Dulu pertama liat edisi perdananya waktu hari minggu bulan mei kalo ndak salah,soalnya waktu itu liga inggris sedang rehat sehubung 38 pertandingan untuk musim 2005/2006 udah selesai.Pertama liat langsung jatuh hati pada acara speak uncover dengan judul empat mata atau biasa tukul nyebut "four eyes" tingkah kocaknya selalu membuat geli dan tertawa terpingkal pingkal......nah aku tambah senang lagi karena acara emapat mata berkesan banget....karena waktu itu aku liatnya sama alda,nah dia juga senang jadi kami bisa tertawa bersama.... nah ini sekedar artikel yang aku cari dan ingin naruh di persembahan.Dapatnya dari ensiklopedia bebas berbahasa indonesia http://id.wikipedia.org nah ini duplicate nya.
Tukul Riyanto
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Karir
Nasib mujur Tukul semakin mengental ketika diajak categorical Lenong Rumpi oleh Ramon Tommybens. Dan titik balik karir Tukul mencuat ketika menjadi pendamping Joshua di video klip Air dengan idol diobok-obok-nya.
Nama Tukul Arwana semakin melambung ketika TPI mempercayakannya menjadi Host acara musik "Aduhai" dan Acara "Dangdut Ria" di Indosiar. Dan namanya kian melesat sekarang ini ketika TV7 mempercayakan menjadi horde talks uncover Empat Mata.
Jika dulu Tukul tinggal di kontrakkan, sekarang Tukul sudah memiliki 3 rumah kontrakkan dan 2 rumah besar di Cipete Utara. Di rumahnya Tukul mengumpulkan teman-teman seniman pelawak dari daerah dan membuat markas kecil ajang tukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan. Markas kreatif ini dinamakan Posko Ojo Lali.
Tarif Tukul Makin Mahal
PANCORAN, WARTA KOTA - Presenter kocak Tukul Arwana makin melejit. Di luar acara televisi atau kegiatan off air, Tukul pasang tarif Rp 30 juta sekali tampil. “Bilangin sama orang itu, kalau tidak Rp 30 juta tidak usah,” kata Tukul kepada asistennya bernama Teguh.
Di usia 43 tahun, Tukul Arwana yang bernama asli Tukul Riyanto ini menikmati masa kejayaan yang luar biasa. Lewat acara Empat Mata yang ditayangkan stasiun televisi Trans 7, Tukul benar-benar melejit. Rating Empat Mata melonjak sehingga tayangan joke digelar setiap hari selama lima hari penuh (Senin-Jumat).
Di sela syuting Empat Mata di Studio Hanggar pekan lalu, telepon Tukul berdering karena ada pendengar yang ingin mengundang Tukul untuk kegiatan off air. Telepon joke dialihkan ke asistennya. Tukul bilang bahwa angka Rp 30 juta masih tergolong murah untuk orang setenar dirinya saat ini. “Biarlah, yang penting sering. Saya tak mau langsung menaikkan tarif dengan memanfaatkan ketenaran,” kata Tukul.
Selain lima kali di Trans 7, Tukul juga mengisi acara di RCTI dengan tajuk Catatan Tukul dua kali sepekan. Dengan demikian, sepekan penuh Tukul tampil di televisi. Tapi ia menolak menyebutkan tarif sekali tampil. Andri Lunggana, produser acara yang dibintangi Tukul, juga bungkam. Tapi sumber-sumber Warta Kota menyebutkan Tukul dalam sekali tampil di televisi, Tukul bisa mengantongi Rp 20 juta. Bisa dibayangkan berapa pendapatan Tukul dalam sepekan, sebulan, atau setahun.
Tukul selalu ceria dan percaya diri (PD). Tapi di balik keceriaannya, Tukul Arwana (43) menyimpan kisah sedih. Ia baru kehilangan buah hati. Ya, dua kali istrinya, Ny Susiana, keguguran. Padahal, Tukul mengaku ingin memiliki momongan lagi setelah sebelumnya mempunyai Novita, putri semata wayangnya. Walaupun sedih, Tukul ternyata dapat menyembunyikannya di balik lawakannya. Ia bisa membuat orang tertawa terpingkal-pingkal, padahal di dalam hati ia sempat menangis.
Demikian pula saat mangle syuting siaran langsung Empat Mata, kedua mata Tukul tiba-tiba diserang rasa kantuk. Demi keluarga dan pekerjaan yang ia cintai, Tukul dengan sigap mengusir rasa kantuknya. Syuting joke dimulai dengan wajah yang tetap ceria. "Kembali ke laptop," kata Tukul sambil berteriak semangat.
Tukul jenius
Tukul Arwana mulai dipercaya menjadi horde nyentrik di sebuah module talkshow televisi Empat Mata sejak Juni 2006. Berkat penampilannya yang cemerlang di acara itu, nama Tukul melejit. Ucapan-ucapan Tukul jadi lingo harian, mulai dari “Kembali ke laptop”, “Silent please”, hingga “Puas!? Puas!?”. Sejumlah kalangan mengatakan bahwa sekarang adalah waktu Tukul memperlihatkan bakat emasnya.
Empat Mata benar-benar naik kelas. Awalnya tayang sepekan sekali, lalu jadi setiap hari selama Senin-Jumat, dengan perolehan iklan yang meroket. Bayangkan, jeda iklan di acara ini bisa mencapai lima menit. Soal rating, share acara Empat Mata kini mencapai angka 13,1. Kontrak Tukul joke diperpanjang hingga 260 episode. Itu artinya, bayarannya sebagai horde juga naik.
Belum lagi kini RCTI ikutan mengontrak pelawak asal Perbalan, Purwosari, Semarang, Jawa Tengah, untuk acara Catatan Si Tukul yang tayang setiap Senin dan Selasa pukul 10.00. Padahal pelawak lain seperti Eko Patrio, Tessy, dan Komeng hanya membawakan sekali acara Catatan Si... dalam sepekan. Komeng, misalnya, memandu Catatan Si Komeng setiap Rabu saja. Daya jual Tukul kini melebihi para pesaingnya.
Psikolog sosial Sartono Mukadis menyebut Tukul sebagai pelawak jenius, karena dapat berpikir secara cepat (quick thinking). Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng memuji acara yang dibawakan Tukul sebagai lawakan yang menghibur, segar, santai, serta cerdas.
Pada Minggu kedua Januari 2007, Warta Kota diberi kesempatan beberapa kali oleh Tukul dan kru produksinya untuk melihat secara langsung proses pembuatan acara Empat Mata yang kini menjadi tayangan unggulan bagi televisi yang semula bernama TV7 ini. Saat itu Tukul mengundang aktor kondang Tora Sudiro, presenter seksi Cut Tari, dan komedian Mpok Atiek ke studionya di Pancoran, Jakarta Selatan.
Lain hari, Tukul mengundang kru Band Naif, penyanyi Audy, aktor Indra Birowo, sampai orang penting sekelas Andi Mallarangeng. Di sela-sela kesibukannya, para bintang tamu ’Kelas A’ yang diundang Tukul itu masih menyempatkan diri untuk hadir dan tertawa bersama ayah seorang putri ini.
Sementara di luar studio, sejak bruise hari, penonton mulai terlihat datang berduyun-duyun ke studio yang sehari-hari dipakai lokasi syuting MTV Indonesia itu. Biasanya, mereka datang secara berkelompok berdasarkan kesamaan hobi atau pekerjaan. Ada pula yang sama-sama dari satu kampung di wilayah Jabodetabek. Sistem tiket joke mulai diberlakukan bagi penonton yang ingin menyaksikan "Tukul Show" untuk mengantisipasi membeludaknya penonton.
Begitu penonton masuk dengan teratur ke studio 3 dan sebelum syuting dimulai, Tukul yang sudah di make-up tak sungkan-sungkan menyapa penontonnya. Tentu saja, begitu melihat Tukul, penonton langsung tertawa. Apalagi kalau si Tukul bicara. Suara gaduh dan geeerrr... terdengar di seluruh ruangan studio. Tak lama kemudian Tukul mulai mengarahkan penonton untuk menghafalkan kalimat yang terkenal itu, "Kembali ke laptop."
Namanya juga acara talkshow yang dikemas dibungkus lawakan karena pembawa acaranya memang pelawak, sehingga dapat dipastikan suasana syutingnya berlangsung meriah. Penonton yang melihat langsung sosok Tukul selalu dimanjakan oleh lawakannya yang membuat mulut jadi banyak tertawa dan tubuh menjadi hangat meskipun studionya sudah berpendingin.
Di Empat Mata Tukul benar-benar tampil seperti aslinya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. "Ya itulah saya yang sebenarnya, senang bercanda," ujar Tukul yang mengibaratkan dirinya seperti mata pisau yang jelek, tapi terus diasah hingga menjadi tajam.
Mengasah mata pisau menurut pria yang mengidolakan pelawak Tarzan ini adalah bagaimana seorang pelawak menghargai sebuah proses yang harus dilaluinya. "Sekarang banyak yang ingin jadi artis biar cepat kaya dan ngetop. Mereka tidak mikir bahwa proses itu juga perlu. Saya ini sudah melalui proses yang panjang. Berangkat dari daerah, masuk Radio SK, dan melawak di Jakarta," tutur Tukul yang menganggap bahwa tidak selayaknya seorang pelawak merasa takut jika dirinya dianggap tidak lucu.
Tukul sangat memegang erat prinsip bahwa yang terpenting dalam hidup adalah proses, dan dia telah menjalaninya selama bertahun‑tahun. "Berjuang dengan butiran kristal keringat tentu berbeda dengan mereka yang instan. Saya sudah kenyang diremehkan, dicaci, dan dicibir. Saya jalan dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu panggung ke panggung yang lain. Dan inilah yang sekarang saya terima," kata Tukul. (kin)
Sumber: Warta Kota
PELAWAK Tukul Arwana (43) punya pekerjaan baru: menjadi "wasit" untuk menengahi orang yang sedang berbincang-bincang. Ya, kalau-kalau perbincangan mereka mengarah ke perdebatan, Tukul harus "meredakan" suasana.
"Saya harus mengontrol semuanya. Jangan sampai ada yang sakit hati atau berdebat sampai panas," katanya saat ditemui Warta Kota di Studio TV7,Cawang, Jakarta Timur, Senin (8/5).
Ya, pria kelahiran Semarang, 16 Oktober 1963 itu didaulat TV7 untuk menjadi pemandu acara 4 Mata, sebuah module talkshow yang menghadirkan selebriti atau figur publik di setiap
episodenya. Topik yang dibahas akan macam-macam, dari yang menyerempet politik macam membahas soal RUU APP hingga yang berbau gosip semisal klarifikasi soal kabar perceraian artis.
"Nanti, akan ada tim yang mendukung saya. Jadi, mereka sudah kerja dulu mencari tahu narasumber. Jadi nanti di acara, saat diskusi, saya tinggal mengarahkan," kata pria bernama asli Tukul Riyanto itu tentang acara yang akan ditayangkan mulai tanggal 28 Mei 2006 itu.
Tapi, meski sudah didukung tim, bukan berarti pekerjaan Tukul menjadi mudah. Yang namanya acara live, bukan tidak mungkin sesuatu yang tidak terduga akan terjadi. "Ya, saya harus pandai-pandai mengontrol diri dan suasana. Jangan sampai kebablasan," katanya.
Tukul mengaku jadi semakin rajin membaca dan menonton televisi untuk membekali dirinya. Kebetulan, katanya dia memang senang membaca sejak kecil. Hebatnya, dia gampang ingat apa yang dibacanya.
"Saya pale suka membaca buku yang berbau-bau psikologis. Misalnya soal sifat seseorang dibaca dari wajahnya, tanda tangannya, tanggal lahir, tahun lahir, bintangnya dan yang seperti-seperti itu," katanya.
Lantaran membaca, Tukul juga pernah mengganti tandatangannya supaya peruntungannya menjadi bagus. "Ya, kalau orang sudah jelek, bodoh, nggak pede, enggak sombong, siapa yang mau mendekati. Jadi, saya membekali diri dengan percaya diri tinggi, sombong, dan reading skill. Maksudnya, ilmu pengetahuan yang saya dapat dari membaca," ujarnya.
"Saya enggak merasa lucu kok, tapi ya orang-orang senang tertawa kalau dekat saya. Itu karena reading ability itu loh," kata pelawak yang pernah menjadi sopir pribadi dan loper koran ini. (sra)
Sumber : Warta Kota
Tukul Arwana di Mata Keluarga dan Orang Terdekat
Hadiahi Orang Tua Rumah Dua Lantai
Tukul Arwana memang fenomenal. Berkat aksinya di speak uncover "Empat Mata", nama pelawak asal Semarang itu melambung. Meski demikian, pria berambut cepak itu tetap bersikap rendah hati.
ARIF RIYANTO, Semarang
RUMAH tua bercat hijau di Jalan Purwosari, Perbalan Gang V, Semarang Utara, itu menjadi saksi masa kecil Tukul. Tak ada yang istimewa dari bangunan di squad sempit di kawasan permukiman padat itu. Temboknya sudah rapuh dimakan usia. Hanya lantai di ruang tamu yang sudah diganti dengan keramik putih.
Sekitar 20 tahun pelawak yang memiliki nama asli Tukul Riyanto itu tinggal di rumah tersebut bersama orang tua angkatnya, Suwandi, yang sehari-hari menjadi mandor di sebuah perusahaan di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Meski hanya anak angkat, kasih sayang orang tua barunya itu layaknya kepada anak sendiri. Maklum, Suwandi memang tidak dikaruniai anak.
Tukul juga beruntung memiliki orang tua angkat yang relatif berkecukupan, bahkan boleh dibilang kaya. Dengan demikian, hampir semua kebutuhan Tukul terpenuhi.
"Untuk ukuran warga kampung di sana, orang tua angkat Tukul tergolong kaya. Saat yang lain belum punya engine dan televisi, Suwandi sudah punya. Bahkan, warga sini kalau mau nonton televisi, harus ramai-ramai ke rumah Tukul," cerita Moch. Kuswanto, yang disebut Tukul sebagai teman akrab sekaligus guru spiritualnya.
Pemimpin Pondok Pesantren Istighfar yang akrab disapa Gus Tanto itu mengaku tahu persis masa kecil Tukul. Kebetulan dia teman satu kampung, sekaligus teman satu sekolah Tukul sewaktu di SD Purwogondo 02 Purwosari. Gus Tanto juga pernah menjadi kernet angkutan kota (angkot) Semarang jurusan Johar-Panggung yang disopiri Tukul.
Saat masih duduk di bangku SD, lanjut Gus Tanto, kawannya itu sudah dikenal humoris. Setiap saat dia selalu mbanyol (melawak, Red). Tak heran kalau Tukul memiliki banyak teman. "Tukul itu orangnya nyelelek. Ndak pernah diam. Selalu usil. Saya ini yang kerap dikerjai," kenangnya seraya tersenyum.
Di kampung Tukul kecil dikenal sebagai anak yang lebih suka ngligo alias bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor. "Suami saya sampai memperingatkan dia. Kul, nyandi-nyandi kok ora klambenan, opo ora isin kowe? (Kul, ke mana-mana kok tidak pakai baju, apa tidak malu kamu?)," kata Siti Ngasiah, 55, bulik Tukul, yang kini tinggal di bekas rumah orang tua angkat Tukul.
Ditanya soal nama Tukul, Gus Tanto menjelaskan, awalnya nama karibnya itu hanya Riyanto. Namun, karena sakit-sakitan, oleh orang tuanya ditambahi Tukul sehingga menjadi Tukul Riyanto. "Ternyata, begitu namanya ditambah, dia jarang sakit. Akhirnya, orang joke lebih suka memanggil Tukul," jelasnya.
Selepas SD, putra ketiga pasangan Abdul Wahid dan almarhumah Sutimah itu melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Indraprasta. Di sekolah itu, kemampuan melawak Tukul semakin terasah. Bahkan, Tukul kerap tampil di acara tujuh belasan (HUT Kemerdekaan RI) di kampungnya.
Namun, saat Tukul duduk di bangku kelas III, orang tua angkatnya mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan, Suwandi sampai menjual rumah kepada Siti Ngasiah yang kini menghuni rumah tersebut. Puncaknya, saat duduk di bangku SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang, Tukul mulai kesulitan membayar biaya sekolah.
Sejak itu dia mulai kerja serabutan untuk mencari biaya sekolah. "Pekerjaan apa joke dilakukan. Yang penting menghasilkan uang halal dan bisa untuk makan dan biaya sekolah," ujar Gus Tanto yang berambut gondrong itu.
Saking sulitnya mendapatkan uang, tak jarang saat berangkat sekolah Tukul hanya mengantongi uang saku Rp 100. Padahal, ongkos naik train dari rumahnya hingga sekolah lebih dari itu.
Begitu lulus SMA, Tukul berkali-kali mengikuti lomba lawak tingkat lokal Semarang maupun Jateng. Selain melawak sendiri, terkadang Tukul berpasangan dengan tetangganya, antara lain, Slamet, Suharno, dan Sutrisno. Bahkan, Tukul berkali-kali meraih juara. Puncaknya, dia menyabet juara pertama lomba lawak tingkat Jateng.
"Biasanya, habis meraih juara lomba lawak, Tukul mentraktir makan teman-temannya dengan hadiah uang yang diterima. Sejak kecil dia memang tidak pelit. Kalau dapat rezeki, selalu dibagi bersama," katanya.
Untuk mempertahankan hidup, lanjut Gus Tanto, Tukul bekerja menjadi kernet angkot jurusan Johar-Panggung. Profesi itu dijalani hanya beberapa bulan, sebelum akhirnya naik "pangkat" menjadi sopir angkot jurusan yang sama. Gus Tanto yang menjadi kernetnya. "Selama jadi kernet, Tukul berlatih mengemudi. Lama-lama dia bisa dan akhirnya dipercaya menjadi sopir," tuturnya.
Sekitar dua tahunan menjadi sopir angkot, lanjut dia, Tukul berpindah kerja menjadi sopir truk elpiji di Tanah Mas, Semarang Utara. Di tempat yang baru ini Tukul menjalani hampir dua tahun, kemudian kembali menjadi sopir angkot.
"Setelah berganti-ganti pekerjaan, Tukul memutuskan hijrah ke Jakarta sekitar 1992. Namun, perjalanan di ibu kota itu juga tidak mulus. Dia masih harus bolak-balik Jakarta-Semarang karena tak juga mendapatkan pekerjaan," cerita Gus Tanto.
Kehidupan Tukul mulai membaik setelah dia dipercaya membintangi klip video lagu Diobok-obok yang dinyanyikan penyanyi cilik Joshua Suherman sekitar 1997. Tukul juga diajak Harry de Fretes bermain dalam Hari-Hari Mau di SCTV.
Meski namanya sudah tenar, ujar Gus Tanto, Tukul tak melupakan teman-teman lama. Bahkan, Tukul selalu berhubungan dengan Gus Tanto setiap ada masalah atau akan memutuskan sesuatu. Seperti kemarin, Radar Semarang sempat ditunjukkan SMS dari Tukul. Dalam SMS itu, Tukul meminta saran kepada Gus Tanto tentang anak semata wayangnya, Novita, yang sakit demam.
Selain itu, setiap uncover ke Semarang dan sekitarnya, suami Susiana itu selalu menyempatkan berkunjung ke Ponpes Istighfar, yang selama ini selalu mendapatkan kucuran sedekah maupun zakat mal dari Tukul.
"Dia memang selalu telepon ataupun SMS saya untuk meminta pertimbangan. Termasuk saat memutuskan menerima kontrak sebagai horde Empat Mata," ujarnya.
Disinggung soal acara Empat Mata, sebelum memutuskan menerima kontrak itu, Tukul memang sempat bimbang. Namun, Gus Tanto terus meyakinkan Tukul bahwa dia mampu membawakan acara itu dan nanti bisa sukses.
Meski Tukul telah sukses, ayah kandungnya, Abdul Wahid, 70, masih setia menjadi penjahit. Pria yang akrab disapa Mbah Dul itu tinggal di Dusun Nggrembel, Kecamatan Gunungpati, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Semarang.
Abdul Wahid tinggal di rumah cukup megah bersama putri keduanya, Anik Khowiyah. Rumah berlantai dua itu dibangun pada 2003, yang seluruh biayanya berasal dari Tukul.
"Saya menjadi penjahit sejak 1948. Dulu saya melayani semua jahitan pakaian maupun seragam. Sekarang hanya permak dan membetulkan resluiting saja," kata Abdul Wahid dengan bahasa Jawa halus.
Lalu, mengapa Tukul sampai diasuh orang tua angkat? Ceritanya, pada usia 5 bulan dia sering sakit. Herannya, putra ketiga pasangan Abdul Wahid dan almarhumah Sutimah itu, jika menangis, selalu diam begitu digendong pasangan Suwandi, tetangganya.
Karena sering diemong keluarga Suwandi, Abdul Wahid dan Sutimah yang memiliki empat anak rela menyerahkan Tukul saat Suwandi menginginkan Tukul sebagai anak angkat.
Ditanya tentang sukses Tukul, ayahanda Siti Rondiyah, Anik Khowiyah, Tukul Riyanto, dan Suhadi alias Bendel itu mengaku sangat senang. Dia tidak menyangka anaknya yang diasuh orang lain sejak berusia 5 bulan itu kini menjadi orang terkenal. "Saya memang jarang ngobrol dengan dia. Kalau ke sini, hanya sebentar," ujarnya.
Menurut Sugiyanto, 28, putra Anik Khowiyah, Tukul rutin berkunjung ke rumah orang tua kandungnya setiap Lebaran. Biasanya, Tukul datang bersama istri dan anaknya mengendarai mobil. "Di luar Lebaran, Lik Tukul datang tidak tentu. Biasanya, kalau ada acara di Semarang dan sekitarnya," ujarnya kepada Radar Semarang.
Di rumah ayah kandungnya itu, Tukul jarang menginap. Biasanya, dia hanya lek-lekan (begadang) sebentar, kemudian kembali ke hotel. "Tapi, kalau Lebaran, kadang dia menginap di sini sama anak-istrinya. Kalau ke sini, Lik Tukul suka nyari petai dan jengkol. Dia juga suka bagi-bagi uang dan pakaian ke keponakan dan tetangga," ceritanya. (*)
ARI KURNIAWAN, Jakarta
Hobi Cium Bintang Tamu Diprotes Anak
HIDUP itu mengalir. Itulah yang diyakini Tukul Arwana. Saat pertama menginjakkan kaki di ibu kota pada 1989, Tukul tak punya bayangan mau bekerja apa. Karena itu, dia ikhlas menjalani pekerjaan apa saja di Jakarta. Dari tukang gali sumur pompa, MC acara di kampung, sampai sopir pribadi.
Pada 1995, ketika usianya 32 tahun, Tukul masih jauh dari kehidupan mapan. Saat itu dia memberanikan diri meminang gadis berdarah Padang, Susiana, 26, yang tak sengaja dijumpai di sebuah hajatan pernikahan seorang kawan. Pada tahun yang sama dengan pernikahannya itu pula, Tukul memulai entrance sebagai hostess di Jakarta. Dia diterima sebagai penyiar Radio Suara Kejayaan.
"Gaji saya di radio waktu itu Rp 75 ribu per bulan. Padahal, kontrakan rumah saya sebulan Rp 150 ribu. Sisanya, saya cari dengan kerja serabutan atau cari utangan dari teman," kata Tukul kepada Jawa Pos.
Namun, roda kehidupan memang selalu berputar. Kini kehidupan Tukul sudah sangat berbeda. Di rumah seluas sekitar 200 scale persegi berlantai dua di Jalan Sawo Ujung, Cipete Utara, Jakarta Selatan, Tukul hidup berkecukupan ditemani istri dan putri semata wayangnya, Novita Eka Afriana, 7.
Persis di samping kanan rumah bercat putih itu, berdiri tiga petak rumah kontrakan yang dikelola Tukul. Sedangkan di mulut squad menuju rumahnya, Tukul memiliki satu section rumah lagi yang diberi nama Posko Ojo Lali.
Di posko itulah, teman-temannya sesama seniman tinggal. Di garasi posko terparkir Toyota Kijang Innova dan engine Harley Davidson yang disayanginya. Selain itu, sebuah sedan Mitsubishi Galant keluaran 1983, mobil pertama yang dibeli Tukul, masih terparkir di depan posko.
Empat Mata seakan telah mengubah standing sosial Tukul. Tapi, menurut orang-orang terdekatnya, tidak ada yang berubah dari pria yang kerap dijuluki lele dumbo karena kumis tipisnya itu.
"Mas Tukul tetap suami dan ayah yang baik bagi anak saya," kata sang istri, Susiana. Ketika jadwal kegiatannya di luar makin padat, Tukul justru bertambah sayang kepada keluarganya di rumah. "Alhamdulillah, sekarang Mas Tukul malah tambah sabar," kata Susiana yang rambut selehernya dicat kemerahan itu.
Sebagai pelawak, Tukul dikenal sebagai sosok yang sulit serius dan selalu melontarkan lelucon-lelucon yang bisa mengundang tawa lawan bicaranya. Tapi, tidak demikian halnya saat dia di rumah.
Menurut Susiana, di luar pekerjaannya, Tukul merupakan sosok ayah yang tegas dan selalu menekankan disiplin di lingkungan keluarga. "Ngebanyol sering. Tapi, ada waktunya. Dalam mendidik anak, dia tegas sekali. Misalnya soal waktu belajar, waktu tidur siang, dan sekolah," paparnya.
Hampir pada setiap penampilan sebagai horde di Empat Mata, Tukul sering mencium pipi kanan-kiri dan bersikap mesra dengan bintang tamunya yang cantik.
"Pertama saya kaget. Bahkan, Vita (panggilan anaknya, Novita Eka Afriana) duluan yang marah. ’Kok ayah digituin sih’ katanya. Setelah itu, saya baru ngomong langsung sama Mas Tukul," ujar Susiana.
Protes Susiana dan putrinya tidak berbuntut panjang. Setelah diberi pengertian, akhirnya mereka bisa memahami apa yang dikerjakan Tukul. "Mas Tukul ngasih pengertian. Saya pikir-pikir lagi, ternyata memang harus begitu. Itu bagian tugasnya sebagai penghibur. Sampai sekarang, saya tidak punya pikiran cemburu atau negatif lagi," katanya.
Sejak awal pernikahan mereka hingga sekarang, Tukul selalu membicarakan masalah pekerjaan dengan istri. Jika Susiana tidak berkenan, Tukul tak segan menolak tawaran kerja yang menghampirinya. "Mas Tukul selalu mengutamakan saya. Kalau ada apa-apa, dia pasti minta pendapat saya," ujarnya.
Melayani suami macam Tukul, lanjut Susiana, sama sekali tidak sulit. Misalnya dari segi makanan. Tukul tidak pernah minta disuguhi hidangan yang aneh-aneh. Bisa dikatakan, hampir setiap hari yang tersedia di meja makan rumahnya adalah menu makanan kampung.
"Mas Tukul makannya gampang. Dia pale senang dibuatkan oseng kangkung, oseng kacang panjang, urap, telur mata sapi, tempe goreng, bakwan jagung, dan mi instan," papar Susiana.
Senang makanan biasa itu bukan karena ngirit. Menurut Susiana, jika dia memasak makanan mahal pun, jarang disentuh Tukul. "Sekali-sekali saya buatkan rendang atau ayam bakar. Hari itu dimakan. Tapi, besoknya pasti dia pilih jajan makanan yang biasa-biasa tadi," kata Susiana.
Kesan sederhana juga dirasakan orang terdekat Tukul lainnya. Teguh, misalnya. Dia salah seorang teman dekat Tukul yang saat ini menangani segala keperluannya. Mulai menerima telepon, mengatur jadwal, mengoordinasi wartawan yang ingin wawancara, hingga negosiasi harga dengan calon klien. "Saya bukan manajer. Saya hanya teman yang membantu Mas Tukul," ucapnya.
Sejak sama-sama menetap di rumah kos berukuran 2 x 3 scale awal tahun pada 1990-an, kata Teguh, Tukul tetap sosok teman yang apa adanya. Satu hal yang pale mencolok dari Tukul adalah kemauan untuk terus berusaha dan belajar.
"Bisa dibilang Mas Tukul itu pale semangat kalau dengar ada kerjaan. Apa saja pasti dia kerjakan," kata Teguh. Karena kedekatannya itu, Tukul sudah tak sungkan lagi membagi pengalaman dan kesulitannya pada Teguh.
Dengan apa yang dimilikinya saat ini, Tukul tak pernah lupa berbagi dengan teman-temannya. Termasuk mereka yang menetap di Posko Ojo Lali. Beberapa tahun lalu Tukul sengaja membeli empat section sepeda engine untuk digunakan teman-temannya mencari uang dengan mengojek.
Setiap syuting Empat Mata atau acara lainnya, Tukul selalu mengajak teman-teman, yang disebutnya sebagai tim sukses, untuk menonton. Sekali syuting, tak kurang dari 20 orang menemaninya. "Mereka bertugas memancing orang tertawa. Kalau ada penonton yang ketawa, pasti penonton yang lain ikut terbawa," kata Teguh.
Sukses yang diraih Tukul saat ini ternyata sudah diduga Alex Sukamto, mantan majikan Tukul saat menjadi sopir pribadi. Menurut Alex, dia pernah dibuat kaget oleh Tukul saat mengetahui mantan anak buahnya itu punya hobi membaca.
"Setiap gajian, dia selalu menyisakan uang untuk beli buku. Saya nggak sangka, sopir kok punya hobi baca buku. Sudah gitu, buku-bukunya itu yang saya sendiri nggak ngerti. Ada yang tentang psikologi, politik, macam-macamlah," cerita Alex.
Dari situlah, pria yang berdomisili di Pondok Cabe, Jakarta Selatan, itu mengetahui bahwa profesi yang dijalani Tukul saat itu hanya batu loncatan menuju cita-citanya yang lebih tinggi.
"Kemauan belajarnya tinggi sekali. Dia cerita ke saya, sebenarnya dia pengin sekali jadi pelawak terkenal. Dia jadi sopir hanya untuk mencukupi kebutuhan sementara," ujarnya.
Di mata Alex, Tukul merupakan seorang perantau yang rajin dan sangat menjunjung tinggi kerja keras serta kejujuran. Terbukti, selama tiga tahun bekerja padanya, Alex tidak sedikit joke pernah dikecewakan.
Justru kemampuan Tukul dalam mengocok perut orang membuat Alex kerasan disopiri Tukul. "Sambil menyetir, biasanya kami ngobrol. Nah, di tengah obrolan itulah, dia sering melawak. Jadi, sepanjang jalan, saya ketawa terus," kenangnya.
Hingga kini, Tukul masih sering berkomunikasi dengan mantan majikannya itu. Malah, dalam waktu dekat, Tukul akan bekerja sama dengan Alex membuka rumah makan. "Nama rumah makannya ikan bakar Tukul Arwana," katanya. (rie)
Sumber : Jawa Pos
Demikian ulasan mengenai profil dak aksi tukul arwana yang aku ambil dari berbagai sumber.
Kuta,23 Feb 2007


