Okey, Aik sedang pergi ke Aceh untuk mengejar berita tentang teroris beberapa hari. Jadi saya agak kesepian, dan butuh sedikit hiburan.
Dan beberapa hari lalu, gara-gara pemberitahuan Jia tentang resensi Loversus di majalah GoGirl Maret, akhirnya saya belilah majalah remaja (yang relatif mahal untuk ukuran majalah remaja) ini.
Untuk menghilangkan rasa bersalah karena membuang duit dengan alasan pale tidak penting sedunia ini saya mulai membuka-buka artikel di dalamnya. Dan saya terjerat oleh kisah Diana Agron tentang sequence Glee yang diperankannya.
Jadi (karena saya tidak punya TV) saya mulai menstreaming part demi part Glee di sebuah situs. Dan ..
Saya menuntaskan 12 part dalam 3 hari!
Ya ampuuun. Pasti ini karena faktor kesepian. Disamping ceritanya memang menarik, (dan bikin kepengen nyanyi sepanjang hari..). Saya tidak pernah setertarik ini melanjutkan menonton serial-serial amerika populer lainnya.
Jiwa kreator saya joke mulai penasaran. Ada apa sih di balik sequence Glee ini?
Manusia-manusia yang telah membuat saya mabok menonton 12 part marathon ini HARUS diselidiki.
Dan saya menemukan nama Ryan Murphy penulis sequence Nip Tuck (yang dulu bikin saya serem buat menonton), Brad Falchuk, dan Ian Breman.
Naskah asli sequence ini (oleh Ian Breman: aktor teater) sebetulnya dibuat untuk filem. Dia tersinpirasi dengan guru di sekolahnya yang mendorongnya untuk maju hingga ia menjadi aktor teater seperti sekarang ini.
Pertemanan Ian Bremann dengan Brad Falchuk, akhirnya membuat naskah ini sampai ke Ryan Murphy, teman dekat Brad.
Ryan langsung connected dengan naskah bikinan Ian ini, karena ia dulu anggota paduan suara sekolah. (Glee ini berkisah tentang Mr. Schuster guru pembimbing sebuah klub musik yang pernah sukses, tapi mengalami penuruan peminat dan akhirnya hanya berisi anak-anak ‘buangan’ di sekolah)
Ryan sangat tertarik mengembangkan naskah ini menjadi sebuah sequence karena ia ‘pernah’ mengalami hal yang ada di naskah Ian ini.
Dalam pidato penerimaan Golden Globe untuk Glee (iyah saya juga sampai googling dan streaming ke award2nya ) Ryan bilang pesan yang dibawa oleh Glee ini adalah tentang pentingnya art education.
Dan tiba-tiba saya menemukan jawaban kenapa saya dibuat mabok oleh sequence ini.
Karena...
- Hey, saya juga pernah jadi anggota paduan suara sekolah!
( Kami pernah menyanyi saat presiden Soeharto meresmikan Jembatan Barito, pernah rekaman di TVRI banjarmasin, pernah tampil di sebuah acara yang membuat kami harus pakai kain: sepertinya acara hari kartini)
Saat itu adalah salah satu masa menyenangkan disekolah. Karena kami sering diijinkan bolos, dan dapat konsumsi gratis pas latihan
- Saya pernah berperan dalam play musikal sekolah pas kelas 1 SMP
(huhu, kalau direview di masa sekarang sih jelek banget. Tapi jaman dulu sepertinya keren sekaliii ) Saat SMA saya juga pernah main, dan menulis skrip play untuk sebuah lomba, dan dapat juara dua.
Saat-saat latihan bareng untuk sebuah pementasan itu selalu menyenangkan. Gosh i’m kinda skip those moments. Terakhir saya menulis naskah operet di tahun pertama kuliah, dimana saya tidak berperan apa-apa karena kuliah arsitektur di tahun pertama itu terlalu ’kejam’ sehingga saya tidak punya waktu untuk apapun selain menggambar.
Gara-gara Glee, saya jadi terinspirasi untuk terus melanjutkan kerja kreatif yang telah saya rintis selama ini. Sebuah dunia yang sangat-sangat saya cintai. Yang mungkin tampak sia-sia dan tak berarti dalam pandangan formal.
But, hey this is my passion.
Gara-gara Ryan Murphy si kreator jempolan (yang mantan wartawan ini), saya tiba-tiba berharap bisa menulis naskah untuk seni peran lagi.
Yuk nyanyi Don’t Stop Believing!(Glee Soundtrack)


