WSC Inspirational open Figure: RHOMA IRAMA (Deni S. Jusmani) Facebook

Words Share Contest Inspirational Public Figure

Pengirim: Deni S. Jusmani


Deni S. Jusmani




Gambar. Rhoma Irama

Riwayat Hidup: Masa Kecil sampai Remaja

Raden Haji Oma Irama atau disingkat Rhoma Irama yang berjuluk Raja Dangdut, lahir pada tanggal 11 Desember 1946 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Rhoma bergelar Raden karena pada kedua orang tuanya mengalir darah bangsawan/ningrat, ia merupakan putra kedua dari dua belas bersaudara, yaitu: delapan saudara laki-laki dan empat saudara perempuan (delapan saudara kandung, dua saudara seibu dan dua saudara bawaan ayah tirinya).

Ayahnya, Raden Burdah Anggawirya merupakan mantan komandan gerilyawan Garuda Putih pada zaman kemerdekaan. Burdah memberi nama ‘Irama’ karena bersimpati terhadap grup sandiwara asal Jakarta yang bernama Irama Baru yang pernah diundang untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Burdah sangat pandai dalam memainkan alat musik serta menyanyikan lagu-lagu cianjuran. Ibunya bernama Tuti Juariah, merupakan keturunan ningrat dan pandai pula dalam menyanyi, seperti lagu No Other Love yang sering didengarkan Rhoma sewaktu kecil.

Sebelum tinggal di Tasikmalaya, keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah, kakaknya Benny Muharram dilahirkan. Sedangkan Rhoma lahir di Tasikmalaya beberapa saat setelah pindah ke kota tersebut. Setelah lahir Rhoma, lahir pula adik-adiknya, seperti Handi dan Ance. Setelah itu, mereka pindah lagi ke Jakarta dan tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, lalu pindah ke Bukit Duri Tanjakan. Di kota inilah mereka menghabiskan masa remajanya sampai tahun 1971, lalu pindah ke Tebet.

Karena usia Rhoma yang tidak berbeda jauh dengan kakaknya, mereka selalu kompak dan pergi berdua-duaan. Berbeda dengan kakaknya yang malas mengikuti pengajian di surau atau di rumah kyai, Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun. Setiap kali ayah dan ibunya bertanya, apakah kakaknya ikut mengaji, Rhoma selalu menjawab ‘ya. Berangkat ke sekolah joke mereka selalu berangkat bersama-sama dengan berboncengan sepeda. Keduanya bersekolah di SD Kibono, Manggarai.

Pada saat Rhoma duduk di kelas 5 SD tahun 1958 ayahnya meninggal dunia. Sang ayah meninggalkan delapan anak yaitu: Benny, Rhoma, Handi, Ance, Dedi, Eni, Herry dan Yayang. Kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya yang masih ada hubungan famili dan juga berdarah ningrat. Ayah tirinya ini membawa dua anak dari istrinya yang dulu dan setelah menikah dengan ibu Rhoma memiliki dua anak lagi.

Ketika ayah kandungnya masih hidup suasana di rumahnya feodal. Bahasa sehari-hari ayah dan ibunya adalah bahasa Belanda. Segalanya harus serba teratur dan menggunakan tatakrama tertentu. Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan ‘Den’ (raden). Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama. Ayahnya juga tak segan-segan menghukum mereka dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan, seperti bermain hujan ataupun membolos sekolah.

Keadaan keluarga Rhoma di Tebet waktu itu memang tergolong cukup kaya bila dibandingkan masyarakat sekitar. Rumahnya mentereng dan memiliki beberapa mobil, seperti: mobil merk Impala, mobil yang tergolong mewah pada waktu itu. Rhoma juga selalu berpakaian bagus dan mahal.
Suasana feodal tersebut tidak ada lagi setelah ayah tirinya hadir di tengah-tengah keluarga mereka. Bahkan, berkat ayah tiri serta pamannya inilah Rhoma mendapatkan ‘angin’ untuk menyalurkan bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya membelikan alat musik akustik seperti: gitar, bongo, dan sebagainya.



Gambar. Rhoma Irama


Bakat dan Kecintaan Rhoma Irama kepada Musik

Semenjak kecil Rhoma sudah terlihat bakat seninya. Tangisannya terhenti tiap kali ibundanya, Tuti Juariah menyenandungkan lagu-lagu. Masuk kelas nol ia sudah mulai menyukai lagu. Minatnya pada lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar. Menginjak kelas 2 SD ia sudah bisa membawakan lagu-lagu barat dan India dengan baik. Ia suka menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya dan lagu Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Latta Mangeshkar. Selain itu ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang dinyanyikan oleh Umm Kaltsum. Bakat musiknya mungkin berasal dari ayahnya yang fasih memainkan seruling dan menyanyikan lagu-lagu cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selain itu, pamannya, Arifin Ganda sering mengajarkan lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.

Ketika SD, bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma adalah murid yang pale rajin bila disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Uniknya, Rhoma tidak sama dengan murid-murid yang lain yang sering malu-malu di depan kelas. Rhoma menyanyi dengan suara keras hingga terdengar sampai kelas-kelas lain. Perhatian murid-murid semakin besar karena Rhoma tidak menyanyikan lagu anak-anak maupun lagu kebangsaan, melainkan lagu-lagu India.

Bakatnya sebagai penyanyi mendapat perhatian dari penyanyi senior, Bing Slamet karena terkesan melihat penampilan Rhoma ketika menyanyikan lagu barat dalam acara pesta di sekolahnya. Suatu hari, ketika Rhoma duduk di kelas 4, Bing Slamet membawanya tampil dalam sebuah uncover di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai. Ini merupakan pengalaman yang berharga bagi Rhoma.

Sejak saat itu, meskipun belum berpikir untuk menjadi penyanyi Rhoma sudah tidak terpisahkan lagi dari musik. Atas usaha sendiri ia belajar memainkan gitar hingga mahir. Karena saking tergila-gilanya dengan gitar, Rhoma sering membuat ibunya marah besar. Setiap kali ia pulang sekolah yang pertama dicarinya adalah gitar. Begitu pula ketika setiap kali ia keluar rumah hampir selalu membawa gitar. Pernah suatu kali ibunya menyuruh Rhoma menjaga adiknya, tetapi Rhoma lebih suka memilih bermain gitar. Akibat ulah tersebut, ibunya merampas gitarnya lalu melemparkannya ke pohon jambu hingga pecah. Kejadian itu membuat Rhoma sedih karena gitar adalah teman nomor satu baginya.

Perkembangan selanjutnya dalam mempelajari musik ia mulai menyadari bahwa meskipun ayah dan ibunya pasangan berdarah ningrat yang menyukai musik, tetapi mereka tetap menganggap bahwa dunia musik bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau dijadikan profesi. Ibunya sering meneriakkan ‘berisik’ setiap kali ia menyanyi dan beranggapan, bahwa musik akan menghambat sekolahnya. Kenyataan ini membuat bakat musik Rhoma semakin berkembang di luar rumah karena jika di rumah ia kurang mendapat dukungan.


Dunia Persilatan, Pertarungan, dan Kenakalan Rhoma Irama

Dunia Rhoma di masa kanak-kanak rupanya bukan hanya di dunia musik. Rhoma juga sering adu jotos dengan anak-anak lain. Lingkungan pergaulannya ketika itu tergolong keras. Anak-anak saat itu cenderung mengelompok dalam geng dan satu geng dengan geng lainnya saling bermusuhan atau pale tidak saling bersaingan. Dengan demikian perkelahian antar geng sering tak terhindarkan.

Bukitduri, tempat tinggalnya hampir setiap kampung di daerah itu terdapat geng (kelompok anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukitduri Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya. Banyak anak muda dari Bukitduri Puteran dan Manggarai yang bergabung dengan Geng Cobra. Geng-geng ini saling bermusuhan sehingga keributan selalu hampir terjadi setiap mereka bertemu.

Satu hal yang cukup menonjol pada diri Rhoma adalah, bahwa teman-temannya hampir selalu menjadikannya sebagai pemimpin. Tentu saja bila gengnya bentrok dengan geng lain, Rhoma-lah yang diharapkan tampil di depan untuk berkelahi. Meskipun pernah menang beberapa kali Rhoma juga sering mengalami babak belur bahkan luka cukup parah karena dikeroyok 15 anak di daerah Megaria.

Ketika ia masuk SMP tempat-tempat berlatih silat semakin marak. Tetapi, bagi Rhoma ilmu bela diri nasional ini tidaklah asing karena sejak kecil ia sudah dapat latihan dari ayahnya dan beberapa guru lainnya. Rhoma pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi dan Cimande) kepada Pak Rohimin di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Rhoma juga pernah belajar silat Sigundel di jalan Talang, selain beberapa ilmu silat yang lain. Bila terjadi perkelahian antar geng para anggotanya saling menjajal ilmu silat yang telah mereka pelajari.


Polemik Pendidikan Rhoma Irama

Karena kebandelannya itulah, maka Rhoma beberapa kali harus tinggal kelas sehingga karena malu maka ia sering berpindah sekolah. Kelas 3 SMP pernah dijalaninya di Medan, Sumatera Utara ketika ia dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian, ia pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta.

Kenakalan Rhoma terus berlanjut hingga bangku SMA. Pada waktu bersekolah di SMA Negeri VIII Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di luar. Kegandrungannya pada musik dan berkelahi di dalam dan luar sekolah membuatnya sering keluar masuk sekolah SMA. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, SMA St. Joseph di Solo dan akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari rumahnya.

Pada masa SMA di Solo Rhoma pernah melewati masa-masa sangat pahit. Ia terpaksa menjadi pengamen di jalanan kota Solo. Di sana ia ditampung di rumah seorang pengamen yang bernama Mas Gito. Sebenarnya sebelum terdampar di Solo ia berniat hendak belajar di pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Namun, karena tidak membeli karcis Rhoma, Benny (kakaknya) dan tiga orang temannya, Daeng, Umar dan Haris harus categorical kucing-kucingan dengan kondektur selama dalam perjalanan. Daripada terus gelisah karena takut ketahuan dan diturunkan ditempat sepi, mereka akhirnya memilih turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dari Yogya mereka naik kereta lagi menuju Solo.

Ketika di Solo Rhoma melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph. Biaya sekolahnya diperoleh dari ngamen dan menjual beberapa potong pakaian yang dibawanya dari Jakarta. Namun karena di Solo sekolahnya tidak lulus, Rhoma harus pulang ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun 1964. Kemudian, ia kuliah di Fakultas Sosial Politik, Universitas 17 Agustus. Tapi, hal tersebut hanya bertahan satu tahun karena ketertarikannya pada dunia musik yang begitu besar.



Gambar. Rhoma Irama


Perjalanan Awal Karir

Musik cocktail dan stone merupakan langkah pertama Rhoma sebagai pemusik dan penyanyi. Seperti dikisahkan kakak kandungnya, Benny Muharram, bahwa Rhoma sempat enggan merekam lagu Melayu yang ditawarkan oleh Dick Tamimi dari perusahaan rekaman Dimita Moulding Company pada tahun 1967, meskipun sebelumnya dia sudah sering menyanyi bersama sejumlah orkes melayu.

Selain menjadi penyanyi Orkes Melayu Candraleka dan Indraprasta, Rhoma juga melantunkan suaranya bersama Band Tornado dan Varia Irama Melody. Bersama band-band tersebut Rhoma membawakan lagu-lagu cocktail barat dan menyanyi sambil meniru persis suara Paul Anka melalui lagu yang berjudul Diana ataupun Put Your Head On My Shoulder dan lagunya Andy Williams seperti, Butterfly, Moon River, serta Tom Jones seperti, Green-green Grass of Home, Dellilah.

Rhoma memang sudah bergelut dengan musik cocktail sejak masih di bangku SMA. Bersama teman-teman sekolahnya ia sempat membentuk Band Gayhand. Ketika musik Rock n’ Roll melanda Indonesia, ternyata hal tersebut membuat Rhoma terpesona hingga dalam hatinya ia bertekad “Elvis saja bisa menjadi raja dengan gitarnya, saya juga bisa”.

Namun begitu berada di dalam dunia musik, Rhoma ikut terbawa arusnya. Dengan meniru gaya menyanyi Benyamis S. dan Ida Royani, Muchsin Alatas dan Titiek Shandora yang sedang populer, Rhoma tidak keberatan diduetkan dengan Inneke Kusumawati oleh Amin Widjaya dari perusahaan rekaman Metropolitan dan Canary Records. Diiringi Band Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, Rhoma dan Inneke rekaman dalam sejumlah lagu seperti: Pujaan Hati, Di Rumah Saja, Bunga dan Kupu-kupu, Mohon Diri, Mabuk Kepayang, Jangan Dekat-dekat, Anaknya Lima, Si Oteh, Lonceng Berbunyi, Melati di Musim Kemarau dan Cinta Buta. Menurut Zakaria, pimpinan Orkes Pancaran Muda yang salah satu lagunya, Anaknya Lima, dibawakan duet ini. Munculnya pasangan Rhoma-Inneke sempat menggoyahkan popularitas Muchsin Alatas dan Titiek Sandora. Melihat keberhasilannya berduet dengan Inneke, kemudian Zakaria menyarankan Rhoma berduet dengan Wiwiek Abidin untuk mengikuti lomba menyanyi di Singapura pada tahun 1971, dan duet Rhoma-Wiwiek berhasil menjadi juara.

Pada acara Panggung Gembira Hari Radio ke 26 di halaman gedung RRI, Jln. Merdeka Barat, 19 Januari 1971, walau termasuk masih baru, duet Rhoma-Inneke menjadi pusat perhatian di antara penyanyi-penyanyi duet lainnya, seperti, Elly Kasim-Tiar Ramon, Vivi Sumanti-Frans Doromez dan Ida Royani- Benyamin Sueb. Duet Rhoma-Inneke juga diiringi oleh Band Galaxi pimpinan Jopie Item ketika rekaman. Dengan pakem musik rock, Jopie mengiringi Rhoma mengiringi sendirian dengan pekik dan teriakan yang kemudian diteruskannya setelah mendirikan Soneta Group pada 13 Oktober 1970.

Pergaulan Rhoma dengan musik cocktail dan stone pula yang mempertemukannya dengan pimpinan rope perempuan Beach Girls yang bernama Veronica Agustina Timbuleng dan lantas menikahinya pada tahun 1972. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Debbie Veramasari, Fikri Zulfikar dan Romy Syahrial.


Pertarungan Rock dan Dangdut

Arus industri musik juga sempat membawa Rhoma dan Vero bertrio dengan Debbie mengikuti sukses Chicha dengan lagu Heli serta Yoan dengan lagu Si Kodok pada tahun 1976. Akan tetapi, setelah memimpin grupnya sendiri, Soneta Group yang bersemboyan Voice of Moslem (Suara Muslim), Rhoma justru menjadi arus itu sendiri dengan menyuntikkan musik stone ke dalam manuscript dangdutnya yang pertama yang berjudul ‘Begadang’, yang berisi lagu Begadang, Sengaja, Sampai Pagi, Tung Keripit, Cinta Pertama, Kampungan, Ya Le Le, Tak Tega dan Sedingin Salju. Akibatnya, Rhoma menyulut pro dan kontra. Komunitas dangdut banyak yang keberatan, sementara kalangan pemusik stone menerima dengan sinis. Ujung-ujungnya diadakan diskusi yang bertajuk “Sekitar Musik Hard Rock dan Dangdut” di Gedung Merdeka Bandung pada akhir Juni 1976, dengan Maman S. dari majalah Aktuil sebagai penyelenggara, dan menghadirkan pembicara Dr. Sudjoko dari ITB, Remy Silado, Benny Subarja dan Denny Sabri sebagai wakil Rhoma yang tidak hadir. Ahmad Albar dan Harry Roesli yang diundang tidak juga tidak kelihatan. Eksperimen Rhoma yang semestinya dijadikan perhatian serius justru menjadi olok-olok hingga timbul ejekan, seperti, tahi anjing dan bistik jangan dibandingkan gado-gado. Grup stone God Bless dan Soneta dipertemukan di Istora, pada 22 Desember 1977 dengan maksud melihat mana yang lebih hebat, stone atau dangdut. Padahal, sebelum manggung Rhoma melepaskan merpati putih sebagai tanda perdamaian. Sebagaimana diskusinya, pertunjukan di Istora tersebut juga tidak memberikan solusi yang konkret. Grup musik stone tetap berjalan sebagaimana biasa, sementara Rhoma justru terus berkibar dengan dangdut rocknya yang semakin membumi sampai-sampi masyarakat menjulukinya ‘Raja Dangdut’.


Karir: Album dan Film

Album-album rekamannya yang semakin ‘ngerock’ mengalir tanpa bisa dibendung, bahkan oleh pemerintah Orde Baru sekalipun yang dengan alasan politik melarangnya tampil di stasiun televisi satu-satunya saat itu, TVRI. Hal tersebut merupakan dampak atas lagu-lagunya yang menyindir pemerintah, seperti pada lagu Hak Azasi. Pada lagu tersebut dengan gagah berani Rhoma berbicara mengenai HAM, kebebasan berbicara, beragama, bekerja dan sebagainya. Album rekamannya menjadi arus yang memutar roda industri musik semakin kencang. Setelah manuscript Begadang menjadi sangat populer, menyusul album-album berikutnya, seperti: Penasaran (1976), Rupiah (1976), Darah Muda (1977), Musik (1977), 135 Juta (1978), Santai (1979), Hak Azasi (1980), Begadang II (1981), Sahabat (1982), hingga Indonesia (1983), yang semuanya diproduksi oleh Yukawi Corporation. Perusahaan rekaman ini lantas berubah menjadi Soneta Records, milik Rhoma.

Langkah tegap Rhoma semakin mantap dengan membintangi beberapa film, seperti: Oma Irama Penasaran (1976), Gitar Tua Oma Irama (1977), Oma Irama Berkelana we (1978), Oma Irama Berkelana II (1978), Begadang (1978), Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga (1979), Camelia (1979), Perjuangan dan Doa (1980), Melodi Cinta Rhoma Irama (1980), Badai di Awal Bahagia (1981), Satria Bergitar (1984), Cinta Kembar (1984), Pengabdian (1985), Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari we (1986), Menggapai Matahari II (1986), Nada-nada Rindu (1987), Bunga Desa (1988), Jaka Swara (1990), Nada dan Dawah (1991), serta Tabir Biru (1994), diteruskannya dengan penerbitan soundtrack yang laris manis. Dalam film Darah Muda, Rhoma bahkan menggandeng Ucok Harahap dari grup stone Aka yang pernah bertarung dengan Soneta Group di atas panggung. Pertarungan musik stone dan dangdut juga adalah inti cerita film ini.

Berdasarkan information penjualan kaset dan jumlah penonton film-film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan tahun 1984. “Tidak ada kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, tulis majalah Tempo pada 30 Juni 1984. sementara itu Rhoma sendiri berkata, “Saya takut publikasi, ternyata, saya sudah terseret jauh”.
Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma laku. Bahkan, sebelum sebuah film selesai diproses orang sudah membelinya, seperti film berjudul Satria Bergitar misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Menurut kakaknya, Benny, yang juga produser PT Rhoma Film, Rhoma tidak pernah makan uang dari hasil film, tetapi dari hasil penjualan kaset. Uang hasil film disumbangkan untuk, antara lain, masjid, yatim piatu, kegiatan remaja dan perbaikan kampung. Bahkan, pada tahun 1983 Rhoma membayar zakat sebesar Rp 6 juta.

Meskipun demikian, jika dikaitkan dengan perolehan material, Rhoma bisa dikatakan sebagai pemusik terkaya di negeri ini. Bayangkan, sebelum pemusik lain naik mobil Mercy, ia sudah menikmati kenyamanan mobil mewah itu sejak tahun 70-an. Hal tersebut terindikasi ketika membaca wawancaranya dengan harian The Jakarta Post, saat Rhoma secara rendah hati menyatakan punya uang yang cukup meski tidak banyak. Hal itu masuk akal, mengingat sejeblok-jebloknya kaset Rhoma Irama di pasaran, minimal akan terjual sampai 400 ribu duplicate per album. Ini semakin menggelikan jika dibandingkan dengan musisi di luar dangdut yang acapkali berbangga secara berlebihan meski kasetnya hanya terjual tak lebih dari 100 ribu copy.

Boleh jadi sampai kini kejayaan Rhoma belum tergantikan. Kalau dulu ada sebutan The Big Five untuk para ‘Bintang Mahal’, seperti, Roby Sugara, Roy Marten dan Yati Ocktavia, maka pada saat yang sama sebenarnya nilai kontrak Rhoma tetap jauh di atas mereka. Bahkan, banyak produser film rela menunggu giliran sampai tiga tahun hanya untuk dapat mengontrak Rhoma.

Selain itu, Rhoma juga terhitung sebagai salah satu penghibur pale sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma bukan hanya tampil di dalam negeri, tetapi ia juga pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura dan Brunei Darussalam dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Beberapa media massa Indonesia melaporkan, bahwa, penonton pertunjukan Rhoma di berbagai daerah ada yang jatuh pingsan atau celaka lantaran terlalu berdesakan. Hal yang sangat disesalkan Rhoma sendiri. “Untuk mendapatkan hiburan, mengapa mesti sampai jatuh korban begitu?” katanya.

Rhoma menyatakan, bahwa dirinya banyak dijadikan bahan rujukan penelitian. Ada sekitar 7 skripsi tentang dirinya dan musik yang telah dihasilkan. Selain itu, peneliti asing juga kerap menjadikannya obyek penelitian, salah satunya adalah William H. Frederick, Doktor Sosiologi, Universitas Ohio, AS pada 1985 dengan judul; Rhoma Irama and The Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat. Ia menyebutkan dalam tesisnya, bahwa: “Rhoma Irama adalah revolusioner dalam dunia musik Indonesia. Hampir bisa dipastikan, di Indonesia, Rhoma Irama adalah penghibur pale jempolan. Sejak rapat-rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang pale banyak dibanjiri massa adalah panggung Rhoma Irama”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Bila di dunia musik Amerika sosok Mick Jagger sangat berpengaruh, di Indonesia, bandingan sosok yang sepadan dengannya ada pada figur Rhoma Irama. Kedua orang ini sama-sama jenius dan otodidak. Keduanya mampu tampil ke posisi puncak musikalnya karena kekuatan bakat alam yang luar biasa hebat.”


Sisi lain Si Raja Dangdut: Penghargaan dan Aktivitas

Rhoma Irama adalah seorang revolusioner dalam dunia musik Indonesia. Demikianlah komentar seorang sosiolog AS dalam tesisnya berjudul Rhoma Irama and a Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, 1985. Komentar ini tidaklah berlebihan mengingat “Raja Dangdut” yang mencanangkan semboyan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973 ini menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik stone dalam musik melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum dan penampilan di atas panggung. Kesuksesannya bersama Soneta untuk merevolusi orkes melayu menjadi dangdut itulah yang menyebabkan seorang sosiolog Jepang, Mr. Tanaka, menyatakan Rhoma sebagai "Founder of Dangdut". Pengalamannya menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih sekolah dasar, lagu-lagu cocktail dan stone Barat hingga akhir 1960-an lalu beralih ke musik Melayu, menjadikan lagu dan musik yang dibawakannya di atas panggung lebih dinamis, melodis dan menarik.

Pada akhir Apr 1994 Rhoma Irama menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Tanaka dari Life Record Jepang di Tokyo. Sebanyak 200 buah judul lagunya akan direkam ke dalam bahasa Inggris dan Jepang, untuk diedarkan di pasar Internasional. Rencananya lagu-lagu tersebut dibuat dalam bentuk laser front (LD) dan compress front (CD).

Rhoma juga aktif dalam dunia politik. Di masa Orde Baru, ia sempat menjadi tokoh penting di PPP, kemudian pindah ke Golkar, dan terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Jakarta dalam Pemilu 1997. Pada Pemilu 2004, Rhoma Irama tampil pula di panggung kampanye PKS. Rhoma Irama dikenal sebagai seorang pendakwah dan pengkhotbah Muslim dan menjadi ketua umum Forum Umat Islam (FUI), sebuah organisasi keagamaan yang tidak berpihak kepada partai manapun.

Kini, Rhoma yang biasa dipanggil Bang Haji ini, banyak mengisi waktunya dengan berdakwah baik lewat musik maupun ceramah-ceramah di televisi hingga ke penjuru nusantara. Dengan semangat dan gaya khasnya, Rhoma bersama grup Sonetanya sebagai Sound of Moslem giat meluaskan syiar agama.
Rhoma tidak hanya mencurahkan perhatiannya pada dakwah dan syiar, tapi dia juga peduli dengan nasib sesama musisi, terutama mereka yang berkecimpung dalam dunia Dangdut. Dia mendirikan PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Dangdut Indonesia) dan menjabat sebagai Ketua Umumnya. Dia juga memimpin pendirian AHDCI (Asosiasi Hak Cipta Musik Dangdut Indonesia) untuk memperjuangkan hak atas pembagian royalti yang lebih baik untuk para pencipta musik Dangdut.

Pada 16 Nov 2007, Rhoma menerima penghargaan sebagai The South East Asia Superstar Legend di Singapura. Mengakhiri tahun 2007, Rhoma akan menerima Lifetime Achievement Award pada penyelenggaran perdana Anugrah Musik Indonesia (AMI) Dangdut Awards, yang akan dilangsungkan di Theater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada 23 Desember 2007. Nama Rhoma sendiri diabadikan sebagai nama piala untuk 6 kategori permainan instrumen musik Dangdut.


Tokoh Idola dan Peran Penting Rhoma Irama

Seorang Andrea Hirata mengidolakannya, yang tertampil dalam tulisannya Laskar Pelangi. Indra Brugman dan Pasha Ungu, juga mengidolakannya. Inul Daratitsta dan sederet artis lainnya, menjadikan sosok Rhoma Irama sebagai panutan yang perlu ditiru. Sebagai seorang pembaharu dan memiliki peran penting dalam perkembangan dangdut masa kini, Rhoma juga tidak mengabaikan persoalan agama, moral, dan etika. Syair-syair lagu dalam kemasan bergoyang asik, penuh dengan nasihat, saran, dan bahkan berbicara persoalan filosofik kehidupan. Ayat-ayat Allah SWT terkemas rapi, menarik, dan tidak bergeser sedikitpun dari pemaknaan aslinya. Satu hal yang penting dalam catatan saya, beliau seorang yang konsekuen dan tidak munafik. Sebagai seniman ini tetap pada jalurnya seorang pemusik dangdut, dan sisi lain, dari sejak bersyiar tentang agama, sampai sekarang tetap dilakukan. Baik melalui lagu atau joke ceramah agama.

Tidak dalam hitungan satu atau dua, para tokoh idola yang jatuh dan terjerumus dalam “kesalahan” dan “kesombongan” dunia, tetapi tidak untuk Rhoma Irama. Secara pasti, beliau menjadi sosok idola hampir seluruh umat manusia di Indonesia, jutaan fansnya tersebar dipenjuru dunia. Dangdut yang dulu hanya milik “masyarakat kelas bawah”, sekarang menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari sistem sosial yang ada di Indonesia. Teruslah berkarya, Bang Haji.


DAFTAR RUJUKAN

  1. http://fansrhoma.wordpress.com/biodata-srd/
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/RhomaIrama
  3. http://pojokearashi.wordpress.com/2009/04/30/biografi-roma-irama/
  4. http://soneta.freehostia.com/
  5. http://tonyvanjava.blogspot.com/2009/01/biografi-rhoma-irama-raden-haji-oma.html
  6. http://www.rajadangdut.com/biografi.php?mode=1&page=5
  7. http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/r/rhoma-irama/index.shtml
Rhoma Irama Bicara Cinta & 4 Istri

Majalah Popular, No. 40, Maret 1994

Rhoma Irama, tidak saja dikenal sebagai seorang "Super Star" dang dut, tapi juga mubaliq. di beberapa kesempatan, ceramah-ceramahnya cukup memukau. Dengan pengetahuan agama Islamnya yang semakin dalam, Rhoma Irama tidak keberatan diajak bicara soal wanita, cinta, seks, poligami, talak dan kehidupan abadi di alam baka.

Lahir sebagai putera kedua dari sepuluh bersaudara dalam keluarga R. Burdah Anggawirya dan R.H. Tuti Juariah, anak laki-laki yang bernama R. Oma Irama -kemudian berubah menjadi Rhoma Irama- awalnya mengaku tidak menyukai musik dan lagu dang dut. Dan ia juga tak pernah memimpikan untuk bisa jadi "raja" dang dut seperti sekarang ini.

Bahkan di tahun 1967, perusahaan rekaman Dimita pernah memberi kesempatan pertama kalinya kepada Oma buat rekaman lagu dang dut dengan iringan orkes Chandraleka. Kontan Oma menolak. "Ogah lagu dang dut," kilahnya. "Aneh, dikasih kesempatan, tapi tak mau memanfaatkannya," pikir Benny Mucharam yang abang kandungnya.

Lalu Benny joke mencoba mendesak dan membujuk Oma agar memanfaatkan kesempatan tadi. "Paling tidak sebagai jembatan lah buat kau memasuki dunia rekaman," bujuk Benny kepada adiknya. Oma akhirnya mengalah, dan kemudian menerima tawaran yang diajukan Dimita.

Langkahnya sebagai penyanyi dang dut ternyata diridlai oleh Allah. Baik saat berduet nyanyi dengan Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto atau secara solo, popularitas Rhoma Irama tak terbendungkan. Apalagi setelah dengan grup 'Soneta'nya melempar album Begadang, Penasaran, Darah Muda, Rupiah dan banyak lagi lainnya menempatkan namanya dalam jajaran penyanyi dang dut pale laris.

Kelarisannya itu berlanjut saat dia terjun ke dunia film, yang kebanyakan judulnya diambil dari nama manuscript rekamannya yang sukses. Dan Rhoma pernah menduduki peringkat pertama dalam penerimaan respect sebagai pemain film. Bersama grupnya "Soneta", Rhoma menerimahonor sebesar Rp. 175juta, disusul Suzanna menerima Rp. 60 juta dan Yenny Rachman Rp. 50 juta.

Yang lebih menarik lagi, Rhoma bukan hanya categorical musik, tapi pada tanggal 13 Oktober 1973, bersama grupnya, ia memproklamirkan dirisebagai sound of musleem, menyuarakan suara Islam. Dan kemudian, nafas agama makin terasa dan tercermin dalam setiap lagu yang didendangkannya.

Sampai sekarang hal itu tetap dilaksanakannya. Bahkan, akhir-akhir ini Rhoma juga sibuk dengan kegiatannya sebagai mubaliq. Tapi dia mengaku tidak akan meninggalkan dunia musik. "Karena itu adalah profesi saya," begitu aku Rhoma Irama saat menerima POPULAR untuk wawancara di sela-sela kesibukannya, di rumahnya yang lumayan besar di bilangan Pondok Karya, Jakarta Selatan. Bicaranya jernih, luas dan apa adanya. Tentang apa saja. Profesinya, kegiatannya, pandangannya, bahkan juga dirinya.

Rhoma & Cinta

Globalisasi dan modernisasi tengah melanda semua manusia. Dari lapisan yang paling rendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Nilai-nilai luhur yang ada dalam agama, misalnya: orang tidak lagi menghargai apa itu cinta. Baginya, cinta bisa diberi dan dijajakan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja. sehingga Rhoma Irama melihat hal ini sebagai satu dampak dari pengaruh budaya Barat yang kini marak menyerbu bumi Indonesia.

Dan Rhoma melihat, apa-apa yang terjadi sekarang ini, tidak lepas dari makin lunturnya nilai keimanan seseorang. Perburuan terhadap materi, mengurangi nilai-nilai luhur seorang muslim. Tidak jarang dengan cara-cara kotor pun dihalalkan. Demikian pula dalam mendapatkan cinta, orang terkadang lupa bahwa dia adalah makhluk Tuhan yang pale mulia.

Bagaimana Anda memandang tentang cinta?

Cinta itu kebetulan adalah firman. Kata Allah, Aku jadikan antara kamu tumbuh cinta dan belas kasih. Termasuk suami-isteri ya. Artinya lawan jenis. Jadi dilihat dari ayat ini jelas cinta dan belas kasih itu satu anugerah dari Allah.

Tentu ada aturan mainnya untuk merealisirnya. Untuk mengimplementasikannya, Allah membuat peraturan. Misalnya nikah. Jadi ada satu lembaga yang mengaturnya. Karena pada dasarnya, di dalam cinta itu terdapat hal yang halal dan yang haram. Kalau tidak disalurkan sesuai dengan ketentuannya maka realisasi cinta itu menjadi haram. Jadi sebaiknya cara untuk merealisir cinta itu -mewujudkan hubungan dua insan yang berbeda- lewat lembaga yang namanya perkawinan.

Kalau begitu, cinta harus dikaitkan dengan perkawinan, dong.

Ya, kalau itu cinta antar lawan jenis. Kalau tidak dan categorical seenaknya, mengumbar dengan siapa saja, kan sudah hewani namanya. Artinya, manusia dibedakan dari binatang karena dia punya keterikatan pada norma-norma agama. Ya punya keterikatan, punya komitmen terhadap peraturan. Di mana peraturan itu sendiri bukan untuk menyulitkan dia, tapi untuk memudahkan dia, manusia itu sendiri. Seperti contoh; setiap yang dihalalkan itu positif dan konstruktif. Dan setiap yang diharamkan itu negatif dan distruktif. Itu pasti begitu. Termasuk soal seks bebas tadi. Seks bebas ini sebetulnya secara psikologis bisa menimbulkan sakit jiwa. Secara medis dia bisa menimbulkan berbagai macam-macam penyakit. Termasuk AIDS itu sendiri. Artinya begitu ilmiahnya peraturan Allah ini, begitu rasionalnya, bahwa kenapa itu diharamkan karena akan merusak manusia itu sendiri. Kenapa dihalalkan itu akan membuat kebaikan.

Kalau sampai penyelewengan, atau munculnya gejala penyelewengan. Apakah ini merupakan gejala telah terjadi penurunan akhlak?

Saya kurang setuju dengan penurunan akhlak. Yang ada, sebetulnya adalah dispiritualisasi. Dispiritualisasi, demoralisasi terjadi karena salah persepsi terhadap kehidupan. Dia mengira bahwa hidup di dunia inilah kehidupan mereka yang abadi. Padahal secara hakiki, manusia itu sadar Innalillahi wainalillahi rojiun, dia datang dari Allah dan akan pulang kepada Allah. Setiap kita harus menyadari hal itu. Artinya kehidupan dunia itu begitu remanen. Begitu sesaat. Hanya numpang lewat. Selayaknya mereka harus mengisinya dengan perilaku yang positif.

Atau mereka menganggap apa yang dilakukannya itu merupakan bagian dari modernisasi?

Mereka mengira gedung yang bagus itulah tujuan hidup. Dia kira uang itulah tujuan hidup. Material oriented. Nah, dalam kondisi seperti ini kalau tidak diantisipasi, kalau tidak disadarkan dengan agama, mereka akan tersesat. Dia kira keduniaan inilah yang abadi. Maka begitu terjadi kematian, dia kaget. Karena pada dasarnya, dia tidak menginginkan itu. Dia menolak kenyataan. Nah, inilah yang menimbulkan dispiritualisasi. Timbullah perilaku-perilaku yang a religi. Perilaku-perilaku yang menyimpang dari kodratnya. Sebetulnya penyimpangan-penyimpangan ini adalah penyimpangan dari kodratnya.

Bukan karena terjadi pergeseran budaya kita?

Yah, karena salah persepsi tentang kehidupan itu tadi. Itu ditimbulkan karena apa? Karena lingkungan, lingkungan yang tidak membawa dia kesadaran hidup. Pergaulan.

Perubahan itu tampaknya berlangsung cepat. Menurut Anda, bagaimana cara untuk mengerem demoralisasi itu atau kembali meluruskan persepsi yang keliru?

Satu-satunya obat adalah agama. Karena agama itu adalah sesuatu yang fitrah. Bukan agama perlu manusia, tapi manusia perlu kepada agama. Karena siapa pun, seingkar-ingkar manusia tidak mampu menafikan eksistensi Tuhan. Jadi tidak ada satu manusia joke mampu menolak keberadaan Allah. Walaupun perilakunya bertentangan, jauh di dasar hatinya, jauh di dalam otaknya, dia mengakui bahwa Allah itu eksis. Karena keberadaan alam ini, mekanisme alam, itu memerlukan adanya keteraturan, adanya suatu preference maker, satu disainer, adanya satu kreator. Jadi siapa joke manusia, tidak bisa mengingkari ini. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk mengembalikan manusia kepada hal yang positif adalah lewat agama. Karena kata Allah, manusia itu diilhami oleh bakat, bakat durhaka dan bakat taqwa.

Artinya semua manusia punya potensi untuk berbuat positif dan negatif?

Bukan cuma itu. Setiap manusia joke punya bakat jadi kyai, juga punya bakat jadi maling gitu. Beruntunglah orang yang menuruti kecenderungan positif. Celakalah orang yang memperturutkan hawa nafsu. Mengumbar cinta tak semestinya. Jadi untuk berfree-sex, bermabuk-mabukan, semua manusia punya keinginan itu. Ada potensi untuk itu. Nah, kalau memperturutkan yang negatif, binasalah dia. Celakalah orang yang memperturutkan naluri negatifnya. Beruntunglah orang yang memperturutkan naluri positifnya.

Ada yang mengatakan, ini akibat globalisasi yang tengah melanda dunia.

Ini salah satu faktor. Seperti contoh bahwa dengan globalisasi, adanya teknologi informasi, transformasi budaya lewat televisi misalnya tak terelakkan. Bahkan dalam volume yang begitu besar, frekuensi yang begitu padat, masuk langsung lewat kamar-kamar kita dan memberi warna bangsa kita. Lewat penyajian budaya-budaya asing yang notabene kontradiktif dengan budaya-budaya kita. Seperti contoh; bagaimana hirarki di dalam rumahtangga, di Barat enggak ada hirarki. Anak, ibu, bapak, laki perempuan, sama aja. Ber elu gue boleh aja. Bahkan saya pernah melihat satu adegan di RCTI dalam film Mothers Law, ada satu adegan di mana ibu dan anak gadisnya cekcok. Ibunya emosi lalu ditamparnya si anak. Kemudian apa yang terjadi, si anak balas menampar ibunya. Di sana hal ini oke. Sisi seperti ini dalam budaya Islam, apalagi dalam budaya kita, ngomong keras aja enggak boleh apalagi sampai balas menampar orangtua. Sementara hal ini, di sana, itu sesuatu yang lumrah. Nah, kalau hal ini tidak diantisipasi -dengan intensitas penyebaran pembinaan dignified yang sesuai dengan yang kita miliki- bukan mustahil pada suatu saat kita akan western minded, yang notabene bertentangan dengan nilai-nilai yang kita miliki. Yang pasti modernisasi bukanlah westernisasi.

Rhoma & Perkawinan

Rhoma Irama diketahui, tidak hanya menikah sekali. Isterinya yang sekarang, bekas artis film, Ricca Rachim bukanlah isterinya yang pertama. Sebelumnya, ia menikah dengan Veronica, juga seorang artis dan mantan penyanyi dan membuahkan 3 anak.

Bahkan kabarnya, sebelum itu, menurut kabar angin, Rhoma juga menikah.

"Ada prinsip-prinsip yang tidak bisa kami persatukan lagi," kilah laki-laki kelahiran Tasikmalaya, 12 Desember 1946 tersebut.

Ternyata perkawinan tidak mudah juga ya. Cinta bukan jaminan. Ketika baru awal, cintanya menggebu. Setelah itu, entah di mana yang namanya cinta....

Harus ada kerjasama, tidak bisa sepihak. Jadi harus kedua belah pihak. Artinya masing-masing harus mampu menempatkan diri pada posisinya. Harus ada niat dan kerjasama untuk menjaga harmoni. Jadi enggak bisa sendiri-sendiri. Misalnya lakinya komit, perempuannya enggak. Juga sebaliknya. Artinya, laki-laki harus menerima haknya. Begitu juga perempuan. Karena di dalam Islam, bahwa Allah menetapkan pemimpinmu adalah laki-laki, ya ini dipegang.

Jadi, laki-laki itu preference builder di dalam rumahtangga?

Jelas. Mau hebat boat apa-apa perempuan boleh aja, tapi Anda adalah anak buah. Sehingga dengan demikian hirarkinya semakin jelas. Tidak ada pretensi untuk kompetitif di dalam rumahtangga. Kooperatif gitu. Dengan fungsi yang ditetapkan Allah ini, kedudukannya menjadi jelas. Kewajiban mencari nafkah itu suami. Biar perempuan duitnya banyak, punya warisan, tidak punya kewajiban membiayai nafkah. Enggak ada tuh kewajiban untuk menafkai rumahtangga. Tapi biar gaji suami seperak, dia wajib membiayai rumahtangganya. Nah, terus haknya suami berhak dilayani. Jadi take and give. Seperti inilah yang akan menimbulkan harmoni kooperatif.

Apa ini tidak merendahkan derajat wanita? Setidaknya, muncul kesan bahwa laki-laki itu nomor satu, mau menangnya sendiri.

Kita harus melihatnya dengan jernih. Bahwa kedudukan laki-laki sebagai kepala rumah tangga, itu tertulis di agama. Tapi persoalan nomor satu dan nomor dua, tak bisa begitu saja. Sebab, kalau laki-laki itu tak bisa memenuhi kewajibannya, misalnya, ya apakah pantas mendapatkan nomor? Jadi persoalannya adalah pembagian tugas. Katakanlah, suami istri itu ibaratnya mur dengan baut. Bersatunya mur sama baut ini konsepsi Islam. Sehingga satu sama lain saling membutuhkan. Bukan seperti lady ransom di Barat. Mereka jadi kompetitif. Yang ada hanya baut sama baut. Akibatnya, beradu. Maka terjadilah benturan-benturan, karena ingin berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Sehingga fungsi dan statusnya menjadi samar-samar.

Dalam rumahtangga Anda sendiri bagaimana?

Sebagai laki-laki saya harus konsisten dan konsekuen. Misalnya saya telah tetapkan pola saya begini, mau oke, tidak mau out. Artinya kalau saya tunduk pada hukum Allah, kamu harus tunduk pada hukum Allah. Kalau kamu tidak tunduk pada hukum Allah, maka kamu tunduk pada hukum syaitan. Berarti kita tidak bisa sejalan.

Wah, sadis amat. Bagaimana kalau salah satu tidak mentaati atau berubah fungsi?

Ada talak.

Begitu mudah?

Talak jangan selalu diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Sebab, talak itu bukan sesuatu yang buruk. Kalau ditelaah benar, talak itu sebenarnya berfungsi mendidik.

Apa yang dimaksud mendidik?

Seperti Anda tahu, talak itu ada tiga tahap. Talak satu, talak dua dan talak tiga. Talak satu; dijatuhkan kalau dia tidak mampu melaksanakan sesuai dengan prosedur jalan Allah, kasih talak satu. Sebelum jatuhnya talak, ada proses, nasihati dengan kata-kata baik. Enggak kena sama kata-kata baik, lakukan dengan kata-kata kasar. Misalnya contoh: kalau bini enggak mau sembahyang. Enggak mau juga, lanjutkan dengan kata-kata kasar. Enggak mau pakai kata-kata kasar, pisah tempat tidur. Enggak bisa juga, baru pukul!

Khok pakai dipukul segala?

Tentunya pukul dalam konteks mengajar, mendidik. Bukan menyakiti. Enggak mau juga, ya sudah kasih talak satu. Bubar. Talak satu ini mengandung unsur pendidikan, untuk saling introspeksi. Kalau dalam bubar itu dia bisa oke deh, gua mau sekarang sholat, rujuk. Karena memang ada klausal rujuk. Sedang talak dua; bila kita sudah rujuk tapi ternyata tidak juga beres, kasih talak dua. Sedang talak tiga; kalau benar-benar kita tidak ingin rujuk.

Bagaimana kalau pihak laki-laki yang salah?

Sama saja. wanitanya boleh minta talak. Dan semua itu perlu proses, tidak dijatuhkan begitu saja. Talak itu baru boleh dijatuhkan, kalau memang tidak ada jalan lain.

Ada lagi yang sering dianggap bahwa laki-laki itu mau menang sendiri, egois. Misalnya, soal poligami. Dalam hal ini, kaum wanita sering merasa sebagai korban.

Kita kembali ke agama yang menjadi dasar pegangan hidup. Di dalam Al'quran ada dikatakan nikahilah olehmu perempuan itu, dua, tiga, empat, tapi kamu lihat kondisinya. Kalau kamu tidak mampu berlaku adil, sebaik-baiknya satu. Sebab, sebenarnya, yang hanya bisa berlaku adil hanya Allah Subhanahu wataallah. Ada lagi yang bisa dirasionalkan dari poligami ini. Yaitu berkaitan dengan masalah sosial, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Ambil contoh kasus Vietnam misalnya. Dengan adanya perang ini muncul tidak kurang dari2 juta janda perang. Lalu dari dua juta janda perang itu, katakanlah seorang janda punya dua orang anak, kasus sosial yang ada adalah dua juta janda dengan empat juta anak yatim. Nah, ini kasus sosial. Nah, poligami di situ sebenarnya bisa berfungsi di situ. Artinya, kalau jumlah janda dikawinkan dengan anak muda bujangan, berapa banyak kita harus menyediakannya. Dan lagi pula mana ada yang mau. Mereka 'kan mauan pilih perawan. Kalau duda, apa ada sebanyak itu jumlah duda? Ini satu contoh kasus.

Kalau saja poligami tetap tidak dilakukan? Ada yang menyebut, poligami juga mencegah prostitusi.

Mungkin saja. buktinya, di Vietnam yang tidak berlaku prostitusi kan terjadi pelacuran massal. Akibatnya timbul Vietnam Rose. Meledak sampai ke mana-mana, yang sekarang berkembang menjadi AIDS. Artinya Allah membuat hukum-hukum termasuk keringanan. Poligami dalam kasus Vietnam, bisa disebut sebagai pintu keluar. Jalan keluar dari masalah-masalah sosial yang ada. Makanya, kalau tidak mampu secara kondisional dan situasional, satu saja deh. Artinya, poligami mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Bukan artinya setiap orang bisa, tidak.

Tapi kalau soal prostitusi kan ada kaitan lainnya. Soal akhlak.

Sekarang seandainya sebaliknya. Ada wabah yang mengakibatkan banyak wanita meninggal, sehingga kelebihan laki-laki. Apakah wanita boleh bersuami dua?

Audzubillah min zalik. Seperti yang disebut, laki-laki itu jadi pemimpin. Kalau ada dua laki-laki dalam rumah tangga terus bagaimana? Belum lagi kalau memiliki anak. Tak usah berandai-andailah. Mustahil. Allah menurunkan wahyunya untuk sepanjang jaman.

Bagaimana Anda bersikap -menerima atau tidak- bila misalnya ada seorang janda yang cantik dengan dua orang anak, minta dikawini oleh Anda meski sebagai isteri kedua?

(Tertegun sejenak...) Hmm.. Banyak pertimbangan. Lihat situasinya, lihat kondisinya. Tapi kalau kamu tidak bisa berlaku adil, sebaiknya satu saja. adil ini dalam segala aspek. Luas sekali. Makanya, jarang sekali orang yang bisa melaksanakan poligami.

Apa karena pertimbangan itu, yang membuat Anda tidak kedengaran berpoligami? Atau ada pertimbangan lain?

(Tertawa pelan...) Hm.. secara umum kita bicara demikian. Kalau yang secarapribadi no comment. He... he.. he..

Dari sudut pandang agama bagaimana?

Yang membuat hukum nikah Allah. Yang bikin hukum poligami Allah. Yang bikin hukum talak Allah. Nah, artinya, manusia nih pada kondisi tertentu dia akan membutuhkan ini. Seperti di agama Kristen, maaf nih.. di sana enggak ada hukum cerai. Akan tetapi pada realitanya, kondisi cerai itu lebih baik daripada bersatu. Artinya, bersatu itu belum tentu yang terbaik. Dan ini banyak dialami di Barat. Contohnya, Hollywood deh, mereka melakukan kawin cerai-kawin cerai seenaknya. Ini realita dari satu kehidupan. Dan kalau Islam mengatur ini, memang Islam itu realistis gitu. Cuma, ini hanya baik bila digunakan pada kondisinya. Kamu nikah kalau memang pada kondisi itu. Begitu juga berpoligami, kalau memang kamu berada pada kondisi itu, gitu lho. Kamu juga boleh cerai, kalau memang itu yang terbaik. Jadi ini semua jalan keluar.

Rhoma & Jahiliah

Berasal dari kampung, Oma lahir dan besar sebagaimana layaknya orang yang hidup sederhana. Dan kemudian tumbuh bersama masyarakat Ibukota yang heterogen dan keras, Oma joke tumbuh seperti remaja yang memiliki masa yang dianggap tidak mulus. Teman-temannya tentu bisa bercerita bagaimana pemuda berambut gondrong yang naik engine ke sana kemari, berkumpul dengan pemuda yang 'petita-petiti' dan juga sering terlibat perkelahian.

"Itu merupakan bagian dari perjalanan hidup saya. Saya memang dalam proses mencari. Bahkan saya joke sempat mempelajari dan mengadakan investigate perbandingan dengan agama lain, dalam pencarian itu," ujarnya.

Kini, Rhoma merasa telah menemukan jati diri itu. Bahkan kini dia nampak lebih serius, ada nuansa baru di balik dirinya. Masa jahiliah, begitu disebutnya, sudah ditinggalkannya. Dan perubahan itu saja menjadikannya lebih terkenal, tapi lebih dari itu; Rhoma Irama telah menjadi hamba Tuhan yang taat dan berusaha berjalan di jalan-NYA. Dan perubahan itu, bukan pekerjaan yang mudah. Tapi itu telah dilakukannya.

Sebagai manusia kita termasuk kepada hukum Allah. Jadi, setiap manusia suatu saat kelak akan mengalami perubahan, ya?

Semua manusia mengalami hal-hal seperti itu. Cuma, masalahnya dia berada atau tidak dalam kondisi itu. Karena Al Qur'an diperuntukkan untuk memberikan way out. Islam is not usually a religion, though it's also of life and a hole civilisation. Islam bukan sekedar agama, tapi dia adalah bimbingan hidup dan juga sebuah peradaban yang komprehensif, yang lengkap. Jadi apa joke kasus manusia, ada di sini. Ada pemecahannya, ada wayoutnya.

Pada usia berapa Anda mulai meninggalkan hal-hal yang negatif?

Sebetulnya sejak kecil, saya sudah biasa melakukan perintah agama. Dari sholat sampai puasa. Artinya, sejak kecil saya sudah dibina juga untuk mempelajari agama. Tapi terus terang baru secara tradisional. Nah, beragama secara rasional, artinya betul-betul dengan akal, baru pada tahun tujuhpuluh tiga. Setelah sebelumnya mempelajari dan mengadakan perbandingan agama.

Khok sampai mengadakan perbandingan agama segala?

Karena agama bukan sesuatu hal yang main-main. Risikonya tinggi. Agama ini untuk keselamatan hidup milyaran tahun, bahkan abadi. Harus diyakini dulu, baru kita proklamirkan, artinya saya buat suatu matter menyatakan perang terhadap iblis. Nah, iblis itu -bisik-bisiknya yang bernada negatif di dada kita- kita perangi. Itu yang dikatakan nabi, berperang melawan hawa nafsu. Melawan diri sendiri. Kita tundukkan segala keinginan hewaniah dan kita bangkitkan segala hal-hal yang positif. Itu tanggal 13 Oktober 1973. Artinya, pada saat itulah saya berbaiat dengan tujuh anggota Soneta Group untuk menjadikan Soneta ini, satu media dakwah. Dan kita akan berperang dengan iblis.

Kesadaran itu timbul bukan karena Anda mengalami satu peristiwa yang menyedihkan atau menyeramkan?

Bukan. Ini lebih banyak diakibatkan dari situasi yang ada. Saya resah melihat kehidupan masyarakat pada saat itu -khususnya yang muda-muda- karena pada saat itu kita memang baru dilanda budaya Barat dengan diidentikkan dengan minuman keras, rambut panjang, pakaian seenaknya, kelakuan seenaknya, identik dengan pergaulan bebas dan sebagainya, kita resah.

Jadi karena terketuk hatinya?

Terus terang saja, pada saat itu, musik dangdut dari yang jazz sampai dang dut, enggak ada yang enggak maksiat. Enggak ada yang enggak peminum, enggak ada yang enggak giveaway sex. Merekabegitu menghamba pada hawa nafsu. Yang namanya musisi udah halal aja mau ngapain juga. Nah, yang namanya artis mau maksiat udah pantes aja pada saat itu. Nah, saya terpanggil.

Anda melihat wanita seperti apa sih?

Wanita itu seperti kata Allah, mereka itu pakaianmu dan kamu pakaian mereka. Artinya wanita itu pakaianmu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Itu salah satu bahasa seni yang tinggi dari Allah. Kalau kita mau jabarkan apa sih pakaian? Pakaian ini 'kan sesuatu kehormatan. Suatu kebanggaan. Sesuatu yang menutupi aurat. Berarti seorang suami harus mampu menutupi aurat isterinya. Seorang isteri harus mampu menutupi aib suaminya. Seorang suami harus mampu memberikan kebanggaan kepada isteri dan seorang isteri harus mampu memberikan kebanggaan kepada suami. Ini suatu konsepsi timbal balik yang harmoni.

Dari sisi mana Anda melihat seorang wanita itu menarik?

Wanita itu sesuatu yang pale indah. Ciptaan Allah yang pale indah. Sebagaimana kata nabi, dunia ini perhiasan. Tapi seindah-indah perhiasan, perempuan yang solehah jauh lebih indah.

Jadi Anda melihat dari sisi solehahnya, bukan lahiriahnya?

Iya. Itu pasti. Sebab dari wanita yang solehah -artinya melakukan sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatan dan taat pada suami- merupakan aset yang tak ternilai harganya. Jauh melebihi kecantikannyasecara lahiriah. Karena tidak ada perhiasan enggak ada lebih indah dari pada seorang wanita yang salehah.

Itu dari sisi akhlaknya. Bagaimana dari sisi lahiriahnya?

Maha Suci Allah yang maha pencipta. Jadi kalau Anda melihat lukisan yang indah, kalau Anda orang arif Anda bukan mengagumi lukisannya tapi mengagumi si pelukis. Bukan lukisannya. Oke tapi fokusnya itu ke pelukis. Gila, pinter bener Basoeki Abdullah., bukan hebat benar lukisan ini. Itu kalau orang arif. Tapi kalau orang bodoh, dia akan mengagumi lukisan itu. Dia gila sama lukisan. Padahal sekedar lukisan.

Misalnya ada wanita yang saleha, tapi secaralahiriah tak menarik, atau malah cacat.

Allah Maha Adil. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kembali ibarat lukisan, apapun bentuk lukisan itu, kalau pelukisnya memang hebat, kan tetap memiliki daya tarik.

Rhoma & Seks

Rhoma ternyata bukan saja asyik diajak bicara soal agama dan kaidah-kaidah Islam, juga soal yang namanya seks dia cukup cekatakan. Namun terkadang ada juga yang "diselimutinya". Walau begitu toh tetap menarik bila sang super star berbicara soal seks ini. Dengan kalimat-kalimatnya yang bersayap, kita mendapatkan gambaran bahwa sebenarnya Rhoma Irama tidak kolot dalam melihat masalah ini. Baik dalam kehidupan pribadinya maupun untuk khalayak banyak.

Ada yang bilang, seks itu indah. Menurut Anda?

Ya, seks itu seperti saya katakan tadi, Allah yang menciptakan cinta kasih itu ya. Seks itu salah satu eplementasi daripada perwujudan cinta dalam arti kata love ya. Itu sudah fitrah dari manusia memang dikondisikan seperti itu. Cuma Islam mengatur adab - jangankan adab seks, adab ke luar masuk kamar mandi itu diatur oleh Islam. Kalau masuk kamar mandi kaki kiri dulu, ke luar kaki kanan. Doanya juga ada. Termasuk beristinja, mencuci kemaluan setelah membuang air kecil itu diatur. Apalagi memberikan nafkah bathin kepada isteri, itu ada akhlaknya, ada adabnya. Jadi bukan seks seperti hewan. Semau gue itu enggak bisa. Kalau ini dilanggar, ini akan menimbulkan seperti AIDS tadi. Ada konsekuensinya. Makanya Allah membuat aturan-aturan untuk kemaslahatan manusia. Seperti AIDS disebabkan karena seks yang tidak semestinya, misalnya, karena pelecehan seks dan lain sebagainya. Karena hura-hura seks. Jadi seks joke ada aturan mainnya. Di dalam Islam selalu diatur, bahkan ada doa pada saat melaksanakan dan setelah melaksanakan. Salah satu nikmat yang pale besar dari Allah, seks. Dengan mensyukuri, dengan memelihara dan dengan mengkondisikannya sedemikian rupa. Enggak bisa kita seenaknya, seperti binatang.

Kalau benteng iman kita baik, tak perlu takut AIDS dong.

Tepat.. makanya saya ketawa, ketika dunia merayakan hari AIDS dengan pesta kondom. Bagaimana ini? Khok kondom dijadikan primadona. Ini seakan-akan legalisasi prostitusi dan giveaway seks. Artinya seakan-akan menganjurkan, oke lah boleh berseks ria asal pakai kondom, halal. Save. Gitu 'kan. Padahal sebetulnya untuk mengantisipasi AIDS, adalah mengikuti norma-norma yang bisa menghindarkan manusia dari perbuatan seks yang tidak terarah.

Penularan AIDS di samping sering gonta-ganti pasangan, melacur, juga dari hubungan seks yang menyimpang. Tanggapan Anda?

Jelas dosa.

Meskipun hubungan menyimpang itu dengan isteri sendiri?

Lho iya. Dosa besar.

Apa sih artinya dosa itu sendiri dari sudut pandang Anda?

Kalau boleh saya artikan, dosa itu salah satu akibat yang ditimbulkan oleh sebab, sehingga muncul sangsi yang berat. Seperti contoh: orang yang berzina. Ini jelas berdosa. Apa akibat dosa, ya bisa-bisa kita kena penyakit. Minum minuman keras itu berdosa. Apa akibat dosa itu, ya sakit jantung, paru-paru lu rusak. Ini di dunia. Mencuri dosa, sangsinya masuk penjara. Jadi dosa itu bukan tanpa resiko.

Cara menebusnya?

Kalau kepada Allah dengan bertobat. Artinya tobat nasuhah. Yang harus memenuhi tiga syarat; penyesalan, perjanjian dan hijrah artinya pindah daripada perbuatan buruk ke perbuatan positif. Hijrah daripada pergaulan buruk kepada pergaulan positif. Hijrah daripada kelakuan-kelakuan buruk kepada kelakuan baik. Artinya tobat seperti ini bisa mengampuni dosa-dosa itu.

Misalnya Anda nyeleweng lalu minta maaf pada isteri, apakah ini otomatis bisa menghapus dosa?

Kalau hal itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan basa-basi, tentulah akan mengurangi dosa kita. Apalagi dengan wujud nyata, misalnya tidak melakukan penyelewengan lagi dan menjauhkan yang bathil, rasanya dosa itu akan terhapus. Dan kalau Anda berniat untuk tobat itu bertobat dan mohon maaf lah kepada Allah, dalam bentuk yang hakiki dan itu benar-benar keluar dari dalam. Bukan yang lips service. Nah, itu yang bisa menghapuskan kesalahan.

Sebagai seorang super star tentunya Anda mengalami banyak godaan. Bagaimana kiat Anda menangkisnya?

Dengan satu kesadaran bahwa kita ini harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita. Manusia akan menerima apa yang dilakukan. Jadi kalau kita menghadapi satu cobaan, tentunya kita sudah mampu menganalisa merugikan atau menguntungkan. Kalau untuk keuntungan sesaat tapi merugikan, lebih baik minggir aja deh. Dengan kesadaran seperti itu tadi, kita akan mudah menghindari cobaan-cobaan.

Sejauh mana sih, benteng keimanan?

Pernah dengarkan lagu saya yang berjudul "Syetan Pasti Kalah". Sebetulnya asal kita mau saja ,syaitan itu kecil. Sebab, pada dasarnya, manusia itu adalah mahluk ciptaan Allah yang pale mulia. Lebih-lebih bila dia beriman. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang pale tinggi. Lebih tinggi daripada malaikat. Kalau dia beriman. Tapi kalau dia menuruti syaitan, Allah bilang akan menjatuhkan serendah-rendahnya drajat. Bahkan lebih hina dari binatang. Jadi kalau manusia beriman, dia akan lebih tinggi daripada syaitan. Bahkan dari malaikat. Nah, kalau kondisi seperti ini syaitan takut sama kite. Karena beriman tadi. Dengan beriman jabatan kita, derajat kita berada dalam posisi tertinggi di antara semua mahluk. Termasuk malaikat.

Akhir-akhir ini terlihat begitu tumbuh dan berkembangnya pengajian-pengajian di rumah atau di hotel-hotel oleh kalangan eksekutif atau kalangan elit. Kita-kira gejala apa ini?

Seperti saya telah katakan, bahwa tidak ada satu mahluk, satu manusia -termasuk manusia Indonesia- yang menafikan eksistensi Allah. Katakanlah ini merupakan satu kebutuhan manusia. Untuk ber Tuhan itu merupakan kebutuhan setiap manusia. Kita ambil contoh misalnya orang-orang animisme; karena ketidaktahuan dia, kebutaan dia terhadap agama, maka apa yang dianggap sakral adalah Tuhannya. Itu menunjukkan fitrah manusia. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih menguasai mereka itu. Nah, sekarang di epoch azas tunggal ini, di epoch pembangunan dimana konotasi pembangunan sejak orde baru bertujuan membangun manusia seutuhnya, maka pemerintah memberikan satu goodwill pada pembangunan mental spiritual. Nah, ini yang disambut oleh khalayak.

Apakah hal ini juga yang membuat Anda sekarang banyak tampil sebagai seorang mubaliq?

Bukan faktor itu, tapi memang, sebagai seperti yang saya katakan tadi saya sudah tertantang, terpanggil jauh-jauh sebelum kondisi itu.

Mungkinkah ini merupakan profesi lain, selain penyanyi?

Tidak juga. Sebenarnya dakwah grave memang saya membatasi diri. Karena saya sadari bahwa profesi saya adalah seorang seniman. Saya bukan seorang mubalig. Artinya bukan seorang alim. Saya berdakwah de-ngan cara saya dan di lini saya. Oleh karena itu dakwah grave saya batasi sekali. Kalau enggak kenal banget, kalau enggak penting sekali enggak deh. Biarlah mereka yang berprofessi mubalig.

Tapi sekarang ini professi baru itu kelihatan lebih menonjol?

Masa. Sepertinya sudah saya kurangi tuh. Misalnya ada seratus undangan, barangkali cuma satu yang saya penuhi. Itu joke sudah seketat itu.

Kalau disuruh memilih menjadi penyanyi atau mubaliq, Anda pilih mana?

Saya usahakan tetap menjadi menyanyi. Karena apa, bahwa saya merasa itulah keahlian saya. Di situ saya merasa ekspert ya. Dan lini itu kosong kalau saya tinggal. Sampai sekarang saya belum melihat pengganti, kita masih membutuhkan kaderisasi walaupun tidak secara resmi. Karena justru musik ini ujung tombak dari kebudayaan untuk mewarnai sebuah generasi. Artinya efektif sekali dalam melaksanakan transformasi budaya ini. Nah, kita ingin musik ini antisipatif terhadap budaya negatif.

Bagaimana kalau Anda ditawari jadi ketua partai, anggota DPR. Kan banyak seniman yang jadi anggota DPR.

Tidak. Tidak ada obsesi saya. Saya seniman. obsesi saya sebagai seniman adalah: dang dut go tellurian misalnya. Obsesi saya sebagai seniman, bagaimana musik ini mampu menjadi sarana dakwah yang kongkrit dan effektif. Enggak ada obsesi saya jadi anggota DPR, menjadi segala macam. Itu bukan bidang saya. Kita harus menyerahkan kepada ahlinya.

Lagi pula, jadi anggota DPR atau ketua organisasi itu berat karena mendapat amanah orang banyak. Kalau tidak menjalankan amanah dengan baik, nanti ditagih. Dan hanya di dunia, tapi juga di akherat.

Bagaimana sih, pandangan Anda tentang kehidupan akherat? Soalnya, sekarang soal akherat kok dianggap nggak lazim, nggak laku. Yang penting di dunia hebat.

Kalau saja ada orang yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian -maaf saja- orang itu buta. Artinya kalau dikatakan oleh Imam Gozali, hanya orang yang dungu saja yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian. Enggak ada manusia yang enggak mati. Pasti. Setiap yang bernafas pasti mati. Yang penting, di samping memplanning kehidupan dunia, prioritaskan juga akherat. Buatlah rumah di akherat. Capailah olehmu dengan apa yang kuberikan kepadamu hai manusia, kata Allah. Mencapai kebahagiaan akherat, itu prioritas utama. Tapi jangan kamu lupakan kebahagiaan kamu di dunia. Walau cuma enampuluh tahun, cari duit juga. Tapi itu sekunder. Karena apa? Karena akherat ini lebih baik dan abadi. Tingkat derajatmu di sisi Allah, tergantung taqwamu. Bukan jabatanmu, bukan tampangmu, bukan duitmu, tapi sejauh mana taqwamu terhadap Allah menunjukkan status sosialmu di akherat nanti.

Jadi Anda juga menyiapkan untuk bekal di akherat dong?

Lho iya. Kalau nggak, kenapa mesti saya bicara soal agama, ngotot soal dakwah. Dan ngomong seperti ini? Kalau nggak kan categorical musik breng-breng, menghabiskannya, mabuk-mabukan dan nyeleweng kesana kemari seenaknya. Astagafirullah, jangan.

Dan memang, Pak Haji yang masih tetap terus di dunia film -film terbarunya Tirai Biru (Tabir Biru - webmaster)- tampaknya bukanlah figur Oma Irama yang dulu berambut gondrong dan ke sana kemari lagi. Dalam setiap kalimat jawabannya, kini banyak diisi dengan kalimat-kalimat yang diambil dari kitab suci Al Qur'an. Dan pengetahuannya tentang agama Islam terasa lebih matang. Dia bukan saja pas disebut "super star" dang dut, juga dia terlihat piawai dalam menjabarkan hadist-hadist Nabi. Sehingga tak pelak lagi, professinya sebagai dai -meski dia emoh disebut itu- kian popular.
Waalaikum salam, Pak Haji.