ama si Bowo. Katanya sih bareng dosen Kimia. Eh, tapi ternyata si Bowo nya ga jadi ikut. Perjalanannya direncanakan sekitar 5 hari p-p.

10 Januari 2011,

kita ngumpul di sekre Amisca jam 13.00 siang, kenalan ama temen-temen seperjalanan. Jam 14.15 berangkat ke Stasiun Bandung, menunggu KA Malabar Ekspress mengantarkan kami menuju sebuah perjalanan yang tak terlupakan.

22.30 Malabar Ekspress

Angin malam menampar-nampar muka dari jendela gerbong yang terbuka. Sebagian penumoang sudah tenggelam dalam mimpi dan perjalanan menuju P. Sempu masih jauh. Baru 7 jam perjalanan, bersama teman2 baru, kenalan baru. Rencana gw yang ingin outing ke sempu pada libur lebaran lau batal, dan sekarang akhirnya terlaksana. Rasanya pasir putih, angin laut, dan laut jawa sudah memanggil-manggil ke dalam pelukannya.

Tian, Kevin, Boim, Doni, Fainan, Pak Bambang (ternyata beliau seumuran ama Uda gw yg sulung, haha), Adit, Da Naldo, dan Salim yang belakangan nyusul di Malang, teman seperjalanan petualangan kali ini. Tawa canda tak henti-henti mengalir selama perjalanan. TTS joke menjadi kawan pengusir kebosanan selama perjalanan. Iya, buku TTS yang dibeli di stasiun, yang (dulu) ada hadiah stiker untuk mengobati sakit mata.

11 Januari 2011

03.00 Stasiun Madiun

“Nasi Pecel Anget, nasi pecel anget” teriak mas-mas pedagang merayu-rayu perut yang tiba-tiba berontak minta diisi. Entah Sarapan, makan malam, atau sahur, yang penting bisa menenangkan si daerah Sumatra Tengah yang bergolak ini. Tiba-tiba setelah makan, Doni kasak-kusuk nyari rokoknya. Entah hilang kemana, tapi rokok yang lain masih ada tergeletak di sana, hanya rokoknya yang raib. “jangan-jangan loe mimpi dan ngelempar rokok itu keluar jendela don..” kata yang lain ngegodain doni. Dan bener, rokoknya ternyata jatuh di bawah kursi. Setengah bungkus Djarum Super ga jadi raib.

07.50 Stasiun Kepanjen

Rombongan turun di Stasiun Kepanjen, nyewa angkot ke Turen (si Salim disuruh nyusul ke sana), sarapan yang murahnya bener-bener bikin heran (Nasi rawon + bakwan jagung+ es a Cuma 6500) dan langsung meluncur ke Sendang biru sebelum akhirnya Nyebrang ke pulau Sempu.

11.30 Sendang Biru

Angkot yang sempit terguncang-guncang selama perjalanan menuju Sendang Biru. Mendarat, istirahat sebentar, beli Ikan laut untuk dibakar ntar untuk makan malam. Oke, saatnya menyeberang menuju pulau Sempu. Gw sama sekali ga punya bayangan trek seperti apa yang akan menanti. Udah pernah baca sih, catatan perjalanan lain yg udah duluan kesana, katanya treknya cukup berlumpur. Gw kesana ditemani si Red Rose, Carrier Merah maroon gw, dan pake sandal gunung. Pukul 13.00 kita mulai berjalan menuju Segara Anakan. Treknya bener2 berlumpur, licin, dan emang ga layak diterjang pake sandal. Seperempat perjalanan terakhir, sandal gw nyerah, setelah selalu copot2 mulu, akhirnya nyekermen aja. Lumayan lah, nyiksa kaki. Apalagi si Doni ya, yg dari awal udah nyeker karena sendalnya emang ga layak untuk dipake movement kek gitu.

Ransel di punggung membebani pundak. Letih, lelah, kotor berlumpur. Tapi semuanya terbayar lunas ketika melihat pemandangan yang terbentang di Segara Anakan ini. Sepotong surga terjatuh di Laut Jawa. “finally”, mungkin itu yang ada di pikiran ketika kaki menginjak pasir pantai. Istirahat, membasuh badan, dan mulai memasang tenda.

Badai… hujan badai menerpa, menampar-nampar, mengkhawatirkan. Untunglah hanya sebentar, dan hanya gerimis yang menemani senja itu. Makan malam disiapkan. Ikan yang dibeli di Sendang Biru mulai dibakar, nasi sedang dimasak. Hanya makan malam yang sederhana, nasi putih, ikan bakar, dan kuah kaldu. Tapi cukup mengganti appetite yang hilang selama perjalanan tadi siang.

22.00 Segara Anakan

Makan malam sudah selesai, kopi telah diminum, rokok joke telah dihisap. Badan harus diistirahatkan, dan mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Mari menyusup dalam sleeping bag, pejamkan mata, dinina-bobo kan oleh desir angin dan deru ombak. Tawa canda disudahi terlebih dahulu. Langit Segara Anakan yang gelap menjadi selimut, pasir putih alas tidur di alam yang besar ini. Mendengkur karena lelah, gelisah akibat binatang-binatang kecil yang mencari rejeki dari tubuh-tubuh yang sedang mengunjungi alam mimpi.

12 Januari 2011

05.00 Segara Anakan

Fajar telah menyingsing, Subuh joke telah tiba, perlahan mata mulai membuka. Saatnya Sholat Subuh dan menikmati kopi panas ditemani asap tembakau.

Sarapan disiapkan, dan yang lainnya menikmati pemandangan di bukit karang. Nasi putih, ikan asin bakar, sarden, dan mie rebus untuk mengisi lagi tenaga menuju perjalanan pulang.

08.00 Segara Anakan

Duduk di tepi pantai, menikmati sepotong Surga yang terjatuh di laut Jawa ini. Bukit karang yang mengelilingi Segara Anakan mempesona dan memikat. Air laut yang jernih memantulkan kebesaran Ilahi. Saat itu, tidak ada rombongan lain yang mengunjungi Segara Anakan, hanya kami. “that’s what they called paradise” ujar Salim dengan (sok) bijaknya. Pulau tak berpenghuni ini bagaikan sepotong intan yang belum diasah, tapi sudah memancarkan kilauan indahnya.

Hei, ayo menikmati sejuknya Air Laut, setelah puas bermain bola di pantai. Tak satupun yang tidak nyebur. Bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Tidak terlalu dalam kok sebagian besar danau asinnya. Sekitar satu setengah meter-an lah kira-kira. Main-main di air, berfoto, categorical lagi di air. Perjalanan pulang? Ntar aja deh dipikirin.

10.30 Segara Anakan

Oke, saatnya bersiap-siap pulang. Bersihkan lagi semua sampah-sampah yang ada, masukkan semua barang ke dalam ransel, dan perjalanan pulang dimulai. Treknya agak lebih kering dibanding kemarin. Perjalan pulang lebih cepat, walau lelah tidak bisa dihindari.

Merapat di Sendang Biru, ngaso sejenak sambil menikmati es cincau yang menyegarkan. Saatnya kembali. Bukan, bukan ke Bandung. Kita mampir dulu di Malang, di rumah adiknya Pak Bambang, daerah Plaosan Timur. Mandi, hal yang wajib, rambut panjang ini sudah meronta-ronta minta dibersihkan dari pasir, lumpur yang melekat, badan asin bergaram atmosphere laut. Segar, dan rileks setelah badan bersih.

Makan malam dihidangkan, walau hanya dengan Nasi, Ikan Asin, Tempe Goreng, Sayur Lodeh dan Sambel Cobek (tidak lupa rendang dari Da Naldo dan Tian). Sebenarnya bukan “walau hanya” sih, udah cukup mewah dan nikmat banget.

Obrolan malam berlanjut. Tawa canda mengalir, seakan lupa lelahnya perjalanan. Tapi sekali lagi, badan harus segera diistirahatkan. Asam laktat yang menumpuk di setiap inci badan ini harus dialirkan lagi.

13 Januari 2011

05.00 Plaosan Timur, Malang

Bangun tidur bukannya badan makin rileks, yang ada pegal-pegal sekujur badan. Kayaknya harus dibawa jalan-jalan ringan di kota Malang. Setelah sarapan Nasi Pecel, kami menuju Pusat Kota Malang, mencari buah tangan untuk orang-orang yang dikasihi. Keripik buah-buahan khas Kota Malang, Apel Malang, menjadi bawaan pulang ke Bandung. Oke, saatnya kembali ke Bandung dan melanjutkan aktivitas.

15.00 Stasiun Kota Malang

Menanti Malabar Ekspress lagi, yang akan mengantarkan kami kembali ke Kota Kembang. 15 jam lebih perjalanan di kereta menanti. Tawa canda dan cerita-cerita masa remaja mengusir kebosanan selama perjalanan. Humor-humor “stensilan” mengalir deras keluar, maklumlah, rombongan yang isinya lelaki semua. Tidak lupa, TTS joke ada, supaya tidak garing.

14 Januari 2011

08.30 Stasiun Bandung

Udara pagi kota Bandung menyapa, mengucapkan Selamat Datang kembali di kota Kembang. Rombongan kami langsung menuju kampus, ngumpulin foto-foto, dan melaksanakan satu “Misi” lagi. Hehehehe.

Itulah, walau hanya beberapa hari tapi akan menjadi sebuah halaman khusus dalam Album Kehidupan. Toh hidup itu adalah sebuah petualangan, dan perjalanan mencari kearifan kehidupan tak pernah berhenti.

 

Keterangan:

Biaya transportasi Bdg-Sempu-Bdg

KA Malabar Ekspress BDG-MLG : Rp. 90.000/org

Angkot Kepanjen-Sendang Biru : Rp. 250.000/10 org

Sewa perahu pp : Rp. 100.000/10 org

Angkot Sendang Biru-Malang : Rp. 325.000/10 org

KA Malabar Ekspress MLG-BDG : Rp. 100.000/org

Total : Rp. 257.000/org

Advendy Saputra » Blogs » Recent Posts

Save Our Earth part3(habis)

April 22nd, 2009 in Uncategorized by Advendy Saputra

Jangan dikira perkembangan teknologi g bawa pengaruh ke Global Warming, baca ini dulu dong. Di dunia limbah atau sampah elektronik (e-waste) merupakan kelompok limbah yang saat ini mendapat perhatian luas yang lebih representatif untuk kelompok limbah ini sebenarnya adalah Waste of Elektronic and Electrical Equipment (WEEE). E-waste merupakan barang elektronik atau elektrik yang sudah tidak dipakai (baik rusak atau sudah tidak mau dipergunakan lagi) dan diniatkan untuk dibuang. E-waste menjadi masalah, karena kecepatan regenerasi yang dipengaruhi perkembangan teknologi, khususnya semikonduktor yang sangat pesat dan cenderung semakin murah. Akibatnya, barang elektronik dapat diproduksi dengan fungsi yang semakin beragam dengan harga yang semakin terjangkau. Pada awalnya di negara maju pengelolaan akhir e-waste adalah penimbunan dalam landfill. Namun karena volumenya semakin meningkat, menyebabkan ketersediaan dan daya dukung serta keterbatasan landfill menurun.

<!–if !mso> <! st1:*behavior:url(#ieooui) –>

Dibeberapa negara, pembuangan e-waste ke dalam landfill dilarang, dan sebagai alternatifnya e-waste harus dikelola dengan cara diurai dan didaur ulang dan hanya residu yang tidak bermanfaat yang boleh dibuang ke landfill. Situasi tersebut mengubah sistem pengeloaan e-waste secara dramatis. Di Indonesia, perhatian e-waste masih sangat kurang bahkan sampai akhir tahun 2007 istilah e-waste belum dikenal secara luas. E-waste di Indonesia lebih berkonotasi sebagai limbah domestik dari perumahan. Akibatnya belum ada pengaturan secara khusus untuk e-waste. Sumber e-waste di Indonesia berdasarkan kondisi regulasi yang berlaku adalah berasal dari tiga sumber yaitu dari industri elektronik, post konsumsi dan impor bootleg termasuk penyelundupan.

Dalam COP-8 Konvensi Basel di Nairobi, dimaksudkan untuk mengatur sampah dalam bentuk apapun yang kerap melintasi batas negara. Konvensi ini disahkan pada tahun 1992 dan ditandatangani oleh lebih dari 160 negara. Dalam konvensi tersebut e-waste merupakan salah satu jenis limbah yang diatur pengelolaan lintas batasnya dan dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) atau limbah non-B3 dan e-waste menjadi tema sentral dari pertemuan tersebut. Hal ini dilandasi semakin meningkatnya perpindahan lintas batas e-waste antar negara khususnya dari negara maju ke negara berkembang. Penyebab utama perpindahan tersebut tersebut adalah meskipun negara maju memiliki regulasi dan fasilitas untuk pengelolaan e-waste, namun kemampuan untuk menyerap limbah tersebut secara domestik tidak sebanding dengan laju pertumbuhan volume e-waste yang dihasilkan.

United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan bahwa negara-negara maju hanya mampu mengelola 10% dari e-waste yang mereka hasilkan. Dengan ditutupnya peluang pembangunan dalam landfill, alternatif termurah dan aman sisa e-waste adalah dengan meng-ekspornya ke negara berkembang. Permasalahannya di negara berkembang adalah tidak ada insfratuktur dan teknologi yang memadai. Meski dapat melakukan daur ulang dengan cara ekonomis, namun faktor keselamatan kerja dan lingkungan seringkali diabaikan. Hal ini menjadi keprihatinan banyak pihak termasuk para pihak terhadap konvensi Basel. Di sini prioritas module kemitraan dalam pengelolaan e-waste dimulai dengan uji coba dan penyusunan panduan untuk telepon genggam, disusul dengan peralatan komputasi dan e-waste secara umum.

Greenpeace (greenpeace.org : 2006), sebuah organisasi pecinta lingkungan yang sangat ternama, memuat produsen-produsen ponsel dan PC ternama yang masuk golongan hijau dan yang tidak hijau. Di posisi teratas sebagai yang pale hijau alias pale ramah lingkungan. Dan yang pale tidak ramah lingkungan berwarna merah. Rangking ini dibuat berdasarkan penggunaan bahan kimia berbahaya dan tingkatan tanggungjawab mereka akan limbah elektronik (e-waste) yang timbul akibat produk mereka. Penilaian difokuskan pada, mana produsen besar yang melakukan usaha keras untuk menghilangkan bahan kimia pale berbahaya dan perusahaan mana yang memiliki module recycling yang baik untuk produk-produk mereka.

Penilaian ini sangatlah penting, sebab dengan penggunaan barang-barang elektronik yang terus menerus berganti, itu artinya makin menumpuk e-waste yang siap mencemari bumi kita. Perusahaan yang baik akan memastikan e-waste produk mereka tidak berakhir di pulau-pulau atau tanah manapun di Asia. Dibawah ini termasuk ranking Perusahaan yang E-waste tertinggi menurut Greenpeace adalah:

1.Ranking 1.3/10 Lenovo

2.Ranking 1.7/10 Motorola

3.Ranking 2.3/10 Acer

4.Ranking 2.7/10 Apple

5.Ranking 3/10 Fujitsu-Siemens

6.Ranking 3/10 Toshiba

7.Ranking 3.3/10 Panasonic

8.Ranking 4.3/10 LG Electronics

9.Ranking 4.7/10 Sony

10. Ranking 4.7/10 HP

11. Ranking 5/10 Samsung

12. Ranking 5.3/10 Sony Ericsson

13. Ranking 7/10 Dell

14. Ranking 7/10 Nokia

(per-18 Sep 2006)

Sementara itu Departemen Perdagangan lewat Kep.Menperindag No.229/MPP/Kep/7/97 tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor (Kompas Online : 2008) menyebut secara tegas bahwa barang-barang yang boleh diimpor hanya barang baru. Departemen Perdagangan melarang impor barang-barang elektronik bekas, antara lain televisi, kulkas, komputer, setrika, dan mesin cuci. Akhir-akhir ini perdagangan dan impor ilegal peralatan elektronik bekas dan limbah elektronik memperburuk situasi. Pembuangan limbah elektronik dari negara maju ke negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan alasan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam atau pendidikan padahal usia pakai dari barang elektronik, misalnya komputer bekas, sangat pendek bahkan nol sama sekali. Di beberapa kawasan, barang elektronik bekas dan limbah elektronik diterima sebagai barang impor ilegal dan authorised - menggunakan dokumen perizinan yang tidak sesuai. Batam adalah salah satu lokasi tujuan limbah elektronik dan barang bekas. Menurut Mawardi Badar (2008), Kepala Bapedal Batam, barang elektronik bekas yang dipasarkan di Kota Batam sebagian besar berasal dari impor, terutama dari Singapura. Jenis limbah elektronik, lanjut dia, antara lain berupa PCB reject, kumparan, kabel, srab plastik, solder, tabung kaca, sarang televisi, monitor. Pasar-pasar elektronik bekas terkumpul di titik-titik seperti Batam Center, Pasar Aviari, Pasar Sengkuang, Jalan Batu Aji, dan beberapa mal. “Barang elektronik bekas sangat diminati di Batam karena pangsa pasar yang sangat besar dengan orientasi harga yang murah walaupun umur pemakaian yang lebih pendek, komponen yang perbaikannya lebih mahal daripada membeli yang baru atau yang bekas lagi. Sementara untuk kawasan Indonesia Timur, sejak tahun 1980-an, penyebaran barang limbah elektronik asal Singapura dan Malaysia terpusat di Pare-Pare (Sulawesi Selatan) dan Kepulauan Wakatobi (Sulawesi Tenggara). Sekitar 10 persen barang elektronika yang masuk dari Singapura adalah barang bekas.

<!–if !mso> <! st1:*behavior:url(#ieooui) –> <!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; @page Section1 size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0; div.Section1 page:Section1; –>

Berdasarkan penelitian, ketika dibakar sampah elektronik yang mengandung logam berat ini menimbulkan polusi udara (pencemaran timbal) yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi atmosphere eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran atmosphere tanah. Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang saraf) yang bersifat akumulatif dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient (IQ).

Dari sebuah riset yang dilakukan Puji Lestari, staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB Bandung menunjukkan, adanya hubungan invers (terbalik) kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya. Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl.

Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perpective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 - 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat akumulasi timbal menipis kisaran 10 - 20 mkgr/dl dan 20 - 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.

Pemerintah sebagai suatu lembaga yang mengawasi dan dapat menseleksi barang – barang yang masuk di Indonesia belum bertindak tegas untuk menanggapi permasalahan ini. Dari penelitian di atas dapat diketahui memang barang elektronik bekas yang dibiarkan ditumpuk diluar rumah dan terkena atmosphere hujan dapat membahayakan bagi manusia terutama anak – anak sebagai generasi penerus bangsa. Akibat dari sampah elektronik yang bisa membahayakan generasi penerus bangsa sudah seharusnya mendapat perhatian lebih bukan hanya dari pemerintah tetapi kita sendiri sebagai konsumen.

Selain membahayakan bagi manusia, sampah elektronik yang masuk ke negara berkembang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dari segi produsen barang elektronik karena masyarakat tentu lebih memilih produk dengan merk terkenal dari luar negeri walaupun itu merupakan barang bekas jika masih layak pakai. Produk barang elektronik dalam negeri yang belum mempunyai nama di pasaran di Indonesia tentu akan lebih sulit untuk menjual barang hasil produksinya karena mahalnya biaya produksi yang membuat barang yang dijual menjadi mahal, padahal belum tentu barang produksi dalam negeri kualitasnya buruk atau jelek. Tetapi jika dipandang dari segi positif, masuknya barang elektronik bekas dari luar negeri bisa menjadi acuan bagi produsen dalam negeri untuk lebih inovatif dalam membuat produknya sehingga laku di jual di pasar dalam negeri.

Penanganan yang terstruktur dan manajemen yang baik sangat diperlukan dalam menangani limbah jenis ini. Penanganan sampah dengan prinsip 3R (reduce, recycle, dan reuse), yaitu sumbernya, daur ulang, dan guna ulang serta pemisahan sampah organik untuk mempermudah pengolahannya sebenarnya telah lama disosialisasikan. Namun hingga kini masih terbatas dilakukan di beberapa kota besar.

Jika sampah organik hanya perlu dibuang dan ditimbun karena mudah lapuk dan bisa diuraikan senyawanya oleh bakteri maka lain halnya dengan sampah non-organik sampah tersebut ditangani mulai dari tempat penampungan sementara hingga ke tempat pembuangan sampah non-organik berupa plastik, besi, kaca, dan beberapa element didaur ulang oleh industri kecil. Sementara itu sampah elektronik berupa trafo, bohlam, radio, TV, telepon, komponen pendukung lainnya, belum ada yang menangani secara sistematis dari waktu ke waktu. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun bifenil yang bersifat karsinogenik itu terus menumpuk, hingga berpotensi menggunung dan membahayakan bagi kesehatan manusia.

Dalam “International Workshop on Technologies for Waste Recycling”, di Jakarta Dr Arie Herlambang, Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran mengungkapkan hal itu. Pasalnya, industri lokal yang umumnya bermodal menanganinya karena mesin pengolahannya masih harus diimpor dengan Pasar penampung produk daur ulang sampah elektronik juga belum terbentuk. Padahal limbah ini juga memiliki prospek yang baik bila diolah. Di dalamnya logam mulia seperti emas, perak, platinum, paladium, dan timah. Industri pengola Batam misalnya, dari kapasitas 1.250 ton per tahun, menghasilkan 23 persen logam mulia. Selain logam mulia, dalam lokakarya yang dilaksanakan Pusat Teknologi Limbah dengan SIDA Swedia juga diperkenalkan teknologi baru pengolahan limba disebut Mercury Recovery Technology. Dijelaskan Dr Kardono, Direktur Pusat Lingkungan BPPT “Pendaur ulangan merkuri, lebih murah dibandingkan bila menambangnya”. Efek lain daur ulang merkuri mengurangi bahaya pencemaran di lingkungan, dapat dimanfaatkan kembali, dan mengurangi eksploitasi tambang. Selama ini penggunaannya sudah meluas, misalnya untuk baterai, termometer, lampu neon.

Di lain pihak beberapa produsen elektronik besar joke sadar bahwa barang yang mereka produksi nantinya jika sudah tidak terpakai atau habis masa pakainya akan menjadi sampah dan dengan begitu mereka ikut andil dalam menambah jumlah sampah elektronik di dunia. Maka perusahaan elektronik besar seperti HP yang memproduksi komputer dan perkakasnya menyediakan layanan untuk mendaur ulang produknya. Ink cartridge dan printer HP misalnya, jika sudah tidak terpakai kita hanya perlu masuk ke website HP dan prepaid postage akan dikirim ke tempat kita berada jadi bisa digunakan untuk mengirim kembali ink cartridge ke mereka(HP) dengan gratis. Dengan begitu penanganan limbah elektronik menjadi mudah bagi orang awam.

Gimana udah dong belum klo limbah elektronik itu berbahaya